Ami; yang Tak Akan Selesai Saya Rindukan

Terbangun pukul 03.00 dengan perasaan berdebar. Lalu menengok ke sebelah kiri untuk memastikan bahwa kamu masih di sini dan baik-baik saja. Syukurlah, pertemuan kita beberapa jam sebelum ini cukup menakutkan untuk saya. Melakukan perjalanan jauh sekira 68 kilometer untuk menemuimu, memastikan bahwa saya hadir kapanpun untuk terjaga dan menjaga.

Kamu perlu tahu bahwa saya takut jika harus berjarak lagi. Berjeda lagi.

Saya takut, saat harus merelakanmu berkemas lalu pergi dan dering notifikasi chat di whatsapp tak henti berbunyi untuk mengkonfirmasi keadaanmu.

Kita tahu, sampai kapanpun tak akan pernah lelah berbagi dekap saat temu berpihak pada kita, meskipun nyatanya saya tak lagi bisa setangguh dulu saat tak bersamamu.

Sebab inilah mungkin perjuangan yang kita harap akan mencipta makna dari takdir-takdir kecil  yang Allah rencanakan. Dan kemarin, saat pundakmu masih saja menjadi tempat menopang segala rindu dan tangan lembutmu mengusap tangis, bisa-bisanya saya masih bertanya, “Apa Ami sayang sama, Mbak?”

Tulungagung, 5 April 2018

Advertisements