Bukankah Allah lebih dari cukup?

Sebulan terakhir, meminta Allah untuk memperbaiki diri saya, menjadi seperti dulu. Menjadi pribadi yang lebih disiplin dan dekat denganNya. Hampir dua puluh empat jam selama sebulan terakhir protes dan mengadu padaNya. Bagaimana bisa di usia yang sudah seperempat abad justru merasakan kualitas hidup yang menurun. Terutama dalam sisi manajemen diri dan ibadah padanya.

Protes yang saya sampaikan padaNya dalam doa doa itu cukup sederhana, hanya kalimat “aku mau seperti dulu ya Allah, yang disiplin, yang bisa mengatur jadwal hidup yang seimbang, yang tidak kehabisan waktu untuk membantu orang lain”, lalu hari ini Allah benar-benar mewujudkannya dalam bentuk jabatan dan amanah baru.

Amanah baru ini lebih berat tentu saja, membutuhkan banyak tanggung jawab. Dan tak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain menggantungkan sepenuh-penuhnya harapan, permintaan, dan pertolongan ke Allah.

Saya tak punya pilihan lain selain Ia, tak ada jalan lain selain meyakini apa yang Allah hendak takdirkan. Seberapa beratpun amanah itu, meyakini Allah lebih dari segala cukup.

Segalanya mungkin akan lebih menantang, lebih penuh tekanan, lebih menuntut bijaksana dalam mengambil segala keputusan. Bukankah Allah lebih dari cukup untuk membantumu?

 

Advertisements

Tentang Menjadi yang Sebaik Mungkin Bagi Dirimu

Tetiba sampai pada hari ini, saat tapak kaki punya kesempatan berkali-kali menginjak bagian bumi yang lain. Disaat yang sama tentu saja menyadari ternyata waktu tak bisa dipaksa memberikan segala hal sesuai ingin. Sering jatuh pada setiap proses perwujudan mimpi membuat doa semakin lantang diucapkan sepanjang waktu. Tidak ada yang bisa ditebak dan direncakan soal waktu. Sebab pada sebagian besar takdir hidup, semua yang dipandang tak sejalan bukan berarti gagal terwujud.

Ada banyak mimpi di persimpangan jalan yang berarti tugas saya tentu saja belum selesai untuk menakar berapa banyak porsi perhatian dalam mewujudkan mimpi-mimpi itu. Sesekali sengaja menepi mengumpulkan alasan untuk bertahan agar semakin banyak ruang memaafkan kesalahan yang diperbuat diri sendiri. Meski butuh waktu menyingkirkan alasan yang sengaja berkali-kali mengacaukan perhatian, saya harus segera selalu menyadari agar terbiasa melakukan semuanya sendirian.

Terimakasih sudah berusaha menjadi yang sebaik mungkin bagi dirimu. Tak ada kata cukup untuk terus memperbaiki diri. Lakukan saja sebaik yang diinginkan.

Sidoarjo, 20 Agustus 2019

Dear Ami, Aku Belum Selesai

Apa aku masih terlihat punya alasan untuk tidak bertahan? Apa ada sedikit saja jarak yang membuat kaki-kakiku menjauhkanmu sebagai tempat singgah? Kenyataannya aku tetap menujumu. Membiarkan aku dan segalaku mudah kamu dapatkan. Menepiskan ragu tentang satu dua hal perselisihan hati yang sering berujung ngilu. Untungnya bahagia adalah tujuan. Betapa tidak terhitung bahagia yang berhasil hanyut mengalahkan kata: sudah tidak sayang lagi.

Aku belum selesai. Masih ada puluhan tawa yang harus aku tunjukkan untuk mencukupi hatimu. Berharap bisa membalas segala kasihmu yang tak lagi bisa kuhitung dengan angka namun sudah disini, mendiami seluruh hatiku.

Malioboro Ekspres, 10 Agustus 2019

…Mu

Dulu aku pernah sejatuh-jatuhnya padaMu, menjadi yang paling utuh untukMu. Lalu Engkau kirimkan seribu cara untuk pulang, datang, dan mengadu padaMu. Entah memang aku yang setengah-setengah menjengukMu atau sering mencari-cari alasan agar bisa menghilang.

Seribu pertanyaan tentang “bagaimana caranya berjalan pelan menujuMu lagi? tanpa ragu, tanpa malu, menjadi yang paling benar-benar rindu?” menjadi teman perjalanan hati sehari-hari.

Sebenarnya aku ingin selalu bicara padaMu, jam 3 pagi, jam 3 sore, di kereta, di pesawat, di perjalanan, atau dimanapun, kapanpun.

Apapun, aku ingin selalu untukMu. Di dekatMu.

Bolehkah aku lelah merencanakan masa depan? Sedang di depan mata setumpuk PR mengganjal di tengah jalan. Apalagi yang dicari? Kejar? Lari? Bukankah semua hal buruk telah berkali-kali disudahi.

Bolehkah aku lelah menulis segala rencana dan apa-apa yang terlintas di kepala? Tak sadar sudah sekian lama kehilangan rasa peka untuk belajar dan memperbaiki segala hal. Hidup ya begitu-begitu saja. Bukan soal perasaan tapi kesulitan menahan pikiran-pikiran mengagungkan ego.

MendekatiNya

Senin, 4.48 subuh, mengawali hari dengan melembahkan pasrah padaNya. Rutinitas sehari-hari seringkali membuat saya terperangkap melupakanNya. Sampai berkali-kali terkejut dengan berbagai macam teguran yang menyakitkan. Katanya, jika Allah merindukan kita karena seringkali melupakanNya, Ia akan membuat kita kecewa dan sedih oleh urusan-urusan duniawi. Mungkin memang begitulah caranya sebab Allah maha pencemburu.

Dulu segalanya akan baik-baik saja karenaNya, sebab mampu meletakkan hati dengan baik, padaNya, hanya untukNya.

Kini ketika semua terasa sangat jauh saya benar-benar ingin kembali, tak lagi disibukkan oleh banyak hal yang sering membuat lupa padaNya. Tak boleh lagi ada ruang yang bisa memisahkan saya, hati saya denganNya. Seharusnya.

Sebaiknya saya harus mulai mempersiapkan cara untuk mendekat padaNya lagi.

Malang, 20 Mei 2019

Ayah, Sebuah Cerita Biasa

Malam ini mau cerita soal Ayah, yang belakangan lebih sering saya sebut Bapak dalam tulisan-tulisan saya.

Ya jadi ceritanya saya kena PHP sejak kemarin, Bapak ada tugas di Surabaya selama 4 hari, tapi justru hanya di hari terakhir saya bisa bertemu. Itupun hanya semalam. Kebetulan lokasi tugasnya dekat dengan tempat kerja saya, sekitar setengah jam naik gojek. Malam ini saya sepertinya akan menyusup ikut menginap disini dan tentu saja sambil tetap bekerja online. Hahaha

Ini buka puasa kedua saya dengan Bapak selama ramadan ini. Tahun ini mungkin yang ada di pikiran saya soal ramadan adalah kesepian sebab jauh dari keluarga. Apalagi ditambah dengan kecemasan saya apakah saya berhasil melalui ramadan kali ini dengan maksimal. Dulu, ketika masih sering menikmati ramadan di rumah, ada bapak yang rajin sekali mengajak saya safari masjid untuk tarawih. Merindukan sambal teri buatan bapak ketika sahur adalah salah satu sumber tangis di saat sahur sendirian di tanah rantau.

Saya lupa mau cerita apalagi, sampai disini dulu saja ya… hahaha

Surabaya, 15 Mei 2019

Memulai “Wajah” Lagi

Membuka laptop lagi setelah hampir lima bulan tak menyentuhnya. Tentu saja saya melewatkan menulis banyak cerita yang terjadi dalam kurun waktu lima bulan, sejak akhir desember hingga pertengahan mei ini.

Hampir 4 tahun belakangan, blog ini menjadi salah satu “wajah” saya untuk menceritakan tentang Ami, tentang kami, kehidupan saya, perasaan, dan banyak hal random yang tiba-tiba muncul di pikiran. Rupanya sekarang saya memang harus mengakui bahwa saya tak lagi serajin dulu untuk menulis. Hari ini, malam ke sebelas ramadhan saya harus memaksa diri saya untuk menulis di blog ini. Kenapa harus memaksa? Ya tentu saja karena saya sudah kehilangan kata lain untuk menggantikan pemakluman tidak menulis selama lima bulan.

Lima bulan dan kehilangan cara untuk menampilkan “wajah” kehidupan yang saya jalani dengan menulis. Mungkin jika sejak lima bulan yang lalu saya rutin menulis di blog ini, saya akan membaca ulang kisah itu hari ini. Tentang keputusan saya untuk resign dan menimbang berbagai pilihan yang dihadirkan Allah, mungkin waktu itu akan ada cerita tentang seberapa jatuh dan berantakannya hidup saya, tentang perjalanan ke Bangkok dan Malaysia yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Akan ada cerita tentang proposal penelitian bersama Ami yang lolos. Tentu saja akan ada cerita tentang takut kehilangan namun tetap merawat keikhlasan. Dan sudah terlalu banyak tangis dan kesempatan yang terlewat karena gagal mempersiapkan diri sendiri.

Saya memaafkan diri saya karena sering tak memberi ruang dan waktu untuk menulis hmmm tapi masih saja saya tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan rasa gagal karena tidak menulis. Sepertinya saya sudah tidak ingin lagi menangis menjelang tidur karena melewatkan hari tanpa menulis.

Dan hari ini, “wajah” cerita mana yang akan dimulai?

Surabaya, 15 Mei 2019

 

Katamu

Di hari kesekian saat rapalan doa mulai tak terjaga, kamu datang dengan segenggam cinta. Katamu aku masih bisa lari. Katamu, tak ada yang bisa menggantikan semangatku yang segigih ini. Katamu aku memang begini, tak ada yang bisa ditawar dari doa yang terus lantang diucapkan. Katamu aku  tak pernah cukup untuk mimpi-mimpi paling luar biasa yang pernah ada.

Ribuan katamu tak juga menyurutkan tanyaku tentang tapi kenapa dunia seakan membawaku di ujung lempar dan membenarkan alasan. Mengapa tak lekas kembali jika berkali-kali gagal menjadi diri sendiri?

Kediri, 10 Januari 2019

Dimana Kita Berada dan Akan Kemana Menuju

Akhirnya kamu menyadari telah sekian bulan tidak bergerak. Setidaknya untuk memperjuangkan dirimu dan apa-apa yang terhidang di depanmu. Kamu sadar bahwa sepanjang waktu yang menghentikanmu itu kamu tak sedikitpun menambah kecepatan. Juga tak sedikitpun ada usaha untuk berpikir menajamkan tujuan hidup. Berhenti, hanya berhenti dan menyembunyikan banyak hal tentang penyesalan yang berujung pemakluman.

Lagi-lagi butuh waktu lama untuk mengenal tempat, waktu, dan siapa dirimu sebenarnya. Lalu kembali disini, sendiri, melihat dari berbagai sisi tentang dunia yang dipenuhi berbagai kemungkinan. Meski masih sering geli menyaksikan tulisan sendiri di tengah ketidakberdayaan menjalankan program untuk perbaikan diri.

Tapi, jangan lupa mencoba, jangan lupa berdiri, lari, dan menjalani hari dalam kendali diri sendiri. Kamu pernah berbicara lantang tentang banyak hal yang membuatmu penuh oleh energi. Ketika kamu menemukan lagi kesadaran atas hidup. Apa kamu yakin masih jatuh cinta dengan kata-kata?

Mengapa kamu tak merekam setiap kunjungan sebelum-sebelumnya sebagai sebuah narasi cerita? Apa kamu lupa ada aksara di sekeliling lorong tangga yang melingkar, di antara riuh jalanan, di dinding-dinding yang sejuk dan dingin menyimpan banyak cerita.

Kamu lupa telah meninggalkan banyak cinta yang tidak benar-benar bisa kamu rasakan. Hari-hari yang melelahkan, rumahmu, pekerjaanmu hanya berlalu untuk menjemput tidurmu agar semua segera terlupa.

Mungkin saja hari ini segala niat baik akan diuji, kesalahan mati-matian coba diperbaiki, dan kamu tak lagi punya waktu untuk mengeluhkan yang telah terjadi kecuali untuk menghakimi dirimu sendiri.

Dan sebenarnya dimana kamu berada dan akan kemana menuju?

Kediri, 9 Januari 2019