Sesungguhnya saya bingung harus me-review tulisan liburan dari sisi mana. Sesungguhnya bagian-bagian dari blog ini ada yang perlu di perbaiki. Sesungguhnya writers’s block itu jelas adanya. Demikian.

Advertisements

Dear Ami #23 Rindu

Well, I miss you mam

20 Januari 2017; 23.15

Hampir sebulan aku meninggalkanmu. Resah dan rindu bercampur jadi satu. Resap di jiwa. Berharap yakin tak kan goyah. Bahwa Allah yang mempertemukan, pastilah Ia bertanggungjawab menjawab rindu dengan temu. Meski tunggu menjadi tanya. Kiranya kita tetap saling berpeluk doa sebagai bahasa cinta. Maukah kau kupeluk selamanya dengan cara itu?

21 Januari 2017; 13.42

Aku menahan pilu guguran rindu. Bagaimana denganmu? Ketika detik tak berijin temu. Senyap dan tangis merayap diam-diam, memecah batu kerinduan. Aku yang hanya memeluk bisu waktu, ditemani bayangmu yang kekal selalu. Meski mata, hidung, kening dan bibir terhalang jarak. Di hatiku tersisa doa untuk bisa mengecupmu.

Serotonin adalah penghubung antar sel syaraf yang menjaga keseimbangan mood dan energi, nafsu makan, siklus bangun/tidur, mengatur gerakan usus, membantu menutupnya luka, mengeluarkan racun, memperkuat tulang dan mempengaruhi gairah seksual. Serotonin diproduksi di otak dan di usus. Karena serotonin ditemukan di berbagai jenis sel, diduga dampaknya sangat luas dalam berbagai pengaturan emosi psikologis dan kerja organ […]

melalui Serotonin: agar mood tidak naik turun, bebas depresi dan sembuh dari sakit — Indira Abidin’s Blog

Hidup adalah sebuah game, permainan hebat di mana Sang Pencipta bertindak sebagai Game Master. Game ini punya satu tujuan: menciptakan kebaikan, mencegah keburukan. Setiap kali kita menciptakan kebaikan kita mendapat poin positif dan setiap kali kita melakukan keburukan kita mendapat poin negatif. Bertambahnya poin membuat kita punya energi lebih banyak untuk meraih hadiah besar di […]

melalui Kenali permainan hidup kita yuk — Indira Abidin’s Blog

Berbagi…

Seorang profesor Harvard meneliti dan menemukan bahwa seseorang akan lebih bahagia apabila ia memberikan uangnya pada mereka yang membutuhkan daripada kalau menggunakan uang tersebut untuk membeli barang yang ia fikir ia senangi. Peneliti lain dari UC Davis menemukan bahwa pada saat kita berbagi kita merasa terhubung dengan dunia yang lebih luas, dan hal ini […]

melalui Semua orang bisa menjadi hebat karena semua orang bisa berbagi dan melayani — Indira Abidin’s Blog

Hati-hati dengan Kebencian

Apa yang aku benci di sana, ternyata Allah takdirkan terjadi di sini

Bahkan sangat mudah bagi Allah untuk membawa suatu kebencian itu menjadi semakin dekat dengan kita. Di hadirkan olehNya di depan mata agar lebih jelas terlihat. Disuguhkan di hadapan kita agar lebih menjadi perhatian.

Isak tangis seolah menjadi saksi betapa kebencian selama ini sudah menguasai pintu hati. Membuatnya lupa bahwa sebagai manusia memang ada banyak sekali kekurangan yang tidak bisa diperbaiki seketika. Itulah mengapa banyak orang berpesan untuk tidak membenci hingga menyakiti manusia lain, walaupun hanya sekecil debu berbentuk prasangka.

Setiap manusia pasti punya peluang berbuat kesalahan. Lalu apakah kita termasuk orang yang bersih dari kesalahan atas kehidupan orang lain? Tentu tidak. Itu artinya, tak ada sedikit pun hak kita sebagai manusia untuk menyuburkan benci dan rasa tidak suka atas suatu hal atau tindakan.

Allah memang tak pernah salah, tak pernah.

Sekarang, lebih baik untuk belajar membaliknya. Agar sebutir kebencian itu berujung muhasabah, meyakini hakikat setiap makhluk adalah terus belajar. Jangan sampai shalat sekalipun akan dipandang buruk sebab rasa benci dan prasangka atas seseorang.

Semoga setiap prasangka, kebencian, dan rasa apapun yang tidak nyaman di mata kita sebagai manusia akan spontan berganti istighfar. Karena kebencian juga menghalangi ilmu dan kebaikan yang datang dari orang yang kita benci.

 

Dan apa saja yang kita benci di sana, bisa saja esok Allah hadirkan di sini, di dekatmu, bahkan di hatimu.

Kediri, 12 Januari 2017 

ps. Akan menjadi awal catatan panjang yang berhari-hari saya simpan notes handphone

Apendic Acuta (1)

Siang itu saya ngeyel dan ngotot minta pulang. Tak menyangka dan lebih tepatnya tak terima kalau hasil USG saya positif usus buntu. Seketika dokter menyarankan persiapan operasi. Ketika hasil sudah di tangan, saya mulai pikir-pikir. Menatap nanar wajah ami yang waktu itu mengantar dan memaksa ke rumah sakit. Berbagai bayangan buruk dan pikiran negatif bermunculan di kepala. Sesenggukan menangis di bahu ami dan berharap semua akan baik-baik saja.

Ah… sudahlah, mari kita lanjutkan nanti saja

Dear Ami #22 Melepas Rasionalitas

Jika harus dijauhkan lagi, aku tetap mencintai ketidaksempurnaanmu sebagai manusia

Dua tipe manusia yang mulai aku sadari keberadaannya adalah, pertama orang yang dengan mudah menyampaikan maksudnya, pikirannya, perasaannya, atau rasa tidak suka pada sesuatu tertentu. Kemudian ia bisa merasakan kelegaan setelah semuanya didengar orang lain. Kedua, adalah orang yang diam atau pura-pura diam, memilih pasif dan merasa baik-baik saja. Penuh gejolak atas apa yang dihadapinya tapi menyimpannya dalam-dalam. Bisa jadi ia juga menolak orang lain untuk mengerti dan memahaminya.

Akhir-akhir ini mencoba untuk tidak realistis. Menjadi masing-masing setengah dari dua jenis orang di atas tersebut. Mencoba menikmati perasaan, menguji rasa sensitif dan melupakan ‘kata orang’.

Karena aku rindu memilikimu, seperti dulu.

Jika ada nilai yang bisa kutulis untuk mengapresiasi perasaanmu padaku, jelas aku akan menuliskan angka paling tinggi. Tapi kita paham, semakin hari angka-angka itu justru terjun bebas oleh kenyataan yang menampar perasaan. Angka itu justru berubah menjadi hitungan matematis yang mematahkan lamunan-lamunan sepanjang perjalanan kehidupan kita.

Sampai pada suatu hari dan pada hari-hari berikutnya setelah itu…

Aku memahami kesulitanmu mengelola cemburu. Mulai kesedihan yang mengikis nilai kebersamaan hingga kerinduan melangitkan doa-doa kebaikan untukmu. Rasanya empati dan simpati tak cukup berpengaruh dan membantu untuk memperbaiki keadaan. Meski dulu kita justru sering mengagungkan hal-hal sederhana untuk membuktikan bahwa kita tidak terpengaruh oleh perasaan-perasaan labil macam cemburu. Sedih. Aku berasa ditampar dan dipaksa ‘kembali’ ke jalan yang benar.

Akhirnya aku benar-benar merasakan: Mencintaimu dan memperjuangkanmu dua kali lipat. Kurasa seperti itu yang bisa kurasakan.

Aku kemudian menikmati menjadi manusia yang mengungkapkan perasaannya.

Malang, 5 Januari 2016