Surat Untuk “Indro”

Ndro, bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kamu baik-baik saja. Meskipun sebenarnya aku tahu kapanpun kamu akan selalu bersikap baik-baik saja di saat semuanya sedang tidak baik-baik saja. Aku memang bukan orang yang pandai memahamimu tapi kamu tidak bisa membohongi perasaan yang bisa kubaca lewat matamu. Belakangan, aku lihat kamu sedang sibuk mempersiapkan segalanya di masa depan. Kamu sibuk sekali sampai aku sendiri kadang tidak tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan, untuk apa, dengan siapa, dimana saja, kapan saja dan mengapa kamu melakukannya, pertanyaan-pertanyaan itu semakin hari semakin memenuhi tempurung kepalamu dan jawaban yang selalu kamu pikirkan setiap malam. Sebenarnya kamu menyadari fakta bahwa kamu hanyalah seorang manusia biasa yang tidak pernah bisa membaca hari esok atau sekedar memastikan satu detik kejadian dalam hidupmu, tapi kamu selalu hadir satu detik lebih awal untuk mempersiapkan segalanya. Aku sampai tidak habis pikir kenapa kamu juga harus pusing mempersiapkan semuanya untuk orang lain. “Sejak lama aku berhenti menanyakan Why me? Ya, mengapa harus aku yang Allah pilih untuk banyak hal yang sulit aku percayai. Bayangkan, ada banyak kisah yang membuat hati remuk tapi dengan segenap kesadaran Allah terus dan terus saja memberikan banyak kenikmatan lebih dari apa yang aku harapkan. Barangkali memaksa hati untuk peka adalah sebuah keharusan. Aku tidak perlu mati-matian membela diri dihadapanNya atas apa saja yang tidak aku inginkan, semuanya cukup. Get connected with Allah dengan semua petak kisah yang ada, Allah yang akan menjamin semuanya.” Itu pertama kalinya aku mendengar jawaban panjang darimu, tentang hidupmu. Aku terhenyak, kamu selalu mampu menerjemahkan semuanya dengan tepat.

Aku salut Ndro, ketika kamu adalah orang pertama yang akan bersedia menyerahkan diri dan waktumu untuk ada disamping teman-temanmu, ketika kamu adalah wajah pertama yang menyuguhkan senyum kepada mereka yang dirundung duka, aku salut. Saat kamu selalu bergairah untuk menceritakan betapa inginnya pulang saat rindu sudah memuncak di kepalamu, aku suka. Betapa aku selalu mengagumi semangatmu yang menulariku, kamu yang tidak pernah lupa menuliskan satu-dua kalimat sederhana di potongan kertas sekedar sapaan bahwa kamu ‘hadir’ dengan segenap makna karena bagimu percakapan-percakapan sederhana tidak harus berbentuk suara. Aku selalu berterimakasih karena kamu selalu dan pernah meyakini bahwa dimanapun kamu berada adalah tempat terbaikmu untuk belajar. Belakangan kamu menjelma pendengar setia dan penutur cerita terbaik di hadapan mereka, menghidupkan imajinasi mereka menjadi lebih berwarna dan menjadi teman diskusimu sepanjang waktu. Dalam waktu yang bersamaan, kamu hidup dalam ruang yang membuat mereka mampu bertahan lebih lama yaitu kebermaknaan. “Mengapa kamu selalu berusaha menyediakan yang terbaik disaat barangkali banyak orang disekitarmu tidak mampu menyediakan yang terbaik untuk semua kualitas yang kaupunyai?” tanyaku yang hanya selalu kamu jawab dengan senyuman. Jika aku boleh jujur, barangkali kamu adalah orang gila pertama yang hidup bukan hanya untuk dirimu tapi juga hidup untuk dunia orang lain, kamu memang gila karena selalu memiliki hal-hal besar yang akan dilakukan. Segila keyakinanmu tentang “Apa-apa yang aku lakukan adalah apa-apa yang akan aku pertontonkan kepada Allah”

Kita bersitatap. Kita menangis tanpa suara.

Aku selalu tenggelam di senja yang sama saat pertama kali kamu mengagumi senja, dengan kemeja putih yang kamu kenakan saat itu. Kamu bertanya “Apa yang membanggakanmu?” itu pertanyaan yang sama yang kamu ucapkan hampir setiap senja. Lagi-lagi kamu tidak pernah membutuhkan jawabanku tapi menemukan jawaban dari apa-apa yang kamu lakukan sendiri, “Aku bangga menjadi bagian hidup orang lain. Setiap manusia bertahan hidup dengan melakukan kebaikan tanpa perlu dipertanyakan.” Begitu katamu, selalu. Bagimu mereka yang datang dan pergi, bukan satu hal yang sulit kamu hadapi.

Akan tetapi, kamu sering lupa memikirkan satu hal yang belakangan kamu cemaskan. Aku sering merasa kesal atas hal itu. Kamu tidak bisa mengelak dari sebuah kenyataan bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja. Tidak mudah bagi orang seusiamu bertahan melawan rasa sakit bertahun-tahun lamanya. Aku heran dengan jawabanmu yang hanya sesederhana “Aku sudah sembuh” tapi kamu sendiri tahu kenyataannya tidak demikian. Aku tahu, kamu yang harus berdiri mengalahkan diri sendiri untuk membawa kesabaran dan perubahan, mampu tersenyum dan bersabar, bagaimana kamu memulainya? Kapan kamu belajar melakukannya? Hal yang paling membuatmu berderbar adalah ketika kamu merasa ketakutan dan hal itu semakin mengerikan. Kamu tidak bisa hidup pada kenyataan yang membuatmu membohongi dirimu sendiri tapi lagi-lagi kamu berusaha menguat-kuatkan hatimu dengan pernyataan “Apa yang semakin membuatku takut akan semakin mendorongku untuk menghajar, aku yakin bisa melampauinya, cukup dengan melakukan apa yang mulanya aku pikir tidak bisa lakukan.” Katamu suatu waktu.

Baiklah, kamu memang tidak sesederhana yang aku pikirkan namun setidaknya aku punya gambaran, apa yang harus aku lakukan untukmu “Kamu hanya merasa perlu melakukan banyak hal agar tak terbiasa berdiam.” Aku katakan itu di depanmu. “Tenang saja, meletakkan segalanya pada penguasaa keresahan, rindu, dan ampunan akan menjauhkan kita tersesat pada gudang prasangka dan kesedihan, aku hanya perlu belajar untuk menerima semua yang dititipkanNya padaku.”. Sejak tadi saat kita bercakap tentang ini dan itu, aku berjanji untuk selalu disampingmu, menemanimu menjajal banyak hal di luar tempat nyaman yang Allah tawarkan padamu.

Advertisements

Potongan Kisah

(1)

Akhirnya satu per satu tugas dan pekerjaan bisa diselesaikan meskipun memakan waktu yang cukup lama, diiringi semangat yang nyala redupnya tidak stabil. Begitulah, pada usia yang sudah semakin tua rasanya aneh jika harus membiarkan terjebak pada satu titik dimana hukum hukum kebahagiaan harus diukur dengan selesai tidaknya suatu pekerjaan. Jika memang bersedia untuk masuk ke dalam medan-medan pilihan yang kita percayai, harusnya pantang untuk mundur. Bukankah ketika memilih, artinya kita juga mempercayai untuk menabur benih-benih cinta di dalamnya?

(2)

“Kamu harus minum yang manis-manis” katanya. Semalam tubuhku gugur di ranjang kasur, menyelinapkan aroma lelah saat segala luka dan kegilaan meledak di jantung waktu. Karena hampir seharian dalam beberapa hari aku berdiam di perpustakaan, pada meja nasib dari buku yang harus rampung kubaca. Aku mengubur diri dalam peperangan dengan diriku sendiri untuk merundukkan keinginan menyelesaikan banyak hal. Aku harus istirahat meski sebenarnya pikiran masih mengapung di antara langit-langit. Taking care of your health are more important than working. Without your health you will not be able to work properly. We need to stay fit for our daily activities to be done properly. Kira-kira demikian, ketika kita mengingkan sesuatu kadang harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita ingini.

(3)

“Ayo bangun, sholat subuh dulu…” perintahnya tertulis di short message yang aku terima pagi tadi. Lalu, mengumpulkan nyawa menjadi semacam keharusan untuk bisa membedakan igauan dan gurauan dari mimpi semalam. Aku dilemparkan pada banyak kejadian yang sering menampar-tampar batin meski hanya dalam mimpi. Kemudian ada pagi yang membuat semua mimpi sepanjang malam berguguran karena tidak bisa mengingatnya. Berhadapan dengan kaca, aku menyampaikan segala syukur karena selalu memiliki kesempatan untuk menyatukan segala hal yang berserak hanya dengan merubah sudut pandang, reframing namanya. Pada banyak pagi yang tidak pernah kuhitung berapa kali aku bisa bangun, selalu ada kesempatan baru yang ditawarkan. Kesempatan yang tidak bisa dipahami sebatas kebetulan bagiku yang mulai bisa menjadikannya ruang sebagai latar bagi banyak kisah dan renungan.

Ini adalah tentang seberapa kuat aku ingin menjadi apa yang aku inginkan. Karena untuk apa saja, perubahan sejatinya terletak pada seberapa kuat keinginan merubahnya.

Tentang Permintaan Maaf Pagi Tadi

Seperti burung kelana yang letih, sebelum subuh banyak maaf singgah di pelupuk mata meski hanya lewat maya. Si A dengan segala penyesalan, si B dengan penuh kesadaran, si C yang berjibaku menyusun kata yang terbata-bata, juga si D yang menyimpan maaf dalam kotak dadu kehidupan. Sampai di sini, aku masih berlari tanpa pengertian yang menyertai duduk di tepian kasur menarik nafas lebih panjang. Mereka tidak bercerita kepadaku tentang perasaan dimana banyak hal tersembunyi pada bentuk fisik kata maaf. Jika mempercayai bahwa tidak ada kebetulan dalam hidup, maka itu adalah potongan fragmen yang terpecah-pecah untuk dihubungkan dengan sebuah rantai bernama keheningan, bentuknya adalah renungan.

Baiklah, akan kuceritakan satu rahasia padamu, namanya Maaf. Ia duduk pada simbol perasaan, keluar dari kotak penyesalan, tumbuh karena suburnya kesalahan, atau bisa saja maaf adalah susunan kata yang tidak akan pernah diabaikan setiap manusia. Sungguh, maaf bisa disampaikan pada banyak kesempatan sekalipun rasanya tidak ada yang salah. Maaf adalah sebuah rahasia yang lahir dari kebesaran hati dimana banyak keinginan meredup dan memudar, ia adalah kata yang dihidupkan oleh hati orang-orang yang kuat. Mahatma Gandhi pernah mengatakan “Orang lemah tidak pernah bisa memaafkan karena memberi maaf hanya dapat dilakukan oleh orang yang kuat”, begitu katanya.

Maaf pagi ini telah membuatku mengerti terimakasih tentang lapang yang selalu bersedia menampung dan menopang. Setidaknya demikianlah yang aku yakini untuk selalu berpelukan dengan dua kata: maaf dan terimakasih.

Terimakasih kalian, karena maaf telah mengajarkan arti yang lebih tinggi, memperkenalkan suatu perbedaan, membaca suatu hubungan.

Yang Kusimpan Untuk Nanti

Tampaknya ini akan lebih menarik untuk diendapkan dalam jeruji ingatan dibiarkan begitu saja sampai mendidih hingga berceceran dimana-mana. Aku memang akan berbicara lagi padamu jika tumpukan cerita di kepalaku sudah mendidih menunggu matang yang siap disajikan sebagai hidangan hangat yang membuka pagi sebagai sapaan. Dalam banyak kesempatan, jeda adalah pilihan yang selalu meneriakkan letupan ketegangan, kekacauan, dan kerusuhan. Selebihnya minum teh, kopi, atau membaca buku adalah pilihan lain menikmati momen refleksi , ketika sedang bergairah, suka, maupun sedang kehilangan inspirasi. Belakangan, sesuatu mewah yang dihadiahkan waktu adalah menikmati senja sambil berbicara sendiri tentang apa yang dipikirkan.

Tentang keinginan-keinginan kecil untuk meng-utuh-kan hari itu rasanya harus terpatahkan begitu saja dengan alasan yang sebenarnya kuragukan sendiri. Ada banyak hal tak nyata yang selalu dipersiapkan untuk membuat hari menjadi sempurna dengan segenap pengisi cerita di dalamnya. Rasanya memang indah jika bisa mementaskan apa saja untuk memelihara kebahagiaan. Sampai akhirnya aku lupa memelihara kedalaman cerita yang setiap hari dituturkan.

Mungkin benar aku hanya akan melihat, membaca, mereka, dan mengira tanpa perlu dituliskan. Barangkali ini saatnya mengalihkan fungsi konsentrasi telinga menangkap suara tanpa (pura-pura) mendengar apa-apa. Setiap yang kukagumi dari tuturan kisahku perlahan akan membuatku berhenti sebelum terlambat untuk mengukur kedalaman sikap dan isi hati. Ada yang lebih layak dituturkan, yang kusimpan untuk nanti.

sebuah catatan akhir liburan

“Memanusiakan” Kualitas Kampus

Oleh: Farah Adiba Nailul Muna

Mahasiswa S1 PG PAUD Universitas Negeri Malang

Selama ini perguruan tinggi negeri (PTN) masih menjadi ladang yang subur bagi para lulusan SMA, SMK, ataupun MAN untuk melanjutkan pendidikan. Prioritas tersebut membawa keuntungan tersendiri bagi PTN untuk menjaring mahasiswa dengan kualitas yang baik melalui seleksi masuk perguruan tinggi (SNMPTN, SBMPTN, dan Jalur Mandiri). Seiring berjalannya waktu, perkembangan dan inovasi diperlukan untuk meningkatkan kualitas PTN agar mampu bersaing dengan yang lainnya, pengembangan itu salah satunya diwujudkan dalam bentuk pembangunan kampus di beberapa sektor daerah (Program Pelaksana 2 di Sawojajar dan Program Pelaksana 3 di Blitar) untuk memperluas jaringan dan menjangkau mahasiswa dari daerah yang jauh dari kampus pusat. Sayangnya masih banyak celah kekurangan yang ditemukan tidak sebanding dengan semangat kerja keras untuk meningkatkan kualitas kampus PP2 menjadi sama unggulnya dengan kampus pusat.

“Bagi saya sih fasilitasnya kurang lengkap seperti misalnya buku perpustakaan yang kurang lengkap, wifi tidak menjangkau seluruh ruangan di kampus, kantin yang masih minim, dan juga peminjaman ruang untuk kegiatan kampus dan peminjaman alat-alat masih dipersulit bahkan tidak jarang dipungut biaya oleh pengelola jika ingin menggunakan fasilitas kampus.” Ujar Rini, salah satu mahasiswa PAUD yang mengeluhkan kurangnya fasilitas yang mendukung menjadi salah satu hal yang harus segera direspon oleh kampus. Hal itu menjadi catatan penting mengingat fasilitas yang disediakan oleh kampus bertalian erat dengan peningkatan hasil belajar mahasiswa.

Meskipun tidak bisa dikatakan mengalami kemunduran namun pada kenyataannya fasilitas yang tersedia kurang mendukung proses perkuliahan, padahal kampus 2 dan 3 merupakan jurusan dengan jumlah mahasiswa terbanyak. Lokasi kampus yang cukup jauh dari kampus pusat juga berimbas pada minimnya interaksi dan informasi dari kampus pusat mengenai kegiatan-kegiatan kampus dan administrasi surat menyurat. Melahirkan mahasiswa yang memiliki kualitas dari segi intelektual maupun spiritual bisa terwujud jika peningkatan kualitas lingkungan belajar sama baiknya dengan ilmu yang diajarkan. Dalam hal ini, lingkungan kampus seharusnya mampu menjadi wadah  yang luas bagi kegiatan mahasiswa justru terlihat kurang berkembang dan sepi peminat karena kurangnya dukungan dan fasilitas yang disediakan. Kampus dibangun bukan hanya untuk menjadi objek kekuasaan tanpa ada perbaikan nasibnya setelah semuanya berjalan. Setelah semuanya berjalan, perbaikan secara bertahap diperlukan dengan memprioritaskan pada pembangunan fasilitas yang menunjang dan pembangunan manusianya. “Saya sendiri sangat berharap kampus 2 bisa lebih merespon dan respect terhadap prestasi mahasiswanya karena tidak jarang prestasi tersebut juga membawa nama kampus dan jurusan.” Papar Atik, salah satu finalis duta kampus 2014.

Berkaca dari semua itu, pihak kampus sewajarnya melakukan konseling dan peninjauan, menanyakan apa yang sedang terjadi dan bagaimana fakta yang ada di lapangan bukan hanya sekedar menampung aspirasi tapi juga segera bertindak melakukan pembenahan. Kampus harusnya berlomba menunjukkan kualitas terbaiknya dari segi materiil maupun non materiil sebanding dengan  biaya kuliah yang sudah dibayarkan oleh mahasiswa. Hal itu bisa dibuktikan jika semua pihak mau berbenah dan turun tangan untuk meningkatkan standart sebuah kampus yang menjadi rujukan bagi banyak pihak untuk mengenyam pendidikan. Kualitas kampus yang baik dibangun dari proses yang baik dengan mengasah cara berpikir untuk terus bertransformasi dan melakukan inovasi. Bukan terjebak pada ruang kenyamanan yang membuat kita pura-pura hebat lalu kagum pada kehebatan pura-pura itu.