Sesungguhnya Skripsi, Tesis, dan Menulis adalah soal Ketenangan

20150629_035017
Setumpuk tesis kakak. Doc. Pribadi

Pagi tadi, kopi tak pernah semenggoda ini. Tak kurang dari empat kali dalam satu menit aku menyeruput hangatnya seolah tak ingin menghindarkan diri dari aromanya. Aku berdiri dengan perasaan tenang, cangkir kopi ditangan kanan, sambil menghirup bau khas buku-buku tebal yang bertumpuk di rak tentang pendidikan. Rasanya tak ada jarak di antara kita untuk saling tenggelam meracik aksara menemukan analisis-analisis baru yang memperkaya pengetahuan. Betapa aku mengagumi buku-buku ini dan kekuatannya yang menggoda selera baca.

Ketika hari minggu biasanya adalah waktu libur dan santai, hal ini tidak berlaku bagi kakakku. Belakangan ia menghabiskan banyak waktu berjibaku dengan kertas-kertas revisi demi mengejar tesisnya agar cepat kelar. Begitu harapannya. Kuletakkan cangkir kopi di atas meja untuk sedetik mengamatinya, jelas terbaca dari pancaran wajahnya, ia mengerahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk menyelesaikan tesis. Tak jarang kutemukan ia berkawan sunyi menelanjangi pagi masih meracik tesisnya dengan ramuan aksara. Aku mengamatinya setiap detik, seorang sarjana matematika pasti tahu dan cepat mengitung ini detik keberapa yang kulakukan untuk mengamatinya, mungkin dengan begitu ada satu-dua hal yang bisa aku ambil pelajaran.

Menyingkir sejenak menyelesaikan skripsi, tesis, dan tulisan adalah kemewahan yang memanjakan diri:

Di luar kekagumanku pada kakak soal kehidupan sosialnya, rupanya ia selalu meluangkan waktu menyingkir sejenak membenamkan diri dalam sepi untuk menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa S2. Mungkin saja, kita juga salah satu di antara sekian banyak orang yang justru bisa produktif menyelesaikan urusan pikiran dan tulisan dalam ketenangan. Bukankah memanjakan diri dalam ketenangan untuk meraih pencapaian adalah kesenangan?

Ketenangan bukan soal kebisuan, tapi belajar membuka hati memikirkan hal-hal yang belum terpikirkan:

Lama sekali aku duduk diam mengamatinya yang asyik membuka-buka buku tanpa suara, setelahnya jarinya lincah bermain di atas tuts-tuts keyboard menuliskan entah apa. Tengah malam menjelang dini hari itu, aku membuat hipotesa sederhana, yaitu kita tidak membisu dalam ketenangan, otak kita bekerja!. Memang, Setelah dihajar kesibukan selama seharian, ada hal lain yang harus dipikirkan berkaitan dengan tanggung jawab menyelesaikan tesis dan hanya bisa ditemukan dalam ketenangan. Kadang-kadang otak harus disirami oleh campuran ramuan malam dan ketenangan dimana kita bisa membeli pikiran-pikiran segar dan baru yang mungkin selama ini tidak pernah betul-betul kita sentuh.

Ketenangan bisa datang dari hal-hal sederhana. Sekedar melewatkan malam dengan cangkir teh, duduk di meja kerja, menyenandungkan lagu kesayangan dan berhadapan dengan buku sudah bisa membuat kita tenggelam berbahagia:

Urusan skripsi, tesis, dan menulis memang susah-susah gampang. Ada kalanya kita menggebu-gebu dengan kalimat yang sudah terangkai indah di kepala tapi sering saat berhadapan dengan buku justru enggan memikirkannya. Waktu itu, kuletakkan saja secangkir teh hangat kesukannya di meja tempatnya bercumbu dengan tesis, kebetulan ia memang tak suka kopi. Sepertinya perpaduan minuman favoritnya, memutar lagu kesayangannya, dan tumpukan buku yang ia baca menimbulkan rasa tenang yang tak bisa ia jelaskan, tapi jelas aku bisa merasakannya. Bahkan tanpa sadar ia sudah habiskan berjam-jam menikmati suasana sembari mendengarkan suara yang muncul dari dalam kepala.

Kita memang tidak pernah benar-benar tahu jika belum menenggelamkan diri dalam ketenangan, bukan?

See… Mungkin begitulah, menyelesaikan skripsi, tesis, atau menulis hanyalah soal ketenangan yang kita ciptakan. Tenang itu sesederhana kita meraba suasana yang kita berikan pada diri sendiri untuk berkelana menuntaskan  gumpalan aksara di kepala sambil terus bergerak dan berpindah jauh.

Malang, 28 Juni 2015

Self Managing: Mengefektifkan Manajemen Diri di Era Global

Di abad ini, pernyataan bahwa kita tengah hidup di dalam era globalisasi sudah menjadi ungkapan yang klise. Di era saat ini sungguh sangat terasa persaingan yang begitu kuat dan ketat antar individu dari berbagai bidang. Kebanyakan orang berpikir ingin mengubah dunia untuk memperbaiki hidupnya namun banyak pula yang kemudian menyerah dan kalah sebelum sampai pada tujuan yang diinginkannya. Pertanyaannya, mampukah setiap orang menjawab tantangan globalisasi yang tersaji di depan mata kita? Bagaimana membuat hidup kita lebih efektif dan efisien?

Persaingan yang ketat dan tuntutan kehidupan yang semakin tinggi tak jarang membuat sebagian orang merasa stres dan mudah kecewa karena apa yang diinginkan tidak sesuai harapan. Saat itulah kualitas diri dipertanyakan. Di era ini, kecerdasan, kekuatan ambisi, dan impian yang tidak diimbangi dengan kemampuan self managing atau manajemen diri yang baik justru akan merugikan diri sendiri pasalnya segala sesuatunya terus berkembang sehingga ada yang bisa memudahkan jika digunakan dengan baik ada pula yang justru mempersulit jika tidak bisa menggunakannya. Untuk itu, agar seseorang “tidak tersiksa” dengan berbagai macam perubahan yang ada, maka harus ada upaya untuk mengembangkan kemauan untuk berubah dalam diri kita sendiri.

Saya berikan contoh sederhana sebagai berikut, ada dua orang yang memiliki mimpi, ambisi, dan kecerdasan yang sama untuk bersekolah di luar negeri. Perbedaannya, si A dapat memanajemen dirinya dengan baik, sedangkan si B kurang dapat memanajemen dirinya dengan baik. Dalam jangka waktu yang berbeda, keduanya memang berhasil mewujudkan impiannya itu, namun si A dengan manajemen diri yang baik jauh lebih cepat mewujudkan impiannya daripada si B. Disitulah makna efektif dan efisien sangat terasa dan dibutuhkan.

Berkaitan dengan manajemen diri, ada banyak buku yang menyajikan resep dan tips bagaimana memanajemen diri dengan baik, dan di artikel ini saya akan coba mengulasnya dengan lebih sederhana. Memanajemen diri bukanlah suatu hal yang sulit, namun juga tidak terlalu mudah. Perlu adanya konsistensi, pemikiran mendalam, self discipline yang tinggi, dan mengaktifkan otak untuk lebih jeli melihat segala sesuatu dari perspektif yang berbeda. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menjawab tantangan persaingan yang ketat di era globalisasi maka setidaknya ada 5 hal mendasar yang bisa dijadikan acuan untuk membuat hidup kita lebih efektif dan efisien.

1. Mindset and Leadership

Hal ini terkait dengan paradigma, mindset atau pikiran. Mencapai tujuan yang sudah di tentukan kita harus memiliki mental sebagai seorang driver (pengendali) bukan passenger (penumpang). Dibutuhkan mindset driver agar kita tidak mudah menyerah dan selalu ada kemauan untuk mencoba. Akan selalu ada jalan bagi orang-orang yang mau mencoba. Prof. Rhenald Kasali dalam salah satu bukunya pernah mengatakan, “Ada banyak kaum muda yang pintar sekolahnya, tapi maaf “lembek” dalam berjuang. Mudah sakit hati kalau dipersulit situasi.” Maka untuk bisa berubah seseorang harus sadar akan dirinya sendiri dahulu, mengubah pola pikirnya dan mengetahui kelebihan maupun kekurangannya, dan memiliki pengelolaan kepribadian yang berkualitas. Dengan memiliki kesadaran diri tersebut seseorang bisa mengatur dirinya untuk mencapai harapan dan tujuan hidupnya.

2. Misi, Visi, dan Target Hidup

Kita mungkin sudah tidak asing dengan kutipan Buya Hamka yang berbunyi “Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar bekerja, kera juga bekerja.” pertanyaannya, mau apa hidupmu hari ini? Keberadaan manusia di dunia ini tentu tidak asal hidup namun juga ingin memberi arti pada kehidupan. Oleh karena itu kita harus bisa merumuskan visi, misi, dan target hidup yang bisa memandu mau kemana langkah kita selanjutnya. Perencanaan yang matang dan pelaksanaan rencana secara tepat dengan potensi yang dimiliki akan mempermudah kita mencapai tujuan hidup.

3. Self Discipline

Mengalahkan diri sendiri adalah hal yang sulit bagi sebagian orang, butuh self awareness (kesadaran diri) dan kemauan yang kuat untuk membentuk karakter yang kuat pula. Barry Schwartz dalam bukunya The Paradox of Choice mengungkapkan bahwa kita dikelilingi oleh berbagai peralatan yang modern dan hemat waktu, tapi tampaknya kita selalu kekurangan waktu. Mengapa demikian? Kita terikat oleh waktu yang terbatas, maka jangan pernah membuang waktu mengerahkan semua skill dan kemampuan yang dimiliki untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik. Dengan disiplin diri yang dilakukan secara berkesinambungan atau konsisten maka diharapkan akan menjadi suatu kebiasaan yang mengarah pada tercapainya kualitas diri yang lebih baik, karena self discipline yang baik akan membentuk pribadi diri kita yang lebih baik dalam meraih tujuan hidup yang diinginkan.

4. How Do I Work? And What Can I Contribute?

Bahwa kualitas pribadi seseorang diukur bukan dari apa yang dikatakannya, tetapi dinilai dari apa yang dilakukannya. Dengan berpegang pada cara kerja, prinsip hidup, dan kekuatan pada diri. Kita dapat mengambil keputusan untuk berkontribusi semaksimal mungkin pada kegiatan yang ditekuni saat ini.

Jika keempat hal tersebut telah dikenal dengan baik dan diimplementasikan akan membuat diri mampu berpikir dinamis, menunjang segala aktivitas dalam memaksimalkan waktu yang akan berbuah prestasi pada diri.

Menghilang untuk Bisa Banyak Belajar

Catatan Dahlan Iskan

Senin, 19 Januari 2015
New Hope 02

Salah satu kebebasan yang saya nikmati saat ini adalah bisa kembali belajar dengan leluasa. Belajar apa saja. Dulu saya mewajibkan diri agar enam bulan sekali ”belajar” ke Amerika Serikat: shopping idea, belanja ide.

Itulah sebabnya perkembangan Jawa Pos di kemudian hari menjadi ”sangat Amerika”. Beda dengan koran-koran Jakarta saat itu yang ”sangat Eropa”

Belakangan, ketika Tiongkok maju luar biasa, saya jarang ke Amerika. Belajarnya pindah ke Tiongkok. Begitu sering saya ke Negeri Panda itu. Setahun bisa delapan kali. Bahkan pernah 12 kali. Jarak Tiongkok yang begitu dekat membuat saya bisa belajar lebih sering.

Kalau ke Amerika shopping saya shopping idea, ke Tiongkok saya shopping spirit. Spirit ingin maju. Di Tiongkok-lah, saya melihat sebuah masyarakat yang keinginan majunya begitu tinggi. Hasilnya pun nyata. Dalam sekejap, Tiongkok mengalahkan Jerman. Kemudian Jepang. Dan mungkin tidak lama lagi mengalahkan biangnya: Amerika.

Sejak menjadi pejabat pemerintah…

View original post 855 more words

Inilah yang Terjadi Ketika Ajaran Ki Hadjar Dewantara Diterapkan……………di Finlandia | Ayo #TolakUN

Tolak Ujian Nasional

Awal Oktober lalu Kemdikbud RI bekerja sama dengan Kedutaan Finlandia mengadakan simposium pendidikan bertajuk “Finnish and Indonesian Lessons”.

Sekjen Kemdikbud menyatakan bahwa acara ini diadakan sebagai tindak lanjut niatan Mendikbud yang pernah berucap ingin belajar dari pencapaian Finlandia dalam bidang pendidikan. Gaung pencapaian Finlandia dalam berbagai pemetaan pendidikan global memang sudah tersebar luas.

Para pakar pendidikan dari Finlandia pun tampil tidak mengecewakan dalam acara simposium tersebut. Pasi Sahlberg, Eero Ropo dan Jaan Palojarvi membebarkan praktik-praktik pendidikan di Finlandia.

Peserta simposium berkali-kali berdecak kagum mendengar paparan mereka tentang jam pelajaran di Finlandia yang tergolong singkat, tidak adanya ujian nasional, jumlah PR yang sangat sedikit serta kurikulum yang bebas diinterpretasi oleh guru.

View original post 587 more words

Wajah Pemimpin Masa Depan

Bahwa masa depan bangsa ada di genggaman anak-anak dan generasi muda Indonesia saat ini, menjadi hal yang tak terbantahkan.

Lalu bagaimana kabar generasi muda di Indonesia kini? Pertanyaan yang layak kita lontarkan di saat menjelang momentum pemilu 2014. Pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan ini harusnya menjadi momentum bagi kita untuk mempertanyakan apa saja yang telah kita perbuat bagi kemajuan bangsa ini? Apa yang telah kita berikan untuk diri sendiri sehingga 5 sampai 10 tahun lagi bisa mengelola masyarakat dan bangsa ini? Apakah setiap “kita” sudah siap menjadi pemimpin masa depan, menjadi pemimpin bagi diri sendiri, masyarakat dan bangsa?

Ini dia yang mestinya jadi perhatian. Saat ini di Indonesia terdapat 240 juta orang dan di antara 240 juta orang itu tidaklah sulit menemukan seorang pemimpin masa depan. Momentum pemilu seperti ini seharusnya digunakan secara tepat untuk memilih pemimpin yang memiliki sifat “problem solving leader” atau pemimpin yang mampu membawa yang dipimpinnya keluar dari persoalan-persoalan yang dihadapi. Sudah saatnya kita, generasi muda mengambil langkah untuk kemajuan diri sendiri dan bangsa. Kenapa generasi muda? Para pemuda memiliki tanggung jawab besar dalam tatanan kehidupan masyarakat di masa depan, karena generasi muda berperan sebagai agen perubahan dan kontrol sosial di dalam masyarakat.

Rasanya tidak perlu repot-repot mencari figur pemimpin yang diidamkan, karena pada hakikatnya setiap manusia terlahir sebagai seorang pemimpin atau khalifah. Manusia memang akan selalu menjadi pemimpin. Hampir seluruh waktu yang kita miliki digunakan untuk memimpin diri sendiri, baik di kehidupan sehari-hari maupun dalam berinteraksi dengan masyarakat. Bukan hanya menjadi pemimpin dalam konotasi politik dan organisasi tapi juga menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Yaitu membentuk kepribadian pemimpin sejati di mulai dari dirinya sendiri. Mencari rujukan tentang pemimpin itu sesungguhnya mudah. Ada terlalu banyak contoh pemimpin di sekitar kita yang keteladanannya bisa kita tiru, gagasannya diikuti, dan langkah-langkahnya mampu menginspirasi.

Memimpin itu bukan hanya soal kecerdasan, kharisma, komunikasi, dan segala atribut yang melekat pada figur pemimpin. Disebut pemimpin jika ada pengakuan dari orang yang dipimpinnya. Syarat pemimpin yang utama adalah Bertakwa pada Tuhan yang Maha Esa sesuai bunyi sila 1 Pancasila. Oleh karena itu sudah sewajibnya setiap orang memiliki kesadaran mental, moral, dan ideologis yang merupakan syarat mutlak sebagai calon intelektual dan pemimpin. Hal-hal tersebut akan mampu menghasilkan pemimpin yang original atau otentik, yaitu pemimpin yang memiliki empat elemen berupa kepemimpinan atau leadership, tanggung jawab, integritas, dan pandai bermasyarakat.

Leadership atau kepemimpinan itu kuat, tidak hanya pandai menyuruh dan menghardik, tapi juga mengayomi orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin itu diberikan kepercayaan, diikuti kata-kata dan perbuatannya dengan baik. Pemimpin yang baik selalu meletakkan cita-cita bersama di atas kepentingan pribadi. Ia tidak akan mendiamkan hal-hal buruk seperti kekakuan, keterlambatan, ketidaktegasan, dan kebimbangan menular hingga merusak sendi-sendi tatanan kepemimpinannya. Pemimpin yang kepemimpinannya kuat, ia tanggap memutuskan dan cepat bertindak. Ia akan menularkan sikap, hal, gagasan, dan segala sesuatu yang positif untuk kebaikan bagi yang dipimpinnya.

Pemimpin yang bertanggung jawab, ia bekerja sangat cerdas, keras, dan pantang menyerah dalam menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk apa yang dipimpinnya. Ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya, mengemban amanah yang diberikan banyak orang dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Pemimpin menjadikan semua merasa ikut memiliki tanggung jawab dan melakukan pekerjaan dengan cinta dan totalitas.

Integritas dan pandai bermasyarakat itu membuat mereka jadi pemberani dan tak gentar hadapi apapun. Pemimpin yang berintegritas ia sangat bersahabat, sopan dan simpel tutur katanya, tapi sangat besar keberaniannya dan tegas sikapnya dalam setiap langkah. Pemimpin yang seperti itu mampu mengajak seluruh masyarakat dan orang yang dipimpinnya ikut bergerak dan melakukan perubahan.

Sudahkah kita memiliki kesemua hal itu?

Mewujudkan pemimpin-pemimpin emas masa depan bagi Indonesia bukan merupakan sebuah masalah yang sulit dan teka-teki yang harus dipecahkan karena semua jawaban itu sudah ada dalam diri kita masing-masing –para generasi muda– sekarang tugas kita, para generasi muda adalah mendidik diri sendiri, harus terus belajar bagaimana menjadi pemimpin bagi diri sendiri terlebih dahulu agar menjadi generasi-generasi yang berkualitas. Menjadi generasi yang bisa memberikan harapan bagi kemajuan bangsa, menyalakan inspirasi, dan membuka view lain yang mampu membuat semua orang tergerak untuk bertindak memperbaiki negeri.

Pada akhirnya, generasi-generasi muda yang punya komitmen, sederhana, mampu membuat orang lain terpesona dengan kepemimpinannya yang solid, berintegritas, bertanggung jawab, dan pandai bermasyarakat adalah mereka yang sedang melakukan perubahan. Mereka adalah orang-orang yang akan menghiasi panggung-panggung penting dalam kepemimpinan negeri ini di tahun-tahun yang akan datang.

Percikan Hati Nurani #1

Aku sudah terlampau malu untuk mengutarakan niatku meminta lembar demi lembar rupiah untuk mengisi kantongku. Meskipun sebenarnya kantong ini sudah tipis dan hanya cukup untuk makan dua hari ke depan. Uang kadang memang selalu mengaburkan niatku dari tujuan awal. Tapi tadi perjalanan pulang dari kampus aku bertemu seorang ibu paruh baya dengan pakaian kusam dan berjalan agak pincang menaiki bus kota, setelah mengatakan permisi padaku, ibu itu duduk di jok kursi bus sebelahku. Setelah melemparkan senyum padanya dan mempersilahkan duduk, aku memulai pembicaraan singkat dengannya. Jarang loh aku seperti itu, aku tidak biasa memulai pembicaraan dengan orang-orang yang baru aku temui kecuali jika dia memang menarik perhatianku dan mengundang pikiranku untuk terus melakukan pengamatan.

“mau kemana bu?” tanyaku ramah

“Oh aku mau ke Kediri mbak. Mau habis ko rumah e mbak ning Pare” (aku mau ke Kediri mbak. Tadi habis ke rumah kakak di Pare.”

“Ooalah” jawabku singkat, karena aku memang tak bisa memulai pembicaraan panjang. Hehehe.

“Enggak mbak, yo ngene iki lho mbak nasib e wong cilik. Aku mau ne rumah e mbakku arep nyilih duit iki mbak, anakku loro mbak bar operasi.”

“Lho sakit nopo bu?”

“Usus buntu mbak. Anakku ne rumah sakit ga oleh di gowo muleh mbak. Iki aku nyilih duit kok ya gak di kek i karo mbakku. Cuma nyilih 150 ewu thok lho mbak. Jadwal e ngko sore terakhir bayar.”

Aku hanya diam, melemparkan senyum getir dan penyesalan karena telah menanyakan hal itu. Tapi terlambat, ibu paruh baya ini terlanjur membuatku tenggelam merasakan sesaknya himpitan ekonomi yang ia rasakan. Yah, lagi-lagi dibuka dengan cerita yang -pahit- dalam waktu yang sesempit ini. Disetiap perjalanan yang aku lakukan, aku memang selalu disuguhi dengan wajah-wajah orang Indonesia ‘asli’, mulai dari yang paling tulus sampai yang paling miris.

“Lha piye mbak, aku mau niat arep nyilih duit 150ewu, mulih cuma digawani beras karo duit 5000.”

“Lha pun pados arto teng pundi mawon?”

Aku wis mubeng-mubeng mbak golek silih an tapi gak entuk-entuk. Lak mbakku nyilih i padahal minggu ngarep ki tak balikne. Aku adol lemari karo dipan gung payu mbak.” Lanjut cerita ibu itu sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca dengan kain bajunya yang kusam.

Aku tak tega menatap atau mendengar ceritanya lagi, kulemparkan wajahku menatap hujan yang menetes di luar jendela, suara sumbang klakson yang dibunyikan sopir rasanya kalah dengan suara hujan di luar. Aku menghela nafas panjang, diam, menata hati supaya tak mengirimkan sinyal ke otak untuk meneteskan air mata.

Tanpa kusadari waktu serasa membeku, memaksaku untuk terus duduk, diam, dan mendengarkan keluh kesah dan cerita ibu paruh baya di sampingku ini. ingin rasanya diri ini berteriak, memberontak, menarik diriku sendiri keluar dari fragmen ini. Dalam kondisi yang seperti itu dimana seorang yang duduk di sampingku membutuhkan bantuan, aku masih sempat berpikir akankah aku membantu atau hanya bersimpati saja dengannya atau aku memang takut dibohongi. Sampai ketika aku akan turun di halte depan, tak ada gerak dari tanganku untuk mengambil selembar atau dua lembar rupiah sisa uangku untuk membantu ibu itu. Turun dari bus kota aku masih berjalan gontai memikirkan kejadian dan percakapan di dalam bus tadi. Aaah aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri, menyesali yang sudah terjadi.

Duh bodohnya aku! Aku tak berhenti menyalahkan diriku sambil berjalan dalam diam dan tetesan air mata. Bodoh! Manusia apa kamu ini jika lebih memikirkan materi daripada kemanusiaan. Dimana hakikat manusia yang sesungguhnya. Ah saya muak dengan diri saya pada posisi seperti ini. Bisa-bisanya bersikap begitu bodoh. Bukankah Allah juga sudah menjanjikan akan memberikan pahala berlipat bagi siapa saja hambanya yang membantu orang lain. Maka lain kali aku tidak akan membiarkan paparan naluriku mengalahkan nuraniku.

“Manusia itu saling berbagi dan mengisi. Memahami bukan karena sebuah kewajiban. Terkadang kata menjadi abu yang membelenggu, namun berbeda dengan rasa, rasa tak pandai beringkar diri, ataupun mangkir untuk mendustai.” -Rahka 

Positive be Happy

Semua yang dilakukan sebaiknya harus memberikan sesuatu yang positif bagi kebaikan sesama dan lingkungan. Tindakan yang positif tentunya akan menghasilkan sesuatu yang positif pula. Tak hanya tindakan, ucapan dan pikiran yang positif juga akan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup ini.

Masih ingatkah kamu dengan reaksi molekul air terhadap kata-kata positif dan negatif yang seringkali dilakukan oleh banyak orang? 80% elemen dalam tubuh kita adalah air yang selalu membutuhkan sugesti dan pemikiran positif agar molekul air dalam tubuh kita juga membentuk sebuah kristal yang dapat memberikan kesegaran dalam tubuh.

Dengan berpikir positif kita diajarkan untuk lebih menghormati dan menghargai apa yang ada. Bukankah selama ini kejujuran dan berpikir positif selalu ditanamkan oleh orang tua kita. Dengan berpikir positif pula kita dapat menyampaikan ide-ide dan aspirasi secara mudah dan lugas. Salah satu hal yang membuat kita maju dan sukses adalah karena kita mampu berpikir positif. Dengan pikiran yang positif  kita dapat menjalani segala sesuatu tanpa terbebani oleh seribu pikiran buruk. Kita juga akan terhindar dari perasaan  takut gagal.

Pikiran yang positifpun akan membuat hidup lebih nyaman dan bahagia. Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.

Learning by Doing!

(meningkatkan kemampuan menulis essay dan artikel)parrish-improve-student-writing-iStockphoto_0

Empat hari yang lalu (2/1/2014) salah seorang sahabatku meminta untuk diajari bagaimana caranya menulis. Alasannya, karena menurutnya setiap Ujian Tengah Semester (UTS) atau Ujian Akhir Semester (UAS) kebanyakan soalnya adalah membuat essay dan artikel. Memang benar sih di bangku kuliah, mahasiswa lebih banyak disibukkan dengan tugas untuk mengungkapkan gagasan-gagasan dan opini mengenai hal-hal yang terjadi di lingkungan berkaitan dengan jurusan masing-masing dalam bentuk artikel, essay, makalah, dan lain sebagainya, itu juga yang aku alami selama satu semester awal ini. well, berarti kemampuan menulis dan mengkomunikasikan gagasan mutlak diperlukan. Bayangkan saja jika kita punya ide tapi tidak bisa mengkomunikasikannya dengan baik, tentunya tidak banyak yang bisa mengambil manfaat dari ide dan gagasan kita.

Continue reading “Learning by Doing!”

Peranan Teman Terhadap Perilaku Negatif Remaja

teman dan kenakalan remaja“Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan suci/fitroh, maka kedua     orang tualah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusy…” (H.R. Muttafakun ‘Alaih)

 Sesuai hadits di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang anak yang baru lahir itu masih dalam keadaan yang suci. Dan yang menjadikan anak itu ke masa depan yang cerah atau  tidak adalah orang tua dan anak itu sendiri. Sejak lahir dari rahim ibu, pendidikan agama sudah melekat pada diri kita saat kita lahir di dunia ini sebagai muslim dan muslimah kita telah mendengar adzan dan syahadat dari orang tua kita. Itu merupakan salah satu bentuk pengenalan dan penanaman agama pada diri kita sejak dini. Continue reading “Peranan Teman Terhadap Perilaku Negatif Remaja”

Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi

jangan rusak masa depan(artikel ini ditulis oleh Farah Adiba NM dan Dessy Norma pada lomba essay ASCEC Madiun “Kartini Muda Melawan Korupsi” yang berhasil menjadi juara 3)

Kata “korupsi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaaan, dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Perbuatan korupsi selalu mengandung unsur “penyelewengan” dan ketidakjujuran. Rakyat kecil yang tidak memiliki keberanian guna melakukan koreksi dan memberikan sanksi pada umumnya bersikap acuh tak acuh. Namun yang paling menyedihkan adalah sikap rakyat menjadi apatis dengan semakin meluasnya praktik-praktik korupsi oleh beberapa oknum pejabat lokal, maupun nasional. Continue reading “Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi”