Kataku Suatu Ketika

aku yang hidup lalu mati
aku yang bisu, tuli, dan buta
aku yang membungkam dalam sepi
aku yang menari bersama hujan
bersimpuh dalam peluh
aku yang ingkar dan patuh
dalam tanya
tanpa jawaban untuk hati
ketika aku mulai ragu
menenteng topeng senyum
tentang apa yang aku tentang
dalam nurani yang mulai berontak
pertentangan dua sisi hati
yang tak henti mengaduh dan mengadu
tapi
meredamnya dengan senyum teduh
menampik ragu yang menjalar
tapi
jangan lagi larang aku melarungkan benci itu
dalam teriak yang mulai serak
meski susah payah membungkam
di air mata yang tercecer
aku buta, bisu, tuli
demi
realisasi antara idealisme
yang tidak realistis
dengan realisme
yang terlalu pragmatik
adalah optimis
keyakinan dan kekuatan yang menggema
“Nak, segala apa yang menimpamu, menempamu” kata Ibu
ini punggungku, panggung kehidupanku
kataku suatu |KETIKA| bergurau pada senja
 
ps: ditulis pada suatu malam. ketika kopi mulai pahit. dalam harapan yang tertumpuk sesak dipenuhi ragu. di mana ragu dan tanya mengahanyutkan kata-kata si penulis. pada siapa lagi bertanya? tanya pada rumput yang bergoyang. 🙂
 
by: farah adiba nailul muna

Negeri Sang Garuda

Aku berjalan di tepian pantai lhok nga
Jauh kupandang laut yang tak bertepi
Burung-burung yang berterbangan,
Deburan ombak yang pecahkan karang,
Dan anak-anak bercengkrama dengan alam,
Menghiasi potret lensaku
 
Tentang negeri sang garuda
Yang sarat akan kekuatan
Tapi terdiam di ujung temaram senja
Terbersit dalam imajiku, tentang potret negeri ini
 
Negeri yang membanggakan rakyat yang berkhianat
Bagai ibu didurhakai anaknya
Nurani yang memanggil jiwaku
Dimana aku bersenandung tentang dukamu
Inilah laguku untukmu ibu
 
Sekedar pengharapan agar kau tahu
Setulus kewajibanku sebagai seorang anak
Seorang anak yang berharap mewujudkan keadilan di tanah ibunya
Dimana aku bercermin dari bangsa sang garuda
Pribadi bangsaku, cermin mimpiku
Merangkai mozaik mimpi di esok hari

Potret Impian Anak Negeri

Demi bangsa yang rindu keadilan
Bangsa kekar yang hanya bisa membisu
Dan merasa aman di atas penderitaannya sendiri
 
Aku bermimpi, terbang bersama sang garuda
Menembus cakrawala, merangkai satu per satu mimpi anak bangsa
Menjadi pribadi yang membanggakan dan mengokohkan keadilan
Keadilan sebagai suatu paradigma kehidupan bangsa merdeka
Merdeka berarti bebas
Bebas dari segala mental perbudakan
Merdeka bukan dari orang lain, tapi memerdekakan diri untuk bangsa...
 
Jauh kubentangkan mata lensa di sudut negeri
Terlihat potret anak negeri bercanda tawa ditengah sungai darah
Yang haus kesantunan dan kesatuan nurani para pemimpinnya
Mulai terlihat harapan dari mata nanar para pemimpi
Mimpi dan harapan yang menjadi sebuah ironi
Semoga ketika mimpi dan imajiku terbersit dalam angan
Akan kunyatakan ketika aku terjaga
 
Dan aku...
Aku berdiri disini, akan mengabdi padamu negeri
Tangis air mata dan pengorbanan tak akan membuatku berhenti percaya
Disetiap pertarungan sisi hati yang ingin menyapa keadilan, kemakmuran bangsa
Merancang hari esok demi kebaikan negeri, demi keutuhan negeri ini
Menggugah rasa estetik dan kekaguman, terhadap dinamisme kehidupan
Maka biarkan bangsa ini merdeka dalam setiap mimpinya
Akan selalu ada potret kebaikan yang membuat negeri ini terus berputar
Aku bangga indonesia
Potret negeri agung mataram, borobudur dan misterinya
Cermin emas masa depan indonesia dan garudanya

MIMPI TERPENJARA (4)

“Biarkan dia merdeka dalam setiap mimpinya. Mimpi yang memodali dirinya untuk tetap ‘ada’ dan dikenang hingga kini. Sebentuk impian yang terpacar jelas dari raut wajah mungilnya. Tentang apa pilihan di masa depannya. Yah, terlihat mengagumkan ketika sebentuk impian itu memberontak untuk segera diekspresikan. Terdengar mengagumkan. Terlihat kuat. Mungkin tak ada yang berarti dalam hidupnya. Tapi, dia selalu berkata “Segala sesuatu dalam kehidupanku mungkin agak suram, tapi sebentar lagi kehidupanku akan bersinar.”. ‘Share yang hilang dari dunia anak.’

MIMPI TERPENJARA (3)

“di ruangan kecil ini ia membangun impian itu. Mencoba bangkit dan bangun melihat keadaan sekitar. Terjajar rapi lukisan-lukisan itu. Foto-foto yang tertempel sejajar dengan ruangan. Coretan kertas dan buku-buku bertumpuk di sudut ruangan. Hanya merah, biru, dan hijau yang menyinari setiap mimpinya di ruangan mungil itu. Kerapkali ia menggantungkan secuil kertas di pohon cokelat yang terlukis di sudut ruangan. Meniup debu dari buku di sudut ruangan yang sudah lama tak terpakai menjadi hal unik baginya. Rasanya ada sepotong fragmen yang tak boleh dilewatkan. Seperti ada nuansa masa lalu yang memberontak ingin dikenang hingga kini. Mari kembali beralih pada setiap bagian di buku ini dengan tulisan yang acak-acakan. Lembar demi lembar, setiap foto yang tertempel, coretan demi coretan dari tinta warna yang mulai luntur menghiasi setiap lembar dalam buku itu. Jelas sekali bahwa ia ingin mengenang semua imajinya.”

MIMPI TERPENJARA (2)

“Dia harus membantu dirinya sendiri, minta dia berhenti untuk marah pada keadaan.” ujar salah seorang disampingnya. Sekalipun berusaha mendamaikan diri dengan keadaan. Semua orang akan mendustainya. Karena semua orang melihat dari sudut pandang yang berbeda. Memang tak salah semua orang bersikap seperti itu, Tapi bukan seperti ini konsep hidup yang dia inginkan dan butuhkan. Hidup adalah tumbuh, berkembang, dan menghargai setiap proses penciptaan Tuhan. Yang dia pikirkan adalah bagaimana menyaring air yang jatuh dari atas ke bawah dan merubah kebiasaan buruk menjadi sebuah take action yang bermanfaat bagi banyak orang. Apa salah ketika dia ingin menjadi dirinya sendiri dan memulai semua yang baru. Biarkan dia menjadi dirinya sendiri, sebaik-baik dirinya sendiri. Itu hak setiap manusia. Jangan memenjara setiap lakon yang ingin dia mainkan. Tuhan sudah mengaturnya. Masa depan itu rahasia.

MIMPI TERPENJARA

“seperti sebuah tekanan batin setelah ‘kecelakaan’ itu menimpanya. Sebentuk tekanan batin yang bahkan tak ada yang mampu menghapusnya. Hanya bisa berusaha menutup lembar demi lembar kenangan yang meski pahit harus dilalui. Sekalipun bahagia terpancar dari senyum mungilnya. Tapi ia tak bisa menyembunyikan luka yang mengoyak nurani dan hidupnya. Baginya, ini bukan masalah materi tapi lebih kepada sebentuk nurani yang terpenjara di antara angan-angan dan impian yang tinggi. Lika Liku Luka yang harus dilewati, dan sebuah pengorbanan nurani yang begitu besar untuk realistis menerima keadaan. Tekanan yang semakin membuat imaji ini terpenjara. Dan ia pun selalu berkata “aku lebih bahagia dengan udara dan air. Dan mereka lebih tahu bagaimana aku harus belajar menghargai sebuah proses.”. Apapun yang terjadi, biarkan dia bebas berekspresi dengan imajinasinya.”

Cinta dalam Karya

Suatu sore sepulang sekolah saya masih menyempatkan diri bercengkrama dengan teman-teman di depan kelas. Obrolan ringan dan tawa kecil sedikit merefresh otak setelah sejak tadi pagi terkuras memikirkan satu per satu materi pelajaran di sekolah. Suasana sekolah yang mulai sepi dan udara yang sejuk membawa kami terlena dalam obrolan itu. Sesaat saya terpaku oleh sekelompok anak di depan ruang perpustakaan. Terlihat mereka dengan asyiknya mendesain sebuah mading. Padahal waktu itu sudah jam pulang sekolah. Waktu yang sebetulnya mereka bisa menikmati kebebasan bermain dengan teman sebayanya, atau menikmati waktu sore untuk duduk bercengkrama dengan keluarga. Tetapi barangkali karena tugas, mereka lebih memanfaatkan waktu itu untuk mengerjakan tanggung jawab mereka. Sementara anak-anak lain sebayanya asyik menikmati kebebasan bermain di luar sana, sekelompok anak ini dengan semangat mewujudkan sebuah impian, yaitu memajang mading untuk pembaca.

Saya masih menjumpai ketekunan yang terpancar dari wajah sekelompok anak itu untuk menciptakan sebuah produk seni. Waktu itu saya beruntung, akhirnya saya melihat langsung sekelompok anak yang mengorbankan waktunya demi sebuah kegiatan positif bagi lingkungan sekitarnya. Sekejap ide-ide kreatif di benak saya muncul ketika melihat mereka beraktifitas. Serupa oase yang muncul di padang pasir, menyejukkan. Mengapa? Sebentar saja mengamati mereka, saya menemukan banyak hal positif. Mulai dari ketekunan, kerjasama, kreativitas, dan kesederhanaan terpancar dari setiap detil mading yang mereka buat. Sampai-sampai saya tak menjumpai rasa lelah dalam raut wajah mereka.

Diselingi canda dan keusilan khas remaja membuat saya tersadar bahwa sekalipun mereka berasal dari kelas dan tingkatan yang berbeda, tak nampak adanya pembeda di antara mereka. Karena mereka lebur menjadi satu demi sebuah kepentingan. Bahkan saya bisa menyimpulkan bahwa dibalik kebersamaan mereka, muncul puluhan bahkan ribuan energi kreatif yang unik dan menarik. Misalnya, untuk mempercantik sebuah mading mereka menggunakan beberapa bahan daur ulang yang jarang terpikirkan oleh kita. Perdebatan seringkali muncul disela kegiatan membuat mading, itulah menariknya sebuah karya seni. Banyak argumen dan ide menarik muncul. Bukankah itu membutuhkan tingkat kecerdasan yang tinggi untuk menghasilkan produk seni yang orisinil?

Mungkin sesuap roti pun tak akan cukup mengalihkan perhatian mereka dari mempercantik produk seni itu. Kalau sudah merasa dapat menikmati suatu aktifitas biasanya kita sering melupakan makan. Yang menjadi orientasi dan prioritas saat itu hanyalah pekerjaan segera tuntas dengan hasil yang memuaskan. Sayangnya, dalam hal ini tak hanya bakat yang dibutuhkan. Namun juga pengorbanan dan tanggung jawab yang tinggi untuk menghasilkan sebuah produk seni. Yah, itu yang disebut profesionalisme kerja.

Tak lelah saya memperhatikan setiap gerak sekelompok anak itu. Mengerjakannya dengan profesional diimbangi dengan passion yang mereka miliki, saya yakin akan mempercantik mading itu. Kerjasama, kekompakan, kesederhanaan, kreatifitas, dan semangat dalam melakukan suatu pekerjaan mungkin sudah jarang kita temui di negeri ini. Bahkan sekarang ini lebih sering kita jumpai beberapa persoalan dan pekerjaan yang tak tuntas karena kepentingan-kepentingan pribadi. Alangkah baiknya jika kita mengaca pada sekelompok anak itu bahwa kerjasama, kekompakan, kesederhanaan, kreatifitas, dan semangat akan memberikan sebuah hasil yang maksimal bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Serupa oase di sebuah padang pasir.

Syahdu dan Haru

8 Agustus 2013 Allhamdulillah berjumpa lagi dengan idul fitri tahun ini. Seperti biasanya, adzan subuh yang syahdu itu membangunkanku dari tidur yang ditemani alunan takbir kemenangan. Euphoria menyambut idul fitri memang tak akan tergantikan oleh apapun. Kumandang takbir yang saling bersahutan menjadi pelengkap perayaan idul fitri setiap tahunnya. Alhamdulillah syukur aku ucapkan, hati ini masih bergetar mendengar kumandang takbir. Allah, aku berjumpa lagi dengan idul fitri ini setelah satu bulan “membentengi” diri dengan puasa Ramadhan. Aku segera mengambil air wudhu dan bergegas melaksanakan sholat subuh.

Tak lama setelah itu aku mandi dan mempersiapkan diri mengikuti sholat idul fitri di masjid dekat rumah. Pagi-pagi sekali aku d Continue reading “Syahdu dan Haru”