UNTUK DIINGAT: Menunda dan Ikhtiar yang Setengah-setengah

Saya harus menuliskan ini meski rasanya seperti merekam setiap kebodohan yang telah dilakukan.

Di luar sana, ada puluhan orang yang sedang mati-matian menjinakkan perasaan malas-tak berdaya-dan tanpa kompromi.

Hidup terasa membingungkan akhir-akhir ini. Terlebih dihadapkan dengan konsekuensi atas sikap yang kurang tegas. Sederet topik essay tertempel di dinding kamar, puluhan desain foto menggantung di antara jepitan kayu, konsep-konsep hidup yang sejatinya menjadi pengingat langkah yang harus diambil lama-lama mulai berdebu.

Sore ini -untuk sekali lagi- saya paham dan menyesali tentang konsekuensi ‘menunda’.

Siapa yang akan bertanggungjawab?

Haruskah kalimat itu keluar sebagai pertanyaan? Bagi saya kok rasanya memalukan untuk dijawab. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari ikhtiar yang setengah-setengah dan kebodohan yang berpotensi terulang.

Dua puluh dua tahun dan menyadari semakin hari tak lebih baik. Ah rasanya menyesakkan. Perasaan gagal, kurang, tidak pantas, ingin berhenti dalam suatu hal yang saya anggap penting menjadi catatan tersendiri tentang kinerja saya di masa muda.

“Wah keren yaa, sudah bisa melakukan apa yang diinginkan?”

Pernyataan macam itu yang saya dengar dari  beberapa orang sejujurnya membuat saya risih. Entah karena peduli, kepo, atau hanya basa basi, saya rasa sudah terlalu sering ikhtiar-doa-harapan-dan waktu yang saya permainkan, yang tidak sesuai dengan apapun penilaian orang tentang “wah keren ya”. Bukankah itu sebuah kesombongan? Ya. Kesombongan mempermainkan waktu dan ikhtiar yang setengah-setengah.

Saya masih jauh dari si A yang mempersiapkan suatu hal dengan baik. Ia adalah orang yang saya rasa tidak pernah punya alasan untuk menunda-protes-ataupun setengah-setengah. Setidaknya itu yang saya tangkap dari gerak-gerik dan cerita yang dibagikan pada saya sejauh ini.

Lalu setelah semua yang tertunda dan ikhtiar yang terlambat disadari masih setengah-setengah, saya masih berani-beraninya memohon kesempatan demi kesempatan pada Tuhan? Lalu… lalu saya merasa Allah harus yakin bahwa saya sudah berjuang sebegitu kerasnya?

Memalukan sekali. Sungguh.

Penyesalan terasa tak bermakna karena saya kalah sebelum mencoba.

Apa yang bisa dibanggakan?

 

Kehadirannya -orang-orang dengan semangat yang sama- menjadi pelipur sedih. Menjadi penyemangat bahwa saya masih dibersamai oleh mereka. Saya rasa tak ada yang lebih memalukan selain melakukan hal-hal bodoh di tengah orang-orang yang mengerahkan seluruh waktunya melakukan ikhtiar terbaik, tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa basa-basi.

Berada di antara orang-orang itu, membuat saya punya alarm positif dan gratis pula. Mereka hadir sebagai pengingat saat saya mulai ruwet dalam membaca prioritas hidup. Kehadiran mereka bagai tangan-tangan yang siap memukul kepala saya agar tidak mencla-mencle dalam mengikhtiarkan sesuatu.

Ini yang terakhir, lakukan apapun, sampai Allah yakin bahwa ada yang berjuang sebegitu kerasnya. Bukankah harusnya perasaan kurang dan tak pantas yang menggelisahkan membuat saya harusnya tahu bahwa itu isyarat yang Allah titipkan agar beristiqomah dalam berikhtiar?

Try it, right?

Kediri, 29 Oktober 2017

 

Advertisements

Pesan CintaMu dan Hal-hal yang Dihakimi Orang Lain

Dua minggu setelah wisuda sarjana, saya memilih pulang sementara ke rumah orangtua. Alasan yang pertama adalah karena waktu itu saya sedang sakit. Alasan kedua adalah karena banyak hal yang ingin saya persiapkan termasuk belajar melepaskan dan meninggalkan.

Saya pulang dengan kegelisahan dan mata yang mengharu biru, langkah kaki gontai, dan air mata yang siap jatuh kapanpun. Berbagai kenangan berlari-lari saat melemparkan pandangan di jendela kereta. Pertanyaan hidup yang dirapal dalam doa perlahan hanyut menjadi ketenangan tersendiri sepanjang perjalanan. Lalu saya berusaha menyimpulkan bahwa ini adalah pesan cintaMu untuk menjawab hal-hal abstrak tentang kompleksitas perasaan yang mendayu-dayu.

***

Dua minggu ini, saya punya banyak hal untuk dinikmati dan puluhan teman bicara dari orang-orang yang ditemui. Obrolan yang membuat semangat kadang hilang dan timbul. Seperti siang tadi, saya bertemu sahabat saya, sebut saja si A. Setelah sekian tahun tidak berjumpa dan komunikasi kami hanya sebatas lewat media sosial. Jarak yang cukup jauh membuat kami hanya berkomunikasi seadanya, and I do what I wanna do.

Setiap berbicara/ berkomunikasi dengannya, selalu membuat saya mampu meredam protes atas banyak hal di kehidupan yang tidak sesuai keinginan. Ia adalah orang baik yang saya percaya mampu membuka berbagai dimensi pemikiran saya tentang menjadi sebaik-baik manusia. Seringkali di saat bersamaan, Ia menunjukkan kepercayaan yang utuh untuk Allah walau terkadang hal-hal yang dipercayai tampak mudah dihakimi oleh orang lain.

Saya bersyukur karena dihadirkan oleh Allah orang yang selalu bersedia membagi keluasan ilmu dan keikhlasannya. Ia bercerita tentang kesempatan dan peran hidupnya untuk terus belajar bagaimana cara berpasrah dari petunjuk-petunjuk yang dibawa Allah dalam berbagai tempa. Menyimak kisahnya seperti diijinkan oleh Allah untuk terlibat dalam alur pikirnya. Retakan-retakan keraguan di kepala saya perlahan menemukan rumahnya untuk diletakkan sebagaimana peran seharusnya. Akhirnya, keberanian muncul dari mulut saya untuk mengatakan:

“Salah satu keinginan saya adalah saya ingin menjadi sepertimu”

Lalu lewat senyumnya Ia berusaha menjelaskan seolah Ia mempercayai bahwa saya bisa lebih baik darinya.

Tentu saja, sampai detik ini saya masih belajar darinya dalam mengelola prasangka baik, kesabaran, dan tersenyum tentang rencana Allah yang lagi-lagi akan mudah dihakimi oleh orang lain. Saya rasa setiap manusia akan mengalami ujiannya masing-masing namun darinya saya juga belajar memaknai pesan cinta Allah hingga tak ada yang bisa dilakukannya selain yakin dengan pertolonganNya.

Obrolan 5 jam tadi membuat saya menemukan remah-remah diri saya yang dulu hingga detik ini. Cerita-ceritanya membuat kekhawatiran saya luntur semudah yakin dengan kebaikan, petunjuk dan cinta yang dihadirkan Allah dari berbagai coba dan tempa.

Hingga muncul satu kesadaran untuk menyimpulkan bahwa saya harus siap. Dan dari matanya bisa tertangkap pesan bahwa saya harus memperjuangkan diri lebih keras lagi menterjemahkan pesan cintaNya.

Terimakasih untuk selalu yakin bahwa saya mampu belajar dan melihat dari cara yang benar. Terimakasih karena selalu menitipkan pesan cintaNya di setiap tutur yang terbagi. Terimakasih untuk kesadaran terbaik yang selalu membuat saya lebih berani dan baik-baik saja karena memilikiNya…

ps. ditulis sambil mengulang-ulang mendengarkan How Would You Fell-nya Ed Sheeran

Kediri, 28 Oktober 2017

 

Zona Nyaman

20160928_214134

Membaca blog-mu membuat saya memilih untuk mengganti playlist lagu di youtube dengan link lagu yang tercantum di blog-mu.

Mungkin itu salah satu cara Allah memberikan petunjuk tentang kehidupan yang sedang saya jalani sampai detik ini. Pada berbagai kesempatan, Allah menitipkan banyak orang untuk ditemui, menyimak kisahnya dan berkali-kali membuat saya terjebak pada alur pikirannya. Walau kadang lelah mendengarnya, saya rasa mereka -orang-orang yang saya temui- banyak memberikan kontribusi pikiran, pemahaman, dan persepektif baru tentang berbagai hal.

Mendengar cerita-cerita mereka membuat saya selalu berusaha mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu ditunjuk Allah untuk keluar dari zona nyaman. Akan selalu ada banyak PR untuk merapikan diri, berusaha sebaik mungkin memperbaiki niat dari segala ambisi yang ingin diraih.

Menyimak lagu itu membuat saya kembali berpikir sudah sejauh mana perjalanan saya. Menelaah satu per satu tujuan berbagai aktivitas yang saya lakukan. Kenyataannya, masih sangat jauh dari apa yang disebut berjuang dan justru penuh keluhan.

Katanya “Ngak ada yang lebih capek selain denger orang ngeluh capek terus.”

Dan saya tidak memilih menjadi seperti itu. Hari ini saya cukup senang keluar dari zona nyaman, meskipun sesederhana menulis lagi di blog ini.

Dengarkan lagunya di sini

 

Kediri, 26 Oktober 2017