The Secret Letter of The Monk

Take the time to learn from your mistakes… Kataku setelah baru saja menyelesaikan dua bab buku “The Secret Letter of The Monk Who Sold His Ferrari. Ada sedikit kutipan yang aku tulis walau sebenarnya belum selesai terangkum sepenuhnya dari buku tersebut.

  1. Tapi kuharap kau bisa berfokus pada kesempatan yang dapat kau raih daripada ketidaknyamanan yang mungkin kau hadapi. Bagaimanapun, hidup adalah perjalanan, dan yang terpenting bukanlah apa yang kau dapat, melainkan menjadi siapa dirimu.
  2. Caramu berhubungan dengan orang lain menunjukkan caramu berhubungan dengan diri sendiri. Kau orang baik tapi kupikir kau tidak selalu memperlakukan dirimu seperti itu.
  3. Kita manusia biasa, tak punya kemampuan untuk membangun sesuatu yang begitu mengagumkan dalam sekejap. Kita harus sabar. Kita harus membangun segalanya perlahan-lahan, satu bata demi satu bata. Sebesar apapun keinginan kita untuk meraih hal-hal yang hebat dalam waktu singkat, bukan begitu cara kerja dunia kita. Kecerdasan adalah sebua proses.
  4. Tindakan paling kecil sekalipun selalu lebih baik daripada niat paling ambisius. Dan Hasil selalu bicara lebih lantang dari kata-kata.
  5. Dalam pandanganku, pekerjaan adalah kendaraan untuk lebih mengenali bakat kita, mengungkapkan lebih banyak potensi kita, dan memberi manfaat pada sesama manusia.
  6. Aku belajar bahwa aku lebih kuat daripada batas-batas yang kubuat. Dan bagiku, semua alasan yang kubuat tampaknya hanya kebohongan yang berusaha ditanamkan oleh rasa takutku.
  7. Kita mungkin lebih mudah untuk melakukan salah terhadap orang-orang terdekat kita, karena kita menganggap mereka akan selalu lebih mudah untuk memaafkan.

(bersambung)

Dear Ami #24 Kisah Singkat

Di folder tulisanku tahun 2017 ini belum banyak tulisan yang dihasilkan. Apalagi didukung oleh suasana hati dan kesehatan yang sedang mendung.

Hujan yang turun setiap sore selalu menjadi klimaks dari cuaca kenangan yang memukau dan terus saja minta diingat. Tentang kejadian setahun kemarin, aku akan menjaganya sebagai yang tak pernah ada. Aku ingin kita melupakannya, barangkali melupakan merupakan salah satu pekerjaan amal untuk tetap saling memiliki. Aku akan mengenang bahwa di masa lalu ada kebahagiaan tak terdefinisi yang kita nikmati dan di masa depan aku tetap ingin menikmati itu. Sehingga siapapun yang pernah kita kenal dan mengenal kita akan mencatat kita sebagai satu kisah yang tak terganti. Warisan kisah yang tak setiap orang bisa memilikinya.

Kemarahan kita sepanjang tahun ini adalah muntahan dari ketakutan dan kegelisahan yang selama ini menghukumku siang dan malam. Sedang pengakuanmu adalah permulaan dari kesunyian panjang yang kumiliki memaksaku berpikir.

Perasaan apa yang sedang kita rasakan kali ini? Di luar mataku tak ada yang bisa kulihat selain dirimu, selain dirimu yang naik turun angkot pagi dan sore. Aku masih melihatmu setiap pagi, menemui tiap sore. Tapi apakah sore nanti hatimu akan baik-baik saja untukku? Apa sore nanti aku masih milik rindu-rindumu? Apa sore nanti kamu masih akan pulang denganku? Setidaknya ada kebiasaan-kebiasaan yang tidak pernah hilang darimu. Kebiasaan itu tak pernah berkhianat dariku yang mudah pelupa. Ia menyuburkan khayalanku setiap waktu.

Cerita apa yang sedang aku tulis sekarang? Apa yang bisa kamu baca dari cerita itu? Berulangkali aku menulis dan membaca kisah yang terposting di blog pribadiku. Ceritanya menggemaskan, terlihat seperti drama padahal itu memang benar terjadi. Tak setiap orang akan bisa mempercayai kisah ini. Aku sampai sering susah tidur dan tak nyaman pergi ke cafe. Cafe tempatku biasa meramu cerita kita. Ah, tapi aku akan bisa menulisnya dimanapun. Aku tak ingin kehilangan cara menuliskan kenangan kita agar tak berganti rupa.

Kapan terakhir kali kita terjebak hujan lebat? Di ruang tamu ingataknku masih ada senyummu saat memberikan baju ganti. Katamu, biar aku bisa ganti saat aku kehujanan. Kenyataannya, memang aku sering berganti baju ketika basah kuyup oleh air mata. Aku diam-diam mengagumimu yang tak lelah menjadi tempatku pulang. Bukan sebatas pertemuan basa-basi atas nama rasa kasihan. Ada tiga lebih puisi yang diam-diam aku bisikkan di depanmu, sambil menatapmu lekat. Air hujan selalu lebih pandai menyampaikan segala perasaan rindu.

Pada akhirnya, aku memilih mencintaimu. Aku memilihmu tanpa paksaan. Aku tak rela menyingkirkan girangku terhadap pertemuan kita. Ini bagian dari takdir. Waktu yang membuktikan bahwa kali ini hidup dan cinta bukan hanya milikku sendiri tapi milikmu, milik orang-orang yang terlanjur aku cintai dan mencintaiku. Untuk alasan macam itu, aku bertahan menghindarkan diri dari kesepian.

Tapi, baiklah. Aku tak ingin bicara panjang lebar lagi soal ini. Bukannya aku tak ingin mengingat sama sekali. Aku hanya sedang ingin menunggu usaha terbaikku membuatmu kembali kehujanan rindu seperti malam-malam dulu.

Aku menulis kisah ini di atas kereta api; sambil tak sabar melewatkan pertemuan kita sore nanti. Semoga aku masih kebagian kebahagiaan.

 

Kepada Hati, Tentang Diri

Untuk luka yg pernah begitu hebat memaksamu jatuh, terimalah…

Untuk rasa khawatir dan ketakutan berlebih yg karenanya kamu sesali, maafkanlah…

Untuk pengampunan yang tak berujung kepuasan, maklumkanlah…

Untuk setiap cara yang tak sempurna, pahamilah…

Untuk seucap ingin yang tak terungkap, berikanlah senyuman…

Terimalah kembali dirimu, dengan kelapangan dan rasa hormat. Meski kotor berdebu dan munafik. Terimalah… Ia datang untuk memeluk dirinya sendiri, mengusap-usap perihnya sendiri, membersihkan luka-luka di tubuhnya…

Seberapa Melelahkan?

Tak ada yang bisa disembunyikan dari air mata, juga gerak tubuh yang semakin menunjukkan ketidakberdayaannya. Lagi-lagi aku membenci pembahasan ini. Tapi bunga-bunga di meja kamar yang daunnya mulai kering dan berguguran mengajak berpikir sejenak.

***

Hampir genap dua bulan proses pemulihan pasca operasi yang dijalani. Tak ada perubahan yang berarti selain keluh dan kesah yang semakin bertambah. Lelah. Menghabiskan waktu di kamar untuk memikirkan keluh tak berkesudahan. Bagaimana menurutmu? Menyedihkan bukan?

Proyek-proyek kebaikan yang pernah dirancang perlahan terabaikan. Ide-ide mengendap menjadi debu menyesakkan ruang kepala. Kemeja-kemeja putih yang biasanya menjadi semacam trademark untuk menunjukkan semangatku, menggantung harum di lemari tak tersentuh lagi.

Seberapa melelahkannya hidup dengan langkah-langkah yang tak lagi terdefinisi?

Bagaimana caranya bertahan? Memaksa diri untuk belajar, untuk membaca, untuk bertarung dengan semua nasehat yang terucap maupun tertulis. Memaksa setiap nafas di segala waktu untuk mengucap istighfar sekaligus syukur. Sejatuh-jatuhnya hidup, ada lidah yang tertatih-tatih untuk menguatkan diri sendiri. Menjadi pendukung sejati.

Tak peduli seberapa tinggi ketidaksukaanku, tak peduli penolakan yang dilakukan oleh tubuh dan otakku, semua ini menjadi teramat penting. Dan perlahan, aku merasakan lagi pertempuran untuk menaklukkan hal-hal buruk dan kepuasan untuk hidup tanpa rasa sakit.

Semua yang memang harus dialami untuk dipahami.

 

Kanker yang Menyelamatkan Hidup

Teman-teman, karena banyak yang memintaku menterjemahkan paparan Anita Moorjani ini, maka ini adalah terjemahan dari paparan tersebut. Selamat menikmati dan semoga berkah dan bermanfaat. —- Sungguh sangat senang berada di sini. Saya sangat bahagia melihat anda semua. Tahukah anda, bahwa alasan terbesar mengapa aku sangat bahagia berada di sini, adalah karena aku seharusnya sudah tidak […]

melalui “Ternyata akulah yang membunuh diriku jauh sebelum ada kanker. Kanker menyelamatkanku.” — Indira Abidin’s Blog