Jatuh

Ada banyak kejadian kecil hari ini yang semestinya membuat saya bercermin dan bertanya kepada diri sendiri. Saya mengetik ini tepat setelah menikmati perjalanan ke Malang dengan kereta api. Sengaja ingin menuliskannya sesegera mungkin agar tidak kehilangan getaran perasaan yang ingin disampaikan. Walau rasanya kepala sudah mau copot saja.

***

Dahulu, saya sudah menyiapkan sebuah buku kecil berwarna biru yang berisi serentetan kegiatan yang harus dilakukan – apa saja yang tak boleh dilakukan – dan sekumpulan rencana A, B, C tentang masa depan. Setiap waktu, buku itulah yang menjadi “makanan” saya untuk tetap menjaga mood agar selalu baik.  

Saya bersyukur, hal itu berhasil “menjaga” perasaan saya dari hal-hal negatif yang ada hingga akhirnya mampu menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan baik.

Sampai pada akhirnya 18 bulan yang lalu ada pertanyaan lain seperti “Apa yang bisa dilakukan setelah menjadi yang terbaik?” yang kemudian membuat saya berhenti melakukan rutinitas menulis di buku kecil tersebut. Hari ini saya menemukan jawabannya setelah sekian lama memikirkan jawaban yang tepat.

Jawaban itu adalah “Jatuh!!”

Ya… memang jatuh! Saya menikmati semua hal terbaik yang sudah dan sedang saya miliki saat itu. Menyelesaikan dengan baik satu per satu dari daftar panjang impian saya di buku itu. Lalu jatuh!

Ternyata hanya butuh hati untuk bisa memahami bahwa jatuh adalah menolak merasa nyaman dengan keadaan. Lalu saya mulai berdamai dengan “jatuh”, berhenti mengutuki setiap hal-hal yang gagal saya lakukan dengan baik. Jatuh-lah yang mengantar saya belajar untuk berdiskusi dengan diri sendiri dan berusaha mencari jalan-jalan baru untuk dinikmati, bukan justru memutuskan jalan dengan mengutuki proses “jatuh”-nya.

Akhirnya saya pun bersyukur sudah diberikan kesempatan jatuh -lagi. Sebab ternyata tak ada jalan lain lagi setelah jatuh selain kembali mendaki. Semestinya, saya juga beterimakasih kepada diri saya karena sudah rela meluangkan waktu melambatkan impian untuk membersamai banyak orang di sekeliling saya. Mendukungnya.

Its not about me but maybe will affect my future.

tapi apa setelah ini?

Mungkin akan ada perjalanan panjang lain yang sudah mulai saya persiapkan. Tapi kali ini berjalannya pelan-pelan sambil menjaga keinginan agar tidak menyakiti hati banyak orang. Ini semua hanya soal visi yang semoga lebih besar dan bermanfaat karena dikerjakan sembari berusaha belajar mendahulukan Tuhan.

Selamat datang lagi ketekunan yang menggebu-gebu walau harus dimulai -lagi- dari titik terendah. Tidak perlu canggung, mungkin perasaan takut perlahan akan hilang jika lebih sering dilatih untuk yakin dan percaya.

Tuhan sudah berbaik hati memberimu kekuatan untuk terus melangkah, sesekali membuat saya bercermin dan sering menyelamatkan saya dari pikiran-pikiran yang dangkal. Lebih baik mengurangi waktu mempertanyakan segala hal karena semua yang dicari sudah ditemukan (orang-orang yang mau selalu membersamai semangat saya). Tuhan pun berbaik hati membukakan semua pintu yang ingin saya pilih. Dan saya tidak ingin menjadi seorang yang bodoh, yang pura-pura tidak tahu kebenaran yang ada di depan mata saya sendiri.

Maka, jatuh akan lebih baik dipenuhi dengan langkah-langkah kecil yang layak dilakukan dan bukan lagi sekedar menimbun pertanyaan “Apa yang saya inginkan?”

Malang, 28 November 2017

 

Advertisements

UNTUK DIINGAT: Menunda dan Ikhtiar yang Setengah-setengah

Saya harus menuliskan ini meski rasanya seperti merekam setiap kebodohan yang telah dilakukan.

Di luar sana, ada puluhan orang yang sedang mati-matian menjinakkan perasaan malas-tak berdaya-dan tanpa kompromi.

Hidup terasa membingungkan akhir-akhir ini. Terlebih dihadapkan dengan konsekuensi atas sikap yang kurang tegas. Sederet topik essay tertempel di dinding kamar, puluhan desain foto menggantung di antara jepitan kayu, konsep-konsep hidup yang sejatinya menjadi pengingat langkah yang harus diambil lama-lama mulai berdebu.

Sore ini -untuk sekali lagi- saya paham dan menyesali tentang konsekuensi ‘menunda’.

Siapa yang akan bertanggungjawab?

Haruskah kalimat itu keluar sebagai pertanyaan? Bagi saya kok rasanya memalukan untuk dijawab. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari ikhtiar yang setengah-setengah dan kebodohan yang berpotensi terulang.

Dua puluh dua tahun dan menyadari semakin hari tak lebih baik. Ah rasanya menyesakkan. Perasaan gagal, kurang, tidak pantas, ingin berhenti dalam suatu hal yang saya anggap penting menjadi catatan tersendiri tentang kinerja saya di masa muda.

“Wah keren yaa, sudah bisa melakukan apa yang diinginkan?”

Pernyataan macam itu yang saya dengar dari  beberapa orang sejujurnya membuat saya risih. Entah karena peduli, kepo, atau hanya basa basi, saya rasa sudah terlalu sering ikhtiar-doa-harapan-dan waktu yang saya permainkan, yang tidak sesuai dengan apapun penilaian orang tentang “wah keren ya”. Bukankah itu sebuah kesombongan? Ya. Kesombongan mempermainkan waktu dan ikhtiar yang setengah-setengah.

Saya masih jauh dari si A yang mempersiapkan suatu hal dengan baik. Ia adalah orang yang saya rasa tidak pernah punya alasan untuk menunda-protes-ataupun setengah-setengah. Setidaknya itu yang saya tangkap dari gerak-gerik dan cerita yang dibagikan pada saya sejauh ini.

Lalu setelah semua yang tertunda dan ikhtiar yang terlambat disadari masih setengah-setengah, saya masih berani-beraninya memohon kesempatan demi kesempatan pada Tuhan? Lalu… lalu saya merasa Allah harus yakin bahwa saya sudah berjuang sebegitu kerasnya?

Memalukan sekali. Sungguh.

Penyesalan terasa tak bermakna karena saya kalah sebelum mencoba.

Apa yang bisa dibanggakan?

 

Kehadirannya -orang-orang dengan semangat yang sama- menjadi pelipur sedih. Menjadi penyemangat bahwa saya masih dibersamai oleh mereka. Saya rasa tak ada yang lebih memalukan selain melakukan hal-hal bodoh di tengah orang-orang yang mengerahkan seluruh waktunya melakukan ikhtiar terbaik, tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa basa-basi.

Berada di antara orang-orang itu, membuat saya punya alarm positif dan gratis pula. Mereka hadir sebagai pengingat saat saya mulai ruwet dalam membaca prioritas hidup. Kehadiran mereka bagai tangan-tangan yang siap memukul kepala saya agar tidak mencla-mencle dalam mengikhtiarkan sesuatu.

Ini yang terakhir, lakukan apapun, sampai Allah yakin bahwa ada yang berjuang sebegitu kerasnya. Bukankah harusnya perasaan kurang dan tak pantas yang menggelisahkan membuat saya harusnya tahu bahwa itu isyarat yang Allah titipkan agar beristiqomah dalam berikhtiar?

Try it, right?

Kediri, 29 Oktober 2017

 

Pesan CintaMu dan Hal-hal yang Dihakimi Orang Lain

Dua minggu setelah wisuda sarjana, saya memilih pulang sementara ke rumah orangtua. Alasan yang pertama adalah karena waktu itu saya sedang sakit. Alasan kedua adalah karena banyak hal yang ingin saya persiapkan termasuk belajar melepaskan dan meninggalkan.

Saya pulang dengan kegelisahan dan mata yang mengharu biru, langkah kaki gontai, dan air mata yang siap jatuh kapanpun. Berbagai kenangan berlari-lari saat melemparkan pandangan di jendela kereta. Pertanyaan hidup yang dirapal dalam doa perlahan hanyut menjadi ketenangan tersendiri sepanjang perjalanan. Lalu saya berusaha menyimpulkan bahwa ini adalah pesan cintaMu untuk menjawab hal-hal abstrak tentang kompleksitas perasaan yang mendayu-dayu.

***

Dua minggu ini, saya punya banyak hal untuk dinikmati dan puluhan teman bicara dari orang-orang yang ditemui. Obrolan yang membuat semangat kadang hilang dan timbul. Seperti siang tadi, saya bertemu sahabat saya, sebut saja si A. Setelah sekian tahun tidak berjumpa dan komunikasi kami hanya sebatas lewat media sosial. Jarak yang cukup jauh membuat kami hanya berkomunikasi seadanya, and I do what I wanna do.

Setiap berbicara/ berkomunikasi dengannya, selalu membuat saya mampu meredam protes atas banyak hal di kehidupan yang tidak sesuai keinginan. Ia adalah orang baik yang saya percaya mampu membuka berbagai dimensi pemikiran saya tentang menjadi sebaik-baik manusia. Seringkali di saat bersamaan, Ia menunjukkan kepercayaan yang utuh untuk Allah walau terkadang hal-hal yang dipercayai tampak mudah dihakimi oleh orang lain.

Saya bersyukur karena dihadirkan oleh Allah orang yang selalu bersedia membagi keluasan ilmu dan keikhlasannya. Ia bercerita tentang kesempatan dan peran hidupnya untuk terus belajar bagaimana cara berpasrah dari petunjuk-petunjuk yang dibawa Allah dalam berbagai tempa. Menyimak kisahnya seperti diijinkan oleh Allah untuk terlibat dalam alur pikirnya. Retakan-retakan keraguan di kepala saya perlahan menemukan rumahnya untuk diletakkan sebagaimana peran seharusnya. Akhirnya, keberanian muncul dari mulut saya untuk mengatakan:

“Salah satu keinginan saya adalah saya ingin menjadi sepertimu”

Lalu lewat senyumnya Ia berusaha menjelaskan seolah Ia mempercayai bahwa saya bisa lebih baik darinya.

Tentu saja, sampai detik ini saya masih belajar darinya dalam mengelola prasangka baik, kesabaran, dan tersenyum tentang rencana Allah yang lagi-lagi akan mudah dihakimi oleh orang lain. Saya rasa setiap manusia akan mengalami ujiannya masing-masing namun darinya saya juga belajar memaknai pesan cinta Allah hingga tak ada yang bisa dilakukannya selain yakin dengan pertolonganNya.

Obrolan 5 jam tadi membuat saya menemukan remah-remah diri saya yang dulu hingga detik ini. Cerita-ceritanya membuat kekhawatiran saya luntur semudah yakin dengan kebaikan, petunjuk dan cinta yang dihadirkan Allah dari berbagai coba dan tempa.

Hingga muncul satu kesadaran untuk menyimpulkan bahwa saya harus siap. Dan dari matanya bisa tertangkap pesan bahwa saya harus memperjuangkan diri lebih keras lagi menterjemahkan pesan cintaNya.

Terimakasih untuk selalu yakin bahwa saya mampu belajar dan melihat dari cara yang benar. Terimakasih karena selalu menitipkan pesan cintaNya di setiap tutur yang terbagi. Terimakasih untuk kesadaran terbaik yang selalu membuat saya lebih berani dan baik-baik saja karena memilikiNya…

ps. ditulis sambil mengulang-ulang mendengarkan How Would You Fell-nya Ed Sheeran

Kediri, 28 Oktober 2017

 

Zona Nyaman

20160928_214134

Membaca blog-mu membuat saya memilih untuk mengganti playlist lagu di youtube dengan link lagu yang tercantum di blog-mu.

Mungkin itu salah satu cara Allah memberikan petunjuk tentang kehidupan yang sedang saya jalani sampai detik ini. Pada berbagai kesempatan, Allah menitipkan banyak orang untuk ditemui, menyimak kisahnya dan berkali-kali membuat saya terjebak pada alur pikirannya. Walau kadang lelah mendengarnya, saya rasa mereka -orang-orang yang saya temui- banyak memberikan kontribusi pikiran, pemahaman, dan persepektif baru tentang berbagai hal.

Mendengar cerita-cerita mereka membuat saya selalu berusaha mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu ditunjuk Allah untuk keluar dari zona nyaman. Akan selalu ada banyak PR untuk merapikan diri, berusaha sebaik mungkin memperbaiki niat dari segala ambisi yang ingin diraih.

Menyimak lagu itu membuat saya kembali berpikir sudah sejauh mana perjalanan saya. Menelaah satu per satu tujuan berbagai aktivitas yang saya lakukan. Kenyataannya, masih sangat jauh dari apa yang disebut berjuang dan justru penuh keluhan.

Katanya “Ngak ada yang lebih capek selain denger orang ngeluh capek terus.”

Dan saya tidak memilih menjadi seperti itu. Hari ini saya cukup senang keluar dari zona nyaman, meskipun sesederhana menulis lagi di blog ini.

Dengarkan lagunya di sini

 

Kediri, 26 Oktober 2017

 

Bergerak

Berapapun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menjauh dari kesepian yang semakin pahit, bergerak adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan.

Aku putuskan untuk menyingkirkan sepi dengan terus bergerak. Lagipula aku sudah terbiasa untuk membesarkan hati kalaupun seandainya kita memang berjarak. Semoga kamu tahu, ada banyak hal yang bisa aku lakukan untuk membunuh sepi, menjauhi hal-hal perih sendiri. Menghidupi diri dengan menghiburnya lewat banyak hal.

Aku buktikan kata-katamu bahwa khawatir adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dari cinta. Lalu mulai bergerak dan tak mau kalah pada keadaan adalah ego yang harus dijaga agar pikiran tak terlalu terbebani. Sesekali, bergerak membawaku pada kekhawatiran yang tak sesuai dengan saranmu. Aku mengkhawatirkan pilihanku. Aku mengkhawatirkan waktu tanpamu. Aku mengkhawatirkan ketidakmampuanku bahwa aku ingin sepertimu.

Lalu siapa yang sebenarnya pantas untuk dikhawatirkan? Kamu yang jauh di sana atau aku yang takut kehilanganmu?

Baiknya kita sama-sama terus bergerak untuk membuktikan jawaban yang sebenarnya.

Malang, 28 April 2017

Pura-Pura (delete soon)

Melengkapi yang hilang adalah keterasingan lain. Setelah kebahagiaan yang harusnya menemukan semangat baru, kini hanya tinggal abu yang siap ditiup angin.

Akan kubayangkan diriku sebagai yang terakhir menemukanmu. Membatin. Apakah dua-tiga-empat-lima jam cukup untuk mencegahku jadi korban keterasingan.

Hari ini aku menulis banyak. Kadang semangat terisi penuh, bahagia berlebihan, lalu menjadi acuh, dan sering kali menjadi orang paling lemah untuk menghadapi ini.

Bolehkah aku memilih pulang? Memulangkan hati yang kemudian menjadi beban. Memulangkan perasaan. Hingga berhasil menghirup kehidupan yang biasa-biasa saja. Dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang lainnya. Tak perlu pura-pura dan bangga atas kehebatan pura-pura itu.

Ah, semua memang hanya pura-pura.

Dear Ami #25 BATAS

Sebelum langit mulai mendung, aku ingin menjelaskan kegelisahan yang selama ini kita ributkan. Takutku bukan tentang kehilanganmu, tapi duka berkepanjangan. Memaksa kita membendung ingatan yang semestinya sudah terlupakan.

Pertama,

Aku memang tak mampu membawamu lari lebih jauh meninggalkan masa lalu yang menyakitkan itu. Sebab perjalanan panjang kita sudah tertakdir sebagai rangkai cerita penuh getir dan syair. Maka meski ada hati yang sulit untuk melepas, ada mata dan hatiku yang berhak mengajakmu menatap ke depan tanpa perlu mencari-cari alasan mengapa dirimu harus mengerti.

Kadang kita enggan melangkah ketika dirimu menemukan kebahagiaan dariku yang dulu. Percayalah, aku bisa membuatmu tersenyum dan menemukan aku yang baru dalam keadaan lebih baik dibandingkan ketika aku menemukanmu dulu. Dalam pandanganku, dirimu akan selalu punya kesempatan untuk mengenali hidupku. Kesedihan dan kebahagiaan punya batas yang tak mudah ditebak. Percayalah.

Kedua,

Kupikir aku tidak selalu memperlakukan diriku dengan baik. Entah apakah itu juga berdampak pada caraku memperlakukanmu? Aku belum sepenuhnya menemukan jawabannya. Hal itu lebih mudah memberimu alasan untuk berulang kali menegurku tentang “Buat apa belajar dan menulis banyak hal kalau kamu tidak bisa mengenali dirimu sendiri?”. Ketahuilah, aku telah lama membuat batas-batas nyaman yang bisa digunakan untuk menutupi kebohongan dan rasa takut tentang apapun itu. Jarak-jarak aman dengan mudah membuatku beranjak melupakan ketakutan dan memulai kebahagiaan dengan cara yang tidak wajar. Jauh lebih sakit menemukan diri bangun dan tertatih antara memperbaiki atau memulai yang baru. Semacam itulah jika aku berantakan dan kehilanganmu.

Tapi baiklah, akan kurapikan alasan-alasan yang membuat hidup ini rumit. Dari banyak hal tak terduga di luar rencana, akan kugunakan lebih banyak waktu yang sejak dulu begitu sempit untuk mengerti diriku sekaligus dirimu.

Ketiga,

Ketika penantian menjadi harapan tak bertuan. Kuharap kita saling berjuang meluruhkan ego. Aku ingin selalu menyapa rindumu. Dan kamu, kuharap siap menyapa kenangan-kenangan yang kubangun semalaman. Lalu kita, siap pulang dengan sisa-sisa kesenangan. Esoknya, terbangun dengan celoteh isi kepala tentang kerinduan dan kelegaan menuntaskan harapan.

Kita sering mengutuki kegagalan mengulang pertemuan dan sekaligus bisa saling menemukan disaat tidak sedang mencari. Hingga tak ada yang bisa kupilih selain berdamai dengan waktu. Tapi kini aku tak bisa. Aku tak lagi bisa hanya berdamai dengan waktu. Aku akan mengurainya pada tulisan-tulisan sederhana. Membuat batas kita penuh napas jika dibaca suatu saat nanti.

Terakhir,

Tak ada batas yang membuatku berhenti membuatmu merasa dicintai, dihargai, dan dimengerti dengan cara istimewa. Tak ada batas yang benar-benar menghalangi caraku membahagiakanmu dengan cara yang tak biasa, yang tak pernah terpikir orang lain.

 

Kediri, 24 April 2017

 

Kedai Kopi

 

Saya percaya, hidup adalah hidangan berisi pikiran dan perasaan yang selalu berubah sepanjang waktu. Ajaibnya, kualitas hidangan itu ditentukan oleh kualitas belajar kita. Untuk mendapatkan hidangan terbaik, ada perbincangan, pengalaman, proses belajar, penerimaan tentang hidup dan orang-orang terbaik dalam hidup ini. Sebagian orang, termasuk saya, akan memilih menikmati hidangan terbaik dalam bentuk makanan sekaligus obrolan.

Sejak lama, saya senang jika bertemu dan menjamu orang di kedai kopi, cafe, atau semacamnya. Berbagai macam pertemuan itu terekam di kepala sebagai “bahan belajar”. Biasanya orang-orang yang saya temui akan bercerita tentang kehidupannya secara lebih terbuka. Tak terhitung berapa cangkir kopi yang selalu saya habiskan untuk menjadi pendengar yang baik dari ceritanya. Tampaknya saya lebih pantas menjadi pengunjung teladan di kedai-kedai kopi.

Tapi tiga tahun belakangan agaknya cukup berbeda, saya mengunjungi kedai kopi atau cafe sendirian. Di antara tuntutan kehidupan dan target pencapaian yang terus bertambah, mengunjungi kafe adalah kelegaan tersendiri. Seringkali saya memilih tempat di pojok dan dekat sudut-sudut jendela untuk sekedar memesan kopi dan beberapa makanan. Dan entah mengapa, datang ke kafe sambil membawa laptop justru membuat saya jauh lebih produktif dan berhasil mengerjakan banyak hal.

Di kafe, saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah, saya mengerjakan skripsi. Menyelesaikan tulisan-tulisan. Menyelesaikan project-project pesanan. Juga termasuk menumbuh-kembangkan pikiran dan hasil belajar untuk di realisasikan sebagai life goals. Akan selalu ada ide, cerita, dan kawan-kawan baru yang bisa saya temukan sambil duduk dan menyeduh cangkir-cangkir kopi.

Begitulah, rasanya saya menemukan kebahagiaan dan doa yang terwujud bersamaan dengan menikmati beragam hidangan, buku-buku, dan setumpuk rencana berisi perbaikan masa depan. Saya menikmatinya untuk beristirahat dari ramai jalanan sekaligus berjuang mewujudkan mimpi. Menjelang senja, cangkir pertama di kedai kopi bisa saja membuat segala sesuatunya menjadi baik dan mudah.

Waktu Tunggu

Berapa lama aku harus mempersiapkan waktu untuk menjadi sepertimu? Paling tidak ada di posisi satu garis di belakangmu.

Apa yang kamu tunggu? Jawabanmu itu seolah menegaskan bahwa ada sesuatu yang masih terpisah dari diriku.

Pada satu kondisi, aku kerapkali susah tidur. Jika begitu, aku sering memilih memainkan ibu jari. Mengetikkan beberapa pertanyaan yang kukirim untukmu. Hari-hari belakangan adalah sesuatu yang amat pelik untuk dikhawatirkan yang berujung pada obrolan tengah malam kita. Ada beberapa kejadian yang selalu payah untuk kuusahakan. Salah satunya mungkin masa depan.

Katamu, bagaimana mungkin aku bisa lupa jadwal minum obat dan sering lalai untuk cek kesehatan, lalu tak peduli soal makanan. Bagaimana mungkin kamu tak sempat menjaga hal-hal kecil itu?. Pertanyaan yang kamu jawab juga dengan pertanyaan menjadi lukisan kebodohan yang aku lakukan.

Kamu lalu menjelaskan, menerangkan banyak hal. Ada cara-cara hidup yang dengan fasih ingin kamu hadirkan di perjalananku. Walaupun mungkin tidak mudah. Luka memar selama perjalanan memang tak pernah mudah hilang, namun membincangkan hal ini bersamamu semoga membantu menyembuhkan.

“Kamu tak perlu menggadaikan seluruh hidupmu untuk berjuang, berkorban, dan menanggung penyesalan atas apa yang tidak bisa kamu lakukan di masa lalu, pada beberapa kesempatan. Kamu hanya perlu menggadaikan sebagian waktumu yang sudah kamu rencanakan untuk melakukan perjuangan, pengorbanan, dan ujian kesabaran.”

Ah sungguh aku telah melewatkan banyak hal itu. Akhirnya kamu juga menjadi salah satu orang yang berbaik hati menegurku. Akhirnya aku menyerah pada kalimat terakhirmu. Gamang yang semakin menunjukkan eksistensinya. Remang-remang lampu mulai memperhitungkan perasaan dari hati yang selalu berseberangan. Dan hari ini aku perlu berdamai dengan diriku, dengan penyesalan dan masa lalu. Aku memastikan bahwa diriku akan mulai melakukan sesuatu untuk menjawab pertanyaan masa lalu. Semua yang akan dihadapi ataupun yang pernah terlewat untuk dilakukan adalah sekumpulan urusan yang harus diselesaikan.

Dan tentu saja, kamu adalah rindu yang harus dituntaskan.

Terimakasih untuk bantuannya membuatkan satu paket agenda kegiatan yang melengkapi hari-hariku.

Dia (Mungkin) Menulis

Siapapun bisa kagum oleh capaian prestasimu yang mengular sepanjang tahun. Beda denganku yang harus mencari ribuan alasan untuk bisa mengagumimu dari sisi lain. Pertemuan kita hanya sebatas dua labirin pintu yang terbuka di dunia maya. Tentu kita belum sempat bertatap muka dalam waktu yang entah sampai kapan. Tentu saja, sepanjang masa itu aku tak mampu menerka isi hatimu.

Agaknya meski terjarak oleh dua benua, tak sepenuhnya menghalangi perkenalan kita. Kamu menjadi sosok yang lugas mengungkapkan siapa dirimu dan apa keinginanmu lewat tulisan-tulisanmu di blog. Akupun bisa tersenyum dan bersuara ringan lewat tulisan untuk menyatakan banyak hal yang lebih sulit tersampaikan langsung. Aku ingin di belakangmu saja untuk kali ini.

Perkenalan yang cukup menguras pikiran, bukan?

Senja yang berganti rupa seringkali membawaku pada perasaan berbeda. Membuka dan membacamu di berbagai tulisan agaknya membuat hari dan hatiku bercabang. Di satu sisi aku terus diingatkan untuk menyelesaikan berbagai urusanku dengan diriku sendiri, di sisi lain tuntutan menyempurnakan hidup dengan berbagai capaian semakin mendekati batas akhir. Kamu pasti tahu maksudku jika membaca tulisan ini.

Kehadiranmu dan tulisan-tulisanmu bukan sekedar penunjuk tapi sekaligus menjadi ‘kehidupan yang lain’ untukku. Aku disibukkan lagi oleh kebahagiaan untuk menghidupi mimpi-mimpiku yang mulai kering dan gersang. Pada satu kondisi, perasaanku itu menjadikanku berani untuk mengajukan permintaan padamu

“Tolong tulisakan sesuatu yang pernah pertama kali mengajakmu jatuh untuk menulis, lalu kenapa kamu tidak pernah mau terpisah darinya. Tulis saja semua yang kamu ingat. Aku yang akan membacanya pertama kali.”

Apakah ini berlebihan?