Jogja: Akibat Promo Tiket PT KAI

Aku pernah deg-degan saat membocorkan rencana liburan yang kubilang keren kepada orang-orang. Ada banyak sekali sebenarnya yang ingin aku ceritakan tentang perjalananku ke Jogja September 2016 dan Mei 2017  lalu. Sayangnya, tumpukan pekerjaan bergantian datang, sehingga aku jelas belum bisa menulis catatan tentang perjalanan ke Jogja sebagai prioritas utama. Meski begitu, aku merasa punya tanggung jawab untuk tetap menuliskan perjalanan ini. Bagaimanapun, aku akan berusaha menceritakan setiap bagian perjalanan ini tanpa terpotong. Enjoy it!

Tentang 28-29 September 2016 itu sebenarnya adalah rejeki yang tidak pernah terdua. Seminggu sebelum keberangkatanku ke Jogja, kakak ipar mengirimkan chat di BBM agar segera mengirimkan foto KTP untuk membeli tiket kereta ke Jogja. Tanpa pikir panjang aku memotret KTP menggunakan handphone dan segera mengirimnya. Padahal saat itu aku sedang di bus untuk pulang kampung ke Kediri setelah beberapa minggu menghabiskan waktu kuliah di Malang.

Sebenarnya aku sudah berkali-kali ke Jogja, baik sendirian maupun ikut rombongan. Tapi kali ini, perjalananku ditemani oleh Abang (Kakak Ipar). Setelah sejak setahun (2015-2016) yang lalu aku merayu orang-orang untuk mau menikmati liburan ke Jogja, cuma abang satu-satunya yang mau menemaniku. “Akhirnya…” pikirku. Empat hari menjelang keberangkatan itu, hari-hariku sibuk oleh rencana perjalanan sampai memikirkan pundi-pundi uang saku yang harus disiapkan. Kalau bukan karena program tiket promo ulang tahun PT. KAI, aku tidak  mungkin berangkat.

Dan ketahuilah, INI ADALAH PERTAMA KALINYA AKU JATUH CINTA NAIK KERETA dan kemudian ketagihan! Lol!

Apesnya, saldo di rekeningku saat itu hanya tersisa Rp 1.300.000,- (padahal tak ada anggaran travelling bulan ini). Let’s see what I can do there.

Lalu, marilah kita rinci secara lebih detail! Sebelumnya aku memang sudah melakukan survey destinasi wisata di Jogja jauh sebelum promo kereta PT.KAI ini jadi agenda liburan dadakan. Dan, karena pertimbangan waktu yang singkat hanya 2 hari 1 malam sekaligus mengatur rute perjalanan agar padat dan tidak membuang waktu, aku memutuskan menanyakan rute perjalananku selama disana ke salah seorang teman yang bekerja sebagai tour guide di Jogja .

 

Aktivitas – Transportasi – Tiket Wisata

Kota wisata sekelas Jogja, transportasi yang bisa digunakan cukup lengkap. Jadi wisatawan tidak perlu kebingungan untuk menuju destinasi tujuannya. Dan untuk liburan kali ini kami menghabiskan waktu mengelilingi Jogja menggunakan jalur darat –lagi-lagi karena promo tiket PT. KAI. Berdasarkan rencana perjalanan yang sudah aku buat, maka rincian aktivitas- transportasi dan tiket wisatanya adalah sebagai berikut:

  • Perjalanan ditempuh menggunakan kereta dengan jalur Kediri-Jogja yang memakan waktu 5 jam saja! Dengan biaya sebesar Rp 57.000,- untuk pulang dan pergi. Kereta yang kami gunakan adalah Krakatau Ekspress yang turun di stasiun Lempuyangan Jogja. Oh iya, kalau dari Kediri, perjalanan menggunakan kereta ini adalah pilihan terbaik, kenapa? Karena waktu lebih efisien daripada naik BUS atau menggunakan mobil yang memakan waktu hampir 9 jam perjalanan.
  • Sesampai di stasiun, kami memilih menyewa motor sebagai kendaraan selama 2 hari di Jogja. Saat di kereta, kami sudah membooking jasa rental motor (Jogjig) yang letak pangkalannya tepat di depan stasiun Lempuyangan. Untuk 2 hari pemakaian (sebenarnya sih hanya pakai 32 jam bukan 48 jam) kami dikenakan biaya Rp 160.000,- dengan jaminan 2 KTP. Kami memilih motor Vario 150 cc dengan fasilitas 2 Helm dan Jas hujan. Setelah mendapatkan motor yang sesuai pesanan, kami lanjut mengisi bensin (pertalite) di pom bensin sebanyak Rp 20.000,-

 

  1. Senja di Candi Ijo

Kedatangan kami di stasiun Lempuyangan menggunakan Kereta Api Krakatau sekitar pukul 12.45. Selama di kereta, kami sudah melakukan booking motor di Jogjig. Rute pertama kami adalah di Candi Ijo yang terletak di Desa Sambirejo, Sleman. Jarak yang ditempuh dari stasiun Lempuyangan sekitar 1 jam. Arsitektur sederhana candi Hindu berada di ketinggian yang menyajikan pesona pemandangan dan budaya menjadi spot kami untuk beristirahat sejenak menikmati senja. Candi ini buka mulai pukul 07.00-16.30 dengan tiket masuk gratis dan biaya parkir 3000 rupiah. (maps: https://www.google.co.id/maps/dir/”/maps+candi+ijo+jogja/@-7.7838262,110.4418142,12z/data=!3m1!4b1!4m8!4m7!1m0!1m5!1m1!1s0x2e7a5aa8d6b14f85:0xa062a1bc51696d11!2m2!1d110.5118548!2d-7.7838319)

  1. Bersantai di GWK-nya Jogja: Tebing Breksi

Sejalan dengan wisata Candi Ijo (jaraknya sekitar 200 m dari Candi Ijo), kami melanjutkan perjalanan ke Tebing Breksi. Disana tidak terlalu ramai wisatawan karena sudah cukup sore sekitar pukul 16.00 WIB.

Awalnya Tebing Breksi bukanlah tujuan wisata kami, namun karena ternyata perjalanan ke Candi Ijo berdekatan dengan Tebing Breksi (200 meter) maka kami putuskan untuk mampir. Tebing Breksi adalah bekas tambang batu yang akhirnya dijadikan wisata dan dikelola oleh warga setempat. Bekas pertambangan batu itu di poles sedemikian rupa hingga bisa menjadi tempat wisata. Batu Breksi yang ada di sana dipahat dan menjadi karya seni yang bisa dinikmati para wisatawan. Waktu itu, saat kami berkunjung, lokasi Tebing Breksi masih dalam proses pembangunan. Ada banyak pahatan yang belum jadi dan beberapa spot masih dalam tahap pengerjaan. Dan menariknya, untuk menikmati pemandangan di sini sambil bersantai di atas tebing, kami hanya harus membayar 3.000 untuk parkir dan 7000 untuk tiket wisata seikhlasnya. Murah bukan? Eits, tapi jangan jadi pelit kalo liburan ke sini. (maps: https://www.google.co.id/maps/dir/”/tebing+breksi/@-7.7823161,110.4347302,12z/data=!3m1!4b1!4m8!4m7!1m0!1m5!1m1!1s0x2e7a5aa46eac45ff:0xf4d2d3dc97e5ce3f!2m2!1d110.5047708!2d-7.7823218)

Setelah dua destinasi terpenuhi, kami kembali ke kota untuk menuju penginapan yang letaknya tepat di pusat Kota Jogja. Lagi-lagi kami masih menggunakan motor dan mengandalkan google map. Sampai di penginapan, kami hanya memiliki waktu 3 jam untuk check in, bersih-bersih dan mandi, setelah itu perjalanan kami lanjutkan untuk eksplore pusat kota Jogja a.k.a Malioboro!

  1. Jelajah Malioboro

Perjalanan malam itu kami awali di Tugu Jogja untuk berfoto ria. Ini adalah objek wisata gratis yang ramai oleh wisatawan. Untuk menuju kesini, kami membutuhkan waktu 10 menit dan hanya mengeluarkan biaya parkir motor sebesar Rp 2000,-. Oh ya, tidak perlu repot untuk mencari tempat parkir karena banyak kantong-kantong parkir yang disediakan di sekitar Tugu Jogja.

Dari Tugu Jogja, kami lurus saja menuju Malioboro, menikmati malam dengan duduk cantik dan berfoto di tengah keramian Malioboro. Kami hanya mengeluarkan biaya parkir motor sebesar Rp 3000,-. Jangan takut kesepian kalau ke Malioboro! Di sepanjang jalan Malioboro ada banyak seniman jalanan yang menampilkan karyanya, mulai dari pelukis hingga perkusi. Tak perlu takut kelaparan juga! Di sepanjang jalan selalu ramai penjual makanan dan oleh-oleh khas Jogja yang harganya sangat terjangkau (asal pinter nawar) hehehe.

  • Setelah puas, kami kembali ke penginapan dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan esok hari. Malam itu kami mengisi bensin lagi sebesar Rp 20.000,-. Tapi karena tidak bisa tidur, kami bersantai di ruang baca (ruang santai) hotel yang ada di lantai dua tepat di atas lobby.
  1. Trekking Spot Foto di Kalibiru

Pagi kedua ini, rupanya aku masih di kamar hotel. Sounds good! Kami melanjutkan perjalanan ke Kalibiru yang terletak di Kulonprogo, memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit masih menggunakan motor dan mengandalkan google map. Rute menuju Kalibiru mudah ditemukan dan jalanannya sudah mulus ber-aspal! tapi setelah sampai, fiuh rasanya seperti mendaki gunung! Sampai di lokasi kami membayar biaya parkir motor Rp 3000,- dan bersiap menuju objek wisata yang katanya instagramable. Jalur menuju kalibiru sangat menanjak dan butuh banyak tenaga (saran: pakailah sepatu yang nyaman, jangan bawa barang berat-berat, sebelum kesini lebih baik jogging seminggu. hahaha) Di masing-masing spot yang bisa digunakan untuk foto dipatok biaya sebesar Rp 30.000,- untuk dua orang. Dan aku memilih dua spot untuk berfoto. Apa yang unik? Spot foto berbentuk kayu di atas ketinggian dengan pemandangan danau di belakangnya yang sangat cantik!. Nah jangan kekurangan fotografer, di Kalibiru setiap spot dilengkapi dengan fotografer, editor foto, dan pengarah gaya. Tak tanggung-tanggung, kamera yang digunakanpun sudah DSLR Canon 60D dan di atasnya. Jadi jangan khawatir dengan kualitas fotonya. (saran: kalau mau berkunjung ke sini lebih pagi lebih baik agar tidak terlalu ramai)

  1. Menggali Kenangan Sejarah di Borobudur

Selesai menikmati pemandangan di Kalibiru, kami menuju destinasi selanjutnya yaitu Candi Borobudur. Well, untuk menuju kesana kami membutuhkan waktu sekitar 2 jam (karena arahnya berlawanan dengan Kalibiru). Untuk kendaraan bermotor hanya disediakan area parkir di luar kompleks candi dengan biaya sebesar Rp 3000,-. Otomatis kami harus berjalan kaki menuju lokasi candi. (Saranku tetap sama: banyak olahraga, pakai sepatu dan pakaian yang nyaman, dan bawa minum). Kami menuju loket masuk dan membeli tiket dengan biaya Rp 60.000,- untuk dua orang. Oh ya, di dalam juga disediakan tempat penitipan barang dan kami memilih menitipkan barang-barang bawaan di sana, GRATIS!

Sudah cukup dengan pemandangan alami Kalibiru, saatnya kini menikmati wisata sejarah Candi Borobudur. Siang yang terik itu kami mendapatkan sedikit penjelasan dari petugas Candi Borobudur mengenai relief-relief yang ada di sekeliling candi. Nah, ternyata di sudut kiri candi, terdapat tumpukan batu yang memang dikhususnkan. Kenapa? Ternyata relief yang ada di batu tersebut berisi gambar dan berkisah yang agak vulgar sehingga dipisahkan agar tidak semua pengunjung (terutama anak kecil) bisa melihatnya. Mau tau cerita yang lebih lengkap ketika berkunjung ke Candi Borobudur? Jangan lupa sewa guide! Kadang-kadang itu kesalahan terbesarku ketika berkunjung ke lokasi wisata, lupa sewa tour guide!

Total untuk transportasi dan tiket wisata pada perjalanan ini menghabiskan dana sebesar Rp 419.000,- Bagaimana dengan pengeluaran berikutnya?

 

Penginapan

Nah, untuk memilih penginapan sebenarnya susah-susah gampang. Tapi untungnya ada banyak pilihan yang bisa kita lihat review-nya di internet. Setelah berjam-jam sebelum keberangkatan aku mencari penginapan. Pilihanku jatuh ke hostel dengan pertimbangan biaya dan daya jangkau. Di Jogja, kami memilih menginap di Edu Hostel Jogja yang terletak di Let Jen Suprapto No.17, Ngampilan, Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261 (review saya tentang hostel ini bisa di cek di tripadvisor)

  • Kami memilih kamar yang berisi 8 ranjang dengan biaya masing-masing orang sebesar Rp 80.000,- per malam dan sudah termasuk sarapan.
  • Untuk menyimpan barang-barang disediakan loker di masing-masing kamar, tapi kami masih harus membeli kunci alias gembok seharga Rp 12.000. (24.000 rupiah untuk 2 orang)
  • Pada saat check in kami diwajibkan menyerahkan deposit sebesar Rp 100.000,- (uang deposit dikembalikan ketika check out)
  • Free Breakfast

Hostel rasa hotel ini cukup terkenal dan banyak turis yang bermalam disini. Mungkin karena suasananya yang nyaman dan ada di pusat kota. Total biaya yang kami keluarkan disini sebesar Rp 284.000,-

 

Konsumsi

Dua menu yang kami incar selama di Jogja adalah Tengkleng Hohah dan Angkringan! Untuk urusan makan, kami lebih fleksibel ya, jadi tidak ada patokan harus makan berapa kali, asal lapar ya cari makan daripada pingsan. Untuk sarapan dapat diperoleh gratis di hotel.

  • Di hari pertama sebelum menuju Candi Ijo, kami menikmati makan siang di Tengkleng Hohah (ig @tengklenghohah) (searah dengan lokasi Candi Ijo) yang beralamat di Jalan Wonosari KM 7, Seberang Pom Bensin Mantup (buka mulai jam 10 pagi – 9 malam). Menu makan yang disajikan disini serba kambing dan kebetulan aku adalah penikmat balungan sejati maka aku memilih menu makan Tengkleng Hohah Pedas dan Sate Klatak plus Es Jeruk untuk dua orang dengan total sebesar Rp 70.000,- (maps: https://www.google.co.id/maps/dir/”/tengkleng+hohah/@-7.8209613,110.3513336,12z/data=!3m1!4b1!4m8!4m7!1m0!1m5!1m1!1s0x2e7a5733c8ad6983:0x4d86ba7a54ff5793!2m2!1d110.4213742!2d-7.8209671
  • Hari pertama malam hari, kami menuju angkringan joss pak agus dan memilih menu sepuasnya, pengeluaran selama makan di angkringan ini sebesar Rp 30.000,- untuk dua orang.
  • Hari kedua, selesai berfoto di Kalibiru kami mampir di warung tenda sepanjang tempat wisata, untuk mengganjal perut yang lapar dan kehabisan tenaga setelah tracking, aku memesan pop mie ukuran kecil, dan kami bisa menghabiskan 5 gorengan plus 2 botol air mineral. Jangan khawatir soal makan di sini, harganya masih NORMAL alias MURAH! Maka biaya jajan di Kalibiru sebesar Rp 15.000,-
  • Melanjutkan perjalanan ke Borobudur dan berkeliling candi, kami mampir ke salah satu warung di jalur keluar candi. Awalnya karena ngidam es kelapa muda. Kami memesan 1 batok es kelapa muda seharga Rp 15.000,- dan 1 porsi gudeng dengan lauk ayam kampung dengan harga Rp 18.500,-
  • Selesai dari Borobudur, kami langsung menuju stasiun lempuyangan untuk menunggu keberangkatan kereta pukul 18.00. Sore menjelang malam disana, kami makan paket ayam goreng seharga Rp 31.000,- untuk dua orang.

Maka pengeluaran untuk konsumsi selama  2 hari sebesar Rp 179.500,-

Belanja

Nah untuk keperluan belanja ini sebisa mungkin ditiadakan untuk travel backpacker yang suka laper mata lihat oleh-oleh.  Dengan sekuat tenaga tidak memegang dompet saat di pusat oleh-oleh, akhirnya tergoda juga membeli bakpia 5 kotak dan jajanan khas jogja dengan pengeluaran sebesar Rp 188.000,-. Dan di sepanjang jalan  malioboro aku membeli 4 buah sandal yang ramai dijajakan di trotoar seharga Rp 50.000,-. Pengeluaran kami selama belanja sebesar Rp 238.000,-

Ibadah

Untuk urusan ibadah, jangan khawatir! Di setiap lokasi wisata selalu ada masjid/ mushola yang bisa dimanfaatkan untuk sholat. Anyway, selama di Jogja alhamdulillah ibadah kami terjaga karena banyak tempat ibadah di setiap lokasi yang dikunjungi. Tips: Jangan lupa bawa mukena dan sajadah kecil selama liburan.

 

Yuk kita hitung berapa total pengeluaran liburan untuk 2 orang di Jogja kali ini?

Transportasi – aktivitas – tiket wisata    : Rp 419.000,-

Penginapan                                                   : Rp 184.000,- (deposit tidak dihitung)

Konsumsi                                                      : Rp 179.500,-

Belanja                                                          : Rp 238.000,-

Total                                                               : Rp 1.020.500,-

Nah, dari review di atas, jadi kami berhasil liburan pelit hemat 2 hari 1 Malam di Jogja dengan biaya masing-masing orang Rp 510,250,- hahaha.

If I can, so you can! Lets Travel!! Dan, tunggu review liburan Jogja versi Private Trip selanjutnya!

 

 

Advertisements

Langkah Membeli Tiket Pesawat Online

Melakukan perjalanan (traveling) seolah sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang. Kebutuhan liburan menjadi salah satu pilihan untuk sejenak meninggalkan sesaknya rutinitas kerja. Hal itu berdampak bagi jasa layanan transportasi terutama penerbangan yang berlomba-lomba memberikan kualitas layananan terbaik dengan harga yang terjangkau untuk berlibur di berbagai destinasi pilihan.

Ekonomis, efisiensi waktu, kualitas prima, tiga istilah itulah yang bisa menggambarkan kondisi transportasi penerbangan yang ada saat ini. Sejalan dengan itu, penyedia layanan pembelian tiket online juga meningkat untuk menarik pembeli memilih layanan transportasi udara. Ada beragam informasi mulai dari jadwal dan harga yang disertai promo-promo menarik pada saat-saat tertentu. Saya sendiri sudah beberapa kali memanfaatan layanan online travel agent (OTA) untuk membeli tiket pesawat.

Kenapa membeli tiket secara online? Karena produk yang ditawarkan lebih bervariasi, menghemat waktu, bisa dilakukan dimana saja dan kapanpun dengan sitem pembayaran yang mudah.

Nah, berikut ini adalah beberapa langkah yang biasa saya lakukan untuk membeli tiket secara online

1. Langkah pertama

Untuk mencari harga paling rendah alias murah, saya biasanya mengunjungi website skyscanner. Dengan mengunjungi website tersebut dan memasukkan rute penerbangan yang diinginkan selanjutnya akan muncul list pesawat disertai perbandingan daftar harga dari beberapa OTA.

Tips 1. Jangan langsung tergiur dengan harga paling murah yang muncul. Biasakan untuk melihat review dan track record OTA melalui tripadvisor atau google.

Tips 2. Untuk lebih meyakinkan, lakukan perbandingan harga langsung di website OTA yang terpilih (karena biasanya ada promo yang diberikan.

2. Langkah kedua

 

Selesai melihat review dan menemukan maskapai dengan harga tiket yang diinginkan, selanjutnya kita akan diminta untuk mengisi data atau informasi penumpang. Kali ini saya memilih membeli tiket melalui tiket.com dengan maskapai citilink (karena memilih penerbangan siang dan harga lebih murah daripada maskapai dan OTA lain)

citilink
pilihan waktu dan maskapai di website tiket.com

Setelah itu, dilanjutkan dengan pengisian data penumpang dan pemesan

citilink 2
detail data pemesan di situs tiket.com
citilink 3
detail nama penumpang 

Jika dua tahap pengisian form data diri atau identitas penumpang, masih ada pilihan apakah kita ingin memakai jasa asuransi atau tidak. Jika iya, maka beri tanda centang pada bagian kolom. Ada baiknya kita membaca terlebih dahulu keterangan, syarat dan ketentuan yang ada. Biasanya saya memilih untuk menggunakan jasa asuransi.

Setelah selesai klik “pesan sekarang”.

3. Langkah ketiga

Tahap selanjutnya pembelian tiket Citilink melalui tiket.com adalah memilih metode pembayaran yang akan digunakan. Metode pembayaran yang disediakan mulai dari kartu kredit, kartu debit, ATM dan lain sebagainya. Penjelasan mengenai metode pembayaran dan tata cara pembayaran bisa dibaca disini.

citilink 4

Pilihlah salah satu dari banyak pilihan yang ada. Kali ini saya memilih pembayaran menggunakan Internet Banking BNI. Setelah melakukan pembayaran, maka e-ticket pesawat Citilink yang dipesan melalui tiket.com akan dikirimkan ke alamat email kita, download file kemudian cetak untuk keperluan penukaran atau check in keberangkatan.

citilink 5

Tips. Saat check in di bandara, hanya menunjukkan e-ticket di layar handphone saja sudah bisa. Tanpa perlu di print!

Nah, mudah bukan? Enjoy your trip!!

Bergerak

Berapapun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menjauh dari kesepian yang semakin pahit, bergerak adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan.

Aku putuskan untuk menyingkirkan sepi dengan terus bergerak. Lagipula aku sudah terbiasa untuk membesarkan hati kalaupun seandainya kita memang berjarak. Semoga kamu tahu, ada banyak hal yang bisa aku lakukan untuk membunuh sepi, menjauhi hal-hal perih sendiri. Menghidupi diri dengan menghiburnya lewat banyak hal.

Aku buktikan kata-katamu bahwa khawatir adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dari cinta. Lalu mulai bergerak dan tak mau kalah pada keadaan adalah ego yang harus dijaga agar pikiran tak terlalu terbebani. Sesekali, bergerak membawaku pada kekhawatiran yang tak sesuai dengan saranmu. Aku mengkhawatirkan pilihanku. Aku mengkhawatirkan waktu tanpamu. Aku mengkhawatirkan ketidakmampuanku bahwa aku ingin sepertimu.

Lalu siapa yang sebenarnya pantas untuk dikhawatirkan? Kamu yang jauh di sana atau aku yang takut kehilanganmu?

Baiknya kita sama-sama terus bergerak untuk membuktikan jawaban yang sebenarnya.

Malang, 28 April 2017

Pura-Pura (delete soon)

Melengkapi yang hilang adalah keterasingan lain. Setelah kebahagiaan yang harusnya menemukan semangat baru, kini hanya tinggal abu yang siap ditiup angin.

Akan kubayangkan diriku sebagai yang terakhir menemukanmu. Membatin. Apakah dua-tiga-empat-lima jam cukup untuk mencegahku jadi korban keterasingan.

Hari ini aku menulis banyak. Kadang semangat terisi penuh, bahagia berlebihan, lalu menjadi acuh, dan sering kali menjadi orang paling lemah untuk menghadapi ini.

Bolehkah aku memilih pulang? Memulangkan hati yang kemudian menjadi beban. Memulangkan perasaan. Hingga berhasil menghirup kehidupan yang biasa-biasa saja. Dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang lainnya. Tak perlu pura-pura dan bangga atas kehebatan pura-pura itu.

Ah, semua memang hanya pura-pura.

Dear Ami #25 BATAS

Sebelum langit mulai mendung, aku ingin menjelaskan kegelisahan yang selama ini kita ributkan. Takutku bukan tentang kehilanganmu, tapi duka berkepanjangan. Memaksa kita membendung ingatan yang semestinya sudah terlupakan.

Pertama,

Aku memang tak mampu membawamu lari lebih jauh meninggalkan masa lalu yang menyakitkan itu. Sebab perjalanan panjang kita sudah tertakdir sebagai rangkai cerita penuh getir dan syair. Maka meski ada hati yang sulit untuk melepas, ada mata dan hatiku yang berhak mengajakmu menatap ke depan tanpa perlu mencari-cari alasan mengapa dirimu harus mengerti.

Kadang kita enggan melangkah ketika dirimu menemukan kebahagiaan dariku yang dulu. Percayalah, aku bisa membuatmu tersenyum dan menemukan aku yang baru dalam keadaan lebih baik dibandingkan ketika aku menemukanmu dulu. Dalam pandanganku, dirimu akan selalu punya kesempatan untuk mengenali hidupku. Kesedihan dan kebahagiaan punya batas yang tak mudah ditebak. Percayalah.

Kedua,

Kupikir aku tidak selalu memperlakukan diriku dengan baik. Entah apakah itu juga berdampak pada caraku memperlakukanmu? Aku belum sepenuhnya menemukan jawabannya. Hal itu lebih mudah memberimu alasan untuk berulang kali menegurku tentang “Buat apa belajar dan menulis banyak hal kalau kamu tidak bisa mengenali dirimu sendiri?”. Ketahuilah, aku telah lama membuat batas-batas nyaman yang bisa digunakan untuk menutupi kebohongan dan rasa takut tentang apapun itu. Jarak-jarak aman dengan mudah membuatku beranjak melupakan ketakutan dan memulai kebahagiaan dengan cara yang tidak wajar. Jauh lebih sakit menemukan diri bangun dan tertatih antara memperbaiki atau memulai yang baru. Semacam itulah jika aku berantakan dan kehilanganmu.

Tapi baiklah, akan kurapikan alasan-alasan yang membuat hidup ini rumit. Dari banyak hal tak terduga di luar rencana, akan kugunakan lebih banyak waktu yang sejak dulu begitu sempit untuk mengerti diriku sekaligus dirimu.

Ketiga,

Ketika penantian menjadi harapan tak bertuan. Kuharap kita saling berjuang meluruhkan ego. Aku ingin selalu menyapa rindumu. Dan kamu, kuharap siap menyapa kenangan-kenangan yang kubangun semalaman. Lalu kita, siap pulang dengan sisa-sisa kesenangan. Esoknya, terbangun dengan celoteh isi kepala tentang kerinduan dan kelegaan menuntaskan harapan.

Kita sering mengutuki kegagalan mengulang pertemuan dan sekaligus bisa saling menemukan disaat tidak sedang mencari. Hingga tak ada yang bisa kupilih selain berdamai dengan waktu. Tapi kini aku tak bisa. Aku tak lagi bisa hanya berdamai dengan waktu. Aku akan mengurainya pada tulisan-tulisan sederhana. Membuat batas kita penuh napas jika dibaca suatu saat nanti.

Terakhir,

Tak ada batas yang membuatku berhenti membuatmu merasa dicintai, dihargai, dan dimengerti dengan cara istimewa. Tak ada batas yang benar-benar menghalangi caraku membahagiakanmu dengan cara yang tak biasa, yang tak pernah terpikir orang lain.

 

Kediri, 24 April 2017

 

Kedai Kopi

 

Saya percaya, hidup adalah hidangan berisi pikiran dan perasaan yang selalu berubah sepanjang waktu. Ajaibnya, kualitas hidangan itu ditentukan oleh kualitas belajar kita. Untuk mendapatkan hidangan terbaik, ada perbincangan, pengalaman, proses belajar, penerimaan tentang hidup dan orang-orang terbaik dalam hidup ini. Sebagian orang, termasuk saya, akan memilih menikmati hidangan terbaik dalam bentuk makanan sekaligus obrolan.

Sejak lama, saya senang jika bertemu dan menjamu orang di kedai kopi, cafe, atau semacamnya. Berbagai macam pertemuan itu terekam di kepala sebagai “bahan belajar”. Biasanya orang-orang yang saya temui akan bercerita tentang kehidupannya secara lebih terbuka. Tak terhitung berapa cangkir kopi yang selalu saya habiskan untuk menjadi pendengar yang baik dari ceritanya. Tampaknya saya lebih pantas menjadi pengunjung teladan di kedai-kedai kopi.

Tapi tiga tahun belakangan agaknya cukup berbeda, saya mengunjungi kedai kopi atau cafe sendirian. Di antara tuntutan kehidupan dan target pencapaian yang terus bertambah, mengunjungi kafe adalah kelegaan tersendiri. Seringkali saya memilih tempat di pojok dan dekat sudut-sudut jendela untuk sekedar memesan kopi dan beberapa makanan. Dan entah mengapa, datang ke kafe sambil membawa laptop justru membuat saya jauh lebih produktif dan berhasil mengerjakan banyak hal.

Di kafe, saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah, saya mengerjakan skripsi. Menyelesaikan tulisan-tulisan. Menyelesaikan project-project pesanan. Juga termasuk menumbuh-kembangkan pikiran dan hasil belajar untuk di realisasikan sebagai life goals. Akan selalu ada ide, cerita, dan kawan-kawan baru yang bisa saya temukan sambil duduk dan menyeduh cangkir-cangkir kopi.

Begitulah, rasanya saya menemukan kebahagiaan dan doa yang terwujud bersamaan dengan menikmati beragam hidangan, buku-buku, dan setumpuk rencana berisi perbaikan masa depan. Saya menikmatinya untuk beristirahat dari ramai jalanan sekaligus berjuang mewujudkan mimpi. Menjelang senja, cangkir pertama di kedai kopi bisa saja membuat segala sesuatunya menjadi baik dan mudah.

Waktu Tunggu

Berapa lama aku harus mempersiapkan waktu untuk menjadi sepertimu? Paling tidak ada di posisi satu garis di belakangmu.

Apa yang kamu tunggu? Jawabanmu itu seolah menegaskan bahwa ada sesuatu yang masih terpisah dari diriku.

Pada satu kondisi, aku kerapkali susah tidur. Jika begitu, aku sering memilih memainkan ibu jari. Mengetikkan beberapa pertanyaan yang kukirim untukmu. Hari-hari belakangan adalah sesuatu yang amat pelik untuk dikhawatirkan yang berujung pada obrolan tengah malam kita. Ada beberapa kejadian yang selalu payah untuk kuusahakan. Salah satunya mungkin masa depan.

Katamu, bagaimana mungkin aku bisa lupa jadwal minum obat dan sering lalai untuk cek kesehatan, lalu tak peduli soal makanan. Bagaimana mungkin kamu tak sempat menjaga hal-hal kecil itu?. Pertanyaan yang kamu jawab juga dengan pertanyaan menjadi lukisan kebodohan yang aku lakukan.

Kamu lalu menjelaskan, menerangkan banyak hal. Ada cara-cara hidup yang dengan fasih ingin kamu hadirkan di perjalananku. Walaupun mungkin tidak mudah. Luka memar selama perjalanan memang tak pernah mudah hilang, namun membincangkan hal ini bersamamu semoga membantu menyembuhkan.

“Kamu tak perlu menggadaikan seluruh hidupmu untuk berjuang, berkorban, dan menanggung penyesalan atas apa yang tidak bisa kamu lakukan di masa lalu, pada beberapa kesempatan. Kamu hanya perlu menggadaikan sebagian waktumu yang sudah kamu rencanakan untuk melakukan perjuangan, pengorbanan, dan ujian kesabaran.”

Ah sungguh aku telah melewatkan banyak hal itu. Akhirnya kamu juga menjadi salah satu orang yang berbaik hati menegurku. Akhirnya aku menyerah pada kalimat terakhirmu. Gamang yang semakin menunjukkan eksistensinya. Remang-remang lampu mulai memperhitungkan perasaan dari hati yang selalu berseberangan. Dan hari ini aku perlu berdamai dengan diriku, dengan penyesalan dan masa lalu. Aku memastikan bahwa diriku akan mulai melakukan sesuatu untuk menjawab pertanyaan masa lalu. Semua yang akan dihadapi ataupun yang pernah terlewat untuk dilakukan adalah sekumpulan urusan yang harus diselesaikan.

Dan tentu saja, kamu adalah rindu yang harus dituntaskan.

Terimakasih untuk bantuannya membuatkan satu paket agenda kegiatan yang melengkapi hari-hariku.

Dia (Mungkin) Menulis

Siapapun bisa kagum oleh capaian prestasimu yang mengular sepanjang tahun. Beda denganku yang harus mencari ribuan alasan untuk bisa mengagumimu dari sisi lain. Pertemuan kita hanya sebatas dua labirin pintu yang terbuka di dunia maya. Tentu kita belum sempat bertatap muka dalam waktu yang entah sampai kapan. Tentu saja, sepanjang masa itu aku tak mampu menerka isi hatimu.

Agaknya meski terjarak oleh dua benua, tak sepenuhnya menghalangi perkenalan kita. Kamu menjadi sosok yang lugas mengungkapkan siapa dirimu dan apa keinginanmu lewat tulisan-tulisanmu di blog. Akupun bisa tersenyum dan bersuara ringan lewat tulisan untuk menyatakan banyak hal yang lebih sulit tersampaikan langsung. Aku ingin di belakangmu saja untuk kali ini.

Perkenalan yang cukup menguras pikiran, bukan?

Senja yang berganti rupa seringkali membawaku pada perasaan berbeda. Membuka dan membacamu di berbagai tulisan agaknya membuat hari dan hatiku bercabang. Di satu sisi aku terus diingatkan untuk menyelesaikan berbagai urusanku dengan diriku sendiri, di sisi lain tuntutan menyempurnakan hidup dengan berbagai capaian semakin mendekati batas akhir. Kamu pasti tahu maksudku jika membaca tulisan ini.

Kehadiranmu dan tulisan-tulisanmu bukan sekedar penunjuk tapi sekaligus menjadi ‘kehidupan yang lain’ untukku. Aku disibukkan lagi oleh kebahagiaan untuk menghidupi mimpi-mimpiku yang mulai kering dan gersang. Pada satu kondisi, perasaanku itu menjadikanku berani untuk mengajukan permintaan padamu

“Tolong tulisakan sesuatu yang pernah pertama kali mengajakmu jatuh untuk menulis, lalu kenapa kamu tidak pernah mau terpisah darinya. Tulis saja semua yang kamu ingat. Aku yang akan membacanya pertama kali.”

Apakah ini berlebihan?

The Secret Letter of The Monk

Take the time to learn from your mistakes… Kataku setelah baru saja menyelesaikan dua bab buku “The Secret Letter of The Monk Who Sold His Ferrari. Ada sedikit kutipan yang aku tulis walau sebenarnya belum selesai terangkum sepenuhnya dari buku tersebut.

  1. Tapi kuharap kau bisa berfokus pada kesempatan yang dapat kau raih daripada ketidaknyamanan yang mungkin kau hadapi. Bagaimanapun, hidup adalah perjalanan, dan yang terpenting bukanlah apa yang kau dapat, melainkan menjadi siapa dirimu.
  2. Caramu berhubungan dengan orang lain menunjukkan caramu berhubungan dengan diri sendiri. Kau orang baik tapi kupikir kau tidak selalu memperlakukan dirimu seperti itu.
  3. Kita manusia biasa, tak punya kemampuan untuk membangun sesuatu yang begitu mengagumkan dalam sekejap. Kita harus sabar. Kita harus membangun segalanya perlahan-lahan, satu bata demi satu bata. Sebesar apapun keinginan kita untuk meraih hal-hal yang hebat dalam waktu singkat, bukan begitu cara kerja dunia kita. Kecerdasan adalah sebua proses.
  4. Tindakan paling kecil sekalipun selalu lebih baik daripada niat paling ambisius. Dan Hasil selalu bicara lebih lantang dari kata-kata.
  5. Dalam pandanganku, pekerjaan adalah kendaraan untuk lebih mengenali bakat kita, mengungkapkan lebih banyak potensi kita, dan memberi manfaat pada sesama manusia.
  6. Aku belajar bahwa aku lebih kuat daripada batas-batas yang kubuat. Dan bagiku, semua alasan yang kubuat tampaknya hanya kebohongan yang berusaha ditanamkan oleh rasa takutku.
  7. Kita mungkin lebih mudah untuk melakukan salah terhadap orang-orang terdekat kita, karena kita menganggap mereka akan selalu lebih mudah untuk memaafkan.

(bersambung)

Dear Ami #24 Kisah Singkat

Di folder tulisanku tahun 2017 ini belum banyak tulisan yang dihasilkan. Apalagi didukung oleh suasana hati dan kesehatan yang sedang mendung.

Hujan yang turun setiap sore selalu menjadi klimaks dari cuaca kenangan yang memukau dan terus saja minta diingat. Tentang kejadian setahun kemarin, aku akan menjaganya sebagai yang tak pernah ada. Aku ingin kita melupakannya, barangkali melupakan merupakan salah satu pekerjaan amal untuk tetap saling memiliki. Aku akan mengenang bahwa di masa lalu ada kebahagiaan tak terdefinisi yang kita nikmati dan di masa depan aku tetap ingin menikmati itu. Sehingga siapapun yang pernah kita kenal dan mengenal kita akan mencatat kita sebagai satu kisah yang tak terganti. Warisan kisah yang tak setiap orang bisa memilikinya.

Kemarahan kita sepanjang tahun ini adalah muntahan dari ketakutan dan kegelisahan yang selama ini menghukumku siang dan malam. Sedang pengakuanmu adalah permulaan dari kesunyian panjang yang kumiliki memaksaku berpikir.

Perasaan apa yang sedang kita rasakan kali ini? Di luar mataku tak ada yang bisa kulihat selain dirimu, selain dirimu yang naik turun angkot pagi dan sore. Aku masih melihatmu setiap pagi, menemui tiap sore. Tapi apakah sore nanti hatimu akan baik-baik saja untukku? Apa sore nanti aku masih milik rindu-rindumu? Apa sore nanti kamu masih akan pulang denganku? Setidaknya ada kebiasaan-kebiasaan yang tidak pernah hilang darimu. Kebiasaan itu tak pernah berkhianat dariku yang mudah pelupa. Ia menyuburkan khayalanku setiap waktu.

Cerita apa yang sedang aku tulis sekarang? Apa yang bisa kamu baca dari cerita itu? Berulangkali aku menulis dan membaca kisah yang terposting di blog pribadiku. Ceritanya menggemaskan, terlihat seperti drama padahal itu memang benar terjadi. Tak setiap orang akan bisa mempercayai kisah ini. Aku sampai sering susah tidur dan tak nyaman pergi ke cafe. Cafe tempatku biasa meramu cerita kita. Ah, tapi aku akan bisa menulisnya dimanapun. Aku tak ingin kehilangan cara menuliskan kenangan kita agar tak berganti rupa.

Kapan terakhir kali kita terjebak hujan lebat? Di ruang tamu ingataknku masih ada senyummu saat memberikan baju ganti. Katamu, biar aku bisa ganti saat aku kehujanan. Kenyataannya, memang aku sering berganti baju ketika basah kuyup oleh air mata. Aku diam-diam mengagumimu yang tak lelah menjadi tempatku pulang. Bukan sebatas pertemuan basa-basi atas nama rasa kasihan. Ada tiga lebih puisi yang diam-diam aku bisikkan di depanmu, sambil menatapmu lekat. Air hujan selalu lebih pandai menyampaikan segala perasaan rindu.

Pada akhirnya, aku memilih mencintaimu. Aku memilihmu tanpa paksaan. Aku tak rela menyingkirkan girangku terhadap pertemuan kita. Ini bagian dari takdir. Waktu yang membuktikan bahwa kali ini hidup dan cinta bukan hanya milikku sendiri tapi milikmu, milik orang-orang yang terlanjur aku cintai dan mencintaiku. Untuk alasan macam itu, aku bertahan menghindarkan diri dari kesepian.

Tapi, baiklah. Aku tak ingin bicara panjang lebar lagi soal ini. Bukannya aku tak ingin mengingat sama sekali. Aku hanya sedang ingin menunggu usaha terbaikku membuatmu kembali kehujanan rindu seperti malam-malam dulu.

Aku menulis kisah ini di atas kereta api; sambil tak sabar melewatkan pertemuan kita sore nanti. Semoga aku masih kebagian kebahagiaan.