Terakhir

aksi

Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan urusanmu sendiri dengan baik, maka kamu akan kehilangan banyak waktu untuk membantu orang lain.

Dimana aku seharusnya sekarang hari ini?

Aku harus menunda waktu makan 1 jam lebih lama untuk menjawab pertanyaan disertai isak tangis itu. Lucu ya, bangun tidur dan merasa sudah merusak semua agenda yang sudah tertata apik dan manis sejak awal bulan. Bertahun-tahun sebelum hari ini aku cukup berhasil membangun pola hidup dinamis, produktif dan mengedepankan humanisme. Meskipun tidak siapapun tahu tentang itu  sepertinya aku cukup sadar untuk memilih sesuatu yang esensial berkaitan dengan diriku sendiri. Dan kemudian waktu berlalu… Aku, kamu dan mungkin mereka berpotensi dan tanpa sengaja mencorengnya dengan janji-janji. Lalu memakluminya hingga semuanya terlihat mudah lagi. Dengan jalan pikiran yang sudah dipermudah itu, berusaha lagi untuk bangun dan merancang step by step untuk mencapai tujuan baru lagi. Aku membayangkan punya tangan dan kaki yang bisa lebih tangguh untuk digunakan berlari lagi, bisa melompat kesana kesini ditengah gentingnya kehidupan orang-orang. Jadi akan selalu ada cadangan tenaga baru untuk menyiapkan lompatan yang lebih jauh. Lompatan yang lebih panjang dan mantap.

Begitu seterusnya.

Tapi apakah akan lebih mudah memulai sesuatu di atas kegelisahan masa lalu yang belum terselesaikan? Sadar nggak sih banyak pilihan yang “wajar untuk dipilih” di atas sesuatu yang lebih esensial? Dan bodohnya aku sering memilihnya.

Lupa sudah berapa tahun aku meninggalkan pola hidup yang dinamis-produktif-humanis.

Kangen.

Memang ya sulit untuk mempertahankan semua itu di tengah kehidupan yang semakin banyak pilihan. Pertemanan bertambah yang akhirnya membuatku bisa melihat lebih banyak orang dengan berbagai pilihan dan karakter. Aku sama seperti mereka, bebas untuk dilihat. Aku masih sama seperti mereka yang tidak perlu punya alasan untuk mengomentari, membuat keputusan, atau membuatku ragu. Aku hanya ingin melakukan. Mungkin itu.

Sisa masa kuliah ini, aku tidak mungkin mengakhirinya sebagaipribadi yang mencla-mencle, plin plan, tidak produktif dan tamparan keras macam penyesalan karena tak punya waktu. Ah basi. Aku tak sedang mencari siapa-siapa sebagai objek pengaduan. Biar kupilih saja diriku perang sendirian, menyaksikan pikiran dan perasaan saling berselisih, sekali lagi sendirian. Mencoba memaksa sekali lagi untuk bangun memulai yang sudah lalu dengan peringatan “ini yang terakhir”

Ini mungkin saatnya. Ini mungkin yang terakhir. Sakit memang, merasa tertampar, keras sekali tapi aku tidak hendak mematahkan semangat siapapun. Tapi sekarang, aku memilih ada di titik ini: berhenti untuk mempercayai siapapun.

Malang, 22 Desember 2016

Advertisements

Kata Teman

1. Tiba-tiba merasa ketinggalan banyak hal. Dan ketika saya noleh ke belakang ternyata bukan saya yang ditinggal, saya saja yg pergi sendiri, duluan, tapi kemudian hilang arah dan merasa tak punya jalan untuk dituju. Terlalu banyak cabang, dan seolah-olah saya maunya mencoba semua persimpangan, tanpa teman. Sok multitasker. Padahal keribetan. Ujung-ujungnya nyesel, merasa bersalah.

2. Saya baru sadar saya org yg plin plan. Saya suka mengumpulkan banyak pendapat dari kanan, ditabrakkan dengan pendapat si kiri. Lalu saya bersikap seolah-olah saya orang yg netral, di tengah-tengah. Baru sadar itu namanya bukan sikap. Itu namanya tak mau mengambil resiko. Mungkin perlu dipukul dg sangat keras. Ah tapi kalo nggak begitu saya nggak akan sadar. Mulai sekarang seharusnya saya mencoba berada di satu warna saja. Hitam atau putih. Tiadakan abu abu. Si peragu. Benar atau salah. Tiadakan lagi si toleran yang plin plan. Harus punya pegangan.

PS. Saya mengenalnya sebagai Bocil

SABTU SORE INI

Galau macam apa seharian ini? Efek sakit yang bikin baper habis-habisan daripada sakit hati. Niat hati ingin membanting semua barang yang ada di depan mata. Berujung pada kekecewaan tak bisa nge-blog karena laptop tertinggal. Sakit!!!

Belakangan aku pusing dengan tata letak dan strategi kehidupan pra-lulus. Sedihnya karena sama sekali belum menyentuh skripsi satu bab pun. Apalagi kalau sampai terbawa mimpi dan harus bangun dengan kegelisahan. Beberapa kali berhasil menyangkal dan menghindari banyak orang menjadi pilihan yang efektif. Ah, aku benci kasihan yang berlebihan. Pun sama, aku benci kecewa dan mengecewakan karena terlalu memberikan batas ekspektasi yang tinggi padaku. Aku benci pada percakapan dan cerita yang bersinggungan dengan topik paling sensitif di akhir tahun ini. Sebagian mungkin bisa bebas aku ceritakan, tipikal seorang melankolis yang lebih mudah bangkit dan tersulut semangatnya oleh kritikan namun sisanya mungkin hanya air mata yang bisa diceritakan. Dan lagi-lagi aku benci pada perasaan yang tak dibutuhkan ini.

Aku tak hendak jadi satu titik di atas kertas putih yang mengecewakan sekaligus dikecewakan lalu pergi, diam dan menjauh.

Apalagi sakit ini, aku butuh waktu bagaimana menyelesaikan susunan strategi untuk menjadi yang terbaik di atas yang terburuk.

Kediri, 18 Desember 2016

ps. Tulisan ini selesai dengan bantuan laptop ayah dan wifi di rumah di saat semua orang pergi entah kemana. Sekian.

 

Menunda: Sebuah Pengingat — Pohon Gula

Waktu menunjukkan pukul 00.25 saat aku menulis ini Hidup begitu hiruk pikuk akhir-akhir ini. Menyadari bahwa konsekuensi atas sikap kita terhadap sesuatu seakan bisa detik ini juga dipertanggungjawabkan, membuatku merinding. Malam ini aku jadi paham betul konsekuensi berat dari perbuatan syetanawi: menunda. Aku tidak sekeren temanku Niswah dalam mempersiapkan suatu hal yang ia anggap penting. […]

melalui Menunda: Sebuah Pengingat — Pohon Gula

Menu Akhir Tahun (5)

Terdorong oleh keinginan yang menggebu di tengah waktu luang dan kegalauan pra-kuliah, tiga tahun yang lalu aku menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop selama seminggu. Tak ada patokan yang pasti tentang waktu kerja saat itu, yang aku tahu, aku mulai menulis sejak sore hingga hampir subuh.

Dalam kurun waktu seminggu itu pula aku bisa menyelesaikan sebuah naskah cerita setebal 130 halaman.

Hari ini aku menemukan folder itu lagi, berserak di antara deretan folder artikel dari tahun ke tahun. Isinya hanya satu file yang sengaja diendapkan sekian lama. Entah karena sudah lelah melanjutkan atau masih jauh dari ekspektasi. Entahlah. Sepertinya terlalu mengawang-awang memang tidak baik. Kemudian aku menutupnya, membatasi diri untuk tidak terbawa oleh penyesalan karena sempat mengabaikan file itu, yang pernah aku usahakan untuk selesai.

Aku memang belum menyusun lembar resolusi, menyatukan visi misi dalam sebuah proposal untuk tahun depan. Alasannya sederhana, masih banyak hal yang harus dipertanggungjawabkan, diselesaikan dan dipersiapkan untuk tahun ini. Ternyata, menutup akhir tahun juga butuh menyelesaikan yang tertunda.

Kemudian aku sadar, sudah lama rasanya tidak sepatah ini, sejatuh dan selemah ini.

Dan kali ini aku mungkin lebih santai –walau sepertinya tak tenang. Aku coba membiarkan setiap perasaan itu datang, menyetir waktuku. Aku biarkan diriku menjadi lemah dan menikmati rasa kekanak-kanakan. Aku akan membiarkan diriku seperti itu untuk beberapa lama, beberapa hari ke depan sebelum pergantian tahun.

Dan untuk kali ini, aku rindu secangkir kopi.

Menikmati rasa pahit. Menyesapnya diam-diam sambil menghirup aroma khas biji kopi. Aku menghindar dari cerita yang terlalu banyak. Mungkin kali ini menjauh dari simpati banyak orang menjadi pilihan terbaik. Jadi aku percaya saja pada segelintir orang yang berhak melihat jatuhku, mengheraniku sebab tak menjadi seperti biasa. Merasakan terusir dari waktu pasti akan membawa kedewasaan yang baru. Yakin itu.

Selanjutnya aku mulai berbenah.

Karena hidup dan perasaan yang pernah jatuh, lemah, dan patah itu adalah realita yang memang terjadi. Maka ketika ramuan untuk membuatnya hampir kembali normal sudah kutemukan, aku akan memilah hal-hal buruk, yang sedih-sedih. Aku sisakan satu tempat untuknya agar suatu saat bisa membuatku senyum-senyum sendiri, tertawa, dan malu-malu mengingatnya. Sepertinya itu adalah simpanan energi yang bagus untuk diingat suatu hari nanti.

Jadi, disinilah aku. Ternyata aku bisa jatuh. Tapi jika suatu saat mimpi-mimpi itu tercoret satu per satu aku percaya jatuh adalah salah satu alasannya. Sekarang, aku sedang bebas melihat waktu melesat begitu cepat, sambil mencatat mimpi-mimpi yang lain. Menyusun target-target lain. Deadline-deadline. Merencanakan strategi masa depan.

Pagi ini, aku merindukan betapa sibuknya mengusahakan masa depan, sibuk merencanakan ini itu. Betapa menggebunya aku pada sesuatu yang sama sekali belum pernah aku capai. Betapa berartinya teguran dari kesalahan setiap kejadian dan betapa tidak pentingnya mensia-siakan waktu.

Pagi ini betapa aku rindu mengingat apapun yang telah aku lalui dengan menyempatkan waktu sebelum tidur untuk mengulang apapun yang sudah dilakukan sepanjang hari. Merekamnya pada sebuah catatan di pikiran.

Malang, 13 Desember 2016

PINDAH

Tulisan mbak Windy yang menempel di buku saya sejak tahun 2013 dan setiap hari selalu saya baca, kali ini saya melakukannya. Pindah.


pindah

Manusia bertahan hidup dengan melakukan perpindahan.

Akhirnya, setelah hampir enam tahun berdiam di tempat yang sama, suatu pagi, ketika mata baru saja memicing dari tidur, saya memutuskan pindah.

Iya, pindah. Ide itu muncul begitu saja di kepala saya. Padahal, di tempat yang lama, saya hampir tak memiliki keluhan sama sekali. Tempat tinggal lama saya seperti sebuah flat, bukan rumah, bukan juga apartemen. Ia terbagi menjadi tiga ruang besar yang masing-masing berukuran 3 x 4 m yang saya sulap menjadi ruang tamu yang juga berfungsi sebagai perpustakaan; kamar tidur yang juga berfungsi sebagai ruang kerja dan ruang nonton tv; serta ruang belakang yang terdiri dari kamar mandi, dapur, dan tempat mencuci.

Buat saya itu cukup bahkan terlalu luas untuk saya tinggali sendirian. Saya tak butuh ruang lebih besar yang ujungnya saya biarkan kosong. Tetangga saya adalah tiga lelaki bersaudara yang saya tahu berkuliah di IKJ dan menyukai vespa. Tapi sepertinya mereka menganggap saya kurang ramah karena jarang berbasa-basi. Padahal, saya suka vespa merahnya dan tergoda untuk mengendarai vespa itu keliling Ragunan. Tapi, sampai hari kepindahan saya, saya tak pernah meminjam vespa merahnya. Kami hanya sempat duduk di pintu rumah masing-masing yang bersisihan sambil ngobrol ala kadarnya tentang mengapa saya tiba-tiba pindah.

Si Sulung bilang itu mengagetkan. Mereka sempat menduga saya tak betah karena mereka suka berisik apalagi bila kawan-kawan IKJ-nya berkumpul. Saya bilang kepadanya, saya cuma merasa perlu pindah untuk mulai tidak lagi terbiasa. Dia cuma tersenyum, mungkin tak mengerti apa yang saya bicarakan. Lalu, kami berdua pamit dan sama-sama masuk ke rumah masing-masing.

Iya, saya cuma merasa saya butuh pindah agar tak terbiasa berdiam.

***

Menemukan rumah mungil yang saya juluki ‘Kandang Windy’ itu sepenuhnya konspirasi semesta, kalau saya boleh meminjam istilah ini untuk menggambarkan apa yang terjadi.

Setelah bangun tidur dan berpikir untuk pindah, saya berlari pagi seperti biasa, melalui jalur biasanya. Saban berlari di rute yang biasanya, saya melewati rumah minimalis yang bagian depannya dicat dengan warna-warna serupa permen—oranye, merah, biru—yang memberikan kesan hangat. Saban melewati rumah ini, saya sering berpikir, ‘Lucu, ya, kalau bisa tinggal di rumah ini.’ Tapi, rumah itu berpenghuni. Jadilah, setiap melewati rumah permen, saya menebak-nebak, seperti apa rupa penghuninya.

Pagi itu, rumah permen tampak melompong. Lampu teras rumahnya menyala sehingga saya bisa melihat dari pagar ke jendelanya yang tak lagi bertirai bahwa rumah itu telah kosong.

Deg! Ke mana penghuninya? Saya celingukan. Seorang ibu yang baru saja keluar dari rumahnya yang terletak di depan rumah permen menegur saya. ‘Rumahnya kosong. Penghuninya baru saja pindah semalam.’

Wah! Jantung saya seolah berlompatan. ‘Rumahnya disewakan nggak, Bu?’

‘Setahu saya iya. Tanya saja sama pemiliknya. Tuh, rumahnya pas di sebelah rumah itu.’ Hari masih pukul 05.15 pagi. Saya putuskan nanti sekitar pukul 10.00 kembali ke sini. Tepat pukul yang sudah saya tentukan, saya kembali ke rumah si pemilik rumah permen. Rumah itu tampak lengang. Petugas keamanan town house memberi tahu kalau pemilik rumah sedang keluar dan ia memberikan saya nomor telepon. ‘Kontak saja, Mbak. Siapa tahu, rumahnya bisa Mbak yang menghuni. Kalau dia nggak cocok, pasti dia nggak mau ditawar. Kalau dia cocok sama calon penyewa, biasanya bisa ditawar.’ Bapak petugas keamanan memberi tahu saya.

Singkat kata, saya mengontak pemilik, dan sehari setelahnya, saya resmi menjadi calon penghuni baru rumah permen itu. Tak pakai proses panjang. Tawar-menawar pun berlangsung singkat. Si pemilik cuma bilang, ‘Saya tahu Mbak suka lari pagi. Dan sepertinya Mbak orangnya menyenangkan.’

Pertama kalinya, saya menjawab ‘amin’ di dalam hati dan berharap saya memang bisa menjadi tetangga yang menyenangkan untuk orang lain.

***

Saya bukan orang yang memiliki konsep rumah sebagai sebuah bangunan untuk tinggal. Saya bahkan tak memiliki gambaran, seperti apa rumah idaman saya. Terbiasa berpindah dari kecil, saya belajar untuk tidak terlalu terikat dengan satu tempat. Saya bisa merindukan tempat-tempat tertentu dan buat saya merindukan itu seperti kompas petunjuk bahwa satu hari saya pasti kembali mengunjungi tempat itu.

Ketika sibuk  mengurusi pindahan, saya menyadari satu hal, semakin saya bertumbuh, semakin saya malas berpindah. Diam di zona aman itu hal yang menyamankan. Semakin pula saya kurang peka dengan banyak hal karena terbiasa. Terbiasa itu berpeluang menumpulkan. Tiba-tiba itu terasa mengerikan buat saya.

Saya putuskan, saya harus pindah. Secepatnya.

***

Pindah memang merepotkan. Dan juga terasa melelahkan. Namun, dibandingkan semua itu, hal yang paling membuat saya berdebar adalah memiliki tetangga baru dan tinggal di sebuah tempat yang berkonsep rumah.

Saya pernah memberi tahu bos saya—saya sebut dia Bos 2—kalau saya akan pindah. Komentar pertama dia, ‘Pindah kamar? Pindah kos? Pindah ruang?’

‘Pindah rumah.’ Saya sekali lagi menekankan. Saya pindah ke sebuah rumah.

‘Iya, kamu pindah ke kamar di rumah yang lain? Rumah di otak kamu, tuh, berbeda dengan orang lain.’ Dia juga menegaskan.

‘Nggak. Rumah dengan tiga kamar, dapur, ruang tamu, perkarangan. Rumah. Rumah yang dimengerti kebanyakan orang.’

Bos 2 terdiam. Dulu, waktu saya mengabari Bos saya yang satunya lagi—kita sebut saja Bos 1—kalau saya membeli rumah, Bos 1 juga tak percaya. ‘Ternyata, kamu masih orang Indonesia. Perlu memiliki rumah,’ katanya waktu itu. Saya bilang ke dia, alasan saya membeli rumah bukan karena saya butuh memiliki rumah, melainkan tekanan dari sekitar yang membuat saya merasa tak normal kalau tak memiliki rumah. Nyatanya, rumah yang saya beli itu tak pernah saya tempati, malah saya kontrakkan. Saya sendiri memilih tinggal di sebuah kamar besar dengan tiga ruang yang saya sewa di daerah Cilandak.

Akhirnya, Bos 2 bersuara, ‘Kamu sedang mengalami apa?’

Saya kurang paham dengan pertanyaannya. ‘Maksud Bapak?’

Kata dia, saya pastinya mengalami sebuah peristiwa atau percakapan dengan seseorang yang mendorong saya melakukan perpindahan itu—sebuah perpindahan gaya hidup, dan karena dilakukan oleh saya, itu sebuah perpindahan yang radikal. ‘Kamu mengalami revolusi pemikiran,’ katanya sambil tertawa kencang, ‘Pasti ada faktor pemicunya.’

Celakanya, saya tak tahu pasti apa faktor pemicunya kecuali saya merasa bahwa terbiasa itu menakutkan buat saya. Saya tak punya alasan bombastis—tetangga berisik, pemilik rese, mulai ingin berdiam, dsb—yang membuat saya terbangun pada pagi hari dan tiba-tiba memutuskan, ‘Pindah ah!’

Semuanya terjadi dengan cepat. Kurang dari 24 jam saya sudah menemukan tempat baru dan yang membuat saya tak percaya itu rumah permen yang sering saya lewati saban lari pagi. Proses yang terlalu cepat dan terlalu mudah. Tapi dampaknya, tak sesederhana yang saya bayangkan.

: perpindahan ini membuat saya cemas.

Saya cemas dengan banyak hal. Mulai dari tetangga, listrik, air, sampah, kebersihan, keamanan rumah, sampai tidakkah terlalu banyak ruang kosong buat saya di rumah ini? Apakah ini tidak terlalu berlebihan buat saya?

Akan tetapi, saya adalah orang yang percaya merasa cemas itu baik. merasa takut itu perlu. Semakin saya merasa gentar, semakin saya mendorong diri saya untuk menghajar. Saya yakin, kalau saya bisa melampauinya, berarti saya sudah melakukan satu gebrakan lagi dalam hidup.

Sebuah gebrakan di dalam hidup tak perlu sangat besar. Cukup dengan melakukan apa yang mulanya saya pikir saya tidak bisa. Berpindah posisi dari tidak bisa menjadi bisa.

Maka, pindah adalah sebuah gebrakan buat saya dalam kurun waktu enam tahun ini. Tindakan yang membuat saya belajar banyak hal baru dan mengkhawatirkan hal-hal yang selama ini tidak pernah saya cemaskan.

***

Padahal, kalau saya pikir-pikir lagi, pindah adalah hal yang manusia akrabi. Kita melakukan perpindahan sekecil apa pun itu. Pindah bangku (di sekolah saya, setiap seminggu sekali kami harus bertukar tempat duduk), pindah kelas, pindah sekolah, pindah rumah, pindah kuliah, pindah kerja, dan pindah hati—kata Raditya Dika.

Manusia melakukan perpindahan untuk menemukan kecocokan, belajar terbiasa, dan bisa juga karena terpaksa sebab hanya itu yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup. Di pelajaran Sejarah atau Antropologi, kita mengenal bahwa salah satu ciri-ciri kehidupan purba adalah nomaden—berpindah, tidak menetap.

Sejak saya dibebaskan oleh Papa berpindah sendiri—tak lagi mengikutinya, saya tak menyepakati itu sebagai ciri-ciri kehidupan manusia purba. Buat saya berpindah adalah cara paling instingtif yang dilakukan makhluk hidup untuk bertahan dan mempertahankan hidupnya.

Manusia bisa menemukan mana yang terbaik untuknya hanya dengan melakukan pergerakan, perpindahan, bukan dengan berdiam. Perubahan tak akan terjadi pada sesuatu yang dibakukan. Ketidakamanan membuat saya berpindah, berusaha menemukan tempat yang lebih baik, yang lebih nyaman.

Namun, saya juga belajar, bahwa kenyamanan menciptakan ketidakamanan. Dan perpindahan bisa terjadi karena itu.

Kenyamanan tak melulu lahir dari kebercukupan material. Rasa tidak nyaman karena terlalu lama berdiam membuat saya memutuskan beralih, bergerak. Rasa takut karena merasa kepekaan saya kian tumpul karena terbiasa membuat saya berpindah. Semakin lambat saya bergerak, semakin cepat kondisi itu akan membunuh saya.

Saya sadar, saya butuh pindah. Perpindahan yang saya lakukan adalah upaya saya bertahan. Upaya saya untuk tahu apakah saya telah menemukan sesuatu yang lebih baik. Dan itu adalah sebuah cara alami—kalau tak mau disebut purba—yang melekat pada makhluk hidup. [13]

 

MENU AKHIR TAHUN (4)

Menahan diri untuk tidak berteriak sejak tadi pagi rasanya keren sekali.

Perjalanan pulang ke Kediri pagi tadi masih segar diingatan, sayangnya beberapa detik saja berubah sedikit dramatik dengan pertanyaan “Pernah nggak, didekati seseorang ketika dibutuhkan saja? Mungkin siapapun pernah. Atau mungkin sebaliknya, kita pasti pernah ada di posisi membutuhkan orang lain yang bahkan dia hampir punah dari ingatan kita.”

Baiklah tapi kali ini aku tidak akan membahas itu.

Kemarin bertemu dosen pembimbing Skripsi, awalnya hanya membincangkan soal liburan dan agenda akhir semester hingga akhirnya sampailah pada pembicaraan yang sedikit tabu yang isinya kira-kira begini,

“Nanti setelah liburan langsung ya konsultasi bab 1 sampai 3, kalau dosen pembimbing pertama sudah acc, langsung berikan ke saya ya, nanti saya tinggal tanda tangan. Setelah itu minggu depan bisa kamu ambil untuk revisi dan lanjut penelitian dan susun bab selanjutnya”

Dalam hati hanya bisa bilang iya. Titik. Padahal janjinya kemarin sebelumnya, beliau bilang mau istirahat liburan dulu kemudian baru bersedia ditemui setelah jadwal liburan dan penelitiannya selesai. Artinya itu baru akan selesai sekitar akhir bulan Januari. Aku membayangkan akan punya waktu liburan seperti mahasiswa normal lainnya, akan punya satu minggu di Kediri untuk kosong dan bersantai ria. Tapi ternyata percakapan beliau yang tiga bab itu terlalu ‘horor’ untuk bisa dilupakan begitu saja.

Terima saja lah tawarannya, mari kita perhitungkan lagi strategi cadangan, demi waktu yang tak lebih dari tiga minggu ini.

Saranku, bacalah buku “menjadi negosiator handal” sebelum bertemu dosen pembimbing Skripsi.

Salam Jabrik!

Malang, 10 Desember 2016

Menu Akhir Tahun (3)

Ini sudah hampir sore.

Aku baru saja bangun tidur dan hanya menyelesaikan satu pekerjaan sejak tadi pagi. Bagaimana aku harus menyambut malam?

Aku khawatir dengan kejadian nanti malam. Aku khawatir akan banyak yang terabaikan. Aku khawatir ada orang lain yang menanyakan kesiapanku tentang beberapa hal atau pekerjaan atau tentang sisa uang tabungan yang memburuk. Bagaiman kalau masih ada waktu yang terbuang banyak?

Iya, musim liburan semester sudah di depan mata. Hanya tinggal menghitung hari saja. Aku khawatir liburan ini akan lebih buruk dan berantakan. Mungkin aku akan pura-pura baik-baik saja, atau pura-pura mendengar dan menjawab setiap pertanyaan liburan dengan biasa saja -seperti tak ada apa-apa.

Aku pusing. Sungguh.

Baiknya aku sholat dulu.

Beberapa hari belakangan aku memang senang sekali mengerjakan kebiasaan lama, menulis daftar menu pekerjaan setiap harinya. Lengkap dengan rincian biaya kebutuhan sehari-hari yang diperlukan. Bukan karena harus di laporkan ke Ami setiap harinya sebagai bukti kemajuanku dalam mengelola kegiatan setiap hari tetapi karena aku begitu menikmati perjalanan berangkat dan pulang sampai di rumah lagi, dengan begitu aku menikmati pula bagaimana berproses sebagai bekal bekerja dan berumah tangga. EH***

Beberapa menu akhir tahun yang sedang kusiapkan di antaranya adalah

  1. Mendaftar kursus online sekolah inggris dan sekolah toefl; bagi yang suka online di dunia maya mencari materi-materi kursus bahasa inggris mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya mas Budi Waluyo. Beliau adalah inisiator kedua kelas online tersebut. Ini adalah kesempatan ketiga saya mengikuti kelas beliau, FYI, kelas ini diadakan secara gratis tanpa dipungut biaya apapun selain kuota internet untuk mendownload materi-materi yang diberikan. Buat kamu yang berminat bisa kok add fb mas Budi , kalau ada informasi pendaftaran kelas baru pasti akan diupdate.
  2. Menyelesaikan naskah essay untuk beasiswa. Kebetulan saya rutin mendaftar beasiswa setiap tahunnya. Dan salah satu yang selalu saya ikuti adalah beasiswa data print . Dari beasiswa ini kamu bisa mendapatkan beberapa manfaat sekaligus loh, pertama kamu bisa menikmati berbagai produknya yang bisa menunjang kebutuhan belajar saat kuliah, kedua kamu bisa sekaligus mendaftar untuk menjadi calon penerima beasiswanya, ketiga kalau kamu lolos pastinya akan mendapatkan beasiswa. Perusahaan ini termasuk salah satu perusahaan yang aktif dalam memberikan dana CSR-nya untuk beasiswa kepada siswa dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Berbekal kupon beasiswa dan kemampuan menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan sesuai tema yang sudah diberikan, kamu pasti bisa mengikuti seleksi beasiswa ini. Jangan lupa berdoa dan konsisten menggunakan produk-produk berkualitas dari data print ya… semangat!
  3. Menu ketiga yang tak kalah penting adalah: SKRIPSI!! Di sepanjang semester ini rasanya sudah cukup aku disibukkan dengan beberapa kegiatan, kewajiban, dan kejar setoran yang daftar deadline-nya selalu berdiri gagah berjajar setiap satu meter di depan mata. Berjajar seperti prajurit, diam namun selalu mengintai. Hahaha. Nah, rupanya angin liburan kali ini menggerakkanku untuk lebih tekun memikirkan dan menggarap skripsi. Celoteh ide mulai bab satu sampai bab terakhir mendarat dengan anggun di pelupuk mata. Menyambut musim liburan yang aah rasanya akan datang lebih lama lagi. Ditambah angin yang menggerakkan tangan mengambil tabungan untuk bertraveling ria, membuatku senyum-senyum kecut.

Tiga menu akhir tahun di atas mungkin cukup membuatku sadar untuk merevisi ulang jadwal liburan supaya lebih bermanfaat. Sadar?

Malang, 9 Desember 2016