Respect and Commitment

Gak selamanya menyadari kekurangan itu mudah! Begitulah kira-kira kalimat yang bisa disimpulkan setelah dua hari ini terbaring tak punya semangat di kamar. Berbagai omelan dan nasehat tak henti masuk di telinga, diucapkan oleh orang-orang yang aku temui. Anyway, thanks for your advice. Tapi sebagai tipe manusia yang keras kepala, rasanya sulit menerima itu sebagai sebuah ‘perbaikan diri’, karena kenyataannya bangkit dari keterpurukan tak selalu semudah dan sebijak itu. Butuh waktu dan kekuatan yang lebih keras dari sekedar marah dan mengerti.

Akhirnya subuh tadi, bangun dengan puluhan notification di facebook, bbm, line, dan beberapa akun sosial media lainnya. Ada dua notification yang menggelitik untuk dibaca pagi itu, yang pertama adalah tulisan Mas Angga, alumni Sorbonne University yang tidak sengaja aku buka. Kedua, notif inbox dari Bang Hendra, penulis buku traveling yang sekarang stay di Aussie, menghabiskan waktu untuk bekerja di sana. Dua hal itu yang akhirnya membuat aku mengajukan pertanyaan “sudah sejauh mana kamu berkomitmen untuk dirimu sendiri?” sekali lagi dalam kurun waktu yang sering. Merasa malu? Iya. Jujur saja, bagaimana bisa sesering ini meng-iya-kan kesedihan sebagai sumbu kekacauan. Berhari-hari mengurung diri di kamar, memandangi saja buku-buku berdebu di rak, membiarkan deretan rencana yang tertulis di kertas tergeletak begitu saja. Bahkan detik itu, diriku saja rasanya tak terurus. Baiklah, how to starting up the day.

Mas Angga pagi itu menulis, “Apa lo bakalan menikmati double combo kegalauan lo di usia yang akan datang. Kan enggak! Kalo gue pasti gue udah habisin waktu gue buat kursus bahasa Prancis setiap hari, gue ikut magang jadi peneliti di koran Bisnis Indonesia.”. Well, ternyata betapa percuma dan tak bergunanya duduk di kamar sambil melamun dan pikiran mengawang kemana-mana. Kedua, Bang Hendra pagi-pagi memberi kabar bahwa bukunya baru saja terbit dan sedang membuka pre order. Tanpa pikir panjang, aku memesan satu dan kami saling bercerita. Bang Hendra, begitu aku memanggilnya, bersedia meluangkan waktu untuk sharing tentang apa saja denganku, dan yang terpenting gratis. Hahaha.

Envy juga sih kalau lihat teman-teman yang punya semangat tinggi untuk looking at the future dan melihat aku masih berdiri di sini, tak bergerak kemana-mana. Sedih, lebih sedih dari patah hati. Akhirnya kegalauan beberapa hari ini terpatahkan juga dengan kedua hal itu. Setelah itu, tanpa sengaja aku membuka-buka file di galeri hp yang sudah lama tidak aku pakai, ada satu screen shoot yang akhirnya melunasi kegalauan ini, dari seorang teman. Isinya begini

“dan itu kamu… nggak mau kalah, nggak mau disalahkan. Percuma pinter, selalu dapat nilai A. Nulis ini dan itu, tapi kalau nggak kenal dirimu ya percuma.”

Setelah semua hal yang tiba-tiba pagi tadi datang mengetuk pintu kegalauan, akhirnya aku putuskan untuk cerita ke Mami soal semua itu. Ternyata respon-nya di luar dugaan, Mami justru tambah marah-marah plus ratusan alasan yang akhirnya membuat aku pasang badan untuk berkomitmen. Katanya, “Kamu sudah berkali-kali janji untuk berusaha menjadi lebih baik, sudah berkali-kali juga kan berkomitmen dengan banyak hal. Soal pola makan, jam belajar, jadwal main, jam tidur, dan lain-lain. Terus sekarang saat semuanya tidak sesuai harapanmu, kamu mau menyerah begitu aja?”

“Ya terus aku masih dipaksa mengerti saat aku menghadapi banyak kehilangan dan ditinggal pergi?” kataku protes

“Kamu selalu punya pilihan! Mau terus-terusan seperti ini apa memulai semuanya yang baru.”

“Aku gak bisa mi… Aku gak bisa…”

“If you can’t keep a commitment, don’t promise!” kata Mami

“Oke terus aku harus gimana?”

“Kamu masih tanya kamu harus gimana? Masih inget kan komitmenmu atau udah lupa?” katanya, “Atau jangan-jangan selama ini kamu memang gak menganggap semua ini gak ada artinya?”

“Oke, aku akan lakukan komitmen itu. Challenge Accepted!”

“Ya baguslah… Ami pegang kata-kata kamu…”

“Oke!”

***

Aku sering berpikir mengapa menjadi begitu penakut untuk menghadapi semua ini. Kenapa aku tidak bisa membicarakan ini dengan diriku sendiri? Berkompromi bahwa semua ini akan bisa diatasi. Aku memang harus bersikeras memaksa diriku menepati semua komitmen. Tak ada alasan untuk bersembunyi dan tak perlu menjadi pengecut. Dan yang terpenting, menyadari kenyataan bahwa akan lebih sakit ketika sebuah kepedulian di balas dengan rasa pecundang.

“Sebuah mimpi akan disebut mimpi jika ia susah digapai, dan untuk mewujudkannya dibutuhkan komitmen yang lebih keras dari keras kepala.” Aku menyetujui itu.

Bicara

Cangkir teh pagi tadi memberi kehangatan tersendiri. Tanpa sadar ia membuatku membayangkan tawa yang muncul dari ingatan masa kecil. Senang sekali rasanya bisa kembali mengingat ricuhnya pagi dengan aktifitas sebelum sekolah. Kali ini aku mencoba mengingatnya lagi, lebih detail.

Kali ini aku mengingat bangun tidur dengan suka cita kemudian bergegas cuci muka dan melakukan jalan-jalan pagi bersama keluarga. Pagi di masa-masa itu menjadi sesuatu yang selalu aku ingat. Kubayangkan pula aku yang melompat-lompat senang menaiki sepeda. Bersiap lebih dulu untuk sekolah, sambil menunggu ibu mengantar dan membawakan bekal untuk dimakan nanti.

Aku punya banyak alasan untuk merasa senang. Aku hampir tak percaya berhasil melewati masa itu dengan baik.

Di sekolah, aku tak sendirian. Teman-teman sudah ramai bermain di halaman sekolah. Aku baru saja selesai memarkirkan sepeda di ruangan sebelah kantin. Sebuah tepukan yang berulang mengentikan semua aktifitas anak di halaman. Seingatku, semua berebut untuk berbaris di depan kelas. Aku berjalan melewati barisan begitu saja, karena ingin berada di baris paling depan.

Anak-anak yang lain protes. “Kamu pindah ke belakang. Kamu di belakang harusnya!”

Tanpa bicara kemudian aku mundur, meninggalkan barisan paling depan. Setelah menyanyikan lagu “Naik Kereta Api” dan mengikuti peraturan dari Ibu Guru yang membariskan kami di depan, kami masuk kelas.

Aku merasa terlempar di masa itu, kenangan dan kebahagiaan berbicara beriringan berusaha membuka memoriku lebih tajam. Sepulang sekolah, aku dan Ibu tak bergegas pulang. Sampai di depan sebuah ayunan, aku berhenti. Aku duduk tepat di ayunan berwarna perpaduan merah dan kuning. Aku mengeratkan jariku di kedua sisi ayunan itu, menggerakkan kakiku ke depan dan belakang, mengajak terbang ayunan ini dengan gerakanku. Aku berayun. Kau tau rasanya berayun? Barangkali hanya tawa yang bisa mengajakmu berbicara menjawabnya.

Sebenarnya, aku tak akan pernah lupa masa itu. Berulang kali ingatan tentang itu menyentuh bibirku untuk bicara pada siapapun. Kau tau, bicara adalah satu-satunya tindakan yang tak akan membuatmu tersiksa dan kesepian saat ingatanmu terlempar ke sebuah masa. Barangkali jika aku memilih diam, ingatanku sedang menuju arah berbeda yang tak aku ketahui selain diam. Tapi bicara membuatku menyelesaikan hal-hal yang tak selesai dari sebuah kenangan. Bicara.

***

Kali ini aku bicara, sendirian, menyesap teh terakhir sambil membisikkan sebuah lagu

Pagiku cerahku

Matahari bersinar

Kugendong tas merahku di pundak

Selamat pagi semua

Kunantikan dirimu di depan kelasku

Jangan terlampau keras terhadap dirimu, bicaralah, sepuas kamu tak ingin mengerti bagaimana ingatan masa itu muncul begitu saja tanpa permisi.

 

Membaca Karya Mereka

Rebahkan sejenak aksaramu untuk membaca aksara mereka. Di bukunya yang sedang kubaca, aku diminta juga belajar dari apa yang sudah lalu. Anggap saja sebuah rekreasi ke dunianya yang akan menjadi duniamu. Maka berilmu bukan hanya soal konsistensi dalam sebuah pilihan tapi juga membaca karya orang lain sebagai tambahan referensi. Siapa tahu akan memperluas cara berpikirmu.

Kata mas Ken, “Membaca untuk tujuan ini tidak dapat dilakukan dengan sekadar membaca. Amati juga cara bertutur buku itu, lalu tanda baca, susunan kalimat yang kiranya paling enak bagimu, dan yang tidak membuatmu jalan di tempat dengan susunan kalimat yang membosankan. Amati dan praktik di atas kertas. Lakukan terus menerus. Perlahan dan pasti akan kelihatan hasilnya.”

Bisa kupastikan, malam-malam setelah ini akan semakin kaya, oleh bacaan dan luasnya pengetahuan. Semoga semua yang dilakukan menjadi ladang belajar. Walau sebenarnya kalimat-kalimat ini mengandung satu makna sederhana: selamat menikmati malam untuk mengedit buku-buku titipan mereka yang akan naik cetak.

Malang, 20 Juli 2016

Untuk Sebuah Nama

Apa yang bisa aku nikmati dari sebuah rindu? Ketika perjalanan sanggup membawamu pergi melewati pintu tanpa kembali. Waktu hanya akan mendapatiku tergolek di tempat tidur tanpa semangat. Tak ada yang tahu soal ini.

Kenyataan itu rasanya cukup pedih. Berkali-kali membuatku menangis sampai bahuku terguncang-guncang. Saat itu bagiku menangis adalah hal yang sanggup meluruhkan lara namun kenyataan itu tidak akan sepenuhnya lenyap.

Hal kedua yang kemudian menjadi sangat penting adalah: Gerak. Saat itu aku menyadari bahwa gerak adalah langkah sederhana mengalihkan rindu. Gerak menjadi sebuah tanda bahwa aku masih hidup. Tentang waktu yang mendapatiku tergeletak di tempat tidur tanpa semangat dalam waktu yang cukup lama rasanya menyedihkan. Belum lagi soal airmata yang semakin deras membuat tidurku lebih malam.

Dua bulan itu rasanya mengerikan. Dalam waktu yang cukup lama itu ia mengajarkan kepasrahan sekaligus kesetiaan tentang banyak hal. Melihat lalu lalang orang yang menemuiku, menyodorkan tissue dan untuk beberapa saat meluangkan waktu untukku. Ada yang sekedar datang untuk menjadi kawan bicara dan berkata, “tenang, kau akan tetap baik-baik saja.”.

Sayangnya, yang tak mereka tahu soal ini adalah: mengingat nama itu lebih parah dari sebuah patah hati.

Berapa kali lagi harus tersudut di sofa sambil menangis mencoba menata hati. Membisikkan nama-nama yang kurindu dalam doa, tanpa pamit. Semua akan terus begitu saja.

Merindu Pagimu

Pagi tanpamu adalah kegelisahan yang tak pernah usai. Tapi akhirnya semua akan tiba pada waktunya, saat yang paling takut aku hadapi, datang juga. Waktu itu namamu mungkin ada di barisan ingatanku. Berusaha menangkap perhatianku lebih lama. Subuh terasa bermakna waktu itu, kita khidmat menolak dingin agar terbiasa mengolahragakan diri.

Kadang kita memang tak butuh jadwal. Hanya ingin melakukan, dan saat-saat itu begitu kita nikmati. Dan lari adalah sebentuk pengertian untuk melepaskan segala gundah. Pagi itu, kau dan aku tegak berlari melihat jalan di depan terlalu dalam sampai lupa kemana harus pulang.

Kini saat semua cintaku masih sama, aku berdiri sendiri melihat jalanan yang menjadi suram sambil meresapi belaian angin yang kemudian terasa semakin dingin. Duduk di tepian jalan, menyaksikan kedipan lampu jalan yang mulai sepi. Kota kita berdua yang kini tetap berbicara tanpa kata kita.

Dan haripun akan tetap selalu berawal pagi membawa semua kenangan bersamamu meski tanpamu.

 

Malang, 20 Juli 2016

Ah Sudahlah

Allah, sudahkah Engkau tahu keseluruhan diriku yang sering menjadikanmu tiada. Berjalan penuh yakin tergenggam doa atas namamu padahal di bawah kaki bertumpuk sesal atas nama keindahan ego. Pantasnya Kau sebut apa aku ini?

Bagaimana aku harus menjelaskan semua padaMu sedang Kau sendiri tahu, jiwa ini sering tak utuh, munafik di depanmu. Sungguh bahagia orang-orang yang menemukanMu lebih dulu daripadaku. Menemukan sejatinya cinta yang tak pernah alpa. Harapan yang tak pernah putus. Menjadikanmu sebaik-baiknya tempat bersandar.

Lalu aku apa?
Sepasang mata yang mengemis cinta
Sepasang tangan yang meronta bahagia
Sepasang kaki yang meminta dunia
Atau hanya serpihan baik buruk yang meminta dihirup oleh nafas nafas orang lain

Tuhan betapa kau saksikan semua ini sebagai pertanda bahwa diri ini bukan siapa-siapa tapi terus memintamu ada di sela pengakuan cintaku padaMu. Yang ah sudahlah Engkau yang maha tahu. Bahwa aku pun tak pernah sanggup mengukur ketulusan dan kebaikan sesuai takaranmu

Tuhan tidakkah kau saksikan ini begitu kotor dan menggelikan? Pengakuan yang tak pernah tuntas tentang kesalahan yang tak kunjung disudahi

Kemudian, bincang apa lagi yang pantas diperdengarkan? Doa apalagi yang pantas dikabulkan? Sedangkan kau tahu bahwa harapku masih begitu kotor, hanya terbungkus setumpuk dosa yang meminta untuk dimaafkan. Hanya itu.

Apa Kehilangan juga Butuh Diperjuangkan?

Apa kehilangan juga butuh diperjuangkan? Aku terpaksa melupakanmu tanpa tangisan. Bukan bermaksud membuatmu tak berarti selama ini tapi sekedar menemukan pemahaman bahwa dengan aku menangis akan membuatmu merasa terusik di sana. Seperti pamit yang tak terucap tiba-tiba datang, maka tangis juga demikian. Ia meninggalkan jejak untuk tetap mengingat dan menelusuri kenangan bersamamu. Jadi salahkah jika aku menghentikan tangis semata karena aku tak rela kau kesakitan menemukan keikhlasan di hatiku? Meski ikhlas juga belum tentu ditemukan tanpa tangisan.

Apa kehilangan juga butuh diperjuangkan? Melepaskan segala yang pernah terucapkan adalah keputusan sulit. Kita pernah bersama dalam kebahagiaan, keegoisan, menyembunyikan perasaan pada wajah lugu. Sampai di detik kau mengatakan ‘jangan hiraukan aku, aku tak punya keinginan lagi’ menjadi jawaban bahwa kita semua pada waktunya akan pergi dan ditinggal pergi. Adakah yang bisa menandingi kehendak Tuhan? Sepertinya tidak.

Apa kehilangan juga butuh diperjuangkan? Setidaknya ketika kau pergi aku punya pilihan untuk tetap tinggal atau memilih pergi. Apa yang akan diperjuangkan setelah kepergianmu? Setiap yang kehilangan, dia pasti akan mencari.