/Kata Kita /Kita Kata/

Di kota ini, semua kata bermuara menjadi kita. Sepotong, sebait, sekali lagi tentang kita. Ada yang melahirkan cintanya pada potongan kata-kata. Tak bisa terhitung berapa banyak kata-kata yang menjelman menjadi kita. Merajai setiap peristiwa dengan kata-kata yang harus kau dengarkan. Kata itu meleburkan dirinya pada keramahan, mengiringi percakapan kita di sepanjang jalan dengan guguran daun pohon angsana.

Kata apa lagi yang kita tunggu? Bahkan sebelum jalanan menjadi karpet guguran pohon angsana, kita telah lebih dulu tenggelam oleh kata-kata tentang kesibukan yang sengkarut dan carut marut.

Suatu hari pada sebuah sore, kita menghitung lagi berapa banyak waktu tersisa yang kita miliki. Ada sepasang kata kita yang saling menemukan, tak lama kemudian kita debatkan. Berusaha menemukan cinta dari cerita-cerita. Meninggalkan jejak-jejak kita dengan tawa yang menggema lalu beranak-pinak sebagai kenangan kita.

Meninggalkan-ditinggalkan-dan tertinggal pada sebuah kota yang jauh terkenang sebagai kata: Sebagai kita.

Pada sebuah kota tentang kita dan nyawa berkata-kata.

Malang, 6 Oktober 2016

Terserah: Tak Mau Menyerah

Kita berbeda pandang soal sudut terbaik menemukan hidup. Bagimu, melemparkan diri di keramaian adalah keniscayaan dan jalan untuk menemukan kebahagiaan. Sedang aku, mengerucutkan badan di pojok kamar sambil mendekap buku-buku adalah pilihan paling hangat untuk memeluk duniaku. Sepertinya, kita berbeda langit-langit. Kamu biru dan aku bercat abu-abu. Tanpa diduga, ketidaksengajaan menghadapkan kita pada satu pelukan yang bisa disimpulkan sebagai: Cinta.

Apa yang sama soal kita? Kita memilih duduk berdua di tempat yang tak biasa dipikirkan. Oleh ketidaksengajaan dan pilihan tak biasa kita ditumbuhkan untuk bersama. Berbagai pertanyaan soal hidup pun mungkin tak bisa kujawab hari ini, pun kamu, beberapa kalimat yang membuatmu disampingku masih terkenang di kepala. Aku ragu, kamupun sedikit tersandung karena perbedaan.

Akankah kita terus bertatap kosong tanpa makna? Menggenggam tanpa rasa?

Baiklah… tapi aku berjanji, suatu saat akan ada waktu untukku memperjelas bagaimana perasaanku padamu. Tanpa basa-basi pun bukan puisi! Hanya kalimat sederhana berbunyi: aku menyayangimu sejak pertama Tuhan mempersilahkan kita bertatap mata.

Hanya dengan itu semoga kau bisa tersenyum rekah, setelah setumpuk perasaan tak bernyawa akhirnya menemukan rumahnya. Betapa bahagianya aku ketika tentu saja kau berpasrah menujuku tanpa mau kalah meski terengah-engah, tak lengah walaupun lelah. Tak mau dipisah walau jarak hanya sejengkah. Tak kutinggalkan walau sedetik sebab tangan dan hatimu hanya aku yang berhak menjamah.

Bukankah itu indah?

Malang, 8 Oktober 2016

Pintamu

blog-post

Sekalimat permintaanmu itu membisik lembut di telinga kanan, mempersilahkanku mendekat memelukmu penuh erat. Sekian lama kita sepakat untuk tak menyepakati apa-apa selain: jangan pernah pergi. Kenyataannya aku tidak pernah cukup pandai untuk meninggalkanmu, kataku…

Waktu berlalu dan kita tak perlu bait yang berkelit-kelit untuk menyatakan cinta sedikit demi sedikit. Aku hanya perlu hebat membaca inginmu di antara malam-malam pekat. Sejauh ini akulah yang paling hebat setelah Tuhan ketika kau ingin membuka pintu cinta paling lembut…

Tak bosan kuhitung jumlah langkah kaki menujumu, rebah disebelah kanan, menyelinap di antara denyut nafas dan mimpimu. Aku tersenyum lugu, membayangkan esok yang malu-malu berhadapan denganmu. Lalu duduk tergugu menunggu senyummu sambil berlalu melayangkan kecup untukmu. Di keningmu membisikkan aku menyayangimu, Ami…
.
.
.
Malang, 9 Oktober 2016

Kesepian Mekar Di sini

Kau pergi sekali lagi. Membawaku pada tangis tak henti. Mataku lelah menyaksikan kesepian mekar di sini -di kelopak hati. Tiba-tiba kupikirkan satu kalimat Sapardi berbunyi: “Gelisah tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu. Entah kapan kau bisa kutangkap”. Baiknya itu kujawab dengan pertanyaan: “Siapa yang ingin diperebutkan dan disanjung tinggi-tinggi?”. Sadari bahwa kita hanya dua jiwa yang saling menemui, lalu mengerti bagaimana cara menghangatkan diri. Pergi dan kembali sudah pasti terjadi menandai sisa-sisa cinta. Tapi benih matamu membuat semua inginku pergi jadi tertunda. Menyeret jari tanganku untuk berpuisi lagi.

Malang, 11 Oktober 2016

Hati-Hati!

Bagaimana lagi rasanya?

Untuk kesekian kalinya, di tengah hiruk pikuk pekerjaan. Melihat orang-orang melakukan aktivitas mulai A sampai Z. Aku mencoba sedemikian tenangnya ketika mendapati sebuah barang maha penting bagi laptop (baca: charger) hilang. Entah.

Lemes. Mencoba merunut kronologi sedetail mungkin sejak barang itu diduga hilang. Sehari semalam sepertinya masih gagal untuk menemukannya. Kecerobohan yang kesekian kalinya terjadi namun masih sekuat tenaga berusaha untuk tenang dan memikirkan cara-cara terbaik untuk menemukan… yang akhirnya juga bablas ketiduran karena sudah buntu! 

Di hari kedua- meraih segelas air putih dari samping tempat tidur dan tetiba mataku gerimis berharap barang itu segera ditemukan. Kecerobohan level akut ini masih gagal terselesaikan dan bodohnya ah memang bodohnya, masih bertahan dengan egoku agar tak ada satupun yang tahu. Kecerobohan yang sudah lalu-lalu pun berhamburan di kepala, menambah  intensitas khawatir dan perasaan campur aduk. Di tengah ragu-ragu dan hal yang serba terburu-buru, kejadian kali ini benar-benar membuatku tak berdaya.

Pagi di sebuah kursi- aku duduk, sepi, memandangi sekeliling ruangan untuk meraba kembali ingatan dimana barang itu terakhir kali aku letakkan. Berdiri, membuka-buka laci, mengabsen meja satu per satu. Nihil.

Menyerah- tersampaikan sudah, “Charge laptopku hilang…” Pelan, hampir terucapkan tanpa suara. Dengan nada serius dan tatapan mata yang sudah bisa kupastikan membuat aku bungkam seribu alasan, aku diam. Omelan-omelan kesekian tentang kebiasaan ceroboh kali ini membuatku benar-benar khawatir, mataku panas, tanganku gemetar, dan setumpuk berkas di atas meja belum tersentuh. Aku membayangkan tulisan-tulisanku yang tak bisa kumiliki lagi. Argh…

Terakhir- Kuusahakan sendiri pencarian hasil kecerobohan itu. Ke tempat-tempat yang kemungkinan aku jangkau kemarin. Sepandainya aku menahan khawatir dan tangis akhirnya pecah juga di hadapan malam. Baiklah… terpikir untuk bisa mengikhlaskan, ya sudahlah. Sesaat itu, berbincang dengan seseorang di luar, duduk dan tertawa sambil terus melupakan. Tak sengaja kepala tertengok ke kiri, di belakang beberapa deret komputer.

“Itu milikku!” teriakku dalam hati.

“Hati-hati, lagi-lagi bikin ulah ya. Kebiasaan banget siy” ucapku menirukan gayamu.

Pamit- Aku pamit dari tempat ini, dari teman-teman yang sebentar saja membuatku tertawa. Hatiku masih basah oleh nasihatnya yang tulus, terbayang untuk memeluk dan membisikkan maaf -kesekian kalinya. Mencoba meloloskan keinginan untuk tak lagi ceroboh dan mengkhawatirkanku.

“Hati-hati!”

 

 

Dear Ami #20 Sebagaimana Air

Sebagaimana air, aku hanyalah rintik hujan yang jatuh tetiba menujumu. Aku tak berpikir untuk mengalir lebih cepat atau menggenang lebih lama. Sengaja waktu membiarkan aku mengalir semestinya mengikuti kehendak semesta. Tak ada yang bisa menjelaskan dengan nalar mengapa air memilih jatuh di daun-daun, mengendap di tanah-tanah, membasah di genteng rumah, atau bermuara di sungai seberang sana. Pun kita, semestinya tak ada yang sanggup menjelaskan dengan nalar mengapa aku yang betah membeku di bendungan rindumu.

Sebagaimana hujan, yang jatuh tanpa aba-aba, sekehendak suara Tuhan memerintahkannya untuk membasah di bumi sebelah mana. Setidaknya begitulah, kita tak terkait oleh darah, asal usul, ataupun doa tapi sejarah mencatat kita tertanda oleh waktu. Hingga akhirnya terjebak pilihan untuk terus mengandung kehendak Tuhan agar terlahir kebahagiaan-kebahagiaan.

Air-air hujan itu tak bisa tergenggam, kecuali jika hadirnya teresapi. Semacam itulah aku yang resah karena jauh oleh jarak, sunyi yang dinyanyikan oleh ketiadaan candamu dan tertatih antara genggam tangan yang lalu pernah mengiring langkahku. Cukuplah kurasakan itu pada deru nafas dingin di keheningan-keheningan malam. Biarlah perasaan memainkan perannnya agar tetap meresapi hadirmu di hidupku meski tak sepanjang waktu berkesempatan memeluk ragamu.

Pada akhirnya, air pernah terlihat berkilau putih di udara sebagai hujan meski tak menjanjikan selalu jernih ketika jatuh di tanah atau daun-daun. Begitupula aku yang tentu tak selalu mendekapmu dalam bahagia dan harapan yang didamba. Sesekali resah, sakit, salah dan air mata pernah membasah pasrah di hatimu.

Tapilah aku tetap air yang bisa dijernihkan, tetaplah hujan yang bisa nantikan. Jadilah aku tetap yang bisa kau jaga seperti air, ditunggu dimana saja tanpa perlu mengubah arah takdir. Seperti hujan, walau tak bisa kau genggam tapi hadirnya kapan saja bisa kau minta pada Tuhan.

Malang, 8 Oktober 2016

a random thought

Aku hendak memaksamu tinggal… Pada kisah yang tak kuijinkan kau akhiri. Melepaskan segala dendam yang tak redam hanya dalam waktu semalam. Kutinggalkan sumpah serapah yang memperparah keadaan. Ternyanyikan segala sendu pada lirik:

Kurindu… Lebih baik katakan apa adanya bila memang rindu. Kurindu… Karena waktu tak kan mampu berpihak pada perasaan yang meragu. Kan kutempuh semua perjalanan tuk pulang ke hatimu…