Subuh

Ada yang menyembuhkan memar hatimu dengan lirih tilawah pagi, seperti yang pernah ust. Salim A. Fillah katakan. Aku sedang terus menggali kenangan subuh lebih dalam yang berulang kali bisa memenangkan kerinduan.

Membayar kerinduan pada subuh rasanya begitu mahal dan tak satupun manusia bisa membelinya. Semahal apa? Semahal menggantikan semua kebaikan hati orang-orang yang pernah ada di dalamnya.

Waktu itu dan sampai sekarang, tak ada yang melarangmu lari lebih pagi dari subuh jika ujung pelarian adalah kelegaan. Pun juga tak ada yang melarangmu tertawa lebih pagi daripada subuh jika itu mampu memberimu cinta.

Barangkali kau hanya harus pergi, sejauh mungkin lalu kembali, semampu yang bisa kau janjikan. Semoga Allah mengijinkan.

Senyuman yang Panjang

9 tahun yang lalu, seorang gadis kecil terbaring di sebuah kamar berukuran 4 x 6 meter. Di atas tubuhnya terbalut selimut tebal berwarna putih dengan motif bunga-bunga, selimut kesayangan yang selalu menemaninya. Waktu itu, berkali-kali selimut itu ia gunakan untuk mengusap-usap air matanya sendiri, sesekali sesenggukan sambil mengatakan ‘sakiit… ini sakit’. Perempuan paruh baya di sampingnya, tak kalah cepat mengusap-usap kepala gadis itu, seraya membisikkan doa-doa ditelinganya. Sesekali ia mengusap peluhnya, mencoba menguat-kuatkan gadis itu dengan menunjukkan kesabaran di hadapannya. Pukul 23.30, tak ada rasa sakit yang berkurang selain cengkraman yang lebih kuat pada selimut gadis itu sambil terus mencercacau kesakitan. Lalu entah angin apa yang kemudian membuatnya bisa tertidur sampai pagi hingga tak terdengar lagi suara sakit itu.

***

9 tahun sejak semua itu berlalu. Gadis itu menjelma seorang dewasa dengan senyum panjang yang selalu ditunjukkan.  Bertahun-tahun sejak kejadian itu, ia tetap berjalan selayaknya manusia lainnya: menghibur diri, membagi kisahnya, menyempurnakan hidupnya dengan menjadi kesempurnaan bagi sesamanya. Tapi ternyata, rasa sakit itu memang tidak pernah benar-benar hilang. Ternyata ada yang masih setia membersamainya. Sampai detik ini. Sakit itu masih sakit namun kehadirannya bukan untuk menyakiti, sepertinya. Bahkan di detik saat harapan-harapan untuk sembuh berulang kali muncul, sakit itu masih bisa menepuk pundak semoga di kuatkan.

Gadis itu masih sama berjuang melawan sakitnya, melawan rasa malas untuk berikhtiar. Semua sedang sama-sama berjuang mempertahankan siapa yang lebih kuat. Dengan begitu mungkin akan terlihat siapa yang lebih pantas dimenangkan. Berjuang, belakangan menjadi kata yang kembali terasa sangat sakral untuk sebuah kesembuhan. Ada yang perjuangannya sudah selesai tapi banyak juga yang masih diberikan kesempatan terus berjuang.

Ada orang-orang yang dicukupkan perjuangannya pada titik kematian. Ada orang-orang yang dicukupkan perjuangannya pada titik kesembuhan. Tidak ada yang bisa menolak keduanya, selain sebuah senyuman yang panjang. Entah itu untuk menyambut sang pencipta dengan penuh kebahagian atau menyambut kesempatan masih diberikan waktu berbagi kebaikan dengan sesama. Siapa bisa menolak dua kebahagiaan itu?

Barangkali benar kata sahabat saya, bahwa kesembuhan bukan terletak pada metode dan obatnya tapi pada ridhoNya. Jadi seberapa ingin gadis itu disambut harapannya oleh Allah? Dengan cara seperti apa ia inginkan? Waallahualam.

Bismillah saja, semoga ikhtiarnya untuk sembuh berbalas pahala dan ridhoNya. Berprasangka baik saja, semoga setiap tetes air mata dan perihnya rasa sakit cukup untuk menebus banyak dosa yang ada padanya. Bismillah… bismillah… Semoga hadiah terbaik selalu hadir di sisinya. Mari tersenyum saja, sambil terus mendzikirkan kebaikan dalam berbagai ikhtiar.

Now, Im really miss my mother…

Malang, 30 Agustus 2016

Dear Mami #18 Surat Kesekian

Malang, 4 Agustus 2016; 14.37

Dear Ami, kesayanganku…

Mi, hari-hari ini adalah detik dimana segalanya terasa biasa saja. Saat dimana rindu terasa hambar, waktu yang hanya terisi melodi sendu yang menggurat perih rindu. Pada gersang hari-hariku, kusaksikan kebencian berlarian, kesedihanku beku. Aku kedinginan sendiri oleh kangen dan kenangan yang pernah meledak indah.

Aku tak ingin pergi. Meja nasib telah mengantarku padamu. Kali ini ijinkan aku untuk membersihkan debu-debu di dalam ruang hatiku, di ruang yang nanti dan sejak awal kau singgahi. Biar kulihat kesucian utuh dan keraguanku luluh. Mi, dirimu adalah doa yang tak pernah salah aku ucapkan. Maka setelah pertemuan, aku tetap memintamu tinggal di ruang yang sudah kusediakan. Tenanglah, aku adalah doa yang tak pernah menyerah hingga membuat Tuhan berhasil memberimu sebagai hadiah padaku.

Aku sedang membersihkan ruanganmu di hatiku, agar kau bisa lekas pulang, dengan sehat tanpa harus sakit oleh debu-debu yang mengganggu.

Aku yang akan menggandengmu pulang lagi, ke rumahmu, hatiku, aku. Dengan segala hormat, aku bermohon restu untuk memintamu tinggal. Di hatiku-hidupku.

Love,

Me

Menyepakati Takdir

Jalanan pagi yang macet, kantor yang ricuh, atau kamar yang berantakan adalah rejeki.

Menyaksikan wajah-wajah penuh kekhawatiran, terik panas yang mengundang emosi, atau celoteh penuh provokasi adalah rejeki.

Ruang sesak angkutan umum, kesepian yang merayapi pengendara mobil yang sendirian, atau kepayahan tukang becak di pojok jalanan adalah rejeki.

Bagaimana bisa?

Semua hanya tergantung dari cara kita memandang. Ini hanya soal sabar tak bertepi, syukur yang dititipkan Allah pada secuil ujian. Dengan segala yakin Allah akan selalu membersamai. Menghindar dari tangis jelas tak mungkin karena aku hanya manusia yang tak jauh dari kecewa. Merangkak, jalan, dan jatuh adalah kekuatan yang membawa kita terus lari. Diri ini hanya perlu penegasan akan satu hal: berdiri di segala posisi ini adalah takdir. Tugasku hanya realistis untuk terus berbuat baik, menjaga hati, menghormati keikhlasan, dan menyepakati takdir.

Dear Mami #17 Bagaimana Jika Aku Tak Menulis?

Bagaimana jika seandainya aku tak bisa menulis lagi? Apa aku masih bisa menyaksikan senyummu seperti yang biasa kau lakukan saat membaca puisiku?

Bagaimana jika seandainya aku tak bisa menulis lagi? Dimana lagi aku bisa menemukan tangis haru campur bahagia menggenang di kelopak matamu?

Bagaimana jika seandainya aku tak bisa menulis lagi? Kapan aku bisa menggandengmu berdua saja pergi ke tempat yang belum pernah kau singgahi untuk sekedar memberi surat-surat yang aku tulis?

Bagaimana jika seandainya aku tak bisa menulis lagi? Masihkah berlaku pelukanmu yang menenangkan setelah badanku terguncang oleh tangis sesenggukan saat mampuku hanya menuliskan surat karena tak sanggup menyampaikan kesedihan?

Dan bagaimana jika seandainya aku benar-benar tak bisa menulis lagi? Kekuatan macam apa yang bisa kugunakan untuk mengatakan rasa sayangku padamu, Mi? atau Kesedihan macam apa yang akan aku simpan diam-diam karena aku tak punya lagi cara untuk menyampaikan?

Mi, adakah di antara sisa waktu yang kau miliki untuk berpikir “bagaimana jika aku, anakmu, tak lagi bisa menulis?”, Bagaimana perasaanmu?

Bisakah kali ini kau baca ini dengan rasa cemas sekaligus syukur?. Cemas karena mendapati pikiranmu menemukan jawaban dengan kemungkinan terburuk tapi sekaligus juga bersyukur bahwa ternyata sampai detik ini aku masih tetap menulis. Tentunya salah satu alasannya adalah karenamu. Meski sampai detik ini kau tahu aku belum sampai memberanikan diri untuk menyerahkan naskah ke penerbit -lagi. Untungnya, sampai detik ini aku masih berkomitmen terhadap pilihanku untuk terus menulis walau ada hati yang rela teriris menyaksikan gerakku hanya ini-itu saja. Aku selalu berdoa semoga diberikan kesempatan untuk terus di sampingmu, melakukan hal yang sama, menemukan gairah dan semangat yang kita tahu tujuannya: Menulis. Menumpuk sejuta kenangan dengan kata, membangun peradaban dengan cinta.

ps. Ditulis karena ngiri sama Mami yang lebih sering nulis dan nerbitin buku walaupun karena kepepet. Really make me envy!

Malang, 8 Agustus 2016

Membalas Puisimu

Berkali-kali sudah kudapati bahwa rasa begitu menikamku

Memendam ini sangat menyakitkan untukku

Melihatmu, aku mampu tersenyum

disaat bersamaan aku mampu untuk terbaring, hening, diam

Luka ini begitu dalam hingga pasirpun tak dapat berkata apapun

hingga tangan tak mampu bergerak

lupa aku apa itu artinya cinta

(dibaca oleh Reza Rahardian dalam Ketika Tuhan Jatuh Cinta)

—Maka ini adalah balasan puisiku…

 

Kubilang cinta memang tak salah

Takut hanyalah kecemasan tak beralasan

Disini, rasa itu menyakiti

Tapi bagaimanapun ruang tunggu hati

Harus segera berganti penghuni

Teringat puisi-puisimu lari kesana kemari,

di hati, di kamar, di jalanan

di keping-keping harapan yang masih tersisa

Dan lari, kau tahu soal lari?

Lari adalah kata kerja untuk pergi

hingga membuatmu tak punya arti lagi

Dan aku, belum bisa memilih takdir seperti apa yang harus dijalani

Pilihanku hanya menenangkan rindu yang menggebu

Mengalahkan segala hal yang aku takutkan

Meninggalkanmu

Terapi Menulis

Sekali lagi pikiran memintaku mengistirahatkan puisi-puisiku. Empat hari ini aku sedang menekuni terapi menulis. Tentu saja bukan menulis bait-bait puisi pun bukan satu hal yang sulit tapi juga tak bisa dibilang mudah. Bagaimana aku harus menyebut terapi ini? Sebut saja “cara untuk mewaraskan diri”. Aneh? Bisa jadi.

Beginilah.

Di setiap lembar yang akan digunakan untuk terapi, aku menuliskan ’30 Hal yang Aku Kagumi’, bisa hal-hal yang aku kagumi dari diriku sendiri atau dari orang lain, tergantung siapa subjek yang ingin aku tulis. Pada lembar itu aku juga menuliskan harapan yang aku inginkan ada pada subjek yang aku tulis. Hal itu bisa membantu menstimulasi pikiran untuk tetap sehat dan berperasaan positif sepanjang hari. Namun seperti terapi-terapi lain yang butuh konsistensi untuk mencapai hasil yang maksimal, maka terapi inipun demikian.

Kemudian pertanyaannya:

Sampai kapan aku bisa bertahan dengan rutinitas ini?

 

Malang, 7 Agustus 2016

Kekosongan yang Gerah

Keberanian kita masih sebatas kebohongan. Kejujuran seperti jauh ditelan semua pembenaran. Waktu berlalu dan sedikit saja menyisakan senyum oleh segala sangka yang menggoyahkan doa-doa. Tapi di sana, lambaian kebaikannya sedikit banyak menutupi setiap pertentangan dua sisi hati. Petualanganpun dimulai.

Kamu tahu, satu-satunya ketakutanku adalah kejujuran. Iya. Menyerupai matahari, ia bisa saja menerangi seisi bumi tapi juga tak jarang menyimpan panas yang menyengat bagi beberapa manusia. Lalu seberapa hebat sebuah kejujuran? Barangkali ia begitu hebat hingga harus ditutupi oleh berlapis-lapis kebohongan. Mungkin.

Sejenak aku berhenti, dari tempatku memainkan 10 jari untuk menulis. Perlahan aku menyandarkan kepala di kursi sambil memejamkan mata, memikirkan gerak taktis memencet tombol delete di kepala yang dihuni prasangka kemudian menghela napas panjang.

Aku melihat beberapa kesadaran-kesadaran menarik muncul. Di tengah kebun bernama prasangka yang mulai berantakan itu, ada bunga-bunga kesabaran yang mulai bersemi, benih-benih penerimaan kemudian menyusul, diiringi segala bentuk semangat untuk mengembalikan keharuman perasaan menyayangi. Hingga pada akhirnya nanti bisa kubayangkan semua kebaikan menjadi satu energi yang lebih kuat untuk menjawab kegelisahan. Semua itu mendadak membentuk elegi yang sangat cantik dan menghiasi beranda hati. Seketika aku tersenyum penuh keheranan.

Pikiranku melayang jauh untuk memikirkan betapa konyolnya peristiwa yang ada di hadapanku. Bahwa hal-hal yang… ah menyedihkan itu hanyalah remah-remah kecil yang sebenarnya tak ada apa-apanya dibandingkan berbagai tarian kebahagiaan yang selama ini membersamai.

Perkara-perkara kecil yang menyulut datangnya segala prasangka itu hanyalah taburan kecil di kebun hati. Ia mengisi kekosongan yang gerah sebab di kebun itu sudah lama tak ada yang menyiramkan air, tanahnya tertutupi dahan-dahan pohon yang menghalangi sinar matahari. Kebun itu terlalu gerah dan menyadari betapa inginnya kekosongan itu diisi oleh kebahagiaan adalah kewajiban pemiliknya.

Di suatu waktu yang berbeda, seorang bidadari kecil sedang mengumpulkan pijakan untuk menyirami kebun itu dengan sedikit hal yang ia miliki: ketulusan, harapan dan benih-benih kebaikan.

Jadi siapkan dirimu untuk mengatakan selamat tinggal pada kekosongan yang gerah.

Dan semoga petualangan ini berakhir dengan indah.

Malang, 07 Agustus 2016

Sekali Lagi tentang Perpisahan

Its time to say goodbye to you.

Dan jauh. Takut. Cemas. Pun gelisah. Pun waktu telah cukup mengikis senyumku, membawamu terlempar jauh ke belakang. Irama waktu sedang memintaku untuk menangis di pojokan, menimbang-nimbang segala keputusan.

Tentangmu, tak akan ada lagi puisi-puisimu. Tak akan ada lagi waktu-waktuku di pikiranmu. Tak se-kata-pun kutulis lagi untukmu, tentangmu. Tak ada. Aku tak lagi milik waktu dan rindumu.

Sebab, kecewaku melebihi milikmu. Sebab kini darimu kusimpan ragu atas segala sangka. Dan karenamu, akan kutelaah segenap perasaan ini, lagi.

Baiarkan waktu memisahkan kebaikanku dengan bebas, tanpamu.