Belajar Darimana?

 

Sejauh ini, pertanyaan “Belajar darimana?” selalu mengalihkan perhatianku dan menghentikan setiap aktivitas yang sedang aku lakukan, memandang mata si penanya agar tak membagi perhatian untuk keadaan sekitar. Wajahku yang semula tenang kemudian menjadi tegang. Kali itu aku terdiam cukup lama, pertanyaan itu asik berebut kata di kepala untuk kujawab. Aku meliriknya, dan menyadari bahwa pertanyaan itu mempesona. Menaungi setiap perasaanku yang dipaksa untuk punya definisi terbaik ketika menjawab.

Aku juga akan bersikap sama seperti itu ketika menanyakan hal itu ke orang lain. Bagiku sederhana saja. Jawaban yang keluar dari pertanyaan itu bisa saja jadi salah satu daya dobrak untuk berpikir siapa diri kita. Seperti apa sih belajar dan bagaimana standar-standarnya? Baru setelah itu mungkin kita bisa benar-benar menemukan apa jawaban yang sesuai dengan diri sendiri.

Untuk pertanyaan ini, aku ingin menitikberatkan pembahasan pada dua cerita di bawah ini

Cerita 1

Hari ini tepat kedua kalinya aku bertemu dengan nenek tua di sebuah tanjakan jembatan. Kondisi hujan deras dan hari yang gelap tetap memaksanya untuk berjalan sambil menyunggi bakul (sejenis kerajinan tangan dari anyaman bambu yang biasa dibuat wadah). Dengan mantel berwarna merah terbuat dari kresek ia berusaha keras menyembunyikan dingin yang menusuk tulangnya. Kedua tangannya masih erat memegang bakul yang diletakkan di kepala sehingga wajahnya yang basah oleh air tak bisa diusap. Ia berhenti sejenak, mencoba membenarkan posisi bakul di kepalanya. Tampaknya ia lelah. Di usianya yang tak lagi muda, ia harus berjalan di tengah hujan sambil membawa dagangan yang belum tentu habis dalam sehari. Tapi ia tetap melakukan itu. Terbukti, sepulang dari kampus ketika menjelang maghrib, ia menjajakan dagangannya di tanjakan jembatan ini. Meski hujan deras sekalipun.

Cerita 2

Saudaraku yang sudah sejak setahun yang lalu terbaring sakit kini kondisinya semakin menurun. Hampir bisa kupastikan ia akan absen untuk datang ke masjid dan sholat berjamaah setiap harinya. Sebab memang kondisinya sudah tidak bisa duduk dan berjalan. Semakin hari keadaan tak kunjung membaik meskipun semangat untuk sembuh tak pernah luntur. Suatu ketika saat adzan subuh, aku yang tertidur disampingnya tiba-tiba dibangunkan. Ia membisikkan satu hal sambil terisak, “Ambilkan wudhu untukku, aku mau sholat meskipun sambil terbaring.”

Dari dua cerita di atas aku diantarkan untuk membaca setiap kejadian yang ada di depanku. Apakah sulit untuk menemukan sebuah kebaikan dari hal yang sederhana sekalipun?

Aku akhirnya tahu, suatu ketika keadaan akan berbicara sendiri sambil aku memejamkan mata dan memikirkannya. Sepertinya mereka berbaik hati menangkap fokusku agar menemukan keberanian dan jawaban.

Dan kau tahu?

Kenyataannya hidayah memang tidak datang jika bukan Allah yang menggerakkan. Jadi bersyukurlah jika Allah masih memberi waktu untuk mencari dan menemukanNya. Berbahagialah bagi mereka yang ditakdirkan untuk dicari dan ditemukan oleh Allah. Dan dihadapan waktu, 21 usia yang berlalu bukan alasan untuk terlambat mencintaiNya.

Detik ini, dari dua cerita di atas. Aku bisa mengatakan sekali lagi pada diriku sendiri. Bahwa masih bisa berdiri dan tertunduk untuk sholat dan sujud di atas sajadah adalah hidayah, adalah syukur yang tak bisa diukur.

Karena yang paling menyedihkan dari semua ini adalah: Ketika aku tak bisa Belajar Dari Kehidupan.

Dan jawaban: Belajar Dari Kehidupan adalah jawaban paling kukagumi sebab tak semua orang bisa melakukannya.   

Malang, 24 November 2016

Advertisements

Mengharumkan

Jadi aku baru pulang dari ‘rumah’ yang sering disebut mimpi. Sambil mengusap-usap mata yang baru saja bangun tidur mencoba memfokuskan pada apa yang sedang di depan mata. Berpikir… sungguh ada perasaan campur aduk yang berjejelan.

Melihat tumpukan kertas yang menjejali ruang kamar.

Gagal. Sepenuhnya gagal.

Melihat foto-foto dan nama yang tertata sedemikian rupa di dinding kamar. Bergumam, “harusnya aku bisa seperti itu, mereka! Bagaimana bisa melupakan mutiara yang harus dipoles. Sisa waktu untuk apa?”

Jangan asik dengan duniamu sendiri. Harusnya kamu bisa. Mengagumkan. Seperti mereka. Hanya butuh sedikit dipaksa, ngeyel, melompati keterbatasan, dan konsisten. Namanya daya gugah! Tapi satu yang kamu lupa: ojo lali kesehatanmu! kata mereka.

Tapi… kamu sedang di jalan hidup yang mana? Sadar?

Mereka melihat lho… Apa yang sedang aku lakukan? Bagaimana prosesnya? Masih menolak bahwa ada masalah yang membuatmu beralasan kesana kemari? Apa terlalu berat untuk mengambil tanggung jawab diri sendiri? Menyalahkan kondisi dan mencari alasan?

Sekali lagi. Seluruh perasaan berjejalan di ronga dada.

Dengan ini aku harus jatuh -lagi. Dan menata tumpukan bata mulai dari tanah, dan ketemu lagi dengan namanya puncak kehidupan. Ketemu orang-orang keren lagi di bidangnya. Membuat mawar bermekaran di sana-sini. Ada yang akan kupegang lebih erat untuk kedua kalinya: kamu dan mimpiku. Lebih kuat. Karena ada yang harus takluk di hadapanku. Karena aku tak akan terpuruk di depanmu untuk kesekian kalinya.

Mengharumkan.

 

KONSPIRASI KEBAIKAN

Aku sudah mencoba berkali-kali, menguji mimpimu. Menunggui prosesmu dengan sangat sabar. Lalu aku berkali-kali membagi diriku menjadi beberapa bagian: Pertama, menjadikanmu prioritas. Kedua, menjadi teman bagi diriku sendiri. Ketiga, menjadi pendengar yang baik. Keempat, menghabiskan waktu mendengar mimpi orang lain. Setelah itu berbagai perasaan lega dan puas betebaran di hati, menjadi mawar yang membagi harumnya pada siapa saja. Selain juga berkali-kali memaklumi perasaan untuk merasa berjalan sendirian, berkorban, capek, dan berlari lebih kencang agar orang lain tergerak untuk berlari. Berat?

Pertanyaan itu yang belakangan tak bisa kujawab. “Berat?”, Tapi baiklah akan kuceritakan satu hal.

Semalam, sahabat baikmu menghubungiku. Menanyakan kabarmu. Mengkhawatirkan masa depanmu. Tentunya aku tahu bagaimana perasaannya dan merasakan kekhawatiran yang sama. Ia bilang, aku satu-satunya orang yang bisa men-deliver pesan dan keinginan orang-orang di sekelilingmu. Aku tersenyum lega, mencoba menenangkannya. Di tengah kecamuk perasaan was-was-takut-penuh harap aku menjelaskan setiap detil kondisimu yang semakin positif sejauh ini. Trying to survive sepertinya masih menjadi kalimat yang bisa aku banggakan darimu. Tentang sejuta harapanmu dulu dan setelah ini, aku menegaskan sekali lagi padanya dengan gumam tulus ‘sebut ia dalam doa-doa panjangmu… biar Allah yang turun tangan langsung untuk menggerakkan hati dan harapannya’. Pasti, begitu jawabnya singkat. Setelah percakapan singkat itu aku bisa melihat detil yang selama ini kau bawa dan bangun di hadapan teman-temanmu. Tipe orang yang mengusahakan semua pintu kebaikan dalam segala situasi.

Kalau saja aku sudah merasa cukup dan puas dengan apa yang pernah aku lakukan, mungkin ceritanya tidak akan sampai pada titik ini. Aku paham bagaiman caranya memberi ruang untukmu berpikir dan melanjutkan hidup. Untuk apa? Agar dirimu bisa leluasa melihat betapa berartinya dirimu tanpa aku disampingmu sesekali. Lalu, aku dibelakang dengan sabar membuka jalan untuk menembus keterbatasan. Di lain waktu berusaha sekuat tenaga menjaga kebaikan yang sudah ada, menjadi otak konspirasi bagi kebaikanmu di masa depan.

Pada akhirnya, sampai segala impianmu terbayar lunas, aku butuh mental yang bagus! Begitupun teman-temanmu, akan dipenuhi perasaan harus berjuang bersama, merasa belum melakukan apa-apa meskipun dibarengi dengan semangat menjadi lebih termotivasi dan bersyukur bisa mendampingimu.

Jawaban dari “Berat?” sepertinya mengandung unsur emosional yang kompleks. Dibutuhkan jawaban yang tidak dangkal agar bisa menenangkan diri sendiri. Aku akhirnya ingat ketika kau berjanji. Untuk lebih keras menempa diri dan tak lagi mengecewakan orang-orang yang membanggakanmu.

Aku tak pernah khilaf menilaimu. Jadi, aku masih akan konsisten menjadi otak konspirasi kebaikanmu. Dan dapat dipastikan siapapun bisa ambil bagian di belakangku.

Dear Ami #21 Belanja Buku

Sungguh aku tidak mengerti kenapa mengalihkan diri dari bahasa-bahasa ilmiah tentang perkembangan anak dan analilis kegiatan pembelajaran adalah sesuatu yang “alhamdulillah”. Rasa kangen menulis sesuatu yang apa adanya tanpa bahasa-bahasa ilmiah macam itu mendadak muncul. Di benakku mungkin hanya ada itu saat ini, juga bayangan wajahmu. Iya kamu yang selalu mengkhawatirkanku.

Minggu lalu kita sepakat untuk jalan dan belanja, setelah semalam aku merengek menginginkan buku-buku baru. Karena itu akhirnya aku bisa membujukmu untuk pergi ke toko buku setelah lama tidak menginjakkan kaki kesana. Aku juga sudah lama tidak datang ke toko buku, sebagai kompensasi janjiku untuk tidak sembarangan membelanjakan uang untuk buku-buku. Tapi kenyataannya aku memang tidak pernah bisa menolak godaan membeli buku, katamu “walaupun besok nggembel ya nekat aja tuh beli buku.”. Tapi kemarin ternyata bukan hanya aku saja yang tak tahan akan godaan membeli buku. Dirimu juga! Tak tanggung-tanggung, nominal belanjaan yang menyentuh angka satu juta itu ternyata justru melegakan sekaligus menyesakkan. Hahaha. Lega karena akhirnya bisa puas membeli buku-buku dalam jumlah banyak meskipun masih banyak list judul buku yang ingin dibeli. Menyesakkan bukan karena jumlah uang yang banyak dikeluarkan untuk berbelanja melainkan jumlah uang yang terlalu sedikit dialokasikan untuk membeli buku. Hahaha. Stress? Mungkin orang lain berpikir begitu dengan kebiasaan ini. Tapi sudahlah, bukankah membelanjakan uang untuk membeli buku adalah sebuah kekayaan? Investasi masa depan. Kilahku.

Aku mendadak merasa harus bertanggung jawab karena berhasil menjinakkanmu untuk belanja buku hari ini. Padahal beberapa bulan yang lalu, aku pernah dengan begitu naif berjanji padamu. Sebuah janji besar yang aku seratus persen yakin tidak akan pernah bisa aku tepati. Aku bilang “Iya aku janji untuk nggak bandel lagi abisin duit buat belanja buku banyak-banyak.”. And what happend today? Like a comedy. Kita saling beradu pandang lalu tertawa. Aku… mengamatimu dan melihat kesedihan sekaligus kebahagiaan lebih jelas dari siapapun. Aku disampingmu dan aku mengamati setiap detil keinginanmu. Dan kau mengijinkannya.

Janji yang pernah kuucapkan itu tidak pernah sekalipun terdengar keren. Walau aku tahu tujuanmu untuk membuatku berjanji seperti itu untuk kebaikanku. Aku tahu itu. Tapi… tapi… entah apalagi yang harus aku rasakan selain rasa tersiksa karena tidak membeli buku saat datang ke toko buku.

Pandanganmu mengisyaratkan sedu. “Kenapa?” tanyaku dan tanpa aku minta kau memberikan jawaban, aku melanjutkan “Sudah nikmati aja, kita juga butuh buku-buku ini kan, Mi…”. Batinku, semoga kalimat itu dengan segera bisa menghentikan sedu dan khawatirmu.

Kutinggalkan kau dari lorong-lorong rak buku itu dan berbicara sendiri “Sepertinya aku harus berdoa lebih khusyuk. Meminta Tuhan untuk menghadirkan rejeki yang berlimpah sehingga membebaskan kita untuk membeli buku-buku. Aku tak ingin lupa dengan kebaikanmu, semoga Tuhan juga berbaik hati memperkenankanku untuk lebih pandai tersenyum dan merayu, supaya aku tak dihukum ketika membuatmu marah. Supaya tak ada lagi yang bisa kau khawatirkan dariku.”

I Love You, Ami…

 

Senja bertukar cerita saat mata beralih pandang

Aku tertegun menarik garis hidup

Ada satu lembar…

Ada satu tempat…

Menunggu hatimu tergetar oleh getir

Dan lari…

Dan patahan doa tumpah ruah

Dan siapapun boleh pulang

 

Sibuk vs Prestasi

Sekedar sibuk tak berarti berprestasi

Sering melihat orang yang dalam hidupnya sangat sibuk sekali tapi nyaris tak satupun melihat prestasi yang ditorehkannya? Kita mungkin sering menilai orang dari apa yang sering kita lihat di kesehariannya. Tapi ternyata hal itu tidak berbanding lurus dengan sebuah prestasi. Alih-alih melihat bagaimana capaian prestasinya, melihat hal itu mungkin kita akan lebih mudah mengatakan “dia sok sibuk”.

Kemampuan mengatur aktivitas sehari-hari bisa jadi salah satu keahlian penting memimpin diri sendiri. Kita mungkin bisa menilai orang lain dari niat baik yang kita miliki. Tapi tak jarang orang lain justru menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Niat baik saja tidak serta merta membuat orang lain memiliki reputasi yang baik pula. Nama baik adalah serangkaian tindakan nyata disertasi prestasi.

“Tapi kan masalahnya waktu hanya 24 jam? Itu sangat kurang sekali untuk mengerjakan banyak hal?”. Kita sering mengatakan hal itu berulan-ulang, padahal tahukah kita bahwa masalah terbesar sebenarnya adalah kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Kebiasaan itu secara tidak langsung akan membuat prioritas pekerjaan dan aktivitas yang lain jadi bergeser.

Jadi apa yang kita perlukan? Agar waktu yang dimiliki bisa dimanfaatkan secara efektif, maka setiap hari kita membutuhkan rencana yang tertata dan tertulis. Selain itu kita dituntut untuk memiliki prioritas dan sasaran yang terukur serta batas waktu untuk mencapai target. Nah, dari hal-hal itulah maka kita bisa melihat pekerjaan mana yang bisa dilakukan (do), mana yang bisa ditunda (delay), didelegasikan (delegate) hingga yang tidak perlu dilakukan atau dihapus (drop).

Hanya karena kita bisa melakukan suatu pekerjaan bukan berarti pekerjaan itu harus kita lakukan. Kemampuan memilih dan mengukur kapasitas diri untuk menerima beban pekerjaan ada di tangan kita. Barangkali pilihan yang tepat akan membuat kita punya kebebasan untuk fokus pada satu pekerjaan dengan hasil yang maksimal.

Selamat bekerja!

Gubahan dari rubrik Leadership Insight dalam buku Lead Like A Tour Leader Karya Eddy Efendy & Paulus Winarto

Tulisanmu

Seluruh perhatian di laptop ini, tertuju pada blog-mu. Tulisan segar penuh dengan celotehan renyah dan pertanyaan yang tak jauh-jauh soal kehidupan. Wajahku yang semula muram, kini tersenyum oleh sentilan kata-katamu. Benar saja, sudah lama aku menikmati tulisanmu, tapi belum sekalipun aku dibuat bosan dan jengkel. Pada saat itu, satu kalimat saja bisa menyambar nyali yang mulai ciut. Membawaku kembali menjadi anak-anak yang mulai mengeja dunia lagi.

Anggaplah memang tulisanmu keren. Hampir tidak pernah kubayangkan sekaligus temukan bahwa ada manusia-manusia yang tulisannya begitu keren untuk dibaca. Meski itu hanya karena faktor menyentuh hati si pembaca, sederhana sekali bukan? Semua. Semua. Hampir semua tulisanmu sudah khatam kubaca hingga diulang-ulang. Pelajaran yang kupetik darimu seperti hujan yang mengguyur perih kegelisahan.

Membaca tulisanmu tak lain seperti menyelami kehidupan anak usia dua puluhan dari sudut pandang penciptaan dan menghayati hakikat eksistensi. Merenung, menunjukkan arah, memperkaya batin, menelanjangi diri di depan cermin besar peristiwa untuk mencoba bertahan dengan segala hal yang ada pada diriku. Itu yang aku syukuri setelah membaca tulisanmu.

Malang, 8 November 2016