Kepada Hati, Tentang Diri

Untuk luka yg pernah begitu hebat memaksamu jatuh, terimalah…

Untuk rasa khawatir dan ketakutan berlebih yg karenanya kamu sesali, maafkanlah…

Untuk pengampunan yang tak berujung kepuasan, maklumkanlah…

Untuk setiap cara yang tak sempurna, pahamilah…

Untuk seucap ingin yang tak terungkap, berikanlah senyuman…

Terimalah kembali dirimu, dengan kelapangan dan rasa hormat. Meski kotor berdebu dan munafik. Terimalah… Ia datang untuk memeluk dirinya sendiri, mengusap-usap perihnya sendiri, membersihkan luka-luka di tubuhnya…

Seberapa Melelahkan?

Tak ada yang bisa disembunyikan dari air mata, juga gerak tubuh yang semakin menunjukkan ketidakberdayaannya. Lagi-lagi aku membenci pembahasan ini. Tapi bunga-bunga di meja kamar yang daunnya mulai kering dan berguguran mengajak berpikir sejenak.

***

Hampir genap dua bulan proses pemulihan pasca operasi yang dijalani. Tak ada perubahan yang berarti selain keluh dan kesah yang semakin bertambah. Lelah. Menghabiskan waktu di kamar untuk memikirkan keluh tak berkesudahan. Bagaimana menurutmu? Menyedihkan bukan?

Proyek-proyek kebaikan yang pernah dirancang perlahan terabaikan. Ide-ide mengendap menjadi debu menyesakkan ruang kepala. Kemeja-kemeja putih yang biasanya menjadi semacam trademark untuk menunjukkan semangatku, menggantung harum di lemari tak tersentuh lagi.

Seberapa melelahkannya hidup dengan langkah-langkah yang tak lagi terdefinisi?

Bagaimana caranya bertahan? Memaksa diri untuk belajar, untuk membaca, untuk bertarung dengan semua nasehat yang terucap maupun tertulis. Memaksa setiap nafas di segala waktu untuk mengucap istighfar sekaligus syukur. Sejatuh-jatuhnya hidup, ada lidah yang tertatih-tatih untuk menguatkan diri sendiri. Menjadi pendukung sejati.

Tak peduli seberapa tinggi ketidaksukaanku, tak peduli penolakan yang dilakukan oleh tubuh dan otakku, semua ini menjadi teramat penting. Dan perlahan, aku merasakan lagi pertempuran untuk menaklukkan hal-hal buruk dan kepuasan untuk hidup tanpa rasa sakit.

Semua yang memang harus dialami untuk dipahami.

 

Kanker yang Menyelamatkan Hidup

Teman-teman, karena banyak yang memintaku menterjemahkan paparan Anita Moorjani ini, maka ini adalah terjemahan dari paparan tersebut. Selamat menikmati dan semoga berkah dan bermanfaat. —- Sungguh sangat senang berada di sini. Saya sangat bahagia melihat anda semua. Tahukah anda, bahwa alasan terbesar mengapa aku sangat bahagia berada di sini, adalah karena aku seharusnya sudah tidak […]

melalui “Ternyata akulah yang membunuh diriku jauh sebelum ada kanker. Kanker menyelamatkanku.” — Indira Abidin’s Blog

3 Pertanyaan

Allah, maukah engkau membantu menjawab pertanyaanku? Sederhana saja.

1. Kapankah waktu yang paling penting?

2. Siapakah orang yang paling penting?

3. Apakah hal yang paling penting untuk dilakukan?

Bagaimana jika aku mencoba menjawab ketiganya dengan: Saat ini, Orang yang sedang bersamaku, dan Peduli. Bagaimana menurutMu?

Untuk yang pertama, “saat ini”, barangkali kesempatan memang tak pernah datang dua kali. Ah tapi aku mungkin sering melupakannya. Tapi tentu saja, aku akan melakukannya. Jika aku memang perlu meminta maaf, mengucapkan rasa sayang, atau betapa aku berterimakasih atas suatu hal. Aku akan melakukannya sekarang, bukan besok. Bukan lima menit lagi. Sekarang. Lima menit seringkali sudah terlambat. Sekarang.

Kedua, mungkin akan sedikit mendalam untuk menjawabnya. Aku teringat percakapan dengan seorang teman ketika memikirkan jawaban ini, ‘siapapun yang ada di hadapanmu, mungkin kamu satu satunya orang yang perhatiannya tak pernah terbagi’. Kalimat itu masih perlu diuji oleh waktu. Tapi setidaknya saya menyadari, ada orangorang yang tampak luarnya seperti mendengarkan, tetapi dalam hati mungkin ingin aku cepatcepat pergi. Aku juga teringat, ketika mengajukan pertanyaan pribadi dan terkejut ketika si pendengar memberi perhatian penuh. Ia membuat aku merasa dihargai. Barangkali juga, tak peduli siapapun orang yang disampingku, adalah orang yang paling penting sedunia. Tak ada urusan yang lebih penting selain menghargainya. Dan karena saat terbanyak dalam hidupku adalah saat bersama diri sendiri, akulah orang yang paling penting untuk dihargai dan dihormati.

Terakhir, peduli yaitu berhati-hati. Terhadap diriku dan apa yang aku pertanggungjawabkan atas perbuatanku.

Bagaimana menurutMu, Allah?

*terinspirasi dari tulisan Ajahn Bram 

Sedetik…

Sedetik yang kuikat… Tak ada kata meminta

Sedetik terlepas… Tersisa ketiadaan

Tanyamu… Menjawab mungkin

Sedetik… Terlewat

Terlempar sebongkah nyali,

Terkubur perasaan dengan cara rahasia

dan sepenggal kata Mbak Himsa yang digubah, jadikanlah cukup bagi sedetik itu…

Aku mau memperjuangkanmu. Tapi kamu tak perlu tahu. Karena itu kamu tak perlu tahu apa-apa. Kamu juga tak perlu tahu perasaanku, apalagi rinduku. Agar jika suatu saat hatiku di balik olehNya, kamu tak akan jatuh terlalu sakit. Atau jika suatu saat kamu harus memilih orang lain, aku pun sudah siap melapangkan hati. Begitulah. Pembenaran demi pembenaran kurangkai sedemikian rupa, menjadi tameng untuk menyembunyikan ketidakberdayaanku. Ya, aku mau memperjuangkanmu. Tapi kamu tak perlu tahu.

Sepilihan Sendu

Mimpimu malam itu, menggugurkan kilauan senyum di wajah. Tak ada yang menina-bobokkanmu di malam yang dingin itu. Kamupun sendirian berjelaga memikirkan harapan. Dari beberapa tikungan di pikiranmu, kamu pungut reruntuhan daun, kamu usap-usap agar menjadi bersih. Melakukannya adalah satu hal yang kamu suka walau entah berapa kali daun-daun itu akan kotor lagi atau bahkan hilang.

Sepilihan daun yang bergantian terbang tertiup angin, pikiranmu menggumam oleh ketidakpastian dari pertanyaan: Apa yang harus kukerjakan?

Jam dinding itu masih berdetak saling bersahutan menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutmu.

“Ini sudah jam berapa?” tanyamu pada diri sendiri, “Hei aku sedang menunggu atau ditunggu?” Kamu lanjutkan tanya itu sekali lagi pada dirimu.

Tampaknya kamu begitu rindu pada kebahagiaan dan ingin berhenti menjejali pikiran dengan keriput masalah.

“Tuhan masih siapkan berapa kali lagi kegagalan?” Kali ini kamu heran, siapa yang berhak menjawab tanya itu. Bukan dirimu yang pasti.

Tiba-tiba pertanyaan itu membuatmu tersentak dan duduk di tepian kasur. Tiba-tiba kamu merasa sangat haus. Tapi yang kamu lakukan bukan minum, melainkan menghitung. Kamu hitung perlahan, mencoba menemukan angka yang tepat dari setiap kegagalan yang pernah kamu usahakan untuk berhasil. Ruanganmu kini mendadak sunyi oleh perenunganmu.

“Pikirkan yang akan kamu rangkai kembali. Bukan merangkai pembelaan yang membenarkan ketidakberdayaanmu!”

Hening. Kemudian ada yang menari dan menyanyi bersama cahaya itu.

ps. Tulisan ini ditulis 18 September 2016, awalnya enggan memposting di blog tapi rupanya angin sore yang menerbangkan lembar-lembar buku, menunjukkanku pada selembar kertas. Tulisan ini. 

Dear Ami #23 Rindu

Well, I miss you mam

20 Januari 2017; 23.15

Hampir sebulan aku meninggalkanmu. Resah dan rindu bercampur jadi satu. Resap di jiwa. Berharap yakin tak kan goyah. Bahwa Allah yang mempertemukan, pastilah Ia bertanggungjawab menjawab rindu dengan temu. Meski tunggu menjadi tanya. Kiranya kita tetap saling berpeluk doa sebagai bahasa cinta. Maukah kau kupeluk selamanya dengan cara itu?

21 Januari 2017; 13.42

Aku menahan pilu guguran rindu. Bagaimana denganmu? Ketika detik tak berijin temu. Senyap dan tangis merayap diam-diam, memecah batu kerinduan. Aku yang hanya memeluk bisu waktu, ditemani bayangmu yang kekal selalu. Meski mata, hidung, kening dan bibir terhalang jarak. Di hatiku tersisa doa untuk bisa mengecupmu.

Serotonin adalah penghubung antar sel syaraf yang menjaga keseimbangan mood dan energi, nafsu makan, siklus bangun/tidur, mengatur gerakan usus, membantu menutupnya luka, mengeluarkan racun, memperkuat tulang dan mempengaruhi gairah seksual. Serotonin diproduksi di otak dan di usus. Karena serotonin ditemukan di berbagai jenis sel, diduga dampaknya sangat luas dalam berbagai pengaturan emosi psikologis dan kerja organ […]

melalui Serotonin: agar mood tidak naik turun, bebas depresi dan sembuh dari sakit — Indira Abidin’s Blog

Hidup adalah sebuah game, permainan hebat di mana Sang Pencipta bertindak sebagai Game Master. Game ini punya satu tujuan: menciptakan kebaikan, mencegah keburukan. Setiap kali kita menciptakan kebaikan kita mendapat poin positif dan setiap kali kita melakukan keburukan kita mendapat poin negatif. Bertambahnya poin membuat kita punya energi lebih banyak untuk meraih hadiah besar di […]

melalui Kenali permainan hidup kita yuk — Indira Abidin’s Blog