3 Pertanyaan

Allah, maukah engkau membantu menjawab pertanyaanku? Sederhana saja.

1. Kapankah waktu yang paling penting?

2. Siapakah orang yang paling penting?

3. Apakah hal yang paling penting untuk dilakukan?

Bagaimana jika aku mencoba menjawab ketiganya dengan: Saat ini, Orang yang sedang bersamaku, dan Peduli. Bagaimana menurutMu?

Untuk yang pertama, “saat ini”, barangkali kesempatan memang tak pernah datang dua kali. Ah tapi aku mungkin sering melupakannya. Tapi tentu saja, aku akan melakukannya. Jika aku memang perlu meminta maaf, mengucapkan rasa sayang, atau betapa aku berterimakasih atas suatu hal. Aku akan melakukannya sekarang, bukan besok. Bukan lima menit lagi. Sekarang. Lima menit seringkali sudah terlambat. Sekarang.

Kedua, mungkin akan sedikit mendalam untuk menjawabnya. Aku teringat percakapan dengan seorang teman ketika memikirkan jawaban ini, ‘siapapun yang ada di hadapanmu, mungkin kamu satu satunya orang yang perhatiannya tak pernah terbagi’. Kalimat itu masih perlu diuji oleh waktu. Tapi setidaknya saya menyadari, ada orangorang yang tampak luarnya seperti mendengarkan, tetapi dalam hati mungkin ingin aku cepatcepat pergi. Aku juga teringat, ketika mengajukan pertanyaan pribadi dan terkejut ketika si pendengar memberi perhatian penuh. Ia membuat aku merasa dihargai. Barangkali juga, tak peduli siapapun orang yang disampingku, adalah orang yang paling penting sedunia. Tak ada urusan yang lebih penting selain menghargainya. Dan karena saat terbanyak dalam hidupku adalah saat bersama diri sendiri, akulah orang yang paling penting untuk dihargai dan dihormati.

Terakhir, peduli yaitu berhati-hati. Terhadap diriku dan apa yang aku pertanggungjawabkan atas perbuatanku.

Bagaimana menurutMu, Allah?

*terinspirasi dari tulisan Ajahn Bram 

Advertisements

Sedetik…

Sedetik yang kuikat… Tak ada kata meminta

Sedetik terlepas… Tersisa ketiadaan

Tanyamu… Menjawab mungkin

Sedetik… Terlewat

Terlempar sebongkah nyali,

Terkubur perasaan dengan cara rahasia

dan sepenggal kata Mbak Himsa yang digubah, jadikanlah cukup bagi sedetik itu…

Aku mau memperjuangkanmu. Tapi kamu tak perlu tahu. Karena itu kamu tak perlu tahu apa-apa. Kamu juga tak perlu tahu perasaanku, apalagi rinduku. Agar jika suatu saat hatiku di balik olehNya, kamu tak akan jatuh terlalu sakit. Atau jika suatu saat kamu harus memilih orang lain, aku pun sudah siap melapangkan hati. Begitulah. Pembenaran demi pembenaran kurangkai sedemikian rupa, menjadi tameng untuk menyembunyikan ketidakberdayaanku. Ya, aku mau memperjuangkanmu. Tapi kamu tak perlu tahu.

Sepilihan Sendu

Mimpimu malam itu, menggugurkan kilauan senyum di wajah. Tak ada yang menina-bobokkanmu di malam yang dingin itu. Kamupun sendirian berjelaga memikirkan harapan. Dari beberapa tikungan di pikiranmu, kamu pungut reruntuhan daun, kamu usap-usap agar menjadi bersih. Melakukannya adalah satu hal yang kamu suka walau entah berapa kali daun-daun itu akan kotor lagi atau bahkan hilang.

Sepilihan daun yang bergantian terbang tertiup angin, pikiranmu menggumam oleh ketidakpastian dari pertanyaan: Apa yang harus kukerjakan?

Jam dinding itu masih berdetak saling bersahutan menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutmu.

“Ini sudah jam berapa?” tanyamu pada diri sendiri, “Hei aku sedang menunggu atau ditunggu?” Kamu lanjutkan tanya itu sekali lagi pada dirimu.

Tampaknya kamu begitu rindu pada kebahagiaan dan ingin berhenti menjejali pikiran dengan keriput masalah.

“Tuhan masih siapkan berapa kali lagi kegagalan?” Kali ini kamu heran, siapa yang berhak menjawab tanya itu. Bukan dirimu yang pasti.

Tiba-tiba pertanyaan itu membuatmu tersentak dan duduk di tepian kasur. Tiba-tiba kamu merasa sangat haus. Tapi yang kamu lakukan bukan minum, melainkan menghitung. Kamu hitung perlahan, mencoba menemukan angka yang tepat dari setiap kegagalan yang pernah kamu usahakan untuk berhasil. Ruanganmu kini mendadak sunyi oleh perenunganmu.

“Pikirkan yang akan kamu rangkai kembali. Bukan merangkai pembelaan yang membenarkan ketidakberdayaanmu!”

Hening. Kemudian ada yang menari dan menyanyi bersama cahaya itu.

ps. Tulisan ini ditulis 18 September 2016, awalnya enggan memposting di blog tapi rupanya angin sore yang menerbangkan lembar-lembar buku, menunjukkanku pada selembar kertas. Tulisan ini.