Nyali Terakhir

 

Aku hanya bisa ini, menyampaikan satu hingga dua bait kata yang kupunya. Menyerahkannya padamu untuk dibaca, sesekali menyembunyikan perasaan di balik maknanya. Meskipun tentang perasaan kadang selalu ada hal-hal yang tidak bisa disampaikan.

Nyaliku hanya ini, berkabar dalam kalimat yang aku rangkai ketika menemukan kekaguman atasmu. Kata haruslah ada menghiasi kepala tanpa harus takut akan kehilangan, sebab hanya dengan ini aku bisa menyampaikan segala kerinduan.

Pernah aku tempuh semua perjalanan menuju hatimu tapi rasanya semua kini tak perlu. Aku hanya ingin menulis dan kamu membacanya, hal yang selalu kamu senangi , kan? Entah berapa banyak hal yang sudah kita lalui dan belum sempat aku tulis. Maafkan aku juga yang lebih sering lupa menulis semua hal yang belum sempat kita lakukan berdua. Jadi, kita nikmati saja semua cara yang pernah aku punya untuk pernah bisa saling menyapa. Setidaknya kini, kisah-kisah itu hadir membelai senyummu yang semoga tepat menemukan dimana harus berlabuh.

Dan kata adalah eksperimen sepanjang hidup yang tak akan pernah kuhentikan, sebab hanya dengan itu aku bisa menyembuhkan sedihmu, mengembangkan senyummu, atau menggenapi kenangan di pelupuk matamu.

Maafkan Aku yang Mencintaimu Sekaligus Melukaimu

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil menyelesaikan kalimat terakhir yang aku tulis di blackberry messenger. Aku ingin membiarkanmu menangis, meskipun tanganku bergetar tak ingin membiarkan tangismu pecah lagi malam ini. Ilalang dan lamun bermukim lagi di persimpangan ingatan, merobek semua ketenangan yang kita bagun seharian.

“Aku takut…”

“Terserah!” Bisa kubayangkan jawaban itu membuatmu menekuk lengkung bibirmu sambil mengusap-usap air mata.

Barangkali sejak saat pertama kita memiliki langkah kaki yang sama, aku berjalan mengikuti iramamu, dan kamu merapikan langkahmu di sampingku, kita akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama, berulang-ulang dan tak pernah terduga. Tak kurang dari sepuluh detik tanyamu bisa membuat aku terkunci dalam tatap matamu hingga selalu berhasil membuat aku sadar diri untuk menghentikan kebodohan mengabaikan kesehatan. “Aku tak apa, tenanglah,” adalah kalimat apologetis yang selalu aku ucapkan untuk membuatmu merasa tak perlu mengkhawatirkanku.

“Jangan berlebihan,” adalah kalimat yang tak juga luput aku katakan untuk mencairkan suasana perbincangan sambil mengalihkan perhatian.

“Itu penting, ya?” tanyaku

“Penting. Walau kamu sudah berusaha untuk meyakinkan dirimu bahwa kamu baik-baik saja tapi faktanya penyakit itu sering muncul. Jadi gak boleh A-B-A-I.” Jawabmu, masih dengan emoticon cemberut.

“Kalau begitu, aku minta maaf.” ujarku

“Maksudmu?”

“Maafkan aku jika selama ini tidak pernah benar-benar mendengarmu.”

Meski, aku benci mengatakannya karena percakapan yang akan terlontar setelahnya adalah bentuk ketidakpuasan yang menggambarkan betapa keras kepalanya aku.

Sesungguhnya itu hanya pertengkaran kecil sebab aku terbiasa mengeluh dengan kondisi badan yang semakin letih di antara aktivitas yang saling berbenturan dan berdesakan. Sebaliknya, kamu tak pernah sampai hati melihat aku menyelesaikan semua aktivitas itu tetapi membuat kondisi kesehatanku menurun. Titik dimana aku hanya bisa terbaring di sampingmu, berdoa agar khawatirmu lekas berganti.

Dan ya, aku mencoba baik-baik saja, diantara puluhan tetes tangis yang menenggelamkan aku pada sesal karena berkali-kali menyita semua senyummu. Lalu berkali-kali, tanpa sepengetahuanmu, aku melatih hal-hal terbaik yang pernah kamu ajarkan. Karena hanya dengan itu aku bisa mengobati lukamu.

Terlalu banyak yang sudah kita lalui kemarin dan hari ini, hanya itu yang yang membuat aku merasakan cinta sekaligus luka. Maafkan aku yang mencintaimu sekaligus melukaimu.

 

Resah

Seringkali Allah menitipkan resah dalam kesederhanaan, layaknya kesabaran yang terus menundukkan pemiliknya pada keikhlasan. Meskipun jauh di dalam hati sana disadari gelisah tak juga kunjung pecah meski doa-doa terus menjadi nafas kehidupan. Siapapun boleh mengemas resahnya dalam bentuk apapun, diikat serapi mungkin seolah-olah tak boleh ada yang menjamah, agar tak ada lagi sedih yang terhambur kemana-mana membanjiri kehidupan orang lain.

Soal segala persoalan yang tidak pernah diharapkan, perlahan mengintip sendi waktu mencuri hal-hal yang teratur; sapaan pagimu dengan senyuman. Percakapan dua orang manusia kini tak lebih dari sekedar basa-basi yang dipentaskan sebagai pahlawan yang memperjuangkan senyuman agar bertahan lebih lama. Jika dahulu senyummu kulihat ada dimana-mana tanpa perlu aku memimpikannya, ini hari kesekian yang aku rasakan sibuk mencari senyummu di tengah seratus lebih pikiran.

Sepasang mataku tahu, ada resah yang kamu titipkan pada peluh saat aku menundukkan badan untuk menjabat tanganmu. Adakala kutitipkan ketenangan dalam senyuman, berkutat dalam lingkaran kesibukan, cangkir teh yang selalu habis, atau bermandi cerita dengan mereka yang sedang berbahagia. Pada akhirnya semua akan terasa menjemukan sebab tak ada tanya yang sanggup membohongi perasaan. Perihal bagaimana, bagaimana, dan bagaimana yang lain.

Sebagaimana waktu yang terus berjalan maju, ingin rasanya kupaksa resah meninggalkan hidupmu. Melepaskan senyummu dari kepura-puraan.