Bergerak

Berapapun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menjauh dari kesepian yang semakin pahit, bergerak adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan.

Aku putuskan untuk menyingkirkan sepi dengan terus bergerak. Lagipula aku sudah terbiasa untuk membesarkan hati kalaupun seandainya kita memang berjarak. Semoga kamu tahu, ada banyak hal yang bisa aku lakukan untuk membunuh sepi, menjauhi hal-hal perih sendiri. Menghidupi diri dengan menghiburnya lewat banyak hal.

Aku buktikan kata-katamu bahwa khawatir adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dari cinta. Lalu mulai bergerak dan tak mau kalah pada keadaan adalah ego yang harus dijaga agar pikiran tak terlalu terbebani. Sesekali, bergerak membawaku pada kekhawatiran yang tak sesuai dengan saranmu. Aku mengkhawatirkan pilihanku. Aku mengkhawatirkan waktu tanpamu. Aku mengkhawatirkan ketidakmampuanku bahwa aku ingin sepertimu.

Lalu siapa yang sebenarnya pantas untuk dikhawatirkan? Kamu yang jauh di sana atau aku yang takut kehilanganmu?

Baiknya kita sama-sama terus bergerak untuk membuktikan jawaban yang sebenarnya.

Malang, 28 April 2017

Advertisements

Waktu Tunggu

Berapa lama aku harus mempersiapkan waktu untuk menjadi sepertimu? Paling tidak ada di posisi satu garis di belakangmu.

Apa yang kamu tunggu? Jawabanmu itu seolah menegaskan bahwa ada sesuatu yang masih terpisah dari diriku.

Pada satu kondisi, aku kerapkali susah tidur. Jika begitu, aku sering memilih memainkan ibu jari. Mengetikkan beberapa pertanyaan yang kukirim untukmu. Hari-hari belakangan adalah sesuatu yang amat pelik untuk dikhawatirkan yang berujung pada obrolan tengah malam kita. Ada beberapa kejadian yang selalu payah untuk kuusahakan. Salah satunya mungkin masa depan.

Katamu, bagaimana mungkin aku bisa lupa jadwal minum obat dan sering lalai untuk cek kesehatan, lalu tak peduli soal makanan. Bagaimana mungkin kamu tak sempat menjaga hal-hal kecil itu?. Pertanyaan yang kamu jawab juga dengan pertanyaan menjadi lukisan kebodohan yang aku lakukan.

Kamu lalu menjelaskan, menerangkan banyak hal. Ada cara-cara hidup yang dengan fasih ingin kamu hadirkan di perjalananku. Walaupun mungkin tidak mudah. Luka memar selama perjalanan memang tak pernah mudah hilang, namun membincangkan hal ini bersamamu semoga membantu menyembuhkan.

“Kamu tak perlu menggadaikan seluruh hidupmu untuk berjuang, berkorban, dan menanggung penyesalan atas apa yang tidak bisa kamu lakukan di masa lalu, pada beberapa kesempatan. Kamu hanya perlu menggadaikan sebagian waktumu yang sudah kamu rencanakan untuk melakukan perjuangan, pengorbanan, dan ujian kesabaran.”

Ah sungguh aku telah melewatkan banyak hal itu. Akhirnya kamu juga menjadi salah satu orang yang berbaik hati menegurku. Akhirnya aku menyerah pada kalimat terakhirmu. Gamang yang semakin menunjukkan eksistensinya. Remang-remang lampu mulai memperhitungkan perasaan dari hati yang selalu berseberangan. Dan hari ini aku perlu berdamai dengan diriku, dengan penyesalan dan masa lalu. Aku memastikan bahwa diriku akan mulai melakukan sesuatu untuk menjawab pertanyaan masa lalu. Semua yang akan dihadapi ataupun yang pernah terlewat untuk dilakukan adalah sekumpulan urusan yang harus diselesaikan.

Dan tentu saja, kamu adalah rindu yang harus dituntaskan.

Terimakasih untuk bantuannya membuatkan satu paket agenda kegiatan yang melengkapi hari-hariku.

Dia (Mungkin) Menulis

Siapapun bisa kagum oleh capaian prestasimu yang mengular sepanjang tahun. Beda denganku yang harus mencari ribuan alasan untuk bisa mengagumimu dari sisi lain. Pertemuan kita hanya sebatas dua labirin pintu yang terbuka di dunia maya. Tentu kita belum sempat bertatap muka dalam waktu yang entah sampai kapan. Tentu saja, sepanjang masa itu aku tak mampu menerka isi hatimu.

Agaknya meski terjarak oleh dua benua, tak sepenuhnya menghalangi perkenalan kita. Kamu menjadi sosok yang lugas mengungkapkan siapa dirimu dan apa keinginanmu lewat tulisan-tulisanmu di blog. Akupun bisa tersenyum dan bersuara ringan lewat tulisan untuk menyatakan banyak hal yang lebih sulit tersampaikan langsung. Aku ingin di belakangmu saja untuk kali ini.

Perkenalan yang cukup menguras pikiran, bukan?

Senja yang berganti rupa seringkali membawaku pada perasaan berbeda. Membuka dan membacamu di berbagai tulisan agaknya membuat hari dan hatiku bercabang. Di satu sisi aku terus diingatkan untuk menyelesaikan berbagai urusanku dengan diriku sendiri, di sisi lain tuntutan menyempurnakan hidup dengan berbagai capaian semakin mendekati batas akhir. Kamu pasti tahu maksudku jika membaca tulisan ini.

Kehadiranmu dan tulisan-tulisanmu bukan sekedar penunjuk tapi sekaligus menjadi ‘kehidupan yang lain’ untukku. Aku disibukkan lagi oleh kebahagiaan untuk menghidupi mimpi-mimpiku yang mulai kering dan gersang. Pada satu kondisi, perasaanku itu menjadikanku berani untuk mengajukan permintaan padamu

“Tolong tulisakan sesuatu yang pernah pertama kali mengajakmu jatuh untuk menulis, lalu kenapa kamu tidak pernah mau terpisah darinya. Tulis saja semua yang kamu ingat. Aku yang akan membacanya pertama kali.”

Apakah ini berlebihan?