Kepada Hati, Tentang Diri

Untuk luka yg pernah begitu hebat memaksamu jatuh, terimalah…

Untuk rasa khawatir dan ketakutan berlebih yg karenanya kamu sesali, maafkanlah…

Untuk pengampunan yang tak berujung kepuasan, maklumkanlah…

Untuk setiap cara yang tak sempurna, pahamilah…

Untuk seucap ingin yang tak terungkap, berikanlah senyuman…

Terimalah kembali dirimu, dengan kelapangan dan rasa hormat. Meski kotor berdebu dan munafik. Terimalah… Ia datang untuk memeluk dirinya sendiri, mengusap-usap perihnya sendiri, membersihkan luka-luka di tubuhnya…

Kepada Aku, Tentang Kata Rumah Tangga

Aku coba membuka laptop, mendaratkan tumpukan aksara untuk dituturkan menjadi selembar surat. Saat ini, kubiarkan renung, senda, tawa, gurau, dan sendu mampir di gudang pikir untuk meluruskan hipotesa dan kemungkinan menjadi sebuah kepastian. Lelah juga rupanya melihat banyak orang bertanya perihal kepingan kisah dari fragmen hidupku yg tak pernah usai kuramu menjadi kekata cerita. Berulangkali aku mengutuki diri sendiri yg mudah membuat alasan dan terlalu angkuh membicarakan masa depan sebab terlalu takut membaca pesan panjang lebar yg ingin Tuhan sampaikan lewat rangkaian kejadian. Mungkin butuh waktu untuk meminta maaf pada diri sendiri dan menyembuhkan sakit hati, meski tak pernah benar2 mengerti apa yg membuat sakit hati.

Rasanya alasan itu cukup klise untuk kuumbar demi menghalalkan alasan takut membicarakan rumah tangga masa depan. Mungkin aku dan orang2 pernah bertanya sebab prasangka yg muncul bahwa aku tak memikirkan masa depan karena lebih sering sesuka hati bermain kata dan bahasa menguntai cerita. Meski kadang aku egois membiarkan orang tak tahu maknanya. Seperti tentang rumah tangga di masa depan yg setiap orang impikan, aku sibuk sendiri dg duniaku mempersiapkan diri demi mengisi ‘tubuh dan otakku’ agar tak kosong saat mendampinginya kelak. Kubiarkan diriku bermain dengan kata karena itulah aku dan proses belajarku mengenal diriku. Aku adalah manusia yg terus mencari makna dua buah kata: Rumah Tangga, sampai detik ini, untuk bekal kehidupan kelak. Aku belajar memaknainya dengan berkelana membaca peristiwa dan berjalan menapaki tangga hidup dengan berbagai aktivitas. Aku adalah kumpulan kata yang sedang melakukan riset dari apa saja yg kualami sebab sebagai pebelajar kehidupan aku harus memberikan nafkah materi dan batin bagi otak sebagai gudang tafsir dan hati sebagai penunjuk kebaikan yg ada pada diri. Maka biarkan aku terus berjalan memperkuat pencarian makna Rumah Tangga dg melakukan perjalanan meliarkan pikiran pada sebentuk narasi cerita, prosa, dan puisi hingga aku tidak akan lemah untuk mengatur semua persiapan melanjutkan perjalanan masa depan bernama Rumah Tangga.

Sampai saat surat ini aku tulis, aku harap diriku tak lagi punya alasan untuk antipati membicarakan kata sakral itu. Barangkali, aku akan memasukkan diri dalam hal-hal sederhana untuk menggerakkan hati dan membuka mata menemukan makna yg sempurna. Kadang kita memang hanya perlu memastikan hal-hal istimewa dg cara sederhana, bukan? Termasuk memaknai kedalaman perasaan memaknai Rumah Tangga: di rumah dalam cinta, di tangga menuju surga.

Salam hangat,

1 Juli 2015

Kepada Kesempatan, Tentang Yang Hilang Dari Angan

Kesempatan, satu yang tidak pernah hilang dari kehidupan. Hidup hari ini adalah kehidupan yang penuh dengan pilihan, dimana kesempatan memilih hadir dibarengi kegelisahan dan kebingungan. Dulu, aku terbiasa memanfaatkan setiap detik, menit, dan jam untuk merumuskan masa depan, mencatat satu per satu kemungkinan hadirnya kesempatan dalam hidup. Tapi ternyata aku keliru, di antara sekian banyak rencana dan penggalan waktu yang megiringi justru ‘kehilangan’ yang menyibukkanku untuk mencari yang ‘hilang’. Berbagai pertanyaan muncul di kepala: Bagaimana kehidupan besok dan masa depan nanti?

Waktu yang sering dipertaruhkan untuk merangkai masa depan lewat kertas bertuliskan rencana rupanya sempat sekian lama menjauhkanku dari kehidupan yang semestinya. Kehidupan yang apa adanya. Tentang kesempatan yang sering aku tuliskan, membuat aku lupa bagaimana caranya jatuh dan menikmati penggalan waktu dalam hidup. Secepat mungkin aku harus berlari berebutan mengambil setiap kesempatan tapi lupa kehadiran orang-orang di sekitar. Setiap kehadiran dianggap sebagai penghalang dan pengganggu yang mencemaskan. Ada banyak kelelahan yang kemudian hadir menghantui setiap malam dalam tidurku. Bagaimana hari esok? Bagaimana aku mencapainya?

Sepanjang waktu kupandang, yang terlihat hanya kebisingan dan kebingungan. Ibarat sebuah rumah yang sangat disibukkan oleh berbagai banyak kesempatan yang harus digapai, pencapaian adalah tuntutan bagi terwujudnya kebahagiaan. Nyatanya aku melupakan satu hal, kehidupan bukan sebuah perlombaan survival untuk mengorbankan yang lain.

Rasanya terhina dengan tingkahku sendiri. Mengutuki kesalahan karena mengejar kesempatan tanpa peduli untuk merekonstruksi kehidupan yang ada di dalam diri. Sungguh, ketika kecewapun rasanya aku memang tak boleh membisu, angan-angan kembali datang membangkitkan pikiran untuk segera mencari jalan baru. Sebuah jalan yang akan membantu aku berdamai dengan kesempatan dan keinginan yang sempat hilang. Keinginan untuk tetap ‘hidup’ menjadi diri sendiri.

Maka kepada kesempatan, kusampaikan maaf telah menjadikanmu raja sampai aku lupa menyisihkan waktu dan energi menikmati angan yang sempat terabaikan. Kiranya tidak ada lagi yang harus kutunjukkan selain tanggung jawabku pada diriku sendiri.

Kepada Malam, Tentang Puisi Untuk Diriku

Suatu saat, malam mengajarkan aku memasuki gang demi gang kehidupan lewat sepi yang dihadirkannya. Di tepian waktu berteman sunyi aku temukan arti kata “hidup” sampai sesuatu itu bisa mengisi dan menempati sebuah ruang bernama hati. Malam, sunyi, dan sepi adalah satu konsep keruangan yang membuat otakku bekerja sesuai dengan kapasitasnya. Selama dalam ruangan itu, bahasa dan kata-kata datang berurutan terangkai satu sama lain. Berbaris indah membentuk sebuah kalimat, potongan makna, dan cerita. Tetapi berapa lama cerita itu dapat dibuat dan dipandangi kedalaman maknanya? Barangkali membutuhkan rentang waktu tertentu. Dan malam selalu cukup untuk menyediakan waktu yang dibutuhkan.

Pada malam, aku siagakan semua hal. Perihal buku-buku yang akan dibaca, beberapa lembar kertas, dan pensil yang tergeletak di meja. Demi menunggu malam berkawan denganku mengiringi apa yang ingin aku sampaikan dengan selembar tulisan. Sebuah kerinduan akan kehidupan menjadikan aku menghabiskan banyak waktu untuk menyepi seorang diri di tengah sunyi malam, detik-detik yang mengantarkan pikiran dan perasaan untuk membuka pintu-pintu yang terkunci selama ini.

Malam itu, aku melukis wajahmu, menuliskan puisi untukmu, dan sebait senyum yang kubentuk dari tinta berwarna biru. Aku susun pecahan-pecahan rindu, mengeratkan retakan-retakan masa lalu, kemudian berdiri di depan kaca, kubaca puisi untukmu agar bisa kusentuh hidupku dan hidupmu. Kesedihan seolah beku, aku berterimakasih kepada malam saat kusaksikan lagi diriku sendiri berbicara padaku, seperti menyatu karena tak ada lagi jarak bagi ketiadaan dan penerimaan. Tentang malam, selalu bisa kukecup kesunyian dengan manis puisi, menemui diri dengan kata-kata.

Kepada Ayah, Tentang Kenangan Masa Kecil yang Indah

FOTO 1
Foto di ambil di Pantai Malang-2014

Sore kemarin cerah, tanpa hujan dan angin. Hanya sedikit mendung yang membuat sore terasa tenang. Di sela lalu lalang orang menikmati liburan yang berlangsung, aku tenggelam di tumpukan buku-buku seperti biasanya. Mematung berjam-jam di balik kaca membebaskan pandangan pada segenap kesibukan jalanan. Ada taman yang dilingkari pagar dan angin dengan lembut meniup daun untuk segera digugurkan. Suara kendaraan meramaikan jalan menyisakan polusi di udara lalu hilang. Anak-anak menikmati kelembutan pasir yang sengaja ditumpahkan di arena bermain taman itu. Entah pesan apa yang ingin disampaikan keadaan sampai dingin mendadak menjalari seluruh tubuh.

Aku tidak menyimpan semua potongan kenangan dengan rapi, semua hal bercampur tak tertata di satu kotak yang lama berdebu. Tapi sore kemarin saat daun mulai meninggalkan tangkai seiring tawa lepas keluar dari mulut anak-anak yang bermain pasir, segenap hatiku mengingatkan ada beribu kata dan makna yang ingin dituangkan. Seperti anak kecil yang berusaha membangun menara dengan tumpukan pasir dari ember-ember kecil, aku menangkap kembali potongan memori yang terbang bersama tiupan pasir ke udara. Menyusun potongannya hingga jadi sebentuk gambar yang melukis lekuk-lekuk wajahmu.

Di sela-sela kehidupan normal yang berlangsung, ada kiriman kerinduan tentang masa-masa yang terlalu menyenangkan ketika ditulis. Ya, sapaan dari masa lalu.

Katamu aku sering larut mendengarkan dongeng sebelum tidur. Aku yang hanya diam di dekapmu menikmati alur cerita, membangun imajinasi atasnya, kemudian di bebaskan bertanya dan berharap tidak akan pernah selesai. Seolah daftar cerita yang masuk ke dalam ransel pikiranku menjadi lampu terang dalam perjalanan.

Katamu kita mesti punya lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama. Maka sering kuperhatikan kau siapkan dari saat-saat sebelumnya waktu untuk kita bersama di satu taman, di kedai makan, atau menjelajahi jalanan. Aku tak pernah hirau tentang kondisi awan pagi hari, sore yang hujan, atau tentang malam. Yang kuingat hanyalah kita pernah saling tatap melepaskan tawa, bermain-main dengan pewarna dari ujung jari, menggambar pola yang terputus pada sebuah titik baru yang kuingini, dan apa saja yang kutulis berantakan kau tetap tertawa. Satu dari kita yang sanggup tertawa dan ditertawakan di saat bersamaan cukup memberikan jawaban bahwa  “aku tidak sedang sendirian”.

Katamu kita selalu punya pilihan untuk melakukan banyak hal yang membahagiakan, tetapi kita memilih ‘paket paling sederhana’ yang bisa dilakukan banyak orang: bermain bersama, menghabiskan lebih banyak waktu bersama, bercerita bersama, makan bersama. Sebab yang kita butuhkan adalah keberadaan yang selalu ada untuk saling menguatkan dan menjaga kenangan agar selalu berwarna dan bahagia. Kau buat pahamku tentang bahagia sesederhana: keberadaan yang selalu ada.

Untuk kalimat terakhir yang telah selesai kubaca dari buku yang kupegang, aku mengambil pelajaran darinya. Mengingatkanku tentang jarak yang panjang dan waktu yang sudah tak sama tapi aku justru terselip di satu halaman kumpulan kenangan masa kecil yang indah. Seolah jarak dan waktu yang berbeda hanya sebatas rumah sebelah yang kapan saja bisa dibuka untuk disaksikan kembali. Tawamu saat itu masih sama, belum berubah dari saat terakhir di hadapanku, tapi ada cerita lebih panjang yang harus kuhadapi saat ini. Sementara aku tahu, memilih hidup di antara udara lepas yang bisa menggiring kenangan itu kembali kepadaku kapanpun dan dimanapun saat aku ingin mengingatnya adalah tabungan kebahagiaan yang kudapatkan dari masa lalu. Begitu pula tentang semua yang hadir setelahnya, aku berbahagia melembarkan cerita yang menghidupkan ini.

Malang, 15 Maret 2015; 13.22