Hari Itu, Tentang Pilihanmu

Pada sebuah kehangatan pertama ramadhan, aku berbicara tentang melepaskan dan keikhlasan.

Segitunya Engkau ingin memberikan pelajaran yang menguatkan hatiku, hidupku.

Hari itu, di sebuah taman yang ada di belakang masjid.

Kita bersitatap. Kau tersenyum tipis. Lalu mataku mulai berair saat kau mengutarakan keinginanmu untuk melanjutkan hidup di luar sana.

Lalu dengan memainkan jemariku berharap air mataku tak meleleh di pipi, kukatakan,

“Aku terlalu takut kau disana sendirian tanpa aku”

Tidakkah kau lihat, aku degan sekuat tenaga menyampaikannya sambil menahan air mataku agar tak tumpah di hadapanmu. Otakku sudah mulai panas, dadaku sesak, aku gusar dalam suasana seperti ini.

Hari itu, kau bercerita banyak hal tentang mimpi masa depanmu. Kau bercerita tentang banyaknya perbedaan yang harus kau sikapi. Saat itu aku berpikir, kau terlalu muda untuk membicarakan itu tapi aku kagum ternyata kau lebih dewasa daripada aku.

Dengan gaya khasmu yang menggebu-gebu dan penuh emosi (Mohon emosi tidak dimaknai dengan perasaan marah) menyampaikan pendapatmu tentang pilihan yang kau ambil. Aku sedikit kaget dan ragu akan pilihanmu, kau yang biasanya dengan leluasa menikmati gemerlap dunia mendadak ingin mengurung diri dan membangun dimensi spiritualmu di sana.

Hari itu, kita datang di tempat yang sama dengan tujuan yang sama. Menikmati senja pada ramadhan pertama. Tapi kali ini kau berbeda, kau tak mengenakan jeans dan kaos polo seperti biasanya. Kau hari itu berbaju koko lengkap dengan sarung dan kopyah di kepala.

Kau bilang ingin mencoba sesuatu yang baru. Menikmati sesuatu di luar zona kita.

“Aku percaya akan lebih baik di sana nanti. Aku akan melakukan yang terbaik.” Katamu tiba-tiba.

Aku terhenyak. Diam-diam di dalam hati mengutuki diri sendiri yang tak terlalu sering menghabiskan waktu bersamamu. Ketidakmampuanku menjadi pendengar yang baik untuk semua ceritamu. Ketidakmampuanku hadir pada saat kau membutuhkanku. Aku minta maaf, untuk ketidakmampuanku menyediakan yang terbaik untukmu. Terlebih, aku minta maaf untuk ketidakmampuanku menjadi teman belajarmu setiap saat di berbagai kesempatan.

Air mataku pecah juga. Niat hati ingin menguatkanmu, tapi kau jauh lebih kuat dariku. Mungkin karena kau laki-laki.

Hari itu, aku menyodorkan sebuah jurnal kecil berwarna cokelat.

“Sebelum hari ini aku sudah mempersiapkan jurnal itu untukmu. Terimalah.”

“Kalau kau butuh apa-apa atau tak tahu harus melakukan apa, bukalah jurnal itu. Semua tulisan itu kupersiapkan untukmu.” Kataku sambil mengusap air mata di pipi.

Hari itu, sebelum kau pulang, kita berpelukan. Pelukan hangat yang sudah lama tak kudapat darimu. “Aku pasti akan merindukanmu”, katamu sambil mengeratkan pelukan. “Aku akan sering-sering mengunjungimu, pasti!” kataku meyakinkan.

Hampir dua belas tahun kita jatuh bangun, tertawa-menangis, menikmati semuanya bersama. Kali ini aku harus merelakan tidak menikmati ramadhan denganmu lagi, mungkin juga untuk beberapa tahun ke depan. Aku pikir aku tidak bisa melewati ini. Tapi kau selalu mengerti, aku selalu melankolis dan cengeng untuk hal-hal seperti ini. Aku bahkan tak bisa membedakan apakah ini bentuk kekhawatiranku padamu atau perasaan kesepian karena kau jauh dariku. Aku bisa membayangkan kesepian yang kurasakan nanti. Aaah entahlah.

Aku melihat satu hal terbaik tentangmu: Terbaik karena kau bisa membuat aku melakukan yang terbaik.

Semoga semua pilihan dan keyakinanmu di balas dengan sesuatu yang lebih baik oleh Allah. Doaku untukmu selalu.

Kau, adalah yang Aku Dengar!

Aku menahan senyum. Karena diam-diam kau suka melihatku berbicara, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulutku. Sepertinya kau menyimak betul percakapan ini. Tanpa sadar, akupun demikian. Tak henti menatap wajahmu, melihat dirimu yang sangat ekspresif menyampaikan buah pikiranmu. Terlebih ketika aku sering melihatmu berbicara di depan forum, kau sebagai pembicara mampu membius semua yang hadir dengan topik yang hangat dan tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Gaya penyampaian yang ringan, lugas, dilengkapi dengan ilustrasi yang sederhana membuat siapa saja tertarik mendengar apa yang kau sampaikan.

Di setiap perbincangan, mungkin kita lupa atau memang sengaja “melupakan” urusan-urusan yang lain karena menikmati apa yang kita bicarakan. Sebuah kenyamanan dari apa yang kita lakukan.

Tentang apa saja yang kita bicarakan, itu tak pernah jadi soal dan perdebatan, justru kau yang tak pernah kehabisan ide untuk bercerita banyak hal, kau yang dengan senang hati membagi isu-isu terbaru untuk kita bicarakan lalu kau menyimpulkannya dan aku dengan mudah mencerna apa yang kau sampaikan. Harus kuakui, aku memang belajar banyak darimu. Satu yang mungkin tak kau tahu. Aku tak melakukan hal seperti ini pada banyak orang.

Kau tahu, aku dan kau punya kemiripan. Kita berdua enggan membicarakan urusan seperti ini pada orang lain. Kita memilih memendamnya. Menyimpannya rapat-rapat. Terlihat aneh, tapi itulah yang kita lakukan.

Menuliskannya adalah satu-satunya pilihan jika dirasa perlu.

Tak banyak yang tahu jalan pikiran orang-orang semacam kita. Tapi pengecualian untukmu, kau yang dengan semangat membicarakan mimpimu seolah itu adalah diriku. Kau tahu benar bagaimana membaca pikiranku. Justru kaulah yang mampu menerjemahkan itu sehingga terlihat jelas. Kau sangat tahu itu. Kau membicarakannya penuh semangat dan sangat mempesona. Aku berdebar mendengarnya, tak sabar melakukan pembenaran atas apa yang kau katakan, lalu diujung pembicaraan kita tertawa lepas.

Mungkin aku sudah terbius dengan pesonamu, mungkin juga karena terlalu sering kau ajak menghadiri acara yang pembicaranya adalah dirimu. Aku suka mendengarmu bicara. Bergairah dan berpengetahuan luas. Dengan menyimakmu, kau menyulut semangatku. Kau menulari mimpiku, menjadi sumbunya.

Kau sering berbicara duluan memecah keheningan, saat aku terdiam menikmati lamunanku. “Kok diem sih? gimana kabar hari ini? kok gak cerita sih?” bujukmu saat aku terdiam. Aku selalu ingat kata-katamu itu. Sementara itu semakin lama saat kita sudah sering berbincang, aku menganggapmu orang yang sudah tak berjarak. Aku menemukan dirimu pada diriku.

Buatku percakapan kita selama ini terlalu asyik untuk kunikmati sendiri. Aku selalu merasa cukup dengan ruang yang kau berikan untuk berbagi cerita. Aku tak butuh ruang yang lebih besar. Cukup. Terimakasih ya sudah mengijinkanku mendengar semua ceritamu. Terimakasih atas sambutan hangat yang selama ini kau berikan untukku.

Hari itu, sebelum kau pergi melanjutkan hidupmu di luar sana. Kita pernah berjanji, akan terus menulis, akan terus berbagi, akan terus membingkai kenangan yang pernah terjadi, mengukir langit-langit, melukis mimpi, dan kembali bertemu jika Tuhan mengijinkan. Sekali lagi aku berterimakasih telah memberikan kesempatan belajar bersama di tempat yang kita yakini mencetak orang-orang luar biasa. Studio itu!

“Kenyamanan tak selalu hadir dari segi materi. Menemukan dan menjadi pendengar yang baik adalah salah satu bentuk kenyamanan dari sisi yang lain.”