Kedai Kopi

 

Saya percaya, hidup adalah hidangan berisi pikiran dan perasaan yang selalu berubah sepanjang waktu. Ajaibnya, kualitas hidangan itu ditentukan oleh kualitas belajar kita. Untuk mendapatkan hidangan terbaik, ada perbincangan, pengalaman, proses belajar, penerimaan tentang hidup dan orang-orang terbaik dalam hidup ini. Sebagian orang, termasuk saya, akan memilih menikmati hidangan terbaik dalam bentuk makanan sekaligus obrolan.

Sejak lama, saya senang jika bertemu dan menjamu orang di kedai kopi, cafe, atau semacamnya. Berbagai macam pertemuan itu terekam di kepala sebagai “bahan belajar”. Biasanya orang-orang yang saya temui akan bercerita tentang kehidupannya secara lebih terbuka. Tak terhitung berapa cangkir kopi yang selalu saya habiskan untuk menjadi pendengar yang baik dari ceritanya. Tampaknya saya lebih pantas menjadi pengunjung teladan di kedai-kedai kopi.

Tapi tiga tahun belakangan agaknya cukup berbeda, saya mengunjungi kedai kopi atau cafe sendirian. Di antara tuntutan kehidupan dan target pencapaian yang terus bertambah, mengunjungi kafe adalah kelegaan tersendiri. Seringkali saya memilih tempat di pojok dan dekat sudut-sudut jendela untuk sekedar memesan kopi dan beberapa makanan. Dan entah mengapa, datang ke kafe sambil membawa laptop justru membuat saya jauh lebih produktif dan berhasil mengerjakan banyak hal.

Di kafe, saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah, saya mengerjakan skripsi. Menyelesaikan tulisan-tulisan. Menyelesaikan project-project pesanan. Juga termasuk menumbuh-kembangkan pikiran dan hasil belajar untuk di realisasikan sebagai life goals. Akan selalu ada ide, cerita, dan kawan-kawan baru yang bisa saya temukan sambil duduk dan menyeduh cangkir-cangkir kopi.

Begitulah, rasanya saya menemukan kebahagiaan dan doa yang terwujud bersamaan dengan menikmati beragam hidangan, buku-buku, dan setumpuk rencana berisi perbaikan masa depan. Saya menikmatinya untuk beristirahat dari ramai jalanan sekaligus berjuang mewujudkan mimpi. Menjelang senja, cangkir pertama di kedai kopi bisa saja membuat segala sesuatunya menjadi baik dan mudah.

Seberapa Melelahkan?

Tak ada yang bisa disembunyikan dari air mata, juga gerak tubuh yang semakin menunjukkan ketidakberdayaannya. Lagi-lagi aku membenci pembahasan ini. Tapi bunga-bunga di meja kamar yang daunnya mulai kering dan berguguran mengajak berpikir sejenak.

***

Hampir genap dua bulan proses pemulihan pasca operasi yang dijalani. Tak ada perubahan yang berarti selain keluh dan kesah yang semakin bertambah. Lelah. Menghabiskan waktu di kamar untuk memikirkan keluh tak berkesudahan. Bagaimana menurutmu? Menyedihkan bukan?

Proyek-proyek kebaikan yang pernah dirancang perlahan terabaikan. Ide-ide mengendap menjadi debu menyesakkan ruang kepala. Kemeja-kemeja putih yang biasanya menjadi semacam trademark untuk menunjukkan semangatku, menggantung harum di lemari tak tersentuh lagi.

Seberapa melelahkannya hidup dengan langkah-langkah yang tak lagi terdefinisi?

Bagaimana caranya bertahan? Memaksa diri untuk belajar, untuk membaca, untuk bertarung dengan semua nasehat yang terucap maupun tertulis. Memaksa setiap nafas di segala waktu untuk mengucap istighfar sekaligus syukur. Sejatuh-jatuhnya hidup, ada lidah yang tertatih-tatih untuk menguatkan diri sendiri. Menjadi pendukung sejati.

Tak peduli seberapa tinggi ketidaksukaanku, tak peduli penolakan yang dilakukan oleh tubuh dan otakku, semua ini menjadi teramat penting. Dan perlahan, aku merasakan lagi pertempuran untuk menaklukkan hal-hal buruk dan kepuasan untuk hidup tanpa rasa sakit.

Semua yang memang harus dialami untuk dipahami.

 

3 Pertanyaan

Allah, maukah engkau membantu menjawab pertanyaanku? Sederhana saja.

1. Kapankah waktu yang paling penting?

2. Siapakah orang yang paling penting?

3. Apakah hal yang paling penting untuk dilakukan?

Bagaimana jika aku mencoba menjawab ketiganya dengan: Saat ini, Orang yang sedang bersamaku, dan Peduli. Bagaimana menurutMu?

Untuk yang pertama, “saat ini”, barangkali kesempatan memang tak pernah datang dua kali. Ah tapi aku mungkin sering melupakannya. Tapi tentu saja, aku akan melakukannya. Jika aku memang perlu meminta maaf, mengucapkan rasa sayang, atau betapa aku berterimakasih atas suatu hal. Aku akan melakukannya sekarang, bukan besok. Bukan lima menit lagi. Sekarang. Lima menit seringkali sudah terlambat. Sekarang.

Kedua, mungkin akan sedikit mendalam untuk menjawabnya. Aku teringat percakapan dengan seorang teman ketika memikirkan jawaban ini, ‘siapapun yang ada di hadapanmu, mungkin kamu satu satunya orang yang perhatiannya tak pernah terbagi’. Kalimat itu masih perlu diuji oleh waktu. Tapi setidaknya saya menyadari, ada orangorang yang tampak luarnya seperti mendengarkan, tetapi dalam hati mungkin ingin aku cepatcepat pergi. Aku juga teringat, ketika mengajukan pertanyaan pribadi dan terkejut ketika si pendengar memberi perhatian penuh. Ia membuat aku merasa dihargai. Barangkali juga, tak peduli siapapun orang yang disampingku, adalah orang yang paling penting sedunia. Tak ada urusan yang lebih penting selain menghargainya. Dan karena saat terbanyak dalam hidupku adalah saat bersama diri sendiri, akulah orang yang paling penting untuk dihargai dan dihormati.

Terakhir, peduli yaitu berhati-hati. Terhadap diriku dan apa yang aku pertanggungjawabkan atas perbuatanku.

Bagaimana menurutMu, Allah?

*terinspirasi dari tulisan Ajahn Bram 

Apendic Acuta (1)

Siang itu saya ngeyel dan ngotot minta pulang. Tak menyangka dan lebih tepatnya tak terima kalau hasil USG saya positif usus buntu. Seketika dokter menyarankan persiapan operasi. Ketika hasil sudah di tangan, saya mulai pikir-pikir. Menatap nanar wajah ami yang waktu itu mengantar dan memaksa ke rumah sakit. Berbagai bayangan buruk dan pikiran negatif bermunculan di kepala. Sesenggukan menangis di bahu ami dan berharap semua akan baik-baik saja.

Ah… sudahlah, mari kita lanjutkan nanti saja

Terakhir

aksi

Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan urusanmu sendiri dengan baik, maka kamu akan kehilangan banyak waktu untuk membantu orang lain.

Dimana aku seharusnya sekarang hari ini?

Aku harus menunda waktu makan 1 jam lebih lama untuk menjawab pertanyaan disertai isak tangis itu. Lucu ya, bangun tidur dan merasa sudah merusak semua agenda yang sudah tertata apik dan manis sejak awal bulan. Bertahun-tahun sebelum hari ini aku cukup berhasil membangun pola hidup dinamis, produktif dan mengedepankan humanisme. Meskipun tidak siapapun tahu tentang itu  sepertinya aku cukup sadar untuk memilih sesuatu yang esensial berkaitan dengan diriku sendiri. Dan kemudian waktu berlalu… Aku, kamu dan mungkin mereka berpotensi dan tanpa sengaja mencorengnya dengan janji-janji. Lalu memakluminya hingga semuanya terlihat mudah lagi. Dengan jalan pikiran yang sudah dipermudah itu, berusaha lagi untuk bangun dan merancang step by step untuk mencapai tujuan baru lagi. Aku membayangkan punya tangan dan kaki yang bisa lebih tangguh untuk digunakan berlari lagi, bisa melompat kesana kesini ditengah gentingnya kehidupan orang-orang. Jadi akan selalu ada cadangan tenaga baru untuk menyiapkan lompatan yang lebih jauh. Lompatan yang lebih panjang dan mantap.

Begitu seterusnya.

Tapi apakah akan lebih mudah memulai sesuatu di atas kegelisahan masa lalu yang belum terselesaikan? Sadar nggak sih banyak pilihan yang “wajar untuk dipilih” di atas sesuatu yang lebih esensial? Dan bodohnya aku sering memilihnya.

Lupa sudah berapa tahun aku meninggalkan pola hidup yang dinamis-produktif-humanis.

Kangen.

Memang ya sulit untuk mempertahankan semua itu di tengah kehidupan yang semakin banyak pilihan. Pertemanan bertambah yang akhirnya membuatku bisa melihat lebih banyak orang dengan berbagai pilihan dan karakter. Aku sama seperti mereka, bebas untuk dilihat. Aku masih sama seperti mereka yang tidak perlu punya alasan untuk mengomentari, membuat keputusan, atau membuatku ragu. Aku hanya ingin melakukan. Mungkin itu.

Sisa masa kuliah ini, aku tidak mungkin mengakhirinya sebagaipribadi yang mencla-mencle, plin plan, tidak produktif dan tamparan keras macam penyesalan karena tak punya waktu. Ah basi. Aku tak sedang mencari siapa-siapa sebagai objek pengaduan. Biar kupilih saja diriku perang sendirian, menyaksikan pikiran dan perasaan saling berselisih, sekali lagi sendirian. Mencoba memaksa sekali lagi untuk bangun memulai yang sudah lalu dengan peringatan “ini yang terakhir”

Ini mungkin saatnya. Ini mungkin yang terakhir. Sakit memang, merasa tertampar, keras sekali tapi aku tidak hendak mematahkan semangat siapapun. Tapi sekarang, aku memilih ada di titik ini: berhenti untuk mempercayai siapapun.

Malang, 22 Desember 2016

PINDAH

Tulisan mbak Windy yang menempel di buku saya sejak tahun 2013 dan setiap hari selalu saya baca, kali ini saya melakukannya. Pindah.


pindah

Manusia bertahan hidup dengan melakukan perpindahan.

Akhirnya, setelah hampir enam tahun berdiam di tempat yang sama, suatu pagi, ketika mata baru saja memicing dari tidur, saya memutuskan pindah.

Iya, pindah. Ide itu muncul begitu saja di kepala saya. Padahal, di tempat yang lama, saya hampir tak memiliki keluhan sama sekali. Tempat tinggal lama saya seperti sebuah flat, bukan rumah, bukan juga apartemen. Ia terbagi menjadi tiga ruang besar yang masing-masing berukuran 3 x 4 m yang saya sulap menjadi ruang tamu yang juga berfungsi sebagai perpustakaan; kamar tidur yang juga berfungsi sebagai ruang kerja dan ruang nonton tv; serta ruang belakang yang terdiri dari kamar mandi, dapur, dan tempat mencuci.

Buat saya itu cukup bahkan terlalu luas untuk saya tinggali sendirian. Saya tak butuh ruang lebih besar yang ujungnya saya biarkan kosong. Tetangga saya adalah tiga lelaki bersaudara yang saya tahu berkuliah di IKJ dan menyukai vespa. Tapi sepertinya mereka menganggap saya kurang ramah karena jarang berbasa-basi. Padahal, saya suka vespa merahnya dan tergoda untuk mengendarai vespa itu keliling Ragunan. Tapi, sampai hari kepindahan saya, saya tak pernah meminjam vespa merahnya. Kami hanya sempat duduk di pintu rumah masing-masing yang bersisihan sambil ngobrol ala kadarnya tentang mengapa saya tiba-tiba pindah.

Si Sulung bilang itu mengagetkan. Mereka sempat menduga saya tak betah karena mereka suka berisik apalagi bila kawan-kawan IKJ-nya berkumpul. Saya bilang kepadanya, saya cuma merasa perlu pindah untuk mulai tidak lagi terbiasa. Dia cuma tersenyum, mungkin tak mengerti apa yang saya bicarakan. Lalu, kami berdua pamit dan sama-sama masuk ke rumah masing-masing.

Iya, saya cuma merasa saya butuh pindah agar tak terbiasa berdiam.

***

Menemukan rumah mungil yang saya juluki ‘Kandang Windy’ itu sepenuhnya konspirasi semesta, kalau saya boleh meminjam istilah ini untuk menggambarkan apa yang terjadi.

Setelah bangun tidur dan berpikir untuk pindah, saya berlari pagi seperti biasa, melalui jalur biasanya. Saban berlari di rute yang biasanya, saya melewati rumah minimalis yang bagian depannya dicat dengan warna-warna serupa permen—oranye, merah, biru—yang memberikan kesan hangat. Saban melewati rumah ini, saya sering berpikir, ‘Lucu, ya, kalau bisa tinggal di rumah ini.’ Tapi, rumah itu berpenghuni. Jadilah, setiap melewati rumah permen, saya menebak-nebak, seperti apa rupa penghuninya.

Pagi itu, rumah permen tampak melompong. Lampu teras rumahnya menyala sehingga saya bisa melihat dari pagar ke jendelanya yang tak lagi bertirai bahwa rumah itu telah kosong.

Deg! Ke mana penghuninya? Saya celingukan. Seorang ibu yang baru saja keluar dari rumahnya yang terletak di depan rumah permen menegur saya. ‘Rumahnya kosong. Penghuninya baru saja pindah semalam.’

Wah! Jantung saya seolah berlompatan. ‘Rumahnya disewakan nggak, Bu?’

‘Setahu saya iya. Tanya saja sama pemiliknya. Tuh, rumahnya pas di sebelah rumah itu.’ Hari masih pukul 05.15 pagi. Saya putuskan nanti sekitar pukul 10.00 kembali ke sini. Tepat pukul yang sudah saya tentukan, saya kembali ke rumah si pemilik rumah permen. Rumah itu tampak lengang. Petugas keamanan town house memberi tahu kalau pemilik rumah sedang keluar dan ia memberikan saya nomor telepon. ‘Kontak saja, Mbak. Siapa tahu, rumahnya bisa Mbak yang menghuni. Kalau dia nggak cocok, pasti dia nggak mau ditawar. Kalau dia cocok sama calon penyewa, biasanya bisa ditawar.’ Bapak petugas keamanan memberi tahu saya.

Singkat kata, saya mengontak pemilik, dan sehari setelahnya, saya resmi menjadi calon penghuni baru rumah permen itu. Tak pakai proses panjang. Tawar-menawar pun berlangsung singkat. Si pemilik cuma bilang, ‘Saya tahu Mbak suka lari pagi. Dan sepertinya Mbak orangnya menyenangkan.’

Pertama kalinya, saya menjawab ‘amin’ di dalam hati dan berharap saya memang bisa menjadi tetangga yang menyenangkan untuk orang lain.

***

Saya bukan orang yang memiliki konsep rumah sebagai sebuah bangunan untuk tinggal. Saya bahkan tak memiliki gambaran, seperti apa rumah idaman saya. Terbiasa berpindah dari kecil, saya belajar untuk tidak terlalu terikat dengan satu tempat. Saya bisa merindukan tempat-tempat tertentu dan buat saya merindukan itu seperti kompas petunjuk bahwa satu hari saya pasti kembali mengunjungi tempat itu.

Ketika sibuk  mengurusi pindahan, saya menyadari satu hal, semakin saya bertumbuh, semakin saya malas berpindah. Diam di zona aman itu hal yang menyamankan. Semakin pula saya kurang peka dengan banyak hal karena terbiasa. Terbiasa itu berpeluang menumpulkan. Tiba-tiba itu terasa mengerikan buat saya.

Saya putuskan, saya harus pindah. Secepatnya.

***

Pindah memang merepotkan. Dan juga terasa melelahkan. Namun, dibandingkan semua itu, hal yang paling membuat saya berdebar adalah memiliki tetangga baru dan tinggal di sebuah tempat yang berkonsep rumah.

Saya pernah memberi tahu bos saya—saya sebut dia Bos 2—kalau saya akan pindah. Komentar pertama dia, ‘Pindah kamar? Pindah kos? Pindah ruang?’

‘Pindah rumah.’ Saya sekali lagi menekankan. Saya pindah ke sebuah rumah.

‘Iya, kamu pindah ke kamar di rumah yang lain? Rumah di otak kamu, tuh, berbeda dengan orang lain.’ Dia juga menegaskan.

‘Nggak. Rumah dengan tiga kamar, dapur, ruang tamu, perkarangan. Rumah. Rumah yang dimengerti kebanyakan orang.’

Bos 2 terdiam. Dulu, waktu saya mengabari Bos saya yang satunya lagi—kita sebut saja Bos 1—kalau saya membeli rumah, Bos 1 juga tak percaya. ‘Ternyata, kamu masih orang Indonesia. Perlu memiliki rumah,’ katanya waktu itu. Saya bilang ke dia, alasan saya membeli rumah bukan karena saya butuh memiliki rumah, melainkan tekanan dari sekitar yang membuat saya merasa tak normal kalau tak memiliki rumah. Nyatanya, rumah yang saya beli itu tak pernah saya tempati, malah saya kontrakkan. Saya sendiri memilih tinggal di sebuah kamar besar dengan tiga ruang yang saya sewa di daerah Cilandak.

Akhirnya, Bos 2 bersuara, ‘Kamu sedang mengalami apa?’

Saya kurang paham dengan pertanyaannya. ‘Maksud Bapak?’

Kata dia, saya pastinya mengalami sebuah peristiwa atau percakapan dengan seseorang yang mendorong saya melakukan perpindahan itu—sebuah perpindahan gaya hidup, dan karena dilakukan oleh saya, itu sebuah perpindahan yang radikal. ‘Kamu mengalami revolusi pemikiran,’ katanya sambil tertawa kencang, ‘Pasti ada faktor pemicunya.’

Celakanya, saya tak tahu pasti apa faktor pemicunya kecuali saya merasa bahwa terbiasa itu menakutkan buat saya. Saya tak punya alasan bombastis—tetangga berisik, pemilik rese, mulai ingin berdiam, dsb—yang membuat saya terbangun pada pagi hari dan tiba-tiba memutuskan, ‘Pindah ah!’

Semuanya terjadi dengan cepat. Kurang dari 24 jam saya sudah menemukan tempat baru dan yang membuat saya tak percaya itu rumah permen yang sering saya lewati saban lari pagi. Proses yang terlalu cepat dan terlalu mudah. Tapi dampaknya, tak sesederhana yang saya bayangkan.

: perpindahan ini membuat saya cemas.

Saya cemas dengan banyak hal. Mulai dari tetangga, listrik, air, sampah, kebersihan, keamanan rumah, sampai tidakkah terlalu banyak ruang kosong buat saya di rumah ini? Apakah ini tidak terlalu berlebihan buat saya?

Akan tetapi, saya adalah orang yang percaya merasa cemas itu baik. merasa takut itu perlu. Semakin saya merasa gentar, semakin saya mendorong diri saya untuk menghajar. Saya yakin, kalau saya bisa melampauinya, berarti saya sudah melakukan satu gebrakan lagi dalam hidup.

Sebuah gebrakan di dalam hidup tak perlu sangat besar. Cukup dengan melakukan apa yang mulanya saya pikir saya tidak bisa. Berpindah posisi dari tidak bisa menjadi bisa.

Maka, pindah adalah sebuah gebrakan buat saya dalam kurun waktu enam tahun ini. Tindakan yang membuat saya belajar banyak hal baru dan mengkhawatirkan hal-hal yang selama ini tidak pernah saya cemaskan.

***

Padahal, kalau saya pikir-pikir lagi, pindah adalah hal yang manusia akrabi. Kita melakukan perpindahan sekecil apa pun itu. Pindah bangku (di sekolah saya, setiap seminggu sekali kami harus bertukar tempat duduk), pindah kelas, pindah sekolah, pindah rumah, pindah kuliah, pindah kerja, dan pindah hati—kata Raditya Dika.

Manusia melakukan perpindahan untuk menemukan kecocokan, belajar terbiasa, dan bisa juga karena terpaksa sebab hanya itu yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup. Di pelajaran Sejarah atau Antropologi, kita mengenal bahwa salah satu ciri-ciri kehidupan purba adalah nomaden—berpindah, tidak menetap.

Sejak saya dibebaskan oleh Papa berpindah sendiri—tak lagi mengikutinya, saya tak menyepakati itu sebagai ciri-ciri kehidupan manusia purba. Buat saya berpindah adalah cara paling instingtif yang dilakukan makhluk hidup untuk bertahan dan mempertahankan hidupnya.

Manusia bisa menemukan mana yang terbaik untuknya hanya dengan melakukan pergerakan, perpindahan, bukan dengan berdiam. Perubahan tak akan terjadi pada sesuatu yang dibakukan. Ketidakamanan membuat saya berpindah, berusaha menemukan tempat yang lebih baik, yang lebih nyaman.

Namun, saya juga belajar, bahwa kenyamanan menciptakan ketidakamanan. Dan perpindahan bisa terjadi karena itu.

Kenyamanan tak melulu lahir dari kebercukupan material. Rasa tidak nyaman karena terlalu lama berdiam membuat saya memutuskan beralih, bergerak. Rasa takut karena merasa kepekaan saya kian tumpul karena terbiasa membuat saya berpindah. Semakin lambat saya bergerak, semakin cepat kondisi itu akan membunuh saya.

Saya sadar, saya butuh pindah. Perpindahan yang saya lakukan adalah upaya saya bertahan. Upaya saya untuk tahu apakah saya telah menemukan sesuatu yang lebih baik. Dan itu adalah sebuah cara alami—kalau tak mau disebut purba—yang melekat pada makhluk hidup. [13]

 

Sibuk vs Prestasi

Sekedar sibuk tak berarti berprestasi

Sering melihat orang yang dalam hidupnya sangat sibuk sekali tapi nyaris tak satupun melihat prestasi yang ditorehkannya? Kita mungkin sering menilai orang dari apa yang sering kita lihat di kesehariannya. Tapi ternyata hal itu tidak berbanding lurus dengan sebuah prestasi. Alih-alih melihat bagaimana capaian prestasinya, melihat hal itu mungkin kita akan lebih mudah mengatakan “dia sok sibuk”.

Kemampuan mengatur aktivitas sehari-hari bisa jadi salah satu keahlian penting memimpin diri sendiri. Kita mungkin bisa menilai orang lain dari niat baik yang kita miliki. Tapi tak jarang orang lain justru menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Niat baik saja tidak serta merta membuat orang lain memiliki reputasi yang baik pula. Nama baik adalah serangkaian tindakan nyata disertasi prestasi.

“Tapi kan masalahnya waktu hanya 24 jam? Itu sangat kurang sekali untuk mengerjakan banyak hal?”. Kita sering mengatakan hal itu berulan-ulang, padahal tahukah kita bahwa masalah terbesar sebenarnya adalah kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Kebiasaan itu secara tidak langsung akan membuat prioritas pekerjaan dan aktivitas yang lain jadi bergeser.

Jadi apa yang kita perlukan? Agar waktu yang dimiliki bisa dimanfaatkan secara efektif, maka setiap hari kita membutuhkan rencana yang tertata dan tertulis. Selain itu kita dituntut untuk memiliki prioritas dan sasaran yang terukur serta batas waktu untuk mencapai target. Nah, dari hal-hal itulah maka kita bisa melihat pekerjaan mana yang bisa dilakukan (do), mana yang bisa ditunda (delay), didelegasikan (delegate) hingga yang tidak perlu dilakukan atau dihapus (drop).

Hanya karena kita bisa melakukan suatu pekerjaan bukan berarti pekerjaan itu harus kita lakukan. Kemampuan memilih dan mengukur kapasitas diri untuk menerima beban pekerjaan ada di tangan kita. Barangkali pilihan yang tepat akan membuat kita punya kebebasan untuk fokus pada satu pekerjaan dengan hasil yang maksimal.

Selamat bekerja!

Gubahan dari rubrik Leadership Insight dalam buku Lead Like A Tour Leader Karya Eddy Efendy & Paulus Winarto

a random thought

Aku hendak memaksamu tinggal… Pada kisah yang tak kuijinkan kau akhiri. Melepaskan segala dendam yang tak redam hanya dalam waktu semalam. Kutinggalkan sumpah serapah yang memperparah keadaan. Ternyanyikan segala sendu pada lirik:

Kurindu… Lebih baik katakan apa adanya bila memang rindu. Kurindu… Karena waktu tak kan mampu berpihak pada perasaan yang meragu. Kan kutempuh semua perjalanan tuk pulang ke hatimu…

Misi Pribadi

Apakah mudah untuk menyelesaikan banyak hal? Baiklah, saya akan mulai menuliskan hal-hal sederhana yang bisa membuat satu per satu hal akan lebih baik dilakukan. Sebut saja ini misi pribadi. Berkali-kali saya sudah menulis tentang ini dalam berbagai sudut pandang, baik dalam bentuk cerita maupun hanya sebagai catatan yang tertulis di buku. Sejauh mana ‘misi pribadi’ itu terlaksana? Sejauh keteguhan niat kita untuk melakukannya. Lalu apa yang ingin saya lakukan sekarang? Menulis ulang sebuah misi pribadi dalam sebuah narasi sederhana, yang ketika siapa saja ingin membaca, dia akan mudah memahaminya, begitupun saya.

Baiklah ini tentang apa? Tentang sebuah pengakuan dan tanggung jawab dari tulisan saya 8 bulan yang lalu di sebuah kertas yang saya tempel di dinding ruangan belajar. Apa isinya? Isinya adalah sebuah usaha untuk menyeimbangkan antara kuliah, karier, dan keluarga dengan sebaik-baiknya karena ketiganya penting bagi saya.

Waktu saya sangat berarti. Diri saya akan menjadi tempat paling nyaman untuk menemukan kebahagiaan bersama keluarga, teman, dan orang-orang yang ingin berteman. Mereka akan menemukan kenyamanan, kedamaian, dan kebahagiaan serta pelajaran baru. Selain itu, saya akan tetap berusaha menciptakan lingkungan tempat tinggal saya, diri saya, dan lingkungan sosial saya tetap bersih dan teratur, karena dengan dua hal itu semoga banyak orang betah untuk berteman dengan saya. Saya akan menjadi lebih bijaksana untuk memilih apa saja yang akan saya tonton, baca, makan, lihat, dan lakukan. Saya ingin menyelesaikan kuliah saya dengan tepat waktu tanpa menghalangi keinginan-keinginan pencapaian karier yang lain. Saya akan belajar untuk mengasihi, belajar lebih banyak, menyediakan waktu lebih lama untuk duduk bersama sambil berdiskusi, tertawa lebih banyak, tersenyum lebih sering, serta meluangkan waktu mengembangkan bakat-bakat yang lainnya.

Saya akan menjadi seorang yang menghargai sebuah hak dan kebebasan, tanggung jawab dan memiliki wawasan yang luas tentang banyak hal untuk memastikan bahwa saya berguna dan pantas didengar.

Saya akan menjadi seorang pelopor, yang mengawali sesuatu, yang selalu punya inisiatif dan gagasan untuk mencapai tujuan hidup saya. Saya akan menyikapi segalanya sebagai peluang dan pelajaran, bukan dipengaruhi olehnya untuk mengecilkan hati saya.

Saya ingin berusaha  lebih giat untuk membebaskan diri dari kebiasaan yang mengakibatkan kecanduan dan merusak. Saya akan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baik yang akan mendukung saya mencapai keinginan saya dan membahagiakan keluarga saya. Saya akan lebih produktif untuk mengembangkan kemampuan saya dan pilihan saya.

Dari waktu ke waktu saya akan belajar untuk lebih mandiri dari segi kepribadian dan finansial. KEINGINAN SAYA AKAN DITENTUKAN OLEH KEBUTUHAN DAN TUJUAN SAYA. Saya akan berusaha menjaga agar hidup saya bebas dari utang konsumsi, jajan yang tidak perlu, selain itu saya akan lebih rutin menabung.

Selain itu saya akan menggunakan uang, waktu, bakat, dan tenaga yang saya miliki untuk membuat hidup lebih menyenangkan bagi diri saya sendiri dan orang lain melalui berbagai hal yaitu melayani dengan kebaikan dan beramal.

Oke. Pertama-tama adalah sukses di rumah, di kehidupan pribadi saya. Kemudian mencari, menemukan, dan ditemukan oleh Allah. Kedua adalah kejujuran yang nyata, tidak ada kompromi. Ketiga adalah melihat siapa saja yang terlibat dan mau berbuat nyata. Keempat adalah menyediakan waktu lebih banyak untuk belajar sekaligus menargetkan satu kemampuan baru untuk dikembangkan setiap tahunnya. Kelima adalah menjadi pribadi yang punya sikap tulus tapi tegas. Keenam, tampaknya akan lebih menantang jika saya bisa mempersiapkan hari ini untuk pekerjaan esok hari. Ketujuh, berkomitmen untuk melakukan sesuatu selama menunggu, sekalipun itu hanya membaca artikel. Kedelapan, mempertahankan selera humor dan selalu bersikap positif, serta menjaga perasaan orang lain. Kesembilan adalah menjaga ketertiban dan waktu dalam pekerjaan. Kesepuluh adalah fokus pada apa yang sedang dikerjakan tanpa mengkhawatirkan pekerjaan lain yang akan datang. Kesebelas adalah tidak pernah takut berbuat salah tapi lebih takut jika tidak bisa produktif, konstruktif, kreatif, kritis, dan korektif atas berbagai kesalahan itu. Keduabelas, tidak pernah lupa untuk meminta nasihat orang lain. Ketigabelas, tepat waktu adalah karakter saya, sebisa dan pasti bisa saya akan tepat waktu menjalani kegiatan-kegiatan saya. Keempatbelas, saya akan hidup untuk potensi tak terbatas bukan masalah dan masa lalu yang membatasi.

Dengan semua hal yang tertulis di atas, saya akan lebih percaya dan memahami peran saya sebagai siapa dan ingin dilihat orang sebagai apa. Hal itu berarti saya bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan, imajinasi saya, keinginan saya, konsekuensi, dan naskah hidup saya yang sedang saya tulis. Sehingga saya bisa menemukan paradigma baru dan karakter yang menjadi sumber perilaku dan sikap saya sesuai dengan nilai-nilai yang saya pegang dan selaras dengan prinsip-prinsip yang saya yakini benar. Tindakan saya harus berintegritas. Saya harus bereaksi terhadap emosi dan keadaan bukan justru dikalahkan keadaan.

Malang, 3 September 2016 –Terinspirasi dari “The 7 Habit for Highly Effective People” untuk menuliskan sebuah misi pribadi.

Subuh

Ada yang menyembuhkan memar hatimu dengan lirih tilawah pagi, seperti yang pernah ust. Salim A. Fillah katakan. Aku sedang terus menggali kenangan subuh lebih dalam yang berulang kali bisa memenangkan kerinduan.

Membayar kerinduan pada subuh rasanya begitu mahal dan tak satupun manusia bisa membelinya. Semahal apa? Semahal menggantikan semua kebaikan hati orang-orang yang pernah ada di dalamnya.

Waktu itu dan sampai sekarang, tak ada yang melarangmu lari lebih pagi dari subuh jika ujung pelarian adalah kelegaan. Pun juga tak ada yang melarangmu tertawa lebih pagi daripada subuh jika itu mampu memberimu cinta.

Barangkali kau hanya harus pergi, sejauh mungkin lalu kembali, semampu yang bisa kau janjikan. Semoga Allah mengijinkan.