Ami; yang Tak Akan Selesai Saya Rindukan

Terbangun pukul 03.00 dengan perasaan berdebar. Lalu menengok ke sebelah kiri untuk memastikan bahwa kamu masih di sini dan baik-baik saja. Syukurlah, pertemuan kita beberapa jam sebelum ini cukup menakutkan untuk saya. Melakukan perjalanan jauh sekira 68 kilometer untuk menemuimu, memastikan bahwa saya hadir kapanpun untuk terjaga dan menjaga.

Kamu perlu tahu bahwa saya takut jika harus berjarak lagi. Berjeda lagi.

Saya takut, saat harus merelakanmu berkemas lalu pergi dan dering notifikasi chat di whatsapp tak henti berbunyi untuk mengkonfirmasi keadaanmu.

Kita tahu, sampai kapanpun tak akan pernah lelah berbagi dekap saat temu berpihak pada kita, meskipun nyatanya saya tak lagi bisa setangguh dulu saat tak bersamamu.

Sebab inilah mungkin perjuangan yang kita harap akan mencipta makna dari takdir-takdir kecil  yang Allah rencanakan. Dan kemarin, saat pundakmu masih saja menjadi tempat menopang segala rindu dan tangan lembutmu mengusap tangis, bisa-bisanya saya masih bertanya, “Apa Ami sayang sama, Mbak?”

Tulungagung, 5 April 2018

Advertisements

“Selepas 30”

Selepas 30 saya memutuskan pulang. Kesibukan saya hanyalah mencari bantuan. Untuk menemukan permulaan baru. Untuk mencari jalan pulang ke kanan kiri. Untuk menemukan ketulusan. Untuk menyembuhkan apapun yang terjadi dalam diri saya.

Setiap orang akan melewati fase “tercabik” bahkan “meraung” saat memutuskan meninggalkan zona nyamannya, tentunya ini juga berkaitan dengan saya yang kemudian harus menerima kenyataan bahwa saya “berjarak” dalam definisi sesungguhnya dengan Ami. Butuh latihan 14 hari sekali untuk bisa bertemu selama beberapa bulan belakangan dan secangkir kopi tanpa gula di meja kerja untuk menghilangkan pahit jarak yang semenyiksa ini.

Dan pada akhirnya, saya menyerah di meja dokter dengan diagnosa yang sudah terduga, “Stress? Kambuh lagi? Udah sempat gemukan kok kurusan lagi?”

Fiiuuuh…

Hati saya tahu ini hanya awal dari sebuah proses yang sangat panjang untuk mengalahkan segala ketidakberdayaan karena rindu. Meskipun rasanya sempat hancur dipecundangi diri sendiri itu memalukan. Saat melepas 30 hari, detik ini, tepat hari ini, adalah tentang malas bangun pagi sepanjang hari karena merasa hidup berhenti, adalah tentang membuka laptop jam 8 pagi ditemani lagu-lagu sendu. Saat melepas 30 adalah tentang mengingat pesan Ami untuk menghitung hari tercepat agar segera bertemu.

Selepas 30 hari ini, mungkin akan lebih baik otak digunakan untuk berlari atau mengisi tulisan-tulisan di blog ini. Atau senyum manis sepanjang lamunan yang ditimbulkan hal-hal kecil yang sering kita lakukan bersama belum juga hilang dari ingatan.

Memilih (atau jika boleh menyebut lebih tepat “dipilihkan”) hidup hari ini ternyata sesulit memfokuskan segala sesuatu pada diri saya.

Drama banget nggak sih? Mungkin… Tapi hati saya yakin, suatu hari saya akan mengenang apapun hari ini, seperti perjuangan-perjuangan lain yang tak layak dikeluhkan. Sebab, ini bukan tentang meninggalkan, tapi mempersiapkan hati terbiasa merasakan jarak tanpa harus dirasakan. Maka pelan-pelan…

 

Semoga saya, tidak benar-benar bodoh untuk tidak melangkah… Kalau tak salah hitung, hari ini selepas 30 hari sejak hari terakhir aku pamit pulang. Selepas 30 hari tanpamu, Mi.

Kediri, 26 Maret 2018

 

Semestinya

Hampir 2 minggu tak menyentuh buku dan dua bulan lebih melewatkan mengisi jurnal harian di blog ini. Ada banyak hal yang terlewatkan akibat kelengahan diri yang semakin menjadi-jadi. Mendadak tersentak dengan topik obrolan dengan beberapa teman seminggu ini.

“Aku ngrasain deh sekarang banyak kehilangan hal-hal dan pikiran-pikiran positif semenjak kurang baca buku. Rasanya aku stress karena kurang “gizi”. Sepertinya kamu juga begitu, ada banyak hal yang hilang darimu.” katanya sambil membelokkan motor ke sebuah rumah makan.

“Sama…” kataku singkat.

Mata saya kemudian seolah bisa melihat ke dalam diri tentang segala hal yang tak kunjung selesai dilakukan sebagai “manusia” yang punya segala kesempatan dan potensi. Lalu, tiba-tiba saya merindukan Rahka dengan perahu kainnya, atau Nezha dengan pohon gulanya. Di tengah carut-marut waktu yang meminta diperhatikan, pada akhirnya hanya berujung mencemaskan setiaop orang.

Saya tahu banyak orang lebih sering terlibat dalam kehidupan saya akhir-akhir ini, tapi tidak untuk menjadi apa yang benar-benar saya butuhkan. Tidak untuk setidaknya membuat saya selalu jatuh cinta pada tulisan dan buku-buku.

Dan diam. Memikirkan berbagai cara untuk kembali pada proses yang sudah dibangun mati-matian. Kehadiran orang-orang yang sefrekuensi semestinya bisa lebih cepat membantu “masa pemulihan” dan meringankan jalan ini. Karena, tahun ini terlalu besar dan krusial untuk tidak direncanakan.

Selamat berkarya dan menemukan kembali hidupmu!

Kediri, 13 Maret 2018

 

 

Jatuh

Ada banyak kejadian kecil hari ini yang semestinya membuat saya bercermin dan bertanya kepada diri sendiri. Saya mengetik ini tepat setelah menikmati perjalanan ke Malang dengan kereta api. Sengaja ingin menuliskannya sesegera mungkin agar tidak kehilangan getaran perasaan yang ingin disampaikan. Walau rasanya kepala sudah mau copot saja.

***

Dahulu, saya sudah menyiapkan sebuah buku kecil berwarna biru yang berisi serentetan kegiatan yang harus dilakukan – apa saja yang tak boleh dilakukan – dan sekumpulan rencana A, B, C tentang masa depan. Setiap waktu, buku itulah yang menjadi “makanan” saya untuk tetap menjaga mood agar selalu baik.  

Saya bersyukur, hal itu berhasil “menjaga” perasaan saya dari hal-hal negatif yang ada hingga akhirnya mampu menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan baik.

Sampai pada akhirnya 18 bulan yang lalu ada pertanyaan lain seperti “Apa yang bisa dilakukan setelah menjadi yang terbaik?” yang kemudian membuat saya berhenti melakukan rutinitas menulis di buku kecil tersebut. Hari ini saya menemukan jawabannya setelah sekian lama memikirkan jawaban yang tepat.

Jawaban itu adalah “Jatuh!!”

Ya… memang jatuh! Saya menikmati semua hal terbaik yang sudah dan sedang saya miliki saat itu. Menyelesaikan dengan baik satu per satu dari daftar panjang impian saya di buku itu. Lalu jatuh!

Ternyata hanya butuh hati untuk bisa memahami bahwa jatuh adalah menolak merasa nyaman dengan keadaan. Lalu saya mulai berdamai dengan “jatuh”, berhenti mengutuki setiap hal-hal yang gagal saya lakukan dengan baik. Jatuh-lah yang mengantar saya belajar untuk berdiskusi dengan diri sendiri dan berusaha mencari jalan-jalan baru untuk dinikmati, bukan justru memutuskan jalan dengan mengutuki proses “jatuh”-nya.

Akhirnya saya pun bersyukur sudah diberikan kesempatan jatuh -lagi. Sebab ternyata tak ada jalan lain lagi setelah jatuh selain kembali mendaki. Semestinya, saya juga beterimakasih kepada diri saya karena sudah rela meluangkan waktu melambatkan impian untuk membersamai banyak orang di sekeliling saya. Mendukungnya.

Its not about me but maybe will affect my future.

tapi apa setelah ini?

Mungkin akan ada perjalanan panjang lain yang sudah mulai saya persiapkan. Tapi kali ini berjalannya pelan-pelan sambil menjaga keinginan agar tidak menyakiti hati banyak orang. Ini semua hanya soal visi yang semoga lebih besar dan bermanfaat karena dikerjakan sembari berusaha belajar mendahulukan Tuhan.

Selamat datang lagi ketekunan yang menggebu-gebu walau harus dimulai -lagi- dari titik terendah. Tidak perlu canggung, mungkin perasaan takut perlahan akan hilang jika lebih sering dilatih untuk yakin dan percaya.

Tuhan sudah berbaik hati memberimu kekuatan untuk terus melangkah, sesekali membuat saya bercermin dan sering menyelamatkan saya dari pikiran-pikiran yang dangkal. Lebih baik mengurangi waktu mempertanyakan segala hal karena semua yang dicari sudah ditemukan (orang-orang yang mau selalu membersamai semangat saya). Tuhan pun berbaik hati membukakan semua pintu yang ingin saya pilih. Dan saya tidak ingin menjadi seorang yang bodoh, yang pura-pura tidak tahu kebenaran yang ada di depan mata saya sendiri.

Maka, jatuh akan lebih baik dipenuhi dengan langkah-langkah kecil yang layak dilakukan dan bukan lagi sekedar menimbun pertanyaan “Apa yang saya inginkan?”

Malang, 28 November 2017

 

UNTUK DIINGAT: Menunda dan Ikhtiar yang Setengah-setengah

Saya harus menuliskan ini meski rasanya seperti merekam setiap kebodohan yang telah dilakukan.

Di luar sana, ada puluhan orang yang sedang mati-matian menjinakkan perasaan malas-tak berdaya-dan tanpa kompromi.

Hidup terasa membingungkan akhir-akhir ini. Terlebih dihadapkan dengan konsekuensi atas sikap yang kurang tegas. Sederet topik essay tertempel di dinding kamar, puluhan desain foto menggantung di antara jepitan kayu, konsep-konsep hidup yang sejatinya menjadi pengingat langkah yang harus diambil lama-lama mulai berdebu.

Sore ini -untuk sekali lagi- saya paham dan menyesali tentang konsekuensi ‘menunda’.

Siapa yang akan bertanggungjawab?

Haruskah kalimat itu keluar sebagai pertanyaan? Bagi saya kok rasanya memalukan untuk dijawab. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari ikhtiar yang setengah-setengah dan kebodohan yang berpotensi terulang.

Dua puluh dua tahun dan menyadari semakin hari tak lebih baik. Ah rasanya menyesakkan. Perasaan gagal, kurang, tidak pantas, ingin berhenti dalam suatu hal yang saya anggap penting menjadi catatan tersendiri tentang kinerja saya di masa muda.

“Wah keren yaa, sudah bisa melakukan apa yang diinginkan?”

Pernyataan macam itu yang saya dengar dari  beberapa orang sejujurnya membuat saya risih. Entah karena peduli, kepo, atau hanya basa basi, saya rasa sudah terlalu sering ikhtiar-doa-harapan-dan waktu yang saya permainkan, yang tidak sesuai dengan apapun penilaian orang tentang “wah keren ya”. Bukankah itu sebuah kesombongan? Ya. Kesombongan mempermainkan waktu dan ikhtiar yang setengah-setengah.

Saya masih jauh dari si A yang mempersiapkan suatu hal dengan baik. Ia adalah orang yang saya rasa tidak pernah punya alasan untuk menunda-protes-ataupun setengah-setengah. Setidaknya itu yang saya tangkap dari gerak-gerik dan cerita yang dibagikan pada saya sejauh ini.

Lalu setelah semua yang tertunda dan ikhtiar yang terlambat disadari masih setengah-setengah, saya masih berani-beraninya memohon kesempatan demi kesempatan pada Tuhan? Lalu… lalu saya merasa Allah harus yakin bahwa saya sudah berjuang sebegitu kerasnya?

Memalukan sekali. Sungguh.

Penyesalan terasa tak bermakna karena saya kalah sebelum mencoba.

Apa yang bisa dibanggakan?

 

Kehadirannya -orang-orang dengan semangat yang sama- menjadi pelipur sedih. Menjadi penyemangat bahwa saya masih dibersamai oleh mereka. Saya rasa tak ada yang lebih memalukan selain melakukan hal-hal bodoh di tengah orang-orang yang mengerahkan seluruh waktunya melakukan ikhtiar terbaik, tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa basa-basi.

Berada di antara orang-orang itu, membuat saya punya alarm positif dan gratis pula. Mereka hadir sebagai pengingat saat saya mulai ruwet dalam membaca prioritas hidup. Kehadiran mereka bagai tangan-tangan yang siap memukul kepala saya agar tidak mencla-mencle dalam mengikhtiarkan sesuatu.

Ini yang terakhir, lakukan apapun, sampai Allah yakin bahwa ada yang berjuang sebegitu kerasnya. Bukankah harusnya perasaan kurang dan tak pantas yang menggelisahkan membuat saya harusnya tahu bahwa itu isyarat yang Allah titipkan agar beristiqomah dalam berikhtiar?

Try it, right?

Kediri, 29 Oktober 2017

 

Pesan CintaMu dan Hal-hal yang Dihakimi Orang Lain

Dua minggu setelah wisuda sarjana, saya memilih pulang sementara ke rumah orangtua. Alasan yang pertama adalah karena waktu itu saya sedang sakit. Alasan kedua adalah karena banyak hal yang ingin saya persiapkan termasuk belajar melepaskan dan meninggalkan.

Saya pulang dengan kegelisahan dan mata yang mengharu biru, langkah kaki gontai, dan air mata yang siap jatuh kapanpun. Berbagai kenangan berlari-lari saat melemparkan pandangan di jendela kereta. Pertanyaan hidup yang dirapal dalam doa perlahan hanyut menjadi ketenangan tersendiri sepanjang perjalanan. Lalu saya berusaha menyimpulkan bahwa ini adalah pesan cintaMu untuk menjawab hal-hal abstrak tentang kompleksitas perasaan yang mendayu-dayu.

***

Dua minggu ini, saya punya banyak hal untuk dinikmati dan puluhan teman bicara dari orang-orang yang ditemui. Obrolan yang membuat semangat kadang hilang dan timbul. Seperti siang tadi, saya bertemu sahabat saya, sebut saja si A. Setelah sekian tahun tidak berjumpa dan komunikasi kami hanya sebatas lewat media sosial. Jarak yang cukup jauh membuat kami hanya berkomunikasi seadanya, and I do what I wanna do.

Setiap berbicara/ berkomunikasi dengannya, selalu membuat saya mampu meredam protes atas banyak hal di kehidupan yang tidak sesuai keinginan. Ia adalah orang baik yang saya percaya mampu membuka berbagai dimensi pemikiran saya tentang menjadi sebaik-baik manusia. Seringkali di saat bersamaan, Ia menunjukkan kepercayaan yang utuh untuk Allah walau terkadang hal-hal yang dipercayai tampak mudah dihakimi oleh orang lain.

Saya bersyukur karena dihadirkan oleh Allah orang yang selalu bersedia membagi keluasan ilmu dan keikhlasannya. Ia bercerita tentang kesempatan dan peran hidupnya untuk terus belajar bagaimana cara berpasrah dari petunjuk-petunjuk yang dibawa Allah dalam berbagai tempa. Menyimak kisahnya seperti diijinkan oleh Allah untuk terlibat dalam alur pikirnya. Retakan-retakan keraguan di kepala saya perlahan menemukan rumahnya untuk diletakkan sebagaimana peran seharusnya. Akhirnya, keberanian muncul dari mulut saya untuk mengatakan:

“Salah satu keinginan saya adalah saya ingin menjadi sepertimu”

Lalu lewat senyumnya Ia berusaha menjelaskan seolah Ia mempercayai bahwa saya bisa lebih baik darinya.

Tentu saja, sampai detik ini saya masih belajar darinya dalam mengelola prasangka baik, kesabaran, dan tersenyum tentang rencana Allah yang lagi-lagi akan mudah dihakimi oleh orang lain. Saya rasa setiap manusia akan mengalami ujiannya masing-masing namun darinya saya juga belajar memaknai pesan cinta Allah hingga tak ada yang bisa dilakukannya selain yakin dengan pertolonganNya.

Obrolan 5 jam tadi membuat saya menemukan remah-remah diri saya yang dulu hingga detik ini. Cerita-ceritanya membuat kekhawatiran saya luntur semudah yakin dengan kebaikan, petunjuk dan cinta yang dihadirkan Allah dari berbagai coba dan tempa.

Hingga muncul satu kesadaran untuk menyimpulkan bahwa saya harus siap. Dan dari matanya bisa tertangkap pesan bahwa saya harus memperjuangkan diri lebih keras lagi menterjemahkan pesan cintaNya.

Terimakasih untuk selalu yakin bahwa saya mampu belajar dan melihat dari cara yang benar. Terimakasih karena selalu menitipkan pesan cintaNya di setiap tutur yang terbagi. Terimakasih untuk kesadaran terbaik yang selalu membuat saya lebih berani dan baik-baik saja karena memilikiNya…

ps. ditulis sambil mengulang-ulang mendengarkan How Would You Fell-nya Ed Sheeran

Kediri, 28 Oktober 2017

 

Zona Nyaman

20160928_214134

Membaca blog-mu membuat saya memilih untuk mengganti playlist lagu di youtube dengan link lagu yang tercantum di blog-mu.

Mungkin itu salah satu cara Allah memberikan petunjuk tentang kehidupan yang sedang saya jalani sampai detik ini. Pada berbagai kesempatan, Allah menitipkan banyak orang untuk ditemui, menyimak kisahnya dan berkali-kali membuat saya terjebak pada alur pikirannya. Walau kadang lelah mendengarnya, saya rasa mereka -orang-orang yang saya temui- banyak memberikan kontribusi pikiran, pemahaman, dan persepektif baru tentang berbagai hal.

Mendengar cerita-cerita mereka membuat saya selalu berusaha mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu ditunjuk Allah untuk keluar dari zona nyaman. Akan selalu ada banyak PR untuk merapikan diri, berusaha sebaik mungkin memperbaiki niat dari segala ambisi yang ingin diraih.

Menyimak lagu itu membuat saya kembali berpikir sudah sejauh mana perjalanan saya. Menelaah satu per satu tujuan berbagai aktivitas yang saya lakukan. Kenyataannya, masih sangat jauh dari apa yang disebut berjuang dan justru penuh keluhan.

Katanya “Ngak ada yang lebih capek selain denger orang ngeluh capek terus.”

Dan saya tidak memilih menjadi seperti itu. Hari ini saya cukup senang keluar dari zona nyaman, meskipun sesederhana menulis lagi di blog ini.

Dengarkan lagunya di sini

 

Kediri, 26 Oktober 2017

 

Bergerak

Berapapun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menjauh dari kesepian yang semakin pahit, bergerak adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan.

Aku putuskan untuk menyingkirkan sepi dengan terus bergerak. Lagipula aku sudah terbiasa untuk membesarkan hati kalaupun seandainya kita memang berjarak. Semoga kamu tahu, ada banyak hal yang bisa aku lakukan untuk membunuh sepi, menjauhi hal-hal perih sendiri. Menghidupi diri dengan menghiburnya lewat banyak hal.

Aku buktikan kata-katamu bahwa khawatir adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dari cinta. Lalu mulai bergerak dan tak mau kalah pada keadaan adalah ego yang harus dijaga agar pikiran tak terlalu terbebani. Sesekali, bergerak membawaku pada kekhawatiran yang tak sesuai dengan saranmu. Aku mengkhawatirkan pilihanku. Aku mengkhawatirkan waktu tanpamu. Aku mengkhawatirkan ketidakmampuanku bahwa aku ingin sepertimu.

Lalu siapa yang sebenarnya pantas untuk dikhawatirkan? Kamu yang jauh di sana atau aku yang takut kehilanganmu?

Baiknya kita sama-sama terus bergerak untuk membuktikan jawaban yang sebenarnya.

Malang, 28 April 2017

Pura-Pura (delete soon)

Melengkapi yang hilang adalah keterasingan lain. Setelah kebahagiaan yang harusnya menemukan semangat baru, kini hanya tinggal abu yang siap ditiup angin.

Akan kubayangkan diriku sebagai yang terakhir menemukanmu. Membatin. Apakah dua-tiga-empat-lima jam cukup untuk mencegahku jadi korban keterasingan.

Hari ini aku menulis banyak. Kadang semangat terisi penuh, bahagia berlebihan, lalu menjadi acuh, dan sering kali menjadi orang paling lemah untuk menghadapi ini.

Bolehkah aku memilih pulang? Memulangkan hati yang kemudian menjadi beban. Memulangkan perasaan. Hingga berhasil menghirup kehidupan yang biasa-biasa saja. Dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang lainnya. Tak perlu pura-pura dan bangga atas kehebatan pura-pura itu.

Ah, semua memang hanya pura-pura.