Dear Mami #16 Namamu Tiga Tahun Lalu

Kalau tiga tahun yang lalu aku tidak rajin menempatkan diri duduk di bangku paling depan sebuah ruang perkuliahan, mungkin kisah ini tidak akan pernah ada. Sebelum aku menjelma seorang yang dingin sekaligus mengurangi interaksi dengan orang lain, aku sudah mengenalmu. Lewat selembar kertas berisi data yang salah satunya tertulis namamu. Singkat waktu, aku lancar mendeskripsikanmu dengan berbagai penafsiran. Tentu saja hanya penafsiran abal-abal khayalanku yang entah mengapa hampir sepenuhnya benar.

Masih terang diingatanku ketika aku rajin mengulur-ulur waktu pulang kuliah demi menungguimu di seberang jalan. Hanya demi memastikan bahwa kau tak sendirian untuk pulang. Waktu itu mami duduk di bangku depan warung, berseberangan dari tempatmu kerja. Aku duduk dengan seorang kawan di sisi jalan yang lain, menikmati semangkuk bakso yang sebenarnya tak enak, menanggapi obrolan teman yang setengah-setengah aku dengarkan, karena mataku masih terjaga memperhatikan gerak gerikmu di seberang jalan.

Aku sadar saat itu aku bukan siapa-siapa tapi untuk menjadi yang spesial di matamu, ini adalah cikal bakalnya. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan diriku yang seketika melayang penuh ketenangan setelah melakukan hal-hal kecil itu. Aku memang suka bertanya pada diriku sendiri. Pertanyaan-pertanyaan konyol yang bagi sebagian orang mustahil. Aku membayangkan bagaimana jika aku yang selalu di sampingmu? Apa yang bisa aku kenal darimu? Bagaimana caranya? Aku tahu pertanyaan itu yang setiap hari menjadi kesenangan tersendiri untuk mencari akal menjawab keraguan. Maka sering aku bayangkan setiap malam kalau aku memang benar-benar ada untukmu. Di sampingmu. Dan segala tentangmu adalah teman khayalanku sebelum tidur.

Satu hal yang sampai detik ini membuat aku bahagia adalah mengenalmu. Meresapi makna di balik kesengajaan Tuhan mempertemukan kita. Meskipun aku merasa masih cukup aneh mengapa di antara sekian nama yang aku baca, hanya namamu yang menarik perhatianku?

Dear Mami #15 Pikirkan Apa Adanya

Angin apa yang membawa kesedihan ini merambat sampai ke otak. Mungkin tidak hari ini semua bisa diselesaikan, pun segala kegundahan teratasi. Tapi sampai detik dimana  kamu harus bergerak, lakukanlah. Sekecil apapun langkah akan punya makna. Sepanjang apapun hidup yang tak akan pernah bisa ditebak hasilnya, tak ada yang boleh berhenti.

Tadi aku menatapmu penuh tanya, seolah merasa berdosa atas ketidakmampuanku menerjemahkan senyummu. Aku menatapmu lekat dari jarak yang terbilang cukup jauh, dari kepala sampai ke kaki. Bagaimana bisa aku bohong? Aku mengagumimu. Lupakan soal pesona, kau tak butuh pesona untuk mengundang tangis haruku. Tidak. Jujur saja ada beberapa hal yang tak bisa aku mengerti. Bagaimana aku bisa membencimu sedemikian hebat sekaligus mengagumi tanpa perlu ditegaskan. Aku mungkin yang salah menerjemahkan senyummu waktu itu, aku yang membencimu.

Aku pernah tersipu menjauh darimu untuk berdusta, berdusta atas rasa yang tidak ingin aku akui. Tapi biarlah saja, waktu akhirnya yang akan menghitung mundur siapa yang akan membuktikan. Aku selalu merindukan hadirmu, seerat saat aku selalu menyembunyikanmu karena takut kehilangan. Tapi biarkan saja, aku tak akan membiarkan waktu meninggalkanmu di belakangku.

Rencana tak akan lebih baik dari takdir yang dipilihkan untuk kita. Ketika kebebasan memilih arah menjadi satu sebab yang tak kita tahu alasannya, aku tetap memilihmu disampingku. Dulu saat aku lebih sering tergagap untuk menatap atau berpaling menahan malu, semua terlalu manis untuk sekedar hilang.

Ah, aku tentu merindukan celotehmu, yang hangat. Aku tentu juga merindukan kehadiranmu, yang kaya cinta. Sekali waktu terdengar tawamu yang renyah di telingaku meski kau tak hadir di sampingku. Ingatanku selalu lebih cepat mencari matamu di hatiku. Lalu, detak jantungku berpacu melebihi kecepatan rata-rata. Nyatanya, semua yang tergambar di ingatan sama seperti yang dulu. Mata dan pesona yang membuatku jatuh cinta berkali-kali.

Dan sebanyak apapun aku mulai membayangkanmu, semua tiba-tiba menjadi menyenangkan, membahagiakan dan tentu menggairahkan. Lantas, aku adalah satu-satunya orang yang pantas merawat rindu untukmu, tak akan pergi tanpa pernah berjanji untuk kembali.

Hening. Sementara pikiranku masih melayang-layang hingga awal pertemuan kita pada beberapa tahun lalu.

Dear Mami #14 Aku yang Takut

Selimut ini tak pernah hangat tanpa tanganmu. Semalam aku disampingmu, pura-pura tidur sambil menggenggam erat kedua tanganmu, menikmati usapan lembut telapaknya di kepalaku. Seketika setelah itu mataku terpaku pada setiap lekuk wajahmu, ada air mata yang aku usap sendiri memandangimu, wajahmu dan segala keriputnya. Tanpa pernah bertanya mengapa kau hadir, selalu bisa kuhitung berapa lama kita akan saling bertahan di sisi satu sama lain. Aku berbahagia atasnya, menghitung sepanjang apa aku bisa menemanimu, entah sepanjang apa aku berjalan membawamu kepada sebuah perasaan tanpa keterpaksaan.

Aku sendirian, menelanjangi setiap hal konyol yang selama ini aku lakukan cuma-cuma tanpa imbalan apapun, tanpa permintaan dan pertanggungjawaban apapun, aku hanya melakukan dan akan terus melakukan. Doa-doa tak hanya sebagai canda dan goda semata, ia adalah bahagia yang terpancar setiap aku disampingmu, tanpa itu aku rasanya tak bernyawa apapun.

Aku memang tidak pernah sekuat dulu saat pertama kali di kota ini, tidak semandiri dulu yang kemana-mana bisa sendiri dan melakukan apapun sendiri. Tapi kau tahu mi, dulu aku sendirian dan mencari pengangan selain Tuhan. Aku satu-satunya orang yang beruntung mengenalmu, bersamamu, memelukmu sekaligus hadir di hidupmu. Kau pun demikian, menyediakan seluruh waktu untuk aku miliki. Sekeras apapun mami memintaku untuk seperti dulu, tak akan bisa sama seperti dulu, satu-satunya yang bisa aku pertanggungjawabkan tentang diriku yang dulu dan sekarang hanyalah: aku masih mencintaimu dan aku takut kehilanganmu.

Dear Mami #13 Sisa Kepasrahan

 

Bagaimana bisa perasaan tumbuh sehebat ini setelah sebelumnya tidak ada satupun pertemuan yang kita inginkan. Bahwa awal yang kita mulai adalah sebuah kesempatan menjadikan kita ingin dimengeri dan ingin mengerti satu sama lain. Waktu itu, di kelasmu adalah ruang yang nyaman bagiku berbagi kasih dan kisah di antara kesibukan melakukan apapun di kota yang entah mengapa terlalu dingin tanpamu.

Setelah sekian waktu berlalu, berbagai macam kisah kita ciptakan meski tanpa sepengetahuan satu sama lain. Di sela itu, ada cinta yang kita selipkan sebagai pemanis kegiatan sehari-hari. Tidak ada keraguan apapun kala itu, seolah tahu siapa yang menggerakkan, maka itulah takdir yang diikuti. Dan bagaimana bisa kita sehebat itu mempercayai takdir sebagai suatu yang kita yakini akan terwujud.

Belakangan aku lebih sering menangis, karenamu, menahan semua kegelisahan yang kita titipkan pada keberpasrahan. Pada semua ketidakmampuan kita mengendalikan keadaan, ada keyakinan yang dititipkan pada pasrah. Semua terkumpul menjadi satu molekul yang mengantarkan kita pada apa yang disebut kerinduan.

Aku ingin menitipkan banyak kerinduan untukmu, agar kelak suatu hari nanti tidak ada lagi yang bisa aku sisakan selain banyaknya kebahagiaan dan kenangan yang menggunung memenuhi kebahagiaan di hatimu. Mi, aku hadir untukmu, menjadi segala tawa dan bahagia untuk kau kenang

Title: Dear Mami #12 Salam Sayangku di Hari Ultahmu

Selamat menua dengan penuh bahagia, Mi. Doaku meliputi setiap kehendakmu yang kau ingini.

Mi, mungkin orang-orang akan terus bertanya soal siapa aku, lalu apa aku akan meninggalkanmu, atau bahkan pertanyaan yang mengandung keraguan tentang berapa lama aku akan bertahan untukmu? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semacam perasaan takut sepi dan ditinggalkan. Mungkin pula itu menjadi bagian terburuk dari mimpi yang tak kau kehendaki.

Dari banyak hal yang sudah aku lakukan, ada sedikit yang bisa aku tahu sejauh ini, bahwa kita juga harus berbagi bahagia pada apa saja yang ada di sekitar kita. Termasuk malam itu, setahun setelah aku malu-malu menyanyikan happy birthday dan mengucapkan doa-doa agar kau dengar, kali ini aku melakukannya. Dengan berani, tanpa malu-malu, tak ada basa basi. Aku terdiam mencoba merasakan apa yang sedang aku dulu perjuangkan. Menapaki jalan bersama, aku memperjuangkanmu, membersamaimu dalam ketidakberdayaan kita soal takdir.

Tengah malam kemarin, 24 Mei. Sepotong kue aku letakkan di depan kamarmu. Perlahan tapi pasti, aku mengusahakan semua yang bisa kau kenang. Tentang aku yang selalu menciptakan kebahagiaan untukmu. Tentang kau yang selalu menjadi tuan putri di hidupku. Mungkin kau menganggap semua yang terjadi pada kita tidak cukup adil dan belum cukup membahagiakan. Tapi, aku ingin di usiamu saat ini, ada satu hal yang kau syukuri: soal takdir yang berbelok di titik yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.

 

Malang, 3 Juni 2016

Mami dan Kesendirian

Lantai tiga rumah ini jadi ruang paling sempurna untuk menyendiri. Tak ada lampu-lampu, jendela-jendela, atau atap-atap. Hanya ada jeruji besi sebagai pagar dan satu pintu yang menjadi jalan. Latar ubin pun selalu dingin oleh ceritaku juga kursi yang puluhan tahun menemani menikmati malam. Berkali-kali aku duduk di sini menemukan diriku sendiri tanpa siapapun yang boleh menemani.

Setahun belakangan, aku meninggalkan kebiasaan itu: duduk-sendiri-malam hari. Karena kesibukan di lain kota. Aku meninggalkan lantai 3 tanpa cerita yang sekian lama menjadi bagian yang tak pernah hilang dari kehidupanku. Pada akhirnya kemarin kesepian mengantarkanku duduk di sini lagi, meneteskan tangis sampai dada terasa sesak. Aku terjebak oleh kedinginanmu hingga kurasa setiap kata yang kau ucapkan membuat kata-kataku tak berarti.

Tak ada lagi yang kutahu selain duduk sendiri di sini, meratapi sendiri sesuatu yang terjadi belakangan ini. Soal takdir Tuhan yang tidak pernah salah mengambil apapun yang Allah cintai. Hingga aku pun tidak tahu mengapa kau juga terlalu lelah kemudian ingin sendiri.

Aku berharap kau ingat saat aku terjebak oleh marahku, saat itu aku ingin mengamati malam sendirian. Tapi kau yang tanpa aku tahu apa alasan pasti memintaku untuk tetap bersamamu. Ya, kadang lelah membuatku hanya ingin menikmati keindahan malam bersama diriku sendiri.

Sepertimu belakangan ini, Mi.
Yang aku tahu kini, duduk sendiri di sini menata semua yang biru, walau lelah tapi harus melakukan yang terbaik. Barangkali juga tanpamu.

Hidup Tak Sendiri!

…sepasang tanganku ini, tak hanya mampu mengusap luka. Ia pun ada untuk menggenggam dan mengajakmu menari. -Erie_nya

Semua yang membuat aku sepakat untuk menemukan momen penyadaran adalah kekuatan.

Di luar sana, ada orang-orang yang kita sayangi, barangkali hidupnya ingin kita bahagiakan. Di atas semua hal itu, sedikit banyak menggelitik dan mengundang peran kita untuk memberi manfaat bagi mereka. Mak rasanya hadir dalam kebahagiaan mereka adalah alasan permanen yang paling menggerakkan hati ini.

Dan karena alasan itulah ada banyak kekuatan untuk meyakinkan diri sendiri menemukan alasan hidup lagi; ada yang berjanji pada diri sendiri bahwa akan hidup lebih baik lagi. Dan sebaik-baik alasan adalah yang mampu memberikan kebebasan untuk bergerak.

Terusirlah semua sepi. Terusirlah jiwa-jiwa yang merasa tersingkir atau ditinggalkan. Yang merajai perasaan ketidakberdayaan. Dan jika mau kau yakini tak ada yang membuatmu sendirian, selalu ada yang menemanimu melewatinya, menggenggam dan melukis lagi lengkung senyum di wajahmu.

Untukmu, diriku sendiri: yang hati dan kasih sayangnya selalu terjaga untuk kebaikan serta kebahagiaan orang lain. Teruslah menjemput paksa kebahagiaan dengan doa. Kau tak sendirian, sejak dahulu. Sejak Allah menjanjikan bahwa kebahagiaan juga Ia titipkan pada sebuah ujian.

 

Arjowinangun-Malang, 18 Juni 2016

Benda Apakah Doa Itu?

Seperti angin yang nyata namun tak terlihat. Dirimu adalah kenyataan yang tak lagi terlihat. Diterbangkan oleh kepemilikan Allah atasmu. Aku mencintaimu, tanpa ada sesuatu yang mendahuluinya. Darimu, lahirlah aku dan kehidupanku. Lalu aku masih membayangkan, engkau yang rajin menungguiku di pintu depan rumah. Menyampaikan hidangan terbaikmu siang itu setelah aku  pulang sekolah.

Pagi itu, bertahun-tahun setelah aku mengenalmu. Aku masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Kusampaikan aku lolos menjadi salah satu siswa di sana, namun setelah masa orientasi, aku enggan masuk sekolah. Karena aku mendadak sakit dan merasakan rindu luar biasa saat pulang ke rumah larut sore. Aku rindu, entah akhirnya berapa lama aku bisa beradaptasi dengan keadaan. Tapi hampir setelah itu, kau lebih rajin menemani aku tidur lebih awal, mengusap keningku lebih sering, menenangkanku lebih lama dari biasanya. Aku rajin tersenyum waktu itu saat setiap pagi lengkung bibirmu menjadi yang pertama aku lihat. Akulah orang paling bahagia waktu itu. Lalu, doa-doa dan dan ucapan selamat sekolah membersamai waktuku di perjalanan. Aku merasakan nyala ketulusan sepanjang waktu, bahkan saat aku dilanda ketakutan sekalipun. Aku merasaimu ada di sekelilingku, di setiap nafas dan perjalananku.

Lalu kini, saat semua tak seperti dulu, aku diijinkan keadaan untuk tetap membersamaimu lewat doa-doa. Walau tanpa tatap, kau hidup dalam doaku, dan aku orang yang lebih rajin dan bahagia menyuapimu dengan doa, di kubur sana. Aku mencintaimu. Dan doa adalah sebentuk prasangka baik bahwa aku mencintaimu karena Allah: Ibu.

Menepi, sebuah puisi

Dan kita pernah berhari2
Menyepi sendiri
Memperjuangkan mimpi yang sempat lari
Pada hari hari sebelum ini
Ada hati yg ramai berpuisi
Kan itu, pernah jadi rumah bagi gelisah
Kan itu, sempat tersandar sabar
Kan itu, kita bersama mengusir sepi
Kan lalu kita lari oleh bahagia
Kan lalu terbawa kita pada canda
Kan lalu terbuka semua rahasia pikiran kita
Kan itu, kita dulu
Menepi sendiri meramaikan diri
Dan kini, aku yang baru menjalani hidup yang biru
Tanpamu

21 Juni 2016

 

Mbakku… Selamat jalan… Semoga tenang disisiNya… Kemarin aku sempat mengisi waktumu dg lirih tilawah di telingamu, Allah baik masih menggerakkanku untuk menemanimu di 4 hari terakhir hidupmu. Sehari setelah kau pinta doa padaku, kau tumbang juga. Why when you say love me, you leave me?

Allah mencintaimu dengan caranya sendiri… Dan aku hanya hambaNya, yang hanya perlu jatuh, yang hanya perlu ambruk saja mengikuti semua caraNya demi menikmati cinta paripurna atas namaNya.

Selamat jalan mbakku Nukky Alief Annisha, semoga dilapangkan kuburmu, diampuni segala dosamu, di terima di sisiNya…
Selamat menikmati cinta yg sesungguhnya dari Allah…

Aku, adikmu.