Jatuh

Ada banyak kejadian kecil hari ini yang semestinya membuat saya bercermin dan bertanya kepada diri sendiri. Saya mengetik ini tepat setelah menikmati perjalanan ke Malang dengan kereta api. Sengaja ingin menuliskannya sesegera mungkin agar tidak kehilangan getaran perasaan yang ingin disampaikan. Walau rasanya kepala sudah mau copot saja.

***

Dahulu, saya sudah menyiapkan sebuah buku kecil berwarna biru yang berisi serentetan kegiatan yang harus dilakukan – apa saja yang tak boleh dilakukan – dan sekumpulan rencana A, B, C tentang masa depan. Setiap waktu, buku itulah yang menjadi “makanan” saya untuk tetap menjaga mood agar selalu baik.  

Saya bersyukur, hal itu berhasil “menjaga” perasaan saya dari hal-hal negatif yang ada hingga akhirnya mampu menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan baik.

Sampai pada akhirnya 18 bulan yang lalu ada pertanyaan lain seperti “Apa yang bisa dilakukan setelah menjadi yang terbaik?” yang kemudian membuat saya berhenti melakukan rutinitas menulis di buku kecil tersebut. Hari ini saya menemukan jawabannya setelah sekian lama memikirkan jawaban yang tepat.

Jawaban itu adalah “Jatuh!!”

Ya… memang jatuh! Saya menikmati semua hal terbaik yang sudah dan sedang saya miliki saat itu. Menyelesaikan dengan baik satu per satu dari daftar panjang impian saya di buku itu. Lalu jatuh!

Ternyata hanya butuh hati untuk bisa memahami bahwa jatuh adalah menolak merasa nyaman dengan keadaan. Lalu saya mulai berdamai dengan “jatuh”, berhenti mengutuki setiap hal-hal yang gagal saya lakukan dengan baik. Jatuh-lah yang mengantar saya belajar untuk berdiskusi dengan diri sendiri dan berusaha mencari jalan-jalan baru untuk dinikmati, bukan justru memutuskan jalan dengan mengutuki proses “jatuh”-nya.

Akhirnya saya pun bersyukur sudah diberikan kesempatan jatuh -lagi. Sebab ternyata tak ada jalan lain lagi setelah jatuh selain kembali mendaki. Semestinya, saya juga beterimakasih kepada diri saya karena sudah rela meluangkan waktu melambatkan impian untuk membersamai banyak orang di sekeliling saya. Mendukungnya.

Its not about me but maybe will affect my future.

tapi apa setelah ini?

Mungkin akan ada perjalanan panjang lain yang sudah mulai saya persiapkan. Tapi kali ini berjalannya pelan-pelan sambil menjaga keinginan agar tidak menyakiti hati banyak orang. Ini semua hanya soal visi yang semoga lebih besar dan bermanfaat karena dikerjakan sembari berusaha belajar mendahulukan Tuhan.

Selamat datang lagi ketekunan yang menggebu-gebu walau harus dimulai -lagi- dari titik terendah. Tidak perlu canggung, mungkin perasaan takut perlahan akan hilang jika lebih sering dilatih untuk yakin dan percaya.

Tuhan sudah berbaik hati memberimu kekuatan untuk terus melangkah, sesekali membuat saya bercermin dan sering menyelamatkan saya dari pikiran-pikiran yang dangkal. Lebih baik mengurangi waktu mempertanyakan segala hal karena semua yang dicari sudah ditemukan (orang-orang yang mau selalu membersamai semangat saya). Tuhan pun berbaik hati membukakan semua pintu yang ingin saya pilih. Dan saya tidak ingin menjadi seorang yang bodoh, yang pura-pura tidak tahu kebenaran yang ada di depan mata saya sendiri.

Maka, jatuh akan lebih baik dipenuhi dengan langkah-langkah kecil yang layak dilakukan dan bukan lagi sekedar menimbun pertanyaan “Apa yang saya inginkan?”

Malang, 28 November 2017

 

Advertisements

UNTUK DIINGAT: Menunda dan Ikhtiar yang Setengah-setengah

Saya harus menuliskan ini meski rasanya seperti merekam setiap kebodohan yang telah dilakukan.

Di luar sana, ada puluhan orang yang sedang mati-matian menjinakkan perasaan malas-tak berdaya-dan tanpa kompromi.

Hidup terasa membingungkan akhir-akhir ini. Terlebih dihadapkan dengan konsekuensi atas sikap yang kurang tegas. Sederet topik essay tertempel di dinding kamar, puluhan desain foto menggantung di antara jepitan kayu, konsep-konsep hidup yang sejatinya menjadi pengingat langkah yang harus diambil lama-lama mulai berdebu.

Sore ini -untuk sekali lagi- saya paham dan menyesali tentang konsekuensi ‘menunda’.

Siapa yang akan bertanggungjawab?

Haruskah kalimat itu keluar sebagai pertanyaan? Bagi saya kok rasanya memalukan untuk dijawab. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari ikhtiar yang setengah-setengah dan kebodohan yang berpotensi terulang.

Dua puluh dua tahun dan menyadari semakin hari tak lebih baik. Ah rasanya menyesakkan. Perasaan gagal, kurang, tidak pantas, ingin berhenti dalam suatu hal yang saya anggap penting menjadi catatan tersendiri tentang kinerja saya di masa muda.

“Wah keren yaa, sudah bisa melakukan apa yang diinginkan?”

Pernyataan macam itu yang saya dengar dari  beberapa orang sejujurnya membuat saya risih. Entah karena peduli, kepo, atau hanya basa basi, saya rasa sudah terlalu sering ikhtiar-doa-harapan-dan waktu yang saya permainkan, yang tidak sesuai dengan apapun penilaian orang tentang “wah keren ya”. Bukankah itu sebuah kesombongan? Ya. Kesombongan mempermainkan waktu dan ikhtiar yang setengah-setengah.

Saya masih jauh dari si A yang mempersiapkan suatu hal dengan baik. Ia adalah orang yang saya rasa tidak pernah punya alasan untuk menunda-protes-ataupun setengah-setengah. Setidaknya itu yang saya tangkap dari gerak-gerik dan cerita yang dibagikan pada saya sejauh ini.

Lalu setelah semua yang tertunda dan ikhtiar yang terlambat disadari masih setengah-setengah, saya masih berani-beraninya memohon kesempatan demi kesempatan pada Tuhan? Lalu… lalu saya merasa Allah harus yakin bahwa saya sudah berjuang sebegitu kerasnya?

Memalukan sekali. Sungguh.

Penyesalan terasa tak bermakna karena saya kalah sebelum mencoba.

Apa yang bisa dibanggakan?

 

Kehadirannya -orang-orang dengan semangat yang sama- menjadi pelipur sedih. Menjadi penyemangat bahwa saya masih dibersamai oleh mereka. Saya rasa tak ada yang lebih memalukan selain melakukan hal-hal bodoh di tengah orang-orang yang mengerahkan seluruh waktunya melakukan ikhtiar terbaik, tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa basa-basi.

Berada di antara orang-orang itu, membuat saya punya alarm positif dan gratis pula. Mereka hadir sebagai pengingat saat saya mulai ruwet dalam membaca prioritas hidup. Kehadiran mereka bagai tangan-tangan yang siap memukul kepala saya agar tidak mencla-mencle dalam mengikhtiarkan sesuatu.

Ini yang terakhir, lakukan apapun, sampai Allah yakin bahwa ada yang berjuang sebegitu kerasnya. Bukankah harusnya perasaan kurang dan tak pantas yang menggelisahkan membuat saya harusnya tahu bahwa itu isyarat yang Allah titipkan agar beristiqomah dalam berikhtiar?

Try it, right?

Kediri, 29 Oktober 2017

 

Pesan CintaMu dan Hal-hal yang Dihakimi Orang Lain

Dua minggu setelah wisuda sarjana, saya memilih pulang sementara ke rumah orangtua. Alasan yang pertama adalah karena waktu itu saya sedang sakit. Alasan kedua adalah karena banyak hal yang ingin saya persiapkan termasuk belajar melepaskan dan meninggalkan.

Saya pulang dengan kegelisahan dan mata yang mengharu biru, langkah kaki gontai, dan air mata yang siap jatuh kapanpun. Berbagai kenangan berlari-lari saat melemparkan pandangan di jendela kereta. Pertanyaan hidup yang dirapal dalam doa perlahan hanyut menjadi ketenangan tersendiri sepanjang perjalanan. Lalu saya berusaha menyimpulkan bahwa ini adalah pesan cintaMu untuk menjawab hal-hal abstrak tentang kompleksitas perasaan yang mendayu-dayu.

***

Dua minggu ini, saya punya banyak hal untuk dinikmati dan puluhan teman bicara dari orang-orang yang ditemui. Obrolan yang membuat semangat kadang hilang dan timbul. Seperti siang tadi, saya bertemu sahabat saya, sebut saja si A. Setelah sekian tahun tidak berjumpa dan komunikasi kami hanya sebatas lewat media sosial. Jarak yang cukup jauh membuat kami hanya berkomunikasi seadanya, and I do what I wanna do.

Setiap berbicara/ berkomunikasi dengannya, selalu membuat saya mampu meredam protes atas banyak hal di kehidupan yang tidak sesuai keinginan. Ia adalah orang baik yang saya percaya mampu membuka berbagai dimensi pemikiran saya tentang menjadi sebaik-baik manusia. Seringkali di saat bersamaan, Ia menunjukkan kepercayaan yang utuh untuk Allah walau terkadang hal-hal yang dipercayai tampak mudah dihakimi oleh orang lain.

Saya bersyukur karena dihadirkan oleh Allah orang yang selalu bersedia membagi keluasan ilmu dan keikhlasannya. Ia bercerita tentang kesempatan dan peran hidupnya untuk terus belajar bagaimana cara berpasrah dari petunjuk-petunjuk yang dibawa Allah dalam berbagai tempa. Menyimak kisahnya seperti diijinkan oleh Allah untuk terlibat dalam alur pikirnya. Retakan-retakan keraguan di kepala saya perlahan menemukan rumahnya untuk diletakkan sebagaimana peran seharusnya. Akhirnya, keberanian muncul dari mulut saya untuk mengatakan:

“Salah satu keinginan saya adalah saya ingin menjadi sepertimu”

Lalu lewat senyumnya Ia berusaha menjelaskan seolah Ia mempercayai bahwa saya bisa lebih baik darinya.

Tentu saja, sampai detik ini saya masih belajar darinya dalam mengelola prasangka baik, kesabaran, dan tersenyum tentang rencana Allah yang lagi-lagi akan mudah dihakimi oleh orang lain. Saya rasa setiap manusia akan mengalami ujiannya masing-masing namun darinya saya juga belajar memaknai pesan cinta Allah hingga tak ada yang bisa dilakukannya selain yakin dengan pertolonganNya.

Obrolan 5 jam tadi membuat saya menemukan remah-remah diri saya yang dulu hingga detik ini. Cerita-ceritanya membuat kekhawatiran saya luntur semudah yakin dengan kebaikan, petunjuk dan cinta yang dihadirkan Allah dari berbagai coba dan tempa.

Hingga muncul satu kesadaran untuk menyimpulkan bahwa saya harus siap. Dan dari matanya bisa tertangkap pesan bahwa saya harus memperjuangkan diri lebih keras lagi menterjemahkan pesan cintaNya.

Terimakasih untuk selalu yakin bahwa saya mampu belajar dan melihat dari cara yang benar. Terimakasih karena selalu menitipkan pesan cintaNya di setiap tutur yang terbagi. Terimakasih untuk kesadaran terbaik yang selalu membuat saya lebih berani dan baik-baik saja karena memilikiNya…

ps. ditulis sambil mengulang-ulang mendengarkan How Would You Fell-nya Ed Sheeran

Kediri, 28 Oktober 2017

 

Zona Nyaman

20160928_214134

Membaca blog-mu membuat saya memilih untuk mengganti playlist lagu di youtube dengan link lagu yang tercantum di blog-mu.

Mungkin itu salah satu cara Allah memberikan petunjuk tentang kehidupan yang sedang saya jalani sampai detik ini. Pada berbagai kesempatan, Allah menitipkan banyak orang untuk ditemui, menyimak kisahnya dan berkali-kali membuat saya terjebak pada alur pikirannya. Walau kadang lelah mendengarnya, saya rasa mereka -orang-orang yang saya temui- banyak memberikan kontribusi pikiran, pemahaman, dan persepektif baru tentang berbagai hal.

Mendengar cerita-cerita mereka membuat saya selalu berusaha mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu ditunjuk Allah untuk keluar dari zona nyaman. Akan selalu ada banyak PR untuk merapikan diri, berusaha sebaik mungkin memperbaiki niat dari segala ambisi yang ingin diraih.

Menyimak lagu itu membuat saya kembali berpikir sudah sejauh mana perjalanan saya. Menelaah satu per satu tujuan berbagai aktivitas yang saya lakukan. Kenyataannya, masih sangat jauh dari apa yang disebut berjuang dan justru penuh keluhan.

Katanya “Ngak ada yang lebih capek selain denger orang ngeluh capek terus.”

Dan saya tidak memilih menjadi seperti itu. Hari ini saya cukup senang keluar dari zona nyaman, meskipun sesederhana menulis lagi di blog ini.

Dengarkan lagunya di sini

 

Kediri, 26 Oktober 2017

 

Kedai Kopi

 

Saya percaya, hidup adalah hidangan berisi pikiran dan perasaan yang selalu berubah sepanjang waktu. Ajaibnya, kualitas hidangan itu ditentukan oleh kualitas belajar kita. Untuk mendapatkan hidangan terbaik, ada perbincangan, pengalaman, proses belajar, penerimaan tentang hidup dan orang-orang terbaik dalam hidup ini. Sebagian orang, termasuk saya, akan memilih menikmati hidangan terbaik dalam bentuk makanan sekaligus obrolan.

Sejak lama, saya senang jika bertemu dan menjamu orang di kedai kopi, cafe, atau semacamnya. Berbagai macam pertemuan itu terekam di kepala sebagai “bahan belajar”. Biasanya orang-orang yang saya temui akan bercerita tentang kehidupannya secara lebih terbuka. Tak terhitung berapa cangkir kopi yang selalu saya habiskan untuk menjadi pendengar yang baik dari ceritanya. Tampaknya saya lebih pantas menjadi pengunjung teladan di kedai-kedai kopi.

Tapi tiga tahun belakangan agaknya cukup berbeda, saya mengunjungi kedai kopi atau cafe sendirian. Di antara tuntutan kehidupan dan target pencapaian yang terus bertambah, mengunjungi kafe adalah kelegaan tersendiri. Seringkali saya memilih tempat di pojok dan dekat sudut-sudut jendela untuk sekedar memesan kopi dan beberapa makanan. Dan entah mengapa, datang ke kafe sambil membawa laptop justru membuat saya jauh lebih produktif dan berhasil mengerjakan banyak hal.

Di kafe, saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah, saya mengerjakan skripsi. Menyelesaikan tulisan-tulisan. Menyelesaikan project-project pesanan. Juga termasuk menumbuh-kembangkan pikiran dan hasil belajar untuk di realisasikan sebagai life goals. Akan selalu ada ide, cerita, dan kawan-kawan baru yang bisa saya temukan sambil duduk dan menyeduh cangkir-cangkir kopi.

Begitulah, rasanya saya menemukan kebahagiaan dan doa yang terwujud bersamaan dengan menikmati beragam hidangan, buku-buku, dan setumpuk rencana berisi perbaikan masa depan. Saya menikmatinya untuk beristirahat dari ramai jalanan sekaligus berjuang mewujudkan mimpi. Menjelang senja, cangkir pertama di kedai kopi bisa saja membuat segala sesuatunya menjadi baik dan mudah.

Seberapa Melelahkan?

Tak ada yang bisa disembunyikan dari air mata, juga gerak tubuh yang semakin menunjukkan ketidakberdayaannya. Lagi-lagi aku membenci pembahasan ini. Tapi bunga-bunga di meja kamar yang daunnya mulai kering dan berguguran mengajak berpikir sejenak.

***

Hampir genap dua bulan proses pemulihan pasca operasi yang dijalani. Tak ada perubahan yang berarti selain keluh dan kesah yang semakin bertambah. Lelah. Menghabiskan waktu di kamar untuk memikirkan keluh tak berkesudahan. Bagaimana menurutmu? Menyedihkan bukan?

Proyek-proyek kebaikan yang pernah dirancang perlahan terabaikan. Ide-ide mengendap menjadi debu menyesakkan ruang kepala. Kemeja-kemeja putih yang biasanya menjadi semacam trademark untuk menunjukkan semangatku, menggantung harum di lemari tak tersentuh lagi.

Seberapa melelahkannya hidup dengan langkah-langkah yang tak lagi terdefinisi?

Bagaimana caranya bertahan? Memaksa diri untuk belajar, untuk membaca, untuk bertarung dengan semua nasehat yang terucap maupun tertulis. Memaksa setiap nafas di segala waktu untuk mengucap istighfar sekaligus syukur. Sejatuh-jatuhnya hidup, ada lidah yang tertatih-tatih untuk menguatkan diri sendiri. Menjadi pendukung sejati.

Tak peduli seberapa tinggi ketidaksukaanku, tak peduli penolakan yang dilakukan oleh tubuh dan otakku, semua ini menjadi teramat penting. Dan perlahan, aku merasakan lagi pertempuran untuk menaklukkan hal-hal buruk dan kepuasan untuk hidup tanpa rasa sakit.

Semua yang memang harus dialami untuk dipahami.

 

3 Pertanyaan

Allah, maukah engkau membantu menjawab pertanyaanku? Sederhana saja.

1. Kapankah waktu yang paling penting?

2. Siapakah orang yang paling penting?

3. Apakah hal yang paling penting untuk dilakukan?

Bagaimana jika aku mencoba menjawab ketiganya dengan: Saat ini, Orang yang sedang bersamaku, dan Peduli. Bagaimana menurutMu?

Untuk yang pertama, “saat ini”, barangkali kesempatan memang tak pernah datang dua kali. Ah tapi aku mungkin sering melupakannya. Tapi tentu saja, aku akan melakukannya. Jika aku memang perlu meminta maaf, mengucapkan rasa sayang, atau betapa aku berterimakasih atas suatu hal. Aku akan melakukannya sekarang, bukan besok. Bukan lima menit lagi. Sekarang. Lima menit seringkali sudah terlambat. Sekarang.

Kedua, mungkin akan sedikit mendalam untuk menjawabnya. Aku teringat percakapan dengan seorang teman ketika memikirkan jawaban ini, ‘siapapun yang ada di hadapanmu, mungkin kamu satu satunya orang yang perhatiannya tak pernah terbagi’. Kalimat itu masih perlu diuji oleh waktu. Tapi setidaknya saya menyadari, ada orangorang yang tampak luarnya seperti mendengarkan, tetapi dalam hati mungkin ingin aku cepatcepat pergi. Aku juga teringat, ketika mengajukan pertanyaan pribadi dan terkejut ketika si pendengar memberi perhatian penuh. Ia membuat aku merasa dihargai. Barangkali juga, tak peduli siapapun orang yang disampingku, adalah orang yang paling penting sedunia. Tak ada urusan yang lebih penting selain menghargainya. Dan karena saat terbanyak dalam hidupku adalah saat bersama diri sendiri, akulah orang yang paling penting untuk dihargai dan dihormati.

Terakhir, peduli yaitu berhati-hati. Terhadap diriku dan apa yang aku pertanggungjawabkan atas perbuatanku.

Bagaimana menurutMu, Allah?

*terinspirasi dari tulisan Ajahn Bram 

Apendic Acuta (1)

Siang itu saya ngeyel dan ngotot minta pulang. Tak menyangka dan lebih tepatnya tak terima kalau hasil USG saya positif usus buntu. Seketika dokter menyarankan persiapan operasi. Ketika hasil sudah di tangan, saya mulai pikir-pikir. Menatap nanar wajah ami yang waktu itu mengantar dan memaksa ke rumah sakit. Berbagai bayangan buruk dan pikiran negatif bermunculan di kepala. Sesenggukan menangis di bahu ami dan berharap semua akan baik-baik saja.

Ah… sudahlah, mari kita lanjutkan nanti saja

Terakhir

aksi

Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan urusanmu sendiri dengan baik, maka kamu akan kehilangan banyak waktu untuk membantu orang lain.

Dimana aku seharusnya sekarang hari ini?

Aku harus menunda waktu makan 1 jam lebih lama untuk menjawab pertanyaan disertai isak tangis itu. Lucu ya, bangun tidur dan merasa sudah merusak semua agenda yang sudah tertata apik dan manis sejak awal bulan. Bertahun-tahun sebelum hari ini aku cukup berhasil membangun pola hidup dinamis, produktif dan mengedepankan humanisme. Meskipun tidak siapapun tahu tentang itu  sepertinya aku cukup sadar untuk memilih sesuatu yang esensial berkaitan dengan diriku sendiri. Dan kemudian waktu berlalu… Aku, kamu dan mungkin mereka berpotensi dan tanpa sengaja mencorengnya dengan janji-janji. Lalu memakluminya hingga semuanya terlihat mudah lagi. Dengan jalan pikiran yang sudah dipermudah itu, berusaha lagi untuk bangun dan merancang step by step untuk mencapai tujuan baru lagi. Aku membayangkan punya tangan dan kaki yang bisa lebih tangguh untuk digunakan berlari lagi, bisa melompat kesana kesini ditengah gentingnya kehidupan orang-orang. Jadi akan selalu ada cadangan tenaga baru untuk menyiapkan lompatan yang lebih jauh. Lompatan yang lebih panjang dan mantap.

Begitu seterusnya.

Tapi apakah akan lebih mudah memulai sesuatu di atas kegelisahan masa lalu yang belum terselesaikan? Sadar nggak sih banyak pilihan yang “wajar untuk dipilih” di atas sesuatu yang lebih esensial? Dan bodohnya aku sering memilihnya.

Lupa sudah berapa tahun aku meninggalkan pola hidup yang dinamis-produktif-humanis.

Kangen.

Memang ya sulit untuk mempertahankan semua itu di tengah kehidupan yang semakin banyak pilihan. Pertemanan bertambah yang akhirnya membuatku bisa melihat lebih banyak orang dengan berbagai pilihan dan karakter. Aku sama seperti mereka, bebas untuk dilihat. Aku masih sama seperti mereka yang tidak perlu punya alasan untuk mengomentari, membuat keputusan, atau membuatku ragu. Aku hanya ingin melakukan. Mungkin itu.

Sisa masa kuliah ini, aku tidak mungkin mengakhirinya sebagaipribadi yang mencla-mencle, plin plan, tidak produktif dan tamparan keras macam penyesalan karena tak punya waktu. Ah basi. Aku tak sedang mencari siapa-siapa sebagai objek pengaduan. Biar kupilih saja diriku perang sendirian, menyaksikan pikiran dan perasaan saling berselisih, sekali lagi sendirian. Mencoba memaksa sekali lagi untuk bangun memulai yang sudah lalu dengan peringatan “ini yang terakhir”

Ini mungkin saatnya. Ini mungkin yang terakhir. Sakit memang, merasa tertampar, keras sekali tapi aku tidak hendak mematahkan semangat siapapun. Tapi sekarang, aku memilih ada di titik ini: berhenti untuk mempercayai siapapun.

Malang, 22 Desember 2016

PINDAH

Tulisan mbak Windy yang menempel di buku saya sejak tahun 2013 dan setiap hari selalu saya baca, kali ini saya melakukannya. Pindah.


pindah

Manusia bertahan hidup dengan melakukan perpindahan.

Akhirnya, setelah hampir enam tahun berdiam di tempat yang sama, suatu pagi, ketika mata baru saja memicing dari tidur, saya memutuskan pindah.

Iya, pindah. Ide itu muncul begitu saja di kepala saya. Padahal, di tempat yang lama, saya hampir tak memiliki keluhan sama sekali. Tempat tinggal lama saya seperti sebuah flat, bukan rumah, bukan juga apartemen. Ia terbagi menjadi tiga ruang besar yang masing-masing berukuran 3 x 4 m yang saya sulap menjadi ruang tamu yang juga berfungsi sebagai perpustakaan; kamar tidur yang juga berfungsi sebagai ruang kerja dan ruang nonton tv; serta ruang belakang yang terdiri dari kamar mandi, dapur, dan tempat mencuci.

Buat saya itu cukup bahkan terlalu luas untuk saya tinggali sendirian. Saya tak butuh ruang lebih besar yang ujungnya saya biarkan kosong. Tetangga saya adalah tiga lelaki bersaudara yang saya tahu berkuliah di IKJ dan menyukai vespa. Tapi sepertinya mereka menganggap saya kurang ramah karena jarang berbasa-basi. Padahal, saya suka vespa merahnya dan tergoda untuk mengendarai vespa itu keliling Ragunan. Tapi, sampai hari kepindahan saya, saya tak pernah meminjam vespa merahnya. Kami hanya sempat duduk di pintu rumah masing-masing yang bersisihan sambil ngobrol ala kadarnya tentang mengapa saya tiba-tiba pindah.

Si Sulung bilang itu mengagetkan. Mereka sempat menduga saya tak betah karena mereka suka berisik apalagi bila kawan-kawan IKJ-nya berkumpul. Saya bilang kepadanya, saya cuma merasa perlu pindah untuk mulai tidak lagi terbiasa. Dia cuma tersenyum, mungkin tak mengerti apa yang saya bicarakan. Lalu, kami berdua pamit dan sama-sama masuk ke rumah masing-masing.

Iya, saya cuma merasa saya butuh pindah agar tak terbiasa berdiam.

***

Menemukan rumah mungil yang saya juluki ‘Kandang Windy’ itu sepenuhnya konspirasi semesta, kalau saya boleh meminjam istilah ini untuk menggambarkan apa yang terjadi.

Setelah bangun tidur dan berpikir untuk pindah, saya berlari pagi seperti biasa, melalui jalur biasanya. Saban berlari di rute yang biasanya, saya melewati rumah minimalis yang bagian depannya dicat dengan warna-warna serupa permen—oranye, merah, biru—yang memberikan kesan hangat. Saban melewati rumah ini, saya sering berpikir, ‘Lucu, ya, kalau bisa tinggal di rumah ini.’ Tapi, rumah itu berpenghuni. Jadilah, setiap melewati rumah permen, saya menebak-nebak, seperti apa rupa penghuninya.

Pagi itu, rumah permen tampak melompong. Lampu teras rumahnya menyala sehingga saya bisa melihat dari pagar ke jendelanya yang tak lagi bertirai bahwa rumah itu telah kosong.

Deg! Ke mana penghuninya? Saya celingukan. Seorang ibu yang baru saja keluar dari rumahnya yang terletak di depan rumah permen menegur saya. ‘Rumahnya kosong. Penghuninya baru saja pindah semalam.’

Wah! Jantung saya seolah berlompatan. ‘Rumahnya disewakan nggak, Bu?’

‘Setahu saya iya. Tanya saja sama pemiliknya. Tuh, rumahnya pas di sebelah rumah itu.’ Hari masih pukul 05.15 pagi. Saya putuskan nanti sekitar pukul 10.00 kembali ke sini. Tepat pukul yang sudah saya tentukan, saya kembali ke rumah si pemilik rumah permen. Rumah itu tampak lengang. Petugas keamanan town house memberi tahu kalau pemilik rumah sedang keluar dan ia memberikan saya nomor telepon. ‘Kontak saja, Mbak. Siapa tahu, rumahnya bisa Mbak yang menghuni. Kalau dia nggak cocok, pasti dia nggak mau ditawar. Kalau dia cocok sama calon penyewa, biasanya bisa ditawar.’ Bapak petugas keamanan memberi tahu saya.

Singkat kata, saya mengontak pemilik, dan sehari setelahnya, saya resmi menjadi calon penghuni baru rumah permen itu. Tak pakai proses panjang. Tawar-menawar pun berlangsung singkat. Si pemilik cuma bilang, ‘Saya tahu Mbak suka lari pagi. Dan sepertinya Mbak orangnya menyenangkan.’

Pertama kalinya, saya menjawab ‘amin’ di dalam hati dan berharap saya memang bisa menjadi tetangga yang menyenangkan untuk orang lain.

***

Saya bukan orang yang memiliki konsep rumah sebagai sebuah bangunan untuk tinggal. Saya bahkan tak memiliki gambaran, seperti apa rumah idaman saya. Terbiasa berpindah dari kecil, saya belajar untuk tidak terlalu terikat dengan satu tempat. Saya bisa merindukan tempat-tempat tertentu dan buat saya merindukan itu seperti kompas petunjuk bahwa satu hari saya pasti kembali mengunjungi tempat itu.

Ketika sibuk  mengurusi pindahan, saya menyadari satu hal, semakin saya bertumbuh, semakin saya malas berpindah. Diam di zona aman itu hal yang menyamankan. Semakin pula saya kurang peka dengan banyak hal karena terbiasa. Terbiasa itu berpeluang menumpulkan. Tiba-tiba itu terasa mengerikan buat saya.

Saya putuskan, saya harus pindah. Secepatnya.

***

Pindah memang merepotkan. Dan juga terasa melelahkan. Namun, dibandingkan semua itu, hal yang paling membuat saya berdebar adalah memiliki tetangga baru dan tinggal di sebuah tempat yang berkonsep rumah.

Saya pernah memberi tahu bos saya—saya sebut dia Bos 2—kalau saya akan pindah. Komentar pertama dia, ‘Pindah kamar? Pindah kos? Pindah ruang?’

‘Pindah rumah.’ Saya sekali lagi menekankan. Saya pindah ke sebuah rumah.

‘Iya, kamu pindah ke kamar di rumah yang lain? Rumah di otak kamu, tuh, berbeda dengan orang lain.’ Dia juga menegaskan.

‘Nggak. Rumah dengan tiga kamar, dapur, ruang tamu, perkarangan. Rumah. Rumah yang dimengerti kebanyakan orang.’

Bos 2 terdiam. Dulu, waktu saya mengabari Bos saya yang satunya lagi—kita sebut saja Bos 1—kalau saya membeli rumah, Bos 1 juga tak percaya. ‘Ternyata, kamu masih orang Indonesia. Perlu memiliki rumah,’ katanya waktu itu. Saya bilang ke dia, alasan saya membeli rumah bukan karena saya butuh memiliki rumah, melainkan tekanan dari sekitar yang membuat saya merasa tak normal kalau tak memiliki rumah. Nyatanya, rumah yang saya beli itu tak pernah saya tempati, malah saya kontrakkan. Saya sendiri memilih tinggal di sebuah kamar besar dengan tiga ruang yang saya sewa di daerah Cilandak.

Akhirnya, Bos 2 bersuara, ‘Kamu sedang mengalami apa?’

Saya kurang paham dengan pertanyaannya. ‘Maksud Bapak?’

Kata dia, saya pastinya mengalami sebuah peristiwa atau percakapan dengan seseorang yang mendorong saya melakukan perpindahan itu—sebuah perpindahan gaya hidup, dan karena dilakukan oleh saya, itu sebuah perpindahan yang radikal. ‘Kamu mengalami revolusi pemikiran,’ katanya sambil tertawa kencang, ‘Pasti ada faktor pemicunya.’

Celakanya, saya tak tahu pasti apa faktor pemicunya kecuali saya merasa bahwa terbiasa itu menakutkan buat saya. Saya tak punya alasan bombastis—tetangga berisik, pemilik rese, mulai ingin berdiam, dsb—yang membuat saya terbangun pada pagi hari dan tiba-tiba memutuskan, ‘Pindah ah!’

Semuanya terjadi dengan cepat. Kurang dari 24 jam saya sudah menemukan tempat baru dan yang membuat saya tak percaya itu rumah permen yang sering saya lewati saban lari pagi. Proses yang terlalu cepat dan terlalu mudah. Tapi dampaknya, tak sesederhana yang saya bayangkan.

: perpindahan ini membuat saya cemas.

Saya cemas dengan banyak hal. Mulai dari tetangga, listrik, air, sampah, kebersihan, keamanan rumah, sampai tidakkah terlalu banyak ruang kosong buat saya di rumah ini? Apakah ini tidak terlalu berlebihan buat saya?

Akan tetapi, saya adalah orang yang percaya merasa cemas itu baik. merasa takut itu perlu. Semakin saya merasa gentar, semakin saya mendorong diri saya untuk menghajar. Saya yakin, kalau saya bisa melampauinya, berarti saya sudah melakukan satu gebrakan lagi dalam hidup.

Sebuah gebrakan di dalam hidup tak perlu sangat besar. Cukup dengan melakukan apa yang mulanya saya pikir saya tidak bisa. Berpindah posisi dari tidak bisa menjadi bisa.

Maka, pindah adalah sebuah gebrakan buat saya dalam kurun waktu enam tahun ini. Tindakan yang membuat saya belajar banyak hal baru dan mengkhawatirkan hal-hal yang selama ini tidak pernah saya cemaskan.

***

Padahal, kalau saya pikir-pikir lagi, pindah adalah hal yang manusia akrabi. Kita melakukan perpindahan sekecil apa pun itu. Pindah bangku (di sekolah saya, setiap seminggu sekali kami harus bertukar tempat duduk), pindah kelas, pindah sekolah, pindah rumah, pindah kuliah, pindah kerja, dan pindah hati—kata Raditya Dika.

Manusia melakukan perpindahan untuk menemukan kecocokan, belajar terbiasa, dan bisa juga karena terpaksa sebab hanya itu yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup. Di pelajaran Sejarah atau Antropologi, kita mengenal bahwa salah satu ciri-ciri kehidupan purba adalah nomaden—berpindah, tidak menetap.

Sejak saya dibebaskan oleh Papa berpindah sendiri—tak lagi mengikutinya, saya tak menyepakati itu sebagai ciri-ciri kehidupan manusia purba. Buat saya berpindah adalah cara paling instingtif yang dilakukan makhluk hidup untuk bertahan dan mempertahankan hidupnya.

Manusia bisa menemukan mana yang terbaik untuknya hanya dengan melakukan pergerakan, perpindahan, bukan dengan berdiam. Perubahan tak akan terjadi pada sesuatu yang dibakukan. Ketidakamanan membuat saya berpindah, berusaha menemukan tempat yang lebih baik, yang lebih nyaman.

Namun, saya juga belajar, bahwa kenyamanan menciptakan ketidakamanan. Dan perpindahan bisa terjadi karena itu.

Kenyamanan tak melulu lahir dari kebercukupan material. Rasa tidak nyaman karena terlalu lama berdiam membuat saya memutuskan beralih, bergerak. Rasa takut karena merasa kepekaan saya kian tumpul karena terbiasa membuat saya berpindah. Semakin lambat saya bergerak, semakin cepat kondisi itu akan membunuh saya.

Saya sadar, saya butuh pindah. Perpindahan yang saya lakukan adalah upaya saya bertahan. Upaya saya untuk tahu apakah saya telah menemukan sesuatu yang lebih baik. Dan itu adalah sebuah cara alami—kalau tak mau disebut purba—yang melekat pada makhluk hidup. [13]