TAKBIR

takbiranSudah terngiang suara takbir di telingaku. Tapi tak tahu bagaimana menyambutnya. Entah apa yang membuatku meneteskan air mata ketika mendengar takbir malam ini. suara takbir selalu syahdu dan merdu, begitu menggetarkan nurani siapa saja yang ingin bertemu denganNya. Saat takbir berkumandang, aku bersiap ke atas balkon tanpa atap hingga aku bisa bebas mendengar merdunya suara takbir di bawah cahaya bintang gemintang. Siapa sangka, hal sesederhana itu bisa membuat aku menangis seolah mengisyaratkan sebuah kemenangan hati. namun tidak cukup semua itu untuk menebus dosa dan kebodohan yang dilakukan. Belum cukup, hari kemenangan tidak berarti apa-apa jika hati ini masih saja diliputi noda dan dosa. Nah lalu apa arti tangisan ini? sebentuk penghambaan pada Tuhan yang telah berbaik hati memberikan waktu dan kesempatan untuk menikmati hari kemenangan. Akan lebih baik jika aku lebih bisa berserah, bukan berarti menyerah. Berserah dalam pemahaman terbaik bahwa diri ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, lalu semua hal yang memiliki arti “ke-AKU-an” akan kembali kepada pemilikNya. Tidak ada yang benar-benar kita miliki kecuali kebaikan yang kita perbuat, itupun jika kebaikan itu tidak di nodai dengan dosa dan sifat buruk yang tanpa disadari ada dalam hati ini.

Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi semoga di setiap air mata yang menetes mendengar kumandang takbir untukNya adalah doa yang tulus dari hati untuk selalu berserah. Menyerahkan semua hanya untukNya dan menerima apapun yang terjadi adalah kehendakNya. Setelah hari kemenangan ini, semoga semakin banyak kebaikan yang kita tularkan, semakin banyak manfaat yang kita berikan, semoga dan semoga kita semua selalu melangkah semata untuk menggapai ridhoNya. Menemukan keajaiban ramadhan dan menikmati kemenangan dengan hati yang bersih, suci, dan kembali putih bukan hanya sekedar niat yang dibalut manisnya ucapan lisan.

Terakhir, aku ingin membuat kehidupan ini lebih sederhana bahwa apa yang ada di pikiran, hati, dan lisan adalah untukNya. Buatlah itu mudah. Setidaknya itu memudahkan pemahamanku bahwa: aku ingin berdiam, berpuasa dan menjadikan kematian sebagai buka puasaku nanti. Dan surga menjadi hadiah terindah untuk orang-orang yang tidak pernah mendua dariNya. Semoga kita semua menjadi pemenang surgaNya. Amiin.

Mencari yang Hilang (sementara)

Kejadian kecil yang paling menyebalkan adalah ketika: lupa menaruh barang.

Seandainya saja setiap benda punya alarm layaknya handphone yang bisa di missed call pasti akan mudah di temukan. Tapi bagaimana jika benda itu adalah buku atau kunci. Ah menyebalkan sekali pasti jika lupa menaruhya dan mencarinya tak kunjung ketemu. Banyak sekali waktu yang terbuang jika kejadian ini terus berulang apalagi jika di alami olehku, orang yang sering lupa. Semoga itu bukan tanda-tanda cepat pikun. Amiin.

Berulangkali aku mengalami hal demikian, yang sepertinya juga sering dialami oleh banyak orang. Pernah waktu itu lupa menaruh kunci motor padahal akan segera di gunakan untuk kuliah, ternyata oh ternyata kunci sudah aku masukkan di kantong celana yang aku kenakan waktu itu. Betapa menyebalkannya saat-saat seperti itu. Mungkin sesekali otak ini juga perlu sering dilatih untuk tidak teledor dan lupa. Memberikan stimulasi kecil-kecilan.

Kejadian seperti itu terulang lagi hari ini. Pagi-pagi harus disibukkan dengan buku rekening bank yang entah lupa kutaruh dimana, padahal aku harus segera ke bank untuk mengurus sesuatu. Sudah enam jam sejak tadi pagi pukul 06.00 buku rekening itu tak aku temukan, padahal semalam aku sudah mempersiapkannya di suatu tempat agar besok bisa cepat mengurus di bank. Tapi sayang aku lupa meletakkannya dimanaa. Untuk sementara waktu aku menyerah mencarinya, mari sholat dulu karena ini sudah masuk waktu dhuhur.

***

Selesai sholat dan berdoa semoga buku rekening itu segera ketemu, kuputuskan untuk menulis saja sambil mengingat-ingat dimana buku itu kutaruh. Huh. Aku tak mau kejadian seperti ini terus berulang dalam hidupku. Bukankah kita semua tahu bahwa tidak ada satupun kejadian di alam ini tanpa kehendakNya. Pasti terselip hikmah dan terjadi atas ijinNya. Ya, aku tafsirkan ini sebagai peringatan dariNya untuk lebih memperhatikan, menghargai, dan menjaga apa yang dititipkan olehNya. Kita tahu semua ini titipanNya, bahkan semua benda atau hal yang dimiliki dan di “akui” termasuk yang menempel dalam diri yang dilabeli “KU” adalah hanya pinjaman dan akan dimintai pertanggungjawaban olehNya dan akan kembali kepadaNya nanti.

Kurapikan lagi barang-barang yang berantakan karena mencari satu saja buku rekening bank yang lupa kutaruh dimana. Sudahlah… aku buat saja sebuah daftar barang dan tempatnya lalu kutempelkan pada papan mading kecil-kecilan yang aku buat di kamar. Semoga itu menjadi pengingat paling ampuh ketika lupa dimana meletakkan barang.

Romansa (keromantisan dg latar historis atau imajiner)

Pertemuan dengan beberapa orang teman saat buka bersama sore tadi memberikan banyak kesan dan cerita yang unik. Awalnya sedikit canggung karena sudah lama tidak bertemu, biasanya hanya berkomunikasi via telepon dan media sosial. Bertemu dengan teman lama seperti membaca sebuah sejarah di masa yang lalu. Obrolan ringan, senda gurau, dan menikmati sajian buka puasa sederhana di salah satu resto mampu mencairkan suasana. Beku dan diam pecah menjadi sebuah tawa dan obrolan sarat emosi. Semua seakan berebut ingin berbagi cerita.

Ada banyak hal baru yang aku nikmati sore ini. Perasaan yang sangat wajar terjadi jika bertemu teman-teman lama. Kali ini posisi kita sudah sangat jauh berbeda. Dahulu kita masih bersama-sama menikmati indahnya bangku sekolah, melewati hari-hari berkutat dengan buku dan menerima pelajaran yang kadang membosankan. Aku selalu menemukan cerita masa lalu ketika bertemu dengan teman-temanku, ini tidak berarti aku selalu mengingat masa lalu yang konotasinya buruk. Tidak. Aku selalu menikmati hangatnya masa lalu yang unik, menggelitik untuk di ceritakan, menjadi sebuah bahan yang asik untuk di tertawakan. Bertemu teman lama seperti melompat pada masa lalu. Mereka bisa menyajikan banyak cerita yang tak terlupakan. Jangan menganggap ini sesuatu yang berlebihan, karena jika perasaan mengatakan bahagia, tak ada yang bisa menghalangi ungkapan ekspresi bahagia itu, termasuk waktu.

Betapa dahulu, di masa itu, kami masih sama-sama polos, sama-sama berproses menjadi dewasa, melewati setiap tangga impian yang pernah di ikrarkan. Terkadang banyak orang takut melakukan kesalahan dan hal-hal yang mungkin orang lain pikir itu adalah “bodoh”, tapi menurutku itu adalah bagian unik dari sebuah kenangan. Katakan SEJARAH. Kita tidak akan pernah lepas dari cerita masa lalu. Tidak akan. Kekonyolan, kegagalan, kebodohan, dan semua yang kita lakukan di masa lalu adalah tahapan proses yang memang harus di lalui. Jangan pernah mengelak dari masa lalu. Karena sejarah tetap akan mencatat tiga masa yaitu: masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Lalu pertanyaannya, mengapa dulu kami melakukan banyak hal yang sebagian orang dewasa menganggap “bodoh” dan sebagian orang sibuk menyalahkan satu sama lain karena hal-hal bodoh yang kami lakukan? Mengapa?. Dulu aku tak pernah tahu dan ingin tahu apa jawabannya. Saat itu yang terpikir adalah, kami menyesalinya namun tidak pernah menemukan pemahaman yang benar dari apa yang orang-orang dewasa itu takutkan atau khawatirkan terhadap apa yang kami lakukan. Setelah sekian tahun berlalu seiring bertambahnya usia, tumbuhlah pemahaman yang selama ini kami cari-cari.

Pemahaman baik adalah bagian penting dalam hidup ini. dan orang-orang yang mau mengerti juga berpikirlah yang pasti akan mengerti dan memetik hikmahnya.

Janganlah dipertanyakan lagi mengapa hal itu terjadi. Karena kini kami hanya mengerti, dulu kami melakukan banyak hal dengan satu kata “bahagia” menurut definisi kami saat itu. Masa-masa duduk di bangku sekolah. Kami tak peduli dengan apa yang dikatakan orang. Kami hanya butuh ‘senang’ dan saat itu banyak hal yang kami lakukan dengan senang hati tanpa peduli aturan atau larangan. Cap membangkang, nakal, dan tidak tahu aturan bukan hal yang buruk bagi kami. Justru itu menjadi kenangan tersendiri yang kami tempatkan di ruang ternama hati.

Cerita yang akhirnya mengungkapkan rahasia besar bahwa kami “punya kenangan”. Sebut itu sebagai kenangan yang selalu melekat dalam ingatan dan akan mengingatkan kami ketika suatu saat nanti kami kembali bertemu. Aku tak mau menyebut kesalahan dan kebodohan masa lalu itu sebagai penyesalan, itu bukan cara yang baik untuk melangkah ke masa depan. Kusebut sebagai kenangan karena aku bebas mengekspresikan kenangan dengan tawa, dengan lelucon, dan dengan segenggam cerita yang nantinya akan mengantarkan kami pada sebuah ingatan yang indah tentang masa itu. Mengapa tak kami pedulikan orang lain saat itu? karena kami melakukan semua hal dengan hati. Bukankah jika melakukan penuh beban akan mengganjal di hati? itulah mengapa kami menikmatinya. MENIKMATI. Catat itu baik-baik. Waktu itu kami menikmati bahagianya melakukan banyak hal dengan hati, detik itu pula ada sinyal yang terkirim ke otak untuk mengukir cerita pada lembar-lembar catatan di hati.

Itulah yang membuat kami kuat, membuat masa depan kami terasa lebih hidup. Karena kami melakukan dengan hati. dengan HATI. Bongkah hati yang menumbuhkan rasa cinta atas banyak sekali kejadian, kenangan, dan tindakan. Mungkin itu pula jawaban yang bisa aku berikan kepada banyak orang yang bertanya-tanya “kenapa sih kamu bisa memberikan porsi cinta yang lebih banyak pada hal yang mungkin jarang sekali dipedulikan orang?”. Ketika aku mencintai suatu hal, aku menemukan mimpi dan kekuatan di dalamnya. Ketika aku mencintai apa yang kulakukan, itu yang mendekatkanku pada rasa syukur untuk Tuhanku bahwa telah menempatkanku pada tempat, waktu, dan pilihan yang tepat. Aku menempatkan setiap hal yang aku lakukan di HATI.

Aku mencintai masa lalu sebagai kenangan, menjadikannya pelecut semangat dan kekuatan saat ini, lalu melompat penuh keyakinan bahwa aku tumbuh dari kenangan di masa lalu, memprosesnya, lalu menikmati hasilnya. Aku belajar banyak hal dari itu.

Ketahuilah…

Apapun yang akan orang katakan. Kebahagiaan itu adanya di hatiku. Bukan di hati kalian. Bukan di hati orang-orang yang sibuk berkomentar tentangku.

Ps. Ditulis di malam yang dinginnya mencapai 19 derajat celcius, saat tubuh sudah di lilit selimut, tapi hati terus menggelitik agar jemari menuliskan ungkapan hati yang bahagia karena bertemu teman lama dan bercengkrama penuh kehangatan mengungkap memori masa lalu. Kupersembahkan untuk teman-temanku, untuk hatiku yang selalu syahdu mengingat masa lalu, dan untuk siapapun yang selalu melakukan banyak hal dengan penuh cinta dari hati.

Bernapas

Aku belum pandai mencari sisi lain dari setiap hal yang kulihat dan temui. Setidaknya aku harus belajar untuk lebih peka melihat sebuah hal bukan hanya dari sudut pandang yang itu-itu saja, dari cara pandang orang kebanyakaan. Bukan tanpa tujuan aku ingin demikian tapi itu berguna untuk melatih hati dan otak agar lebih peka/melakukan sensor terhadap apa yang ada.

Kadang harus kupaksa diriku untuk sebentar saja meletakkan semua keinginan, menjadi manusia tanpa keinginan. Mungkin terlalu lelah di antara pengapnya dunia. Dan tampaknya tersembunyi sebuah kesalahan jika manusia meletakkan semua keinginan pada hatinya. Seakan bisa menggenggam semua yang diinginkannya. Aku hampir lupa diri bahwa kesementaraan ini adalah sebuah isyarat bahwa tidak seharusnya aku meletakkan keinginan di atas segalanya. Ini adalah isyarat agar tidak lupa dari tanggung jawab yang sudah diberikan dan tenggelam dalam wacana mereka yang berpandangan lain.

Rasanya, aku memang butuh waktu untuk diriku sendiri, bercakap dengan Tuhanku, rukuk dan sujud dengan takjim berharap ketenangan hati. Adalah sebuah kenikmatan ketika aku mampu melakukannya, sebentar menjauh dari riuh pengapnya dunia.  Aku berada pada satu titik untuk mengakhirkan kebencian, kekesalan, dan bagian dari masa lalu.  Itu menjadi masa lalu. Ini tidak berarti aku berhenti pada titik itu. Tidak. Aku tetap melangkah menapaki setiap detik kehidupan dengan lebih bernapas. Ya keinginan membuat hidupku lebih bernapas dengan hati yang lapang dekat dengan Tuhannya. Bernapas karena menuliskan perasaan dan selalu melihat pada kebaikan. Bernapas karena diam menyerahkan hidup kepada yang maha berhak.

Akan ada banyak hal baru yang bisa kulihat jika aku berdiam lalu bernapas sampai kembali tenang semuanya. Akan sangat baik jika aku lebih mampu memperhatikan cara berdiam. Bukan sibuk mendengar wacana keruh yang belum tentu kebenarannya. Tampaknya mengalihkan diri dari hal-hal yang demikian tidak sesederhana memindahkan gelas dari satu meja ke meja lain. Lagi-lagi butuh hati dan nalar agar tidak terjebak pada kejadian yang sama tenggelam dalam lubang “wacana” yang salah. Kemudian membela diri dan melakukan pembenaran. Tidakkah itu rumit? Dimana kehidupanmu jika selalu tenggelam dalam “wacana”? masihkah bisa bernapas?. Kali ini kuputuskan untuk bernapas dalam dimensi spiritual, berproses mengenalNya. Berserah padaNya bahwa semua wacana itu tidak mempengaruhi kehidupan. Aku masih tetap melangkah dan menyelesaikan kewajiban lalu mempertanggungjawabkannya.

Seperti sebuah isyarat dan pembenaran Tuhan menunjukkan diriku untuk membaca salah satu ayat dari kitab suci yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman ! Rukuklah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu dan berbuat baiklah agar kamu beruntung.” (Qs. Al-Hajj : 77)

Bernapas. Berdiam dan mengembalikannya kepada Tuhan adalah satu-satunya cara yang aku miliki.

short course

Bangga rasanya melihat orang lain tak pernah berhenti untuk belajar dan terus belajar.

Siang tadi, membuka salah satu halaman beranda di media sosial muncul tampilan kabar dari beberapa bapak dan ibu guru yang sedang melanjutkan studi beasiswa S2 di beberapa negara eropa. Sekilas aku tahu ini adalah salah satu program pemerintah untuk meningkatkan mutu atau kualitas pendidik. Yang berkesempatan menikmati beasiswa dari pemerintah itu adalah bapak ibu guru yang mengajar mata pelajaran yang diujikan saat ujian nasional (kecuali Bahasa Indonesia).

Kesempatan short course S2 di luar negeri itu mungkin menjadi kesempatan emas untuk menimba ilmu yang lebih beragam di benua yang berbeda. Disela kesibukan di sekolah dan rumah tangga, bapak dan ibu guru ini rela untuk sementara waktu mengesampingkan tugasnya dalam keluarga demi melaksanakan tugas yang lain yaitu meningkatkan kualitasnya sebagai seorang pendidik di sekolah. Bukan hanya itu, kesempatan short course itu bisa saja memberikan sudut pandang lain dan ilmu yang lebih beragam dan bisa diterapkan di Indonesia nantinya.

Bagiku, ini menjadi pendorong semangatku untuk tidak pernah berhenti belajar dan belajar. Bahwa sampai kapanpun kita harus belajar dimanapun kesempatannya. Bahwa tidak ada ilmu yang sia-sia. Buah dari pendidikan itu bisa di petik di masa depan.

Pendidikan memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari pendidikan.

sharing

Siang itu… aku menghabiskan waktu duduk santai di sebuah restoran cepat saji dengan menu andalan burger dan ayam goreng.

Aku menikmati makanan yang sudah dipesan sambil memanfaatkan fasilitas wifi yang ada di dalam ruangan. Seperti biasa, aku membuka situs berita yang memberikan banyak sekali informasi. Lalu mulai membaca beberapa tulisan di blog milik teman.

Tanpa sengaja aku melihat beberapa manager dan karyawan yang sedang meeting di ruangan itu. Dengan suasana yang tidak formal dan dilakukan dengan santai mereka melakukan meeting sambil mengamati kejadian di sekitar. Aku tertarik untuk mengamatinya, karena siapapun yang ada disitu pasti bisa melihat dan mendengar apa yang diperbincangkan. Aneh dan unik rasanya bisa melakukan hal yang demikian di depan para customer, sekilas itu menunjukkan kekompakan dan kerjasama yang bagus antar karyawan dan manager. Belakangan aku dengar, mereka menyebut kegiatan itu dengan sharing. Ya, sharing untuk berbagi cerita, kritik, dan saran antar para karyawan dan manager. Perbincangan singkat yang rutin dilakukan setiap beberapa bulan sekali untuk mengetahui dan mengungkapkan apa saja yang terjadi di restoran ini.

Lalu, di akhir perbincangan, salah seorang dari mereka yang sejak tadi setia mendengar cerita dan uneg-uneg para karyawan (sebut saja managernya) melontarkan pertanyaan: “Apa yang kamu harapkan untuk restoran ini?” dan pertanyaan kedua “Apa saran kamu untuk saya dan untuk tim ini?”. Secara bergantian karyawan itu menjawab satu persatu pertanyaan itu. Di akhir sharing, manager itu memberikan kesimpulan dalam satu kalimat:

“Jangan pernah takut salah, Tidak ada keputusan yang salah. Yang salah adalah orang yang tidak mengambil keputusan.” kemudian menyalami satu per satu karyawannya.