Kedai Kopi

 

Saya percaya, hidup adalah hidangan berisi pikiran dan perasaan yang selalu berubah sepanjang waktu. Ajaibnya, kualitas hidangan itu ditentukan oleh kualitas belajar kita. Untuk mendapatkan hidangan terbaik, ada perbincangan, pengalaman, proses belajar, penerimaan tentang hidup dan orang-orang terbaik dalam hidup ini. Sebagian orang, termasuk saya, akan memilih menikmati hidangan terbaik dalam bentuk makanan sekaligus obrolan.

Sejak lama, saya senang jika bertemu dan menjamu orang di kedai kopi, cafe, atau semacamnya. Berbagai macam pertemuan itu terekam di kepala sebagai “bahan belajar”. Biasanya orang-orang yang saya temui akan bercerita tentang kehidupannya secara lebih terbuka. Tak terhitung berapa cangkir kopi yang selalu saya habiskan untuk menjadi pendengar yang baik dari ceritanya. Tampaknya saya lebih pantas menjadi pengunjung teladan di kedai-kedai kopi.

Tapi tiga tahun belakangan agaknya cukup berbeda, saya mengunjungi kedai kopi atau cafe sendirian. Di antara tuntutan kehidupan dan target pencapaian yang terus bertambah, mengunjungi kafe adalah kelegaan tersendiri. Seringkali saya memilih tempat di pojok dan dekat sudut-sudut jendela untuk sekedar memesan kopi dan beberapa makanan. Dan entah mengapa, datang ke kafe sambil membawa laptop justru membuat saya jauh lebih produktif dan berhasil mengerjakan banyak hal.

Di kafe, saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah, saya mengerjakan skripsi. Menyelesaikan tulisan-tulisan. Menyelesaikan project-project pesanan. Juga termasuk menumbuh-kembangkan pikiran dan hasil belajar untuk di realisasikan sebagai life goals. Akan selalu ada ide, cerita, dan kawan-kawan baru yang bisa saya temukan sambil duduk dan menyeduh cangkir-cangkir kopi.

Begitulah, rasanya saya menemukan kebahagiaan dan doa yang terwujud bersamaan dengan menikmati beragam hidangan, buku-buku, dan setumpuk rencana berisi perbaikan masa depan. Saya menikmatinya untuk beristirahat dari ramai jalanan sekaligus berjuang mewujudkan mimpi. Menjelang senja, cangkir pertama di kedai kopi bisa saja membuat segala sesuatunya menjadi baik dan mudah.

Advertisements

Waktu Tunggu

Berapa lama aku harus mempersiapkan waktu untuk menjadi sepertimu? Paling tidak ada di posisi satu garis di belakangmu.

Apa yang kamu tunggu? Jawabanmu itu seolah menegaskan bahwa ada sesuatu yang masih terpisah dari diriku.

Pada satu kondisi, aku kerapkali susah tidur. Jika begitu, aku sering memilih memainkan ibu jari. Mengetikkan beberapa pertanyaan yang kukirim untukmu. Hari-hari belakangan adalah sesuatu yang amat pelik untuk dikhawatirkan yang berujung pada obrolan tengah malam kita. Ada beberapa kejadian yang selalu payah untuk kuusahakan. Salah satunya mungkin masa depan.

Katamu, bagaimana mungkin aku bisa lupa jadwal minum obat dan sering lalai untuk cek kesehatan, lalu tak peduli soal makanan. Bagaimana mungkin kamu tak sempat menjaga hal-hal kecil itu?. Pertanyaan yang kamu jawab juga dengan pertanyaan menjadi lukisan kebodohan yang aku lakukan.

Kamu lalu menjelaskan, menerangkan banyak hal. Ada cara-cara hidup yang dengan fasih ingin kamu hadirkan di perjalananku. Walaupun mungkin tidak mudah. Luka memar selama perjalanan memang tak pernah mudah hilang, namun membincangkan hal ini bersamamu semoga membantu menyembuhkan.

“Kamu tak perlu menggadaikan seluruh hidupmu untuk berjuang, berkorban, dan menanggung penyesalan atas apa yang tidak bisa kamu lakukan di masa lalu, pada beberapa kesempatan. Kamu hanya perlu menggadaikan sebagian waktumu yang sudah kamu rencanakan untuk melakukan perjuangan, pengorbanan, dan ujian kesabaran.”

Ah sungguh aku telah melewatkan banyak hal itu. Akhirnya kamu juga menjadi salah satu orang yang berbaik hati menegurku. Akhirnya aku menyerah pada kalimat terakhirmu. Gamang yang semakin menunjukkan eksistensinya. Remang-remang lampu mulai memperhitungkan perasaan dari hati yang selalu berseberangan. Dan hari ini aku perlu berdamai dengan diriku, dengan penyesalan dan masa lalu. Aku memastikan bahwa diriku akan mulai melakukan sesuatu untuk menjawab pertanyaan masa lalu. Semua yang akan dihadapi ataupun yang pernah terlewat untuk dilakukan adalah sekumpulan urusan yang harus diselesaikan.

Dan tentu saja, kamu adalah rindu yang harus dituntaskan.

Terimakasih untuk bantuannya membuatkan satu paket agenda kegiatan yang melengkapi hari-hariku.

Dia (Mungkin) Menulis

Siapapun bisa kagum oleh capaian prestasimu yang mengular sepanjang tahun. Beda denganku yang harus mencari ribuan alasan untuk bisa mengagumimu dari sisi lain. Pertemuan kita hanya sebatas dua labirin pintu yang terbuka di dunia maya. Tentu kita belum sempat bertatap muka dalam waktu yang entah sampai kapan. Tentu saja, sepanjang masa itu aku tak mampu menerka isi hatimu.

Agaknya meski terjarak oleh dua benua, tak sepenuhnya menghalangi perkenalan kita. Kamu menjadi sosok yang lugas mengungkapkan siapa dirimu dan apa keinginanmu lewat tulisan-tulisanmu di blog. Akupun bisa tersenyum dan bersuara ringan lewat tulisan untuk menyatakan banyak hal yang lebih sulit tersampaikan langsung. Aku ingin di belakangmu saja untuk kali ini.

Perkenalan yang cukup menguras pikiran, bukan?

Senja yang berganti rupa seringkali membawaku pada perasaan berbeda. Membuka dan membacamu di berbagai tulisan agaknya membuat hari dan hatiku bercabang. Di satu sisi aku terus diingatkan untuk menyelesaikan berbagai urusanku dengan diriku sendiri, di sisi lain tuntutan menyempurnakan hidup dengan berbagai capaian semakin mendekati batas akhir. Kamu pasti tahu maksudku jika membaca tulisan ini.

Kehadiranmu dan tulisan-tulisanmu bukan sekedar penunjuk tapi sekaligus menjadi ‘kehidupan yang lain’ untukku. Aku disibukkan lagi oleh kebahagiaan untuk menghidupi mimpi-mimpiku yang mulai kering dan gersang. Pada satu kondisi, perasaanku itu menjadikanku berani untuk mengajukan permintaan padamu

“Tolong tulisakan sesuatu yang pernah pertama kali mengajakmu jatuh untuk menulis, lalu kenapa kamu tidak pernah mau terpisah darinya. Tulis saja semua yang kamu ingat. Aku yang akan membacanya pertama kali.”

Apakah ini berlebihan?

The Secret Letter of The Monk

Take the time to learn from your mistakes… Kataku setelah baru saja menyelesaikan dua bab buku “The Secret Letter of The Monk Who Sold His Ferrari. Ada sedikit kutipan yang aku tulis walau sebenarnya belum selesai terangkum sepenuhnya dari buku tersebut.

  1. Tapi kuharap kau bisa berfokus pada kesempatan yang dapat kau raih daripada ketidaknyamanan yang mungkin kau hadapi. Bagaimanapun, hidup adalah perjalanan, dan yang terpenting bukanlah apa yang kau dapat, melainkan menjadi siapa dirimu.
  2. Caramu berhubungan dengan orang lain menunjukkan caramu berhubungan dengan diri sendiri. Kau orang baik tapi kupikir kau tidak selalu memperlakukan dirimu seperti itu.
  3. Kita manusia biasa, tak punya kemampuan untuk membangun sesuatu yang begitu mengagumkan dalam sekejap. Kita harus sabar. Kita harus membangun segalanya perlahan-lahan, satu bata demi satu bata. Sebesar apapun keinginan kita untuk meraih hal-hal yang hebat dalam waktu singkat, bukan begitu cara kerja dunia kita. Kecerdasan adalah sebua proses.
  4. Tindakan paling kecil sekalipun selalu lebih baik daripada niat paling ambisius. Dan Hasil selalu bicara lebih lantang dari kata-kata.
  5. Dalam pandanganku, pekerjaan adalah kendaraan untuk lebih mengenali bakat kita, mengungkapkan lebih banyak potensi kita, dan memberi manfaat pada sesama manusia.
  6. Aku belajar bahwa aku lebih kuat daripada batas-batas yang kubuat. Dan bagiku, semua alasan yang kubuat tampaknya hanya kebohongan yang berusaha ditanamkan oleh rasa takutku.
  7. Kita mungkin lebih mudah untuk melakukan salah terhadap orang-orang terdekat kita, karena kita menganggap mereka akan selalu lebih mudah untuk memaafkan.

(bersambung)

Dear Ami #24 Kisah Singkat

Di folder tulisanku tahun 2017 ini belum banyak tulisan yang dihasilkan. Apalagi didukung oleh suasana hati dan kesehatan yang sedang mendung.

Hujan yang turun setiap sore selalu menjadi klimaks dari cuaca kenangan yang memukau dan terus saja minta diingat. Tentang kejadian setahun kemarin, aku akan menjaganya sebagai yang tak pernah ada. Aku ingin kita melupakannya, barangkali melupakan merupakan salah satu pekerjaan amal untuk tetap saling memiliki. Aku akan mengenang bahwa di masa lalu ada kebahagiaan tak terdefinisi yang kita nikmati dan di masa depan aku tetap ingin menikmati itu. Sehingga siapapun yang pernah kita kenal dan mengenal kita akan mencatat kita sebagai satu kisah yang tak terganti. Warisan kisah yang tak setiap orang bisa memilikinya.

Kemarahan kita sepanjang tahun ini adalah muntahan dari ketakutan dan kegelisahan yang selama ini menghukumku siang dan malam. Sedang pengakuanmu adalah permulaan dari kesunyian panjang yang kumiliki memaksaku berpikir.

Perasaan apa yang sedang kita rasakan kali ini? Di luar mataku tak ada yang bisa kulihat selain dirimu, selain dirimu yang naik turun angkot pagi dan sore. Aku masih melihatmu setiap pagi, menemui tiap sore. Tapi apakah sore nanti hatimu akan baik-baik saja untukku? Apa sore nanti aku masih milik rindu-rindumu? Apa sore nanti kamu masih akan pulang denganku? Setidaknya ada kebiasaan-kebiasaan yang tidak pernah hilang darimu. Kebiasaan itu tak pernah berkhianat dariku yang mudah pelupa. Ia menyuburkan khayalanku setiap waktu.

Cerita apa yang sedang aku tulis sekarang? Apa yang bisa kamu baca dari cerita itu? Berulangkali aku menulis dan membaca kisah yang terposting di blog pribadiku. Ceritanya menggemaskan, terlihat seperti drama padahal itu memang benar terjadi. Tak setiap orang akan bisa mempercayai kisah ini. Aku sampai sering susah tidur dan tak nyaman pergi ke cafe. Cafe tempatku biasa meramu cerita kita. Ah, tapi aku akan bisa menulisnya dimanapun. Aku tak ingin kehilangan cara menuliskan kenangan kita agar tak berganti rupa.

Kapan terakhir kali kita terjebak hujan lebat? Di ruang tamu ingataknku masih ada senyummu saat memberikan baju ganti. Katamu, biar aku bisa ganti saat aku kehujanan. Kenyataannya, memang aku sering berganti baju ketika basah kuyup oleh air mata. Aku diam-diam mengagumimu yang tak lelah menjadi tempatku pulang. Bukan sebatas pertemuan basa-basi atas nama rasa kasihan. Ada tiga lebih puisi yang diam-diam aku bisikkan di depanmu, sambil menatapmu lekat. Air hujan selalu lebih pandai menyampaikan segala perasaan rindu.

Pada akhirnya, aku memilih mencintaimu. Aku memilihmu tanpa paksaan. Aku tak rela menyingkirkan girangku terhadap pertemuan kita. Ini bagian dari takdir. Waktu yang membuktikan bahwa kali ini hidup dan cinta bukan hanya milikku sendiri tapi milikmu, milik orang-orang yang terlanjur aku cintai dan mencintaiku. Untuk alasan macam itu, aku bertahan menghindarkan diri dari kesepian.

Tapi, baiklah. Aku tak ingin bicara panjang lebar lagi soal ini. Bukannya aku tak ingin mengingat sama sekali. Aku hanya sedang ingin menunggu usaha terbaikku membuatmu kembali kehujanan rindu seperti malam-malam dulu.

Aku menulis kisah ini di atas kereta api; sambil tak sabar melewatkan pertemuan kita sore nanti. Semoga aku masih kebagian kebahagiaan.

 

Kepada Hati, Tentang Diri

Untuk luka yg pernah begitu hebat memaksamu jatuh, terimalah…

Untuk rasa khawatir dan ketakutan berlebih yg karenanya kamu sesali, maafkanlah…

Untuk pengampunan yang tak berujung kepuasan, maklumkanlah…

Untuk setiap cara yang tak sempurna, pahamilah…

Untuk seucap ingin yang tak terungkap, berikanlah senyuman…

Terimalah kembali dirimu, dengan kelapangan dan rasa hormat. Meski kotor berdebu dan munafik. Terimalah… Ia datang untuk memeluk dirinya sendiri, mengusap-usap perihnya sendiri, membersihkan luka-luka di tubuhnya…

Seberapa Melelahkan?

Tak ada yang bisa disembunyikan dari air mata, juga gerak tubuh yang semakin menunjukkan ketidakberdayaannya. Lagi-lagi aku membenci pembahasan ini. Tapi bunga-bunga di meja kamar yang daunnya mulai kering dan berguguran mengajak berpikir sejenak.

***

Hampir genap dua bulan proses pemulihan pasca operasi yang dijalani. Tak ada perubahan yang berarti selain keluh dan kesah yang semakin bertambah. Lelah. Menghabiskan waktu di kamar untuk memikirkan keluh tak berkesudahan. Bagaimana menurutmu? Menyedihkan bukan?

Proyek-proyek kebaikan yang pernah dirancang perlahan terabaikan. Ide-ide mengendap menjadi debu menyesakkan ruang kepala. Kemeja-kemeja putih yang biasanya menjadi semacam trademark untuk menunjukkan semangatku, menggantung harum di lemari tak tersentuh lagi.

Seberapa melelahkannya hidup dengan langkah-langkah yang tak lagi terdefinisi?

Bagaimana caranya bertahan? Memaksa diri untuk belajar, untuk membaca, untuk bertarung dengan semua nasehat yang terucap maupun tertulis. Memaksa setiap nafas di segala waktu untuk mengucap istighfar sekaligus syukur. Sejatuh-jatuhnya hidup, ada lidah yang tertatih-tatih untuk menguatkan diri sendiri. Menjadi pendukung sejati.

Tak peduli seberapa tinggi ketidaksukaanku, tak peduli penolakan yang dilakukan oleh tubuh dan otakku, semua ini menjadi teramat penting. Dan perlahan, aku merasakan lagi pertempuran untuk menaklukkan hal-hal buruk dan kepuasan untuk hidup tanpa rasa sakit.

Semua yang memang harus dialami untuk dipahami.

 

Kanker yang Menyelamatkan Hidup

Teman-teman, karena banyak yang memintaku menterjemahkan paparan Anita Moorjani ini, maka ini adalah terjemahan dari paparan tersebut. Selamat menikmati dan semoga berkah dan bermanfaat. —- Sungguh sangat senang berada di sini. Saya sangat bahagia melihat anda semua. Tahukah anda, bahwa alasan terbesar mengapa aku sangat bahagia berada di sini, adalah karena aku seharusnya sudah tidak […]

melalui “Ternyata akulah yang membunuh diriku jauh sebelum ada kanker. Kanker menyelamatkanku.” — Indira Abidin’s Blog

3 Pertanyaan

Allah, maukah engkau membantu menjawab pertanyaanku? Sederhana saja.

1. Kapankah waktu yang paling penting?

2. Siapakah orang yang paling penting?

3. Apakah hal yang paling penting untuk dilakukan?

Bagaimana jika aku mencoba menjawab ketiganya dengan: Saat ini, Orang yang sedang bersamaku, dan Peduli. Bagaimana menurutMu?

Untuk yang pertama, “saat ini”, barangkali kesempatan memang tak pernah datang dua kali. Ah tapi aku mungkin sering melupakannya. Tapi tentu saja, aku akan melakukannya. Jika aku memang perlu meminta maaf, mengucapkan rasa sayang, atau betapa aku berterimakasih atas suatu hal. Aku akan melakukannya sekarang, bukan besok. Bukan lima menit lagi. Sekarang. Lima menit seringkali sudah terlambat. Sekarang.

Kedua, mungkin akan sedikit mendalam untuk menjawabnya. Aku teringat percakapan dengan seorang teman ketika memikirkan jawaban ini, ‘siapapun yang ada di hadapanmu, mungkin kamu satu satunya orang yang perhatiannya tak pernah terbagi’. Kalimat itu masih perlu diuji oleh waktu. Tapi setidaknya saya menyadari, ada orangorang yang tampak luarnya seperti mendengarkan, tetapi dalam hati mungkin ingin aku cepatcepat pergi. Aku juga teringat, ketika mengajukan pertanyaan pribadi dan terkejut ketika si pendengar memberi perhatian penuh. Ia membuat aku merasa dihargai. Barangkali juga, tak peduli siapapun orang yang disampingku, adalah orang yang paling penting sedunia. Tak ada urusan yang lebih penting selain menghargainya. Dan karena saat terbanyak dalam hidupku adalah saat bersama diri sendiri, akulah orang yang paling penting untuk dihargai dan dihormati.

Terakhir, peduli yaitu berhati-hati. Terhadap diriku dan apa yang aku pertanggungjawabkan atas perbuatanku.

Bagaimana menurutMu, Allah?

*terinspirasi dari tulisan Ajahn Bram