Versi Hidup

P_20150308_074928_NT

Dan kita pernah dihadapkan pada diri kita yang hilang duduk mematung tanpa pegangan. Sesekali menangis tanpa alasan, tertawa-tawa sepanjang jalan, hingga menatap remang keluar jendela.

Suatu waktu kita telanjangi masa lalu itu, benar-benar terbuka, bersih, tanpa tirai bernama rahasia, hingga akhirnya tak ada apa-apa.

Jangan gelisah, itulah tak lain diri kita sendiri di masa lalu yang menikmati kenyataan sederhana tapi barangkali kini terasa menyakitkan. Anggaplah itu sebatas angin yang bisa kau hirup untuk merasa tenang. Kau harus menguat-kuatkan hatimu sendiri terhadap gergaji waktu.

Jangan takut untuk masuk dan mengenang dirimu yang dulu, ya lagi-lagi temuilah dirimu hingga tak ada apa-apa lagi kecuali “sebuah pelajaran”. Sebuah pelajaran yang membuat kita belajar dari banyak hal yang pernah kita temui, lalui, dan sesali… Selamat Belajar, kawan!
Malang, 26 Maret 2015

Advertisements

Permainan Kata

Ia hening dalam kata-kata

Aku ingin memainkannya

Sebagai obat penenang

Yang tergenggam di tangan

Tiap kali gundah datang

Ia kembali rebah di beranda senja

Saksikan tetesan hujan lewat kaca

Jari-jari gigil memegang pena

Berdegup di balik jendela

Tunaikan cerita pada batas imaji

Mencumbu bayang-bayang air

Puisi tersusun rapi menuju matamu

Kekata lebur menjadi doa

Mengucurkan harapan dari tangan-tangan kosong

Membasuh wajah kesunyian

Malang, 23 Maret 2015

Memeluk Surga

Sebelum mata teralihkan oleh rasa kantuk, sempat ku-amiin-kan doa dari seorang sahabat yang tertulis di status what’s app-nya.

Cukup kau temani aku dengan doa. Aku sanggup menjadi hebat. Selebihnya biar aku berjalan menjemput kekuatan. Menjadi yg terindah dihadapanNya. Dihadapan penduduk langit, dan mungkin sesama.

Teimakasih, sahabatku…

Kepada Ayah, Tentang Kenangan Masa Kecil yang Indah

FOTO 1
Foto di ambil di Pantai Malang-2014

Sore kemarin cerah, tanpa hujan dan angin. Hanya sedikit mendung yang membuat sore terasa tenang. Di sela lalu lalang orang menikmati liburan yang berlangsung, aku tenggelam di tumpukan buku-buku seperti biasanya. Mematung berjam-jam di balik kaca membebaskan pandangan pada segenap kesibukan jalanan. Ada taman yang dilingkari pagar dan angin dengan lembut meniup daun untuk segera digugurkan. Suara kendaraan meramaikan jalan menyisakan polusi di udara lalu hilang. Anak-anak menikmati kelembutan pasir yang sengaja ditumpahkan di arena bermain taman itu. Entah pesan apa yang ingin disampaikan keadaan sampai dingin mendadak menjalari seluruh tubuh.

Aku tidak menyimpan semua potongan kenangan dengan rapi, semua hal bercampur tak tertata di satu kotak yang lama berdebu. Tapi sore kemarin saat daun mulai meninggalkan tangkai seiring tawa lepas keluar dari mulut anak-anak yang bermain pasir, segenap hatiku mengingatkan ada beribu kata dan makna yang ingin dituangkan. Seperti anak kecil yang berusaha membangun menara dengan tumpukan pasir dari ember-ember kecil, aku menangkap kembali potongan memori yang terbang bersama tiupan pasir ke udara. Menyusun potongannya hingga jadi sebentuk gambar yang melukis lekuk-lekuk wajahmu.

Di sela-sela kehidupan normal yang berlangsung, ada kiriman kerinduan tentang masa-masa yang terlalu menyenangkan ketika ditulis. Ya, sapaan dari masa lalu.

Katamu aku sering larut mendengarkan dongeng sebelum tidur. Aku yang hanya diam di dekapmu menikmati alur cerita, membangun imajinasi atasnya, kemudian di bebaskan bertanya dan berharap tidak akan pernah selesai. Seolah daftar cerita yang masuk ke dalam ransel pikiranku menjadi lampu terang dalam perjalanan.

Katamu kita mesti punya lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama. Maka sering kuperhatikan kau siapkan dari saat-saat sebelumnya waktu untuk kita bersama di satu taman, di kedai makan, atau menjelajahi jalanan. Aku tak pernah hirau tentang kondisi awan pagi hari, sore yang hujan, atau tentang malam. Yang kuingat hanyalah kita pernah saling tatap melepaskan tawa, bermain-main dengan pewarna dari ujung jari, menggambar pola yang terputus pada sebuah titik baru yang kuingini, dan apa saja yang kutulis berantakan kau tetap tertawa. Satu dari kita yang sanggup tertawa dan ditertawakan di saat bersamaan cukup memberikan jawaban bahwa  “aku tidak sedang sendirian”.

Katamu kita selalu punya pilihan untuk melakukan banyak hal yang membahagiakan, tetapi kita memilih ‘paket paling sederhana’ yang bisa dilakukan banyak orang: bermain bersama, menghabiskan lebih banyak waktu bersama, bercerita bersama, makan bersama. Sebab yang kita butuhkan adalah keberadaan yang selalu ada untuk saling menguatkan dan menjaga kenangan agar selalu berwarna dan bahagia. Kau buat pahamku tentang bahagia sesederhana: keberadaan yang selalu ada.

Untuk kalimat terakhir yang telah selesai kubaca dari buku yang kupegang, aku mengambil pelajaran darinya. Mengingatkanku tentang jarak yang panjang dan waktu yang sudah tak sama tapi aku justru terselip di satu halaman kumpulan kenangan masa kecil yang indah. Seolah jarak dan waktu yang berbeda hanya sebatas rumah sebelah yang kapan saja bisa dibuka untuk disaksikan kembali. Tawamu saat itu masih sama, belum berubah dari saat terakhir di hadapanku, tapi ada cerita lebih panjang yang harus kuhadapi saat ini. Sementara aku tahu, memilih hidup di antara udara lepas yang bisa menggiring kenangan itu kembali kepadaku kapanpun dan dimanapun saat aku ingin mengingatnya adalah tabungan kebahagiaan yang kudapatkan dari masa lalu. Begitu pula tentang semua yang hadir setelahnya, aku berbahagia melembarkan cerita yang menghidupkan ini.

Malang, 15 Maret 2015; 13.22

Sore Tadi Tentang Hujan

Sore tadi
Ia dibebaskan hujan untuk melepaskan air mata di antara rintiknya yang membasuh wajah
Sore tadi,
Ia merapal doa atas namamu saat tetes hujan menyentuh bibirnya
Sore tadi,
Ia bermain dengan benci tentang air mata yang datang setelahnya
Sore tadi,
Ia kembali membuka definisi kata ‘pergi’ tapi menolak sepi
Sore tadi,
Ia mencium aroma tubuh yang berjarak ribuan kilo dari rengkuhan
Sore tadi,
Ia bukan lagi yang peka tentang pertemuan dan perpisahan
Sore tadi,
Ia memeluk hujan, mendapati lagi setengah dari kesenangannya
Sore tadi,
Ia mendiami kenangan lama lalu
Merapikan kata agar luka tertata
Kapanpun saat hujan datang, ia bebas membuka kenangan
Sekedar untuk mengintip. Tidak akan hilang
Hanya meredup di suatu tempat yang disebut hati
Hujan sore tadi

Malang, 14 Maret 2015; 17.13

Pelukis Kata #2

Untuk sahabatku A. Fitria Ridwan

Di mata setiap laki-laki yang mengagumi seorang perempuan, ada ribuan alasan menumpuk di otaknya yang membuat ia bertahan untuk tidak pergi meninggalkan. Ia adalah laki-laki yang berjuang di sebuah arena bernama hati mencoba bertahan sekuat tenaga menahan pandangan mata, sedang perempuan itu mencoba sekuat tenaga membentengi hati. Lalu sebenar perjalanan hidup membawanya pada sebuah keberanian untuk menjatuhkan pilihan, namun sayang di luar sana hujan juga seakan berlomba menjatuhkan dirinya, mengalir deras memenuhi sungai-sungai kecil di sepanjang jalan. Dan sore kemarin, bisa jadi pilihan itu ditinggalkan seiring jatuhnya air hujan yang menutup senja dengan dingin yang menusuk kenangan. Entah apa maksud Tuhan membiarkan perempuan itu mencoba dengan dia yang salah, menjelajahi hatinya sampai kehilangan arah. Jika bisa, aku ingin menawarkan tempat duduk di sisiku hanya untukmu, dan kusediakan tissue untuk mengusap air matamu. Seperti hari-hari sebelumnya saat kita sering bertemu, akan kauceritakan semua rasa yang sudah sekian lama mengendap di udara sambil menyeduh kopi hangat buatanmu. Tapi sepertinya aku salah, kau perempuan yang cukup kuat untuk menunggu dan rela bersabar demi memantaskan diri hingga Allah memberikan laki-laki yang sepadan sebagai jawaban doa yang sudah sekian lama terucap. Jadi sepertinya aku cukup jadi pendengar yang setia mengagumi langkahmu, kau selipkan cerita sebagai teladan dan doaku akan terus menyertaimu.

Jangan katakan berlebihan jika aku menjadikanmu salah satu teladan dalam hidupku, faktanya memang demikian. Terangmu terus saja terasa sepanjang perjalanan, itulah mengapa aku tidak pernah mensia-siakan waktu berbincang denganmu. Kau pernah mengatakan sebuah sesal karena pernah mengenal laki-laki itu hingga harus berjuang menabahkan hati saat ia pergi meninggalkan. Tapi bukankah hidup adalah gudang pelajaran? Tidak akan ada hidup yang berjalan mulus tanpa gangguan termasuk karena laki-laki. Kita adalah dua perempuan yang berjuang menjaga hati, tapi sebagai manusia biasa aku kadang tergoda menikmati perhatian yang diberikan laki-laki. Tak perlu penjelasan panjang lebar, kau hanya titipkan satu pesan untukku “Bagi orang-orang yang merasa mandiri, perhatian itu memang jebakan.” kata-kata sederhana macam itu sudah bisa menguatkan hatiku. Bagaimana dengan hatimu?

***

Pagi telah menyongsong, tidak ada yang berubah. Ada laki-laki yang sudah sekian lama bertahan di gubuk kokoh hatimu, laki-laki yang sekian lama kau kagumi karena kebaikan dan perjuangan hidup yang mengesankan. Ia datang padamu dengan apa adanya, membiarkanmu berdamai dengan masa lalu dan pada beberapa kesempatan air matanya menetes karena menangisi kehilangan yang serasa seperti bencana kemudian dikatakannya padamu “Tanpa hadirmu dalam hidupku, aku yang sebaik hari ini tidak akan pernah ada.”

Tapi bukankah pagi selalu menawarkan kesempatan baru?

Dulu, ada kebodohan yang ia lakukan dengan menyerahkan hati pada seorang yang tidak tepat. Jelas, ada jejak tangan lain yang tertinggal di hidupnya tapi setelah menemukanmu lagi, ia (laki-laki itu) hanya berharap melihatmu sebagai seorang yang pantas diperjuangkan karena mungkin sudah lelah terus mengeluhkan kesepian. Sebab ditemukan lagi wajahmu yang dulu selalu ada, datang, dalam bayang-bayang mimpinya.

Kau pernah berteriak panjang butuh genggaman dan kini saat ia datang padamu, apa kau masih butuhkan waktu tunggu? Entahlah, kau sudah melewati perjalanan panjang untuk saling menemukan dan aku selalu menantikan kepada siapa hatimu akan kau persembahkan. Yakinlah, kau akan segera dipertemukan. Kau harus tahu, itu doaku tiap hari ketika pintu-pintu langit terbuka.

Sekedar memastikan, kau tak akan sendirian.

Dariku, yang mencoba menulis cerita sederhana di hari ulang tahunmu. Selamat Ulang Tahun, semoga tetap jadi perempuan yang membanggakan.

Kediri, 08 Maret 2014; 17.30

SURGA KELUARGA

Wajahmu merupa surga bagi keluarga

Urat doa penerang bagi jiwa pendamba surga

Ramah mengalir saat bertutur kata

Indah membias teladan entaskan segala duka

Alirkan nuansa damai peneduh jiwa

Sempurnakan iman karena ilmu yang diamalkan

Tercermin akhlak berpendar cahaya wujud kemuliaan jiwa

Usir risau dengan segala santun pelembut hati

Tampil sebaik-baiknya manusia di hadapan Allah dengan hijab hidup yang kau eja terbata

Itulah dia Ibu, yang menjaga surga keluarga