Kanker yang Menyelamatkan Hidup

Teman-teman, karena banyak yang memintaku menterjemahkan paparan Anita Moorjani ini, maka ini adalah terjemahan dari paparan tersebut. Selamat menikmati dan semoga berkah dan bermanfaat. —- Sungguh sangat senang berada di sini. Saya sangat bahagia melihat anda semua. Tahukah anda, bahwa alasan terbesar mengapa aku sangat bahagia berada di sini, adalah karena aku seharusnya sudah tidak […]

melalui “Ternyata akulah yang membunuh diriku jauh sebelum ada kanker. Kanker menyelamatkanku.” — Indira Abidin’s Blog

Advertisements

Serotonin adalah penghubung antar sel syaraf yang menjaga keseimbangan mood dan energi, nafsu makan, siklus bangun/tidur, mengatur gerakan usus, membantu menutupnya luka, mengeluarkan racun, memperkuat tulang dan mempengaruhi gairah seksual. Serotonin diproduksi di otak dan di usus. Karena serotonin ditemukan di berbagai jenis sel, diduga dampaknya sangat luas dalam berbagai pengaturan emosi psikologis dan kerja organ […]

melalui Serotonin: agar mood tidak naik turun, bebas depresi dan sembuh dari sakit — Indira Abidin’s Blog

Hidup adalah sebuah game, permainan hebat di mana Sang Pencipta bertindak sebagai Game Master. Game ini punya satu tujuan: menciptakan kebaikan, mencegah keburukan. Setiap kali kita menciptakan kebaikan kita mendapat poin positif dan setiap kali kita melakukan keburukan kita mendapat poin negatif. Bertambahnya poin membuat kita punya energi lebih banyak untuk meraih hadiah besar di […]

melalui Kenali permainan hidup kita yuk — Indira Abidin’s Blog

Berbagi…

Seorang profesor Harvard meneliti dan menemukan bahwa seseorang akan lebih bahagia apabila ia memberikan uangnya pada mereka yang membutuhkan daripada kalau menggunakan uang tersebut untuk membeli barang yang ia fikir ia senangi. Peneliti lain dari UC Davis menemukan bahwa pada saat kita berbagi kita merasa terhubung dengan dunia yang lebih luas, dan hal ini […]

melalui Semua orang bisa menjadi hebat karena semua orang bisa berbagi dan melayani — Indira Abidin’s Blog

Kata Teman

1. Tiba-tiba merasa ketinggalan banyak hal. Dan ketika saya noleh ke belakang ternyata bukan saya yang ditinggal, saya saja yg pergi sendiri, duluan, tapi kemudian hilang arah dan merasa tak punya jalan untuk dituju. Terlalu banyak cabang, dan seolah-olah saya maunya mencoba semua persimpangan, tanpa teman. Sok multitasker. Padahal keribetan. Ujung-ujungnya nyesel, merasa bersalah.

2. Saya baru sadar saya org yg plin plan. Saya suka mengumpulkan banyak pendapat dari kanan, ditabrakkan dengan pendapat si kiri. Lalu saya bersikap seolah-olah saya orang yg netral, di tengah-tengah. Baru sadar itu namanya bukan sikap. Itu namanya tak mau mengambil resiko. Mungkin perlu dipukul dg sangat keras. Ah tapi kalo nggak begitu saya nggak akan sadar. Mulai sekarang seharusnya saya mencoba berada di satu warna saja. Hitam atau putih. Tiadakan abu abu. Si peragu. Benar atau salah. Tiadakan lagi si toleran yang plin plan. Harus punya pegangan.

PS. Saya mengenalnya sebagai Bocil

Menunda: Sebuah Pengingat — Pohon Gula

Waktu menunjukkan pukul 00.25 saat aku menulis ini Hidup begitu hiruk pikuk akhir-akhir ini. Menyadari bahwa konsekuensi atas sikap kita terhadap sesuatu seakan bisa detik ini juga dipertanggungjawabkan, membuatku merinding. Malam ini aku jadi paham betul konsekuensi berat dari perbuatan syetanawi: menunda. Aku tidak sekeren temanku Niswah dalam mempersiapkan suatu hal yang ia anggap penting. […]

melalui Menunda: Sebuah Pengingat — Pohon Gula

Jika hidupmu singkat, jadikan langkahmu hebat. Jangan beranjak pergi meski tersaji letih. Perihal asa yang tercecer pada kata adalah upaya untuk menjadi layak.

Terimakasih hidup, langkahku kini terbentuk oleh jejakmu.

Senja bertukar cerita saat mata beralih pandang

Aku tertegun menarik garis hidup

Ada satu lembar…

Ada satu tempat…

Menunggu hatimu tergetar oleh getir

Dan lari…

Dan patahan doa tumpah ruah

Dan siapapun boleh pulang