Ami; yang Tak Akan Selesai Saya Rindukan

Terbangun pukul 03.00 dengan perasaan berdebar. Lalu menengok ke sebelah kiri untuk memastikan bahwa kamu masih di sini dan baik-baik saja. Syukurlah, pertemuan kita beberapa jam sebelum ini cukup menakutkan untuk saya. Melakukan perjalanan jauh sekira 68 kilometer untuk menemuimu, memastikan bahwa saya hadir kapanpun untuk terjaga dan menjaga.

Kamu perlu tahu bahwa saya takut jika harus berjarak lagi. Berjeda lagi.

Saya takut, saat harus merelakanmu berkemas lalu pergi dan dering notifikasi chat di whatsapp tak henti berbunyi untuk mengkonfirmasi keadaanmu.

Kita tahu, sampai kapanpun tak akan pernah lelah berbagi dekap saat temu berpihak pada kita, meskipun nyatanya saya tak lagi bisa setangguh dulu saat tak bersamamu.

Sebab inilah mungkin perjuangan yang kita harap akan mencipta makna dari takdir-takdir kecil  yang Allah rencanakan. Dan kemarin, saat pundakmu masih saja menjadi tempat menopang segala rindu dan tangan lembutmu mengusap tangis, bisa-bisanya saya masih bertanya, “Apa Ami sayang sama, Mbak?”

Tulungagung, 5 April 2018

Advertisements

“Selepas 30”

Selepas 30 saya memutuskan pulang. Kesibukan saya hanyalah mencari bantuan. Untuk menemukan permulaan baru. Untuk mencari jalan pulang ke kanan kiri. Untuk menemukan ketulusan. Untuk menyembuhkan apapun yang terjadi dalam diri saya.

Setiap orang akan melewati fase “tercabik” bahkan “meraung” saat memutuskan meninggalkan zona nyamannya, tentunya ini juga berkaitan dengan saya yang kemudian harus menerima kenyataan bahwa saya “berjarak” dalam definisi sesungguhnya dengan Ami. Butuh latihan 14 hari sekali untuk bisa bertemu selama beberapa bulan belakangan dan secangkir kopi tanpa gula di meja kerja untuk menghilangkan pahit jarak yang semenyiksa ini.

Dan pada akhirnya, saya menyerah di meja dokter dengan diagnosa yang sudah terduga, “Stress? Kambuh lagi? Udah sempat gemukan kok kurusan lagi?”

Fiiuuuh…

Hati saya tahu ini hanya awal dari sebuah proses yang sangat panjang untuk mengalahkan segala ketidakberdayaan karena rindu. Meskipun rasanya sempat hancur dipecundangi diri sendiri itu memalukan. Saat melepas 30 hari, detik ini, tepat hari ini, adalah tentang malas bangun pagi sepanjang hari karena merasa hidup berhenti, adalah tentang membuka laptop jam 8 pagi ditemani lagu-lagu sendu. Saat melepas 30 adalah tentang mengingat pesan Ami untuk menghitung hari tercepat agar segera bertemu.

Selepas 30 hari ini, mungkin akan lebih baik otak digunakan untuk berlari atau mengisi tulisan-tulisan di blog ini. Atau senyum manis sepanjang lamunan yang ditimbulkan hal-hal kecil yang sering kita lakukan bersama belum juga hilang dari ingatan.

Memilih (atau jika boleh menyebut lebih tepat “dipilihkan”) hidup hari ini ternyata sesulit memfokuskan segala sesuatu pada diri saya.

Drama banget nggak sih? Mungkin… Tapi hati saya yakin, suatu hari saya akan mengenang apapun hari ini, seperti perjuangan-perjuangan lain yang tak layak dikeluhkan. Sebab, ini bukan tentang meninggalkan, tapi mempersiapkan hati terbiasa merasakan jarak tanpa harus dirasakan. Maka pelan-pelan…

 

Semoga saya, tidak benar-benar bodoh untuk tidak melangkah… Kalau tak salah hitung, hari ini selepas 30 hari sejak hari terakhir aku pamit pulang. Selepas 30 hari tanpamu, Mi.

Kediri, 26 Maret 2018

 

Semestinya

Hampir 2 minggu tak menyentuh buku dan dua bulan lebih melewatkan mengisi jurnal harian di blog ini. Ada banyak hal yang terlewatkan akibat kelengahan diri yang semakin menjadi-jadi. Mendadak tersentak dengan topik obrolan dengan beberapa teman seminggu ini.

“Aku ngrasain deh sekarang banyak kehilangan hal-hal dan pikiran-pikiran positif semenjak kurang baca buku. Rasanya aku stress karena kurang “gizi”. Sepertinya kamu juga begitu, ada banyak hal yang hilang darimu.” katanya sambil membelokkan motor ke sebuah rumah makan.

“Sama…” kataku singkat.

Mata saya kemudian seolah bisa melihat ke dalam diri tentang segala hal yang tak kunjung selesai dilakukan sebagai “manusia” yang punya segala kesempatan dan potensi. Lalu, tiba-tiba saya merindukan Rahka dengan perahu kainnya, atau Nezha dengan pohon gulanya. Di tengah carut-marut waktu yang meminta diperhatikan, pada akhirnya hanya berujung mencemaskan setiaop orang.

Saya tahu banyak orang lebih sering terlibat dalam kehidupan saya akhir-akhir ini, tapi tidak untuk menjadi apa yang benar-benar saya butuhkan. Tidak untuk setidaknya membuat saya selalu jatuh cinta pada tulisan dan buku-buku.

Dan diam. Memikirkan berbagai cara untuk kembali pada proses yang sudah dibangun mati-matian. Kehadiran orang-orang yang sefrekuensi semestinya bisa lebih cepat membantu “masa pemulihan” dan meringankan jalan ini. Karena, tahun ini terlalu besar dan krusial untuk tidak direncanakan.

Selamat berkarya dan menemukan kembali hidupmu!

Kediri, 13 Maret 2018

 

 

Jatuh

Ada banyak kejadian kecil hari ini yang semestinya membuat saya bercermin dan bertanya kepada diri sendiri. Saya mengetik ini tepat setelah menikmati perjalanan ke Malang dengan kereta api. Sengaja ingin menuliskannya sesegera mungkin agar tidak kehilangan getaran perasaan yang ingin disampaikan. Walau rasanya kepala sudah mau copot saja.

***

Dahulu, saya sudah menyiapkan sebuah buku kecil berwarna biru yang berisi serentetan kegiatan yang harus dilakukan – apa saja yang tak boleh dilakukan – dan sekumpulan rencana A, B, C tentang masa depan. Setiap waktu, buku itulah yang menjadi “makanan” saya untuk tetap menjaga mood agar selalu baik.  

Saya bersyukur, hal itu berhasil “menjaga” perasaan saya dari hal-hal negatif yang ada hingga akhirnya mampu menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan baik.

Sampai pada akhirnya 18 bulan yang lalu ada pertanyaan lain seperti “Apa yang bisa dilakukan setelah menjadi yang terbaik?” yang kemudian membuat saya berhenti melakukan rutinitas menulis di buku kecil tersebut. Hari ini saya menemukan jawabannya setelah sekian lama memikirkan jawaban yang tepat.

Jawaban itu adalah “Jatuh!!”

Ya… memang jatuh! Saya menikmati semua hal terbaik yang sudah dan sedang saya miliki saat itu. Menyelesaikan dengan baik satu per satu dari daftar panjang impian saya di buku itu. Lalu jatuh!

Ternyata hanya butuh hati untuk bisa memahami bahwa jatuh adalah menolak merasa nyaman dengan keadaan. Lalu saya mulai berdamai dengan “jatuh”, berhenti mengutuki setiap hal-hal yang gagal saya lakukan dengan baik. Jatuh-lah yang mengantar saya belajar untuk berdiskusi dengan diri sendiri dan berusaha mencari jalan-jalan baru untuk dinikmati, bukan justru memutuskan jalan dengan mengutuki proses “jatuh”-nya.

Akhirnya saya pun bersyukur sudah diberikan kesempatan jatuh -lagi. Sebab ternyata tak ada jalan lain lagi setelah jatuh selain kembali mendaki. Semestinya, saya juga beterimakasih kepada diri saya karena sudah rela meluangkan waktu melambatkan impian untuk membersamai banyak orang di sekeliling saya. Mendukungnya.

Its not about me but maybe will affect my future.

tapi apa setelah ini?

Mungkin akan ada perjalanan panjang lain yang sudah mulai saya persiapkan. Tapi kali ini berjalannya pelan-pelan sambil menjaga keinginan agar tidak menyakiti hati banyak orang. Ini semua hanya soal visi yang semoga lebih besar dan bermanfaat karena dikerjakan sembari berusaha belajar mendahulukan Tuhan.

Selamat datang lagi ketekunan yang menggebu-gebu walau harus dimulai -lagi- dari titik terendah. Tidak perlu canggung, mungkin perasaan takut perlahan akan hilang jika lebih sering dilatih untuk yakin dan percaya.

Tuhan sudah berbaik hati memberimu kekuatan untuk terus melangkah, sesekali membuat saya bercermin dan sering menyelamatkan saya dari pikiran-pikiran yang dangkal. Lebih baik mengurangi waktu mempertanyakan segala hal karena semua yang dicari sudah ditemukan (orang-orang yang mau selalu membersamai semangat saya). Tuhan pun berbaik hati membukakan semua pintu yang ingin saya pilih. Dan saya tidak ingin menjadi seorang yang bodoh, yang pura-pura tidak tahu kebenaran yang ada di depan mata saya sendiri.

Maka, jatuh akan lebih baik dipenuhi dengan langkah-langkah kecil yang layak dilakukan dan bukan lagi sekedar menimbun pertanyaan “Apa yang saya inginkan?”

Malang, 28 November 2017

 

Beasiswa Data Print

data printHALOO SEMUANYA…

kali ini saya akan update tentang informasi beasiswa dari Data Print. Nah beasiswa ini udah bertahun-tahun diadakan oleh pihak dataprint. Buat kamu-kamu pelajar di tingkat SMP sampai S1 yuk buruan ikutan, 2 Minggu lagi registrasi beasiswa akan ditutup. Dijamin gak akan nyesel ikut beasiswa ini. Saya nih buktinya, tahun lalu juga mendapatkan beasiswa dari dataprint ini. Gak akan rugi kalau setiap tahun jadi pelanggan setia dataprint. Banyak untungnya…

Nah… gak usah bingung mau cari info dan syaratnya dimana. Tinggal kunjungi google dan search dengan keyword “beasiswa data print”, mesin pencari google sudah canggih tuh meletakkan link itu di paling atas. Tapi biar kamu gak ribet nih saya kasih linknya… So, tunggu apa lagi… do it! Action!

http://www.beasiswadataprint.com atau klik disini

 

UNTUK DIINGAT: Menunda dan Ikhtiar yang Setengah-setengah

Saya harus menuliskan ini meski rasanya seperti merekam setiap kebodohan yang telah dilakukan.

Di luar sana, ada puluhan orang yang sedang mati-matian menjinakkan perasaan malas-tak berdaya-dan tanpa kompromi.

Hidup terasa membingungkan akhir-akhir ini. Terlebih dihadapkan dengan konsekuensi atas sikap yang kurang tegas. Sederet topik essay tertempel di dinding kamar, puluhan desain foto menggantung di antara jepitan kayu, konsep-konsep hidup yang sejatinya menjadi pengingat langkah yang harus diambil lama-lama mulai berdebu.

Sore ini -untuk sekali lagi- saya paham dan menyesali tentang konsekuensi ‘menunda’.

Siapa yang akan bertanggungjawab?

Haruskah kalimat itu keluar sebagai pertanyaan? Bagi saya kok rasanya memalukan untuk dijawab. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari ikhtiar yang setengah-setengah dan kebodohan yang berpotensi terulang.

Dua puluh dua tahun dan menyadari semakin hari tak lebih baik. Ah rasanya menyesakkan. Perasaan gagal, kurang, tidak pantas, ingin berhenti dalam suatu hal yang saya anggap penting menjadi catatan tersendiri tentang kinerja saya di masa muda.

“Wah keren yaa, sudah bisa melakukan apa yang diinginkan?”

Pernyataan macam itu yang saya dengar dari  beberapa orang sejujurnya membuat saya risih. Entah karena peduli, kepo, atau hanya basa basi, saya rasa sudah terlalu sering ikhtiar-doa-harapan-dan waktu yang saya permainkan, yang tidak sesuai dengan apapun penilaian orang tentang “wah keren ya”. Bukankah itu sebuah kesombongan? Ya. Kesombongan mempermainkan waktu dan ikhtiar yang setengah-setengah.

Saya masih jauh dari si A yang mempersiapkan suatu hal dengan baik. Ia adalah orang yang saya rasa tidak pernah punya alasan untuk menunda-protes-ataupun setengah-setengah. Setidaknya itu yang saya tangkap dari gerak-gerik dan cerita yang dibagikan pada saya sejauh ini.

Lalu setelah semua yang tertunda dan ikhtiar yang terlambat disadari masih setengah-setengah, saya masih berani-beraninya memohon kesempatan demi kesempatan pada Tuhan? Lalu… lalu saya merasa Allah harus yakin bahwa saya sudah berjuang sebegitu kerasnya?

Memalukan sekali. Sungguh.

Penyesalan terasa tak bermakna karena saya kalah sebelum mencoba.

Apa yang bisa dibanggakan?

 

Kehadirannya -orang-orang dengan semangat yang sama- menjadi pelipur sedih. Menjadi penyemangat bahwa saya masih dibersamai oleh mereka. Saya rasa tak ada yang lebih memalukan selain melakukan hal-hal bodoh di tengah orang-orang yang mengerahkan seluruh waktunya melakukan ikhtiar terbaik, tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa basa-basi.

Berada di antara orang-orang itu, membuat saya punya alarm positif dan gratis pula. Mereka hadir sebagai pengingat saat saya mulai ruwet dalam membaca prioritas hidup. Kehadiran mereka bagai tangan-tangan yang siap memukul kepala saya agar tidak mencla-mencle dalam mengikhtiarkan sesuatu.

Ini yang terakhir, lakukan apapun, sampai Allah yakin bahwa ada yang berjuang sebegitu kerasnya. Bukankah harusnya perasaan kurang dan tak pantas yang menggelisahkan membuat saya harusnya tahu bahwa itu isyarat yang Allah titipkan agar beristiqomah dalam berikhtiar?

Try it, right?

Kediri, 29 Oktober 2017

 

Pesan CintaMu dan Hal-hal yang Dihakimi Orang Lain

Dua minggu setelah wisuda sarjana, saya memilih pulang sementara ke rumah orangtua. Alasan yang pertama adalah karena waktu itu saya sedang sakit. Alasan kedua adalah karena banyak hal yang ingin saya persiapkan termasuk belajar melepaskan dan meninggalkan.

Saya pulang dengan kegelisahan dan mata yang mengharu biru, langkah kaki gontai, dan air mata yang siap jatuh kapanpun. Berbagai kenangan berlari-lari saat melemparkan pandangan di jendela kereta. Pertanyaan hidup yang dirapal dalam doa perlahan hanyut menjadi ketenangan tersendiri sepanjang perjalanan. Lalu saya berusaha menyimpulkan bahwa ini adalah pesan cintaMu untuk menjawab hal-hal abstrak tentang kompleksitas perasaan yang mendayu-dayu.

***

Dua minggu ini, saya punya banyak hal untuk dinikmati dan puluhan teman bicara dari orang-orang yang ditemui. Obrolan yang membuat semangat kadang hilang dan timbul. Seperti siang tadi, saya bertemu sahabat saya, sebut saja si A. Setelah sekian tahun tidak berjumpa dan komunikasi kami hanya sebatas lewat media sosial. Jarak yang cukup jauh membuat kami hanya berkomunikasi seadanya, and I do what I wanna do.

Setiap berbicara/ berkomunikasi dengannya, selalu membuat saya mampu meredam protes atas banyak hal di kehidupan yang tidak sesuai keinginan. Ia adalah orang baik yang saya percaya mampu membuka berbagai dimensi pemikiran saya tentang menjadi sebaik-baik manusia. Seringkali di saat bersamaan, Ia menunjukkan kepercayaan yang utuh untuk Allah walau terkadang hal-hal yang dipercayai tampak mudah dihakimi oleh orang lain.

Saya bersyukur karena dihadirkan oleh Allah orang yang selalu bersedia membagi keluasan ilmu dan keikhlasannya. Ia bercerita tentang kesempatan dan peran hidupnya untuk terus belajar bagaimana cara berpasrah dari petunjuk-petunjuk yang dibawa Allah dalam berbagai tempa. Menyimak kisahnya seperti diijinkan oleh Allah untuk terlibat dalam alur pikirnya. Retakan-retakan keraguan di kepala saya perlahan menemukan rumahnya untuk diletakkan sebagaimana peran seharusnya. Akhirnya, keberanian muncul dari mulut saya untuk mengatakan:

“Salah satu keinginan saya adalah saya ingin menjadi sepertimu”

Lalu lewat senyumnya Ia berusaha menjelaskan seolah Ia mempercayai bahwa saya bisa lebih baik darinya.

Tentu saja, sampai detik ini saya masih belajar darinya dalam mengelola prasangka baik, kesabaran, dan tersenyum tentang rencana Allah yang lagi-lagi akan mudah dihakimi oleh orang lain. Saya rasa setiap manusia akan mengalami ujiannya masing-masing namun darinya saya juga belajar memaknai pesan cinta Allah hingga tak ada yang bisa dilakukannya selain yakin dengan pertolonganNya.

Obrolan 5 jam tadi membuat saya menemukan remah-remah diri saya yang dulu hingga detik ini. Cerita-ceritanya membuat kekhawatiran saya luntur semudah yakin dengan kebaikan, petunjuk dan cinta yang dihadirkan Allah dari berbagai coba dan tempa.

Hingga muncul satu kesadaran untuk menyimpulkan bahwa saya harus siap. Dan dari matanya bisa tertangkap pesan bahwa saya harus memperjuangkan diri lebih keras lagi menterjemahkan pesan cintaNya.

Terimakasih untuk selalu yakin bahwa saya mampu belajar dan melihat dari cara yang benar. Terimakasih karena selalu menitipkan pesan cintaNya di setiap tutur yang terbagi. Terimakasih untuk kesadaran terbaik yang selalu membuat saya lebih berani dan baik-baik saja karena memilikiNya…

ps. ditulis sambil mengulang-ulang mendengarkan How Would You Fell-nya Ed Sheeran

Kediri, 28 Oktober 2017

 

Zona Nyaman

20160928_214134

Membaca blog-mu membuat saya memilih untuk mengganti playlist lagu di youtube dengan link lagu yang tercantum di blog-mu.

Mungkin itu salah satu cara Allah memberikan petunjuk tentang kehidupan yang sedang saya jalani sampai detik ini. Pada berbagai kesempatan, Allah menitipkan banyak orang untuk ditemui, menyimak kisahnya dan berkali-kali membuat saya terjebak pada alur pikirannya. Walau kadang lelah mendengarnya, saya rasa mereka -orang-orang yang saya temui- banyak memberikan kontribusi pikiran, pemahaman, dan persepektif baru tentang berbagai hal.

Mendengar cerita-cerita mereka membuat saya selalu berusaha mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu ditunjuk Allah untuk keluar dari zona nyaman. Akan selalu ada banyak PR untuk merapikan diri, berusaha sebaik mungkin memperbaiki niat dari segala ambisi yang ingin diraih.

Menyimak lagu itu membuat saya kembali berpikir sudah sejauh mana perjalanan saya. Menelaah satu per satu tujuan berbagai aktivitas yang saya lakukan. Kenyataannya, masih sangat jauh dari apa yang disebut berjuang dan justru penuh keluhan.

Katanya “Ngak ada yang lebih capek selain denger orang ngeluh capek terus.”

Dan saya tidak memilih menjadi seperti itu. Hari ini saya cukup senang keluar dari zona nyaman, meskipun sesederhana menulis lagi di blog ini.

Dengarkan lagunya di sini

 

Kediri, 26 Oktober 2017

 

Jogja: Akibat Promo Tiket PT KAI

Aku pernah deg-degan saat membocorkan rencana liburan yang kubilang keren kepada orang-orang. Ada banyak sekali sebenarnya yang ingin aku ceritakan tentang perjalananku ke Jogja September 2016 dan Mei 2017  lalu. Sayangnya, tumpukan pekerjaan bergantian datang, sehingga aku jelas belum bisa menulis catatan tentang perjalanan ke Jogja sebagai prioritas utama. Meski begitu, aku merasa punya tanggung jawab untuk tetap menuliskan perjalanan ini. Bagaimanapun, aku akan berusaha menceritakan setiap bagian perjalanan ini tanpa terpotong. Enjoy it!

Tentang 28-29 September 2016 itu sebenarnya adalah rejeki yang tidak pernah terdua. Seminggu sebelum keberangkatanku ke Jogja, kakak ipar mengirimkan chat di BBM agar segera mengirimkan foto KTP untuk membeli tiket kereta ke Jogja. Tanpa pikir panjang aku memotret KTP menggunakan handphone dan segera mengirimnya. Padahal saat itu aku sedang di bus untuk pulang kampung ke Kediri setelah beberapa minggu menghabiskan waktu kuliah di Malang.

Sebenarnya aku sudah berkali-kali ke Jogja, baik sendirian maupun ikut rombongan. Tapi kali ini, perjalananku ditemani oleh Abang (Kakak Ipar). Setelah sejak setahun (2015-2016) yang lalu aku merayu orang-orang untuk mau menikmati liburan ke Jogja, cuma abang satu-satunya yang mau menemaniku. “Akhirnya…” pikirku. Empat hari menjelang keberangkatan itu, hari-hariku sibuk oleh rencana perjalanan sampai memikirkan pundi-pundi uang saku yang harus disiapkan. Kalau bukan karena program tiket promo ulang tahun PT. KAI, aku tidak  mungkin berangkat.

Dan ketahuilah, INI ADALAH PERTAMA KALINYA AKU JATUH CINTA NAIK KERETA dan kemudian ketagihan! Lol!

Apesnya, saldo di rekeningku saat itu hanya tersisa Rp 1.300.000,- (padahal tak ada anggaran travelling bulan ini). Let’s see what I can do there.

Lalu, marilah kita rinci secara lebih detail! Sebelumnya aku memang sudah melakukan survey destinasi wisata di Jogja jauh sebelum promo kereta PT.KAI ini jadi agenda liburan dadakan. Dan, karena pertimbangan waktu yang singkat hanya 2 hari 1 malam sekaligus mengatur rute perjalanan agar padat dan tidak membuang waktu, aku memutuskan menanyakan rute perjalananku selama disana ke salah seorang teman yang bekerja sebagai tour guide di Jogja .

 

Aktivitas – Transportasi – Tiket Wisata

Kota wisata sekelas Jogja, transportasi yang bisa digunakan cukup lengkap. Jadi wisatawan tidak perlu kebingungan untuk menuju destinasi tujuannya. Dan untuk liburan kali ini kami menghabiskan waktu mengelilingi Jogja menggunakan jalur darat –lagi-lagi karena promo tiket PT. KAI. Berdasarkan rencana perjalanan yang sudah aku buat, maka rincian aktivitas- transportasi dan tiket wisatanya adalah sebagai berikut:

  • Perjalanan ditempuh menggunakan kereta dengan jalur Kediri-Jogja yang memakan waktu 5 jam saja! Dengan biaya sebesar Rp 57.000,- untuk pulang dan pergi. Kereta yang kami gunakan adalah Krakatau Ekspress yang turun di stasiun Lempuyangan Jogja. Oh iya, kalau dari Kediri, perjalanan menggunakan kereta ini adalah pilihan terbaik, kenapa? Karena waktu lebih efisien daripada naik BUS atau menggunakan mobil yang memakan waktu hampir 9 jam perjalanan.
  • Sesampai di stasiun, kami memilih menyewa motor sebagai kendaraan selama 2 hari di Jogja. Saat di kereta, kami sudah membooking jasa rental motor (Jogjig) yang letak pangkalannya tepat di depan stasiun Lempuyangan. Untuk 2 hari pemakaian (sebenarnya sih hanya pakai 32 jam bukan 48 jam) kami dikenakan biaya Rp 160.000,- dengan jaminan 2 KTP. Kami memilih motor Vario 150 cc dengan fasilitas 2 Helm dan Jas hujan. Setelah mendapatkan motor yang sesuai pesanan, kami lanjut mengisi bensin (pertalite) di pom bensin sebanyak Rp 20.000,-

 

  1. Senja di Candi Ijo

Kedatangan kami di stasiun Lempuyangan menggunakan Kereta Api Krakatau sekitar pukul 12.45. Selama di kereta, kami sudah melakukan booking motor di Jogjig. Rute pertama kami adalah di Candi Ijo yang terletak di Desa Sambirejo, Sleman. Jarak yang ditempuh dari stasiun Lempuyangan sekitar 1 jam. Arsitektur sederhana candi Hindu berada di ketinggian yang menyajikan pesona pemandangan dan budaya menjadi spot kami untuk beristirahat sejenak menikmati senja. Candi ini buka mulai pukul 07.00-16.30 dengan tiket masuk gratis dan biaya parkir 3000 rupiah. (maps: https://www.google.co.id/maps/dir/”/maps+candi+ijo+jogja/@-7.7838262,110.4418142,12z/data=!3m1!4b1!4m8!4m7!1m0!1m5!1m1!1s0x2e7a5aa8d6b14f85:0xa062a1bc51696d11!2m2!1d110.5118548!2d-7.7838319)

  1. Bersantai di GWK-nya Jogja: Tebing Breksi

Sejalan dengan wisata Candi Ijo (jaraknya sekitar 200 m dari Candi Ijo), kami melanjutkan perjalanan ke Tebing Breksi. Disana tidak terlalu ramai wisatawan karena sudah cukup sore sekitar pukul 16.00 WIB.

Awalnya Tebing Breksi bukanlah tujuan wisata kami, namun karena ternyata perjalanan ke Candi Ijo berdekatan dengan Tebing Breksi (200 meter) maka kami putuskan untuk mampir. Tebing Breksi adalah bekas tambang batu yang akhirnya dijadikan wisata dan dikelola oleh warga setempat. Bekas pertambangan batu itu di poles sedemikian rupa hingga bisa menjadi tempat wisata. Batu Breksi yang ada di sana dipahat dan menjadi karya seni yang bisa dinikmati para wisatawan. Waktu itu, saat kami berkunjung, lokasi Tebing Breksi masih dalam proses pembangunan. Ada banyak pahatan yang belum jadi dan beberapa spot masih dalam tahap pengerjaan. Dan menariknya, untuk menikmati pemandangan di sini sambil bersantai di atas tebing, kami hanya harus membayar 3.000 untuk parkir dan 7000 untuk tiket wisata seikhlasnya. Murah bukan? Eits, tapi jangan jadi pelit kalo liburan ke sini. (maps: https://www.google.co.id/maps/dir/”/tebing+breksi/@-7.7823161,110.4347302,12z/data=!3m1!4b1!4m8!4m7!1m0!1m5!1m1!1s0x2e7a5aa46eac45ff:0xf4d2d3dc97e5ce3f!2m2!1d110.5047708!2d-7.7823218)

Setelah dua destinasi terpenuhi, kami kembali ke kota untuk menuju penginapan yang letaknya tepat di pusat Kota Jogja. Lagi-lagi kami masih menggunakan motor dan mengandalkan google map. Sampai di penginapan, kami hanya memiliki waktu 3 jam untuk check in, bersih-bersih dan mandi, setelah itu perjalanan kami lanjutkan untuk eksplore pusat kota Jogja a.k.a Malioboro!

  1. Jelajah Malioboro

Perjalanan malam itu kami awali di Tugu Jogja untuk berfoto ria. Ini adalah objek wisata gratis yang ramai oleh wisatawan. Untuk menuju kesini, kami membutuhkan waktu 10 menit dan hanya mengeluarkan biaya parkir motor sebesar Rp 2000,-. Oh ya, tidak perlu repot untuk mencari tempat parkir karena banyak kantong-kantong parkir yang disediakan di sekitar Tugu Jogja.

Dari Tugu Jogja, kami lurus saja menuju Malioboro, menikmati malam dengan duduk cantik dan berfoto di tengah keramian Malioboro. Kami hanya mengeluarkan biaya parkir motor sebesar Rp 3000,-. Jangan takut kesepian kalau ke Malioboro! Di sepanjang jalan Malioboro ada banyak seniman jalanan yang menampilkan karyanya, mulai dari pelukis hingga perkusi. Tak perlu takut kelaparan juga! Di sepanjang jalan selalu ramai penjual makanan dan oleh-oleh khas Jogja yang harganya sangat terjangkau (asal pinter nawar) hehehe.

  • Setelah puas, kami kembali ke penginapan dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan esok hari. Malam itu kami mengisi bensin lagi sebesar Rp 20.000,-. Tapi karena tidak bisa tidur, kami bersantai di ruang baca (ruang santai) hotel yang ada di lantai dua tepat di atas lobby.
  1. Trekking Spot Foto di Kalibiru

Pagi kedua ini, rupanya aku masih di kamar hotel. Sounds good! Kami melanjutkan perjalanan ke Kalibiru yang terletak di Kulonprogo, memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit masih menggunakan motor dan mengandalkan google map. Rute menuju Kalibiru mudah ditemukan dan jalanannya sudah mulus ber-aspal! tapi setelah sampai, fiuh rasanya seperti mendaki gunung! Sampai di lokasi kami membayar biaya parkir motor Rp 3000,- dan bersiap menuju objek wisata yang katanya instagramable. Jalur menuju kalibiru sangat menanjak dan butuh banyak tenaga (saran: pakailah sepatu yang nyaman, jangan bawa barang berat-berat, sebelum kesini lebih baik jogging seminggu. hahaha) Di masing-masing spot yang bisa digunakan untuk foto dipatok biaya sebesar Rp 30.000,- untuk dua orang. Dan aku memilih dua spot untuk berfoto. Apa yang unik? Spot foto berbentuk kayu di atas ketinggian dengan pemandangan danau di belakangnya yang sangat cantik!. Nah jangan kekurangan fotografer, di Kalibiru setiap spot dilengkapi dengan fotografer, editor foto, dan pengarah gaya. Tak tanggung-tanggung, kamera yang digunakanpun sudah DSLR Canon 60D dan di atasnya. Jadi jangan khawatir dengan kualitas fotonya. (saran: kalau mau berkunjung ke sini lebih pagi lebih baik agar tidak terlalu ramai)

  1. Menggali Kenangan Sejarah di Borobudur

Selesai menikmati pemandangan di Kalibiru, kami menuju destinasi selanjutnya yaitu Candi Borobudur. Well, untuk menuju kesana kami membutuhkan waktu sekitar 2 jam (karena arahnya berlawanan dengan Kalibiru). Untuk kendaraan bermotor hanya disediakan area parkir di luar kompleks candi dengan biaya sebesar Rp 3000,-. Otomatis kami harus berjalan kaki menuju lokasi candi. (Saranku tetap sama: banyak olahraga, pakai sepatu dan pakaian yang nyaman, dan bawa minum). Kami menuju loket masuk dan membeli tiket dengan biaya Rp 60.000,- untuk dua orang. Oh ya, di dalam juga disediakan tempat penitipan barang dan kami memilih menitipkan barang-barang bawaan di sana, GRATIS!

Sudah cukup dengan pemandangan alami Kalibiru, saatnya kini menikmati wisata sejarah Candi Borobudur. Siang yang terik itu kami mendapatkan sedikit penjelasan dari petugas Candi Borobudur mengenai relief-relief yang ada di sekeliling candi. Nah, ternyata di sudut kiri candi, terdapat tumpukan batu yang memang dikhususnkan. Kenapa? Ternyata relief yang ada di batu tersebut berisi gambar dan berkisah yang agak vulgar sehingga dipisahkan agar tidak semua pengunjung (terutama anak kecil) bisa melihatnya. Mau tau cerita yang lebih lengkap ketika berkunjung ke Candi Borobudur? Jangan lupa sewa guide! Kadang-kadang itu kesalahan terbesarku ketika berkunjung ke lokasi wisata, lupa sewa tour guide!

Total untuk transportasi dan tiket wisata pada perjalanan ini menghabiskan dana sebesar Rp 419.000,- Bagaimana dengan pengeluaran berikutnya?

 

Penginapan

Nah, untuk memilih penginapan sebenarnya susah-susah gampang. Tapi untungnya ada banyak pilihan yang bisa kita lihat review-nya di internet. Setelah berjam-jam sebelum keberangkatan aku mencari penginapan. Pilihanku jatuh ke hostel dengan pertimbangan biaya dan daya jangkau. Di Jogja, kami memilih menginap di Edu Hostel Jogja yang terletak di Let Jen Suprapto No.17, Ngampilan, Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261 (review saya tentang hostel ini bisa di cek di tripadvisor)

  • Kami memilih kamar yang berisi 8 ranjang dengan biaya masing-masing orang sebesar Rp 80.000,- per malam dan sudah termasuk sarapan.
  • Untuk menyimpan barang-barang disediakan loker di masing-masing kamar, tapi kami masih harus membeli kunci alias gembok seharga Rp 12.000. (24.000 rupiah untuk 2 orang)
  • Pada saat check in kami diwajibkan menyerahkan deposit sebesar Rp 100.000,- (uang deposit dikembalikan ketika check out)
  • Free Breakfast

Hostel rasa hotel ini cukup terkenal dan banyak turis yang bermalam disini. Mungkin karena suasananya yang nyaman dan ada di pusat kota. Total biaya yang kami keluarkan disini sebesar Rp 284.000,-

 

Konsumsi

Dua menu yang kami incar selama di Jogja adalah Tengkleng Hohah dan Angkringan! Untuk urusan makan, kami lebih fleksibel ya, jadi tidak ada patokan harus makan berapa kali, asal lapar ya cari makan daripada pingsan. Untuk sarapan dapat diperoleh gratis di hotel.

  • Di hari pertama sebelum menuju Candi Ijo, kami menikmati makan siang di Tengkleng Hohah (ig @tengklenghohah) (searah dengan lokasi Candi Ijo) yang beralamat di Jalan Wonosari KM 7, Seberang Pom Bensin Mantup (buka mulai jam 10 pagi – 9 malam). Menu makan yang disajikan disini serba kambing dan kebetulan aku adalah penikmat balungan sejati maka aku memilih menu makan Tengkleng Hohah Pedas dan Sate Klatak plus Es Jeruk untuk dua orang dengan total sebesar Rp 70.000,- (maps: https://www.google.co.id/maps/dir/”/tengkleng+hohah/@-7.8209613,110.3513336,12z/data=!3m1!4b1!4m8!4m7!1m0!1m5!1m1!1s0x2e7a5733c8ad6983:0x4d86ba7a54ff5793!2m2!1d110.4213742!2d-7.8209671
  • Hari pertama malam hari, kami menuju angkringan joss pak agus dan memilih menu sepuasnya, pengeluaran selama makan di angkringan ini sebesar Rp 30.000,- untuk dua orang.
  • Hari kedua, selesai berfoto di Kalibiru kami mampir di warung tenda sepanjang tempat wisata, untuk mengganjal perut yang lapar dan kehabisan tenaga setelah tracking, aku memesan pop mie ukuran kecil, dan kami bisa menghabiskan 5 gorengan plus 2 botol air mineral. Jangan khawatir soal makan di sini, harganya masih NORMAL alias MURAH! Maka biaya jajan di Kalibiru sebesar Rp 15.000,-
  • Melanjutkan perjalanan ke Borobudur dan berkeliling candi, kami mampir ke salah satu warung di jalur keluar candi. Awalnya karena ngidam es kelapa muda. Kami memesan 1 batok es kelapa muda seharga Rp 15.000,- dan 1 porsi gudeng dengan lauk ayam kampung dengan harga Rp 18.500,-
  • Selesai dari Borobudur, kami langsung menuju stasiun lempuyangan untuk menunggu keberangkatan kereta pukul 18.00. Sore menjelang malam disana, kami makan paket ayam goreng seharga Rp 31.000,- untuk dua orang.

Maka pengeluaran untuk konsumsi selama  2 hari sebesar Rp 179.500,-

Belanja

Nah untuk keperluan belanja ini sebisa mungkin ditiadakan untuk travel backpacker yang suka laper mata lihat oleh-oleh.  Dengan sekuat tenaga tidak memegang dompet saat di pusat oleh-oleh, akhirnya tergoda juga membeli bakpia 5 kotak dan jajanan khas jogja dengan pengeluaran sebesar Rp 188.000,-. Dan di sepanjang jalan  malioboro aku membeli 4 buah sandal yang ramai dijajakan di trotoar seharga Rp 50.000,-. Pengeluaran kami selama belanja sebesar Rp 238.000,-

Ibadah

Untuk urusan ibadah, jangan khawatir! Di setiap lokasi wisata selalu ada masjid/ mushola yang bisa dimanfaatkan untuk sholat. Anyway, selama di Jogja alhamdulillah ibadah kami terjaga karena banyak tempat ibadah di setiap lokasi yang dikunjungi. Tips: Jangan lupa bawa mukena dan sajadah kecil selama liburan.

 

Yuk kita hitung berapa total pengeluaran liburan untuk 2 orang di Jogja kali ini?

Transportasi – aktivitas – tiket wisata    : Rp 419.000,-

Penginapan                                                   : Rp 184.000,- (deposit tidak dihitung)

Konsumsi                                                      : Rp 179.500,-

Belanja                                                          : Rp 238.000,-

Total                                                               : Rp 1.020.500,-

Nah, dari review di atas, jadi kami berhasil liburan pelit hemat 2 hari 1 Malam di Jogja dengan biaya masing-masing orang Rp 510,250,- hahaha.

If I can, so you can! Lets Travel!! Dan, tunggu review liburan Jogja versi Private Trip selanjutnya!