“Selepas 30”

Selepas 30 saya memutuskan pulang. Kesibukan saya hanyalah mencari bantuan. Untuk menemukan permulaan baru. Untuk mencari jalan pulang ke kanan kiri. Untuk menemukan ketulusan. Untuk menyembuhkan apapun yang terjadi dalam diri saya.

Setiap orang akan melewati fase “tercabik” bahkan “meraung” saat memutuskan meninggalkan zona nyamannya, tentunya ini juga berkaitan dengan saya yang kemudian harus menerima kenyataan bahwa saya “berjarak” dalam definisi sesungguhnya dengan Ami. Butuh latihan 14 hari sekali untuk bisa bertemu selama beberapa bulan belakangan dan secangkir kopi tanpa gula di meja kerja untuk menghilangkan pahit jarak yang semenyiksa ini.

Dan pada akhirnya, saya menyerah di meja dokter dengan diagnosa yang sudah terduga, “Stress? Kambuh lagi? Udah sempat gemukan kok kurusan lagi?”

Fiiuuuh…

Hati saya tahu ini hanya awal dari sebuah proses yang sangat panjang untuk mengalahkan segala ketidakberdayaan karena rindu. Meskipun rasanya sempat hancur dipecundangi diri sendiri itu memalukan. Saat melepas 30 hari, detik ini, tepat hari ini, adalah tentang malas bangun pagi sepanjang hari karena merasa hidup berhenti, adalah tentang membuka laptop jam 8 pagi ditemani lagu-lagu sendu. Saat melepas 30 adalah tentang mengingat pesan Ami untuk menghitung hari tercepat agar segera bertemu.

Selepas 30 hari ini, mungkin akan lebih baik otak digunakan untuk berlari atau mengisi tulisan-tulisan di blog ini. Atau senyum manis sepanjang lamunan yang ditimbulkan hal-hal kecil yang sering kita lakukan bersama belum juga hilang dari ingatan.

Memilih (atau jika boleh menyebut lebih tepat “dipilihkan”) hidup hari ini ternyata sesulit memfokuskan segala sesuatu pada diri saya.

Drama banget nggak sih? Mungkin… Tapi hati saya yakin, suatu hari saya akan mengenang apapun hari ini, seperti perjuangan-perjuangan lain yang tak layak dikeluhkan. Sebab, ini bukan tentang meninggalkan, tapi mempersiapkan hati terbiasa merasakan jarak tanpa harus dirasakan. Maka pelan-pelan…

 

Semoga saya, tidak benar-benar bodoh untuk tidak melangkah… Kalau tak salah hitung, hari ini selepas 30 hari sejak hari terakhir aku pamit pulang. Selepas 30 hari tanpamu, Mi.

Kediri, 26 Maret 2018

 

Advertisements

Semestinya

Hampir 2 minggu tak menyentuh buku dan dua bulan lebih melewatkan mengisi jurnal harian di blog ini. Ada banyak hal yang terlewatkan akibat kelengahan diri yang semakin menjadi-jadi. Mendadak tersentak dengan topik obrolan dengan beberapa teman seminggu ini.

“Aku ngrasain deh sekarang banyak kehilangan hal-hal dan pikiran-pikiran positif semenjak kurang baca buku. Rasanya aku stress karena kurang “gizi”. Sepertinya kamu juga begitu, ada banyak hal yang hilang darimu.” katanya sambil membelokkan motor ke sebuah rumah makan.

“Sama…” kataku singkat.

Mata saya kemudian seolah bisa melihat ke dalam diri tentang segala hal yang tak kunjung selesai dilakukan sebagai “manusia” yang punya segala kesempatan dan potensi. Lalu, tiba-tiba saya merindukan Rahka dengan perahu kainnya, atau Nezha dengan pohon gulanya. Di tengah carut-marut waktu yang meminta diperhatikan, pada akhirnya hanya berujung mencemaskan setiaop orang.

Saya tahu banyak orang lebih sering terlibat dalam kehidupan saya akhir-akhir ini, tapi tidak untuk menjadi apa yang benar-benar saya butuhkan. Tidak untuk setidaknya membuat saya selalu jatuh cinta pada tulisan dan buku-buku.

Dan diam. Memikirkan berbagai cara untuk kembali pada proses yang sudah dibangun mati-matian. Kehadiran orang-orang yang sefrekuensi semestinya bisa lebih cepat membantu “masa pemulihan” dan meringankan jalan ini. Karena, tahun ini terlalu besar dan krusial untuk tidak direncanakan.

Selamat berkarya dan menemukan kembali hidupmu!

Kediri, 13 Maret 2018