Eksistensi (re-blog)

Apa yang paling kita rindukan dari masa lalu? Mungkin eksistensi. Kita mencari-cari diri kita sendiri di dasar ingatan, di rongga-rongga waktu yang sudah kita lewatkan. Di sana, kita melihat diri kita sendiri dalam gambar yang paling jelas dan menyenangkan, atau gambar paling buruk saat diri kita paling membutuhkan perhatian. Barangkali, kita ingat rambut kita yang diterpa angin sore, sementara tangan sahabat menggantung di pundak kanak-kanak kita yang masih kekar. Keringat. Bau matahari. Lumpur yang kering di sandal jepit yang kita kenakan. Oh, kenangan. Kita menemukan diri kita sendiri dalam pujian-pujian yang menyenangkan, atau cacian-cacian yang menyesakkan. Tapi di atas semua itu, kita menemukan diri kita ada, hidup dalam waktu.

Apa yang paling merisaukan kita pada masa kini? Mungkin eksistensi. Hari-hari kita dipenuhi keresahan dan kecemasan. Tentang uang. Tentang cinta. Tentang pendidikan. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang apa saja. Kita khawatir kehilangan diri kita sendiri di tengah-tengah semua itu. Barangkali, kita memeriksa telepon genggam setiap lima menit sekali, memeriksa kotak masuk pesan SMS atau e-mail, memeriksa nomor kontak, memeriksa Facebook atau Twitter, berusaha menemukan apa kata orang lain tentang diri kita, apa yang dipikirkan orang lain tentang diri mereka masing-masing—yang barangkali berhubungan dengan diri kita. Mudah-mudahan ada yang menenangkan, kita masih ada dalam pertemanan-pertemanan, kita masih hidup dalam lingkaran-lingkaran pergaulan, hidup dalam waktu.

Apa yang paling ingin kita ketahui dari masa depan? Mungkin eksistensi. Akan jadi apa kita nanti? Akan jadi apa anak kita kelak? Akan seperti apa keluarga kita, setelah kita tiada? Barangkali, kita akan membangun rumah, bekerja keras untuk kesuksesan kita, mencintai pasangan kita sepenuh hati, mendidik anak-anak kita sebaik-baiknya, agar kita tak dilupakan dan tak terlupakan. Lalu semua kenangan, hasrat, semangat, dan rasa ingin tahu kita berakhir di sebuah liang, di sebuah pusara yang di sana dituliskan nama kita: Lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematian kita. Mudah-mudahan orang akan mengenang hal-hal baik tentang kita, mendoakan kita, yang pernah hidup dalam waktu.

Siapa yang ingin hidup abadi?

(tulisan ini saya re-blog dari website mas Fahd Pahdepie at fahdpahdepie.com)

Kampus, 28 November 2014

Advertisements

Aku Harus Belajar!

DSCN9647Tumpukan buku-buku di rak rotan itu mengganggu konsentrasiku. Batin mengajak aku terpana untuk segera menjamahnya. Tentu saja aku bisa leluasa membacanya, tanpa peduli putaran detik yang meninggalkan angka-angka pada jam dinding itu. Tentu saja, aku lebih mudah tidur dengan bau lembaran kertas yang dibendel rapi pada buku bacaan. Atau, bisa jadi ranjang ini basah oleh air mata semacam sedang terjadi drama yang teramat menyedihkan hingga mengharu biru. Dan lebih dari itu ranjang ini bisa hampir runtuh menahan tubuh sedang membaca cerita yang rupanya penuh tawa. Aku bisa menjadi apa saja untuk menikmati sebuah cerita yang tersaji dalam sebuah buku. Itu sebab aku mencintainya. Adakah yang lebih “gila” dariku?. Tetapi kelak kalian juga akan mengerti dan memahami semua ke”gila”anku jika kalian mau membaca buku. Aku tidak sedang menggurui hanya saja ingin berbagi tentang nikmatnya hidup di dalam rangkaian cerita dari imajinasi para penulisnya. Tapi bukan itu satu-satunya duniaku.

Aku belajar dari banyak orang yang kutemui, tentang pengalamannya. Melakukan sebuah refleksi dari cara berpikirnya, tumbuh dengan menyerap semangat dan saripati hidupnya. Aku senang mendengar orang lain bercerita, terkagum-kagum dengan cerita hebat yang ada padanya, atau sekedar menguatkan jikalau ia sedang risau. Tak lupa melemparkan senyum sebagai tanda terimakasih sudah berkenan berbagi cerita. Aku menikmatinya. Menyempatkan diri menonton film, video, atau petikan wawancara dari orang-orang yang kukagumi memberikan semangat dari energi positif yang terpancar. Jauh sekali aku ingin menggali kedalaman mereka, menjelajahi setiap inci sel otaknya, dan memaksa diri untuk iri pada setiap kebaikan yang mereka lakukan. Menimang, menimbang, dan mengukur seberapa jauh jarak antara aku dengan mereka –orang-orang yang kukagumi berada. Dari itu aku belajar berhitung mengenai apa saja yang bisa aku lakukan saat ini dan apa saja yang bisa aku capai di masa depan. Maka dengan kesadaran semacam itu, barangkali, akan lepas pula semua belenggu yang ada pada diri. Barangkali akan hancur lebur pula semua alasan yang membentur langkah kaki. Dalam hidup, akan selalu tersedia ruang untuk belajar bagi mereka yang ingin menjadi pembelajar bagi dirinya. Bukan untuk sibuk menjadi orang lain melainkan sibuk menjadi diri sendiri yang terus belajar dari banyak hal yang ditemui.

Aku harus lebih banyak belajar sebagai jalan melupakan setiap keluhan, ada hal-hal lain yang lebih penting dipikirkan, dan lebih membutuhkan peran kita untuk diperhatikan. Di luar kerumunan orang-orang yang sibuk melakukan perbincangan entah apa itu, mungkin aku bisa lebih banyak belajar menemukan pelajaran-pelajaran yang lebih berharga, hikmah-hikmah yang tampak bercahaya, atau luka yang pernah mampir dalam diri sembuh segera.

Demikianlah, putaran waktu: pagi-siang-sore-malam-kemarin-besok-lusa dan kapanpun hari-hari berikutnya menghampiri kita, akan ditentukan oleh seberapa banyak kita belajar menemukan apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk menjadi apapun yang terhebat. Yang kita impikan…

Terimakasih pada buku-buku yang setia, teman yang penuh tawa, sahabat yang istimewa, dan orang-orang hebat yang secara langsung maupun tak langsung mengisi kekosongan jiwa yang haus akan ilmu. Aku tumbuh bersama kalian yang hebat.

Malang, 26 November 2014

Untukmu… Tujuan Akhirku Memantaskan Diri (re-blog)

Malida Fitria(1)Aku pernah mencoba dengan dia yang salah. Kau pernah gagal menjelajahi labirin hatinya sampai kehilangan arah.

Tapi bukankah setiap pagi selalu menawarkan kesempatan baru? Bukankah setiap orang berhak atas perjalanan yang lebih menjanjikan untuk dijalani kemudian?

Demimu, aku rela menunggu. Demi kau, aku bersabar dan berjibaku demi memantaskan diriku.

Hey kamu, yang juga sedang berjuang menahan diri

Apa kabar dirimu? Jika bisa, rasanya ingin kutawarkan tempat duduk di sisiku khusus untukmu. Ingin kupandang wajahmu lekat-lekat lalu bertanya,

“Beratkah hari-harimu belakangan ini? Cukup menyenangkan kah pekerjaan yang sedang kau jalani? Atau kau masih berkutat dengan teori dan buku yang membuatmu terjaga sampai dini hari?”

Harapanku, semoga kamu dan kehidupanmu di sana berjalan mulus tanpa gangguan yang berarti. Doaku tak putus-putus untukmu, kukirim dari sini.

Seandainya sekarang kita sudah bisa berjumpa, ingin kuceritakan semua rasa yang sudah sekian lama mengendap di udara. Melihat kuatnya hasratku bercerita, tampaknya kelak pertemuan kita akan lebih mirip reuni dua sahabat lama dibanding pertemuan dua orang yang sedang dimabuk cinta.

Sampai hari itu tiba, kumohon tabahkan dirimu. Semesta sedang berjingkat mengurus pertemuan kita di satu masa paling sempurna. Yakinlah ia akan segera ada di hadapan mata.

Padamu, yang kuyakini telah ditakdirkan namun tetap perlu diperjuangkan

Kita adalah dua manusia yang sebenarnya berjuang di arena pertarungan serupa, hanya saja dari dua tempat berbeda. Kau berjuang menjaga mata, aku di sini mencoba sekuat tenaga membentengi hati sampai kau tiba.

Beragam godaan itu tetap ada. Mulai dari ajakan nonton, makan bersama, sampai tawaran diantar pulang ketika waktu sudah kian malam. Sebagai manusia biasa, kadang aku tergoda. Iri rasanya melihat rekan-rekan sejawat tampak punya pasangan yang selalu bisa diandalkan. Sedang aku, harus sabar menghadapi dunia seorang diri sembari menunggumu datang.

Maka Sayang, jangan pula kau keluhkan keterbatasanmu. Memang benar, kau sering diejek tidak laki-laki karena tak kunjung menyampaikan perasaanmu. Tak jarang juga kau diberi label “jomblo abadi” sebab hidupmu nihil wanita yang mendampingi. Sesekali merasa tak nyaman itu wajar, tapi jangan pernah menyalahkan orang-orang di sekitarmu dan mengutuk keadaan. Mereka hanya belum paham apa yang sesungguhnya sedang kita perjuangkan.

Bukan penjelasan panjang lebar yang bisa menyelamatkan. Orang-orang itu hanya butuh melihat kegigihan dan keyakinan kita:

Bahwa semua perasaan yang belum kita luapkan ini akan menemui muaranya. Menjumpai akhir yang kita tunggu sebagai pesta perayaan. Jika menahan diri untuk tidak membuka hati pada sembarang orang adalah puasa, berjumpa denganmu jadi momen berbuka yang telah ditunggu sekian lama.

Saat pertemuan itu terjadi, kita akan saling menatap dengan penuh isyarat. Mata kita bertaut merayakan kemenangan. Kita dua orang yang sama-sama keras kepala berjuang demi akhir yang sebenarnya belum bisa diperkirakan. Kita, sepasang cinta yang dipertemukan tanpa proses pendekatan. Kau dan aku, sepasang manusia yang lekat tanpa pernah harus berpelukan.

Tak perlu khawatir, Sayang. Seburuk apapun dirimu, tangan ini akan tetap terbuka. Dulu, aku pun pernah jadi versi brengsek dari seorang manusia

Datanglah padaku dengan apa adanya. Kau tak perlu harus sangat kaya raya, rupawan, atau punya kesabaran tanpa batasan demi menjadikanku pasangan. Sungguh, versi ideal macam itu tak begitu penting di mataku. Aku pun tak akan repot bertanya berapa banyak hati yang sempat kau lewati sebelum diriku. Buat apa? Toh tanpa mereka, kau yang sebaik hari ini juga tak akan ada. Walau kadang cemburu, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk berdamai dengan masa lalumu.

Bagiku, cukuplah kamu yang muncul di depan pintu sembari berkata,

“Aku sudah selesai dengan diriku. Sekarang aku ingin menjalani hidup bersamamu.”, kata-kata sederhana macam ini sudah bisa melelehkan hatiku.

Aku juga bukan manusia sempurna. Dulu, aku sempat menjelma jadi versi brengsek seorang manusia. Aku pernah menyakiti orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat. Aku pernah melakukan kebodohan dengan menyerahkan hati pada orang yang salah. Dalam beberapa kesempatan, air mataku sempat menetes karena menangisi kehilangan yang serasa seperti kiamat.

Kau bisa menemukan tweets dan status Facebook-ku yang penuh kata-kata puitis nan galau. Jika menggali postingan lama blog-ku akan kau temukan aku yang sempat mencintai orang lain sedaalam itu. Tak perlu cemburu. Aku yang kini sudah selesai dengan romantisme picisan macam itu.

Aku juga bukan Perawan Maria yang suci dari jamahan pria. Jelas akan kupersembahkan tubuhku untukmu. Satu yang perlu kau tahu, ada jejak tangan lain yang tertinggal di sana — bukti bahwa aku pernah alpa sebagai manusia. Egomu mungkin terluka saat mendengar pengakuanku, namun aku tak ingin memulai segalanya di bawah payung dusta. Kau berhak mendapatkanku dalam versi sejujur-jujurnya.

Setelah mendengar ini, semoga kau tak kecewa. Aku hanya berharap kau melihatku sebagai orang yang pernah salah arah, tapi rela berjuang kembali ke jalan yang “benar” biarpun sampai harus berdarah-darah.

Bersabarlah. Hingga tiba hari di mana kita bisa berbagi rengkuh dan merayakan peluh tanpa perlu khawatir dosa

Aku tahu pasti tak enak rasanya. Mengabaikan semua goda untuk punya pendamping sementara yang bisa diajak bercerita. Tak mengindahkan rasa butuh diusap sayang oleh seseorang setiap lelah datang. Mungkin gagal dan sakit memang membentuk kita jadi penyintas yang rela mengakrabi sepi. Atau bisa jadi, rasa lelah karena terus-terusan gagal menjadikan kita malas membuka hati demi yang dia yang tidak pasti.

Setiap rasa sepi dan sendiri itu menyeruak, selalu ingatlah. Kau tak sendiri. Kita sejatinya sedang bergumul di satu garis emosi.

Saat kau peluk gulingmu erat-erat, aku pun sedang sibuk berharap bisa tidur nyaman di atas bahumu cepat-cepat.

Waktu kamu merasa nelangsa karena makan seorang diri,  aku disini pun tak lebih baik nasibnya. Sembari menyendok salad penuh fetta cheese , aku berdoa semoga bisa segera bertemu kamu untuk punya agenda makan malam bersama yang penuh canda.

Demi kebersamaan sederhana macam itu, kau memaksaku makan malam penuh lemak di Rumah Makan Padang pun tak apa. Selama muka kepedasanmu bisa kutemukan di depan mata.

Jarimu berteriak butuh genggaman. Pinggangku menjerit ingin direngkuh saat menyeberang jalan. Kita berharap segera saling menemukan.

Tapi bukankah hal-hal baik selalu membutuhkan waktu tunggu? Antre dokter saja kita rela menanti berjam-jam. Memalukan ‘kan jika cinta justru kita harap datang tanpa proses panjang?

Akan tiba masa dimana kita bisa saling merengkuh, meluapkan kasih lewat peluh. Akan datang malam-malam hangat ketika kita bisa berbagi selimut berdua. Main petak umpet, lompat tali, bertanding uno dan adu main domino — atau sesederhana bercinta di bawah hangatnya kain penutup badan tanpa perlu lagi khawatir pada ancaman api neraka.

Berdua, kita menggenapkan hidup masing-masing. Berdua, kita rayakan surga dunia tanpa perlu lagi takut dosa.

Sampai hari itu datang, jangan lelah untuk terus berjuang. Meski tak bersisian, ketahuilah kau tak pernah sendirian

Sebelum tiba waktunya kita ditakdirkan untuk saling menemukan, kau dan aku hanya harus menambah tabungan ketabahan.

Hidup terlalu singkat untuk terus-terusan mengeluhkan kesepian. Hatimu terlalu berharga jika diisi dengan kesibukan untuk mengurusi cinta yang hanya sementara.

Setiap kau merasa sendiri dan tak ada yang mendampingi, ingatlah padaku. Seseorang yang belum pernah kau temui. Manusia keras kepala yang kata orang punya imajinasi liar dan gila — karena rela mati-matian menjaga diri agar pantas menyandingmu yang entah kapan datangnya.

Tidakkah fakta ini harusnya membuatmu merasa punya rekan? Aku mendampingimu dalam diam. Barang sedetik pun, kau tak pernah sendirian.

Salam kecup jauh dariku,

Seseorang yang tak pernah lelah berjuang memantaskan diri untukmu

(tulisan ini saya re-blog dari artikel di website hipwee.com)

semoga terhibur dan menjawab semua pertanyaan kalian…

Ada Apa?

Ada yang ingin kusampaikan lewat barisan kata ini… untukmu… siapa saja yang membaca…

 

Screenshot_12
jendela kampus pagi ini

 

Saat lelah selalunya kutemukan celah yang hadirkan angin, siap terbangkan aku menjauh dari sekedar pasrah

 

 

 

 

abstrak
abstrak

 

Aku hanya goresan abstrak yang tak terbaca. Berjanjilah untuk setia mengeja tiap kertas yang kutinta dengan warna. Rindu kita sama: ada.

 

 

 

 

 

IMG-20140706-01078
buku-kata

 

Nanti, kau bisa kenang aku dengan kata yang bisa kau sebut sebagai cinta.

 

 

 

 

embun
embun pagi. Foto diambil dari google

 

Pagi ini, aku masih enggan menyentuhmu. Sebab, kau masih menjelma dingin yang tak mau tertinggal pada embun: kenangan.

Hujan dan Bias-bias Rindu

Mendung mulai datang membuat langit menjadi gelap. Mungkin dalam hitungan dua atau tiga menit lagi hujan akan segera turun, gemuruh petir tak mau kalah menggelegar. Jalanan di kampus kian sepi di bendung udara dingin yang menggigil. Pukul 13.33, aku berjalan meyusuri lorong kampus menuju lobby segera sebelum hujan angin turun. Lenggang. Ah hujan memang sulit di tebak kedatangannya, tapi aku menyukainya. Aku duduk di kursi panjang berwarna putih, tepat berseberangan dengan pintu kaca untuk masuk gedung yang jika hujan turun aku leluasa memandangi rintiknya yang jatuh. Kunyalakan mp3 dari handphone dengan earphone sambil meletakkan tas di sampingku, juga dua buah buku di atasnya. Aku tahu, hujan tak akan cepat reda jadi apa salahnya aku menghabiskan waktu menikmati hujan dari dalam gedung ini toh perkuliahan juga sudah selesai.

Sebuah message masuk ke handphone-ku mengingatkan ada tugas dan surat observasi yang harus segera di urus. Kuketik cepat sebuah reply untuk temanku, “Ya, tunggu saja.” kudiamkan saja handphone-ku saat kemudian berbunyi lagi. Aku akan segera mengurusnya setelah hujan ini reda, kataku dalam hati. Menjelang akhir semester harus disibukkan dengan banyak tugas yang menunggu dijamah pemiliknya, sebuah kewajiban sebagai seorang yang disebutnya mahasiswa. Apa aku tampak sedang pusing memikirkan tugas-tugas itu? ha ha ha. Sepertinya tidak.

Kutekuk kepala ke belakang, menyandar kuat ke leher kursi, dengan mata memejam, kuhirup nafas panjang dari sejuknya udara yang dibawa hujan. Maafkan aku, maafkan. Ujarku pelan. Aku melirik handphone yang ada di genggamanku, membuka notes yang aku tulis dengan judul “to do list. Kuliah. Segera.”. Aku diam membaca satu per satu deretan tugas yang harus segera di selesaikan, membuatku berpikir dan memilih mengerti betapa ada tanggung jawab yang dijalani tak seharusnya membuat bibir ini tersenyum kecut dan memahat raut murung di wajahku.

Akan segera kuselesaikan semuanya dan kujanjikan pada diriku untuk berlibur setelahnya. Kadang aku tampak seperti orang yang butuh melakukan perjalanan panjang menikmati liburan, kata temanku. Aku kembali tenggelam menikmati alunan musik dan hujan yang rintiknya menyanyikan sebuah irama yang menyelamatkan perasaan. Bukankah seharusnya aku tak perlu berbasa-basi dan bernegosiasi dengan diriku sendiri? jika itu kulakukan sama saja artinya aku sedang menyerah menerima tanggung jawab dan pilihan yang kuambil. Bukankah aku sendiri yang sering mengatakan ucapan itu pada diriku sendiri? Bukankah kataku itu keinginan dalam diriku untuk tidak terlena dengan apa yang ada dihadapanku? Bukankah kataku itu yang selalu menguatkan aku untuk tetap bertahan dan melangkah melewati apa yang ada? Aku lupa? Atau aku hanya mengucapkan sebuah verbalisme kosong? Atau mungkin aku sedang melakukan pembenaran? Oh mengelak? Atau aku sedang tidak berdaya mengambil kendali pada diriku? Atau itu sebuah bentuk menyerah? Atau atau atau yang lainnya.

“ah terbukti kan, terlalu banyak berkata-kata akan membuatku lupa pada apa yang sudah kulakukan.”

Kueratkan jaket parasit yang kukenakan, aku tersenyum kecut memandang diriku sendiri yang akhir-akhir ini kehilangan gairah, arah, dan tujuan. “Baiklah” kataku sembari mengambil sebuah buku notes berwarna hitam di dalam tasku, kubuka kotak pensil untuk mengambil sebuah bolpoin warna hitam pemberian dari salah satu karyawan di kampus ini karena sungguh malang nian ia melihatku sudah dua kali kehilangan bolpoin yang aih rupanya baru saja dibeli beberapa hari. Ha ha ha. Lalu kutuliskan sisa-sisa harapan yang semoga akan menyala tepat di tengah halaman notes ini. Cahayanya tak lagi benderang sempurna. Hanya membiaskan barisan kata yang menciptakan bayang-bayang serupa tarian yang akan hidup bila kusentuh dengan kekuatan hati untuk tetap kuat.

Perlahan, dengan suara isak yang ditekan, kunyanyikan lagu Tetaplah Berdiri yang terputar di playlist handphone-ku. Seorang diri, untuk diriku sendiri, biarkan cahaya terang menyinari ruang ini, selalu tersenyum dalam langkah. Perlahan dengan mata yang berkaca tak kuasa menahan air yang membasahi kelopak, kubaca lagi sebuah catatan yang dikirimkan seorang sahabatku yang ia baca pada salah satu artikel di internet tengah malam tadi:

“Tidak ada lagi yang melarang melakukan ini itu, orang tua tidak lagi menyuruh mengerjakan PR sekeras saat kita masih sekolah, kita akan melawan diri sendiri, melawan rasa malas, belajar disiplin, karena kita sadar perubahan ada pada sebesar apa kemauan merubah pribadi kita.”

Membuang pandangan ke luar, seperti cahaya yang menembus kaca, bayangan yang berada di air, ada sisa-sisa gerimis yang segera hengkang siap untuk digagahi terang. Ada kalimat terbata-bata yang terucap, “Aku merindukanmu, bu. Ibu harus bangga melihatku.”

“aku suka gayaku, yang diam tetapi dalam.” Kataku sambil tertawa mengusap air mata.

Kampus, menunggu hujan reda

17 November 2014; 14.53

 

Hujan Sore Tadi

Aku bahagia. Seperti kembali menemukan hidup. Setelah lama berjalan tak menikmati guyuran hujan. Aku terduduk penuh senyum di balik jendela mengingat aku yang dulu selalu menikmati hujan, mengingat bahagia saat menantikan gemuruh hujan hendak mengguyur bumi. Akhirnya detik itu tiba lagi. Musim hujan, sore ini hujan datang membawa serta kenangan baik bersamanya. Hujan, yang dulu pernah menjadi teman baikku menawarkan percikan lembut yang menyegarkan wajah.

Sering kutengadahkan wajahku agar hujan bisa membasuhnya. Dan kali ini hujan kembali menyapa keringnya rasa seolah berkata tak ada yang harus dirisaukan. Entah mengapa aku masih suka bermain-main dengan hujan berharap ia tak pernah reda. Supaya aku tak perlu menahan lagi setiap perih yang datang saat hujan reda. Agar aku tak perlu susah-susah menarik lagi kenangan indah bersama hujan setiap sore. Hujan yang datang membuatku menyadari bahwa kamu hanya satu-satunya yang kunanti kedatangannya.

Aku merindumu. Aku merindu kehangatan bersamamu. Aku rindu berjalan melukis cahaya indah menujumu. Aku merindu menjadi seperti anak yang menikmati hujan dengan keceriaan yang lepas. Aku merindu menikmatinya bersamamu dengan kebebasan. Aku harap hujan tak segera reda. Barangkali benar, semakin deras hujan, semakin segar udara yang tertinggal. Bukankah begitu?

Sayang sekali, aku tak cukup mengerti bahwa hujan kali ini senyap karena yang tersisa hanya bayangmu. Atau barangkali aku yang tak kuasa menolak kenyataan itu. Aku diam saja. Entahlah, biarkan aku melepasmu agar kau tenang disana dan biarkan aku tetap menikmati raut lembut wajahmu tanpa mengusik takdirmu di sela rintik yang dibawa hujan. Biarkan. Di ruang ini semakin deras hujan yang turun aku semakin asik bercengkrama dengan rintiknya, menyisakan senyum pahit. Aku hanya perlu berjalan untuk berteduh pada payung yang dikembangkanNya. Entah bagaimana caranya..

Hujan Sore Tadi

Sore tadi hujan datang lagi

Ia menertawakanmu

Sore tadi hujan datang lagi

Ketika rintik-rintiknya bersenandung tentangmu

Sore tadi hujan datang lagi

Membawa bau yang masih terasa bahkan saat kamu pergi

Sore tadi hujan datang lagi

Ada yang menantikan redanya,

Menunggu pelangi

Sore tadi hujan datang lagi

Ada yang melarang redanya

Sampai pulih lukanya diluruhkan hujan

Hujan sore tadi

Bukan milikmu lagi rupanya

Di sela rintiknya

Ada yang duduk mematung

Di kursi kayu, di balik jendela, di ruang yang kau cipta

Kenangan namanya

Di ruang itu kau tak boleh lagi bersembunyi

Itu bukan rumahmu lagi

Hanya doa yang bisa melerai lukamu

Yang kau bisikkan pada angin

Apa rintik hujan masih setia menyampaikan perih-perih kenangan yang tetiba membuatmu rindu?

Kampus, 14 Oktober 2014; 14.53

Cangkir Kopi dan Puisi

10511255_10201912300808292_9082946182053624084_n
cangkir kopi untuk puisi

Ini kopi ketiga yang kuminum setelah beberapa hari menari-nari dengan intonasi pada bait-bait puisi. Kau mungkin tak mengerti betapa nikmatnya menulis puisi ditemani secangkir kopi yang membuatku bertahan dengan lembaran kertas putih berjam-jam lamanya. Aku tak sedang mencari seseorang dengan bait-bait puisi ini, hanya saja rasanya aku seperti kembali merengkuh kehidupan ketika menuliskan bait-bait puisi ini. Bukan soal cinta, aku tak pandai menuliskan hal itu. Hanya sebuah ungkapan ekspresi yang meletup-letup, mendadak mendorong tangan untuk segera menuangkan secangkir inspirasi pada selembar kertas putih.

***

Aku perlu beberapa waktu untuk merangkai bait-baitnya…

“kenapa lama diam memandangi kertas kosong di depanmu itu?” tanya hati yang rindu inspirasi

“titik. aku hanya bisa menulis ini. aku gak tau akan menulis apa?” aku beralasan

“jangan kebanyakan melamun. coba tulis satu kata.” tanyanya lagi

“hening.” jawabku mengambang

satu bait…

dua bait…

tiga…

kemudian lima…

lalu sepuluh…

enam belas…

beberapa bait lagi selesai…

tiga jam berlalu untuk menyelesaikan satu rangkaian puisi itu

“kau tak sedang bernegosiasi dengan egomu kan tadi?” tanya hati

“sepertinya lebih ingin untuk mengalahkannya, mengalahkan diri sendiri, menjauhkan dari sebuah rasa ketidakmampuan dan penundaan.” jawaban yang meyakinkan diri.

Aku kira malam ini akan gagal lagi menulis karena seringnya menunda dan memilih tidur. Malam ini sepertinya putaran jam di dinding tidak menunjukkan bahwa malam telah larut, masih jam 00.25. Aku kembali menyeruput secangkir kopi terakhir yang menemaniku menulis malam ini sambil menyalin bait-bait puisi itu pada laptop. Beginilah mungkin rasanya menjadi seorang yang lepas, bebas menuliskan apa saja yang terlintas di kepala. Entah pada kesadaran level berapa aku menulis bait puisi ini sampai rasanya tubuh menjadi lebih ringan seperti telah melepaskan beban. Jika bisa kusebut hidup adalah hal yang “gila” maka menulis adalah satu-satunya cara agar aku tetap waras. Iya waras! aku serius, melepaskan semua beban tanpa peduli logika menolak atau menerima, hanya saja terus menulis dan menulis. Melatih diri melihat pada sudut pandang yang berbeda. Kadang tak peduli bagaimana maknanya tapi dan tapi tanpa disadari menghadirkan sebuah cerita dari sudut pandang baru. Aku hanya ingin merapikan rasa di hatiku. Dengan itu aku bisa saja tertawa sendiri, menangis sendu, terharu, kadang juga merenung terhanyut ke dalam cerita.

Menulis adalah merasakan. Merasakan kekuatan untuk jujur berkata pada diri sendiri. Menulis adalah kenikmatan untuk membaca diri. Dan menulis adalah ungkapan rasa terselubung yang bisa membuat siapa saja menerka-nerka. ha ha. Bisa saja itu terjadi. Aku sering melamunkan bagaimana huruf-huruf ini dirangkai, diurai maknanya, dan bagaimana ujung ceritanya. Lalu bertanya pada siapa tulisan ini ditujukan? Entahlah, butuh waktu lama untuk mengurai jawaban atas pertanyaan itu. Aku masih menulis meski seringkali takut dan mempertanyakan banyak hal.

“jangan jadikan itu alasan untuk tidak menulis!” kata hati

Bersama bait-bait puisi ini aku mengimajikan kata yang mungkin saja hanya nurani yang mengerti. Melepaskan makna dalam metafora kata-katanya, dan aku mencintainya. Aku hanya akan menulis, membahasakan setiap apa yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan. Karena bersamaan dengan aku menuliskan bait puisi ditemani cangkir kopi ini ada cerita yang tak terbantahkan kelak menjadi saksi untuk tetap ada dan dikenang hingga kini. Cerita yang meski belum tertata tapi pernah menghiasi setiap kata yang kutuliskan.

Tuliskan saja, karena siapa tahu, di ujung sana, atau di belahan sana, ada seseorang yang bangkit dari sedihnya karena membaca tulisan kita. Tuliskan saja, walaupun bagimu itu tidak penting, sungguh sangat mungkin akan ada seseorang yang tersenyum ketika membaca kalimat demi kalimat yang kita tulis. Tuliskan saja. Tak usah pedulikan jumlah pengunjung, pembaca, like, komentar, dan teman-temannya. Tuliskan saja. -Darwis Tere Liye-

Jangan kau baca ini dengan terbata-bata nanti kau bisa berkaca-kaca!! ha ha…

Ruang Putih, yang tak pernah berjam dinding

Selasa, 11 November 00.25

Tenggat Waktu

Waktu terus berputar meninggalkan angka-angka tercetak di jam dinding. Pada setiap perputaran selalunya ada kesempatan yang seringkali terlewatkan atau sengaja dilewati. Menjadi hal yang tak terbantahkan bagi siapa saja yang menggunakan waktu dengan bijak akan banyak menciptakan peluang dari kesempatan yang dihadirkan. Lalu yang hanya duduk mengayunkan kaki memandang langit-langit untuk melamun akan semakin jauh tertinggal dari sesamanya. Kepada siapa waktu berpihak?

Waktu berpihak pada mereka yang siap, tepat, dan berfokus. Siapa saja yang berfokus untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya kesempatan akan hinggap padanya. Bisa saja dikatakan, waktu menjadi pemicu untuk terus bergerak agar tak tertinggal atau sebaliknya malah tertinggal lebih jauh dari sesamanya. Kadang, pasang surut semangat membawa pada satu titik kejenuhan, bosan, dan enggan melangkah, stagnan. Lalu apa? apa yang bisa dihasilkan dalam diam? tak ada. Aku sudah cukup usia untuk mengerti bahwa waktu akan terbuang sia-sia jika tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka kemampuan untuk memotivasi diri selalu dibutuhkan. Kadang, betapa cemburunya aku pada orang-orang yang bisa terus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, menghasilkan banyak hal untuk dirinya juga sesamanya. Mencari alasan bukan satu pembenaran yang dianjurkan, lebih sering dilakukan akan merugikan berujung penyesalan. Jangan salahkan waktu, waktu dan kesempatan tidak pernah salah hanya saja ia berpihak pada yang siap, tepat, dan fokus. Dalam jangka waktu selama ini apa yang sudah dihasilkan? Terhanyut dalam tanya yang membuatku menikmati kebisuan dalam diam.

Meski kesempatan tidak selalu menjanjikan keberhasilan setidaknya itulah salah satu jalan untuk mencoba dan melatih diri. Adalah suatu kekuatan untuk bisa bertahan mengalahkan diri sendiri, menunda kenikmatan, dan mengatasi semua yang menjadi belenggu dalam diri. Tantangan. Waktu memberikan tantangan untuk sebuah pembuktian diri apakah mampu menjadi seperti apa yang diinginkan atau hanya berlalu menjadi angan-angan. Semua yang pernah tercatat pada janji untuk siap melangkah lebih tinggi tidak akan terlupa oleh waktu, ia merekam setiap yang terucap. Hukuman waktu yang rupanya lebih kejam untuk seorang yang mencoba lari menjauhi tujuan semoga menjadi teguran yang menampar. Meleburkan semua ego yang sudah sering dituankan menjadi sangat diperlukan dan yang lebih utama adalah menerima segala masukan, kritik, dan saran juga lebih banyak mendengarkan serta belajar dari orang lain sesuai dengan kapasitasnya.

Dan untuk tetap berdiri dibutuhkan sebuah keyakinan untuk bisa mengalahkan diri sendiri dari segala mental yang membelenggu, bermetamorfosa menjadi seorang pribadi yang harus memusnahkan setiap kali rasa malas datang. Sekedar mampu saja tidaklah cukup, dibutuhkan perjuangan. Maka akan kulakukan sebelum waktu membunuh barisan harapan yang tertoreh.

Ruang Putih, merekonstruksi diri

Selasa, 11 November 2014; 23.19

Kita bebas membaca
Pada bait puisi yang kau eja
Lalu bebas bermimpi
Untuk langkah yang lebih tinggi

Untuk yang pertama
Inilah yang sempat diabadikan pena
Yang hadir di tengah keringnya inspirasi
Semoga membuka cakrawala
Menjelma menjadi gema
Sebagai saksi lahirnya pewarna negeri
Keikhlasan untuk mengabdi