Dear Ami #25 BATAS

Sebelum langit mulai mendung, aku ingin menjelaskan kegelisahan yang selama ini kita ributkan. Takutku bukan tentang kehilanganmu, tapi duka berkepanjangan. Memaksa kita membendung ingatan yang semestinya sudah terlupakan.

Pertama,

Aku memang tak mampu membawamu lari lebih jauh meninggalkan masa lalu yang menyakitkan itu. Sebab perjalanan panjang kita sudah tertakdir sebagai rangkai cerita penuh getir dan syair. Maka meski ada hati yang sulit untuk melepas, ada mata dan hatiku yang berhak mengajakmu menatap ke depan tanpa perlu mencari-cari alasan mengapa dirimu harus mengerti.

Kadang kita enggan melangkah ketika dirimu menemukan kebahagiaan dariku yang dulu. Percayalah, aku bisa membuatmu tersenyum dan menemukan aku yang baru dalam keadaan lebih baik dibandingkan ketika aku menemukanmu dulu. Dalam pandanganku, dirimu akan selalu punya kesempatan untuk mengenali hidupku. Kesedihan dan kebahagiaan punya batas yang tak mudah ditebak. Percayalah.

Kedua,

Kupikir aku tidak selalu memperlakukan diriku dengan baik. Entah apakah itu juga berdampak pada caraku memperlakukanmu? Aku belum sepenuhnya menemukan jawabannya. Hal itu lebih mudah memberimu alasan untuk berulang kali menegurku tentang “Buat apa belajar dan menulis banyak hal kalau kamu tidak bisa mengenali dirimu sendiri?”. Ketahuilah, aku telah lama membuat batas-batas nyaman yang bisa digunakan untuk menutupi kebohongan dan rasa takut tentang apapun itu. Jarak-jarak aman dengan mudah membuatku beranjak melupakan ketakutan dan memulai kebahagiaan dengan cara yang tidak wajar. Jauh lebih sakit menemukan diri bangun dan tertatih antara memperbaiki atau memulai yang baru. Semacam itulah jika aku berantakan dan kehilanganmu.

Tapi baiklah, akan kurapikan alasan-alasan yang membuat hidup ini rumit. Dari banyak hal tak terduga di luar rencana, akan kugunakan lebih banyak waktu yang sejak dulu begitu sempit untuk mengerti diriku sekaligus dirimu.

Ketiga,

Ketika penantian menjadi harapan tak bertuan. Kuharap kita saling berjuang meluruhkan ego. Aku ingin selalu menyapa rindumu. Dan kamu, kuharap siap menyapa kenangan-kenangan yang kubangun semalaman. Lalu kita, siap pulang dengan sisa-sisa kesenangan. Esoknya, terbangun dengan celoteh isi kepala tentang kerinduan dan kelegaan menuntaskan harapan.

Kita sering mengutuki kegagalan mengulang pertemuan dan sekaligus bisa saling menemukan disaat tidak sedang mencari. Hingga tak ada yang bisa kupilih selain berdamai dengan waktu. Tapi kini aku tak bisa. Aku tak lagi bisa hanya berdamai dengan waktu. Aku akan mengurainya pada tulisan-tulisan sederhana. Membuat batas kita penuh napas jika dibaca suatu saat nanti.

Terakhir,

Tak ada batas yang membuatku berhenti membuatmu merasa dicintai, dihargai, dan dimengerti dengan cara istimewa. Tak ada batas yang benar-benar menghalangi caraku membahagiakanmu dengan cara yang tak biasa, yang tak pernah terpikir orang lain.

 

Kediri, 24 April 2017

 

Advertisements

Dear Ami #24 Kisah Singkat

Di folder tulisanku tahun 2017 ini belum banyak tulisan yang dihasilkan. Apalagi didukung oleh suasana hati dan kesehatan yang sedang mendung.

Hujan yang turun setiap sore selalu menjadi klimaks dari cuaca kenangan yang memukau dan terus saja minta diingat. Tentang kejadian setahun kemarin, aku akan menjaganya sebagai yang tak pernah ada. Aku ingin kita melupakannya, barangkali melupakan merupakan salah satu pekerjaan amal untuk tetap saling memiliki. Aku akan mengenang bahwa di masa lalu ada kebahagiaan tak terdefinisi yang kita nikmati dan di masa depan aku tetap ingin menikmati itu. Sehingga siapapun yang pernah kita kenal dan mengenal kita akan mencatat kita sebagai satu kisah yang tak terganti. Warisan kisah yang tak setiap orang bisa memilikinya.

Kemarahan kita sepanjang tahun ini adalah muntahan dari ketakutan dan kegelisahan yang selama ini menghukumku siang dan malam. Sedang pengakuanmu adalah permulaan dari kesunyian panjang yang kumiliki memaksaku berpikir.

Perasaan apa yang sedang kita rasakan kali ini? Di luar mataku tak ada yang bisa kulihat selain dirimu, selain dirimu yang naik turun angkot pagi dan sore. Aku masih melihatmu setiap pagi, menemui tiap sore. Tapi apakah sore nanti hatimu akan baik-baik saja untukku? Apa sore nanti aku masih milik rindu-rindumu? Apa sore nanti kamu masih akan pulang denganku? Setidaknya ada kebiasaan-kebiasaan yang tidak pernah hilang darimu. Kebiasaan itu tak pernah berkhianat dariku yang mudah pelupa. Ia menyuburkan khayalanku setiap waktu.

Cerita apa yang sedang aku tulis sekarang? Apa yang bisa kamu baca dari cerita itu? Berulangkali aku menulis dan membaca kisah yang terposting di blog pribadiku. Ceritanya menggemaskan, terlihat seperti drama padahal itu memang benar terjadi. Tak setiap orang akan bisa mempercayai kisah ini. Aku sampai sering susah tidur dan tak nyaman pergi ke cafe. Cafe tempatku biasa meramu cerita kita. Ah, tapi aku akan bisa menulisnya dimanapun. Aku tak ingin kehilangan cara menuliskan kenangan kita agar tak berganti rupa.

Kapan terakhir kali kita terjebak hujan lebat? Di ruang tamu ingataknku masih ada senyummu saat memberikan baju ganti. Katamu, biar aku bisa ganti saat aku kehujanan. Kenyataannya, memang aku sering berganti baju ketika basah kuyup oleh air mata. Aku diam-diam mengagumimu yang tak lelah menjadi tempatku pulang. Bukan sebatas pertemuan basa-basi atas nama rasa kasihan. Ada tiga lebih puisi yang diam-diam aku bisikkan di depanmu, sambil menatapmu lekat. Air hujan selalu lebih pandai menyampaikan segala perasaan rindu.

Pada akhirnya, aku memilih mencintaimu. Aku memilihmu tanpa paksaan. Aku tak rela menyingkirkan girangku terhadap pertemuan kita. Ini bagian dari takdir. Waktu yang membuktikan bahwa kali ini hidup dan cinta bukan hanya milikku sendiri tapi milikmu, milik orang-orang yang terlanjur aku cintai dan mencintaiku. Untuk alasan macam itu, aku bertahan menghindarkan diri dari kesepian.

Tapi, baiklah. Aku tak ingin bicara panjang lebar lagi soal ini. Bukannya aku tak ingin mengingat sama sekali. Aku hanya sedang ingin menunggu usaha terbaikku membuatmu kembali kehujanan rindu seperti malam-malam dulu.

Aku menulis kisah ini di atas kereta api; sambil tak sabar melewatkan pertemuan kita sore nanti. Semoga aku masih kebagian kebahagiaan.

 

Dear Ami #23 Rindu

Well, I miss you mam

20 Januari 2017; 23.15

Hampir sebulan aku meninggalkanmu. Resah dan rindu bercampur jadi satu. Resap di jiwa. Berharap yakin tak kan goyah. Bahwa Allah yang mempertemukan, pastilah Ia bertanggungjawab menjawab rindu dengan temu. Meski tunggu menjadi tanya. Kiranya kita tetap saling berpeluk doa sebagai bahasa cinta. Maukah kau kupeluk selamanya dengan cara itu?

21 Januari 2017; 13.42

Aku menahan pilu guguran rindu. Bagaimana denganmu? Ketika detik tak berijin temu. Senyap dan tangis merayap diam-diam, memecah batu kerinduan. Aku yang hanya memeluk bisu waktu, ditemani bayangmu yang kekal selalu. Meski mata, hidung, kening dan bibir terhalang jarak. Di hatiku tersisa doa untuk bisa mengecupmu.

Dear Ami #22 Melepas Rasionalitas

Jika harus dijauhkan lagi, aku tetap mencintai ketidaksempurnaanmu sebagai manusia

Dua tipe manusia yang mulai aku sadari keberadaannya adalah, pertama orang yang dengan mudah menyampaikan maksudnya, pikirannya, perasaannya, atau rasa tidak suka pada sesuatu tertentu. Kemudian ia bisa merasakan kelegaan setelah semuanya didengar orang lain. Kedua, adalah orang yang diam atau pura-pura diam, memilih pasif dan merasa baik-baik saja. Penuh gejolak atas apa yang dihadapinya tapi menyimpannya dalam-dalam. Bisa jadi ia juga menolak orang lain untuk mengerti dan memahaminya.

Akhir-akhir ini mencoba untuk tidak realistis. Menjadi masing-masing setengah dari dua jenis orang di atas tersebut. Mencoba menikmati perasaan, menguji rasa sensitif dan melupakan ‘kata orang’.

Karena aku rindu memilikimu, seperti dulu.

Jika ada nilai yang bisa kutulis untuk mengapresiasi perasaanmu padaku, jelas aku akan menuliskan angka paling tinggi. Tapi kita paham, semakin hari angka-angka itu justru terjun bebas oleh kenyataan yang menampar perasaan. Angka itu justru berubah menjadi hitungan matematis yang mematahkan lamunan-lamunan sepanjang perjalanan kehidupan kita.

Sampai pada suatu hari dan pada hari-hari berikutnya setelah itu…

Aku memahami kesulitanmu mengelola cemburu. Mulai kesedihan yang mengikis nilai kebersamaan hingga kerinduan melangitkan doa-doa kebaikan untukmu. Rasanya empati dan simpati tak cukup berpengaruh dan membantu untuk memperbaiki keadaan. Meski dulu kita justru sering mengagungkan hal-hal sederhana untuk membuktikan bahwa kita tidak terpengaruh oleh perasaan-perasaan labil macam cemburu. Sedih. Aku berasa ditampar dan dipaksa ‘kembali’ ke jalan yang benar.

Akhirnya aku benar-benar merasakan: Mencintaimu dan memperjuangkanmu dua kali lipat. Kurasa seperti itu yang bisa kurasakan.

Aku kemudian menikmati menjadi manusia yang mengungkapkan perasaannya.

Malang, 5 Januari 2016

Dear Ami #21 Belanja Buku

Sungguh aku tidak mengerti kenapa mengalihkan diri dari bahasa-bahasa ilmiah tentang perkembangan anak dan analilis kegiatan pembelajaran adalah sesuatu yang “alhamdulillah”. Rasa kangen menulis sesuatu yang apa adanya tanpa bahasa-bahasa ilmiah macam itu mendadak muncul. Di benakku mungkin hanya ada itu saat ini, juga bayangan wajahmu. Iya kamu yang selalu mengkhawatirkanku.

Minggu lalu kita sepakat untuk jalan dan belanja, setelah semalam aku merengek menginginkan buku-buku baru. Karena itu akhirnya aku bisa membujukmu untuk pergi ke toko buku setelah lama tidak menginjakkan kaki kesana. Aku juga sudah lama tidak datang ke toko buku, sebagai kompensasi janjiku untuk tidak sembarangan membelanjakan uang untuk buku-buku. Tapi kenyataannya aku memang tidak pernah bisa menolak godaan membeli buku, katamu “walaupun besok nggembel ya nekat aja tuh beli buku.”. Tapi kemarin ternyata bukan hanya aku saja yang tak tahan akan godaan membeli buku. Dirimu juga! Tak tanggung-tanggung, nominal belanjaan yang menyentuh angka satu juta itu ternyata justru melegakan sekaligus menyesakkan. Hahaha. Lega karena akhirnya bisa puas membeli buku-buku dalam jumlah banyak meskipun masih banyak list judul buku yang ingin dibeli. Menyesakkan bukan karena jumlah uang yang banyak dikeluarkan untuk berbelanja melainkan jumlah uang yang terlalu sedikit dialokasikan untuk membeli buku. Hahaha. Stress? Mungkin orang lain berpikir begitu dengan kebiasaan ini. Tapi sudahlah, bukankah membelanjakan uang untuk membeli buku adalah sebuah kekayaan? Investasi masa depan. Kilahku.

Aku mendadak merasa harus bertanggung jawab karena berhasil menjinakkanmu untuk belanja buku hari ini. Padahal beberapa bulan yang lalu, aku pernah dengan begitu naif berjanji padamu. Sebuah janji besar yang aku seratus persen yakin tidak akan pernah bisa aku tepati. Aku bilang “Iya aku janji untuk nggak bandel lagi abisin duit buat belanja buku banyak-banyak.”. And what happend today? Like a comedy. Kita saling beradu pandang lalu tertawa. Aku… mengamatimu dan melihat kesedihan sekaligus kebahagiaan lebih jelas dari siapapun. Aku disampingmu dan aku mengamati setiap detil keinginanmu. Dan kau mengijinkannya.

Janji yang pernah kuucapkan itu tidak pernah sekalipun terdengar keren. Walau aku tahu tujuanmu untuk membuatku berjanji seperti itu untuk kebaikanku. Aku tahu itu. Tapi… tapi… entah apalagi yang harus aku rasakan selain rasa tersiksa karena tidak membeli buku saat datang ke toko buku.

Pandanganmu mengisyaratkan sedu. “Kenapa?” tanyaku dan tanpa aku minta kau memberikan jawaban, aku melanjutkan “Sudah nikmati aja, kita juga butuh buku-buku ini kan, Mi…”. Batinku, semoga kalimat itu dengan segera bisa menghentikan sedu dan khawatirmu.

Kutinggalkan kau dari lorong-lorong rak buku itu dan berbicara sendiri “Sepertinya aku harus berdoa lebih khusyuk. Meminta Tuhan untuk menghadirkan rejeki yang berlimpah sehingga membebaskan kita untuk membeli buku-buku. Aku tak ingin lupa dengan kebaikanmu, semoga Tuhan juga berbaik hati memperkenankanku untuk lebih pandai tersenyum dan merayu, supaya aku tak dihukum ketika membuatmu marah. Supaya tak ada lagi yang bisa kau khawatirkan dariku.”

I Love You, Ami…

 

Dear Ami #20 Sebagaimana Air

Sebagaimana air, aku hanyalah rintik hujan yang jatuh tetiba menujumu. Aku tak berpikir untuk mengalir lebih cepat atau menggenang lebih lama. Sengaja waktu membiarkan aku mengalir semestinya mengikuti kehendak semesta. Tak ada yang bisa menjelaskan dengan nalar mengapa air memilih jatuh di daun-daun, mengendap di tanah-tanah, membasah di genteng rumah, atau bermuara di sungai seberang sana. Pun kita, semestinya tak ada yang sanggup menjelaskan dengan nalar mengapa aku yang betah membeku di bendungan rindumu.

Sebagaimana hujan, yang jatuh tanpa aba-aba, sekehendak suara Tuhan memerintahkannya untuk membasah di bumi sebelah mana. Setidaknya begitulah, kita tak terkait oleh darah, asal usul, ataupun doa tapi sejarah mencatat kita tertanda oleh waktu. Hingga akhirnya terjebak pilihan untuk terus mengandung kehendak Tuhan agar terlahir kebahagiaan-kebahagiaan.

Air-air hujan itu tak bisa tergenggam, kecuali jika hadirnya teresapi. Semacam itulah aku yang resah karena jauh oleh jarak, sunyi yang dinyanyikan oleh ketiadaan candamu dan tertatih antara genggam tangan yang lalu pernah mengiring langkahku. Cukuplah kurasakan itu pada deru nafas dingin di keheningan-keheningan malam. Biarlah perasaan memainkan perannnya agar tetap meresapi hadirmu di hidupku meski tak sepanjang waktu berkesempatan memeluk ragamu.

Pada akhirnya, air pernah terlihat berkilau putih di udara sebagai hujan meski tak menjanjikan selalu jernih ketika jatuh di tanah atau daun-daun. Begitupula aku yang tentu tak selalu mendekapmu dalam bahagia dan harapan yang didamba. Sesekali resah, sakit, salah dan air mata pernah membasah pasrah di hatimu.

Tapilah aku tetap air yang bisa dijernihkan, tetaplah hujan yang bisa nantikan. Jadilah aku tetap yang bisa kau jaga seperti air, ditunggu dimana saja tanpa perlu mengubah arah takdir. Seperti hujan, walau tak bisa kau genggam tapi hadirnya kapan saja bisa kau minta pada Tuhan.

Malang, 8 Oktober 2016

Dear Mami #19 Memilih

“Apakah salah jika cinta yang pernah kupilih tak akan pernah sama lagi?” -a random thought

Aku tertawa sepanjang siang tadi setelah menuntaskan menonton film yang sudah seminggu lalu kita agendakan. Tawa lepas itu mewakili seluruh adegan yang diperankan oleh pemain di film bergenre komedi itu. Pun rasanya setiap inci kesedihan dan rasa sakit yang sedang aku alami terbayar seketika. Lagi-lagi, semua itu terjadi saat aku disampingmu.

Setelah hampir satu bulan setengah perhatian, tenaga dan waktu tersita karena kesibukan praktik kuliah, kali ini aku senang bisa leluasa membayar kerinduan bersamamu. Entah mengapa, sekali lagi dalam kurun waktu yang lama aku menyadari betapa indah ada di sampingmu. Sangat indah, berbicara di depanmu, menyampaikan keinginanku yang mewakili ketakutan dan harapan untuk tidak lagi kehilanganmu.

Aku senang pernah memilihmu dan kamu masih mengingatku. Aku pernah takjub dengan kebaikan Allah yang pernah menyesatkanku menujumu. Di tempat yang kamu sebut hati itu aku lama tinggal dan menempelkan kesan terbaikku untukmu. Aku digugah oleh semangatmu untuk selalu dengan mudah mendengar cerita dan pikiranku yang berkelana kemana-mana. Setiap keinginan dan ketakutan yang aku simpan dalam-dalam terasa tenang jika aku ceritakan padamu. Barangkali sampai kapanpun aku tidak akan pernah berharap untuk menemukan jejak pulang dan pergi.
***

Di kursi bioskop ini, aku sibuk mengurutkan hal-hal apa saja yang pernah kutemukan dari hidupmu –hatimu. Sambil memegang tanganmu, memandang sekeliling, mengamati gerak tangan dan mimik wajahmu, sesekali menilai dan terus mencari tahu mengapa waktu terus berubah dan kita masih saja sibuk menerka-terka keinginan satu sama lain. Untuk urusan ini, aku berhenti memikirkan pilihan terburuk dari sebuah pertemuan yang ditakdirkan. Perasaan selalu punya toleransi pada batas-batas keyakinan yang kami percayai tapi aku melakukan semua itu sekali lagi: membuktikan konsistensi sebuah pilihan.

Sekali lagi, apakah salah jika cinta yang pernah kupilih tak akan pernah sama lagi? Entah, tapi aku terima saja untuk tetap menjagamu seperti yang pernah kujanjikan dulu.

Dear Mami #18 Surat Kesekian

Malang, 4 Agustus 2016; 14.37

Dear Ami, kesayanganku…

Mi, hari-hari ini adalah detik dimana segalanya terasa biasa saja. Saat dimana rindu terasa hambar, waktu yang hanya terisi melodi sendu yang menggurat perih rindu. Pada gersang hari-hariku, kusaksikan kebencian berlarian, kesedihanku beku. Aku kedinginan sendiri oleh kangen dan kenangan yang pernah meledak indah.

Aku tak ingin pergi. Meja nasib telah mengantarku padamu. Kali ini ijinkan aku untuk membersihkan debu-debu di dalam ruang hatiku, di ruang yang nanti dan sejak awal kau singgahi. Biar kulihat kesucian utuh dan keraguanku luluh. Mi, dirimu adalah doa yang tak pernah salah aku ucapkan. Maka setelah pertemuan, aku tetap memintamu tinggal di ruang yang sudah kusediakan. Tenanglah, aku adalah doa yang tak pernah menyerah hingga membuat Tuhan berhasil memberimu sebagai hadiah padaku.

Aku sedang membersihkan ruanganmu di hatiku, agar kau bisa lekas pulang, dengan sehat tanpa harus sakit oleh debu-debu yang mengganggu.

Aku yang akan menggandengmu pulang lagi, ke rumahmu, hatiku, aku. Dengan segala hormat, aku bermohon restu untuk memintamu tinggal. Di hatiku-hidupku.

Love,

Me

Dear Mami #17 Bagaimana Jika Aku Tak Menulis?

Bagaimana jika seandainya aku tak bisa menulis lagi? Apa aku masih bisa menyaksikan senyummu seperti yang biasa kau lakukan saat membaca puisiku?

Bagaimana jika seandainya aku tak bisa menulis lagi? Dimana lagi aku bisa menemukan tangis haru campur bahagia menggenang di kelopak matamu?

Bagaimana jika seandainya aku tak bisa menulis lagi? Kapan aku bisa menggandengmu berdua saja pergi ke tempat yang belum pernah kau singgahi untuk sekedar memberi surat-surat yang aku tulis?

Bagaimana jika seandainya aku tak bisa menulis lagi? Masihkah berlaku pelukanmu yang menenangkan setelah badanku terguncang oleh tangis sesenggukan saat mampuku hanya menuliskan surat karena tak sanggup menyampaikan kesedihan?

Dan bagaimana jika seandainya aku benar-benar tak bisa menulis lagi? Kekuatan macam apa yang bisa kugunakan untuk mengatakan rasa sayangku padamu, Mi? atau Kesedihan macam apa yang akan aku simpan diam-diam karena aku tak punya lagi cara untuk menyampaikan?

Mi, adakah di antara sisa waktu yang kau miliki untuk berpikir “bagaimana jika aku, anakmu, tak lagi bisa menulis?”, Bagaimana perasaanmu?

Bisakah kali ini kau baca ini dengan rasa cemas sekaligus syukur?. Cemas karena mendapati pikiranmu menemukan jawaban dengan kemungkinan terburuk tapi sekaligus juga bersyukur bahwa ternyata sampai detik ini aku masih tetap menulis. Tentunya salah satu alasannya adalah karenamu. Meski sampai detik ini kau tahu aku belum sampai memberanikan diri untuk menyerahkan naskah ke penerbit -lagi. Untungnya, sampai detik ini aku masih berkomitmen terhadap pilihanku untuk terus menulis walau ada hati yang rela teriris menyaksikan gerakku hanya ini-itu saja. Aku selalu berdoa semoga diberikan kesempatan untuk terus di sampingmu, melakukan hal yang sama, menemukan gairah dan semangat yang kita tahu tujuannya: Menulis. Menumpuk sejuta kenangan dengan kata, membangun peradaban dengan cinta.

ps. Ditulis karena ngiri sama Mami yang lebih sering nulis dan nerbitin buku walaupun karena kepepet. Really make me envy!

Malang, 8 Agustus 2016

Dear Mami #16 Namamu Tiga Tahun Lalu

Kalau tiga tahun yang lalu aku tidak rajin menempatkan diri duduk di bangku paling depan sebuah ruang perkuliahan, mungkin kisah ini tidak akan pernah ada. Sebelum aku menjelma seorang yang dingin sekaligus mengurangi interaksi dengan orang lain, aku sudah mengenalmu. Lewat selembar kertas berisi data yang salah satunya tertulis namamu. Singkat waktu, aku lancar mendeskripsikanmu dengan berbagai penafsiran. Tentu saja hanya penafsiran abal-abal khayalanku yang entah mengapa hampir sepenuhnya benar.

Masih terang diingatanku ketika aku rajin mengulur-ulur waktu pulang kuliah demi menungguimu di seberang jalan. Hanya demi memastikan bahwa kau tak sendirian untuk pulang. Waktu itu mami duduk di bangku depan warung, berseberangan dari tempatmu kerja. Aku duduk dengan seorang kawan di sisi jalan yang lain, menikmati semangkuk bakso yang sebenarnya tak enak, menanggapi obrolan teman yang setengah-setengah aku dengarkan, karena mataku masih terjaga memperhatikan gerak gerikmu di seberang jalan.

Aku sadar saat itu aku bukan siapa-siapa tapi untuk menjadi yang spesial di matamu, ini adalah cikal bakalnya. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan diriku yang seketika melayang penuh ketenangan setelah melakukan hal-hal kecil itu. Aku memang suka bertanya pada diriku sendiri. Pertanyaan-pertanyaan konyol yang bagi sebagian orang mustahil. Aku membayangkan bagaimana jika aku yang selalu di sampingmu? Apa yang bisa aku kenal darimu? Bagaimana caranya? Aku tahu pertanyaan itu yang setiap hari menjadi kesenangan tersendiri untuk mencari akal menjawab keraguan. Maka sering aku bayangkan setiap malam kalau aku memang benar-benar ada untukmu. Di sampingmu. Dan segala tentangmu adalah teman khayalanku sebelum tidur.

Satu hal yang sampai detik ini membuat aku bahagia adalah mengenalmu. Meresapi makna di balik kesengajaan Tuhan mempertemukan kita. Meskipun aku merasa masih cukup aneh mengapa di antara sekian nama yang aku baca, hanya namamu yang menarik perhatianku?