Hari ini kita melangkah lagi. Seperti hari hari sebelum ini. Kita ingat ingat lagi diri kita yang dulu. Kita pernah salah arah, kita pernah punya versi brengsek, tapi lagi lagi kita tidak cukup dewasa untuk melaluinya -lagi-

Advertisements

Ku Antar Ke Gerbang

20150418_092338Sepagi tadi saat jalanan belum bangun dari tidurnya, saya memulai perjalanan ke sudut kota. Jalan berkelok melewati pegunungan menjadi makanan yang saya lewati kali ini. Setelah kemarin seharian melintasi pegunungan malang, hari ini diperbatasan kediri-nganjuk saya bersama seorang teman mengunjungi sebuah SD terpencil dg jumlah murid yang hanya 121 siswa.

Dengan sebuah surat undangan dari Kelas Inspirasi, kami disambut hangat oleh pihak sekolah kemudian berbincang mengenai beberapa hal yang harus dipersiapkan menjelang Hari Inspirasi pada 4 Mei nanti. Kemudian kami, saya dan teman saya berkeliling melihat kondisi sekolah dan membidik foto untuk dokumentasi yang nantinya akan dipresentasikan kepada relawan pengajar saat briefing. Satu, dua kali memasuki kelas terlihat anak-anak yang kegirangan menyambut kami, antusias bertanya banyak hal tentang siapa kami. Maklum, mungkin di sekolah ini tidak banyak mereka berinteraksi dengan orang2 luar kecuali guru, orang tua, dan tetangga sekitar. Jadi begitu ada orang asing yang datang, mereka antusias untuk mengenal lebih jauh. Kami menjelaskan singkat pada mereka, bahwa kami juga berjanji nanti akan datang kembali bersama dengan para relawan pengajar dari berbagai profesi. “Kita akan buat acara seru nanti tanggal 4 Mei, jangan sampai bolos ya?” ucap saya pada mereka.

Ada sensasi luar biasa yang saya rasakan ketika ada di sekolah ini, anak-anak yang ramah, guru-guru yang setia mengabdi, rasa hormat yang barangkali saat ini sulit ditemukan pada anak-anak yang sekolah di perkotaan. Bagi saya, merekalah salah satu alasan kenapa saya harus bangun lebih pagi dan bergerak lebih cepat agar sampai lebih awal untuk mengawal mimpi-mimpi mereka sampai kegerbangnya nanti. Tidak ada satu hal pun yang saya ingini saat ini selain melihat anak-anak itu tersenyum dan memiliki mimpi yang tinggi lalu mewujudkannya. Di tengah berbagai keterbatasan baik ekonomi, lingkungan, dan sarana yang dimiliki, mereka masih punya tekad untuk berangkat menuntut ilmu. Tidakkah itu menjadi peringatan untuk kita? Bahwa sampai detik ini, pencapaian yang sudah kita raih sebagian adalah untuk mengabdi pada pewaris panggung kepemimpinan negeri ini, anak-anak itu. Banyak hal yang bisa kita pelajari, banyak hal yang bisa kita teladani, banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Ada banyak pula kesempatan untuk berbuat baik, salah satunya adalah mengabdi menghidupkan anak negeri di sudut-sudut ruang mimpi. Kali ini saya tidak hendak menjual mimpi tapi mengajak semua orang untuk punya rasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap pendidikan bagi anak-anak. Bahwa detik ini, tugas kita bukan hanya sebatas pencapaian-pencapaian yang tergantung di dinding kamar tapi juga menghidupi mimpi orang lain. Bahwa sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang diamalkan, bahwa sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Bahwa hidup, barangkali tentang pengabdian yang tidak meminta harta atau jabatan. Satu saat kita akan bangga, melihat senyum anak-anak di pelosok negeri yang mampu mengharumkan nama negaranya. Maka sejak saat ini, waktu dan tempat mempersilahkan kita para profesional, relawan, atau siapapun untuk bergerak dan mengabdi.

Terakhir, maka jika satu saat kami Engkau panggil ke hadapanmu Tuhan, ijinkan siapapun untuk bisa dan tetap meneladani pengabdian kami untuk anak-anak negeri. Sebisa mungkin, kami akan bangun lebih pagi mengantarkan mimpi mereka kegerbangnya.

Tulisan ini saya buat sambil menikmati hangatnya kuah bakso kikil sepulang dari sekolah.

Salam Inspirasi,

Farah Adiba

Kediri, 18 April 2015

http://www.farahadibanm.wordpress.com

Kepada Awan yang Menghadiahkan Salam Perpisahan

Pagi tadi langit sempat mengantarkan pesan soal awan yang akan menurunkan hujan. Tak biasanya aku bangun dengan malas, dengan setumpuk beban di kepala. Ada yang membahagiakan ada yang menggembirakan, langkah gontai menuju kamar mandi tak seceria mengawali pagi dengan senyuman. Kutekadkan untuk tetap melaksanakan banyak hal dan menyelesaikannya kemudian memilih membahagiakan diri memanjakan otak dengan buku. Pernah ingat sempat ada yang mengatakan, orang-orang yang liburan adalah mereka yang sudah selesai dengan tugas dan pekerjaannya. Dan aku ingin menyelesaikannya. Menyampaikan salam perpisahan pada mendung dan tugas yang belum terselesaikan kemudian digantikan oleh terang yang mengantarkan tangan menggapai kemenangan.

Semoga Allah Senantiasa Menguatkan Hati Sebagai Hadiah Kesabaran

Sepanjang hari kita akan terus belajar dari setiap perbedaan dan segala yang menyesakkan. Banyak hal yang kita temui kadang tak sesuai dengan keinginan namun disitulah ladang amal dan pelajaran bagi kita yang mau belajar dan mengambil pelajaran atasnya. Kita hidup dengan banyak orang yang punya banyak pula pemikiran, namun untuk menyadari bahwa pikiran kita tidak selalu benar adanya, maka ikuti kehendakNya bukan kehendakmu…

Malang, 24 Maret 2015

Segawe: Biji Masa Kanak-Kanak

wpid-wp-1428748143957.jpegSore ini aku berangkat ke rumah nenek, tepatnya di desa Duwet, Wates Kediri. Sepanjang perjalanan ditemani rintik-rintik hujan yang tidak terlalu deras, selama itu pula terbayang kenangan masa kecil yang sering bermain-main di sawah. Ya tiba-tiba ingatan itu muncul kembali di permukaan menjadi sebuah kerinduan tak tertahankan.

Saat menuliskan ini aku sedang berada di pinggir jalan sambil menikmati senja yang sebentar lagi datang dari ujung sana. Aku arahkan pandangan ke ujung jalan dimana aku bebas memandang sawah yang menguning. Sepi. Tapi disana kutemukan lagi bayangan masa kecilku yang asyik bermain, berlarian menyusurinya. Kepada tanah, aku melihat dengan teliti satu per satu biji berwarna merah yang jatuh. Aku mengenalnya dengan nama biji segawe. Biji merah kecil yang bisa dijadikan biji bermain dakon. Tahu kan? Ya begitulah banyak permainan yang bisa diambil dari hasil alam. Dari sini juga banyak pohon pisang yang pelepahnya bisa digunakan untuk bermain pasaran. Ah masa kecil dulu…

Aku sedang duduk di gubuk sawah untuk ‘menikmati sore’ bersama ayah, sekedar bermain ke sawah dan duduk di gubuk. Menghabiskan waktu bercanda jelang senja. Di desa selalu menyajikan satu hal yang mengantarkan aku pada diriku di masa kecil. Sederhana saja, seperti biji segawe yang pernah menyaksikan aku tumbuh dan ada, masih setia menemani sisa usia tanpa ikut menua

Di desa yang tak pernah hilang kenanangannya
11 April 2015

Rindu yang Terjaga Oleh Doa

Malam. Pukul 22.52. Sepanjang hari ini menyenangkan dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikan. Maklum seminggu lagi ujian akhir semester dan taarraaa semester 4 segera berakhir. Menyelesaikan satu per satu tugas cukup memakan waktu banyak, apalagi tugasnya lebih banyak berbentuk proyek membuat buku. Beruntungnya, masih banyak tersedia kopi dan mie instan yang menemani malam-malam untuk begadang. hahaha. Lihat saja, buku agenda dan list tugas sudah penuh dengan tinta merah pertanda tenggat waktu menyelesaikan sudah semakin dekat, sedang diri ini masih sering sibuk menikmati waktu untuk bersantai dengan jalan-jalan menikmati kuliner di jalanan kota.

Malam ini pula, satu buku sudah selesai dikerjakan. Tidak terlalu sulit untuk diselesaikan jika yang dimiliki adalah niat, keinginan kuat untuk serius mengerjakan tanpa gangguan facebook dan godaan menulis yang lainnya. haha. Secangkir kopi dan semangkuk mie menemani aku me-review lagi beberapa materi yang ada di buku, dibaca-baca kembali, kemudian sesekali diperbaiki kalimatnya. Oh rupanya, modem yang menancap di laptop lebih menarik perhatian dan meminta untuk tidak diabaikan, jadilah meng-close tugas ujian akhir adalah keputusan supaya otak tidak semakin panas. Maka tepat setelah menyelesaikan satu buku, dan menunda review lebih lama, aku ingin bebas dari kurungan teori untuk kemudian membaca tulisan beberapa teman di blog, sebut saja blog walking. Ah, sudah berapa lama tidak menulis? ucapku pada diriku sendiri. Jujur saja aku bingung, iya bingung mau nulis apa, tapi bagaimanapun menggunakan alasan writer’s block rasanya bukan hal yang tepat. Mengakui bahwa sedang malas mungkin lebih tepat ya? mungkin.

Dari sisi waktu, malam selalu setia menemani lembar-lembar kertas tugas yang aku kerjakan. Menulis kadang terabaikan jika kumpulan tugas sudah berkoloni meminta diselesaikan. Lagi-lagi, gagal menulis pada malam-malam sebelum ini. Oke, kali ini harus nekat mengeluarkan segala apa saja yang ada di kepala demi sebuah posting baru yang aah… dirindukan. Seperti itu, lalu?

Membaca satu per satu postingan teman-teman yang muncul di beranda blog, membuka-buka catatan beberapa bulan yang lalu, juga notifikasi yang berkali-kali memenuhi email cukup membuat aku rindu. Aku coba untuk menantang diri supaya lebih berani untuk ‘keluar’ dari posisi aman yang semakin lama membuat ketidaknyamanan karena tidak adanya kekuatan menghasilkan sesuatu yang baru. Tantangan itu bernama “self discipline” untuk kemudian tahu bagaimana dampaknya bagi diri sendiri di hari-hari berikutnya. Di satu waktu, pernah mendengar kalimat dari sebuah pengajian yang kira-kira bunyinya demikian “Istiqomah itu milik orang-orang hebat, mereka berani meninggalkan kenyamanaan untuk membangun kebiasaan baru” betapa kalimat itu sangat menggelitik dan mengusik hati untuk segera ditindaklanjuti dengan perbuatan yang sebenar-benarnya.

Satu kali… Dua hari… Tiga… Empat… Satu minggu…

Dan beberapa hari berlalu dengan tantangan “self discipline” sambil terus berdoa dan menguat-kuatkan hati untuk tetap menjaga niat. Tujuannya? sederhana saja, disisa waktu yang entah kapan berakhir, jangan sampai berlalu dengan sia-sia sedang Allah masih menitipkan waktu untukku. Demikian, setiap cerita selalu berkaitan dengan waktu yang harusnya mengajarkan kita untuk berterimakasih pada masa lalu dan perbuatan kita yang menyikapi waktu dengan bijak sebagai pelajaran.

Waktu sebagai sebuah proses, sebagaimana tugas-tugas ujian akhir yang semakin menumpuk dikarenakan waktu pengumpulannya bersamaan dalam satu minggu, maka kekuatanku untuk mendisiplinkan diri benar-benar diuji. Tanpa mengabaikan kesehatan, pola makan, dan hiburan bagi diri sendiri aku menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan, ya sesekali lembur bolehlah. Mau bagaimana lagi? dinikmati saja sebagai sebuah proses menjadi…

Tidak perlu aku ributkan pada kisah yang tersandung oleh waktu, tidak perlu juga aku memutar pada kenyataan. Cukup melakukan perbuatan karena kerinduan yang dialamatkan pada diri sendiri juga Tuhan perihal “berdisiplin diri” yang terjaga oleh doa-doa. Betapa setiap orang berhak atas kebebasan untuk membangun kebaikan pada dirinya, selebihnya biarkan waktu yang membuktikan sekuat apa niat yang ada pada diri kita.

Selamat malam, selamat beristirahat.

Di ruang belajar yang tertempel coretan pengingat! (23.46)

Kediri, 10 April 2015

Ibu Primary Object, Ayah Secondary Object : Ibu atau Ayah Pendidik Utama?

Journey of Sinta Yudisia

Mommy First
Dengarlah apa yang dilakukan Nosekeni Fanny, istri ketiga Mphakanyiswa.
Setiap kali anak-anaknya selesai bermain, Nosekeni menyiapkan makanan dan cerita heroik bangsa Xhosa. Cerita-cerita ini merangsang imajinasi suku Qunu. Salah satu cerita kegemaran putra pertamanya, Rolihlala adalah kisah seorang perempuan katarak yang menjadi musafir. Ia berkelana mencari orang yang mau membersihkan matanya. Tentu saja tak ada orang yang mau. Jijik! Namun, suatu ketika terdapatlah seorang pemuda yang bersedia membersihkan matanya. Ajaib. Usai membersihkan katarak sang perempuan tua, menjelmalah ia menjadi gadis cantik rupawan nan kaya raya. Pemuda itupun menikah dengannya.
Apa yang ditekankan oleh Nosekeni adalah bahwa pemberian dan kemurahan hati, suatu saat akan dibalas dengan ganti kebaikan yang tak terkira. Kisah itu menancap terus dalam benak dan hati Rolihlala hingga kelak ia menjadi tokoh perlawanan Apartheid yang dikenal sebagai Nelson Mandela.

Perempuan-perempuan yang luarbiasa berperan sebagai seorang Ibunda, melahirkan tokoh-tokoh yang dikenang sepanjang masa sebagai para Penakluk Dunia…

View original post 1,602 more words

mari Berkarya

 

setangkai pena, secarik kertas

 

Masih terlalu pagi untuk lelap dalam mimpi sebagaimana hari-hari sebelum ini.Waktu memang akan pergi, kesempatan tidak akan kembali. Maka selagi sepi masih sediakan imaji, aku rela bermanja dengan sajak-sajak sepi agar waktu tak tersiakan. Karena bagaimanapun, karya tidak akan mati, meski bertarung dengan gergaji waktu.
Ya, lagi-lagi karena sebuah pena yang membuat perkenalanku dengan malam tak sederhana. Berkarya.
‪#‎write‬ ‪#‎happyblogging‬ ‪#‎readingtime‬ ‪#‎night‬ ‪#‎berbagirasa‬ ‪#‎buku‬ ‪#‎puisi‬