Meredup

Ini bulan ke-sebelas setelah kepergiannya dan kamu masih jalan di tempat. Kepalamu masih saja hanya berisi gemuruh langkah kakinya yang mengejarmu di stasiun terakhir. Ia yang tergopoh menujumu setelah hanya kehilangan lima menit terlambat menjemputmu. Entah bagaimana memaksa seluruh hidupmu untuk mengerti cara melangkah menyudahi ini. Anehnya, kamu sempat bertanya tentang hal yang tak pernah kamu siapkan jawabannya…

“Kehilangan yang seperti apalagi yang harus Allah hadirkan agar kamu belajar?”

Setelah tanya-tanya itu, yang tersisa hanya senyum dan tatapan kosong. Sedang ragamu masih diam termenung di hadapan buku biru berjudul “Aku Menemukanmu” sambil menggenggam bolpoin dengan merk yang tak pernah berganti sejak lima belas tahun ini. Masih ada separuh halaman kosong, halaman yang harusnya berisi paragraf-paragraf terakhir yang harus segera ditutup. Tapi sekeras apa pun kamu mencoba mengisinya, kepalamu masih ada di tempat kain, di tempat yang sama di mana kamu pernah jatuh.

Barangkali menulis adalah sakit paling dalam, karena seseorang selalu ada dalam tulisanmu, katamu. Ia tidak tau bukan?

Ya, kita, sebagian besar akan terjebak di kesemenjanaan.

Cara-Cara Allah

“Tidak ada seorangpun yang mengetahui sesuatu kecuali pengetahuannya itu bersumber dan atas ijin Allah…” a hadith

Allah seperti tak pernah kekurangan cara untuk membuka mata saya, menunjukkan banyak hal yang Ia kehendaki. Disekitar kita, ada orang yg terlihat family man ternyata di balik itu doyan ‘jajan’, ada orang yg mendewakan kesederhanaan ternyata hanya untuk menutupi rasa iri tapi tergiur juga melakukan korupsi, ada yang mati-matian menutup ‘versi brengseknya’ di dunia maya agar tetap dinilai baik oleh society tapi Allah bukakan juga di hadapan banyak orang. Apapun… Two Sides!

Banyak hal yang tampil di permukaan sebenarnya tak seperti apa yang ada dalam diri kita. Citra kita, prinsip dan nilai-nilai yang kita yakini, seringkali lenyap begitu saja ketika dihadapkan pada kenyamanan baru atau terhimpit desakan-desakan kehidupan.

Saya? Saya sama seperti mereka… Allah hanya sedang berbaik hati menutup aib-aib saya. Lalu apa? Ternyata Allah lebih sayang untuk memberi saya kesempatan mengambil hikmah dari banyak hal yg Ia tunjukkan… Rasa syukur itu mendorong manusia seperti saya yg imannya masih compang-camping ini untuk memperbaiki. Bahwa Allah masih berkenan memberikan petunjuk untuk menyempurnakan ibadah sebelum kematian itu tiba.

Sabar, satu-satu, karena yang buru-buru kadang keliru…

*Sebenarnya setiap kali kita mau mendengarkan orang lain, memasang telinga baik-baik. Mudah sekali menemukan kisah hidup yang menguras emosi. Ga peduli sesempurna apapun hidupnya terlihat.

Ada yang mendramatisir kesedihannya. Ada yg berusaha keras menetralisir kesedihannya.

Siapa kita berhak menghakimi & memberi saran? Siapa kita berhak menilai mana yg benar & salah? Siapa yang terkuat? Siapa kita berhak menentukan kuat lemahnya seseorang hanya dari satu cerita?

Terimakasih orang-orang yg kuketahui mengetahuiku, dan mengetahui apa yang kuketahui…

Never take your blessing for granted. Good nite. Pamit!

Gambir, 15 Maret 2022

–beberapa kalimat di akhir dikutip dari story @austeread

Mimpi Paling Terang

Berada disini, tangis saya sering pecah karena terlampau sesak menahan haru dan malu. Betapa tempat ini selalu jadi saksi perjalanan hidup dan perjuangan untuk merayakan pendidikan. Meski malu karena diri ini masih jauh dari orang yg pantas disebut “guru”, sebutan yg harusnya disematkan pada orang-orang “yang sudah selesai dengan dirinya sendiri”.

Tapi itulah gunanya kesadaran dalam perjalanan, tentang Allah yg masih berkenan memberikan petunjuk untuk menginsyafi segala dosa & belajar lagi, juga keyakinan bahwa kapanpun Allah akan membentukmu sesuai caramu memantaskan diri… sesuai cara berpasrahmu…

Sekolah-sekolah ini kapanpun akan jadi mimpi saya yang paling terang, dimana saya mungkin akan jatuh cinta pada negeri ini, tempat dimana orangtua saya pernah meletakkan hidupnya untuk banyak orang. Yakin bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia & mengamalkan ilmu untuk melipatkan kebaikan. Selamat belajar di kehidupan nyata yg baru, nak…

Petualangan Takdir

Disadari atau tidak, kita sering dihantam badai takdir dalam hidup yang berujung hanya pada dua pilihan: hadapi dengan berani atau lari seperti pengecut. Dua puluh empat jam setiap hari memberi kita kesempatan untuk merasakan emosi dan potensi pilihan yang akan diambil. Kecewa, kehilangan, tantangan pahit, realita yang tak sesuai ekspektasi, atau kebahagian yang tiba-tiba terjadi memaksa kita untuk belajar memahami berbagai bentuk keikhlasan. 

Seorang guru pernah menasihati saya bahwa “Kita tidak pernah bisa menebak apa yg terjadi, Far. Tugas kita menjalani saja. Kita juga nggak punya kekuatan. Yang Punya Kekuatan itu Allah… Minta sama Yang Punya Kekuatan.”. 

Kata-kata itu terus terngiang di telinga saya dalam perjalanan pulang mengakhiri Minggu dari sebuah kedai kopi. Ia benar, barangkali menemuiNya untuk memohon kekuatan adalah satu-satunya energi yang bisa menyelamatkan hidup saya dan kita selama ini. 

Manusia macam kita ini hanya punya kesempatan untuk terus berpetualang sepanjang hari. Petualangan untuk menemukan titik-titik kebaikan sebagai tabungan amal yang hanya berhak dinilai oleh Allah. Tak ada yang bisa menjanjikan bahwa petualangan selanjutnya akan lebih mudah. Tak ada… Petualangan selanjutnya bisa jadi lebih menantang (jika tak ingin dibilang lebih sulit) untuk dihadapi. Bahkan tak ada yang bisa menjamin bahwa rencana-rencana hidup kita sebagai manusia akan terlaksana dengan baik. 

Sepanjang dua puluh empat jam itu kita punya momentum mundur sejenak untuk mengamati petualangan baru: mencari cara, mencari tahu dan mencari makna. Kemudian menyiapkan kemampuan hati agar jernih menerima selapang-lapangnya pilihan dan kekuasaan Allah yang hendak Allah hadirkan. Kelapangan yang kadang tampak jauh dan berat itu insyallah akan lebih memberi warna. Kelapangan yang hanya bisa dinikmati ketika kita bisa melepaskan segala tuntutan pada manusia.

Hal-hal yang tak bisa kita mulai dengan baik atau terasa sulit ketika dijalani, bisa kita proses dengan sebaik-baik tindakan dan ikhtiar. Bagaimanapun, bentuk cinta Allah seringkali mewujud yakin setelah kita berusaha meluruskan niat dengan sebaik-baik prasangka. Petualangan yang nantinya akan mengantarkan kita pada titik kenikmatan setelah semua dituntaskan… Mengikuti cara berpasrah kita. 

Saya terdiam. Begitu banyak hal sepele yang terlupakan. Begitu banyak kejadian luar biasa, yang dikecilkan. Kita bisa berbahagia sendiri dan bertukar cerita agar yang lain merasakan bahwa hal biasa bisa menjelma luar biasa pada waktunya.

Besok kita hadapi, kita perbaiki!!!

Titik Henti

Kau tau sebenarnya ada banyak orang yang menepi memlilih diam meski sebenarnya ia menyimpan hasrat dan potensinya. Mereka pergi begitu saja dalam ruang sepi untuk sengaja tak terlihat. Saya tau, hatinya, iya sebenarnya hatinya menyimpan rasa. Degup semangat yang terpendam dalam diam. Menepi, sunyi, seolah tak ada yang bisa dimiliki. Bukan tak punya keberanian, tapi langkah kakinya lebih dulu dibungkam oleh keadaan, oleh realita, oleh ocehan manusia yang merasa bisa meraba masa depan. 

Saya tak pernah ada dalam keadaan itu, namun tak kunjung juga belajar dari pengalaman yang dialami orang lain itu. Menatap mata manusia manusia itu seringkali membuat saya iba. Betapa sebenarnya ada banyak sisi kebaikan dari mimpinya yang ingin diwujudkan. Barangkali dunia tak berpihak padanya dalam beberapa hal. Saya paham bagaimana sulitnya mereka menata hati, menyelesaikan satu per satu puzzle tentang hidup yang mereka impikan. 

Realita membawa saya ke titik yang lebih baik. Kesempatan eksplorasi, menjelajah berbagai macam sisi bumi dan mengalami sendiri segala hal baru yang diinginkan. 

Saya punya lebih banyak kesempatan untuk berani bermimpi. Tumbuh di atas segala impian dan kesempatan yang terbuka lebar. Kadang, ambisi menyeret kaki saya pada nafsu dan ego paling besar. Bahkan sering lupa meletakkan sabar dan ikhlas ketika semua impian tak berjalan sesuai rencana. 

Maka, tugas hari-hari ini adalah menepi sejenak untuk memperbaiki. Mengumpulkan daftar introspeksi pada kantong-kantong hati kemudian menyusun kepingan rasa syukur yang hilang. Dan semoga dengan cara itu, akan ada kebaikan yang mengejutkan di setiap ceritanya. Sampai pada saatnya saya bisa menemukan titik henti itu…

At The End of 2021

Tersisa 39 hari menuju 2022, dan saya masih berkutat dengan pikiran yang meracau soal ketidakpastian. Kekecewaan atas diri sendiri yang terasa semakin besar menggagalkan rencana saya untuk kembali menjalani hari-hari dengan baik. 

Banyak hal yang seolah akan melempar saya ke masa depan tapi justru dihalangi oleh diri sendiri. Padahal katanya “Jika peduli pada mimpimu, maka kamu tak boleh membatasi dirimu sendiri” ucap seorang teman tepat dua tahun yang lalu sebelum corona menyapa. 

Dua tahun terkurung di rumah karena pandemi ternyata bisa membuat nyali saya ciut juga. Pandemi seolah membuat jarak antara impian dan kenyataan semakin jauh. Rencana jangka panjang yang telah disusun menjadi berantakan dan terkesan hanya akan menjadi sebuah omong kosong. No hope dan pesimis adalah dua kata yang terbayang saat itu. Alih alih mencoba berdamai dan beradaptasi dengan keadaan, kenyataannya saya lebih banyak menciptakan ketakutan yang menyumbang stress hingga mati kebosanan.

***

tentang perjalanan…

Bahkan saya sempat takut melihat tas yang biasa digunakan untuk melakukan perjalanan. Takut tak akan pernah ada lagi kesempatan untuk melakukan perjalanan. Lebih tepatnya takut ditampar kenyataan yang lebih sering berubah dengan cepat karena pandemi. Saat itu saya merasakan hidup yang dipenuhi ketakutan namun mencoba memahami bahwa kadang kita butuh keikhlasan untuk hidup mengalir seperti air. Sejenak tanpa ambisi dan mimpi. 

Akan selalu ada ketakutan dan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana hari-hari kedepan akan dijalani setelah pandemi.

Sampai akhirnya… helaan napas panjang dan detak jam dinding menggerakkan saya.  

Waktu berlalu dan saya memilih usia 30 sebagai fase pertama pencapaian hidup. Maka ketika hari berlalu menuju usia itu, sekuat tenaga saya melakukan banyak hal agar daftar impian segera tercoret dan lunas.

Saya belajar dari Windy tentang “Takut kehabisan waktu adalah kecemasan yang menghantui saya sepanjang hidup. Waktu selalu menjadi momok. Manusia menunda dengan berkilah belum tiba saatnya. Atau, pada kasus-kasus lain, manusia menjalani waktu sekadar untuk bertahan. Saya tak ingin seperti itu. Saya tak ingin melewati 30 tanpa melakukan apa yang selalu saya ingin-inginkan.”

Jadi dengan sisa-sisa kecemasan, saya memberanikan diri untuk menulis sebagian rencana yang pernah tertunda. Sebagian mimpi yang diputuskan akan lebih berani dilakukan dan bekerja keras melatih ‘otak saya’ untuk bisa menerima apapun kenyataan mungkin terjadi.

Apa yang menguatkan saya? Ibu pernah mengajari saya untuk lebih berani menciptakan sebanyak mungkin kenangan dalam hidup. Katanya “Justru kamu harus lebih takut jika tak berpetualang dan bergerak…”. Ia juga banyak mewariskan kesenangan bepergian, tentang perasaan nyaman ketika kami keluar dan mengalami segala hal baru. Dan Ayah? Ia selalu sibuk menceritakan berbagai macam kisah yang memperluas daya imaji saya. Tentu saja ia selalu mengagumkan saat menunjukkan cinta dengan menyetujui semua mimpi saya untuk berpetualang. 

Mereka mewariskan cinta yang membuat hangat saat saya sering dibuat menggigil ditampar kenyataan pahit. 

At the end of 2021. I am thinking that I could be brave to embrace this life, to travel more. And may I always have the breath, energy, reason, and kindness that keeps me running forward.

Meracau Soal Sekolah Impian

Jauh dari ruang kelas yang pernah saya impikan akan bisa membuat saya berkarya. Kali ini saya justru tenggelam di balik laptop menyiapkan berbagai impian lain yang akan segera diwujudkan. Tentunya saya masih menyiapkan mimpi paling sempurna untuk cita-cita saya di bidang pendidikan. Ada ruang jauh di dalam relung hati yang membuat saya ingin selalu berkarya dan mengabdikan diri di bidang pendidikan. 

Saya memasang target yang sangat tinggi, juga mengkalkulasi tantangan yang berpotensi terjadi di depan mata nanti. 

Dimulai dari mengukur kemampuan diri dan potensi resiko yang mungkin terjadi. Tapi persoalannya kini lebih kepada tepat atau tidak jika saya mewujudkan mimpi itu saat ini? Tapi jika bukan saat ini lalu kapan saya akan mewujudkan impian itu? 

Ini bukan lagi soal mencoba sesuatu yang baru. Ini soal seberapa jauh komitmen saya untuk menekuni salah satu kebutuhan dasar manusia: belajar. 

Mampukah saya memberikan kesempatan belajar terbaik untuk anak-anak didik saya nanti? Kemampuan seperti apa yang bisa saya berikan untuk mendorong mereka berani melakukan aktivitas terbaik bagi diri mereka? Atau cukup beranikah saya memberikan mereka bekal terbaik yang akan mereka butuhkan? Pandaikah saya untuk menjadi pengamat yang baik bagi anak-anak nanti? Pengembangan seperti apa yang akan saya lakukan untuk memberikan perubahan pada wajah pendidikan yang benar-benar dibutuhkan oleh anak-anak? Bagaimana cara saya merangsang mereka agar lebih kreatif? Apakah materi yang saya berikan nanti kemudian menjadikan mereka paham dan tertarik? Bagaimana menyederhanakan pikiran agar dipahami oleh anak-anak yang memiliki pengetahuan beragam? 

Sekolah impian saya ini kelak akan menjadi taman bermain paling menyenangkan bagi anak-anak. Setidaknya itu cita-cita yang saya percaya sampai detik ini. Di satu kesempatan saya mendengar banyak ide dan masukan dari berbagai teman, kerabat, dan banyak orang. Saya meminta mereka menyampaikan semua ide, pendapat, komentar, atau apapun, semenyakitkan apapun kenyataan di depan sana. 

Lagi-lagi, semua kunci dari setiap impian adalah: tindakan!. Melakukannya butuh keberanian, tak perlu alasan. Jika gagal maka ulangi, jika berantakan maka perbaiki. Perihal semangat yang timbul tenggelam, harusnya dilawan. Bukan hanya soal “ingin” tapi lebih jauh dari itu, yaitu “saya melakukan”. Dan keraguan yang muncul… Semua kegagalan yang pernah terjadi adalah tahapan yang memang harus dilewati. 

Memang begitulah prosesnya. 

Kesenangan Termahal adalah Ketenangan

Di pojok sebuah kedai teh ternama itu, kesibukan mengalihkan perhatian saya untuk mengurangi berbagai macam emosi yang tidak diperlukan. Siang ini, sekali lagi saya mengambil keputusan penting untuk pergi dan mencari suasana baru ketika bekerja. 

Terbiasa sendirian membuat saya tak lagi khawatir akan apa yang terjadi nanti, setidaknya saya terlatih untuk menghadapi segala hal tanpa rencana yang mungkin saja terjadi. Hal itu memberi kebebasan bagi kaki saya untuk melangkah menuju tempat tujuan kemanapun yang saya inginkan. Pun jika ditengah jalan ingin mengubah navigasi bisa saya lakukan dengan cepat, taktis, tanpa perlu persetujuan siapapun. 

Kedai teh yang sepi semasa PPKM ini mengingatkan saya untuk memutar otak, mengamati jadwal dan berusaha mengakali waktu. Memastikan sekali lagi bahwa masih ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan dan tertunda. 

Meski cukup banyak tapi ternyata semua yang tertunda hanya butuh satu kata kunci agar berhasil. Dilakukan. Iya, dilakukan setahap demi setahap, satu per satu, kemudian berpindah pada pekerjaan lain yang lebih berarti. Buat saya, selama ini sudah terlalu banyak alasan yang saya ciptakan untuk menunda dan tak melakukan apapun. Hingga kesempatan demi kesempatan habis, terbuang begitu saja. 

Namun belakangan ini, saya mulai mengemas alasan-alasan itu, membuangnya ke sampah. 

Untuk kali ini saya berhasil menang, mengalahkan alasan yang dijadikan tameng untuk tak melakukan apapun, yang sempat menghentikan saya. 

Saya membayangkan aroma kebahagiaan yang tercipta ketika berhasil menyelesaikan sesuatu, letih dan peluh keringat yang menempel penuh dengan rasa puas. Atau euforia tak tertahankan memikirkan pekerjaan dan aktivitas apalagi yang bisa dilakukan setelah semua to do list pekerjaan selesai dilakukan. 

Akhirnya sedikit demi sedikit bisa mengurangi pening tak tertahankan di ujung hari ketika pekerjaan masih menumpuk. Tak lagi mendengar dering Whatsapp Call tengah malam dengan berbagai pekerjaan yang mendadak. 

Belajar menempatkan pikiran untuk lebih memaknai setiap hal yang dilakukan, mengerjakan dengan saksama, sebab kesenangan termahal adalah ketenangan hati.

Kediri, 18 September 2021

Belajar Sejauh Ini

Seorang teman pernah bilang bahwa hidup hampir seluruhnya pasti menyajikan bahagia. Jika dalam perjalanannya bukan bahagia yang ditemui, maka bisa dipastikan itu bukan ujungnya. Sejujurnya saya sepenuhnya sepakat dengan ucapannya. Tapi saya ingin meluaskan makna bahagianya menjadi belajar sepenuhnya. Saat pikiran sedang waras dalam mencerna keputusan dan kesalahan yang lalu, adakalanya definisi belajar dewasa ini mulai berubah.

Percayalah, kita semua sedang ada di semua jalur bahagia itu. Hanya mungkin ada bermacam cara entah lewat manisnya penerimaan atau justru pahitnya dikhianati. Bahagia sejauh ini adalah ragam warna dan pelajaran pada setiap pilihan baik buruk yang harus diterima lebih dulu. Sesekali bahagia memang mulanya berbentuk kebesaran hati yang sempat dikutuki.

Tak apa, ada banyak yang bisa dilakukan untuk belajar. Semakin dewasa mungkin akan semakin panjang prosesnya, akan lebih rumit dan entah berubah jadi apa bentuk bahagia itu, barangkali tak perlu dikatakan dan tak terdefinisi tapi kita tahu bahwa itu juga bentuk bahagia.

Aroma Hujan dan Keberanian Menyadari

Aroma hujan sore ini membawa saya mengunjungi blog yang lama tak dibuka. Mungkin benar jika ada yang bilang bahwa foto, musik, wewangian, dan aroma hujan selalu menjadi hal-hal yang memiliki kekuatan membuka kenangan.

Di depan jendela kamar kos sekitar 4 tahun yang lalu saya rajin menulis segala hal yang bisa saya kenang, meskipun tak semua tulisan itu saya posting di blog ini. Baiknya, tulisan itu selalu berhasil mengulang waktu untuk mengajarkan banyak sekali pelajaran tentang penerimaan. Soal bagaimana akhirnya saya berproses dan mengenang langkah-langkah pertama yang diambil.

Saya mengingat kapan terakhir kali punya perasaan seperti dorongan untuk menulis.

Ternyata pertemuan dan perbincangan dengan banyak orang sepanjang waktu selama berbulan-bulan ini tak juga cukup menggerakkan saya menulis di blog ini. Anehnya, dorongan menulis itu justru datang saat tanpa sengaja saya mencium aroma hujan.

Jadi, bagaimana hidup berjalan belakangan ini?

  1. Ambisi dan Kesabaran

Sempat tercengang ketika sahabat saya yang sudah lama tidak berjumpa tetiba mengatakan “Kamu beda ya sekarang, hidupmu seperti hanya mengejar ambisi-ambisi. Ikhlasmu sudah beda”. Kalimat itu membuat saya tertegun dan ya tentu saja sempat denial dengan pernyataan itu, tapi sejujurnya jauh di lubuk hati yang terdalam, memang demikian adanya.

Di waktu lain, teman lain di seberang telepon menegur “Sabar… nggak semua hal dan mimpimu harus terjadi sekarang juga, itu nafsu dan ambisimu yang membatasi sabarmu”. Dari semua teguran dan penilaian itu, saya masih beruntung karena dimampukan bersyukur karena menemukan orang-orang yang berkenan menasihati. Terimakasih kalian, siapapun yang selalu membantu menjaga langkah saya dan merawat waras yang kadang hilang.

2. Menunggu 5 Bulan ke Depan

Sepertinya tidak banyak hal bisa terjadi secara ajaib dan kebetulan. Buktinya kebetulan-kebetulan kecil yang membentuk pola setahun belakangan tak kunjung membuahkan hasil. Justru kebetulan-kebetulan itu sering diremehkan saking yakinnya dengan pilihan Allah.

“untuk ukuran manusia sepertimu, keyakinanmu harus didorong oleh banyak ikhtiar dan kesabaran, pandai-pandailah mengukur diri, nak…” ucap lelaki tua disamping kursi saat saya menunggu nasi goreng disajikan. Saya baiknya harus banyak mengingat dan belajar bahwa ujian setiap orang pasti berbeda-beda, pada level apapun dalam fase hidupnya.

Boleh dibilang, ada kebetulan-kebetulan yang mengunci langkah saya hingga tak ada pergerakan yang berati 6 bulan ini selain menunggu dan menunggu. Mengambil posisi bertahan yang boleh dibilang menyakitkan walau masih dalam batas normal.

Tapi masih ada waktu untuk mengejar dan putar balik, kan? Entahlah… tak elok rasanya memaksa dan mendahului kehendak Tuhan. Baiknya dimaknai sebagai salah satu jalan untuk melatih kesabaran dan rasa cukup.

3. Buku dan Jiwa yang Hilang

Sampai pertengahan tahun ini, saya hanya membaca 5 buku dari puluhan buku yang berhasil dibeli. Miris sebenarnya mengatakan ini sebab ada banyak waktu yang sebenarnya luang disela WFH. Namun ternyata, ada kenyataan lain yang sangat menyedihkan untuk diakui…

Melihat jauh ke dalam diri, ternyata tak banyak yang sudah diaplikasikan dari semua bacaan yang pernah dibaca selama ini. Mungkin… mungkin saja selama ini hanya terjebak pada romantisme membaca tanpa berpikir bagaimana strategi terbaik untuk mengaplikasikan hasil bacaan.

Kesadaran itu muncul dalam sebuah obrolan ringan dengan salah seorang teman. Ia secara sederhana menanyakan beberapa hal kecil dan sederhana, tapi anehnya saya selalu kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana itu. Apa yang membuat saya kesulitan menemukan jawaban dari semua pertanyaannya? Ada baiknya jawaban dari pertanyaan itu benar-benar saya renungkan kemudian mengubah strategi dan jenis bahan bacaan.

Terlalu jauh mengerti banyak hal di luar kemampuan menyesuaikan diri bisa sangat merepotkan. Semua hal, bacaan, obrolan, pemikiran, baiknya mulai dimulai dari dalam diri kemudian baru berlari mengukur ketahanan dan kemampuan diri mengejar tujuan yang diinginkan. Saya pernah berlari namun lupa mengenal diri sendiri yang berujung jatuh bertubi-tubi. Dan semua itu hanya bisa diselesaikan dengan mulai lebih dulu memperbaiki hal-hal sederhana yang ada di dalam diri.

Pelan… Tak perlu dipaksakan, nikmati saja semua perjalanan menemukan itu…

Terimakasih diri karena sudah berani mendengar, menepuk diri, sadar dan melakukan.

Ps. Setelah berhasil menulis beberapa judul hari ini, rasanya ingin membelikan hadiah pada diri sendiri: 50 tangkai bunga sedap malam untuk dibagi dan diletakkan di setiap sudut rumah dan kamar.