Mendadak Hilang

Detik mengantarkan senja berganti malam diliputi sekelebat kenangan yang menjatuhkan mata di bawah remang lampu jalanan. Dipersilahkan kakinya melangkah lewati persimpangan begitu saja tanpa beban lain kecuali satu tanya sepanjang masa. Tidak ada yang berubah dari tanya itu semakin hari semakin matang untuk segera ditemukan jawabannya meski tidak harus datang bersamaan, sepasang tanya dan jawaban itu hanya butuh waktu dan kesabaran untuk bersitahan di satu keadaan yang tidak bisa dikembalikan seperti semula. Kehidupan yang dinamis membawanya pada satu tekanan untuk segera keluar dari tempurung aman dan nyaman.

Seandainya ia bisa dengan mudah memisahkan nasihat dan jebakan nafsu maka ia akan leluasa menemukan jalan untuk lebih cepat berdiri di posisi yang tepat. Sejak saat itu ia kehilangan detail terbaik sosok yang ia cintai. Ia kehilangan segalanya yang berarti dari setiap detail itu. Selamanya ia akan terus bertanya kembali bagaimana bisa detail itu hilang dari hidupnya berkali-kali, kenangan membelah genggaman tangan yang kasar digenggamnya “segalanya tidak bisa terjadi seperti sediakala!” pikirannya tak bisa diseretnya kembali. Berulangkali ia mendesak dirinya untuk kembali pada kehidupan awal, kendatipun ia tahu keadaan akan semakin kuat melawan, melempar semua hal ke titik terjauh untuk berdiri di depan pembelaan atas nama dirinya sendiri. Melupakan detail lain yang berarti untuk disusun menapaki tangga lain.

Di beberapa kesempatan ia berjalan dengan pegangan di sisi sebelah kanan tapi sayang justru membawanya pada kubangan lain kemudian jatuh tanpa sempat menengok atau berteriak di hadapan orang lain. Ia memilih jalannya sendiri, digenggam dan dibuka takdirnya sendiri, sampai satu waktu ia merasa berdiri di jalan yang salah, mencoba berbelok ke arah yang lain. Dengan bisikan keindahan lain perlahan ia meninggalkan semua yang pernah terjadi sebagai penyesalan. Tak bisa ia menjaga semua kotak itu rapi dan bersih, pahit kehidupan ia telan sendiri, ditutupnya dengan rapat.

Bukankah waktu bisa mengubah segalanya?

Hadirnya menjadi penerang sekaligus kegelapan, entah dengan cara apa menyibaknya ia masih menunggu sesuatu yang akan menyempurnakan kesalahan lebur bersama keindahan maaf.

Advertisements

Membersihkan Hidup

Sambil menunggu kawan lama yang tanpa buat janji langsung aku paksa untuk bertemu di sebuah tempat makan favorit kami, menjadi silent reader dari artikel yang baru saja di download adalah pilihan, sambil mengarahkan pena kesana kemari menyelesaikan remah-remah pikiran untuk dibaca ulang nanti kemudian diperbaiki.

Kadang-kadang tempat ini begitu bersih dan nyaman untuk mengobrol, sekalinya datang bisa menghabiskan cerita berjam-jam dan aku selalu punya waktu untuk itu. Kali ini aku harus bersabar dan menunggu lebih lama, tak biasanya tempat ini kotor meski aku harus tetap sama mempertahankan diri selama mungkin sampai kamu datang atau lebih lama lagi sampai perbincangan kita selesai dan rindu lunas.

Dengan keadaan yang begini, rasanya terjadi kontradiksi. Aku harus menunggu di tempat yang kali ini tidak nyaman seperti biasanya tapi di kesempatan yang lain ini adalah satu-satunya ruang yang akan membayar janji pertemuan kita tempo hari. Begitulah.

Jangan-jangan ini adalah caraNya… Mungkin.

Selama ini jika apa yang aku anggap membeli kebahagiaan adalah dengan melakukan dan mendapatkan apa yang diinginkan, atau mengejar apa yang disenangi, mungkin aku perlu mengkaji ulang apa itu yang disebut bahagia.

Atau… atau aku yang sudah konyol mengejar standar-standar yang dipegang orang lain?

Kemarin laki-laki tua penjaga pom bensin bercerita padaku tentang sekolah anaknya, tiba-tiba terjadi begitu saja saat aku sedang memakai sepatu di depan mushola. Hidupnya jauh dari deretan gelar dan kerumunan buku, sehari-hari ia berkawan sapu dan kain pel untuk membersihkan mushola dan kamar mandi yang ada di pom bensin. Di luar semua itu ia mengungkapkan kebahagiaannya melihat anaknya sebentar lagi akan bergelar sarjana. Katanya “apapun ya aku lakukan, mbak biar anakku sekolah, aku ya seneng lho.”, “Tapi ya gitu kok ada aja ya anak yang bandel gak mau lihat pengorbanan orang tuanya, aku dulu ga lulus STM nangis mbak, lha anak sekarang tinggal sekolah aja kok rewel!”. Dan seperti biasa aku hanya tersenyum berusaha menjadi pendengar yang baik.

Seringkali di beberapa kesempatan Allah menghadirkan kombinasi yang sempurna antara hati yang hangat dan pikiran yang dingin untuk mempercayai banyak cerita untuk membersihkan hidup dari segala sangka buruk.

Mempercayai bahwa keajaiban akan selalu datang menyelesaikan apa yang diragukan, bahwa semua yang sempat dan sering di adukan, satu per satu akan diberikan jalan penyelesaian meski berkali-kali harus sempat diambil alih oleh air mata terlebih dahulu. Yang salah seringkali aku menggunakan ukuran manusia untuk berlari dan sok-sok an menyelesaikan semuanya sendiri, padahal di sudut yang lain Allah senantiasa menyediakan ruang dan ukuran yang tidak bisa terjangkau akal manusia, ada takarannya tersendiri!

Jika boleh menyimpulkan, ujian-ujian yang Allah hadirkan adalah satu dari ribuan caraNya untuk membersihkan hidup kita. Untuk kita yakini seyakin-yakinnya keterlibatan hati dan pikiran kita adalah dan hanyalah menaikkan level pasrah kita, merapikan ibadah-ibadah kita, menabung ikhtar sekaligus mengepulkan doa-doa sambil membuka hati selapang-lapangnya untuk menerima dan memaknai semuanya. Adalah jauh dari lulus ketika ujian yang belum seberapa itu mengikis spirit ibadah yang sudah bertahun-tahun dibentuk. Hari ini, aku merasa pantas mempertanyakan kualitas ibadah dan hidupku selama ini?

Bagaimana?

 

 

 

 

 

Aku Pernah Senista Itu

Seberaninya kamu begitu, menoreh luka yang bagimu tak akan terlihat. Bagaimana bisa kamu demikian lacur mengambil satu per satu kenangan yang lama aku sulam. Aku tak habis pikir kamu tega meniadakan kehadiranku di sampingmu yang kemudian menyergap kesadaranku untuk segera angkat kaki dari bagian peristiwa hidupmu.

hey, kamu kira aku akan membiarkanmu mengotori hidupmu dengan tujuan-tujuan yang tidak beralasan itu? Kamu tahu kan hidup kadang memang tak memberikan alasan tapi sedari awal kita sepakat untuk tidak menyepakati apa-apa dan membiarkan semua berjalan apa adanya.

Tapi rupanya semua yang tidak kita sepakati tak cukup membuat kita sadar dan mengerti penjelasan yang tidak pernah ingin kusampaikan dalam bahasa verbal. Rupanya hati kita tak lagi dekat seperti dulu, yang hanya cukup dengan tatapan mata bisa mengartikan semua yang aku rasa dan inginkan. Kali itu cukup repot membiarkan orang lain bertanya-tanya tentang apa yang kita rasa. Aku yang berpura-pura lupa padahal tak pernah berhenti mengingat .

Menyeramkan, ada yang sudah tak sehat rupanya.

Pernah aku berupaya mengambil keputusan penting untuk menutupi semua kesalahan, berdiri di tengah badai yang jika waktu menghendaki kapanpun siap menghantamku. Menyerang nasibku dan nasib orang-orang di sekitarku, membuat mereka punya alasan untuk terluka dan pergi menjauh dari sisiku.

Sepanjang waktu, aku susah payah menjaganya kemudian berdalih tak mau mengakuinya. Sia-sia saja, semua mendadak menyeramkan, pengap, dan terabit di dalam folder kisah kehidupan. Maksudku, aku ingin melepaskan semuanya untuk tidak lagi melekat saat aku tumbuh dan berkembang.

Bagaimana bisa dipatahkan jika aku pernah senista itu menyimpan semua ketakutan dan ketidakmampuan menyampaikan maksudku?

 

Hari

Aku lupa menghitung hari yang pertama diciptakan Tuhan untuk memulai perkenalan ini. Sekecil apapun lupa itu, aku punya segala cara untuk mengenang nuansanya. Karena setiap kali aku memulai perbincangan denganmu, desir dan degub indah itu selalu meracuni ruang di dalam tubuhku, menikmatinya, menghayati, dan merasakan makna yang aku petik selembut ini. Sehingga aku tak pernah sedikitpun kehilanganmu, potretmu tak pernah lepas dari pelukan pikirku.

 

Pada suatu hari, aku tak punya alasan untuk pergi atau terpikir mengusirmu. Hari dan hidupku sudah terpasung untuk terus bertarung di belantara hatimu menerabas semak semak ilalang dari perkenalan tak berujung. “Aku” katamu, “adalah orang aneh yang membangun kenangan lengkap dengan segala jenis perasaan”, katamu begitu anggun setiap kali mengutarakan rindu yang tertimbun.

 

Sebatang Lilin #3

Awal kehidupan justru baru dimulai

Gemericik usia baru kau eja

Alangkah bahagiamu engkau giring

 

Pada sebuah usia tergambar dewasa

Rentang masa yang harus kau rawat

Abaikan hempasan keluh, kesah, dan resah

Demi secangkir bahagia duduk di beranda saat senja

Nun jauh disana kita terpisah jarak, tapi aku tetap berdoa

Yang menggantung tak pernah surut mengirimkan titik-titik cinta

Aku tak bisa menutup doaku

 

Waktu akan buktikan

Indah batinmu yang terjerat rindu

Dan keraguan semoga luluh, dihempas segala yakin

Apa lagi yang bisa kau pegang?

Genggam masalalu selama kita menatap ke depan

Dengan harapan semoga tersiar canda tawa

Atas namamu yang makin mendewasa

Hujan dan Ketiadaan

Aku ingin tuntas menjelaskan bagaimana kamu berjalan melewati jalan sunyi. Cangkir susu ketiga yang kamu letakkan di samping kacamata menjadi tanda bahwa dini hari tak juga sanggup menyelesaikan pekerjaanmu. 24 hours is always not enough! Begitu katamu –selalu. Derai hujan pernah menyaksikan kakimu yang kasar melintasi jalanan sepanjang hari. Aku mencoba untuk tidak tampak kaget ketika berbicara denganmu, sebab aku ingin jadi yang menenangkan bagimu. Bagimu, aku tetap anak kecil yang selalu ingin terlihat hebat di hadapan keadaan. Kamu sering menangis diam-diam, mengecup kesunyian yang menjadi perantara mengusap kesedihan. Aku sering menangis di depanmu, menyandarkan tubuhku pada detak hangat nadimu yang menjadi alasanku bertahan disampingmu.

Tepian waktu rapi menyimpan catatan pinggir semua petak kehidupanmu, sadar atau tidak perlahan membuatmu tidur dalam kelelahan. Berkali kubaca matamu untuk tidur tenang tanpa beban pikiran. Mengistirahatkan diri dari rasa sakit yang memiliki definisi sendiri di hatimu. Bukan karena penyakitan tapi beban sesak sering terhirup di antara waktu perjalanan. Entah apa, banyak orang-orang terdekat yang ingin kamu tetap bertahan, memperjuangkan kehidupan yang dihadiahkan Tuhan sekaligus menimbun pahala dari setiap kesabaran menghadapi permasalahan.

Tak pernah aku dengar kamu ucapkan lelah meski muatan peluh semakin deras bercucuran. Di ujung kayuhan sepeda, kalut melayang bersama dingin. Tak pernah terbayangkan semua lelah bertumpu pada sedih, pada sebuah ketiadaan yang membuatmu bertahan. Tidak ada yang lebih menguatkan selain ketiadaan, yang akhirnya membuat aku semakin paham dimana letak hatimu yang sebenarnya.

Kesengajaan

Sebermula pertemuan itu. Tak ada pengakuan yang diutarakan sepanjang perkenalan. Begitu saja, dua mata menyimpan penasaran diam-diam. Semuanya semakin tidak wajar ketika aku menyeret pikiran keluar untuk menjawab pertanyaan yang kuajukan sendiri. Malam menjadi rumah bagi segala jawaban. Dalam ketenangan yang semakin diam sungguh mudah sekali masuk ke kotak hipotesis yang menyimpan kegilaan bersama keindahanmu.

Kamu datang menyuguhkan ingatan, tentang titik hidupku yang kamu sendiri belum pernah ada di dalamnya. Disulam satu per satu sepasang jalan tanpa ragu dengan ratap yang semakin yakin mengusap peluh satu sama lain. Bagaimana bisa dua orang yang tak pernah saling tatap menyimpan rasa tak tampak yang luar biasa hebat, berusaha menelan kerinduan yang disucikan oleh kesabaran. Tenggorokanku tercekat, masing-masing kita membayangkan apa yang kita bicarakan, dan kamu katakan “aku tak berhak cengeng lagi!” demikian katamu. Terang-terangan niatmu berkasih sayang dalam diam tersampaikan. Tampaknya bagi kita, merasapi diam dalam-dalam cukup jadi isyarat yang membuat kita paham mengapa Tuhan menciptakan alur ini sekalipun kejujuran masih tinggal di selembar keberanian.

Bagi orang lain, semua terlalu sulit untuk diartikan, sekedar meraba pertemuan yang tak lagi menjadi gerak kaku. Perasaanmu dan perasaanku adalah milik kita sendiri. Diam-diam kita saling memecah langit kosong melambungkan doa-doa, kesengajaan yang dipamerkan Tuhan dalam kebetulan.

Meski butiran ragu perlahan runtuh, kita tetap sibuk bertanya dan menanya sampai kapan mengubur diri menatap ganjil hari-hari? Toh, perasaan kita semakin hari tumbuh-meninggi menancapkan yakin di ulu hati?

Kita bagai dua garis lurus yang saling berpegangan tangan dan terus berbicara, tapi sayangnya tidak pernah berusaha berdiri di bawah kerudung badai, sementara luka sering melayang-layang bagai selendang, menyimpan ledakan-ledakan tangis yang lain. Apa lagi yang perlu dijawab dan dipertanyakan? Kesengajaan ini sudah jelas mengejutkan manusia nyinyir. Begitu sukar disiatkan.

Aku menjadi sadar atau berpikir harus menyadari?

Sebatang Lilin #2

Debu apa yang kamu susupkan di hatiku

Elok merangkul tak mau pergi

Nadakan harapan di ruang permintaan

Iramakan kasih tanpa gentar

 

Sedikit doaku semoga sempurnakan usiamu

Entaskan segala duka lebih bijaksana

Tutup ragu di lembar tahun barumu

Ikatlah duka dengan tawa, patahkan ragu dengan yakin

Acapkali hidup dirasa hambar, keluarlah

Walau banyak ketakutan tumbuh, teruslah berbenah

Akan kuakrabi dirimu dengan lembar kenangan

Narasikan catatan kisah cinta hingga renta

Sebatang Usia #1

Berurai haruku melihatmu

Antara sejarah dan masa depan

Gemericik canda rekah seketika

Untai tangga cinta bernama kita

Sebutir kata yang sukar kuabaikan

 

Satu lagi hari terlepas dari kepalamu

Engkau hirup usia baru

Terbentang karpet merah, melintaskan harapan

Ikat segala lelah tanpa resah

Yang terketik mencipta kegigihan

Aku datang dengan segenggam doa

Wujud kasih selama kita berpeluk yakin

Angankan bahagia bersamamu

Nyanyikan setia yang dirayakan