Megah

resize1000
Malang-Paralayang

Elok rupawan keagungan ciptaanmu Tuhan
Merona bahagia saat aku menikmati indahnya alam dari tepian bukit
Megahnya Indonesia terpancar bak cindramata khas yang terbungkus kemahakayaan budaya
Tak ada alasan sembunyikan segala bahagia kala nikmati suasana alam Indonesia
Oh Tuhan, betapa aku mengagumi ciptaan alam yang Kau hadiahkan padaku
Bantu aku menjaganya

Malang, 28 Februari 2015

at Omah Kayu-Paralayang Songgoriti

Menghangat Bersama Keluarga

Jalanan mulai lengang menyambut malam yang kian dingin. Di terminal tak lagi banyak yang sibuk beraktivitas, hanya segelintir orang yang masih terlihat berlalu lalang menghabiskan malam. Aku duduk di atas kendaraan menunggu seorang kawan sambil mengeratkan jaket dan sesekali memeriksa smartphone-ku barangkali ada message darinya. Lampu penerang jalan menyiramkan sinarnya saat seorang perempuan yang wajahnya sudah tak asing bagiku baru saja turun dari bus kota arah Surabaya.

Kali itu aku menjemputnya. Entah angin apa yang kemudian membuat kami sepakat menghabiskan sedikit waktu untuk makan di restoran dengan menu khas pizza setelah ini. Tampaknya kami seperti dua orang yang sedang merindu: ia merindukan makan pizza setelah setahun tidak menikmatinya karena kesibukan, sedang aku merindukan bau cat dan suasana resto ini saat sering menghabiskan waktu menulis.

Aku mulai bercerita mengenai pertemuanku dengan putranya kemarin sore di rumahnya. Dengan wajah riang dan tutur kata yang mengalir, anak berumur 3 tahun itu bercerita mengenai kesehariannya. Mulai dari pagi ia asik bermain dengan teman-temannya, bercerita tentang film kartun yang ditontonnya hari itu, hingga ber-adegan menelpon ayah dan bundanya dengan handphone mainan. Meskipun sebenarnya aku pun tidak paham apa yang dibicarakannya, ha ha ha. Maaf, mungkin aku terlalu sering mendengarkan bermacam teori saat kuliah hingga terlalu bodoh untuk mengerti tutur cerita yang mengalir dari adek kecil ini. he he he.

Pandangannya menerawang ketika bercerita, seperti ada kesungguhan yang keluar dari hatinya, bicaranya lancar tanpa dibuat-buat. Matanya berbinar, raut bangga terlihat dari wajahnya menunjukkan antusiasnya berbagi cerita. Aku sedang sibuk mendengarkan dengan seksama tiap kata yang ia sebutkan, melihat kefasihannya menceritakan setiap kejadian, tampaknya ia akan bisa menjadi seorang pendongeng yang hebat. He he he.

Malam ini adalah malam yang tenang, tanpa hujan dan angin. Kami menghabiskan waktu berbincang dimana banyak pelajaran tercecer di dalamnya.

Di sampingku, bundanya asik mendengarku bercerita tentang putranya sambil tersenyum bangga. Batinku ‘bahagia sekali hidupmu, bund’. Nyala lampu gantung di atas kami semakin terang memantulkan bayang-bayang lukisan di tembok, aku bisa berpikir jernih saat bundanya menjelaskan beberapa hal tentang perkembangan anaknya dan teori psikologi. Maklum, ia seorang dosen yang juga pakar anak dan sekarang sedang menyelesaikan studi S2-nya di salah satu universitas negeri di Surabaya. Sekilas tidak ada yang salah dengan semua penjelasannya, tapi ada rasa bersalah yang tiba-tiba menjalari dirinya. Sebuah bisikan yang datang dari lubuk hatinya untuk tidak lalai mendidik anaknya di antara semua kesibukan dan aktivitasnya. Ia menghela napas panjang, di dadanya berdegup harapan lalu menyelipkan doa di setiap ucapannya. Ia berdoa untuk kebaikan anaknya juga keluarganya, meskipun ada banyak sekali kekurangan dan kesempatan untuk bersama karena berbagai macam kesibukan tapi tetap tugas utamanya adalah seorang istri dan Ibu bagi anak-anaknya.
***
Kali itu seorang anak kecil berumur 3 tahun yang bahkan belum sekolah mengajarkan padaku satu hal untuk tak malu mengungkapkan rindu. Kali ini aku belajar dan percaya mengapa anak-anak selalu riang, tertawa, dan tanpa beban yaitu karena mereka berbagi dan mengerti bahwa hidup adalah mozaik cerita yang harus terus didongengkan. Bahkan, kita sebagai orang dewasa mungkin lupa sebenarnya hidup adalah rangkaian cerita yang harus direfleksikan. Sekalipun kita memilih untuk tidak berbagi cerita pada siapapun, selalu ada alasan untuk mengadukan semuanya padaNya.

Di sela obrolan kami, ada message dari seorang teman yang mengatakan:

“Tiap aku pulang, ada adik-adikku juga adik-adik sepupu yg lucu-lucu itu selalu menantikan… kadang gemes juga pengen cubit pipinya mereka”

Saksikanlah, begitu banyak orang yang kerap merindu kehadiran saudaranya, keluarganya, dan siapa saja yang dicinta. Aku percaya, tidak ada orang yang lupa perannya dalam keluarga hanya saja terlalu sibuk mengejar yang lain hingga batas terjauh yang sesungguhnya tak pernah mereka tahu. Ada banyak kemungkinan untuk sejenak bersandar mengistirahatkan pikiran, menikmati waktu berdua duduk di beranda ketika senja, membincangkan banyak hal atau sekedar menemani bermain. Mungkin kita perlu sedikit lebih peka untuk menyaksikan mereka menghangat di antara pelukan kata “keluarga”.

Malang, 29 November 2014; Resto Pizza Hut Ciliwung

Memantaskan Diri

Dalam kehidupan memang tak mudah membahasakan perasaan agar kuat menerima kenyataan yang kadang tak sesuai harapan. Akan selalu ada ketakutan yang tidak bisa dilawan hanya dengan tindakan dan nasehat-nasehat yang menenangkan. Kita selalu butuh tangan Tuhan sebagai pelukan yang menguatkan agar mampu kita melangkah ke depan meski air mata semakin deras menetes, peluh semakin bercucuran.

Jika mau merenung, serangkaian pertanyaan tentang kehidupan yang kerap kita alamatkan pada Tuhan seringkali menjadi rentetan alasan sebagai pembenaran atas takdir yang tak kita inginkan. Pembelaan atas nama ketidakseuaian harapan dan kenyataan. Seolah bisa meramal masa depan, seenaknya kita memaksa Tuhan menuruti setiap permintaan padahal dosa kita sepertinya belum lunas untuk di balas dengan kebaikan.

Aku membayangkan saat sendirian, sibuk merantai rencana yang diinginkan kemudian menyerahkan pada Tuhan, berharap masih ada ruang-ruang permohonan yang tersisa untuk dikabulkan kemudian berkata, “Engkau tidak keberatan kan, Tuhan mengabulkan impianku?”. Ah tapi aku mengurungkan niat untuk melakukannya, bukan karena meragukan kekuasaan Tuhan untuk mewujudkan impian-impian kecil itu. Aku lebih mengherani diriku sebagai manusia yang seringkali mendatangi Tuhan justru di saat-saat sedih dalam hidupku, kemudian baru memperhitungkannya sebagai satu-satunya jalan untuk mewujudkan segala keinginan. Kemana saja selama ini? Bukankah aku harusnya mengingat bahwa keseluruhan peristiwa kehidupan ada di balik kendali Tuhan? Lalu mengapa saat semua terasa semakin menyesakkan baru mengingat Tuhan? Rasanya aku masih terlalu bodoh untuk meminta tanpa tahu berterimakasih sedangkan syukur hanya dipanjatkan setelah pencapaian terkabulkan.

Kuletakkan saja pensil di atas kertas putih bertuliskan keinginan masa depan. Mengeratkan dua tangan dengan dua kaki yang menekuk ke dada, mempertanyakan pada nurani yang semoga bisa memberikan pencerahan.
“Aku hanya kumpulan hari yang setiap berlalu hilang sebagian diri. Sayangnya semakin berlalunya waktu, semakin banyak pencapaian yang menempel di atas badan memeras ruang otak untuk terus bergerak. Menerimanya penuh kerelaan sebagai hiasan yang wajib dimiliki setiap pribadi. Kemanapun kaki akan dilangkahkan adalah wajib hukumnya untuk menyerukan impian dan segala pencapaian mengatasnamakan diri sebagai teladan yang pantas dicontoh. Ah bukankah itu menjadi bentuk lain kesombongan diri yang dibahasakan agar orang lain dengan mudah melihatnya dari kejauhan. Dan reputasi tak lagi dipertanyakan. Membiarkan diri terpenjara oleh keinginan-keinginan dan bersembunyi di balik alasan dan keluhan adalah kesalahan besar yang aku lakukan sejak dalam pikiran. Aku harus berbenah.” Pikirku dalam hati.

Ketika kata-kata tak lagi mengenali kesedihan, berapa kali harus kukatakan untuk menyempatkan diri berterimakasih pada Tuhan kapanpun. Sebab syukur bukan lagi kewajiban melainkan kebutuhan yang mendatangkan kententraman atas apa saja bentuk takdir yang dihadiahkan Tuhan. Barangkali jika belum bisa banyak, kita mulai saja dari hal-hal kecil agar kita selalu bisa mengucap syukur apa saja yang terjadi.

Malang, 11 Februari 2015; 22.21

Ayah dan Adzan Pertama

Malam ini, aku baru saja menyelesaikan separuh buku Maryamah Karpov-nya Andrea Hirata sebelum akhirnya beranjak menuju rak buku dan mengambil beberapa diary yang berjajar rapi. Sesekali membuka acak lembar halaman diary yang menyimpan cerita seorang perempuan yang tumbuh dewasa. Tak ada rindu yang membuat semakin syahdu selain membiarkan diri terperangkap dalam ruang kenangan berbariskan rangkaian cerita tentang hidup yang penuh liku dan linangan air mata.

Semuanya berawal dari merelakan diri berhadapan dengan kertas putih kosong dan keberanian untuk menulis, sebuah duel yang tak pernah mudah untuk dimenangkan. Ada ketakutan luar biasa yang membekukku ketika hendak menulis, ego adalah musuh dalam diriku yang harus berjibaku kutaklukkan. Tapi aku juga mengenal diriku yang hanya mau berhenti beraksi ketika sudah menang melawan ego. Sebab menulis adalah saksi bisu setiap pilihan nekat dalam hidupku. Maka meski semuanya akan berakhir dengan buruk, berantakan, dan belum jelas alur ceritanya akan tetap kuceritakan dengan lantang daripada bersembunyi di balik keluhan dan alasan.

Sejak kecil, setiap segi dalam hidupku memang harus diperjuangkan karena tak ada lagi pilihan untuk seenaknya meninggalkan peran sebagai manusia yang harus bertanggung jawab atas naik turunnya kehidupan. Aku dilanda takjub ketika begitu banyak kejadian yang tak terbayangkan sebelumnya terurai menjadi rindu ketika membaca lembar demi lembar diary ini. Aku rindu rumah, rindu ayahku. Bayangan orang-orang yang kucintai semakin jelas mengalir di depanku, mengalirkan aku kembali ke satu titik perjalanan ketika hidupku benar-benar dimulai. Apa kabarmu kecilku? masih kutemukan diriku yang selalu bangga menatap mata bening lelaki penyayang yang sering kupangggil Ayah. Sama, tak ada yang berubah. Lewat kalimat-kalimat sederhana yang kutuliskan jelas aku selalu melukiskan senyumnya dari balik kaca jendela yang siap menyambutku pulang ke rumah. “Sudah makan tadi? makan yuk..” ajaknya seperti biasa saat aku pulang sekolah. Aku hampir tak percaya, ia selalu mampu mengubah hal sederhana menjadi begitu mempesona yang membuatku terkenang sampai detik ini. Ataukah aku yang terlalu berlebihan mengaguminya? Rasanya tidak.

Setiap Subuh, secangkir kopi hangat dan sebuah koran di sudut ruang tamu menjadi sajian hangat untuk kami bisa santai duduk berdua menikmati udara pagi. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami, duduk berdua menikmati pagi terlampau sempurna bagi seorang anak sepertiku sebab tidak banyak waktu yang tersedia untuk bersama dikarenakan kesibukan bekerja. Sosoknya menjadi yang terpenting dalam hidupku setelah ibu tiada, namun barangkali kita kerap merasa terbatasi untuk bisa menyampaikan perasaan paling jujur padanya. Jika dulu aku tak pernah berani untuk mengatakan ini, menyimpannya hanya dalam sebuah catatan kecil sebab tak kutemukan satu pun penjelasan bagaimana dan mengapa aku harus mengatakannya, aku dapat mengatakannya dengan terang malam ini: sedang merunduk membiarkan air mata berjatuhan, mengutuki diriku sendiri yang terlampau pengecut, mengumpulkan napas.

“Entah pada napas-napas kebaikan yang mana hidupku selalu kau topang. Bisa jadi aku terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa aku lebih baik darimu, yah. Sambil memejamkan mata dan membayangkan wajahmu, hatiku luluh mengingat adzan pertama yang dibisikkan Ayah ditelingaku. Untuk semua pengorbanan yang pernah ayah lakukan dalam diam, aku tak lagi menganggapmu terlalu dingin. Kali ini aku harus mengerti, ada banyak hal yang tak bisa kau ceritakan padaku, ada banyak hal yang tak bisa dibahasakan namun ketika mau merasakan, terlalu banyak kebahagiaan yang tak terungkapkan. Tapi kali ini, aku ingin meleburkan diriku untuk sesekali menanyakan kabarmu meski hanya lewat telepon, lagi-lagi aku tak kuasa mendengar getaran suaramu yang selalu sama seperti adzan pertama yang pernah kau bisikkan atau doa apa saja yang sempat kau hadiahkan untukku.
Begitu mendengarmu, aku hanya tersenyum hingga berlinangan air mata bercermin di kaca dan ingin kueja dengan terang sebuah kata untukmu di sana: aku menyayangimu. Demikianlah ketika aku kembali menemukan kekuatan untuk dengan lapang dan berbahagia menyampaikan rindu dan perasaan yang sebenarnya. Selebihnya, tak dapat kusembunyikan betapa mengharukan saat mengatakan “Maafkan aku Ayah. Terimakasih atas semua yang telah ayah berikan dan korbankan.” Karena tentu saja, aku tak ingin melewatkan waktu membaca isi hati untukmu Ayah sampai aku kehabisan kata-kata.
Saat seperti ini, barangkali akan menjadi saat terbaik kita untuk mengubah banyak hal dalam hidup. Dengan sebuah kalimat sederhana sebentuk bakti yang mampu dibahasakan. Hal sederhana yang aku lakukan untukmu yang akan membukakan pintu keberkahan di atap langit-langit kebaikan. Meski sederhana. Aku bersyukur, karena masih beruntung bisa mendekapmu dalam setiap kesempatan walau kapanpun aku juga bisa mendoa apa saja yang terbaik untukmu. Jarak yang jauh karena menuntut ilmu bukan lagi alasan yang harus kukekalkan untuk menghindari ungkapan sayang untukmu. Alasan macam itu tak lagi diperlukan karena sebagian orang tak memerlukan apapun untuk mengatakannya, hanya dulu aku yang terlampau pengecut. Seperti kapanpun saja aku bisa melakukan kebaikan untukmu juga mendoa keselamatan bagimu, Ayah.”

Seperti malam ini, terlantun doa untukmu yang tersayang. Semoga Ayah Baik-baik saja.
Aku ingin pulang Ayah.

Malang, 10 Februari 2015; 22.36

Tulisan ini diikutkan dalam GiveAway Tema Cinta. mau ikut? klik disini

sang pencelotehrb_iangiveawayagungmahend

ungu3-copy-copy

Teruntuk Kalian yang Kerap Bertanya dalam Kebingungan bahwa Aku hanya Ingin Menulis

Menyusuri jalan dengan tenang dan tak tahu kemana tujuan menjadi sering kau lakukan. Kali ini tak jauh beda dari perjalanan yang lain, lampu jalan yang sebentar lagi bersinar menjadi teman akrab setiap kau enggan pulang. Di sudut kota, tak ada lagi yang kau anggap kejam sebab kau tahu setiap yang menyakitkan hanya butuh dilawan dengan doa-doa juga membariskan harapan. Matamu mulai sering mengkarabi kaca, bertanya tanpa perlu jawaban, menatap tajam hanya sekedar memberi keyakinan. Dan dengan tegas kau ambli secarik kertas juga sebuah pena, melukis langit senja dengan kata.

Rupanya Lelah Juga Melihat Orang Berdiam Penuh Tanya

Seringkali aku enggan berdebat tentang apa yang benar dan salah, selama ini aku hanya meyakini bahwa apa yang dilakukan memang sepantasnya dilakukan. Tak perlu risau perihal segala tanya yang menghampiri, karena bagiku menarasikan hidup lewat tulisan adalah salah satu jalan memuliakan hidup untuk menjadi pantas diabadikan.

Karena dengan Menulis, Kapanpun Aku Bisa Menghidupkan Kenangan yang Pernah Kita Lewati

Entah bagaimana bisa, disaat yang lain asyik hanya mengangumi senja di atas bukit aku kerap meliarkan imajinasi, meramu kata menjadi cerita yang bisa jadi siapapun akan tergetar ketika membaca. Juga soal kenangan yang melekat erat pada setiap perjumpaan dengan sahabat, akulah orang pertama yang akan berdiri membaca setiap lembar perjalanan kita bahwa kisah kita pernah ada memberi makna bagi siapa saja.

Akulah Pemula yang Belajar Kata

Pada kenyataannya, aku memang tak banyak bicara namun sekali mencipta karya tak akan bisa kuhindari mendoa bagi setiap pembaca, berharap racikan kosakata dengan segala kerendahan jiwa mampu membuka mata setiap pembelajar hidup dari sudut pandang yang berbeda. Sungguh, menulis adalah ladang belajar penuh kesantunan juga kebijaksanaan pikir bagi seorang pemikir.

Untuk Kini dan Nanti, Biarlah Setiap Kalimatku Menjadi Misteri yang Akan Kau Simpulkan Sendiri Menjadi Beribu Arti

Menjadi orang yang berarti adalah dedoa siapa saja yang mau mengerti tentang hidup yang tidak selalu soal materi. Maka dengan tulisan akan kugemakan beribu arti yang kau nanti. Memberi kesan indah dari setiap diksi bertemali makna hingga mengetuk nurani yang sering terjebak ilusi yang terjadi. Sebab pada kenyataannya, tulisanku lah yang sering mengada menjada saudara abadi yang melengkapi setiap pribadi.

Pada saatnya nanti, bacalah setiap lembar tulisan keluh kesahku juga cerita tentangmu. Bukalah saksi mata hidup ini yang akan membuatmu seketika tertawa bahagia, tersenyum, terharu hingga menangis sendu. Meskipun cerita itu tak pernah sehebat kisah para pecinta romeo dan juliet tapi percayalah pada saat itu kita akan menyadari betapa hebat dan berharganya hidup kita dahulu.