Dan Anginpun Membawa Sekelumit Kenangan

Sebenarnya aku menyayangkan keputusanmu untuk berhenti memperjuangkan apa yang pernah kau pilih dalam hidupmu. Sebuah keputusan besar yang kau ambil sampai aku harus dengan penuh kerelaan menyetujuinya. Hari ini, aku kembali membuka file foto yang sengaja kau titipkan di laptopku karena waktu itu kau tak punya laptop untuk menyimpannya. Pikirmu, kau akan mudah meminta dan mengcopy file-file ini jika suatu saat membutuhkannya hanya karena kau tau aku tidak akan pernah tega menghapusnya karena menghormatimu sebagai seorang sahabat baik. Hingga detik ini saat semua file masih tersimpan rapi di laptopku, bayangan wajahmu muncul mengulang semua cerita yang pernah kita lewati, mengalirkan udara dingin yang menerpaku dari sela-sela jendela kelas di lantai dua.

Lagi-lagi bayangan tentangmu menyibukkanku untuk mengulang semua cerita dengan menuliskannya. Mencoba sejenak memberhentikan waktu untuk mendengarkan materi kuliah, aku ingin menulis sebuah kisah sederhana yang hanya diketahui oleh hati. Sebuah penerimaan.

Dingin. Aku tak berani menatap keluar jendela, takut kalau saja air mata ini lebih cepat menetes karena sejuknya angin yang menerpa wajah. Walaupun aku tahu tanpa menatapnya pun butiran air mata sudah akan menetes. Tetiba dada menjadi sesak tertahan rasa yang lama tak terungkapkan atau mungkin aku yang terlalu pengecut mengatakannya. Waktu itu kau utarakan pilihanmu di hadapanku tepat saat aku menelan coklat terakhir yang kau belikan. Tampaknya kau tidak cukup peka untuk mengerti perasaanku waktu itu bahwa aku tidak ingin mendengarkan langsung pilihanmu itu. Logikaku mungkin sudah pecah, otakku mungkin sedang tak waras saat mendengarmu betapa aku sangat menghindari apa yang akan kau ucapkan. Aku tercengang dan diam. Tentu saja aku kaget dengan mudahnya kau menyampaikan pilihanmu lalu mempertegasnya di hadapanku sekedar meyakinkanku bahwa semua ini akan baik-baik saja jika kita bisa melewatinya. Oh tentu saja untukmu ini mudah, tapi aku? Entahlah.

Kadang aku tak menghiraukan maumu, nyatanya aku cukup kuat bertahan dalam kepura-puraan untuk tahu diri. Aku hanya tahu, pilihan itu yang akan membahagiakanmu walaupun disaat yang bersamaan sebenarnya harus dibayar mahal oleh luka yang masih menganga di hatiku, kalau saja kau tau itu. Kau sempat mengatakan agar aku bebas memilih berdasarkan keinginanku. Namun aku terlanjur memendam semua inginku atas pilihanmu yang membungkam harapanku untuk bisa menikmati kebahagian bersama. Kau tak peduli lagi apa kata mereka tentang pilihanmu, apakah dengan pilihan itu harapanmu akan tumbuh lagi? Aku tahu kita hidup sangat demokratis dalam sekelumit proses yang meninggalkan jejak-jejak hikmah di dalamnya. Tapi kali ini berbeda, cinta tak kenal demokrasi. Jadi akan kubiarkan saja tangan Tuhan yang bekerja memberikan jawaban atas semua pilihan yang kau ambil. Ini tak mudah membuatku jadi seperti ini, diliputi perasaan bersalah, dilema, dan tanda tanya. Kadang kita sering merasa demikian bukan? Kita merasa menjadi manusia satu-satunya yang harus menerima semua ujian dari Tuhan, jatuh berulangkali, merasa sendirian, dan harus menempatkan diri di atas semua perbedaan atas berbagai hal. Mengapa? Karena apapun pilihan yang kau tawarkan adalah pil pahit yang mau tak mau harus kutelan. Bagaimana mungkin aku harus memilih sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hidupku dan kali itu kau langgar dengan mudahnya, seolah-olah kau juga membuatku harus lebih fleksibel dengan pilihanmu. Aku kerap mempertanyakan apa jawaban Tuhan atas pilihanmu yang sering membenturkan idealitas dan realitas. Ah entahlah, barangkali aku hanya perlu terus menerima dan belajar memahami. Akan tiba waktu saat dimana Tuhan akan menjawab semua tanyaku dengan sempurna. Entah kapan. Entah bagaimana. Aku hanya akan terus berjalan dengan penuh kerelaan menerima semua pilihan yang kau inginkan.

Sore ini, langit Oktober yang mendung memberikanku jeda untuk merenung tentang pilihanmu. Bahwa akan selalu ada orang-orang yang takut untuk memilih hanya karena terkadang pilihan itu membenturkannya pada realitas. Tapi kau? Adalah satu-satunya orang yang dengan tegas memilih jalan hidup jauh dari definisi bahagia secara umum, bahagiamu sederhana yaitu mengikuti apa kata hati. Dengan itu, kau menumbuhkan tunas-tunas harapan yang muncul dalam beningnya cahaya senja.

Selamat menikmati pilihanmu di tanah perantauan, sahabatku

Kampus,

mencuri waktu menulis saat kuliah berlangsung

29 Oktober 2014; 15.43

Advertisements

Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?

Menjelma menjadi seorang individu yang tak ingin dibaca oleh orang lain, mengenalnya hanya lewat kata yang dirangkai pada paragraf tanpa titik.

Sebuah cerita yang dipersembahkan untuk angin, untuk suara, dan tanya yang menggema. Apalagi yang harus aku jelaskan padamu, pada sekian mata yang memandangku penuh tanya meski aku tak pernah menyapa mereka. Sebagian orang menyebutnya “kepo”. Hmmh, apa kau tak cukup memahami bahwa aku memang baik-baik saja ataukah aku yang kurang peka atas kekhawatiranmu pada jalan pikiranku. Barangkali kau menyebutku manusia paling tidak waras yang pernah kau temui. Aku berbaik hati memberimu kebebasan untuk mendefinisikan siapa diriku, tapi aku tidak akan pernah sekalipun meributkan definisi yang kau utarakan padaku. Aku tetaplah aku yang akan menjadi diriku sendiri di balik definisi itu. Aku akan tetap hidup menjadi manusia yang bebas bukan berarti bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Kali ini, disela angin yang mengantarkan bau hujan kau memaksa aku untuk menjawab semua tanya yang kadang menggoyahkan pikiranku. Bagimu, otakku adalah pustaka pikir yang harus segera di bongkar sampai sebenarnya kau sendiri tak tahu bagaimana memaknai pikiranku atas suatu hal. Harusnya, dan harusnya aku bisa menyampaikannya langsung padamu tapi aku memilih menuliskannya sebab jawaban dari sekumpulan pertanyaanmu membuatku menelan ludah dan menghela nafas panjang hingga tak dapat dilisankan. Barangkali benar kata temanku bahwa menulis adalah sebuah terapi diri dan penawar emosi yang paling asik maka barisan bait-bait puisi karya KH. Mustofa Bisri yang sering aku baca saat embun mulai meninggalkan jejaknya pada daun, selepas subuh… cukup mewakili jawaban yang kau butuhkan

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

-1987-

Untukmu… Masihkah kau ingin bertanya?

Kampus,

Di antara barisan tugas dan jadwal yang padat, rupanya menulis lebih menggoda untuk dilakukan

29 Oktober 2014; 8.47 am

Melepaskan Isyarat

melepaskan
foto diambil dari tumblr.com

Godaan terbesar ketika menulis adalah tidak tergerak menulis saat ide memenuhi ruang otak, tangan enggan menyentuh tuts-tuts laptop karena bantal lebih asyik untuk bersandar. Lalu apa yang aku lakukan dalam diam? Berangan-angan menatap impian yang kusam di langit-langit kamar. Sudah lama kubiarkan impian itu menggantung tanpa sempat aku menyentuh dengan tanganku yang mulai lelah meniti tangga kehidupan. Kalau ada tanda yang menjadi isyarat saat kulepaskan beban adalah lisan yang mana sering mendustai diriku sendiri. Memaksa hatiku untuk mengelak dan nyaman dengan topeng ambisi yang dikenakan. Apalah arti deretan piala dan lembaran kertas piagam yang kuanyam dari sudut ruang ternama hati jika membungkam setiap inginku. Dalam diam, kupendam semua kisah yang pernah menghujam hidupku. Barangkali bersama hujan, kisah itu semakin terpendam mengalir bersama dinginnya air hujan ke laut yang dalam.

Meski bebas melihat segala hal, menceritakan dari sudut pandang anak manusia yang mana memberikan kesan mendalam pada satu hal dimana tak ada paksaan bagi manusia lain untuk menafsirkan apa yang dituliskan membuat manusia menjadi tak pernah sama di mata setiap manusia lainnya. Sekedar menyapa saat rasa yang tersisa sudah tak seperti biasa. Mengeratkan dua tangan saat bersalaman sembari mata menatap tajam pada manusia di depannya, yang satunya menunduk entah mungkin karena tak kuat menerima tatapan mata yang mengisyaratkan tanya untuk segera menjawab mimpi dan ambisi bertahun-tahun yang lalu. Aku coba menjawab dengan argumen keras tapi kau cukup memberikan kata-kata sederhana yang mematahkan argumen kerasku. Kali ini aku sungguh tak bisa mengelak dari tanya dan tatapan matamu yang menyadarkanku ada seorang yang penuh harap menantikan langkah terbaik atas pilihan yang pernah kuambil. Kau sering menyeka air mata yang jatuh di pipiku dengan kelembutan tanganmu sambil menatapku penuh senyum. Entahlah, aku sudah lupa bagaimana memainkan jariku pada impian yang sempat menguatkan langkah kaki ini. Ada di depanmu, membuatku ku malu hingga terkadang mampu bertengkar dengan hati kecilku, menghadirkan rasa bersalah pada diriku, membuat ragu atas setiap apa yang kuputuskan, mentertawakan diriku sendiri yang tak mampu mematahkan berbagai ketakutan, tak lain semua itu hanyalah imajiku atas rasa sesal yang menjauhkanku pada kemampuan mengelola daya pikir.

Ah iya, barangkali kau adalah satu-satunya perempuan yang bisa melihatku dari sisi yang lain dimana tak ada lagi bayangan arogansi penuh emosi. Dan aku, betapa aku adalah perempuan yang lemah jauh dari kata sempurna dan selalu mengelak dari tanyamu yang sengaja aku biarkan berlalu tanpa jawaban. Entahlah. Allah menghadirkanmu kehadapanku dengan cara yang tidak mudah sebagai orang yang harus penuh kerelaan mendengar keluhku, meskipun sebenarnya aku tak ingin berbagi denganmu. Barangkali kau akan bosan mendengar celotehku. Barangkali kau akan bosan melihat tingkahku yang sering menyebalkan penuh kepanikan memenuhi keinginanku (yang seringkali tak masuk akal). Entahlah kau sudah tahu semuanya bahkan memahaminya. Hanya pada saat kau paling tergoda untuk bertanya banyak hal padaku, aku sungguh tak bisa menjawab banyak karena rupanya air mata ini menetes lebih deras membungkam lisanku. Kau cukup menatapku lekat untuk mendapat jawaban bahwa aku tak cukup kuat untuk melewati semua ini. Sering kugenggam tanganmu karena dengan itu aku sadar aku masih berpijak pada apa yang aku sebut keyakinan, keimanan, dan kebermaknaan.

Mungkin hadirmu adalah jawaban, penegas, penguat, dan penenang seperti katamu hati yang tenang itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Aku mencoba memainkan lagi jariku pada tombol-tombol huruf ini, mengurai makna pada sunyi yang sembunyi. Aku sedang mencoba dan akan terus mencoba melunasi setiap tanya yang kau ajukan. Kau tau betapa aku sekedar ingin menggenggam tanganmu saat ini. Betapa aku sedang diliputi ketakutan pada keputusan yang aku ambil dan biarlah rasa itu melebur saat tangan ini kau genggam. Hingga aku tak perlu khawatir bagaimana melewati langkah-langkahku karena kau ada untuk membuatku melihat setiap kejadian dari kacamata Allah.

Di ruang yang selalu menggodaku untuk menulis,
Minggu, 26 Oktober 2014; 23.06

Sakit

Camera 360Sakit itu nggak enak. Semua orang pasti sepakat dengan kalimat itu. Sudah dua minggu aku tepar he he terkapar di kasur karena radang tenggorokan kambuh lagi udah dua minggu gak sembuh-sembuh. Baru aja seminggu yang lalu pulang dari dokter dengan obat sekantong kresek, eh sekarang sakit lagi. Salah siapa ini? he he. Ini namanya peringatan karena sering bandel suka jajan sembarangan dan nggak tau waktu kalau lagi ngerjain sesuatu. Tubuh ini ada pemiliknya jadi jangan seenaknya aja melakukan sesuatu hal padanya. Nanti akan dipertanggung jawabkan loh. Ada yang berbisik pelan mengatakan itu sepertinya. Waktu sakit emang nggak enak, nggak bisa melakukan apa saja yang diinginkan intinya adalah mengurangi rutinitas dan jaga pola makan biar cepat pulih. Biasanya sih dua hari udah sembuh eh ini malah sampe dua minggu belum waras juga. Kuliahpun jadi korban, sempat nggak masuk walaupun tugas sedang menumpuk sekali (lagi musim UTS). Iya, akhirnya datanglah teman-teman baik hati yang bersedia membantu mengerjakan tugas ha ha ha. Terimakasih ya teman atas bantuannya, kalian memang baik.

Biasanya bisa lincah kesana-kemari mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan, sekarang cuma bed rest di kamar dan hampir tiap hari makan bubur. Nggak enak!! Banyak hal yang seharusnya bisa dikerjakan tapi akhirnya tertunda demi kesembuhan segera. “istirahat nya bukan disini, tapi nanti di akhirat.” memang bandel sih, waktu sakit aja masih bisa ngeles kayak gitu. “Ketika kita mengeluh capek, harusnya kita ingat bahwa istirahat kita sebenarnya bukan disini, tapi nanti di akhirat.” kalimat itu ada benarnya, tapi saat kita terlalu banyak melakukan banyak hal sampai membuat tubuh menjadi sakit, itu namanya merusak diri sendiri, nggak sayang sama diri sendiri. Itu salah. Tapi saat bisa memanage diri dan waktu dalam melakukan beberapa kegiatan sehingga tidak sampai merusak diri sendiri hingga sakit, itu nggak apa-apa. Menurutku. Ada benarnya kita belajar bagaimana menghargai diri sendiri sebelum Allah memberikan peringatan berupa cobaan sakit.

Sakit, rupanya menjadi cara yang ampuh untuk memperingatkanku supaya tidak terlalu sering menyiksa diri dengan banyak kegiatan dan jajan sembarangan. Ini teguran dari Allah yang sangat cantik…

Semoga lekas sembuh… Istirahat dulu ya…

Mading Sederhana

IMG-20140914-01411Ada yang sulit dituliskan apalagi mengungkapkannya dengan suara, sengaja membiarkan menjadi pilihan sedang hati meronta untuk bicara. Apa daya jika tak sanggup berkata. Sedikit menuliskannya, hanya sedikit cukup melegakan. Tumpukan demi tumpukan buku semakin memenuhi ruang kamar kost ini. Apalagi lembaran kertas bekas tugas makalah, paper, dan hasil coretan masih menghiasi meja kamar. Rak yang tersedia sudah tak cukup menampungnya, merapikannya pada kardus menjadi sangat sayang dilakukan, akhirnya dibiarkan menumpuk di meja menjadi pemandangan tersendiri di pojok ruang kamar. Jangan sampai terlihat kotor dan berantakan, maka setiap hari menjadi agenda rutin untuk membersihkan debu yang sengaja mampir. Membuka dan membacanya bergantian menjadi pilihan agar otak tetap terisi dan terus berpikir. Jika lelah, tumpukan buku-buku ini menjadi salah satu inspirasi. Memandangnya membuat aku selalu tergerak untuk menjamah lalu jelas membacanya, terserah tangan ingin membuka pada halaman ke berapa. Seringkali tak beraturan. Setiap orang punya cara tersendiri untuk mengekspresikan isi hatinya dan aku memilih buku sebagai objek ekspresi. Berasa menjadi orang yang paling bebas jika membaca buku-buku ini, mencacat sedikit kalimat yang memberikan makna entah apa yang terlintas pada benak.

Mading sederhana yang menempel pada dinding kamar menjadi tempat menuliskan semua rasa dalam kalimat. Dari situlah aku belajar banyak hal, seperti membaca apa yang sudah di tulis bisa memberikan energi positif dan semangat melakukan banyak hal. Berdiri memegang spidol warna merah lalu mencoretkannya pada salah satu tulisan di mading itu menjadi biasa aku lakukan saat satu per satu sesuatu hal sudah aku selesaikan. Aku biasa menuliskan sesuatu hal yang sedang dan akan dilakukan pada mading itu lalu jika sudah menyelesaikannya, tulisan-tulisan itu akan berubah menjadi coretan tinta merah tanda selesai. Setidaknya itu bagus untuk memberikan terapi pada diri agar tetap konsisten dan berkomitmen melakukan apa yang sudah direncanakan. Bagaimana aku belajar? Hampir setiap detik aku akan membaca tulisan-tulisan di mading sederhana ini, memandanginya, kemudian mengimajinasikan apa yang diinginkan. Bagi sebagian orang, apa yang aku lakukan mungkin akan dianggap gila tapi inilah nikmatnya menjadi orang gila yang selalu asyik dengan dunianya sendiri.

Dalam pendidikan, Belajar pada hakikatnya adalah sebuah aktivitas untuk melakukan perubahan tingkah laku pada diri individu yang sedang belajar. Perubahan tingkah laku tejadi karena adanya usaha individu yang bersangkutan baik yang mencakup ranah-ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik (Blook dalam Diknas, 2008). Secara singkat bisa disimpulkan bahwa perbedaan antara orang yang belajar dan tidak adalah Perubahan. Maka belajar bisa dilakukan oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Belajar, satu kata yang sampai detik ini masih menyelimuti pikiranku, membawa langkah kakiku sampai disini, detik ini. Untuk apa belajar? kehidupan itu dinamis, diam berarti mati berhenti pasti terlindas. Untuk itulah setiap hari adalah ladang bagiku untuk terus belajar menambah ilmu dan memperbaiki diri menjadi seorang yang lebih baik. Belajar bukan hanya melihat, membaca, mendengar, atau menulis tapi juga menemukan pemahaman (insight) terbaik tentang apa yang sudah dipelajari. Setiap detik manusia pasti belajar dari apa yang dilihat dan ditemui di sekelilingnya tapi barangkali hanya sedikit di antara kita yang bisa menemukan apa yang tersembunyi di balik proses belajar itu. Pada yang tertulis di mading sederhana ini, aku belajar bahwa ada yang harus dipertanggung jawabkan. Apakah nanti tulisan-tulisan ini akan meminta pertanggungjawabanku untuk segera diselesaikan? Iya tentu, jangan sampai menjadi bayang-bayang yang terus menghantui hidup. Mading inilah dimana aku membangun ingatan dan tindakan untuk terus berbenah. Barangkali pada setiap keadaan, mading ini menjadi tempat berbagi yang meski bisu tapi penuh warna, kata, dan cerita. Di sinilah aku juga belajar menemukan hidupku.

Putih – Waktu

SONY DSC
gambar diambil dari http://www.fabiovisentin.com

“Would like to wear Batik today, but white outfit seems more appropriate”

Kuliah pagi-pagi sekali setelah semalam lembur tugas yang meski tak banyak tapi membutuhkan banyak tenaga ekstra untuk menyelesaikan. Tugas berupa praktek menggambar dan kerajinan tangan cukup menguras waktu, tenaga, juga uang rupanya tak cukup menyelesaikannya dalam waktu yang singkat dan ‘ndadak’. He he he. Hampir setiap minggu bahkan hari ada saja tugas yang diberikan oleh dosen, prinsipnya “tiada hari tanpa latihan” kata salah satu dosen. Amat sangat bagus dan baik untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki jika setiap waktu dipenuhi dengan latihan dan tugas-tugas yang menunjangnya daripada hanya diam monoton mendengarkan teori dan materi yang diberikan. Terlalu hiperbola ya? Sekali-kali lebay tak apalah. Tidak ada yang salah dengan dosen dan tugas yang diberikan. Karena setiap mahasiswa harus ingat Dua Pasal tersirat ini: Pasal 1 Dosen tidak pernah salah; Pasal 2 Jika dosen salah kembali ke pasal satu. ha ha ha. Jangan terlalu anggap serius makna tulisan ini, nanti jatuhnya sakit perut sampai mimisan karena lelah berpikir. Nah, begitupun kalau dosen memberikan tanggung jawab berupa tugas jangan terlalu dipikir dan pusing tapi langsung dikerjakan. Take Action!

Mencuri Waktu menulis saat jam kuliah berlangsung memang tak dibenarkan, lah mau bagaimana lagi daripada ngantuk kali ini dosennya kurang bersemangat memberikan materi makanya nulis aja. “Jangan sia-siakan setiap detik waktumu” kataku dalam hati seolah membenarkan bahwa aku sedang tidak menaruh minat pada mata kuliah ini. He he he. Maaf untuk pak dosen yang mungkin kecewa, nyatanya banyak juga mahasiswa yang lebih asik “berkuliah” dengan hape-nya daripada dengan pak dosen. Ha ha ha. “Jangan pernah sekali-kali meremehkan sesuatu” suatu waktu bu dosen pernah berkata demikian padaku. Itulah… disitulah letak masalahnya. “Dewasakan dirimu dengan tidak meremehkan sesuatu” kataku dalam hati, itu pula pesan yang pernah ibu ucapkan terakhir kali, iya terakhir kali saat aku pulang sekolah dan melihat ibu memakai baju abu-abu sebelum berangkat ke rumah sakit “dek, Jaga itu kesehatan kamu. Jangan suka meremehkan sesuatu. Nanti kalau sakit obatnya mahal. Boleh ikut banyak kegiatan tapi waktumu itu loh, kamu harus bisa mengatur waktumu.” tangisan pecah saat menyadari kenyataan bahwa ternyata itu adalah nasihat terakhir yang diucapkan ibu sebelum berpulang ke pangkuanNya. Tunggu, kapan aku bisa memaknai itu sebagai suatu yang harus diubah dari diriku? akankan aku bisa?. Satu tanya muncul di tengah suara bising kelas C3: Time Management oh Time Management… Butuh berapa kali teguran lagi agar diri ini sadar? #selfLesson. ha ha ha. Sebuah tawa kecut di akhir tanya yang ditujukan pada diri sendiri. Bu dosen bilang kalau mengerjakan sesuatu tidak usah ngoyo yang penting jaga kesehatan, begitu katanya berulang kali tapi masalahnya bukan pada waktu, tugas, dan pak/bu dosen tapi pada diri yang sering bandel tak tahu waktu dan kurang disiplin, makanya tugas jadi tumpuk menumpuk bagai bukit.

aduh sebentar ya… mau nyatet materi dulu. takut dibilangnya durhaka sama dosen nanti ilmunya gak berkah. ha ha ha.

Tuh kan baru sebentar berpaling dari blog ada aja temen yang ngintip tulisan ini bilang “Far, nulis tentang diriku aja deh aku siap di wawancarain kok.” eeeuuuu shock!! ha ha ha. Oke mari kita lanjutkan saja…

Menyesal. Penyesalan letaknya tak pernah di awal, ia selalu terletak di akhir. Kenapa? karena apa yang disesali adalah sesuatu yang sudah terjadi terlebih itu karena kesalahan diri sendiri. Ah sudahlah, mari move on dan move up. Bergerak dan bertindak menjadi lebih baik dan satu lagi: Jangan meremehkan sesuatu apapun! Waktu sangat berharga untuk dimanfaatkan melakukan banyak hal dan kebaikan. Makanya, walau semalam tak (sebentar) tidur, eh! tidak tidur maksudnya. ha ha ha. Walau mata masih ngantuk dan muka pucat belum sarapan pagi tetap semangat berangkat kuliah. yeah, I’ll face it!! Niatnya sih pakai batik, tapi rupanya pakaian berwarna putih lebih menggoda mata untuk dikenakan. Putih memang menjadi warna favorit, putih bagiku adalah kedamaian, suci, bersih, sederhana, dan bersih. Putih berarti kebebasan yaitu bebas mengekspresikan segala hal yang diinginkan. Seperti hari ini, aku selalu ingin putih menghiasi hari-hariku, menjadi kanvas yang bebas kulukis menjadi segala bentuk ekspresi. Putih selalu menyediakan ruang untuk menuliskan semua rasa. Maybe, people always know what we reflected.

Putih. Putih. Putih. Apapun makna yang terselip di balik sebuah warna hendaknya akan selalu membangkitkan gairah, emosi jiwa, menstimulasi, dan memberikan efek positif dalam diri kita. Yang terpenting bagi kita adalah terus memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik, menghargai waktu, dan menghargai apapun yang ada di depan kita. Apapun tanggung jawab yang diberikan sebenarnya tidaklah menjadi masalah apabila kita sudah terbiasa mengorganisir waktu dengan baik. Selalu ada yang harus lebih baik setiap harinya. Mari bergerak, mari berbenah, dan memperbaiki diri menjadi lebih baik.

semoga aku tak meragukan niatku…

Percikan

IMG_20141002_0015856Adik-adik mengaji, rutin tiga kali seminggu di rumah ini. mencari makna yang mungkin terselip di balik tiap potong ayat yang tertulis di Al Quran. Berharap aku juga bisa istiqomah melakukan kebaikan mengaji ini. Manusia sukanya lancang, merasa pantas membalas atau meninggalkanNya. Seperti lupa kepada siapa ia harus menghamba. Harusnya aku malu sudah jarang mengaji lantaran kesibukan duniawi, kadang juga bingung apakah “memang benar-benar sibuk atau menyibukkan diri” hingga berani-berani meninggalkanNya dari apa yang sudah di perintahkan. Adakah yang lebih penting dari perintahNya?

***

Mudahkanlah langkah kakiku. Adalah salah satu harapan dan keinginan terbesar bagiku. Agar Allah memudahkan kakiku melangkah ke masjid. Letaknya tak jauh dari tempat tinggalku, hanya berjarak 5 rumah tapi kaki ini kadang enggan beribadah ke sana. Padahal masjidlah pusat persinggahan cinta. Alhamdulillah, semoga Allah akan memudahkan langkah kakiku ke masjid di setiap Ia memanggil hambanya. Bukan lantaran ada pohon jambu biji lantas aku ingin lebih rajin ke masjid agar kalau pulang bisa memetik buahnya, atau bukan karena sering melangkah ke masjid karena ada ayunan yang enak untuk duduk dan melamun. Menata hati adalah salah satu cara agar niat ini tetap bersih dan murni karena Allah, semoga selalu diingatkan olehNya untuk melangkahkan kaki ke masjid karenaNya.

***

Bingkisan Tuhan yang paling indah adalah Hidayah. Hidayah itu mahal, maka latihlah hati dan diri untuk lebih peka melihat setiap keadaan. Mengajak hati dan otak untuk selalu berpikir atas apa yang di lihat, dengar, dan rasakan. Berapa kali aku sering memutar alunan musik untuk menghilangkan penat, tidak salah memang. Tapi sebuah tanya mendadak muncul “Kapan terakhir kali kau mendengar adzan di telingamu langsung dari si muadzinnya?” oh manusia macam apa diri ini jika panggilanNya saja tidak membuat kaki ini tergerak untuk pergi ke masjid. Bagaimana mungkin kamu mengaku muslim jika suara itu tidak membuat hatimu bergeta?

Kelembutan Hati

20140317_161529Ternyata beliau ingin mengajari kita sebuah kaidah penting. Bahwa kita harus punya kepekaan hati untuk mengenal kebutuhan org yg kita cintai.

Bahwa kita mesti memiliki kelembutan
nurani untuk memberi kesempatan ruh orang yg spesial di hati kita melepaskan beban-bebannya.

Karenanya kepedulian yang terlembut bukan sekadar rasa ingin tahu. Tapi kepedulian yg terlembut kadang tampil dalam bentuk kesadaran, bahwa mungkin kita belum perlu tahu sampai tibanya suatu waktu.

Sungguh kesabaran akan menuntun kita untuk tahu, di saat yg tepat dg cara yg super indah! Jelilah melihat keadaan diri dan keadaan orang lain. Pintar-pintarlah membaca situasi terbaik yang dibutuhkan.

(sebuah kutipan tausiyah ust. Arifin Ilham)