Menu Akhir Tahun (5)

Terdorong oleh keinginan yang menggebu di tengah waktu luang dan kegalauan pra-kuliah, tiga tahun yang lalu aku menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop selama seminggu. Tak ada patokan yang pasti tentang waktu kerja saat itu, yang aku tahu, aku mulai menulis sejak sore hingga hampir subuh.

Dalam kurun waktu seminggu itu pula aku bisa menyelesaikan sebuah naskah cerita setebal 130 halaman.

Hari ini aku menemukan folder itu lagi, berserak di antara deretan folder artikel dari tahun ke tahun. Isinya hanya satu file yang sengaja diendapkan sekian lama. Entah karena sudah lelah melanjutkan atau masih jauh dari ekspektasi. Entahlah. Sepertinya terlalu mengawang-awang memang tidak baik. Kemudian aku menutupnya, membatasi diri untuk tidak terbawa oleh penyesalan karena sempat mengabaikan file itu, yang pernah aku usahakan untuk selesai.

Aku memang belum menyusun lembar resolusi, menyatukan visi misi dalam sebuah proposal untuk tahun depan. Alasannya sederhana, masih banyak hal yang harus dipertanggungjawabkan, diselesaikan dan dipersiapkan untuk tahun ini. Ternyata, menutup akhir tahun juga butuh menyelesaikan yang tertunda.

Kemudian aku sadar, sudah lama rasanya tidak sepatah ini, sejatuh dan selemah ini.

Dan kali ini aku mungkin lebih santai –walau sepertinya tak tenang. Aku coba membiarkan setiap perasaan itu datang, menyetir waktuku. Aku biarkan diriku menjadi lemah dan menikmati rasa kekanak-kanakan. Aku akan membiarkan diriku seperti itu untuk beberapa lama, beberapa hari ke depan sebelum pergantian tahun.

Dan untuk kali ini, aku rindu secangkir kopi.

Menikmati rasa pahit. Menyesapnya diam-diam sambil menghirup aroma khas biji kopi. Aku menghindar dari cerita yang terlalu banyak. Mungkin kali ini menjauh dari simpati banyak orang menjadi pilihan terbaik. Jadi aku percaya saja pada segelintir orang yang berhak melihat jatuhku, mengheraniku sebab tak menjadi seperti biasa. Merasakan terusir dari waktu pasti akan membawa kedewasaan yang baru. Yakin itu.

Selanjutnya aku mulai berbenah.

Karena hidup dan perasaan yang pernah jatuh, lemah, dan patah itu adalah realita yang memang terjadi. Maka ketika ramuan untuk membuatnya hampir kembali normal sudah kutemukan, aku akan memilah hal-hal buruk, yang sedih-sedih. Aku sisakan satu tempat untuknya agar suatu saat bisa membuatku senyum-senyum sendiri, tertawa, dan malu-malu mengingatnya. Sepertinya itu adalah simpanan energi yang bagus untuk diingat suatu hari nanti.

Jadi, disinilah aku. Ternyata aku bisa jatuh. Tapi jika suatu saat mimpi-mimpi itu tercoret satu per satu aku percaya jatuh adalah salah satu alasannya. Sekarang, aku sedang bebas melihat waktu melesat begitu cepat, sambil mencatat mimpi-mimpi yang lain. Menyusun target-target lain. Deadline-deadline. Merencanakan strategi masa depan.

Pagi ini, aku merindukan betapa sibuknya mengusahakan masa depan, sibuk merencanakan ini itu. Betapa menggebunya aku pada sesuatu yang sama sekali belum pernah aku capai. Betapa berartinya teguran dari kesalahan setiap kejadian dan betapa tidak pentingnya mensia-siakan waktu.

Pagi ini betapa aku rindu mengingat apapun yang telah aku lalui dengan menyempatkan waktu sebelum tidur untuk mengulang apapun yang sudah dilakukan sepanjang hari. Merekamnya pada sebuah catatan di pikiran.

Malang, 13 Desember 2016

MENU AKHIR TAHUN (4)

Menahan diri untuk tidak berteriak sejak tadi pagi rasanya keren sekali.

Perjalanan pulang ke Kediri pagi tadi masih segar diingatan, sayangnya beberapa detik saja berubah sedikit dramatik dengan pertanyaan “Pernah nggak, didekati seseorang ketika dibutuhkan saja? Mungkin siapapun pernah. Atau mungkin sebaliknya, kita pasti pernah ada di posisi membutuhkan orang lain yang bahkan dia hampir punah dari ingatan kita.”

Baiklah tapi kali ini aku tidak akan membahas itu.

Kemarin bertemu dosen pembimbing Skripsi, awalnya hanya membincangkan soal liburan dan agenda akhir semester hingga akhirnya sampailah pada pembicaraan yang sedikit tabu yang isinya kira-kira begini,

“Nanti setelah liburan langsung ya konsultasi bab 1 sampai 3, kalau dosen pembimbing pertama sudah acc, langsung berikan ke saya ya, nanti saya tinggal tanda tangan. Setelah itu minggu depan bisa kamu ambil untuk revisi dan lanjut penelitian dan susun bab selanjutnya”

Dalam hati hanya bisa bilang iya. Titik. Padahal janjinya kemarin sebelumnya, beliau bilang mau istirahat liburan dulu kemudian baru bersedia ditemui setelah jadwal liburan dan penelitiannya selesai. Artinya itu baru akan selesai sekitar akhir bulan Januari. Aku membayangkan akan punya waktu liburan seperti mahasiswa normal lainnya, akan punya satu minggu di Kediri untuk kosong dan bersantai ria. Tapi ternyata percakapan beliau yang tiga bab itu terlalu ‘horor’ untuk bisa dilupakan begitu saja.

Terima saja lah tawarannya, mari kita perhitungkan lagi strategi cadangan, demi waktu yang tak lebih dari tiga minggu ini.

Saranku, bacalah buku “menjadi negosiator handal” sebelum bertemu dosen pembimbing Skripsi.

Salam Jabrik!

Malang, 10 Desember 2016

Menu Akhir Tahun (3)

Ini sudah hampir sore.

Aku baru saja bangun tidur dan hanya menyelesaikan satu pekerjaan sejak tadi pagi. Bagaimana aku harus menyambut malam?

Aku khawatir dengan kejadian nanti malam. Aku khawatir akan banyak yang terabaikan. Aku khawatir ada orang lain yang menanyakan kesiapanku tentang beberapa hal atau pekerjaan atau tentang sisa uang tabungan yang memburuk. Bagaiman kalau masih ada waktu yang terbuang banyak?

Iya, musim liburan semester sudah di depan mata. Hanya tinggal menghitung hari saja. Aku khawatir liburan ini akan lebih buruk dan berantakan. Mungkin aku akan pura-pura baik-baik saja, atau pura-pura mendengar dan menjawab setiap pertanyaan liburan dengan biasa saja -seperti tak ada apa-apa.

Aku pusing. Sungguh.

Baiknya aku sholat dulu.

Beberapa hari belakangan aku memang senang sekali mengerjakan kebiasaan lama, menulis daftar menu pekerjaan setiap harinya. Lengkap dengan rincian biaya kebutuhan sehari-hari yang diperlukan. Bukan karena harus di laporkan ke Ami setiap harinya sebagai bukti kemajuanku dalam mengelola kegiatan setiap hari tetapi karena aku begitu menikmati perjalanan berangkat dan pulang sampai di rumah lagi, dengan begitu aku menikmati pula bagaimana berproses sebagai bekal bekerja dan berumah tangga. EH***

Beberapa menu akhir tahun yang sedang kusiapkan di antaranya adalah

  1. Mendaftar kursus online sekolah inggris dan sekolah toefl; bagi yang suka online di dunia maya mencari materi-materi kursus bahasa inggris mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya mas Budi Waluyo. Beliau adalah inisiator kedua kelas online tersebut. Ini adalah kesempatan ketiga saya mengikuti kelas beliau, FYI, kelas ini diadakan secara gratis tanpa dipungut biaya apapun selain kuota internet untuk mendownload materi-materi yang diberikan. Buat kamu yang berminat bisa kok add fb mas Budi , kalau ada informasi pendaftaran kelas baru pasti akan diupdate.
  2. Menyelesaikan naskah essay untuk beasiswa. Kebetulan saya rutin mendaftar beasiswa setiap tahunnya. Dan salah satu yang selalu saya ikuti adalah beasiswa data print . Dari beasiswa ini kamu bisa mendapatkan beberapa manfaat sekaligus loh, pertama kamu bisa menikmati berbagai produknya yang bisa menunjang kebutuhan belajar saat kuliah, kedua kamu bisa sekaligus mendaftar untuk menjadi calon penerima beasiswanya, ketiga kalau kamu lolos pastinya akan mendapatkan beasiswa. Perusahaan ini termasuk salah satu perusahaan yang aktif dalam memberikan dana CSR-nya untuk beasiswa kepada siswa dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Berbekal kupon beasiswa dan kemampuan menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan sesuai tema yang sudah diberikan, kamu pasti bisa mengikuti seleksi beasiswa ini. Jangan lupa berdoa dan konsisten menggunakan produk-produk berkualitas dari data print ya… semangat!
  3. Menu ketiga yang tak kalah penting adalah: SKRIPSI!! Di sepanjang semester ini rasanya sudah cukup aku disibukkan dengan beberapa kegiatan, kewajiban, dan kejar setoran yang daftar deadline-nya selalu berdiri gagah berjajar setiap satu meter di depan mata. Berjajar seperti prajurit, diam namun selalu mengintai. Hahaha. Nah, rupanya angin liburan kali ini menggerakkanku untuk lebih tekun memikirkan dan menggarap skripsi. Celoteh ide mulai bab satu sampai bab terakhir mendarat dengan anggun di pelupuk mata. Menyambut musim liburan yang aah rasanya akan datang lebih lama lagi. Ditambah angin yang menggerakkan tangan mengambil tabungan untuk bertraveling ria, membuatku senyum-senyum kecut.

Tiga menu akhir tahun di atas mungkin cukup membuatku sadar untuk merevisi ulang jadwal liburan supaya lebih bermanfaat. Sadar?

Malang, 9 Desember 2016

 

 

Menu Akhir Tahun (2)

Ketika produktivitas dipertanyakan, bisa jawab apa?

Barangkali ada dua pilihan jawaban dan keduanya sama-sama bisa diterima.

Lagi baik nih. Karena sedang menyelesaikan dua-tiga pekerjaan dalam waktu dekat. Dengan beberapa pekerjaan itu jadi tidak ada waktu untuk bersantai dan semangat akan terpacu lebih stabil. Perjalanan untuk mewujudkan mimpi menjadi semakin dekat. Tanpa perlu susah payah untuk menemukan ini dan itu agar bisa bergerak dan melakukan hal-hal yang berguna. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu membuat kita tahu sejauh mana aku sanggup atau sudah sampai titik usaha mana untuk menjadi orang yang produktif.

Lagi lesu nih, istirahat dulu lah. Karena sudah biasa menyesuaikan kebiasaan yang luar biasa padat, dengan ritme kerja yang selalu teratur, kadang aku jadi lupa rasanya menjadi diri sendiri. Mungkin itu saatnya untuk berhenti memaksa diri bekerja lebih keras dan mengingat bahwa setiap orang punya waktu untuk istirahat. Istirahat bisa jadi cara tersendiri untuk menjadi lebih produktif.

Tidak ada alasan lain selain dua jawaban di atas yang mengguncang alur kehidupan dan pikiranku sehari-hari.

Mungkin untuk itulah gunanya belajar. Mencoba meracik menu terbaik agar produktif setiap harinya. Entah itu dengan bangun lebih pagi untuk berolahraga kemudian menikmati secangkir kopi di warung pinggir jalan. Atau menghabiskan waktu seharian untuk duduk di perpustakaan menikmati wifi gratis untuk membaca dongeng sejarah masa lampau. Dengan mencoba semua menu yang tersaji di depan mata, aku mungkin tak akan terburu-buru menyimpulkan jawaban. Tidak akan lagi terburu-buru menjudge betapa membosankannya, nggak seru, dan bukan aku banget ketika sedang tidak produktif. Selain itu, mencoba konsisten pada produktivitas memang bagus tapi kalau setelah dijalani rasanya tertatih-tatih, mungkin itu juga perlu dipertanyakan.

Lalu pertanyaannya, bagaimana produktivitas hari ini?

Namun hari ini seolah-olah seluruh tubuh bernapas lega, meninggalkan rasa nyeri. Benar hidup memang tak sempurna, untuk itulah produktivitas ada.

Malang, 8 Desember 2016

Menu Akhir Tahun (1)

Dilema mengenai bagaimana cara terbaik dalam mengeksekusi kegiatan sehari-hari adalah hal yang biasa. Namun aku tidak pernah menduga akan merasakan berantakan untuk kesekian kalinya. Aku mencoba menemukan kata-kata untuk menjelaskan mengapa aku berpikir bahwa mengabaikan hal ini begitu saja bukanlah pilihan terbaik. Sebagai perencana, aku mungkin akan mengirimkan sinyal tentang apa saja yang tidak beres dan berpotensi berantakan. Di sisi lain, usaha untuk bangun lagi dan bersedia mengakui kesalahan adalah satu-satunya kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Aku merasa tak ada satupun yang boleh berbohong tentang ini, dan betapa beruntungnya aku memiliki sekelompok orang yang bersedia menasihati dan menawarkan solusi pada masa kebingungan. Mungkin sudah terlalu lama aku mengurung diri berbicara pada diri sendiri sehingga kehilangan keberanian untuk melihat sesuatu yang mencerahkan di depan sana. Hingga akhirnya kepercayaan untuk duduk bersama dengan beberapa orang menjadi pilihan terbaik setelahnya. Kemudian aku bisa memaparkan permasalahannya pada mereka, termasuk setiap kekurangan yang aku khawatirkan dan mendiskusikan langkah-langkah terbaik yang bisa dilakukan.

Kebuntuan telah mencair. Rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi di sini mengenai dukungan orang-orang terdekat. Duduk bersama selama enam puluh menit itu memberikan waktu bagi aku untuk menemukan diriku. Seperti sahabatku yang panjang lebar menitipkan pesan untukku.

“Kamu masih muda, jangan sampai terlihat rapuh dan kewalahan dengan tanggung jawab ini. Aku bisa meyakinkanmu bahwa aku masih di sampingmu, melihat setiap potensimu akan mekar dengan sempurna.”

“Ingat donk, setiap luka pasti kering… seperti plester penutup luka yang biasanya kamu tempel di tangan dan kepala untuk gaya-gaya an itu pasti akan di lepas juga. Begitu pula soal hidupmu. Jangan terjebak dengan kesempurnaan melankolis sejatimu.”

Satu lagi, “Kamu tidak perlu menangis, selama waktu dan rencana yang seharusnya menjadi hari bahagia yang sudah direncanakan bertahun-tahun yang lalu terwujud. Kamu harus janji itu.”

Mengakhiri celotehmu sore itu, sepertinya tak ada lagi kata “tapi” bagiku dan larangan sok-sok an mencari alasan untuk merasa gagal. Tidak!

Malang, 7 Desember 2016