Januari

Januari berakhir untuk kesekian kali. Janji-janji belum juga terpenuhi. Lagi-lagi, Tuhan masih berbaik hati memberimu waktu merangkai mimpi dari sepuluh jari menjadi bait puisi. Mengayunkan tangan santai, sambil menikmati secangkir kopi tanpa peduli argumentasi. Ini soal berani, rasa berani -lebih berani menikmati hidup- sebagaimana mestinya. Tidak ada beban. Tidak ada tanggung jawab kepada siapapun, melainkan hanya kepada diri sendiri. Kondisi yang memang harus kita yakini.

31 Jan 2015; 23.38

Menemu Rindu

Mengulang waktu bermanja denganmu adalah sebentuk nostalgia untuk menghidupkan jiwa. Menyapa pada sisa-sisa kenangan yang masih membekas, kukirimkan dedoa untukmu yang di surga. Satu ketika, aku melebur bersama dinginnya malam, mendekap tubuhmu dengan doa-doa yang menghidupkanku dalam ketiadanmu. Tetiba dadaku sesak, ingatan tentangmu kembali menyeruak.

Aku terduduk di samping jendela, menemu seraut wajah yang terlihat jelas pada pigora di atas meja. Entahlah, aku tak mampu membahasakan rindu yang kerapkali memberi kesempatan mengisahkan masa lalu. Masih kuingat tulusnya senyum di bibirmu yang selalu memberikan pancaran keyakinan atas pilihanku, juga masih kurasakan selembut usapan tanganmu di kepalaku saat menghantarkan cerita sebelum tidur. Sungguh, merindumu serupa menghirup nafas-nafas kebaikan yang menjadi pembijaksana setapak demi setapak langkah kakiku. Perlahan kusadari bahwa keajaiban hidupku adalah Allah telah menganugrahkan malaikat sepertimu.

Sebelum malam berganti pagi, aku selalu bernafsu untuk menuntaskan rindu yang tidak lagi berujung temu. Sungguh pun saat waktu telah memisahkan kita dalam bilangan tahun, aku tak ingin mencipta jarak sebab kasihmu adalah kisah yang pernah hadir dalam jejak langkahku. Petuahmu adalah rangkai pedoman selain Al-Quran yang berbaris indah menjadi sebuah risalah sepanjang waktu.

Kini, aku telah dibebaskan Tuhan untuk menemu ruang sunyi yang tersembunyi hikmah. Air mata hanyalah bahasa kebebasan setelah melepaskan menjadi penyempurna keikhlasan atas segala ketetapan. Maka biarkan aku terus berkebaikan menyebut-nyebut namamu dalam dzikir untuk memuliakanmu karena telah berbaik hati mengorbankan setiap detik waktu di hidupmu untuk menemaniku menjadi pribadi yang mendewasa dengan anggun menemu jalan hidup yang kutuju. Semoga doa dan kebaikanku menjadi pembela yang membuatmu bahagia ada disisiNya.

Kediri, 28 Januari 2015; 0.13

Farah Adiba N.M.

Hidup adalah Menerima

Seperti sebelumnya, saat semua menjadi tak berdaya karena takdir Sang Kuasa. Doa menjadi selaksa aksara pelipur lara. Meski jauh dari kata sempurna, diri yang tak luput dari dosa. Seperti debu yang kapan saja siap diterbangkan, jika saja Ia menghendaki. Karena apapun yang diinginkanNya, pasti akan terjadi. Kita ini apa? tak berkuasa atas apapun.

Masih terekam, saat tangan dan kaki menjadi korban sebuah kenaifan, dari lamunan yang tak juga segera temukan kekuatan, sekedar menyandarkan harapan dan menerbangkan doa-doa. Hidup tak akan jauh dari negosiasi, gampangnya sebut saja hidup adalah proses tawar. Tawar menawar dengan Tuhan, menimbun kebaikan atau dosa untuk kemudian di tukar dengan apa? Kegelisahan akan selalu muncul karena terlalu lama menunggu hasil tawar dengan Tuhan. Tapi kita apa? lagi-lagi tak punya kuasa atas apapun.

Sebaliknya, hari terus berlalu meninggalkan yang lalu, waktu terus berputar tak peduli apa kau ragu menatap masa depan. Mereka juga tak punya kuasa menjawab rasa penasaranmu yang kapan saja menyeruak memenuhi ruang dalam dada, pun bisa saja menggumpal menjadi badai maha dahsyat yang menggoyahkan dirimu. Kalau saja mau sadar, kita tak pernah punya satu hak pun untuk menggugat kejadian demi kejadian dalam hidup ini. Kita ini siapa? bukan Tuhan, jadi tak punya kuasa apa-apa. Terima saja.

Jangan-jangan selama ini kita lupa “hidup itu menerima”. Bila kita hanya diwajibkan berusaha tanpa mencemaskan hasilnya. Bila kita hanya diwajibkan belajar tanpa ragu seperti apa nilainya. Bila kita hanya diwajibkan terus berkebaikan walau tak ada balasan apapun. Bahwa hidup itu menerima segala apapun yang sudah digariskan dan mempercayai Tuhan tidak pernah ingkar pada janjinya yang tertulis di kitabnya. Manusia hanya menerima. “hidup adalah menerima” adalah proses sepanjang hayat dan tidak akan pernah berakhir (never ending process) ke arah manusia kafaah. Manusia yang tidak setengah-setengah menjalani kehendakNya dan meleburkan dirinya ke dalam hakikat hidup itu sendiri meski ada banyak keadaan yang tak sejalan dengan pemikiran. Lagi-lagi kita hanya manusia yang tak punya kuasa atas segala akal dan pikir. Hidup adalah menerima.

Sebuah Rahasia

Bagiku tak hina mengejar hatimu dengan kata-kata. Sebuah rangkai nyata yang bisa kau eja penuh makna. Barangkali jika kuterka terlalu banyak kisah yang saksi-saksinya tak mampu bersuara. Sepatah kata seadanya yang menata-bata sebongkah-sebongkah hingga jadi sebaris, lalu kau dengan bangga membaca namaku, berbaris indah di sepanjang ingatanmu.

Kini aku tak perlu takut untuk melihatmu datang dan pergi sesukanya sebab terbiasa melihat pada gerak palsu untuk menipu. Bagiku, rindu hanya candu yang semu saat aku tak mampu meredamnya. Jadi, biarlah selamanya aku ada di sisimu meski terus berahasia. Tanpa mesti turut jatuh dalam cinta. Walau kadang ragu tapi aku tahu, di dalam mimpimu akulah yang selalu kau temui. Karena tak ada kisah aku pergi meninggalkanmu.

Batas yang ada hanya menghadang, tak cukup untuk klewati rintang yang kapan saja bisa membentang. Tenang saja, ada aku yang datang setia menerjang segala bayang. Juga sepasang mata dan doaku terus terucap menjadi terang bagi kita. Mungkin saat ini kita hanya sebatas senang, senandung napas yang hanagat sama persis seperti kenangan menyapa pagi datang.

Dari sekian banyak waktu yang Allah anugrahkan, aku tak ingin mensia-siakan. Aku tak akan menyerah memintamu sebagai hadiah yang akan menari indah di pelupuk mataku. Barangkali hanya ini, barisan kata dalam puisiku yang akan melindungimu dari rasa ragu. Maka bacalah tiap kali kau jauh dan sedang enggan menyentuhku. Pada akhirnya, antara semua cinta dan benci. Akulah orang yang tak pernah ragu berdiri di tengahnya sebagai rahasia yang menyentuhmu dengan doa-doa walau tak pernah utuh kau miliki.

Begitu saja. Begitu kita.

Malang, 23 Januari 2015; 23.00

Selamat Datang Di REPUBLIK PREMAN

Selamat Datang di Republik Preman

tersiar di halaman kabar
kemarin Samad dihajar
sekarang Bambang dikejar
KPK dilumpuhkan benar

bernafas panjanglah akal
melihat raja judi mondar-mandir di istana
aset negara bernama bandara Halim Perdana Kusuma dikuasai swasta

bernafas panjanglah hati
karena presiden adalah boneka setia penuh retorika
melihatnya berteriak setiap hari di televisi
nasionalismenya mirip Nazi
menaruh 48 triliun uang negara di BUMN
tidakkah untuk modus baru perampokan?
dia ingin sejarah dibaca bersih
bagaimana mungkin
jika dia terus menulis dengan kebohongan

bernafas panjanglah semua
sebab kekuasaan telah dijilat habis-habisan
penindasan adalah guru paling jujur
bagi yang mengalami

mari berpura-pura saja
seolah-olah memiliki Indonesia dan presidennya
biarlah kita jadi tuan rumah di rumah kita sendiri saja
toh,begini lebih baik….

23 januari 2015

(sajak singkat Bapak Taufik Chavifudin, anggota DPR Kota Kediri)

Hikmah Sakit

Malam ini saya harus tidur di rumah sakit, menemani bude (kakak dari ibu saya) yang sedang sakit dan perlu perawatan khusus. Sore tadi, keluarga datang dari Kediri menuju Malang tepatnya di RS Saiful Anwar karena harus dirujuk. Untungnya ada beberapa keluarga di Malang dan saya juga kuliah di Malang sehingga bisa leluasa menjenguk dan menemani. Karena tak ingin waktu menunggu tersia-siakan, saya menyempatkan diri untuk memanfaatkan waktu menulis di lobby lantai tiga rumah sakit.

Sore tadi saya juga berbelanja beberapa barang yang dibutuhkan di supermarket mulai dari buah hingga makanan dan minuman ringan. Melirik ke kulkas di supermarket yang banyak terdapat minuman bersoda, niat hati ingin mengambil tapi yaah tau diri lah daripada ikutan sakit. Saya urungkan niat untuk membeli minuman bersoda itu. Saya jadi berpikir, betapa nikmatnya menjadi seorang yang sehat dan jauh dari sakit. Rasa-rasanya kita semua juga paham bahwa dalam keadaan yang sehat melakukan aktivitas apapun akan terasa mudah. Ketika kita sehat, bisa jalan-jalan/bepergian kemana saja, bisa menikmati waktu bersama orang-orang terdekat, dan melakukan banyak hal yang kita inginkan. Bayangkan jika sakit? hanya bisa terbaring di rumah/rumah sakit. Tapi di luar semua itu, sakit juga salah satu bentuk anugrah dari Allah. Saya katakan anugrah karena bisa jadi sakit memberikan hikmah dan teguran bagi yang ditimpa penyakit. Bisa saja Allah menguji seorang hambanya dengan sakit karena Allah ingin tahu seberapa kuat kita menghadapi penyakit tersebut dan apakah kita masih mampu mengibadahiNya?. Tentang sakit, saya teringat sebait kalimat ust. Salim A. Fillah di twitternya

Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan untuk santun, lembut dan tawadhu

Jika kita mau merenungi setiap kejadian yang Allah hadirkan dalam hidup kita, termasuk sakit. Bukan hanya menguji ketangguhan dan kemampuan yang ada pada diri kita, sebab kita juga harus mempercayai bahwa Allah tidak akan memberikan ujian/sakit melebihi kemampuan hambanya. Jauh dari semua itu sejatinya sakit memberikan kita sebuah kemampuan untuk memaknainya.

Kesabaran kita diuji ketika sakit menimpa, apakah kita memiliki kesabaran yang lebih dari batas?. Setidaknya kita bisa bercermin pada sejarah kenabian Ayub as yang menderita penyakit aneh selama 18 tahun yang tetap sabar menghadapinya, cobalah baca buku sejarah nabi-nabi dalam islam untuk membaca kisah nabi Ayub.

Sakit mendekatkan diri kita kepada Allah. Sering saya melihat, mereka yang sedang dirimpa sakit lebih sering mengingat Allah dengan dzikir-dzikirnya yang syahdu menyebut asma Allah. Sakit bisa jadi obat rindu pada Allah karena rasanya ketika sakit, kita menjadi dekat pada Allah dengan doa-doa dan dzikir kita. Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, hanya kalimat-kalimat dzikir yang keluar sedang air mata menetes teringat dosa-dosa yang meliputi diri menggetarkan hati untuk menyapaNya? Saat sakit pula, ada kesempatan untuk bermuhasabah (memperbaiki diri), adalah saat sakit ketika kita punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. Bahkan sakit adalah sebuah ilmu. Bukankah ketika sakit, diri ini akan memeriksa dan bertanya hingga pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya agar tidak mudah terkena penyakit. Sakit juga sebuah nasihat yang memberi kita kesempatan mengingatkan yang sehat untuk menjaga diri, yang sehat menghibur yang sakit agar mau bersabar dan tidak menyerah menghadapi sakitnya. Sakit juga memberikan nilai silaturrahim, bukankah ketika sakit banyak keluarga yang jarang kita temui datang untuk menjenguk penuh senyum dan menyapa dengan rindu mesra?

Dan pada akhirnya sakit itu membawa kita untuk selalu mengingat mati dan mempersiapkan amal untuk menyambutnya, mengetuk lembut pintu hati untuk meningkatkan derajat ketaqwaan. Sakit pula yang membuat senyum menjadi lebih indah karena mengingat bahwa Allah masih menyayangi kita, pun juga membuat kita banyak menangis mengingat betapa seringkali menyia-nyiakan nikmat sehat yang Allah berikan untuk kita. Karena itu marilah kita belajar untuk tetap tersenyum walaupun dalam keadaan sakit.

Malang, 22 Januari 2015; 22.13

Di Lobby rumah sakit, terlantun doa untuk setiap yang sakit semoga lekas sembuh…

Menghilang untuk Bisa Banyak Belajar

Catatan Dahlan Iskan

Senin, 19 Januari 2015
New Hope 02

Salah satu kebebasan yang saya nikmati saat ini adalah bisa kembali belajar dengan leluasa. Belajar apa saja. Dulu saya mewajibkan diri agar enam bulan sekali ”belajar” ke Amerika Serikat: shopping idea, belanja ide.

Itulah sebabnya perkembangan Jawa Pos di kemudian hari menjadi ”sangat Amerika”. Beda dengan koran-koran Jakarta saat itu yang ”sangat Eropa”

Belakangan, ketika Tiongkok maju luar biasa, saya jarang ke Amerika. Belajarnya pindah ke Tiongkok. Begitu sering saya ke Negeri Panda itu. Setahun bisa delapan kali. Bahkan pernah 12 kali. Jarak Tiongkok yang begitu dekat membuat saya bisa belajar lebih sering.

Kalau ke Amerika shopping saya shopping idea, ke Tiongkok saya shopping spirit. Spirit ingin maju. Di Tiongkok-lah, saya melihat sebuah masyarakat yang keinginan majunya begitu tinggi. Hasilnya pun nyata. Dalam sekejap, Tiongkok mengalahkan Jerman. Kemudian Jepang. Dan mungkin tidak lama lagi mengalahkan biangnya: Amerika.

Sejak menjadi pejabat pemerintah…

View original post 855 more words

Keberanian

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I’ll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I’m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

Penggalan lagu When You Tell Me That You Love Me dari Westlife dan Diana Rose menemani malam ini, sepertinya berhari-hari mengunjungi perpustakaan dan melepas penat di cafe semalam kemarin membawa suasana “nikmat” dalam versiku tentunya: santai, hilang penat, dan bebas. Secangkir kopi yang kunikmati di salah satu kedai kopi kawasan Ijen, Malang memang bukan bagian dari rencanaku hari ini, maklum biasanya aku well organized banget. Berawal dari selesai mengerjakan tugas di perpustakaan kota kemudian melanjutkan perjalanan makan dan sholat di kawasan kampus lalu berencana pulang. Namun di tengah perjalanan ketika melewati kedai kopi mendadak ingin mampir sekedar menikmati secangkir kopi yang ah… selalu menyajikan kenikmatan tersendiri. Akhirnya tanpa basa basi kuputuskan mampir bersama seorang temanku. Tentang kopi, aku teringat tulisan di salah satu kolom surat kabar beberapa bulan lalu

“Apa yang kau tahu tentang kopi sampai-sampai seorang homer melegendakan kopi sebagai minuman misterius yang punya kekuatan luar biasa tak terjelaskan?”

Meskipun baru pertama datang di kedai kopi ini dan letaknya dekat dengan pusat kota tapi suasana disini cenderung tenang, dan aku merasa nyaman. I feel like home here. Sejak kedatangan kami tadi, playlist lagu dari Westlife diputar memenuhi ruangan ini menambah hangat suasana malam. Sepertinya hal itu pula yang membuatku kecanduan -lagi- dengan lagu-lagu Westlife dan memutarnya setiap saat.

Secangkir Machiato, Kaya Toast, dan Ice Choco Pancake menjadi menu yang kami pesan. Kami memilih duduk di sudut ruangan dekat dengan pintu masuk dan tak lama kami pun tenggelam dalam obrolan tentang banyak hal termasuk hidup yang ‘bebas’.

Kopi pertama malam ini. Pahit, ada sisa manis diujungnya. Sepahit kesalahan masa lalu, semanis kenangan bersamamu, secerah harapan masa depan.

“mulai deh pujangganya beraksi.” kata temanku

“ha ha ha. Sekali-kali gombalin orang kece… kecepian maksudnya. ha ha.”

***

Sejenak aku memeriksa smartphone untuk melihat beberapa hal, termasuk beranda facebook. Hingga menemui sebuah capture inbox e-mail seorang teman dari salah satu maskapai penerbangan ternama di negeri ini. Begini kalimatnya:

“Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana bisa sebagian orang  punya begitu banyak energi untuk terjaga sampai larut malam?

Seorang bijak pernah bilang motivasi kita adalah dorongan terbesar dari dalam yang memungkinkan kita untuk meretas batas. Mungkin mereka yang kerap tidur larut punya alasan yang kuat.”

Aku tersenyum dan bertanya pada diri sendiri “apa alasanmu sampai seringkali begadang?”. Jika dijawab, itu adalah jawaban terberat untuk dijelaskan kepada siapapun, sebab tak ada yang tahu persis kenapa aku menikmati malam untuk menyajikan cerita tentang drama yang tak jauh berbeda dari kehidupan nyata. Tapi, aku mempercayai satu hal bahwa di dalam diri seorang manusia, kita mempunyai benih-benih mimpi dan kualitas diri yang begitu prima untuk melakukan sesuatu yang kita ingini. Kita memiliki kapabilitas untuk menjadi sesuatu yang kita dambakan, anugrah itu ada sejak kita lahir. Hanya seringkali yang menjadi masalah adalah, kita tidak punya kekuatan dan keberanian untuk menyelami kualitas diri kita. Tidak ada keberanian diri untuk melihat dan menguji kualitas yang ada pada kita.

Kali ini, ada perasaan “penuh” di dalam diriku untuk membebaskan pikiran melakukan apa saja yang dingininya. Berteman kopi, buku, dan menikmati aliran waktu tanpa perlu terburu-buru. Saat malam, sendirian aku melewati setiap detiknya dengan sangat menyenangkan. Menyajikan tulisan dari sepuluh jariku dan bermimpi. Salah satu cara melepaskan sesaknya realita dan melupakan sejenak apa yang terjadi. Membangun sebuah mimpi ibarat memesan satu paket komplit berisi resiko, petualangan, harapan, kecewa, berbagai macam pelajaran yang membuat kita terus berkembang dan berjuang. Memutuskan untuk berani bermimpi adalah saat-saat “bertarung” dengan diri menuju sebuah muara yang diyakini. Pertarungan yang tak mudah untuk dimengerti. Meski begitu, ketika memutuskan berani bermimpi artinya kita juga sedang menguji ketahanan dan kekuatan diri untuk menghadapi dunia. Belajar dari mimpi, sering aku harus berani melipat rentetan rencana yang sudah tertulis rapi di kertas. Pada satu sisi merencanakan banyak hal memang sesuatu yang baik tapi di banyak kesempatan kadang harus dilupakan karena aku hanya butuh “melangkah” dan terus “melangkah” meski satu langkah. Yang ingin aku katakan disini adalah bagaimana kita bisa lebih “berani” untuk menikmati hidup sebagaimana adanya. Berani karena kita bertanggung jawab atas langkah kaki kita sendiri, bertanggung jawab pada diri sendiri.

Pada satu kondisi yang tidak bisa diprediksi, barangkali kita harus mempercayai mimpi, dan satu hal yang kita yakini “selama ada Allah pasti sempurna”.

Malang, 19 Januari 2015; 0.53

Bahagia Itu Dekat

gambar di ambil dari wallpaper bbm

Menjadi bermanfaat bagi sesama tidaklah harus menanti memiliki kelebihan materi, karena menjadi bermanfaat tidaklah selalu identik dengan berbagi uang, makanan, atau benda-benda lainnya.

Berusaha menjadi pribadi yang menentramkan dan menyenangkan untuk orang lain, rendah hati dalam sikap, kata-kata santun sejuk jauh dari menggunjing/mengeluh/mengumpat, senyum tulus yang senantiasa terukir, selalu menyediakan tangan untuk membantu, menyediakan pundak untuk bersandar adalah bentuk-bentuk pancaran “manfaat sederhana tapi tiada ternilai” yang pasti bisa kita bagikan untuk sesama dan kehidupan lain di sekitar kita. Dan ketika diri kita mampu menjadi pribadi yang bermanfaat selanjutnya kitapun akan menjadi lebih kuat, lebih mudah menyederhanakan keinginan kemudian merasakan bahwa semua yang kita miliki saat ini “telah cukup”. Karenanya menebar manfaat bagi sesama dalam wujud yang “sederhana tapi tiada ternilai” barangkali bisa dipertimbangkan menjadi pilihan aktivitas hidup untuk kian mendekatkan kebahagiaan dalam jangkauan dan lebih menyederhanakan prasyarat untuk memiliki kebahagiaan.

Bukankah dengan demikian kebahagiaan itu sebenarnya tidak jauh-jauh dari hari-hari kita?

Maka apalagi yang kita cari?

Waroeng SS, Malang 12 Januari 2015; 18.41

GETAR KEBAIKAN DAN TEGURAN

Menjelang maghrib suasana perpustakaan kota mulai sepi, hanya beberapa orang yang bertahan sedang asyik membaca buku dan antri meminjam di loket peminjaman buku. Aku baru saja sampai di perpustakaan untuk mencari beberapa buku sebagai referensi yang menunjang materi kuliah. Tak butuh waktu lama untuk mencari, katalog digital yang tersedia di perpustakaan sangat membantu memudahkan mencari buku. Sampai ketika adzan magrib berkumandang aku mengakhiri membaca dan bergegas ke mushola. Sesibuk apapun, tak ada yang boleh mengalihkan tugas kita sebagai manusia yang harus mengibadahiNya, kan?

Setelah kira-kira satu jam melanjutkan membaca, aku berbincang dengan seorang teman yang menemaniku.

“jadi buku yang mana yang mau dipinjem?” tanyanya

“ini aja yang materinya lebih banyak, bukunya bagus lengkap juga, eh apa nanti kita sekalian ke toko buku ya liat stock bukunya ada atau enggak? Kayaknya kita juga butuh punya buku ini deh.” Aku berpendapat

“yaudah deh ayo sekalian aja.” Jawabnya meng-iya-kan

“oke jadi habis ini kita ke toko buku ya? eh tapi aku mau fotokopi materi bahasa ini dulu ya bentar, dua bab aja kok buat belajar.” ucapku

“aku tunggu di loker bawah ya. biar cepet.”

“oke.” Jawabnya sambil berlalu meninggalkan ruang perpustakaan di lantai dua.

Aku masih mengantri di tempat fotokopian sambil sesekali mengecek tulisan baru di blog dari teman-teman via smartphone. Sembari menunggu, ada banyak hal yang bisa dilakukan, bukankah menunggu itu bukan hanya soal lama atau tidak tapi bermanfaat atau tidak, kan?. Setelah selesai, kami berjalan meninggalkan perpustakaan, melanjutkan perjalanan ke toko buku.

***

Di sudut yang lain…

Laki-laki tua berjalan pelan mendorong gerobak yang penuh berisikan buah-buahan ke seberang perpustakaan. Ia sibuk menggelar dagangannya di trotoar, tepat di pojok sebelah tikungan jalan raya Ijen, Malang. Aku melirik jam di tangan, rupanya sudah pukul 19.51 dan laki-laki tua itu masih bertahan dengan dinginnya udara Malang untuk menjual dagangannya. Sekilas sambil berlalu meninggalkan perpustakaan, aku mengamati raut wajahnya yang lelah dengan tatapan mata kosong menerawang lalu lalang kendaraan di jalan. Sesudah itu kelihatan matanya mencari sekeliling, ia nampak berharap ada seorang yang mampir sekedar membeli dagangannya.

Lampu jalan yang mulai redup memberikan sedikit terang agar keberadaannya terlihat lalu lalang orang. Aku terdiam sejenak dalam bayang-bayang lampu, satu per satu tampil wajah orang-orang di sekelilingku yang juga sedang berjuang menantang kerasnya hidup. Tak bisa kubayangkan jika orang-orang yang berjuang demi kebaikan dan kesuksesan hidupku memilih menyerah. Apa aku bisa berdiri sampai disini?. Beberapa lintasan wajah-wajah keluarga di rumah hampir bersamaan muncul, lalu sebentar saja hilang.

“Ndro, nanti balik lewat jalan ini lagi ya. Mau beli buah di pojokan tadi.” Kataku meminta pada temanku

“Oh yaudah iya…”

Sepanjang jalan, ada yang sibuk mengganggu pikiranku, terbayang sendu mata laki-laki tua yang sibuk menunggu pembeli. Walau tak terlihat jelas atau aku yang terlalu pedih mengingatnya, laki-laki tua yang kulihat tadi telah mampu untuk membuatku seolah-olah dalam keadaan tak berarti apa-apa, yang telah lama berdiri dan tak sedikitpun terlihat kokoh meski ditopang oleh segala macam materi. Air mataku meleleh. Entah sudah berapa lama aku jauh antara makna keikhlasan dan kehidupan. Hati kembali bertanya, meskipun hanya pertanyaan klise kelas dua yang siapa saja bisa mengucap, namun rasanya perlu dicari jawabannya.

“Mungkin, ini satu dari sekian banyak cara Tuhan memperingatkanmu. Artinya, kamu sudah harus berhenti dengan keluyuranmu, dengan kehidupan malammu, dengan hingar bingar dunia, dengan impianmu tentang dunia semata, kamu sudah harus berhenti karena dengan mudahnya meninggalkan Tuhan, kamu harus mengerti bahwa disana ada yang sedang berjuang membuatmu berdiri disini agar masa depanmu lebih berarti. Mungkin sudah cukup kamu selalu mementingkan dirimu sendiri dan tak pernah benar-benar memperhatikan orang-orang disekelilingmu” Kataku dalam hati.

***

Sekembalinya dari toko buku, kami kembali melewati jalanan yang tadi semoga saja laki-laki tua itu masih ada.

“Jangan lupa ya ndro nanti mampir dulu di pojokan yang tadi.”

“Iya iya, ya ampun sudah berapa kali bilang sih?” sahut temanku

“nanti tunggu aja di seberang kalau kamu gak mau ikut. Aku jalan aja kesananya. Biara ga repot putar balik.”

“iya iya santai aja kenapa sih.”

Aku hanya mengangguk kecil mendengar jawabannya.

Sesampainya…

“Pak, mau beli jeruknya satu kilo…”

“sekalian dua kilo ya mbak, daritadi laku sedikit, setelah ini mau pulang.”

“oh yaudah pak sekalian dua kilo aja.”

Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku, ingin kutanyakan pada laki-laki tua ini yang kutaksir usianya sudah 65 tahunan. “Sudah makan belum? Rumahnya jauh gak dari sini? Seharian sudah jualan kemana aja, istirahat dimana? Kalau dagangannya masih banyak gini terus gimana, pulangnya jam berapa?”. Tapi apa daya, mataku tak berkedip memandangnya yang dengan perlahan menimbang buah jeruknya. Mata yang semakin merah dan semakin basah. Seolah mau menghindarkan diri dari tangis, aku melihat jam di smartphone sambil membaca pesan masuk.

Selesai membayarnya, kami melanjutkan perjalanan pulang.

Entah angin apa yang membawaku datang pada laki-laki tua penjual buah itu, di antara bising lalu lalang kendaraan bermotor di perjalanan tiba-tiba mulut menyuara narasi tanpa paksaan, semacam usaha untuk meyakinkan diri menghindari seburuk-buruknya prasangka yang menodai niat.

“Ndro, kadang kita gak butuh alasan apapun ya untuk melakukan kebaikan meski kita tidak tahu apakah itu akan dihitung pahala atau tidak. Tentang kebaikan apa saja yang dilakukan, kita sedang berinvestasi pada Tuhan untuk masa depan kan? Kita gak perlu kan memandang apapun dan melihat siapapun, yang namanya melakukan kebaikan ya tetap kebaikan, ndro. Ukurannya bukan manusia tapi ibadah ke Allah. Kita udah kenyang ndro tadi bisa makan enak, mungkin kita juga sebenarnya bisa kok beli buah seperti ini di supermarket di lain hari bahkan kapanpun kita mau, tapi buat laki-laki tua tadi uang hasil kita beli buah tadi sangat berarti, ndro. Bisa aja buat makan, buat bayar anak-anaknya sekolah. Sebenarnya kan hutang kita banyak ke Allah, udah gak kehitung dosanya, mungkin gak bisa lunas tapi masa sih kita gak mau nolong saudara kita yang kebetulan harus bekerja dan hidup dua atau tiga kali lebih keras dari kita. Iya kan, ndro? Apa kita udah bermanfaat buat orang lain ya, Ndro?”

“Mungkin ini saatnya memikirkannya…”

“Ini bukan tentang apa untungnya buat kita, Ndro. Tapi ini tentang kebaikan yang semoga saja bisa mengetuk pintu-pintu langit. Ini tentang hidup, Ndro. Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri kan? Barangkali saat kita tidur, ada orang-orang yang masih terjaga mendoakan kita, membantu kita menerbangkan impian-impian kita karena bebannya sudah kita ringankan. Bisa jadi kan, Ndro?

“Bersyukurlah…”

Mataku terpejam, masih terlihat bayang orang-orang di sekelilingku membuatku semakin tenggelam dalam isi hati yang kunarasikan.

Barangkali, membiarkan sesuatu yang ada berjalan seperti biasanya adalah hal yang sederhana. Namun akan terasa berat ketika kita harus membiarkan sesuatu terjadi pada diri, namun kita merasa mungkin ada yang salah pada diri kita di waktu yang bersamaan. Ah sudahlah… mungkin ini saatnya untuk kembali memanjakan diri melakukan banyak kebaikan yang juga bisa dirasakan orang lain. Semoga saja Tuhan tidak keberatan untuk memercikkan kebahagiaan pada orang-orang di sekeliling kita, atas kebaikan yang sudah kita lakukan.

***

Semoga kebaikan-kebaikan yang kita lakukan membawa doa-doa kita sampai lebih cepat mengetuk pintu-pintu langit, semacam tabungan yang akan kita bongkar di akhirat nanti…

Malang, 8 Januari 2015; 0.44

Farah Adiba N.M.