Ada banyak definisi hidup yang tertanam di kepala setiap orang. 270 hari di tahun ini rupanya cukup menambah definisi hidup di kepalaku: Hidup adalah rangkaian kebetulan yang berguguran membentuk isyarat. Kadang ada yang begitu rapat enggan mengakuinya, beberapa orang berkenan menghadirkannya sehingga masih menyimpan keyakinan. Siapapun berhak menyangkal dengan segala sangka tentang kebetulan-kebetulan itu. Tapi barangkali kita harus mulai belajar menggunakan kebetulan sebagai barometer langkah-langkah yang akan terbentuk. Cuaca tidak akan selamanya cerah, hujan tidak selalu turun. Lebih bijak menyikapi kebetulan dengan berada di tengahnya. Berada di tengahnya, terus berjalan, dan membawa payung. Bahwa kita harus meyakini, kebetulan hanya salah satu cara Tuhan agar kita tidak salah jalan.

Aku adalah narasi yang tak habis digali. Maka kehidupanku adalah dedikasi, cinta, perjalanan yang harus menjadi pena kebaikan. Kebaikan jangan kalah semerbak dengan keburukan. Manage your life as soon as possible. -a random thought

Foto

Kenangan berjejal ke riuh waktu

Mendudukkan semuanya pada selembar kertas

Kemudian berhasil melengkungkan garis di bibirku

Kamu, dengan tarian kisah yang berlompatan

dari satu foto ke foto lain

Semuanya, menetas dari album lama yang kita bolak-balik

Aku kira aku adalah orang pertama yang akan bercerita panjang lebar dari setiap lembar foto yang aku simpan. Ternyata tidak. Malam ini aku bisa membuat kesimpulan: siapa saja akan menyusun batu bata kisah antara masa lalu dan masa kini, menemui dirinya yang dulu dengan tersenyum, menangis haru, dan dikepung pertanyaan dari lembar foto yang meminta perhatian untuk mendeskripsikan perasaan masa itu: yang terlukis di foto.

“Ini siapa?”

“Dimana nih?”

“Oooh… pas umur berapa nih?”

“Kalau yang ini kok kurus banget ya… pasti ini 25 kilo yang lalu ya?”

“Acara apa ini? Kapan? Sama siapa aja nih?”

Itu hanya sebagian tanya yang datang selalu sungguh-sungguh ingin aku dapatkan jawabannya dari selembar foto. Foto yang baik adalah foto yang bercerita. Begitulah definisi sebuah foto yang aku dengar dari banyak pegiat fotografi. Tadi, setelah tiga buku dongeng selesai aku baca, puluhan lembar foto menyambutku di luar kamar. Memanggil perhatianku untuk tenggelam di antara dua pilihan: tersenyum atau tertawa di hadapan cerita masa lalumu. Hal itu membuatku tenang, sebab aku tidak perlu teori-teori intelektual untuk menangkap ceritamu. Aku selalu tahu bagaimana perasaan yang tepat untuk bersenang-senang dari lembaran foto saat kamu membeku pada puluhan tanggal dalam kalender, melewati masa kecil, tumbuh bersama, juga segala hal yang selalu layak untuk dikenang.

Aku tidak tahu persis bagaimana hidupmu waktu itu namun aku tahu persis bagaimana kamu akan selalu hidup dengan kenangan di lembaran foto itu. Dengan malu-malu, kamu bersedia membuka semua jendela dan pintu yang terbaca dari foto itu kemudian mengajakku merasakan sensasinya. Kita tertawa membiarkan detik berjalan mundur ke masa lalu, ruang ini menjadi riuh oleh kamu yang mengingat setiap detil kisahnya. Tak cukup sampai disitu, semua lembar foto ini membuatmu lolos menjadi penutur cerita terbaik di hadapanku. Bibir, mata, pipi, tangan, dan semuanya entah kenapa membuatnya dengan mudah mempresentasikan fase hidup yang bermetamorfosa dari waktu ke waktu.

***

Sebagian manusia terus bergerak dan waktu berjalan maju, tidak ada pilihan lain untuk mengenang hidup selain merekamnya pada lembar-lembar foto hingga kemudian pada suatu waktu di masa depan kita percaya dengan hal-hal di sekitar kita yang dibuat beku oleh jepretan lensa.

“Akan jadi apa nanti aku setelah kita semua lulus?”

“Eh nanti kalau udah pada punya anak, kasih lihat mereka ya foto-foto kita dulu pas kuliah…”

“Wah kapan ya kita bisa kumpul lagi?”

“Ih ini nih buat kenang-kenangan gue pernah kurus pas jaman ini.”

“Om, nanti foto pas aku main pasir tadi, aku aja ya yang simpen. Biar aku inget… ya?”

Bahkan tanya itu pernah terlontar dari mulut dimana waktu itu kamu tengah berbahagia mengandaikan masa depan dan merekamnya di selembar foto agar tidak kehilangan diri sendiri. Hari-hari itu kamu mengabadikan peristiwa agar tidak dilupakan dan terlupakan. Kini saat semuanya sudah berlalu, kamu masih hidup dalam lingkaran semua kenangan, semangat, dan peristiwa di masa itu hanya dengan cara sederhana: membuka album foto yang kamu simpan di almari kamar.

Dan… tap! Kraaak!! kamu merekam semuanya.

Kamu tidak pernah terlalu tua untuk tertawa atau terharu dan menyaksikan dirimu ada ketika kembali membuka lembar-lembar foto itu sebab kamu kembali melihat saksi hidup yang membuat sadar betapa hebatnya kamu sekarang, betapa berharganya hidupmu sekarang, dan betapa berjasanya mereka yang telah menghebatkanmu seperti sekarang. Maka untuk menjadi penutur terbaik dari sebuah lembar foto yang sempat diabadikan adalah hidup layaknya fotografi yang hanya fokus akan hal-hal penting saja.

Malang, 18 September 2015

Sehari di Kamar

Aku lupa pada detik keberapa bisa terlelap, yang aku rasakan hanya nafas penuh rapalan doa. Tak tampak memang tapi ketenangan menjalari seluruh tubuh. Sebelumnya aku bergegas masuk kamar. Kepala makin kliyengan, pandangan mata pun berkunang-kunang, perut mulai mual, kemudian gubraak…!!! tubuh sudah tidak sadarkan diri di atas kasur. Terbangun dengan penuh tanya yang seakan menghantuiku dan terus saja menindasku, bagaimana pekerjaanku nanti? Ketika semuanya hanya bisa dilakukan di atas kasur kesibukan yang rutin akan semakin dingin karena ditelantarkan. Aku masih saja menatap jam dinding itu. Sebentar lagi, waktu akan berganti pukul 11 siang. Waktu yang seharusnya digunakan untuk memenuhi janji bertemu seorang teman membicarakan beberapa unit usaha miliknya.

“Kamu mau makan apa?” tanya kakakku dengan nada cemas yang hanya aku jawab dengan gelengan kepala.

Suatu kali pernah kejadian seperti ini. Banyak yang harus dikorbankan, kerepotan dimana-mana membuat aku tidak leluasa melakukan kegiatan yang sudah diagendakan, sudah menyita perhatian, dan pikiran. Terdengar suara detik yang lebih parau, rangkaian kegiatan satu hari yang aku susun rapi di handphone akhirnya terbengkalai.

“Aku mau minum…” pintaku

“Mau makan bubur ‘nggak?”

“Istirahat aja ya, nggak usah kemana-mana. Aku temenin.” Tambahnya sambil memberikan gelas minum untukku.

Tidak, biarkan begini saja, keluhku sambil menelan sesal di hati. Apakah aku akan menuruti keinginanku untuk tetap melakukan kegiatan hari ini, menelantarkan sakitku, kemudian berpura-pura ceria? Atau aku mesti istirahat seharian di atas kasur ditemani buku bacaan yang menumpuk di meja atau beberapa video yang aku download seminggu kemarin. Barangkali, ya, tetapi buat apa?. Kepalaku sudah dipenuhi bayangan seharian yang membosankan tanpa kegiatan hanya terbaring di kasur, segalanya terasa begitu menyesakkan.

“Aku kan cuma sakit biasa” Sanggahku agar bisa tetap keluar hari ini

“Sakit biasa kok pake pingsan, nanti kalau di jalan kenapa-kenapa gimana? Emang siapa yang mau anterin pulang? Ngeyel!!!”

“Yaudah iya iya aku istirahat!” ucapku ketus.

Sepanjang hari itu aku memang merasa ditemani, aku menyerah juga padanya dan tubuhku. Saat-saat itulah sebenarnya aku punya kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh, sementara obat dan makanan menjadi hidangan hari itu. Aku berusaha untuk tidak memikirkan apapun lagi selain diriku sendiri. Aku tahu, ada yang lebih dibutuhkan oleh tubuhku agar bisa melakukan banyak kegiatan lagi keesokan harinya. Kali itu, tubuhku sudah mengakui kalau ia sakit tapi aku membiarkan pikiranku beralasan.

Ah sudahlah.

Pecahnya Sekelumit Doa

Jangan pernah terlalu sibuk untuk orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Kira-kira begitulah judul bab sebuah buku yang disodorkan kakakku ketika aku sedang asyik membaca novel. “Mmmm ya ya…” Sahutku tanpa menghentikan keasyikan membaca sambil tersenyum tipis. Benakku lalu terkenang berbagai kejadian yang pernah terjadi dan perasaan yang kemudian terlempar jauh karena betapa terasa waktu telah banyak menghilang dari diriku. Kemudian aku menghitung segala keluh, kesempatan yang gugur dari Senin ke Senin menyuguhkan kenyataan yang tidak bisa terhindarkan. Rangkaian kegiatan satu per satu tersusun kemudian berguguran dan hilang tergantikan oleh yang lain. Seperti itu terus setiap harinya sampai semuanya berputar semakin cepat karena sudah terbiasa.

Entah siapa namanya tapi aku sedang memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang ada di dekatku, sekitarku. Ketika aku terus berpacu mencapai apa yang diinginkan, kadang pernah jatuh dan tersungkur tapi tak jarang melewatkan banyak hal di sekitar. Pada detik ke berapa aku tidak paham yang jelas seringkali aku dengan mudah membuat alasan untuk menghindar dari banyak orang, berjalan sendiri menikmati waktu dan kehidupanku. Dunia memang kejam, seringnya memaksa berkejaran dengan waktu dan berjalan tanpa henti, melupakan orang-orang di sekitar. Kehidupan pun sebenarnya telah mengajarkan bahwa apa-apa yang kita kejar termasuk kesuksesan apa pun tidak ada artinya jika tidak membentuk diri sendiri, kehilangan kesempatan bersama orang-orang yang dicintai dan mencintai kita.

Di luar sana, pohon-pohon memayungi jalan di bawahnya, aku meletakkan buku bersamaan dengan cangkir teh kedua yang aku minum. Aku tulis sebuah pesan pada aplikasi messanger kepada kakakku. Tepat pukul 21.07.

“Semangat yaa buat kerjain tesisnya… jangan capek-capek… Bismillah pasti kelar, ikhtiar tidak akan mengkhianati hasil sekalipun banyak yang bertindak tak adil, Allah punya catatan sendiri untuk mereka yang menuntut ilmu dijalanNya, sesuai aturanNya, karenaNya. Tidak perlu iri dengan coretan nilai dari tangan-tangan manusia, setiap nilai punya berkahnya sendiri dan jadilah saja dirimu yang melakukan sesuatu dengan segenap kemampuan terbaik yang dimiliki… Setidaknya dengan itu sudah kamu cukupkan dirimu menjadi teladan bagi banyak orang di sekitarmu dengan proses-proses yang memang harus kamu selesaikan sampai final. Kita, manusia memang hanya sanggup menyelesaikan hari ini, urusan-urusan lain biarlah menjadi hak Allah yang suatu saat akan kita temukan pemahamannya yang bermuara di saat matahari hampir tenggelam. Apapun yang terjadi, tetaplah bersujud agar bisa tunduk di saat yang lain angkuh, agar bisa teduh di saat yang lain runtuh, agar tetap kamu tegar saat hati ini terlempar. Jangan pernah lelah, istirahat kita bukan di sini tapi nanti saat kita kembali.”

Lama sekali tidak ada jawaban, mungkin karena sudah malam dan ia sedang tertidur di kamarnya.

Tengah malam aku masuk ke kamarnya, melihatnya terlelap di samping serakan buku dan kertas-kertas. Agaknya selama tiga bulan terakhir sejak sidang proposal tesisnya, ia sibuk berduaan dengan laptop di kamar atau nongkrong di perpustakaan. Senyumku mengembang melihatnya terlelap, tak sampai hati membiarkan ia sibuk sendirian.

“mmm… Loh kamu udah lama duduk disitu?”

Wajahnya menengok ke arahku yang duduk di tepian ranjang, sepasang matanya yang merah menahan kantuk mencari mataku. Ada penasaran di sana, membuatku tersenyum.

“Masih ngantuk ya? Yaudah tidur lagi aja…” kataku “boleh gak kalau aku di sini? Aku pinjem bukunya ya?”

“Mau baca buku apa sih? Kamu gak tidur, kan udah malam ini?” tanyanya penasaran saat aku malah terdiam. “Tubuhmu dan badanmu juga punya hak. Semua bisa menuntut haknya, tapi kamu memang harus tahu apa yang harus diprioritaskan, ditunda, atau bahkan ditolak.” Lanjutnya dan aku masih terdiam.

Aku tidak melihatnya membuka-buka handphone tapi ia terdengar membaca pesan yang kukirim tadi malam. Sekelumit doa dan terimakasih kemudian pecah di kelopak matanya. Matanya basah oleh tetesan air. Ada suatu rasa yang membahagiakan tapi bercampur juga dengan haru dan lelah terpancar dari matanya. Ya, mungkin ia masih melihat kebanggaan lain sementara sikap cuek yang selama ini aku tunjukkan seperti tidak mungkin membuatku mengirim pesan seperti itu, di saat-saat ia berjuang menyelesaikan kuliahnya.

Hening kembali. Kulihat ia yang berusaha mengusap air matanya, dan untuk beberapa menit aku kembali tenggelam dalam kehangatan yang ingin kupelihara nuansanya. “Udah gak usah  nangis, aku bakal nemenin sampe kelar. Jangan capek-capek!”, Ia mengangguk dan tersenyum. Entah apa yang aku pahami hari itu, aku hanya ingin melakukan hal sederhana yang jarang kusadari, sesederhana memilih antara apa yang diinginkan dan apa yang baik bagi orang lain. Persis seperti yang sudah kupikirkan, aku akan selalu berjalan beriringan dengan orang-orang yang punya doa untuk dipecahkan dalam berbagai keadaan meski tidak selalu berbentuk ucapan. Aku punya segenap daya pendengaran, penglihatan, dan berbagai isyarat yang harusnya sudah kuhapal bagaimana bentuk rapalan doa yang akan dicetuskan di luar sana. Apapun bentuknya. Aku sering tidak menyadarinya karena terlalu sibuk berhubungan dengan masa depan. Barangkali ini saatnya untuk ada dan hadir sepenuhnya di hati dan waktu yang mereka miliki, merapal doa untuk orang-orang yang dicintai dan mencintai.

Menata Hati

Sebab perbincangan kita terlampau panjang untuk diurai dengan banyak pertanyaan yang tidak kita pahami jawabannya, belakangan kita sibuk menerka berbagai prasangka atas sikap orang-orang yang entah kenapa bergantian datang dan pergi membawa tawa, air mata, kecewa, doa, bahkan sikap yang tak disangka-sangka. Sebagai manusia yang punya perasaan, betapa naifnya jika harus menolak kecewa meski bisa mengerjap senyum di hadapan mereka. Betapa kita berdaya berbagi tawa di hadapan mereka tapi lupa hati macam apa yang nantinya akan kita persembahkan di hadapan Allah saat kita akan beradu canda denganNya memperbincangkan kebaikan kita di dunia ini. Kita hanya manusia yang dititipi segala piranti olehNya, apa-apa yang kita cemaskan, pikirkan, dan kerjakan semua akan berpulang. Maka untuk semua yang belakangan sibuk kita perbincangkan, biar aku akui satu hal bahwa “biarkan aku, ijinkan aku menata hatiku sendiri setelah apa yang banyak sekali kita alami dari pertemuan dengan berbagai macam orang. Seperti yang pernah aku katakan, rasa aman dan nyaman tidak akan pernah membohongi perasaan. Akupun demikian, sebelum aku kembali menerima kenyataan ada banyak hal yang mengecewakan bahkan datang dari orang-orang yang sebenarnya dekat dengan kita, biarkan aku menata hati. Meluruhkan segala ego dan prasangka, meletakkannya pada tempat yang kita sebut samudra keikhlasan. Biarkan aku menata hati sampai bisa kuhadirkan senyum terbaikku atas nama kebaikan yang Allah perintahkan.” Baiklah, akan kusederhanakan pembahasan kita…

Kira-kira demikian…

Kita dipertemukan kepada banyak orang yang punya kelebihan dan kekurangan. Perlahan tapi pasti kita mengenal setiap rasa dan logika yang melekat pada tubuh mereka. Terjadilah kedekatan fisik, kedekatan emosi, bahkan mungkin spiritual. Setelah banyak kejadian dan kesempatan dengan berbagai pendekatan itu terjadi dan terlewati bersama mereka, tentu saja ada satu dua hal yang sempat ikut menangis bahkan menertawai air mata kita. Ketika itu terjadi, kita mengenal semiotika kehidupan. Hati kita sempat goyah oleh banyak ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, tanpa sadar atas banyak kekecewaan kita sering mengutuk perbedaan. Sekilas tidak ada yang salah memang, kita punya hak untuk berdiri di atas pemikiran kita sendiri dan berjalan di atas kaki kita sendiri. Tegasnya: Kita tidak hidup di antara kumpulan kisah orang lain. Kita punya kisah sendiri. Begitulah…

Biar aku buka lagi catatan berdebu di pojok hatiku tentang “setiap penilaian akan menemukan jalannya sendiri, menemukan rumahnya yang baru yaitu kebenaran.” Pertanyaannya: Dimana muara kebenaran itu? Baik akan saya tuliskan satu per satu dari catatan azaleav yang kemudian saya tulis ulang, semoga kita mau mengerti dan memahami…

Kalaulah muara cinta, kebenaran, dan perasaan bukan Sang Maha Mencintai, hal gila macam apa yang akan dialami para pencinta, pemuja perasaan yang menjudikan kebenaran? Menegak racun seperti Romeo dan Juliet?

Kalaulah muara cinta dan perasaan adalah manusia, seperti apa bentuk hati yang koyak oleh prasangka? Bahkan jawaban-jawaban atas segala sangka pun tak cukup  menyulam luka. Kita mau menata hati itu kembali, tapi manusia bahkan tak punya daya untuk merapikan hatinya sendiri kan? Selalu ada tangan Allah yang menata kepingan hati kita yang sudah terkoyak. Hingga sebentuk kejujuran tak mampu lagi mengembalikan hati yang lukanya sembuh sekalipun. Kita tak punya daya apa-apa. Tangan Dia sudah bekerja, sedang tugas kita hanya menerima.

Kalaulah muara cinta dan perasaan bukan Sang Penata Hati itu, penyesalan yang bagaimana yang akan didera oleh jiwa-jiwa melankolis? Yang berjuang atas nama kesetiaan, perbedaan, dan pertemanan tapi roboh juga oleh urusan takdir dan perasaan. Yang selalu mencintai, setia, dan tersenyum bahkan ketika luka menjadi sahabat. Yang rela melepaskan ego karena kedalaman cinta, perasaan, dan pertemanan itu sendiri.

Baiklah mari kita pahami kebaikan dan cinta adalah energi. Mari kita sepakati untuk mempercayainya. Kebaikan adalah energi untuk menghadirkan cinta. Kita tahu kan dalam fisika, energi berbentuk kekal? Sepakat? Ia tidak akan pernah hilang, energi hanya akan berubah bentuk. Maka jika kebaikan dan cinta sepenuhnya adalah energi, mereka hanya berubah menjadi samudra ikhlas setelah kata melepaskan menjadi keniscayaan atasnya. Perlahan tapi pasti, melakukan kebaikan atas nama cinta adalah mengenalNya. Mengenal setiap apa yang Allah titipkan dalam hidup kita: manusia, perasaan, prasangka, dan hati yang harus selalu kita rapikan di balik takdirNya.

Dini Hari

Sudah di penghujung minggu dan aku baru menyelesaikan empat tulisan saja. Padahal beberapa kertas hasil catatan ide-ide sudah tertempel di dinding yang lebih mirip mading karena ditutupi kertas-kertas namun setiap kali melihat lebih sering hanya dipandang dan berujung sebatas niat untuk mengeksekusi ide itu.

Adalah Jumat dini hari yang membuat aku terbangun karena dihantui catatan-catatan di dinding itu, biasanya memang selepas isya aku segera tidur agar ketika dini hari bisa terbangun untuk melakukan beberapa hal. Selain dihantui catatan di dinding untuk segera dieksekusi, ada banyak buku baru yang aku beli sendiri dan pinjam di perpustakaan belum sempat tersentuh. Jadilah dini hari itu menghabiskan waktu membaca buku dan menulis. Buku-buku itu memang selalu meminta dibunyikan halaman-halamannya. Kebiasaan bangun dini hari itu mendadak rajin kulakukan satu bulan ini dengan rutin jauh lebih cepat dari sebelumnya, tanpa ba bi bu dan alasan untuk tetap tidur.

Dini hari selalu mengajakku berproses berjam-jam terpasung di antara buku-buku, di depan laptop, memainkan jemari bergelut dengan kata, membangun kalimat-kalimat, buah pemikiran. Dini hari dari sudut kamar yang tidak terlalu luas ini, seluruh energi, perasaan, dan pikiran menyala mentasbihkan dirinya berdua-duaan dengan sepi untuk memuliakan diri dengan tulisan. Apakah semua yang aku lakukan hanyalah sebuah kebetulan? Kebetulan karena tiba-tiba bangun pada dini hari kemudian kebetulan ingin membaca dilanjutkan menulis dan melakukan kegiatan lain.

Barangkali terlalu sempit jika apa yang terjadi hanya dimaknai sebagai sebuah kebetulan. Sejak dulu aku selalu mempercayai tidak ada satupun yang terjadi karena kebetulan, karena semua yang terjadi sudah ditulis olehNya. Lalu apa? Ada suatu masa di mana setiap manusia mempercayai keyakinannya. Ya itulah yang aku lakukan, memahami bahwa setiap kekuatan selalu bertumpu pada keyakinan.