Jatuh

Ada banyak kejadian kecil hari ini yang semestinya membuat saya bercermin dan bertanya kepada diri sendiri. Saya mengetik ini tepat setelah menikmati perjalanan ke Malang dengan kereta api. Sengaja ingin menuliskannya sesegera mungkin agar tidak kehilangan getaran perasaan yang ingin disampaikan. Walau rasanya kepala sudah mau copot saja.

***

Dahulu, saya sudah menyiapkan sebuah buku kecil berwarna biru yang berisi serentetan kegiatan yang harus dilakukan – apa saja yang tak boleh dilakukan – dan sekumpulan rencana A, B, C tentang masa depan. Setiap waktu, buku itulah yang menjadi “makanan” saya untuk tetap menjaga mood agar selalu baik.  

Saya bersyukur, hal itu berhasil “menjaga” perasaan saya dari hal-hal negatif yang ada hingga akhirnya mampu menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan baik.

Sampai pada akhirnya 18 bulan yang lalu ada pertanyaan lain seperti “Apa yang bisa dilakukan setelah menjadi yang terbaik?” yang kemudian membuat saya berhenti melakukan rutinitas menulis di buku kecil tersebut. Hari ini saya menemukan jawabannya setelah sekian lama memikirkan jawaban yang tepat.

Jawaban itu adalah “Jatuh!!”

Ya… memang jatuh! Saya menikmati semua hal terbaik yang sudah dan sedang saya miliki saat itu. Menyelesaikan dengan baik satu per satu dari daftar panjang impian saya di buku itu. Lalu jatuh!

Ternyata hanya butuh hati untuk bisa memahami bahwa jatuh adalah menolak merasa nyaman dengan keadaan. Lalu saya mulai berdamai dengan “jatuh”, berhenti mengutuki setiap hal-hal yang gagal saya lakukan dengan baik. Jatuh-lah yang mengantar saya belajar untuk berdiskusi dengan diri sendiri dan berusaha mencari jalan-jalan baru untuk dinikmati, bukan justru memutuskan jalan dengan mengutuki proses “jatuh”-nya.

Akhirnya saya pun bersyukur sudah diberikan kesempatan jatuh -lagi. Sebab ternyata tak ada jalan lain lagi setelah jatuh selain kembali mendaki. Semestinya, saya juga beterimakasih kepada diri saya karena sudah rela meluangkan waktu melambatkan impian untuk membersamai banyak orang di sekeliling saya. Mendukungnya.

Its not about me but maybe will affect my future.

tapi apa setelah ini?

Mungkin akan ada perjalanan panjang lain yang sudah mulai saya persiapkan. Tapi kali ini berjalannya pelan-pelan sambil menjaga keinginan agar tidak menyakiti hati banyak orang. Ini semua hanya soal visi yang semoga lebih besar dan bermanfaat karena dikerjakan sembari berusaha belajar mendahulukan Tuhan.

Selamat datang lagi ketekunan yang menggebu-gebu walau harus dimulai -lagi- dari titik terendah. Tidak perlu canggung, mungkin perasaan takut perlahan akan hilang jika lebih sering dilatih untuk yakin dan percaya.

Tuhan sudah berbaik hati memberimu kekuatan untuk terus melangkah, sesekali membuat saya bercermin dan sering menyelamatkan saya dari pikiran-pikiran yang dangkal. Lebih baik mengurangi waktu mempertanyakan segala hal karena semua yang dicari sudah ditemukan (orang-orang yang mau selalu membersamai semangat saya). Tuhan pun berbaik hati membukakan semua pintu yang ingin saya pilih. Dan saya tidak ingin menjadi seorang yang bodoh, yang pura-pura tidak tahu kebenaran yang ada di depan mata saya sendiri.

Maka, jatuh akan lebih baik dipenuhi dengan langkah-langkah kecil yang layak dilakukan dan bukan lagi sekedar menimbun pertanyaan “Apa yang saya inginkan?”

Malang, 28 November 2017

 

Advertisements

Pura-Pura (delete soon)

Melengkapi yang hilang adalah keterasingan lain. Setelah kebahagiaan yang harusnya menemukan semangat baru, kini hanya tinggal abu yang siap ditiup angin.

Akan kubayangkan diriku sebagai yang terakhir menemukanmu. Membatin. Apakah dua-tiga-empat-lima jam cukup untuk mencegahku jadi korban keterasingan.

Hari ini aku menulis banyak. Kadang semangat terisi penuh, bahagia berlebihan, lalu menjadi acuh, dan sering kali menjadi orang paling lemah untuk menghadapi ini.

Bolehkah aku memilih pulang? Memulangkan hati yang kemudian menjadi beban. Memulangkan perasaan. Hingga berhasil menghirup kehidupan yang biasa-biasa saja. Dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang lainnya. Tak perlu pura-pura dan bangga atas kehebatan pura-pura itu.

Ah, semua memang hanya pura-pura.

Sepilihan Sendu

Mimpimu malam itu, menggugurkan kilauan senyum di wajah. Tak ada yang menina-bobokkanmu di malam yang dingin itu. Kamupun sendirian berjelaga memikirkan harapan. Dari beberapa tikungan di pikiranmu, kamu pungut reruntuhan daun, kamu usap-usap agar menjadi bersih. Melakukannya adalah satu hal yang kamu suka walau entah berapa kali daun-daun itu akan kotor lagi atau bahkan hilang.

Sepilihan daun yang bergantian terbang tertiup angin, pikiranmu menggumam oleh ketidakpastian dari pertanyaan: Apa yang harus kukerjakan?

Jam dinding itu masih berdetak saling bersahutan menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutmu.

“Ini sudah jam berapa?” tanyamu pada diri sendiri, “Hei aku sedang menunggu atau ditunggu?” Kamu lanjutkan tanya itu sekali lagi pada dirimu.

Tampaknya kamu begitu rindu pada kebahagiaan dan ingin berhenti menjejali pikiran dengan keriput masalah.

“Tuhan masih siapkan berapa kali lagi kegagalan?” Kali ini kamu heran, siapa yang berhak menjawab tanya itu. Bukan dirimu yang pasti.

Tiba-tiba pertanyaan itu membuatmu tersentak dan duduk di tepian kasur. Tiba-tiba kamu merasa sangat haus. Tapi yang kamu lakukan bukan minum, melainkan menghitung. Kamu hitung perlahan, mencoba menemukan angka yang tepat dari setiap kegagalan yang pernah kamu usahakan untuk berhasil. Ruanganmu kini mendadak sunyi oleh perenunganmu.

“Pikirkan yang akan kamu rangkai kembali. Bukan merangkai pembelaan yang membenarkan ketidakberdayaanmu!”

Hening. Kemudian ada yang menari dan menyanyi bersama cahaya itu.

ps. Tulisan ini ditulis 18 September 2016, awalnya enggan memposting di blog tapi rupanya angin sore yang menerbangkan lembar-lembar buku, menunjukkanku pada selembar kertas. Tulisan ini. 

Hati-hati dengan Kebencian

Apa yang aku benci di sana, ternyata Allah takdirkan terjadi di sini

Bahkan sangat mudah bagi Allah untuk membawa suatu kebencian itu menjadi semakin dekat dengan kita. Di hadirkan olehNya di depan mata agar lebih jelas terlihat. Disuguhkan di hadapan kita agar lebih menjadi perhatian.

Isak tangis seolah menjadi saksi betapa kebencian selama ini sudah menguasai pintu hati. Membuatnya lupa bahwa sebagai manusia memang ada banyak sekali kekurangan yang tidak bisa diperbaiki seketika. Itulah mengapa banyak orang berpesan untuk tidak membenci hingga menyakiti manusia lain, walaupun hanya sekecil debu berbentuk prasangka.

Setiap manusia pasti punya peluang berbuat kesalahan. Lalu apakah kita termasuk orang yang bersih dari kesalahan atas kehidupan orang lain? Tentu tidak. Itu artinya, tak ada sedikit pun hak kita sebagai manusia untuk menyuburkan benci dan rasa tidak suka atas suatu hal atau tindakan.

Allah memang tak pernah salah, tak pernah.

Sekarang, lebih baik untuk belajar membaliknya. Agar sebutir kebencian itu berujung muhasabah, meyakini hakikat setiap makhluk adalah terus belajar. Jangan sampai shalat sekalipun akan dipandang buruk sebab rasa benci dan prasangka atas seseorang.

Semoga setiap prasangka, kebencian, dan rasa apapun yang tidak nyaman di mata kita sebagai manusia akan spontan berganti istighfar. Karena kebencian juga menghalangi ilmu dan kebaikan yang datang dari orang yang kita benci.

 

Dan apa saja yang kita benci di sana, bisa saja esok Allah hadirkan di sini, di dekatmu, bahkan di hatimu.

Kediri, 12 Januari 2017 

ps. Akan menjadi awal catatan panjang yang berhari-hari saya simpan notes handphone

Terakhir

aksi

Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan urusanmu sendiri dengan baik, maka kamu akan kehilangan banyak waktu untuk membantu orang lain.

Dimana aku seharusnya sekarang hari ini?

Aku harus menunda waktu makan 1 jam lebih lama untuk menjawab pertanyaan disertai isak tangis itu. Lucu ya, bangun tidur dan merasa sudah merusak semua agenda yang sudah tertata apik dan manis sejak awal bulan. Bertahun-tahun sebelum hari ini aku cukup berhasil membangun pola hidup dinamis, produktif dan mengedepankan humanisme. Meskipun tidak siapapun tahu tentang itu  sepertinya aku cukup sadar untuk memilih sesuatu yang esensial berkaitan dengan diriku sendiri. Dan kemudian waktu berlalu… Aku, kamu dan mungkin mereka berpotensi dan tanpa sengaja mencorengnya dengan janji-janji. Lalu memakluminya hingga semuanya terlihat mudah lagi. Dengan jalan pikiran yang sudah dipermudah itu, berusaha lagi untuk bangun dan merancang step by step untuk mencapai tujuan baru lagi. Aku membayangkan punya tangan dan kaki yang bisa lebih tangguh untuk digunakan berlari lagi, bisa melompat kesana kesini ditengah gentingnya kehidupan orang-orang. Jadi akan selalu ada cadangan tenaga baru untuk menyiapkan lompatan yang lebih jauh. Lompatan yang lebih panjang dan mantap.

Begitu seterusnya.

Tapi apakah akan lebih mudah memulai sesuatu di atas kegelisahan masa lalu yang belum terselesaikan? Sadar nggak sih banyak pilihan yang “wajar untuk dipilih” di atas sesuatu yang lebih esensial? Dan bodohnya aku sering memilihnya.

Lupa sudah berapa tahun aku meninggalkan pola hidup yang dinamis-produktif-humanis.

Kangen.

Memang ya sulit untuk mempertahankan semua itu di tengah kehidupan yang semakin banyak pilihan. Pertemanan bertambah yang akhirnya membuatku bisa melihat lebih banyak orang dengan berbagai pilihan dan karakter. Aku sama seperti mereka, bebas untuk dilihat. Aku masih sama seperti mereka yang tidak perlu punya alasan untuk mengomentari, membuat keputusan, atau membuatku ragu. Aku hanya ingin melakukan. Mungkin itu.

Sisa masa kuliah ini, aku tidak mungkin mengakhirinya sebagaipribadi yang mencla-mencle, plin plan, tidak produktif dan tamparan keras macam penyesalan karena tak punya waktu. Ah basi. Aku tak sedang mencari siapa-siapa sebagai objek pengaduan. Biar kupilih saja diriku perang sendirian, menyaksikan pikiran dan perasaan saling berselisih, sekali lagi sendirian. Mencoba memaksa sekali lagi untuk bangun memulai yang sudah lalu dengan peringatan “ini yang terakhir”

Ini mungkin saatnya. Ini mungkin yang terakhir. Sakit memang, merasa tertampar, keras sekali tapi aku tidak hendak mematahkan semangat siapapun. Tapi sekarang, aku memilih ada di titik ini: berhenti untuk mempercayai siapapun.

Malang, 22 Desember 2016

SABTU SORE INI

Galau macam apa seharian ini? Efek sakit yang bikin baper habis-habisan daripada sakit hati. Niat hati ingin membanting semua barang yang ada di depan mata. Berujung pada kekecewaan tak bisa nge-blog karena laptop tertinggal. Sakit!!!

Belakangan aku pusing dengan tata letak dan strategi kehidupan pra-lulus. Sedihnya karena sama sekali belum menyentuh skripsi satu bab pun. Apalagi kalau sampai terbawa mimpi dan harus bangun dengan kegelisahan. Beberapa kali berhasil menyangkal dan menghindari banyak orang menjadi pilihan yang efektif. Ah, aku benci kasihan yang berlebihan. Pun sama, aku benci kecewa dan mengecewakan karena terlalu memberikan batas ekspektasi yang tinggi padaku. Aku benci pada percakapan dan cerita yang bersinggungan dengan topik paling sensitif di akhir tahun ini. Sebagian mungkin bisa bebas aku ceritakan, tipikal seorang melankolis yang lebih mudah bangkit dan tersulut semangatnya oleh kritikan namun sisanya mungkin hanya air mata yang bisa diceritakan. Dan lagi-lagi aku benci pada perasaan yang tak dibutuhkan ini.

Aku tak hendak jadi satu titik di atas kertas putih yang mengecewakan sekaligus dikecewakan lalu pergi, diam dan menjauh.

Apalagi sakit ini, aku butuh waktu bagaimana menyelesaikan susunan strategi untuk menjadi yang terbaik di atas yang terburuk.

Kediri, 18 Desember 2016

ps. Tulisan ini selesai dengan bantuan laptop ayah dan wifi di rumah di saat semua orang pergi entah kemana. Sekian.

 

Belajar Darimana?

 

Sejauh ini, pertanyaan “Belajar darimana?” selalu mengalihkan perhatianku dan menghentikan setiap aktivitas yang sedang aku lakukan, memandang mata si penanya agar tak membagi perhatian untuk keadaan sekitar. Wajahku yang semula tenang kemudian menjadi tegang. Kali itu aku terdiam cukup lama, pertanyaan itu asik berebut kata di kepala untuk kujawab. Aku meliriknya, dan menyadari bahwa pertanyaan itu mempesona. Menaungi setiap perasaanku yang dipaksa untuk punya definisi terbaik ketika menjawab.

Aku juga akan bersikap sama seperti itu ketika menanyakan hal itu ke orang lain. Bagiku sederhana saja. Jawaban yang keluar dari pertanyaan itu bisa saja jadi salah satu daya dobrak untuk berpikir siapa diri kita. Seperti apa sih belajar dan bagaimana standar-standarnya? Baru setelah itu mungkin kita bisa benar-benar menemukan apa jawaban yang sesuai dengan diri sendiri.

Untuk pertanyaan ini, aku ingin menitikberatkan pembahasan pada dua cerita di bawah ini

Cerita 1

Hari ini tepat kedua kalinya aku bertemu dengan nenek tua di sebuah tanjakan jembatan. Kondisi hujan deras dan hari yang gelap tetap memaksanya untuk berjalan sambil menyunggi bakul (sejenis kerajinan tangan dari anyaman bambu yang biasa dibuat wadah). Dengan mantel berwarna merah terbuat dari kresek ia berusaha keras menyembunyikan dingin yang menusuk tulangnya. Kedua tangannya masih erat memegang bakul yang diletakkan di kepala sehingga wajahnya yang basah oleh air tak bisa diusap. Ia berhenti sejenak, mencoba membenarkan posisi bakul di kepalanya. Tampaknya ia lelah. Di usianya yang tak lagi muda, ia harus berjalan di tengah hujan sambil membawa dagangan yang belum tentu habis dalam sehari. Tapi ia tetap melakukan itu. Terbukti, sepulang dari kampus ketika menjelang maghrib, ia menjajakan dagangannya di tanjakan jembatan ini. Meski hujan deras sekalipun.

Cerita 2

Saudaraku yang sudah sejak setahun yang lalu terbaring sakit kini kondisinya semakin menurun. Hampir bisa kupastikan ia akan absen untuk datang ke masjid dan sholat berjamaah setiap harinya. Sebab memang kondisinya sudah tidak bisa duduk dan berjalan. Semakin hari keadaan tak kunjung membaik meskipun semangat untuk sembuh tak pernah luntur. Suatu ketika saat adzan subuh, aku yang tertidur disampingnya tiba-tiba dibangunkan. Ia membisikkan satu hal sambil terisak, “Ambilkan wudhu untukku, aku mau sholat meskipun sambil terbaring.”

Dari dua cerita di atas aku diantarkan untuk membaca setiap kejadian yang ada di depanku. Apakah sulit untuk menemukan sebuah kebaikan dari hal yang sederhana sekalipun?

Aku akhirnya tahu, suatu ketika keadaan akan berbicara sendiri sambil aku memejamkan mata dan memikirkannya. Sepertinya mereka berbaik hati menangkap fokusku agar menemukan keberanian dan jawaban.

Dan kau tahu?

Kenyataannya hidayah memang tidak datang jika bukan Allah yang menggerakkan. Jadi bersyukurlah jika Allah masih memberi waktu untuk mencari dan menemukanNya. Berbahagialah bagi mereka yang ditakdirkan untuk dicari dan ditemukan oleh Allah. Dan dihadapan waktu, 21 usia yang berlalu bukan alasan untuk terlambat mencintaiNya.

Detik ini, dari dua cerita di atas. Aku bisa mengatakan sekali lagi pada diriku sendiri. Bahwa masih bisa berdiri dan tertunduk untuk sholat dan sujud di atas sajadah adalah hidayah, adalah syukur yang tak bisa diukur.

Karena yang paling menyedihkan dari semua ini adalah: Ketika aku tak bisa Belajar Dari Kehidupan.

Dan jawaban: Belajar Dari Kehidupan adalah jawaban paling kukagumi sebab tak semua orang bisa melakukannya.   

Malang, 24 November 2016

Mengharumkan

Jadi aku baru pulang dari ‘rumah’ yang sering disebut mimpi. Sambil mengusap-usap mata yang baru saja bangun tidur mencoba memfokuskan pada apa yang sedang di depan mata. Berpikir… sungguh ada perasaan campur aduk yang berjejelan.

Melihat tumpukan kertas yang menjejali ruang kamar.

Gagal. Sepenuhnya gagal.

Melihat foto-foto dan nama yang tertata sedemikian rupa di dinding kamar. Bergumam, “harusnya aku bisa seperti itu, mereka! Bagaimana bisa melupakan mutiara yang harus dipoles. Sisa waktu untuk apa?”

Jangan asik dengan duniamu sendiri. Harusnya kamu bisa. Mengagumkan. Seperti mereka. Hanya butuh sedikit dipaksa, ngeyel, melompati keterbatasan, dan konsisten. Namanya daya gugah! Tapi satu yang kamu lupa: ojo lali kesehatanmu! kata mereka.

Tapi… kamu sedang di jalan hidup yang mana? Sadar?

Mereka melihat lho… Apa yang sedang aku lakukan? Bagaimana prosesnya? Masih menolak bahwa ada masalah yang membuatmu beralasan kesana kemari? Apa terlalu berat untuk mengambil tanggung jawab diri sendiri? Menyalahkan kondisi dan mencari alasan?

Sekali lagi. Seluruh perasaan berjejalan di ronga dada.

Dengan ini aku harus jatuh -lagi. Dan menata tumpukan bata mulai dari tanah, dan ketemu lagi dengan namanya puncak kehidupan. Ketemu orang-orang keren lagi di bidangnya. Membuat mawar bermekaran di sana-sini. Ada yang akan kupegang lebih erat untuk kedua kalinya: kamu dan mimpiku. Lebih kuat. Karena ada yang harus takluk di hadapanku. Karena aku tak akan terpuruk di depanmu untuk kesekian kalinya.

Mengharumkan.