Dear Mami #9 Menangis

Kadang ketika terdesak keadaan tidak berdaya, kita hanya butuh merasa lebih baik, kan? Dan itu meski harus dibumbui oleh tangisan, akan membuat kita merasa lebih kuat melewatinya.

***

Pagi tadi, aku menyapamu sekedarnya. Senyum yang canggung sambil melipat mukena tak begitu rapi, lalu aku tidur lagi. Aku tidak tidur sebenarnya tapi kali ini diam terasa lebih kuat dari kecewa dan marah sehingga aku harus menahannya demi melihatmu benar-benar bisa menerima.

Kesalahan, adalah hal wajar yang dilakukan setiap manusia. Aku pernah berulang kali salah di hadapanmu dan berulang kali pula memancing tangismu. Satu peristiwa dua pekan belakangan ini memang benar-benar menyita senyum kita. Aku pun tidak menyangka akan melihat kita saling beradu tangis karena persoalan ini.

“Aku nggak mau ada orang lain yang tahu soal ini.” Katamu tegas di depanku

“Iya… aku paham.” Ucapku

Sampai hari ini, persoalan itu masih menjadi topik yang membuat kita sering menangis hingga kelelahan dan mata sembab. Lalu bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan ini? Pikirku setiap hari. Aku tahu tak ada yang lebih bisa menyelesaikan persoalan selain menata hati kita masing-masing. Tapi bagimu menangis adalah semacam jembatan yang menghubungkan pemahaman meski selalu sulit diartikan. Dan diam-diam membuat kita merasa lebih baik padahal tak menyelesaikan persoalan apapun.

Katamu, aku adalah satu-satunya orang yang membuatmu bisa menangis lagi setelah sekian tahun tidak menangis. Aku, katamu.

Atau

Mi sedang merindukan meangis di depan orang yang bisa dipercaya?

Kita menjejalkan berbagai persoalan ke hati kita yang membuat mata kita berbinar. Saling mengisi dan membuka kesesakan hidup kita masing-masing.

“Aku masih di sampingmu, Mi”, mengingat setiap detik perjalanan kita, “sudah jangan menangis lagi… I’m okay.”

Advertisements

Dear Mami #8 Surat-Surat yang Tak Tahu Diri

Apakah kau sudah menerima suratku, Mi? Kegelisahan yang menerbangkan suratku untuk memintamu tinggal. Urat leherku tercekat oleh ketidakmampuan mengatakan banyak hal padamu. Setiap senyum dan tatapan mataku menggulung bahasa yang hendak kusampaikan yang tak dipahami oleh suara dan air mata.

Hari-hari ini kita tak saling mengerti kenapa lebih sering menjumpai air mata. Kau yang uring-uringan sepanjang hari dan hampir seminggu saat aku tidak disana. Aku yang hilang arah tanpa hadirmu disisiku –walau hanya sehari. Aku kini seperti punya agenda rutin untuk memprioritaskanmu sebagai titik penantianku, dan kau Mi, seolah punya tanggung jawab dan keberpihakan atas diriku. Kita banyak menipu waktu untuk menyuapi hati kita masing-masing, bertanya-tanya tentang hari ke depan, kemudian gelisah menenangkan satu sama lain agar tidak menyalahkan apapun yang sudah pernah dan selalu kita lakukan.

Pantasnya, kita sebut apa ini? Sayang? Posesif, katamu!

Tapi ada definisi lain yang lebih tepat baru saja aku temukan: Ketulusan yang membaur dalam cinta dan kegilaan.

Aku menulis karena darimana lagi bisa kau baca tentangku, Mi. Bukankah kita akan selalu membuka tabir keingintahuan kita dalam berbagai alasan dan bentuk yang berujung pembelaan. Seperti kau yang selalu menjaga kepolosanku untuk menerima orang lain dengan mudah. Berbekal segudang alasan yang masih sulit untuk dikatakan masuk akal, aku menerimanya. Bertahan di tengah malam yang dingin, di ujung jalan sepi itu aku melihatmu membaca suratku.

Aku tak ingin kau kesulitan menemukanku, Mi. Aku bukan soal matematika yang harus diselesaikan dengan rumus-rumus penghitungan melelahkan. Aku tak pandai soal itu, sama sekali tidak. Jadi kemungkinan untuk menghitung pembagian soal cinta kepada siapa dan berapa besarnya sungguh sangat mustahil. Dalam salah satu puisinya, Adimas Immanuel pernah menulis, “Aku membiarkan cintaku lebih besar darimu atau sedikit lebih kecil darimu agar kau merasa mengungguliku.”, begitulah aku dan surat-suratku.

Aku yang gelisah sampai tak tahu diri. Terus saja menulis untukmu dan bertanya-tanya akan kau maknai apa semua yang aku tulis. Bertahun-tahun aku menulis dan kau satu-satunya orang yang membuatku betah berlama-lama menghabiskan lembaran kertas untuk kuselipkan di beberapa tangkai mawar yang aku rangkai kemudian mengirimkannya padamu.

Aku tidak memintamu membalas suratku karena mungkin aku yang tak tahu diri menyimpan rasa takut kehilanganmu. Aku hanya mempersiapkan segala bentuk cinta dalam bahasa. Meski saat kutulis surat-surat itu lebih banyak menyita seluruh hari-hariku untuk memikirkanmu sebagai ruang bermain dan sandaran lelahku.

Aku menulisnya. Merelakanmu membaca walau berlinang air mata. Karena kau tahu, Mi aku lebih takut kehabisan waktu memaafkan semua rasa bersalahku karena lupa meyakinkanmu bahwa aku ada bersamamu.

Suatu hari, akan ada saat dimana kau terbangun pada dini hari, tak ada aku disampingmu melainkan hanya surat-suratku yang terus saja tak tahu diri memintamu membaca. Gelisah karena rindu dan mencurimu dari sepi. Membuatmu merasakan hadirku dalam kepemilikan yang lain.

Kepada Kamu yang Jiwa, Tentang Aku yang Raga

Dear Kamu yang aku sayangi. Terimakasih ya karena sudah mampu dan mau bertahan sekaligus berdiri di titik terjauh sepanjang hidupmu ini. Aku tahu ini tidak pernah mudah tapi prosesmu jauh lebih hebat dari apa yang pernah aku pikir dan harapkan terhadap kita. Lihatlah, aku bangga melihat kamu bisa seperti ini, dengan cinta yang selalu dijaga, dan rasa yang luar biasa hebat. Cinta dan kasih yang kamu miliki, akan memancarkan kebaikan dari setiap sisi terbaik yang kamu miliki. Aku tahu, hidup tak selalu mekar dan bersinar. Mawar pun pernah menjadi kuncup, matahari pernah tenggelam digantikan malam, pun dengan dirimu yang jiwa dan aku yang raga. Tapi dari cahaya kecilmu yang sinarnya sedang tampak terputus-putus adalah kesempatan yang bisa aku gunakan untuk menyambungkannya menjadi lebih panjang dan terang. Aku yang raga akan berjuang sekuat tenaga jatuh bangun membuat kolaborasi yang indah milik kita. Kita akan bersama-sama mengalahkan ego tanpa perlu pura-pura kuat tapi akan saling menguatkan.

Selamat untuk Aku, karena dengan Kamu kita bisa berpeluk yakin untuk berdiri dan mempercayai diri sendiri bahwa kita mampu. Terimakasih Kamu, karena kesediaanmu menerima Aku yang apa adanya. Terimakasih karena bisa tetap tersenyum kokoh walau terkoyak badai maha dahsyat yang sedang kamu nikmati.

Kamu yang jiwa dan aku yang raga, berjanjilah untuk tidak melampaui apapun yang kita inginkan. Berjanjilah untuk selalu berjalan beriringan seirama dengan tarian indah yang sedang Allah persembahkan. Kita ini hebat, ingatlah kamu yang jiwa dan aku yang raga. Dan apalagi yang akan kita lakukan selain menciptakan kolaborasi yang sempurna? Baiklah, kita akan saling membantu. Percayalah bahwa setiap yang menimpa itu menempa, katamu. Nah sekarang lihatlah, semua yang ada dan sedang kita lakukan adalah sebuah investasi di masa depan. Sekecil apapun gerakanku dan doamu akan membawa manfaat. Aku mempercayai semua yang terbaik milik kita sebagai sebuah anugrah dari Allah. Semua indah. Dari sekian banyak tantangan –jika kita tidak ingin menyebutnya sebagai masalah– adalah perintah untuk belajar. Ia, Allah ada dan caraNya memelukmu yang jiwa sungguh anggun. Lalu Allah datang pada aku yang raga menggandeng perlahan. Dan Ia datang pada kita menawarkan genggamannya dan selalu mencoba mengerti.

Seperti semua hal yang terjadi sebelum ini, sekarang bergeraklah dengan bebas!

Malang, 26 April 2016

Aku yang Lari

Dan aku hanya butuh lari. Bergerak sebebas-bebasnya ke kanan maupun ke kiri, dalam jangkauan yang tidak lagi terdefinisi. Kemudian saat nanti ganti hari, akan kuulangi lagi satu hal yang sama: lari.

Setelah jatuh maka lari adalah ruang untuk tumbuh, melepaskan kemelekatan yang ada yaitu keluh dan segala peluh juga tangis yang beberapa kali menghampiri. Tangan-tangan Tuhan akan bekerja dengan caranya sendiri, membuka mata kita satu per satu. Kita lihat kemudian sepanjang jalan ketika lari, butiran-butiran hikmah melingkupi taman hati. Menjadikan segala yang layu mekar kembali.

Saat kutulis ini, damaiku telah merayapi kalbu, menyinari lagi hati yang sempat dikoyak sepi dan sendiri. Sebagai manusia yang punya hati, masa depan, pun kekuatan yang tak tertandingi di balik lemahmu tak seharusnya melupakan cinta yang nyata dari Tuhan dan orang yang dikenal. Aku ini, hidup di antara orang-orang yang penuh cinta bahkan sebagian mendamba untuk dicinta. Tapi di hidupku tak ada kata mengemis cinta, meminta, atau apapun bentuk penghambaan yang bisa di definisikan, semua hadir tanpa disangka sebab segalanya telah terencana sempurna dalam genggaman tangan Tuhan

Tak perlu ditanya lagi apa, siapa, dan bagaimana semua yang akan terjadi nanti. Semua hanya perlu kita tahu: satu-satunya yang tersisa adalah diri sendiri.

AKUMULASI

Tulisan ini mungkin adalah akumulasi dari perasaanku akhir-akhir ini. Tipikal tulisan yang membuatku isin dan ewww dewe di masa depan. Tapi, kurasa aku perlu menyelamatkan diriku sendiri dari ketidakwarasan yang berkelanjutkan. So, I write. Bismillah. Aku sedang berproses dalam sebuah mahakarya mahasiswa, skrispi. Topik yang kukerjakan, cukup membuatku penasaran dengan hasilnya. Ditambah di bimbingan terakhir, … Continue reading Akumulasi

via Akumulasi — Pohon Gula

Dear Mami #7 Sebuah Kritikan

Menulis. Aku mudah melakukannya, semudah menuangkan air ke gelas untuk diminum. Aku bisa menuliskan seribu surat cinta dalam bahasa yang berbeda untuk siapa saja, yang sedetiknya bisa kuteteskan segenap kehangatan sebagai penutup cerita.

Sore tadi, kau meminta beberapa orang juga aku untuk menulis tentangmu, semacam kritikan, berawal dari keinginanmu untuk menilai diri sendiri kemudian memperbaikinya dan bisa jadi menata ulang banyak hal dihidupmu. Bagi sebagian orang, menyuruh orang lain menuliskan tentang kita dipercayai sebagai bentuk koreksi yang paling baik. Bagiku, itu juga sebagai bentuk doa orang lain agar kita lebih baik.

Percayalah tidak ada yang salah dari kesemua itu, tapi maafkan aku, tanganku tak pernah cukup mampu mengkoreksimu, menuliskan banyak salahmu. Pun demikian jika kau minta aku menegurmu, berat rasanya, bagai mulut yang terlalu rapat dikunci yang entah bagaimana harus kubuka. Aku tak tahu. Sekalipun kau paksa aku mengkoreksi letak sudut bayanganmu yang tidak proporsional, aku merasa tak berhak. Mengapa? Kupikir detik2 ini Tuhan sedang menakdirkanku belajar dari banyak hal yang kau kerjakan, sekalipun itu kesalahan. Aku pikir tak ada salahnya menyimpan semua sesal dan sedihku juga kecewaku tentangmu dan apa saja yang kau lakukan dalam doa dan maaf. Aku pikir, dibeberapa kesempatan kau katakan banyak hal yang mungkin tanpa kita sadari dan kita sengaja itu pernah membuatku lemah dan serasa tak berguna apa apa, bisa kuterima dengan legawa sebagai sebuah keniscayaan bahwa aku memang perlu belajar banyak, tentang yang kuyakini bahwa setiap yang menimpa itu menempa.

Aku selalu sanggup menerima se-apa ada nya dirimu. Aku bisa. Bahwa jika ketidakmampuanku menuliskan kekuranganmu atau terlalu terbata bata untuk menyampaikan kecewaku itu menyalahi aturan Tuhan tentang keadilan dan kebenaran yang harus disampaikan, biarlah itu menjadi urusanku sendiri dengan Tuhan untuk tidak mengusik kebaikan dan keburukanmu yang apa adanya itu. Jadi bolehkan kutitipkan saja semua koreksiku dalam doa? Itu satu2nya cara terakhir yang paling ampuh milikku untuk mengampuni salahmu, kecewaku atasmu, pun meluruhkan semua benci bercampur nelangsa atas ketidakmampuanku menegurmu. Maafkan aku.

Kini ketahuilah, akulah orang pertama yang meluruhkan fase-fase yang kita jalani dalam doa. Cukupkah penjelasanku?

Dear Mami #6 Mereka yang Pernah Melukaimu

Your arms were always open when I needed a hug. Your hearth understood when I needed a friend. your gentle eyes were stern when I needed a lesson. Your strenght and love has guided me and gave me wings to fly -Anonim

 

Siapapun akan heran melihat cangkir-cangkir pikiran kita dipenuhi berbagai macam rasa dari setiap perjalanan. Cerita tentang buku-buku, es teh panas, oseng pepaya pedas, dan kopi-kopi hitam. Kukira otakku sedang tak waras saat bersamamu, bagaimana bisa aku belepotan dan sering terbalik mengucapkan banyak kata yang kupikir akan bisa kusampaikan dengan lancar padamu. Baik, lupakan saja itu sebab aku bisa meluapkannya dalam tulisan, setidaknya itu bisa memenuhi tumpukan kertas di atas meja kerjaku, membacanya ulang sambil tersenyum sendirian kemudian membenahi yang kurang. Mengerjakan banyak hal tentangmu selalu menarik untuk kuselesaikan.

Bersama gemerisik tarian suka dan duka, aku ingin menuliskan satu hal untukmu, ah mungkin ini pernah kau duga-duga, pernah kukatakan, tapi mungkin saja tak terlalu kau hiraukan, Mi. Begini Mi, akan kubuat satu pernyataan disini, untukmu, tentu saja kau harus percaya ini: Kekuatan macam apa yang bisa menggerakkan tanganku lebih lancar membahasakanmu dari segala sisi yang aku pernah lihat, kau bilang ini hanya imajinasi? tapi tidakkah kau percaya Mi, bahwa detik bersamamu adalah Imajinasi yang kukagumi?. Aku membiarkanmu menyebut apa saja yang pernah aku katakan dengan istilah apapun tapi tak akan ada satu istilah pun yang bisa sempurna mendefinisikan hadirku dalam hidupmu.

Kau lihat debu-debu itu Mi, di sekeliling kita, terhempas angin, terbawa waktu, terlena, lalu singgah lagi. Sejenak. Hanya Sejenak… Ya itu kita, dua jalan berbeda dari Tuhan yang tak bisa mengekalkan perjumpaan. Kita hanya sejenak jeda yang dipersilahkan Tuhan untuk mengambil cerita. Ingatanpun sering mengaburkan kecupan demi kecupan. Anehnya, tak satupun dari semua yang menyakitkan mampu kita lupa. Suatu saat rambut kita akan memutih dan ketidakpastian akan kedewasaan semakin mengaburkan pandangan kita akan masa depan, dan sebelum jarak menjauh dari tubuh, aku tak ingin Mi kedinginan oleh ucapan nyinyir mereka. Demi pergi yang lebih singkat dari sesaat, demi… Demikianlah… Kusampaikan maafku jika Mi pernah terluka oleh orang-orang karenaku. Karena jika bukan karena aku, siapa lagi yang siap memulangkan kepergian separuh sakit hatimu? Jika bukan aku, siapa yang sanggup mengemasi dirimu dari prasangka dan terka-terka mereka? Dan maka maafkanlah mereka yang pernah sempat membuatmu terluka karenaku.

Aku yang mengatakan, aku yang meminta meski sering sedikit gugup menghadapimu, gagap membaca makna dimatamu. Aku tak tahu persis bagaimana membunyikan sekaligus menyembunyikanmu. Kan, aku tak pernah punya dasar apapun untuk menjadi sebuah awal baru dalam hidupmu. Maka maafkanlah aku Mi, jika mereka pernah melukaimu karenaku.

Mereka hanya tak tahu betapa sering kita nikmati cangkir teh berteman canda untuk mengusir lara satu sama lain, menguatkan hati yang sedang patah pun jatuh. Aku disini, menjagamu dalam kepasrahan, bertanggung jawab atas luka yang pernah orang lain lakukan padamu karenaku, maafkanlah aku, maafkan mereka.

Your Love,

Me 

Tentang Beasiswa

Apapun hasilnya hari ini baiknya disyukuri karena sudah mampu lolos tahap 1 ini. Sebenarnya, poinnya bukan di lolos atau tidak seleksinya. Lolos itu memang penting dan menjadi target ketika kita melamar beasiswa atau mungkin kompetisi apapun, tapi bagi saya, yg lebih greget adalah ketika kita memiliki semangat dan kemauan untuk berani mempersiapkan diri, mengumpulkan berkas-berkas, bernegosiasi dg birokrasi yg ada bahkan sampai di titik melawan kemalasan, bangun pagi buta mengisi form, datang pagi-pagi menunggu staf kemahasiswaan yg mengurus surat pengantar, apapun itu. Saya butuh banyak waktu dan persiapan, butuh belajar dan berpikir bagaimana membuat motivation letter, application letter, berpikir apa sebenarnya yg menjadi motivasi, bagaimana dampaknya terhadap saya nantinya, dan yg lebih saya latih adalah soal menata hati apapun hasilnya nanti, melatih untuk ikhlas dan menyerahkan segala urusannya pada Allah. Di pendaftaran beasiswa lain, tentunya dr negara yg berbeda, betapa terkejutnya saya ketika ternyata hampir 50% isi form belum saya kuasai, dan itu menggelitik saya untuk belajar dan belajar lagi. Saya mulai menyadari bahwa mimpi tanpa persiapan tak akan pernah terjadi. Dan ternyata persiapan saya masih sangat kurang. Ini adalah awal. Bagi saya, itu semua adl hal yg baru jadi saya harus belajar. Dan itu poin menariknya: belajar hal baru. Dan kita tahu, tidak semua orang bisa menikmati itu bahwa suatu saat nanti di luar sana meraih pendidikan dan suasana belajar akan lebih keras daripada ini dna butuh kerja lebih cerdas. Detik-detik ini adalah detik-detik dimana saya sedang berpikir untuk mempersiapkan semuanya, memikirkan kehidupan setelah ini, berpikir tentang kebermanfaatan saya, bahkan kehidupan setelah mati. Kali ini, rasanya saya benar-benar mengakui dan memaknai kata-kata Descartes, seorang filsuf yg kalimatnya ini pernah saya baca di sebuah buku cerita tepat sebulan sebelum dosen filsafat saya mengatakan di depan kelas, kalimat itu adalah “aku berpikir maka aku ada”

Pagi yang Lain

Ada yang mengaduh sedihnya pada keramaian. Pada udara  yang dinginnya melebihi percakapan malam hari dari seorang yang membeku hatinya. Tak ada yang bisa menerjemahkan sepinya yang sekian lama menjalar berputar mengelilingi kepala. Mengapa kali ini ia tak pandai membaca duka? Mengapa kali ini sabarnya seolah lari diteriaki sepi? Mengapa…

Mengapa untuk pertama kalinya ia kehilangan keyakinan tentang penerimaan dan hakikat kesabaran. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 7 tahun ini, ia terpatahkan oleh bahagia yang menjemukan. Ia-kah kini yang baru menyadari semuanya terasa menjemukan, ia yang kehilangan arah, yang tak pedulikan lagi daun gugur sedang mengatakan apa. Di seberang sana tak lagi didengarnya jalanan sebagai nada awal bagi segala pikirnya, ia benar-benar menikmati kebisingan sebagai sebuah kebisingan yang harus dikalahkan. Tak ada cerita kali ini ia berdamai dengan keadaan.

Sepotong roti, susu coklat tanpa gula, lampu remang-remang seperti masih terlalu pagi untuk ditemui, sebab pagi ini ia bangun dengan segala dingin. Dan matahari sempat menggantikan perannya memberikan kehangatan. Pagi ini, pagi menawarkan ketentraman lain, kenyataan lain dan persoalan lain.

Berbeda

 

Dear Mami #5 Apa Aku Layak Berjuang?

Sudah beberapa hari ini ya mi aku tidak menuliskan sesuatu untukmu? Meskipun aku juga tidak tahu akan sampai kapan menuliskan serial ini, waktu yang mengantarku menelusuri kedalaman hatimu dan selalu ingin kukenang. Kata Raditya Dika, “Dan apa yang harus kita lakukan pada kenangan yang memaksa untuk terus diingat?” selain menuliskannya dan membekukan waktu di selembar foto rasanya tak ada lagi pilihan yang lain. Beruntungnya, kedua hal itu adalah sesuatu yang sangat aku kagumi untuk dilakukan, meskipun dengan cara yang sangat sederhana.

Aku tak tahu Mi, kenapa bisa seberjuang ini dihadapanmu. Tapi sepertinya kata itu terlalu suci untuk kuucapkan sebagai pengakuan di depanmu atas apa yang sudah pernah aku lakukan untukmu. Tidakkah itu berlebihan menurutmu, Mi? Seharusnya aku paham bahwa kata itu belum pantas bagiku selama menghadapi tantangan klasik soal hidup yang dirasakan setiap orang. Aku tidak tahu.

Yang jelas ingin kutanyakan adalah, apakah aku sudah terlalu banyak menyakitimu? Jika itu bisa dijadikan ukuran tentang perjuanganku untukmu, aku gagal sepertinya, bahkan di saat pertama aku menyebutkan pertanyaan itu, aku sudah tahu jawabannya. Mengapa? Sebab seringkali aku menemukanmu bersimpuh sedih karena ulahku, selain itu aku tak pandai memahamimu bahkan untuk sekedar mengartikan cemasmu sebagai bentuk sayang yang bagiku berlebihan itu.

Tapi aku tak ingin membentuk bahagia-bahagia palsu di depanmu? Aku tak ingin kau pandang sederhana, Mi. Bukan aku namanya jika tak sanggup mengembangkan lagi senyummu  yang tersembunyi malu-malu dan matamu yang merah karena marah karenaku. Aku ingin Mi tahu bahwa akulah orang yang akan selalu menyadari bahwa dirimu adalah hal terbaik yang pernah terjadi di kehidupanku, yang memelukku untuk menjadi diriku sendiri dan mendorongku untuk selalu menjadi yang lebih baik pun lebih peduli. Dan aku bahagia, Mi bisa melihat keanehanku sebagai sesuatu luar biasa yang belum pernah ditemui.

Meskipun selalu berakhir dengan pertanyaan “Apa aku layak mengenalmu?”, aku tak pernah sanggup berjarak darimu, Mi.

Your Love,

Me