Menahan Diri

Aku sedang di lantai dua. Kebetulan ada kamar kosong lengkap berisikan meja dan kursi, kebetulan juga baru saja ditinggal penghuni kostnya pindah ke tempat lain. Kamarku letaknya di lantai satu tapi karena sudah bosan menulis di dalam kamar sendiri, makanya kuputuskan ke atas untuk menulis sambil melihat pemandangan pegunungan Kota Malang. Aku tidak sendirian, sebotol air minum dan jajanan sisa lebaran yang aku bawa dari rumah menemaniku. Lima menit berlalu sudah separuh air minum habis, bukan karena doyan minum tapi karena kehausan jika harus berpikir keras padahal satu paragraf belum selesai di tulis. He he he.

Dengarkan, adzan ashar sudah berkumandang. Mari sholat dulu… memenuhi panggilanNya lebih utama dari melakukan apapun.

***

Bapak/Ibu dosen dengan berbagai tugas dan kepentingannya meng-cancel jadwal kuliah yang ada di hari Rabu, jadilah Rabu menjadi hari libur kuliah lalu dengan kesepakatan yang sudah di rundingkan bersama, mata kuliah yang semula ada di Hari Rabu di pindah ke hari lain. Nikmat sekali kuliah ini ya? Banyak liburnya juga banyak tugasnya. Nikmat yang kau bilang? Iya nikmatilah, kataku dalam hati… Bagaimana jika aku tidak mau memenuhi kesepakatan itu? Jangan harap mendapat nilai. Ha ha ha.

Sudah seharusnya dengan kesepakatan yang sudah disepakati menjadi sebuah tanggung jawab yang harus dijalani. Bukankah begitu? Iya!. Bagaimana jika tidak dilaksanakan? Itu namanya mengingkari apa yang pernah diucap oleh lisan. Rasanya amat menyebalkan menjumpai orang-orang yang sering mengingkari apa yang diucap oleh lisannya. Apa yang dikatakan tak kunjung dilakukan. Mulutnya berbuih mengungkapkan apa saja yang ingin dilakukannya, namun rupanya telingaku sudah kebal dengan semua ucapannya. Dianggapnya semua yang dikatakan bisa dilakukannya. Nyatanya Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Walaah, berbunyi juga tong kosong jika dipukul itu rupanya tak ada isinya. Awalnya meyakinkan memang apa yang dikatakannya namun waktu yang berlalu membuktikan ternyata hanya sebuah angin lalu. Dengan memenuhi permintaannya, akupun berusaha membantunya semoga aku selalu hadir kapanpun. Menjadi pendengar yang baik kadang melelahkan.

Tidak bisa menepati apa yang dikatakan pada dirinya saja sudah memberikan isyarat padaku untuk tidak terlalu meyakini apa yang diucapnya, namun tetaplah menghargai dan menjadi pendengar yang baik untuknya. Perihal keinginan yang rupanya sengaja diabaikan olehnya jika tiba-tiba hasratnya berubah, lupa menjadi alasan yang cukup menyembunyikan apa yang pernah diucap lisannya. Sudah kubiarkan saja ia melontarkan banyak kata untuk menjelaskan. Sekalipun menjelaskan dengan banyak alasan aku enggan mendengarnya. Tindakan tidak pernah menipu apa yang diucap oleh lisan. Setidaknya tak usahlah mengatakan apa yang memang tak bisa dilakukan.

Alangkah baiknya jika bisa menahan diri untuk tidak berucap apa yang tak bisa dibuktikan dengan tindakan. Menahan diri untuk diam sambil terus berusaha menepati apa yang diinginkan di hati lebih baik daripada berucap banyak hal tapi tak ada buktinya. Maka yang demikian itu disebut orang-orang yang menepati perkataannya. Menahan diri bahwa tidak semua harus diumumkan, tidak semua harus dikatakan untuk menunjukkan siapa dirimu. Penghargaan tidak tumbuh dari banyaknya ucapan tapi pembuktian lewat tindakan. Singa lebih ditakuti dari anjing karena ia diam. Suatu hari aku akan tersenyum jika melihatmu lebih banyak bertindak daripada berucap. Berkaca darimu, adalah untuk mengingatkan diriku sendiri agar lebih banyak diam dan berpikir sebelum berucap supaya tidak disebutnya “munafik”.

Maka kusampaikan maafku pada seorang teman yang harus mendengar apa yang ku sampaikan demikian ini. Aku takut jika tak diungkapkan nantinya akan menjadi penyakit di hati, namanya dendam. Semoga perkataanmu segera kau buktikan dengan perbuatanmu.

dirundung rindu

IMG_3631

 

kita semua sedang dirundung rindu. duduk di rumah maha agung, singgasana tertinggi dunia. kemarilah, tegakkan badanmu, menyusun shaf. kemarilah, barang sejenak berbaring mengistirahatkan jiwamu yg lelah. kemarilah, terus tundukkan hatimu dalam sujud-sujud panjang. maka masjidlah pusat persinggahan cinta. datanglah kapanpun, aku tak berpintu…

-ditulis ulang oleh saya berdasar puisi Emha Ainun N. dalam kumpulan puisi Seribu Masjid Satu Jumlahnya-

Mata Hati #duapandangan

Dinginnya malam di Kota ini memberikan tanya pada jiwa yang mulai sepi, terasing dari ramainya dunia. Boleh jadi ditemukannya kebahagiaan pada sunyinya malam, boleh jadi pula ditemukannya sepi di tengah ramainya dunia. Dunia, waktu, dan seisinya memang penuh paradox dan bertolak belakang dari apa yang terlihat. Maka pandangan mata bukanlah satu-satunya pilihan untuk memahami dan mengerti. Ada kalanya kita terjebak oleh pandangan mata yang justru tidak menampakkan hal yang sebenar-benarnya. Tak bisa dipungkiri pula pandangan mata adalah pintu pertama untuk melihat apa yang ada. Berkaca dari keduanya, akan selalu ada sesuatu yang bisa dilihat oleh mata yaitu yang terlihat di luar tapi juga akan selalu ada sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata yaitu apa yang ada di dalam hati nurani. Dua hal yang sangat berbeda yang semestinya selalu mengingatkan kita agar tidak terlena hingga tertipu oleh apa yang terlihat saja, namun juga mencoba mengamati apa yang tidak tampak. Bukan suatu perkara mudah agar hati nurani terlatih untuk bisa peka melihat apa yang ada bukan hanya yang tampak dari mata, tapi juga bisa membaca dari kacamata hati. Tidak ada yang bisa salah dari bisikan hati nurani karena disitulah muara kebaikan dan kebersihan hati manusia. Lalu mana yang ingin kau baca, dari pandangan mata atau kacamata nurani? Kacamata nurani tidak terbelenggu ruang dan waktu. Nurani adalah hakikat kebenaran. Maka lihatlah ia sebagai kebenaran yang tak berbatas.

Salam hangat,

Farah Adiba NM

Social Media

Minggu pagi hari ini aku sengaja bangun lebih pagi meniatkan diri untuk menulis dan membaca buku-buku kuliah. Baru sempat selesai menulis satu artikel bukannya langsung membaca buku malah terjebak di dunia maya. Aktivitas yang dilakukan memang sama yaitu membaca, bedanya kali ini membaca postingan status di social media facebook. Update-an status yang muncul di beranda facebook dari beberapa teman (yang aku sendiri kadang nggak kenal itu siapa) cukup miris jika dibaca. Semacam mengungkapkan apa yang dirasakan tapi terlalu berlebihan. Ini menjadi menarik untuk di bahas. Bukan bermaksud melarang tapi terlihat tidak etis jika harus di tulis di media sosial yang siapa saja bisa membacanya. Ini juga menjadi peringatan bagi kita, ada banyak sekali peristiwa negatif seperti penculikan, pemerkosaan, dan perkelahian terjadi karena permasalahan sepele yaitu update status di media sosial. Atau mungkin sebagian orang pengguna media sosial sudah lupa batas-batas antara dunia maya dan dunia nyata? Ini pertanyaan teruntuk diri masing-masing. he he he.

Namun tidak pula bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang-orang yang mampu menggunakan media sosial secara bijak. Lebih dari sekedar akun social media yang digunakan untuk berteman tapi juga untuk membagikan dan memposting tulisan serta informasi yang bermanfaat bagi yang lainnya. Jika disuruh memilih, aku akan memilih untuk membaca postingan yang demikian itu karena selain bermanfaat juga bisa dijadikan bahan kajian dan analisis. Hal tersebut bukan berarti pula kita boleh menerima mentah-mentah apa yang tersaji di dalamnya. Orang bisa saja dengan mudah menulis apa saja yang diinginkannya, perkembangan media dan teknologi sudah semakin canggih dan membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya atau buah pikirannya dalam bentuk yang bermacam-macam. Karena kemudahan-kemudahan itulah maka kita perlu mengkaji setiap apa yang tersaji untuk menyaring apakah benar informasi-informasi tersebut benar-benar valid, bermanfaat, dan menambah pengetahuan bagi kita.

So? gunakanlah media sosial secara baik, bijak, dan bermanfaat bukan hanya untuk dirimu tapi juga sesamamu.

Mengasing

“Kamu dimana?” tanya seorang teman

“di Rumah tak berpintu.” Jawabku.

Akhir-akhir ini aku sering berkunjung ke masjid di antara perjalananku melakukan banyak hal. Meski hanya sekedar untuk menunaikan sholat sunnah. Kali ini, aku ingin memposting satu tulisan sebelum pulang, tentunya sebelum suasana syahdu jadi hilang.

Kehidupan ini penuh dengan cinta. Termasuk dalam diri manusia selalu dihiasi oleh cinta. Manusiapun dilahirkan ke dunia oleh cinta kedua orang tuanya, ibu dan ayahnya. Lalu tumbuh dan besar di lingkungan yang penuh cinta dan keakraban. Namun pada artian yang lebih luas cinta manusia tak terbatas pada hal-hal yang sifatnya duniawi saja, ada cinta yang lebih hakiki yaitu mencintai Tuhannya, Allah.

Waktu akan terus berputar dan perjalanan hidup akan terus berlanjut. Ada banyak sekali hal yang bisa aku temui di setiap perjalanan panjang yang aku lalui selama ini. Perjalanan panjang itulah yang semakin lama membuat langkah-langkah kecil kakiku semakin kuat berjalan menapaki kehidupan ini. Tak banyak yang tahu jika perjalanan ini memaksaku harus jatuh dan kadang terluka. Namun itu bukanlah satu hal yang besar, menyikapinya butuh kedewasaan. Ada saat-saat tertentu aku harus berhenti sejenak bukan untuk menyepi, tapi untuk bernapas. Bukan pula untuk menghilang, tapi lebih kepada mencari yang hilang dari cinta yang dihadirkan manusia-manusia itu. Ada banyak sekali cinta yang dihadirkan Allah dalam bentuk yang bermacam-macam, meski tak banyak manusia bisa memaknai cinta yang Allah hadirkan. Lalu yang demikian itu menjadi sebuah isyarat yang membuatku mencari makna apa yang dihadirkan Allah dihadapanku.

Pada kenyataannya, tak mudah memang memaknai dan memahami apa yang terjadi. Hingga sempat muncullah pertanyaan yang sudah sejak lama memberontak untuk dijawab. Pertanyaan itu adalah “Apa yang kamu cari?”. Sejak lama pertanyaan itu menghiasi kepala dan menggantung di setiap langkah yang dilewati, menjadi terabaikan karena kesibukan dan kepentingan yang lain hingga akhirnya terasing di sudut ruang ternama hati. Sampai pada satu titik Allah mengetuknya, memaksaku menyusun kepingan-kepingan tanya dan menjawabnya.

Allah mengetuknya dengan cara yang sangat cantik, meski tidak banyak orang yang bisa memahaminya. Waktu itu, salah seorang teman sempat berkata, “Kamu ini memang kuat, sampai-sampai hal yang sifatnya prinsipil semacam itu bisa dilanggar orang dengan mudahnya.”. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku, aku hanya tersenyum. Aku hanya tahu dan percaya bahwa “Tak ada satupun hal di dunia ini yang terjadi tanpa kehendak Allah.”. Pilihannya adalah mau menjadikan apa yang ada dijalani dengan ikhlas dan penuh cinta atau tidak?. Kedua pilihan itu ada nilainya di hadapan Allah nantinya. Tapi aku percaya jika kita mau menghadirkan cinta dan keikhlasan dalam hidup ini, maka tak ada satupun yang terasa berat dan sulit. Percayakan saja pada Allah, sang pemilik skenario hidup terbaik.

Manusia memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan ini berdasarkan ketetapan Allah. Jadi tidak usah menyibukkan diri menafsirkan setiap peran yang dimiliki manusia lain. Sekalipun peran yang dijalani manusia itu terlihat salah di mata yang lain, maka keputusan adalah mutlak di tangan Allah. Manusia tidak perlu merasa pantas untuk menghakimi manusia lain. Jika ada yang harus dihakimi dan di koreksi, itu adalah diri sendiri. Manusia hanyalah manusia yang harus selalu siap menghadapi apa yang telah dituliskan oleh Allah. Maka jika masih saja muncul pertanyaan “mengapa?” cobalah untuk menepi sejenak bukan untuk menyepi tapi bertanya pada nurani. Perjalanan panjang yang aku lalui selama ini membawaku pada sebuah pemahaman terbaik tentang hidup yang menunjukkanku pada pelajaran-pelajaran berharga yang Allah hadirkan dari manusia-manusia yang memiliki cinta. Itulah yang akhirnya menjawab semua pertanyaan yang sejak lama terasing, semua yang telah dilewati ternyata membawa cinta dan kedekatan pada sang maha pencipta. Ternyata pelukNya yang selama ini jauh lebih sempurna yang kadang tak aku rasakan, luput dari pandangan.

Manusia tak perlu banyak bicara, menghakimi, atau menuduh. Maka dari itu aku memilih diam. Manusia juga tak perlu sibuk membaca apa yang ada pada diri manusia lain lalu menafsirkannya. Maka dari itu aku memilih menjadi diriku sendiri. Terkadang menjadi idealis itu penting, bukan untuk menentang tapi mempertahankan pandangan tanpa perlu memaksa orang lain memiliki cara pandang yang sama. Termasuk cinta yang Allah hadirkan.

Singkat, Hangat: Cokelat

kedai tong tjiSore hari ini masih sama seperti sore-sore sebelumnya, secangkir cokelat hangat dan tempe mendoan goreng khas salah satu kedai teh ternama di Indonesia menemani soreku. Bedanya kali ini aku menikmatinya dengan kawan lama yang sudah setahun tidak bertemu. Dua menu favoritku tadi menambah hangat perbincangan kami yang baru saja dimulai setelah ia datang terlambat 10 menit dari waktu perjanjian awal. Itu artinya aku bisa menggunakan 10 menit sebelum kedatangannya untuk menikmati kesyahduan sore ini di tengah ramainya pengunjung kedai dengan menulis. Aku ingin memanfaatkan setiap detik waktuku agar tidak sia-sia, seperti kata kawanku itu.

Bagaimana memulai perbincangan, itu mudah (meski awalnya sedikit canggung) karena selama setahun berada pada jarak yang jauh di antara kami, Aku masih sempat berkomunikasi lewat telepon dan blackberry messenger. Maka dari itu kuucapkan terimakasih pada ahli teknologi yang sudah menciptakan alat komunikasi canggih. Hehe.

Usianya 17 tahun di atasku, kita sebut saja namanya Fitri ya? ini menjadi janjiku tidak menyebutkan nama asli sosok yang kuhadirkan pada tulisan-tulisanku untuk menjaga privacy-nya. Jadi yang kau baca itu adalah nama samaran yang aku buat. Hehe.

Aku kagum dengannya, ia sosok perempuan yang sempurna dalam pandanganku. Ia cantik, ia santun, ia juga pandai dalam segala hal. Begitulah aku mengenal sosoknya. Ada sebuah kutipan mengatakan “setiap orang yang kita temui adalah alasan untukku belajar banyak hal darinya” dan sekarang aku belajar banyak hal darinya. Aku baru menemukan pelajaran-pelajaran berharga yang selalu ia selipkan di setiap perbincangan. Ceritanya aku dipaksa mencari makna dari apa saja yang sempat kita bincangkan dan mengambil pelajaran darinya.

Jika tidak mengenal pribadinya secara dekat, mungkin banyak orang yang akan melakukan penilaian bermacam-macam tentangnya tanpa tahu bagaimana sudut pandangnya. “Sudahlah, untuk apa sibuk mendengarkan penilaian orang yang nggak penting itu. Lebih baik sibuk belajar, memperbaiki diri, dan terus melakukan kebaikan bukan hanya untukmu tapi untuk orang lain juga”, begitu katanya.

Terkadang manusia lebih sibuk mengurusi hal yang sifatnya duniawi, menggerutu pada keadaan yang tidak sesuai dengan kenyataan, membanggakan apa yang dimiliki, menilai diri pantas lalu merasa berhak menuntut apa saja yang diinginkannya, termasuk sibuk menilai orang dan merasa pantas menghakimi. Sudah berapa banyak waktu yang terbuang untuk mengeluhkan keadaan dan menilai orang lain, maka sepanjang orang-orang masih saja melakukan itu sesungguhnya menghalangi dirinya untuk dekat dengan Allah, sang pemilik skenario terbaik dalam hidup.

Ditunjukkannya salah satu foto wallpaper dengan kata-kata “Allah malu mendatangkan yang buruk untuk hambanya yang datang kepada Allah dengan cinta terbaiknya”. Kemudian aku bertanya, “Apa yang kamu lakukan?”. Terdengar jawaban yang mencengangkan. “Ketika bersama orang-orang kuhabiskan tawaku dengan mereka, tapi ketika sendirian aku lebih suka menghabiskan tangisku berdialog denganNya”. Kemungkinan dampak pertanyaanku adalah membuatku terdiam dan bertanya pada hati ‘untuk apa waktumu selama ini? menghabiskannya dengan keluhan? Atau apa?’.

Aku masih duduk di hadapannya, merasakan kehangatan pada diriku karena cokelat hangat yang kuminum juga karena menikmati perbincangan hangat ini. Ternyata telingaku masih waras, bisa mendengarkan suaranya yang menenangkan dan menjelaskan dengan penuh kesabaran. Ia yang halus dalam pembawaan turut membawa hatiku pada kebaikan untuk kembali menemukan pemahaman terbaik dan memperbaiki diri dihadapanNya, menyerahkan semua pada yang Maha Berhak.

Aku sebenarnya malu jika ternyata sering mencoba tuli, hasrat menutup mata dari kenyataan dan mengabaikan nasehat-nasehat. Terlintas sekilas pada pikiranku… ketika kaki sudah mulai bisa melangkah jauh melewati sekumpulan orang yang masih terduduk. Ketika itu aku bisa berbangga tapi kemudian terhenti lalu menangis. Rupanya menyesal, menyesal karena sering mencoba tuli dan menutup mata dari nasehat dan pelajaran baik hingga miskin pemahaman. Sehingga mereka yang pernah melihat langkah kakiku langsung terdiam dan tersenyum, memberikan isyarat untuk lebih banyak belajar juga mendengar apa yang aku temui dari setiap orang di perjalanan. Barangkali kutipan “setiap orang yang kita temui adalah alasan untukku belajar banyak hal darinya” harus benar-benar aku tanamkan dalam hidup.

Menyadari semua ini memang butuh perenungan. Berhenti… berhenti dari semua kamuflase yang tanpa sadar diri ini ciptakan, meninggalkan semua kebodohan, dan berhenti mempertontonkan semua rasa, doa, ingin, dan tindakan jika orientasinya adalah keburukan dan duniawi. Barangkali seperti cokelat yang kuminum ini, senikmat atau sepahit apapun rasanya tidak mungkin akan dirasakan oleh orang lain, apa iya harus memuntahkan cokelat ini untuk dilihat orang lain agar semua tahu bagaimana rasanya? Tidak. Itulah proses yang harus dirasakan masing-masing diri. Tidak perlu yang lain tahu.

Ada baiknya mencoba berdiam dan memperbaiki kualitas diri. Menyadari sepenuhnya kehendakNya dan semua kejadian adalah atas ijinNya. Alangkah baiknya semua manusia paham akan ketetapanNya, paling tidak bersabar dan menyadari betapa banyak kesalahan yang dilakukan bukan malah mati-matian membela diri dan memaksa orang lain menyamakan sudut pandang demi membenarkan pendapat atau tindakan diri pribadi. Sungguh semoga ditemukan ketenangan dan kedamaian bagi orang-orang yang selalu memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Tuhannya, Allah. Biar bagaimanapun semua adalah keputusan Allah.

“Bukankah pelukanNya selama ini yang kau rasakan jauh lebih sempurna. Dia mencintaimu lebih dari sekedar cinta manusia. Percayalah… ada seseorang yang selalu menatapmu dari surga dengan bangga. Melihat langkah-langkah kecilmu kini makin kuat. Tak setiap orang bisa sepertimu. Allah sudah menitipkan pelajaran mahal, agar kau naik kelas dan menjadi juaranya”. Itu yang sudah sejak lama ingin kusampaikan untukmu, kata Mbak Fitri.

Itulah… menata hati ke Allah maka semua akan diatur untuk kita. Semoga masih ada waktu untukku belajar banyak hal di antara perbincangan singkat yang hangat seperti cokelat.

Secangkir Jamu

cangkir jamu

Berharap pada kesembuhan tentunya menjadi doa bagi siapa saja yang sakit. Saat seperti itulah diri mulai menyadari penting dan nikmatnya sebuah kesehatan. Mau tak mau obatpun menjadi makanan rutin selain bubur ayam yang aku hampir bosan setiap hari menyantapnya. Lama kelamaan hal itu menjadi sebuah kebiasaan setiap sakit. Sakit yang sangat lama ini melebihi perkiraanku, meski katanya: aku selalu kuat untuk melewati sakit ini, aku kuat menahan sakit ini. oh sungguh taukah kau, ini tak seperti yang aku rasakan. Menyakitkan sangat. Sayangnya aku hanya ingin menyimpan sakit itu untuk diriku dengan alasan akan berusaha sendiri untuk sembuh dan tidak akan menampakkan sakit ini pada siapapun karena aku masih kuat.

Terasa kini sakit itu semakin sakit akibat ulahku sendiri. Hingga saat datang, aku hanya bisa menangis dan menahan sakitnya. Tapi aku tetap MENIKMATI. Jika tak ada sakit yang sedemikian ini, aku tidak akan menemukan banyak hal selama proses penyembuhan. Sampai suatu saat harus menyepi sendiri, menahan sakit yang amat luar biasa ini dengan bersujud padaNya.

Aku pernah membaca pada sebuah ayat di Al-Qur’an yang bunyinya demikian: “Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (Q.S. Al Baqarah: 45)

Perintah dalam ayat tersebut merupakan solusi agar kita bisa mengatasi dengan baik segala kesulitan dan probematika yang datang silih berganti. Sehingga melalui ayat tersebut Allah memerintahkan agara kita memohon pertolongan kepadaNya dengan senantiasa mengedepankan sikap sabar dan menjaga shalat dengan istiqamah. Bukankah jelas tertulis disitu sebagai peringatan dan perintah untuk selalu sabar dan shalat menghadapi apapun, maka semoga Allah akan membukakan pintu pertolongannya. Begitulah aku memaknai ayat tersebut, jika ada yang salah mohon koreksinya karena aku masih harus belajar banyak hal, terutama untuk mengenal Tuhanku, Allah.

Sepagi ini aku sudah bangun pukul 03.00, padahal ini hari libur panjang kuliahku. Semestinya aku bisa bangun lebih siang, tapi jadwal berobat mengganggu jam tidur ini. tak apalah, harus berangkat pagi-pagi untuk menghindari antrian pasien yang sangat banyak. Itupula karena lokasinya yang ada di luar kota.

Aku sudah siap untuk berangkat, hembusan angin pagi yang masih sejuk belum banyak asap polusi dari kendaraan bermotor karena masih sedikit yang melintas mampu menyegarkan mata dan pikiran. Apalagi di sepanjang perjalanan aku bisa menikmati hamparan sawah dan gunung yang masih basah oleh tetesan embun pagi.

Jangan biarkan aku mengeluh melewati semua ini, doaku sepagi ini di tengah perjalanan. Satu jam perjalanan dan dua jam menunggu ketika sampai di tempat pengobatan, sudah banyak yang mengantri rupanya. Sekarang tepat pukul 07.00, satu orang pasien lagi yang akan berobat, kemudian giliranku. Sakit yang luar biasa aku rasakan selama setengah jam melakukan proses terapi. Itu cukup membuatku menangis menahan sakit walaupun aku sudah sering melakukanya. Sakitnya tuh disini, katanya. Fiuh.

Jamu, menjadi oleh-oleh rutin setelah melakukan terapi disini. Racikan obat herbal ini cukup membantu meringankan sakit. Meskipun rasanya tidak pahit tapi tetap saja aku ingin muntah ketika meminumnya. Secangkir jamu, semoga aku betah meminumnya seperti menikmati es kelapa muda. Secangkir jamu, menjadi salah satu peringatan dan pengingat untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Secangkir jamu, ukurannya lebih kecil dari segelas es kelapa muda tapi dengan meminumnya semoga didapat kesembuhan. Sepertinya harus memulai hidup sehat dan memperhatikan pola makan yang bergizi biar tak mengkonsumsi lagi secangkir jamu yang getir di mulut. Semoga.