Catatan Pinggir #1 Memulai

Saya kembali memulai.

Melalui semua proses dari tahun ke tahun, saya kembali memulai. Sedikit demi sedikit menseriusi banyak pilihan. Saya kembali memulai lalu mencoba mengenalnya lebih dekat. Saya kembali memulai memperjuangkannya walau tak terhitung berapa banyak percobaan dan perubahan. Saya ingat beberapa perubahan sedikit demi sedikit menambah keyakinan untuk tidak pernah membenci apa yang sudah pernah dilakukan. Tidak ada putus asa dan berhenti, cukup dengan mengistirahatkan pikiran entah dengan cara apa selama beberapa hari, kemudian melakukannya lagi.

Setiap hari Saya akan kembali memulai. Dan merasa lebih bahagia daripada hari ini walau Saya menyadari bahwa hari ini pun sudah terasa bahagia dengan apapun kondisinya.

Allah, sebaik engkau menciptakan kesempurnaan atas jiwa ragaku sejak lahir, sesempurna itu pula engkau mengerti apa yang ada di dalam hatiku. Sesempurna itu Engkau memahami setiap inci persoalan yang ada padaku. Sebagaimana manusia lainnya, kekurangan dan kekhilafan tak pernah alpa menghampiriku. Di antaranya aku pernah berdosa, marah semarah-marahnya padaMu, menyengaja dosa agar terlihat baik di mata manusia, menyetujui kebohongan untuk menjadi mayoritas di antara sesama, atau apapun bentuk kesalahan yang dimaklumi dengan alasan kebaikan. Namun, bukan Engkau Allah jika tak membuka pelukan yang menenangkan? Bukan Engkau Allah yang tak memaklumi setiap tetes tangisku sebagai penebus segala prasangka? Bukankah Engkau yang selalu siap menerimaku kembali bagaimanapun keadaanku?

Allah, barangkali detik ini mampuku hanya sebatas maaf dan perlahan menyudahi dosa-dosa yang menggenangi keresahan hati. Mampuku hanya ini, mengistirahatkan pikirku dalam alunan dzikir sambil membasahi air mata sebagai bahasa paling anggun untuk menyesali setiap kesalahan yang membayang. Allah, jika mampuku masih sebatas itu, bisakah Engkau tetap menyunggingkan senyum dan melebur prasangka atau dosa-dosa menjadi kerelaan untuk mencintaiMu sepenuh jiwa?

Bolehkah aku memesan sebuah pelukan tanpa jeda agar aku bisa menyampaikan maaf dengan begitu santun sekaligus bercerita dengan segala bahagia karena aku beruntung memilikiMu sebagai yang maha kasih bagi semestaku. Bisakah? Allah aku ingin menjadi kekasihMu yang Engkau sembunyikan dari riuh ramai manusia tapi akan sangat mudah Engkau temukan di antara salah satu surgamu karena kebaikanku, dzikirku, maafku kepada sesama, atau barangkali ibadahku.

Meski aku tak pernah tahu persis, seberapa banyak atau sedikit kebaikan, ibadah, atau dzikirku yang Engkau terima di sisiMu. Terimalah keseluruhan aku sebagai hamba terkasihMu. Amiin.

 

Dear Mami #11 Alasan

Namun kesetiaan bukan sesuatu yang bisa dibeli hanya dengan gombalan dari seorang anak ingusan yang merindukan kasih sayang. Sekalipun bersumpah atas nama Tuhan, tapi di hadapan Tuhan segala kemungkinan bisa terjadi.

Pagi tadi aku kembali terisak setelah gelagapan karena bangun kesiangan. Aku membalikkan badanku, mengarahkannya sejajar dengan cermin. Aku melihat berbulir-bulir air mata mengalir, tangis tanpa suara di bibir. Aku mengangguk, ‘Aku tidak akan sanggup melepasmu,’ kataku lirih, ‘Aku tahu aku bukan siapa-siapa, bukan anak yang sempurna, bukan teman yang baik. Aku jahat, katamu. Tapi mengapa itu tak kita bicarakan sejak awal? Kenapa kita harus jadi seorang pengecut?’

Buku-buku berserakan di bawah, kertas-kertas tak sengaja terinjak saat kakiku berjalan ke dekat jendela mengambil selembar tissue putih, menggerakkan tanganku mengusap air mata yang mulai deras. ‘Apa tak cukup semalaman menangis?,’ kataku, ‘Aku selalu cemas merespons kisah-kisah seperti ini, aku tak tahu harus menjawab apa, memberi masukan apa. Aku tahu perempuan itu temanmu dan kau tahu aku akan selalu ada di pihakmu hanya karena aku mengenalmu lebih lama darinya. Aku tahu.’

‘Lalu apa yang kaumau?’

‘Pengakuan. Kejujuran? Mi mau aku ada di hadapanmu dan mengaku bahwa aku tidak akan meninggalkanmu?’ Aku bertanya yang aku jawab-jawab sendiri.

Aku mengusap ingus dan tersenyum. Merapikan buku-buku yang berserakan di bawah.

Dan keberanian adalah salah satu bentuk ketulusan. Kita memberanikan diri mengatakan yang sejujurnya tentang bagaimana perasaan-perasaan kita. Mi memenangkan kisah kita malam kemarin. Kisah ini selalu menjadi dongeng kita, sama-sama berjuang memelihara perasaan yang kita tidak tahu akan jadi seperti apa. Sebagaimana kukatakan padamu sejak awal, aku tak ingin ada yang mengganggu kita. Aku tak ingin menyediakan hatiku untuk terus-terusan menjadi korban segala sangkamu dan terus-terusan membuatmu merasa bersalah. Tidak.

Perempuan kerap kali merasa khawatir sendirian. Tapi rasanya sendirian akhir-akhir ini jauh lebih sakit. Aku mengembuskan napas panjang-panjang.

Sebelum nanti aku tiba-tiba muncul di depan rumahmu. Aku ingin sekali lagi memastikan bahwa tak ada yang pasti dari kecemasanmu. Dan aku merasa perlu mempertahankanmu dengan menegaskan pada diriku sendiri bahwa senyummu tidak akan pernah berubah. Aku ingin membuktikan itu, maka kubuka lagi file foto-foto kita di laptopku, tentu akan terasa sedikit melegakan. Pikirku.

Bagimu, rasa-rasanya lebih sakit disodori kenyataan pahit yang kau ketahui dari orang lain. Namun, kenapa tak kau katakan saja dengan terang-terangan apa yang kau takutkan, Mi? Toh aku juga tidak akan pernah bosan mendengarmu menegaskan banyak hal padaku. Aku sering berpikir kenapa keberanian untuk mengungkapkan jauh lebih mudah dikatakan ketika kita sudah merasa lebih sakit? Kenapa kita menjadi penakut?

Aku tidak akan membuatmu merasa mencintai sendirian karena aku juga mencintaimu.

Aku duduk di hadapan meja dengan mata menerawang. Aku mencoba menyisipkan senyuman sebelum menulis personal motivation setiap pagi. Kali ini aku menuliskan namamu di daftar pertama mengapa aku harus berbahagia hari ini: Karena ada mami yang menyayangiku.

Ah, aku selalu punya alasan sempurna untuk tampak baik-baik saja di depanmu. Hari ini, namamu adalah alasan pertama mengapa aku harus berbahagia. Kau tahu itu kan, Mi?

Malang, 3 Mei 2016

Selamat Berhasil

Far, sayangku, kebanggaanku. Terimakasih dan selamat aku sampaikan padamu atas keberhasilanmu melatih diri sendiri hingga sampai di titik ini. Pencapaianmu kemarin mengagumkan, menjadi 30 besar dari sekian ribu orangg yang mendaftar pada seleksi beasiswa di sebuah negara eropa sana.

Bagaimana rencana pengembangan dan pertumbuhan dirimu selanjutnya? Aku harap map plan yang kamu buat cukup berguna sebagai serangkaian pedoman konkret untuk bertindak. Aku bangga, karena itu menjadi salah satu bagian terpenting dari proses, yaitu merencakan hasil.

Selamat sekali lagi untukmu sayangku. Selamat atas keberhasilanmu, ini satu hal yang baru, luar biasa, dan patut diapresiasi. Tulisan ini adalah salah satu bentuk apresiasinya. Aku melihat kehebatanmu karena mau menghargai dirimu sendiri dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat, menantangnya, membuatnya berguna dan memeluknya ketika jatuh, tanpa meninggalkan. Tanpa peduli berapa kali kamu harus jatuh dan merangkak. Hebat.

Tentu saja aku ingin menyaksikan lagi kolaborasi yang sempurna dari dirimu. Aku yang jiwa dan kamu yang raga. Apa lagi yang akan kita lakukan, yang akan kita kerjakan agar bermanfaat lebih banyak lagi? Satu per satu kita akan bersama menyelesaikan kemenangan setahap lebih maju setiap harinya. Katamu, ‘hidup yang tak dipertaruhkan adalah hidup yang tak pernah layak untuk dimenangkan’, bukan? Jadi mari kita bersama berjuang saja mempertaruhkan semua hal terbaik yang kita miliki. Kita akan berkolaborasi menjadi hebat dan memukau.

Selanjutnya, proses seleksi beasiswa yang kamu ikuti itu akan masuk pada tahap wawancara. Tenang saja semua akan berjalan lancar dan berhasil kamu lewati  jika kamu mempersiapkan diri untuk tampil menjadi yang terbaik dari versimu. Aku hanya meminta tolong agar kamu tidak bosan dan semakin rajin belajar, mencari-cari materi wawancara, menggali karakter diri/personality, sekaligus menganalisis kemungkinan jawaban yang kamu pikir tepat. Kemudian jadikan semua itu bekalmu untuk maju.

Kamu masih ingat cita-citamu, kan? Sekolah setinggi-tingginya dan menerima ilmu sebanyak-banyaknya kemudian memanfaatkan sekaligus mengabdikan diri sebaik-baiknya bagi banyak orang. Tentu saja sebaik versi yang kamu punya dan bisa persembahkan. Jadilah sebaik-baiknya dirimu.

Nak, hidup memang keras dan tak mudah tapi kamu jauh lebih keras dan tak mudah dikalahkan. Kini, kita punya banyak alasan untuk terus bangun dan maju. Jadikan itu sebagai sumbu untuk mengaktifkan kekuatan-kekuatan pribadi, atau bisa juga untuk menyalakan lilin orang lain yang cahayanya mulai redup. Hidup tak melulu soal diri sendiri kan?

Pencapaianmu adalah bukti bahwa kamu telah melaksanakan tugasmu menjadi pribadi yang berkelas: mencoba dan mendorong diri sendiri untuk maju hingga bisa menolong diri sendiri berpikir positif dan merasakan bahwa semua itu penting. Pasti ada hal yang bermanfaat dari setiap keputusan dan peluang. Tapi juga jangan lupakan pasti ada pula hal yang kurang menyenangkan setiap hari akan muncul. Percayalah tidak ada titik puncak tanpa langkah pertama, tidak ada pencapaian tanpa tugas dan pengorbanan. Nikmati saja.

Kali ini, ijinkan aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kita punya sekotak keajaiban di pikiran, sekotak hal berkualitas di pribadi kita, sekotak ketulusan di hati kita. Kita punya semua yang berkualitas dan kompeten dari diri kita sendiri. Jadi mari kita percayai bahwa semua hal terbaik itu akan bekerja sama dan berlaku adil.

Sekali lagi selamat ya, selamat berjuang lagi. Selamat memetik hasil dari akumulasi kegigihan, kekuatan, kesabaran, doa, cinta, dan perasaan-perasaanmu. Sukses sayangku.

Malang, 2 Mei 2016

Dear Mami #10 Ditemani Senyummu

 

Pada hari-hari biasa kita seperti orang-orang kebanyakan, menikmati waktu dengan kesibukan rumah tangga sambil bercanda. Kita adalah dua orang yang selalu berhasil mengunci ingatan untuk tetap tinggal di rumah. Lembut suara nyanyianmu sepanjang hari menjadi lubang bagiku mengadu canda. Aku hapal apa saja yang Mi lakukan setiap hari setelah sekian Tahun menjadi pengamat paling sempurna di hidupmu.

Semestinya jarak sudah tak ada lagi, meski tangis sering menyayat-sayat kebersamaan kita. Mi tahu yang tersisa dari kebersamaan kita? Wajah-wajah yang letih memantul di spion kendaraan melewati ruteku mengantarmu pulang. Sepanjang perjalanan kita banyak jalan yang mulai di perbaiki, tak menyisakan genangan dan geronjal lagi begitupun senyummu yang semakin hari berganti dengan haru.

Tapi kehangatan rumah tak ada tandingannya dibanding lelahmu. Lalu aku putuskan untuk tinggal beberapa waktu sebelum berpindah untuk sekolah. Kulihat rumah masih jadi tempat muara sejati berbagai peristiwa yang kita lewati seharian. Tawa kita merambat hingga leher, malam menggantung senyummu lebih lebar seperti badan kita yang semakin hari lebih lebar karena berbahagia.

Semakin malam aku semakin yakin, senyummu akan turun ke hatiku. Mengurai semua keluh dan kesah menjadi kisah yang menentramkan. Ditemani senyummu aku bisa menuliskan cerita lebih cepat seperti yang tak pernah bosan aku lakukan: menulis tentangmu.

Dengar. Helaan napas kata yang timbul tenggelam dari keyboard laptop melenggangkan mimpi dan angan-angan lebih bersemangat tak mau mengistirahatkan pikir yang letih bekerja.

Aku selalu ingin menulis di depanmu, sampingmu, atau dimanapun yang tak jauh dari sisimu sebab aku tak pernah takut kehilangan makna seperti yang berulang kali aku katakan: Aku mencintaimu dengan segenap prasangka baik.

Rumahmu,

1 Mei 2016