Tentang Kamu!

Hei.

Kecupan dini hari tadi meredakan kekhawatiranku. Aku berhasil mendefinisikannya sebagai tanda sayang. Mati-matian aku berusaha meyakinkan bahwa perasaanmu melebihi takaran pikirku. Semacam takdir yang tak bisa dilawan, bahwa jika harus dilepaskanpun harus dengan pelukan.

Sayup angin menerbangkan daun kering yang gugur sengaja melayangkan pikir tentangmu. Kebetulan, segala sesuatumu aku tahu dan segala sesuatuku kamu tahu. Bagaimana bisa protes jika memang ini kehendakNya untuk saling mempertemukan? Biasa saja, tak ada yang istimewa hanya aku merasakan kasih yang luar bisa saat kita beradu pandang.

Boleh aku tanya? Bagaimana Tuhan bisa sedemikian hebat merencanakan semuanya? Merencanakan kebencian yang kemudian dicairkan tanpa marabahaya diganti oleh cinta?

Terimakasih, kasihmu luar biasa sempurna.

Advertisements

Menari setiap Hari

Aku tersipu malu harus dibangunkan dengan teriakan “atee!! Sholat!!”, panjang sekali kemudian masih diteruskan “Bundaaaa… Ate gak mau bangun gak mau sholat, bun!” teriaknya sambil tersenyum nyinyir ke arahku. Untuk bertahan tidur rasanya mustahil, sebab anak ini lebih pandai untuk menyeret aku keluar kamar, wudhu, kemudian bermain sepeda. Ah aku memang tidak cukup berani untuk menolak ajakannya.

Kuakui, ia –anak kecil umur 4 tahun yang badannya lebih berat dibanding aku ini– selalu punya cara untuk tertawa, memuluskan keinginannya untuk bermain. Membujuk siapa saja untuk terhubung dengan mainannya. Ia merasa penuh dengan ocehan pertanyaan saat mendemonstrasikan apa saja yang ia mainkan, berteriak penuh kegirangan saat mobil-mobilan polisinya bergantian satu per satu menangkap perampok yang bersembunyi di bawah bantal. Ia berlari kesana kemari dengan intonasi yang menyerupai tokoh asli, berkali-kali duduk menyimak teve dengan adegan yang itu-itu saja –aku sendiri kadang bosan melihat tontonan kesukaannya yang episodenya diulang-ulang.

Semua tempat baginya adalah ruang bermain menjelajahi dunia yang terekam di kepalanya. Aku kadang tertawa, dengan caranya membujukku untuk mengikuti caranya. Semua yang dilakukannya selalu membuatnya merasa lunas menjadi anak-anak.

Aku tak bisa berkata apapun selain terus saja mengamatinya, mendengar dengan takzim setiap ujarnya yang entah kenapa kadang asing di telinga. Aku bisa membayangkan saat ia dewasa, duduk di kursi kayu sambil membayangkan dunianya yang kini, dunianya yang anak-anak, dunia yang membuatnya tidak pernah merasa buruk menjadi anak-anak.

Sampai akupun sama, betah berlama-lama mengharu dalam rindu masa itu, tentang semua yang lucu dari wajah lugu anak-anak.

 

rebut kabut

Aku di antara kalut

Tapi senyummu tetap lembut

Wajahku kusut

Tapi kamu tak pernah ribut

Tahu kan aku ini penakut

Tapi doamu ada bagai selimut

Sekali namamu kusebut

Semangat langsung tersulut

Ah kamu selalu bisa merebut

Hatiku agar tak larut

dalam carut marut

 

Terimakasih emak atas kesediaan mengangkut kabut luka ke laut suka meski jarak terpaut

Malang, 20 November 2015; 17.36

-uh!

Kamu berjalan dengan tangguh
Menyeka peluh
Tanpa keluh
Agar senyum tak runtuh
Wajah tetap utuh
dan hati tak rapuh
Rangkak, jatuh, tumbuh!
Lewati semua jalan tanpa angkuh
Semoga lekas sembuh
Dari pikiran keruh
Berdiri di atas hidup yang utuh

Dari hati yang coba lari jauh dari jenuh,
Malang, 19 November 2015

Cerita yang Tertulis Apa Adanya

Lampu jalan mulai menyiramkan cahayanya di sela sesak pengap kendaraan. Dingin, bisikku entah pada siapa. Sejak pagi tadi aku belum pulang. Entah apa lagi, aku merasa telah menguji tenagaku mengumpulkan remah-remah pengalaman di sisa-sisa kehidupan. Di tengah perjalanan, setelah membebaskan diri dari rasa lelah dalam sujud-sujud panjang, aku merasa mendingan, kemudian mencoba mengendapkan pikiran tentang kata-kata Mbak Astuti pagi tadi, berusahalah sebaik-baiknya untuk menaati dan menghormati apapun, termasuk apa-apa yang kamu pikirkan sendiri!, begitu katanya.

Aku berhenti dari pikiranku sejenak, melirik jam di tangan, mencoba berteriak kepada diriku sendiri, Tidak cukup hanya senyum yang aku berikan demi setengah dari satu hari yang ia tinggalkan untuk menemuimu!. Kendaraan digilas kaki waktu, aku mencoba lebih cepat untuk sampai di tempat tujuan yang sudah dijanjikan sebelumnya –meskipun selalu saja kalah cepat alias terlambat karena ini dan itu. Tapi dalam keadaan apapun, tidak pernah ia menemuiku dengan raut wajah kecewa. Tidak pernah ada kesedihan dan kekecewaan yang berpengaruh terhadap ketulusannya melakukan apapun. Meskipun untuk kesekian kalinya aku selalu berkemungkinan mengecewakannya atau membuatnya sedih.

Sudah pukul 19.00, aku baru menemuinya dan senyum belum berhenti dari mulutnya. Terang-terangan aku duduk bengong saja memikirkan kebaikannya yang tiba-tiba saja semakin banyak menggantung-gantung di kepalaku. Waktu itu, teori yang pernah aku perdebatkan sedang tidak baik-baik saja, pertemuan ini mendadak menyeretku pada keyakinan lain tentang bagaimana kasih sayang bekerja. Sekali lagi, aku coba berpikir dan membandingkan berapa banyak kerumunan ego, masalah, dan kesedihan yang berkemungkinan membuatnya tenggelam dalam kecewa, lalu aku buka lagi satu per satu kejadian yang mungkin membuatnya tersenyum. Kedua hal itu saling berdesakan di pelupuk mata, aku mulai menggigil. Semua protes dan ego yang pernah aku utarakan sebelumnya lenyap begitu saja. Aku meliriknya menikmati kopi yang aromanya selalu membuat ia terjaga, aku ingin selalu memotretnya dalam bayangan terbaik yang pernah aku lihat kemudian melampirkannya dalam selembar foto. Barangkali hanya itu yang selalu aku miliki, mengenang semua cerita terbaiknya meskipun sebenarnya belum sepenuhnya mampu membuatnya bahagia, bahwa rasanya setiap doa diam-diamku belum bisa mengganti semua ruang kasih sayang yang diberikan.

Kali ini aku harus memaksa untuk menyediakan diri sebagai panggung tempat semua kisahnya dipentaskan juga kasihnya dicurahkan. Tuhan selalu punya takaran tersendiri untuk mengukur hati dan pikiran manusia, termasuk ketulusan. Tulis saja semua kisahmu apa adanya, niatkan saja untuk berjalan menenun semuanya dengan anggun di hadapanNya, ucapnya sambil meletakkan cangkir di meja kayu. Dan asal aku tahu saja, kasih sayang akan berhenti bekerja dari hati orang-orang yang memerlukan kekecewaan untuk mendidiknya berhenti melakukan kebaikan.

Salam dari aku,

yang selalu mencintaimu dengan segenap prasangka baik

Di Bawah Pohon Randu

Di bawah pohon randu yang daunnya jatuh satu per satu, aku dimabuk haru oleh senyummu dan getar merdu suaramu. Kita ini menyatu meski pernah sempat beberapa kali menunggu waktu yang tepat menyatakan rindu. Aku tahu, kamu juga menunggu, mencoba memandangku dari jauh. Setelah perkenalan berlalu, kita menemukan kesamaan dari mencoba hal-hal baru. Aku tak lagi ragu menggandeng tanganmu karena aku hendak menyampaikan perasaan dengan bahasa yang bisa kamu rasa dari getar nadiku.

Petualangan rasaku memang tidak pernah selesai. Bagaimana bisa seorang yang tidak pernah punya rumah untuk pulang, bisa mudah dibukakan pintu kayu yang sudah lama dipalu dan terpaku. Kemudian seperti kebiasaan-kebiasaan lain yang menjadi ritualku, di pohon randu milikku, semua bebas membahasakan cinta, disediakan ruang seluas-luasnya untuk menuliskan atau sekedar membaca puisi dengan mata yang memandang nanar jeda kata untuk mengumpulkan nada intonasi. Semua yang ada di kepala boleh dibahasakan dengan cara-cara sederhana sesuai selera. Ada yang menggemakan cinta dengan pembuktian-pembuktian nyata, namun sayangnya membiarkan rasa bergemuruh dalam dada tanpa pernah tersampaikan adalah pilihan sebagian dari kamu.

Tidak buruk memang, semua itu membuat aku bisa duduk sebentar membuka telinga dan hati agar mampu mendengar setiap rasa yang berlogika untuk di bawa pulang. Tidak perlu menarik diri pergi meninggalkan kisah sehari-hari hanya karena ingin sendiri. Pohon randuku terlalu indah untuk dirapikan, biarkan semuanya bertumbuh sebagaimana adanya. Sesederhana seduhan kopi yang aku nikmati sambil membaca sajak-sajak haru pengobat rindu, doa-doa teduh yang luruh dalam air mata juga teka-teki yang kemudian aku temukan jalan ceritanya.

Mawar dan Sepucuk Surat

20151106_19340620151106_182013

Tangkai mawar yang kau berikan pada orang di lingkar semesta hatimu menyisakan kata yang menyentuh bahagia walau tak selalu ada disampingnya….

I

Apapun yang akan kamu katakan. Aku adalah diriku yang akan tetap mengenali cintamu dengan segenap prasangka baik.

Apapun yang orang lain pertontonkan. Kamu adalah dirimu yang kasih bagi semestaku. Kamu adalah dirimu yang doanya untukku tak pernah mereka lihat. Maka, Jangan Ragu!

II

Jangan pernah tanyakan kenapa dunia bisa berputar lebih cepat dari yang kita bayangkan. Hidup ada di tanganmu. Kamu adalah orang paling tepat yang berhak menggandeng impianmu. Tuliskan semua cerita apa adanya tanpa bertanya keberpihakanNya.

III

Di dunia ini, tidak ada tawaran yang lebih menarik selain keinginan untuk terus belajar. Sebab belajar tak akan membuatmu kalah, imbalan yang pantas terhidang di depan setelah lelah.

Jangan pernah lelah. Jangan menyerah. Istirahat kita nanti saat kita kembali.