Dear Ami, Tentang Menyegerakan Pulang

Waktu berlalu ketika tiba-tiba keinginan menggerakkan saya untuk ke stasiun, membeli tiket kereta 10 menit sebelum kereta berangkat. Untungnya, masih ada seat dan tidak terlambat. Tentu saja saya bahagia bepergian tanpa rencana untuk kembali ‘pulang’ menemui Ami tanpa basa-basi.

Tiga jam kemudian, Malang merobek kotak cerita hidup yang pernah ada dalam diri saya. Di sudut manapun saya berdiri di kota ini, dada saya penuh sesak oleh berbagai macam perasaan yang tak bisa saya lupakan. Satu-satunya orang yang meletakkan banyak kenangan di hidup saya di kota ini adalah Ami.

Tangga cerita ini tak akan usai jika saya ceritakan disini sedang waktu terus  berjalan dan saya harus menuntaskan perasaan. Menyegerakan pulang.

Setengah jam setelah kedatangan, saya sudah berdiri di depan kantor Ami. Menunggunya menyelesaikan tugas-tugas tanpa mengetahui kehadiran saya. Dari luar, saya menelpon berkali-kali tapi rupanya Ami masih belum menyadari kehadiran saya.

Bagi saya, pertemuan ini sangat penting. Ketika saya datang pada Ami, dalam keadaan utuh. Membawa seluruh kebahagiaan dan rindu yang sekian lama menumpuk. Kecuali pakaian saya yang acak-acakan ketika berdesakan di dalam kereta. Dan ketika memikirkan tentang akan betapa bahagianya saya jika bertemu denganmu, Ami baru saja menyadari kehadiran saya.

Melihat rekah senyum Ami, saya bahagia dalam pelukannya.

Mungkin ini terlalu biasa bagi orang lain untuk diceritakan, atau mungkin Ami pernah merasa malu dan enggan membacanya. Tapi dalam hati, ini adalah kisah yang saya tulis sepenuh hati. Yang kelak akan menjadi saksi perjalanan mengeja hatimu dalam kata-kata.

Karena sekali lagi, aku masih milik waktu-waktumu, milik rindu-rindumu. Karena cinta dan perasaanmu, membuat saya rela melakukan apapun untuk selalu ‘pulang’ kepadamu.

Dalam perjalanan pulang, Malioboro Ekspress 12 Juli 2018

Advertisements

Menyusun Kesalahan

Sejujurnya saya takut. Terlalu larut untuk mengutarakan alasan ini. Ada banyak hal yang memang perlu dirayakan secara berbeda termasuk tentang cara saya menolak berbagai hal yang mengaitkan dengan komitmen dalam hitungan jumlah waktu tertentu.

Ada yang berhasil menyusun kesalahan dan membuatnya menjadi yang terakhir. Meski rasanya tidak berhak untuk menyesali keputusan di masa lalu karena setiap keputusan akan membawa pada konsekuensi masing-masing yang sama porsinya. Dan saya tidak ingin menjadi orang yang salah karena tidak berani menjalani konsekuensinya.

Saya, memilih rasa sakit yang paling saya takuti dari perjuangan yang paling ingin saya lakukan.

Saya, yang sedang mencoba mempertaruhkan sesuatu, apapun.

 

Alasan di Balik Kekuatan Pembenahan Diri

Angin apa yang merasuki kepala saya siang ini agar memerintahnya berani menawarkan diri mengeksploitasi waktu – tenaga – pikiran. Dalam tidur malam-pun, pikiran saya rasanya tidak bisa berhenti bekerja. Tak ada bedanya juga hari ini. Saya tiba-tiba tertidur dan terbangun satu jam kemudian. Semuanya terasa sakit, punggung yang nyeri, kepala pening dan ngeri membayangkan waktu hari-hari ini. Meracau sendiri tentang menit demi menit yang berlalu.

Mungkin itu insomnia, pikir saya. Tentu saja ini bukan hal yang bagus dijadikan sebuah kebiasaan jika disebabkan karena terobsesi menyelesaikan berbagai tagihan target pekerjaan yang ternyata saya buat dan tentukan sendiri waktunya. Malam-malam berbagai kecemasan muncul tentang target hidup yang tak bisa saya pendam. Satu-satunya cara yang saya tahu untuk melewatinya adalah dengan tetap terjaga dan menulis, lalu membaca buku sampai kantuk mengambil alih kantung mata.

Jika ada bagian yang saya kagumi saat beradu waktu dengan insomnia adalah munculnya pikiran-pikiran positif yang inspiratif. Saya bahkan tak perlu memaksa bibir untuk tersenyum, ia akan menggerakkan lengkungnya sendiri dengan baik. Insomnia seringkali mendorong saya untuk meyakini kekuatan diri sendiri. Merasakan perasaan berdaya untuk mengontrol diri sendiri dari hal-hal yang tampaknya mustahil dilakukan. Insomnia adalah kesempatan sekaligus latihan untuk mengingat pilihan yang bisa saya ambil tentang bagaimana saya mengatur hidup dan perjalanan selama ini. Mulai dari merencanakan – memilih rute terbaik – mengantisipasi masalah.

Tapi itu bukan kebiasaan yang baik dalam jangka waktu panjang…

Lalu saya menantang diri saya: “Jika kamu bisa menikmati kegembiraan sekaligus keresahan saat malam, berjanjilah untuk menemukan alasan menjadi bahagia tanpa mengorbankan waktu istirahat terbaikmu.”

Mungkin akan membutuhkan tenaga ekstra untuk mengubah kebiasaan insomnia dan tentu saja tentang bagaimana mengendalikan pikiran. Dan sebuah kesadaran yang tumbuh dari keyakinan bahwa memang “dibutuhkan banyak tenaga di waktu yang singkat untuk menjadikan langkahnya hebat lebih baik memang tidak dengan mengorbankan kesehatan”.

Semangat untuk berhasil menemukan kekuatan dalam pembenahan diri!!

Kediri, 3 Juli 2018

Dear Ami, Tentang Memaafkan diri Sendiri

yang paling menyakitkan dari cinta adalah ketidakmampuan memaafkan diri sendiri…

Sebagai melankolis yang sangat mudah menangis, saya merasa payah karena belum bisa melakukan banyak hal dengan sempurna di antara berbagai kemungkinan munculnya rasa bahagia dan kecewa. Semalaman membuat daftar pencapaian dan kegagalan tentang perjalanan hidup sampai detik ini, di antaranya berhasil mengupas kembali trauma, kecewa, gelisah, sekaligus bahagia dalam waktu yang bersamaan. Saya melihat berbagai hal positif ketika membuatnya tapi jujur saja, ada hal-hal yang tidak dengan mudah dimaafkan atas kesalahan diri sendiri.

Adalah mencintai Ami dan segala dinamika perasaannya yang mendikte saya untuk menulis ini. Tentu siapa saja bisa membaca random story saya tentang Ami di salah satu rubrik blog ini. Banyak kisah yang saya simpan, tulis, dan bagikan di blog ini secara samar maupun terang-terangan meskipun tidak semua orang tahu bagaimana mulanya dan kemana ujungnya.

***

Foto kami tiba-tiba muncul di layar handphone saya dengan notifikasi WA dari Ami. Saya terdiam, memandang wajah bahagia Ami di foto itu. Lalu tersenyum getir, membaringkan diri di kasur. Mengingat-ingat lagi kejadian sebelum foto itu dan semua ketakutan – rasa khawatir – pertengkaran – kemampuan bertahan dan meyakinkan masih terasa jelas dan menyakitkan. Bagaimana di dalam satu waktu saya harus menenangkanmu sekaligus menguatkan bahwa saya tidak akan mengalami mimpi paling menakutkan dalam hidup: kehilanganmu.

Menulis apapun di blog ini jadi terasa tidak mudah lagi setelah kejadian itu.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu di jalan sekedar untuk keliling kota, menghabiskan waktu tanpa Ami tapi juga tak berhenti mengingat hal-hal kecil yang pernah membuat kami senang: menunggu Ami pulang di depan gerbang kantor, menculiknya sewaktu kerja, mengantarkan bunga ke meja kerjanya, obrolan kami saat makan siang. Semuanya ada disitu.

Mengingat semua moment kebersamaan kami secara acak itu -semua potret waktu yang bisa membuat hati saya senang- telah membantu saya untuk menemukan diri sendiri dan untuk siapa saya ada. Ami memancarkan kebaikan dan kebahagiaan yang tidak tergantikan oleh siapapun. Lalu saya? masih terus bertanya bagaimana memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang pernah saya lakukan, bukan secara fisik tapi secara emosional.

Saya masih mencoba memaafkan diri sendiri.

Kediri, 30 Juni 2018

Menata ulang tujuan, agar tak lagi ada ambisi tanpa tuan…

Di dunia yang ramai ini, saya hanya butuh Kau temani. Bersama dan memberikan seluruh waktu untuk kehidupan dan cinta yang hidup dalam hati saya; Allah.

Dear Ami, Tentang Allah yang Menitipkanmu untuk Kebaikanku

Ami, barangkali adalah pintu kesekian tempat segala impian saya kembali mekar. Ami tentu saja adalah orang yg saya syukuri kehadirannya karena membantu menjadi pembuka jalan atas kecintaan saya pada Tuhan.

Tempat-tempat yang memisahkan kami, adalah kedukaan, adalah bentuk menguat-kuatkan hati, adalah kesedihan, adalah kekhawatiran berlebihan, adalah kegigihan untuk memperjuangkan, dan adalah cinta. Tak terbayang betapa berantakannya hidup saya jika Allah tidak membantu dengan menghadirkan Ami di sisi saya.

Saya, tentu saja masih seperti ini. Jiwa  yang mengandung emosi berlebihan, perasaan yang tak mampu dibendung, kedukaan tiada ujung, tangis yang menjadi mendung sehari-hari. Saya masih saja rewel meminta diperhatikan, merengek manja ketika tak mendapat respon sekeinginan saya, beradu tawa sekaligus tangis dalam waktu yang terkumpul semua rindu.

Ami, yang peluknya lebih awal dari pagi, dan kebaikannya melampaui segala ketulusan. Terimakasih kesayangan yang tentu saja menjadi perantara Tuhan dalam memperbaiki saya.

Kediri, 24 Juni 2018; 23.36

Sejauh yang Tak Pernah Kau Kira

Make your dreams a priority, make your mental health a priority, make your happiness a priority, make yourself a priority. And love people who love you…

saat menulis ini, jendela komputer saya membuka tautan sosial media dan beberapa artikel lama yang pernah saya tulis. Lalu  heran, seperti orang yang mati rasa membaca tulisan-tulisan yang lama ternyata pernah ada dan bermakna. Dan waktu-waktu setelah ini akan penuh dengan pertanyaan tentang “apa lagi yang bermakna?”, jika hanya menikmati pergi – pulang – tidur 2-3 jam – bangun – menghadap laptop – berangkat – lalu apa lagi? – sudah!.

Dua malam tanpa jeda, bagun dengan kepala pening dan sesak di dada. Maka atas nama keikhlasan, saya lupa memilih kehidupan lain selain pekerjaan. Katanya, hidup tak lengkap jika belum pernah menikmati kepalsuan. Dan mungkin ini terlalu jauh, sampai saya mendadak bodoh karena lupa bagaimana caranya menulis dengan caps lock! Lol!

Mungkin kali ini saya berhak merasa “kering” dan lupa bagaimana caranya “pulang”. Anehnya hidup masih terus berjalan, walaupun tumpukan kardus di kamar tak segera dirapikan. Beberapa minggu yang lalu saya kira hari-hari ini akan berat sekali dijalani, kemudian merasa susah tidur hingga membuat saya sedih hingga khawatir akan sampai menangis semalaman.

Dari proses ini akhirnya saya belajar. Lebih tepatnya memaksa belajar untuk menata ulang bagaimana menempatkan diri sebagai prioritas. Saya mulai menumpuk beberapa buku di rak meja dan merencanakan untuk membeli banyak buku. Membaca hidangan puisi di beberapa portal web yang dulu rajin saya kunjungi.

Apapun itu, saya akan lebih peka untuk mencari cara memprioritaskan kebahagiaan pribadi.

Dan tentu saja, seringkali saya masih merindukan kamu sepulang kerja dan berharap bisa menemukanmu di akhir hari setelah rangkaian aktivitas panjang. Kamu, kamu masih disini. Belum terganti. Karena kita, sejauh yang tak pernah kau kira.

Ami; yang Tak Akan Selesai Saya Rindukan

Terbangun pukul 03.00 dengan perasaan berdebar. Lalu menengok ke sebelah kiri untuk memastikan bahwa kamu masih di sini dan baik-baik saja. Syukurlah, pertemuan kita beberapa jam sebelum ini cukup menakutkan untuk saya. Melakukan perjalanan jauh sekira 68 kilometer untuk menemuimu, memastikan bahwa saya hadir kapanpun untuk terjaga dan menjaga.

Kamu perlu tahu bahwa saya takut jika harus berjarak lagi. Berjeda lagi.

Saya takut, saat harus merelakanmu berkemas lalu pergi dan dering notifikasi chat di whatsapp tak henti berbunyi untuk mengkonfirmasi keadaanmu.

Kita tahu, sampai kapanpun tak akan pernah lelah berbagi dekap saat temu berpihak pada kita, meskipun nyatanya saya tak lagi bisa setangguh dulu saat tak bersamamu.

Sebab inilah mungkin perjuangan yang kita harap akan mencipta makna dari takdir-takdir kecil  yang Allah rencanakan. Dan kemarin, saat pundakmu masih saja menjadi tempat menopang segala rindu dan tangan lembutmu mengusap tangis, bisa-bisanya saya masih bertanya, “Apa Ami sayang sama, Mbak?”

Tulungagung, 5 April 2018

“Selepas 30”

Selepas 30 saya memutuskan pulang. Kesibukan saya hanyalah mencari bantuan. Untuk menemukan permulaan baru. Untuk mencari jalan pulang ke kanan kiri. Untuk menemukan ketulusan. Untuk menyembuhkan apapun yang terjadi dalam diri saya.

Setiap orang akan melewati fase “tercabik” bahkan “meraung” saat memutuskan meninggalkan zona nyamannya, tentunya ini juga berkaitan dengan saya yang kemudian harus menerima kenyataan bahwa saya “berjarak” dalam definisi sesungguhnya dengan Ami. Butuh latihan 14 hari sekali untuk bisa bertemu selama beberapa bulan belakangan dan secangkir kopi tanpa gula di meja kerja untuk menghilangkan pahit jarak yang semenyiksa ini.

Dan pada akhirnya, saya menyerah di meja dokter dengan diagnosa yang sudah terduga, “Stress? Kambuh lagi? Udah sempat gemukan kok kurusan lagi?”

Fiiuuuh…

Hati saya tahu ini hanya awal dari sebuah proses yang sangat panjang untuk mengalahkan segala ketidakberdayaan karena rindu. Meskipun rasanya sempat hancur dipecundangi diri sendiri itu memalukan. Saat melepas 30 hari, detik ini, tepat hari ini, adalah tentang malas bangun pagi sepanjang hari karena merasa hidup berhenti, adalah tentang membuka laptop jam 8 pagi ditemani lagu-lagu sendu. Saat melepas 30 adalah tentang mengingat pesan Ami untuk menghitung hari tercepat agar segera bertemu.

Selepas 30 hari ini, mungkin akan lebih baik otak digunakan untuk berlari atau mengisi tulisan-tulisan di blog ini. Atau senyum manis sepanjang lamunan yang ditimbulkan hal-hal kecil yang sering kita lakukan bersama belum juga hilang dari ingatan.

Memilih (atau jika boleh menyebut lebih tepat “dipilihkan”) hidup hari ini ternyata sesulit memfokuskan segala sesuatu pada diri saya.

Drama banget nggak sih? Mungkin… Tapi hati saya yakin, suatu hari saya akan mengenang apapun hari ini, seperti perjuangan-perjuangan lain yang tak layak dikeluhkan. Sebab, ini bukan tentang meninggalkan, tapi mempersiapkan hati terbiasa merasakan jarak tanpa harus dirasakan. Maka pelan-pelan…

 

Semoga saya, tidak benar-benar bodoh untuk tidak melangkah… Kalau tak salah hitung, hari ini selepas 30 hari sejak hari terakhir aku pamit pulang. Selepas 30 hari tanpamu, Mi.

Kediri, 26 Maret 2018