Aroma hujan sore ini membawa saya mengunjungi blog yang lama tak dibuka. Mungkin benar jika ada yang bilang bahwa foto, musik, wewangian, dan aroma hujan selalu menjadi hal-hal yang memiliki kekuatan membuka kenangan.
Di depan jendela kamar kos sekitar 4 tahun yang lalu saya rajin menulis segala hal yang bisa saya kenang, meskipun tak semua tulisan itu saya posting di blog ini. Baiknya, tulisan itu selalu berhasil mengulang waktu untuk mengajarkan banyak sekali pelajaran tentang penerimaan. Soal bagaimana akhirnya saya berproses dan mengenang langkah-langkah pertama yang diambil.
Saya mengingat kapan terakhir kali punya perasaan seperti dorongan untuk menulis.
Ternyata pertemuan dan perbincangan dengan banyak orang sepanjang waktu selama berbulan-bulan ini tak juga cukup menggerakkan saya menulis di blog ini. Anehnya, dorongan menulis itu justru datang saat tanpa sengaja saya mencium aroma hujan.
Jadi, bagaimana hidup berjalan belakangan ini?
- Ambisi dan Kesabaran
Sempat tercengang ketika sahabat saya yang sudah lama tidak berjumpa tetiba mengatakan “Kamu beda ya sekarang, hidupmu seperti hanya mengejar ambisi-ambisi. Ikhlasmu sudah beda”. Kalimat itu membuat saya tertegun dan ya tentu saja sempat denial dengan pernyataan itu, tapi sejujurnya jauh di lubuk hati yang terdalam, memang demikian adanya.
Di waktu lain, teman lain di seberang telepon menegur “Sabar… nggak semua hal dan mimpimu harus terjadi sekarang juga, itu nafsu dan ambisimu yang membatasi sabarmu”. Dari semua teguran dan penilaian itu, saya masih beruntung karena dimampukan bersyukur karena menemukan orang-orang yang berkenan menasihati. Terimakasih kalian, siapapun yang selalu membantu menjaga langkah saya dan merawat waras yang kadang hilang.
2. Menunggu 5 Bulan ke Depan
Sepertinya tidak banyak hal bisa terjadi secara ajaib dan kebetulan. Buktinya kebetulan-kebetulan kecil yang membentuk pola setahun belakangan tak kunjung membuahkan hasil. Justru kebetulan-kebetulan itu sering diremehkan saking yakinnya dengan pilihan Allah.
“untuk ukuran manusia sepertimu, keyakinanmu harus didorong oleh banyak ikhtiar dan kesabaran, pandai-pandailah mengukur diri, nak…” ucap lelaki tua disamping kursi saat saya menunggu nasi goreng disajikan. Saya baiknya harus banyak mengingat dan belajar bahwa ujian setiap orang pasti berbeda-beda, pada level apapun dalam fase hidupnya.
Boleh dibilang, ada kebetulan-kebetulan yang mengunci langkah saya hingga tak ada pergerakan yang berati 6 bulan ini selain menunggu dan menunggu. Mengambil posisi bertahan yang boleh dibilang menyakitkan walau masih dalam batas normal.
Tapi masih ada waktu untuk mengejar dan putar balik, kan? Entahlah… tak elok rasanya memaksa dan mendahului kehendak Tuhan. Baiknya dimaknai sebagai salah satu jalan untuk melatih kesabaran dan rasa cukup.
3. Buku dan Jiwa yang Hilang
Sampai pertengahan tahun ini, saya hanya membaca 5 buku dari puluhan buku yang berhasil dibeli. Miris sebenarnya mengatakan ini sebab ada banyak waktu yang sebenarnya luang disela WFH. Namun ternyata, ada kenyataan lain yang sangat menyedihkan untuk diakui…
Melihat jauh ke dalam diri, ternyata tak banyak yang sudah diaplikasikan dari semua bacaan yang pernah dibaca selama ini. Mungkin… mungkin saja selama ini hanya terjebak pada romantisme membaca tanpa berpikir bagaimana strategi terbaik untuk mengaplikasikan hasil bacaan.
Kesadaran itu muncul dalam sebuah obrolan ringan dengan salah seorang teman. Ia secara sederhana menanyakan beberapa hal kecil dan sederhana, tapi anehnya saya selalu kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana itu. Apa yang membuat saya kesulitan menemukan jawaban dari semua pertanyaannya? Ada baiknya jawaban dari pertanyaan itu benar-benar saya renungkan kemudian mengubah strategi dan jenis bahan bacaan.
Terlalu jauh mengerti banyak hal di luar kemampuan menyesuaikan diri bisa sangat merepotkan. Semua hal, bacaan, obrolan, pemikiran, baiknya mulai dimulai dari dalam diri kemudian baru berlari mengukur ketahanan dan kemampuan diri mengejar tujuan yang diinginkan. Saya pernah berlari namun lupa mengenal diri sendiri yang berujung jatuh bertubi-tubi. Dan semua itu hanya bisa diselesaikan dengan mulai lebih dulu memperbaiki hal-hal sederhana yang ada di dalam diri.
Pelan… Tak perlu dipaksakan, nikmati saja semua perjalanan menemukan itu…
Terimakasih diri karena sudah berani mendengar, menepuk diri, sadar dan melakukan.
Ps. Setelah berhasil menulis beberapa judul hari ini, rasanya ingin membelikan hadiah pada diri sendiri: 50 tangkai bunga sedap malam untuk dibagi dan diletakkan di setiap sudut rumah dan kamar.