Meletakkan Impian

Bukan… bukan sebuah kebetulan Allah meletakkan jiwa dan ragamu di tempat ini.

Tidak… Allah tidak sedang membuatmu kehilangan arah atas semua tujuan hidupmu.

Allah tidak sedang menempatkanmu di tempat yang sekarang karena kamu payah. Tidak. Allah berjanji akan mengatur semuanya untuk hambanya. Allah pula yang akan menetapkan apa-apa yang layak ada di sisimu atau tidak.

Apa kabar harapan-harapanmu yang menumbuhkan gairah itu? Apa kabar hatimu yang tak henti mensemogakan doa-doa agar segera terwujud? Ketahuilah, Allah sedang meletakkan impianmu di tempat yang tepat. Tunggulah. Sebentar lagi, Allah sedang memintamu diam, merenungi semua gairah yang jarang direnungi sebagai nafsu. Bersabarlah atas kehendak Allah sebagai satu paket kejutan yang mengajakmu pada keistiqomahan iktiar.

Untuk semua kepasrahan yang sempat tak kamu yakini… Maafkanlan. Lalu berdiri dan yakinlah untuk hal-hal yang telah dipersiapkan Allah.

Jangan pernah berputus berpegang pada Allah. Sebab Allah sebaik-baik penjamin hidup.

Kediri, 27 Oktober 2018

Advertisements

Dear Ami: Sebasa-basi Ini Bertanya Kabarmu

Ami… Bagaimana kabarmu? Semoga baik2 saja dan selalu penuh cinta dan bahagia. Aku merindukanmu, pun merindukan Malang. Apa kabar kedai jus yg sering kita kunjungi, apa kabar cafe-cafe yg jadi saksi tawa dan tangis kita, apa kabar kamar kosku yang sempat menjadi tempatmu singgah kala penat bekerja. Apa kabar hatimu?

Time does fly. Tanpa terasa aku hampir sebulan tidak berkunjung ke rumahmu. Banyak sekali yang sebenarnya ingin aku ceritakan padamu, mi. Rasanya percakapan kita melalui whatsapp dan telepon tidak cukup menjelaskan semua yang terjadi sepanjang hari-hariku. Dan lebih tepatnya, Ami tidak bisa menyaksikan ekspresiku ketika bercerita: aku yang sesemangat sekaligus serapuh itu.

Kesibukanku disini menyisakan rindu yang manis sekaligus mendewasakan.
Kali ini aku yang memilih nyaman memendam rindu tanpa temu. Tidak terburu-buru menemuimu. Ami, terimakasih ya untuk selalu menyediakan telinga dan kesabaran seluruh proses hidupku. Katamu, “Kamu memang kebetulan yang tidak direncanakan. Tapi seluruh perjalananmu selalu didoakan, didoakan dan didoakan.”

Dear Ami, Untuk Hari-Hari yang Makin Tabah

Hai Ami, untuk yang pertama kalinya aku bisa mengucapkan selamat wisuda dan berbahagia dengan gelar barumu. Ucapan yang tersimpan di hatiku tanpa pernah mampu kuucapkan dengan lisan, sebab Ami pasti tahu, aku tak sanggup membendung tangis jika kuucapkan di depanmu.

Seperti yang Ami pahami, tentu saja dirimu adalah satu-satunya orang di luar kehidupanku yang kebahagiaan, senyum dan hidupnya akan selalu aku perjuangkan. Tanpa tapi. Tanpa nanti. Telak dan tak terbantahkan. Aku sungguh tau bahwa ada doa-doa, perasaan, dan berbagai tindakan yang sudah Ami korbankan untukku. Karena itulah aku bisa menjadi sebaik hari ini. Menjadi aku yang lebih berprestasi dalam standar ukuran pribadiku.

Ami… Terimakasih ya karena selalu membantu menjaga kebaikan-kebaikan agar terus ada di hidupku.

Ami… Terimakasih pula atas semua teladan keikhlasan dan ketabahan untuk terus memperbaiki diri (termasuk juga memperbarui perasaan) agar tak lagi menjadi orang yang punya versi brengsek seburuk masa lalunya. Terimakasih Ami, untuk selalu tabah menerima caraku memperbaiki diri. Karena Ami tahu, hanya memang dirimu yang tahu keburukan dan semua versi brengsek di hidupku.

Mi, jangan pernah memprotes seribu caraku mencintaimu ya… Aku mohon, ijinkan aku berbahagia dengan semua cinta dan kebahagiaanku untukmu. Tentu saja ini sedikit memaksa, aku harap Ami memakluminya. Karena dirimu, Mi… Aku bisa tumbuh menjadi pribadi yang tabah memaklumi ketidaksempurnaan untuk tidak selalu menjadi yang sempurna.

Lalu bagaimana aku harus mendeskripsikan dirimu yang sebaik semua penilaianku? Rasanya aku tak perlu berbusa-busa menjelaskan dengan cerita yang tak terlihat mata. “Jadilah seluas langit. Bercerminlah” Katamu, Mi. Maka kita akan melihat kebaikan lewat tindakan-tindakan nyata. Darisanalah akan tampak proses ketabahanmu mendidikku.

Di akhir tulisan ini, aku ingin mengutip sepenggal cerita yang ditulis oleh Mas Ik,

“Bagi saya, memutuskan menjadi orang yang baru adalah hak kita semua. Memutuskan berubah, tak peduli harus dengan apa kita melangkah. Menjadi lebih baik yang ambang batasnya bukan perbandingan dengan orang lain, namun dengan diri kita sendiri di hari-hari kemarin. Barangkali kita terlampau sering menyalahkan keadaan, larut dalam situasi keterpurukan, sedang orang lain telah berada jauh di depan dengan segenap ikhtiar dan doa yang mereka lakukan.”

Duniaku hanya mengingatmu sebagai yang pertama, Mi dan Allah yang akan mencukupkanmu untukku sampai kapanpun. Dan aku berterimakasih atas ketabahanmu sampai detik ini.

Malang, 9 September 2018

Setahun Terakhir

DSC_0420

Sudah ngapain aja setahun terakhir, Far?

Rasanya baru kemarin berkutat dengan tugas akhir sebagai mahasiswa, dan sepertinya tak pantas jika harus dikatakan sampai kurang tidur hingga merasa lelah tak berkesudahan. Pernyataan-pernyataan macam itu terlalu dramatis untuk diungkapkan.

Padahal faktanya, setahun terakhir lebih banyak tidur, kurang baca buku, sering malas-malasan, nggak berprestasi karena lagi-lagi gagal untuk mentunaikan janji-janji pada diri sendiri, Tuhan, dan sesama.

Setahun terakhir, masih biasa-biasa saja. Menjadi orang yang kerapkali menguat-kuatkan hatinya agar berani mengambil resiko, nyatanya masih sering menyerah oleh keadaan.

Setahun hampir lulus S1, saya sudah ngapain aja? Rasanya masih menjadi manusia menyebalkan yang belum maksimal memberikan kontribusi pada banyak hal. Jika mengutip istilah mas Get, boleh saya katakan “banyak orang bisa mengawali perjalanan dengan sangat indah. Namun tidak semua bisa menuntaskan sampai garis finish. Untuk itu libatkan Allah dalam setiap langkah karena sejatinya Dialah penentu segala rencana.”

But in life, no one choose to be looser. The duty shall be accomplished. Whatever you do, make an impact! Even the smallest thing.

Kediri, 26 Agustus 2018; 01.39

Dear Ami, Tentang Menyegerakan Pulang

Waktu berlalu ketika tiba-tiba keinginan menggerakkan saya untuk ke stasiun, membeli tiket kereta 10 menit sebelum kereta berangkat. Untungnya, masih ada seat dan tidak terlambat. Tentu saja saya bahagia bepergian tanpa rencana untuk kembali ‘pulang’ menemui Ami tanpa basa-basi.

Tiga jam kemudian, Malang merobek kotak cerita hidup yang pernah ada dalam diri saya. Di sudut manapun saya berdiri di kota ini, dada saya penuh sesak oleh berbagai macam perasaan yang tak bisa saya lupakan. Satu-satunya orang yang meletakkan banyak kenangan di hidup saya di kota ini adalah Ami.

Tangga cerita ini tak akan usai jika saya ceritakan disini sedang waktu terus  berjalan dan saya harus menuntaskan perasaan. Menyegerakan pulang.

Setengah jam setelah kedatangan, saya sudah berdiri di depan kantor Ami. Menunggunya menyelesaikan tugas-tugas tanpa mengetahui kehadiran saya. Dari luar, saya menelpon berkali-kali tapi rupanya Ami masih belum menyadari kehadiran saya.

Bagi saya, pertemuan ini sangat penting. Ketika saya datang pada Ami, dalam keadaan utuh. Membawa seluruh kebahagiaan dan rindu yang sekian lama menumpuk. Kecuali pakaian saya yang acak-acakan ketika berdesakan di dalam kereta. Dan ketika memikirkan tentang akan betapa bahagianya saya jika bertemu denganmu, Ami baru saja menyadari kehadiran saya.

Melihat rekah senyum Ami, saya bahagia dalam pelukannya.

Mungkin ini terlalu biasa bagi orang lain untuk diceritakan, atau mungkin Ami pernah merasa malu dan enggan membacanya. Tapi dalam hati, ini adalah kisah yang saya tulis sepenuh hati. Yang kelak akan menjadi saksi perjalanan mengeja hatimu dalam kata-kata.

Karena sekali lagi, aku masih milik waktu-waktumu, milik rindu-rindumu. Karena cinta dan perasaanmu, membuat saya rela melakukan apapun untuk selalu ‘pulang’ kepadamu.

Dalam perjalanan pulang, Malioboro Ekspress 12 Juli 2018

Menyusun Kesalahan

Sejujurnya saya takut. Terlalu larut untuk mengutarakan alasan ini. Ada banyak hal yang memang perlu dirayakan secara berbeda termasuk tentang cara saya menolak berbagai hal yang mengaitkan dengan komitmen dalam hitungan jumlah waktu tertentu.

Ada yang berhasil menyusun kesalahan dan membuatnya menjadi yang terakhir. Meski rasanya tidak berhak untuk menyesali keputusan di masa lalu karena setiap keputusan akan membawa pada konsekuensi masing-masing yang sama porsinya. Dan saya tidak ingin menjadi orang yang salah karena tidak berani menjalani konsekuensinya.

Saya, memilih rasa sakit yang paling saya takuti dari perjuangan yang paling ingin saya lakukan.

Saya, yang sedang mencoba mempertaruhkan sesuatu, apapun.

 

Alasan di Balik Kekuatan Pembenahan Diri

Angin apa yang merasuki kepala saya siang ini agar memerintahnya berani menawarkan diri mengeksploitasi waktu – tenaga – pikiran. Dalam tidur malam-pun, pikiran saya rasanya tidak bisa berhenti bekerja. Tak ada bedanya juga hari ini. Saya tiba-tiba tertidur dan terbangun satu jam kemudian. Semuanya terasa sakit, punggung yang nyeri, kepala pening dan ngeri membayangkan waktu hari-hari ini. Meracau sendiri tentang menit demi menit yang berlalu.

Mungkin itu insomnia, pikir saya. Tentu saja ini bukan hal yang bagus dijadikan sebuah kebiasaan jika disebabkan karena terobsesi menyelesaikan berbagai tagihan target pekerjaan yang ternyata saya buat dan tentukan sendiri waktunya. Malam-malam berbagai kecemasan muncul tentang target hidup yang tak bisa saya pendam. Satu-satunya cara yang saya tahu untuk melewatinya adalah dengan tetap terjaga dan menulis, lalu membaca buku sampai kantuk mengambil alih kantung mata.

Jika ada bagian yang saya kagumi saat beradu waktu dengan insomnia adalah munculnya pikiran-pikiran positif yang inspiratif. Saya bahkan tak perlu memaksa bibir untuk tersenyum, ia akan menggerakkan lengkungnya sendiri dengan baik. Insomnia seringkali mendorong saya untuk meyakini kekuatan diri sendiri. Merasakan perasaan berdaya untuk mengontrol diri sendiri dari hal-hal yang tampaknya mustahil dilakukan. Insomnia adalah kesempatan sekaligus latihan untuk mengingat pilihan yang bisa saya ambil tentang bagaimana saya mengatur hidup dan perjalanan selama ini. Mulai dari merencanakan – memilih rute terbaik – mengantisipasi masalah.

Tapi itu bukan kebiasaan yang baik dalam jangka waktu panjang…

Lalu saya menantang diri saya: “Jika kamu bisa menikmati kegembiraan sekaligus keresahan saat malam, berjanjilah untuk menemukan alasan menjadi bahagia tanpa mengorbankan waktu istirahat terbaikmu.”

Mungkin akan membutuhkan tenaga ekstra untuk mengubah kebiasaan insomnia dan tentu saja tentang bagaimana mengendalikan pikiran. Dan sebuah kesadaran yang tumbuh dari keyakinan bahwa memang “dibutuhkan banyak tenaga di waktu yang singkat untuk menjadikan langkahnya hebat lebih baik memang tidak dengan mengorbankan kesehatan”.

Semangat untuk berhasil menemukan kekuatan dalam pembenahan diri!!

Kediri, 3 Juli 2018

Dear Ami, Tentang Memaafkan diri Sendiri

yang paling menyakitkan dari cinta adalah ketidakmampuan memaafkan diri sendiri…

Sebagai melankolis yang sangat mudah menangis, saya merasa payah karena belum bisa melakukan banyak hal dengan sempurna di antara berbagai kemungkinan munculnya rasa bahagia dan kecewa. Semalaman membuat daftar pencapaian dan kegagalan tentang perjalanan hidup sampai detik ini, di antaranya berhasil mengupas kembali trauma, kecewa, gelisah, sekaligus bahagia dalam waktu yang bersamaan. Saya melihat berbagai hal positif ketika membuatnya tapi jujur saja, ada hal-hal yang tidak dengan mudah dimaafkan atas kesalahan diri sendiri.

Adalah mencintai Ami dan segala dinamika perasaannya yang mendikte saya untuk menulis ini. Tentu siapa saja bisa membaca random story saya tentang Ami di salah satu rubrik blog ini. Banyak kisah yang saya simpan, tulis, dan bagikan di blog ini secara samar maupun terang-terangan meskipun tidak semua orang tahu bagaimana mulanya dan kemana ujungnya.

***

Foto kami tiba-tiba muncul di layar handphone saya dengan notifikasi WA dari Ami. Saya terdiam, memandang wajah bahagia Ami di foto itu. Lalu tersenyum getir, membaringkan diri di kasur. Mengingat-ingat lagi kejadian sebelum foto itu dan semua ketakutan – rasa khawatir – pertengkaran – kemampuan bertahan dan meyakinkan masih terasa jelas dan menyakitkan. Bagaimana di dalam satu waktu saya harus menenangkanmu sekaligus menguatkan bahwa saya tidak akan mengalami mimpi paling menakutkan dalam hidup: kehilanganmu.

Menulis apapun di blog ini jadi terasa tidak mudah lagi setelah kejadian itu.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu di jalan sekedar untuk keliling kota, menghabiskan waktu tanpa Ami tapi juga tak berhenti mengingat hal-hal kecil yang pernah membuat kami senang: menunggu Ami pulang di depan gerbang kantor, menculiknya sewaktu kerja, mengantarkan bunga ke meja kerjanya, obrolan kami saat makan siang. Semuanya ada disitu.

Mengingat semua moment kebersamaan kami secara acak itu -semua potret waktu yang bisa membuat hati saya senang- telah membantu saya untuk menemukan diri sendiri dan untuk siapa saya ada. Ami memancarkan kebaikan dan kebahagiaan yang tidak tergantikan oleh siapapun. Lalu saya? masih terus bertanya bagaimana memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang pernah saya lakukan, bukan secara fisik tapi secara emosional.

Saya masih mencoba memaafkan diri sendiri.

Kediri, 30 Juni 2018

Menata ulang tujuan, agar tak lagi ada ambisi tanpa tuan…

Di dunia yang ramai ini, saya hanya butuh Kau temani. Bersama dan memberikan seluruh waktu untuk kehidupan dan cinta yang hidup dalam hati saya; Allah.

Dear Ami, Tentang Allah yang Menitipkanmu untuk Kebaikanku

Ami, barangkali adalah pintu kesekian tempat segala impian saya kembali mekar. Ami tentu saja adalah orang yg saya syukuri kehadirannya karena membantu menjadi pembuka jalan atas kecintaan saya pada Tuhan.

Tempat-tempat yang memisahkan kami, adalah kedukaan, adalah bentuk menguat-kuatkan hati, adalah kesedihan, adalah kekhawatiran berlebihan, adalah kegigihan untuk memperjuangkan, dan adalah cinta. Tak terbayang betapa berantakannya hidup saya jika Allah tidak membantu dengan menghadirkan Ami di sisi saya.

Saya, tentu saja masih seperti ini. Jiwa  yang mengandung emosi berlebihan, perasaan yang tak mampu dibendung, kedukaan tiada ujung, tangis yang menjadi mendung sehari-hari. Saya masih saja rewel meminta diperhatikan, merengek manja ketika tak mendapat respon sekeinginan saya, beradu tawa sekaligus tangis dalam waktu yang terkumpul semua rindu.

Ami, yang peluknya lebih awal dari pagi, dan kebaikannya melampaui segala ketulusan. Terimakasih kesayangan yang tentu saja menjadi perantara Tuhan dalam memperbaiki saya.

Kediri, 24 Juni 2018; 23.36