short course

Bangga rasanya melihat orang lain tak pernah berhenti untuk belajar dan terus belajar.

Siang tadi, membuka salah satu halaman beranda di media sosial muncul tampilan kabar dari beberapa bapak dan ibu guru yang sedang melanjutkan studi beasiswa S2 di beberapa negara eropa. Sekilas aku tahu ini adalah salah satu program pemerintah untuk meningkatkan mutu atau kualitas pendidik. Yang berkesempatan menikmati beasiswa dari pemerintah itu adalah bapak ibu guru yang mengajar mata pelajaran yang diujikan saat ujian nasional (kecuali Bahasa Indonesia).

Kesempatan short course S2 di luar negeri itu mungkin menjadi kesempatan emas untuk menimba ilmu yang lebih beragam di benua yang berbeda. Disela kesibukan di sekolah dan rumah tangga, bapak dan ibu guru ini rela untuk sementara waktu mengesampingkan tugasnya dalam keluarga demi melaksanakan tugas yang lain yaitu meningkatkan kualitasnya sebagai seorang pendidik di sekolah. Bukan hanya itu, kesempatan short course itu bisa saja memberikan sudut pandang lain dan ilmu yang lebih beragam dan bisa diterapkan di Indonesia nantinya.

Bagiku, ini menjadi pendorong semangatku untuk tidak pernah berhenti belajar dan belajar. Bahwa sampai kapanpun kita harus belajar dimanapun kesempatannya. Bahwa tidak ada ilmu yang sia-sia. Buah dari pendidikan itu bisa di petik di masa depan.

Pendidikan memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari pendidikan.

Advertisements

Belum Ada Judul

Banyak sekali alasan dan janji yang sering kuucapkan pada diriku, hanya untuk membenarkan diriku sendiri atau mengelak dari kenyataan yang ada di depan mata. Aku sering tidak mengakuinya, menganggapnya hanya sebuah omong kosong yang tidak penting dan mungkin khilaf aku ucapkan. Duh, bodohnya diri ini jika menganggap semua itu hanya seperti itu. Dimana kesantunan nurani yang dulu pernah Bunda ajarkan?

Aku mengatakannya seperti memarahi diriku sendiri, aku bahkan malu jika harus membaca draft, list, dan jobdesk yang sudah kutulis dan tertata rapi di sebuah buku lalu membatalkannya, seketika itu mengelak pada diriku sendiri dengan berbagai macam alasan yang aku buat sendiri. Tidakkah aku ingat bahwa Allah juga mendengar janjiku pada diriku sendiri?

Aku bisa menyimpulkan, mungkin bukan aku saja yang sering mengalami hal serupa. Bisa saja kamu, temanmu, dan siapapun itu. Aku lalu menyadari kemunafikan yang ternyata diciptakan oleh manusia sendiri. Bagaimana meninggalkan itu? Bagaimana? Hanya diri kita sendiri yang bisa.

…saat kemunafikan itu terlalu besar, kita lupa sudah, bahwa kita telah berada di dalamnya–tapi tetap merasa paling benar. -darwis tere liye

 

 

MENCINTAI PILIHAN #3

Enam bulan berikutnya, kegiatannya masih sama yaitu liputan di sekolah maupun di luar sekolah, jepret sana-sini, nulis artikel, “memproduksi” ide-ide yang fresh, koreksi majalah pra cetak, de el el. Tapi seruuuuuuu!! Seruu sekali (bagi orang yang menikmati dan merasa cinta dengan apa yang dilakukan. hehehe.). Terbitlah majalah sekolah edisi kedua di tahun 2011. Dalam waktu setahun itu, kesibukan-kesibukan menjadi jurnalis sekolah itu menjadi hal unik yang berbeda dari masa-masa MTs dulu. Aku dan teman-teman juga masih sering mengikuti lomba dan perkumpulan jurnalis Kota Kediri. Ya intinya, biar lebih banyak pengalaman dan ilmu yang didapat untuk tim Media SMAGA.

Oh ya, selain aktif di Jurnalis Sekolah, aku juga aktif di ekstra KIR (Karya Ilmiah Remaja) dan Broadcasting. Tapi ya gitu karena kebanyakan ikut ekstrakurikuler jadinya kan gak efektif dan akhirnya aku memutuskan untuk lebih rajin di Jurnalis dan KIR saja, selain itu stop dulu. Satu tahun ikut di dua kegiatan itu membuatku menemukan banyak sekali ilmu bukan hanya di dunia jurnalis dan tulis menulis, tapi juga kehidupan, totalitas, kerja keras, dan cinta dengan apa yang dilakukannya, aku menemukan pelajaran berharga dari orang-orang yang luar biasa hebat, orang-orang yang mengorbankan hidupnya karena kecintaannya dengan apa yang dilakukannya, orang-orang yang selalu mendukung dirinya dan sesamanya untuk melakukan setiap hal dengan penuh cinta dan ikhlas. Orang-orang luar biasa yang punya komitmen demi kemajuan orang lain. Orang-orang ini bisa aku katakan, ia mengorbankan hidup dan waktunya untuk membuat anak didiknya sukses dan menjadi yang terbaik. Yaa benar sekali, aku menemukan orang-orang itu dari dua ekstrakurikuler itu.

“Kelilingilah diri sendiri dengan teman-teman yang sibuk mengejar cita-cita, maka kita akan ikut mengejar cita-cita. Kelilingilah diri sendiri dengan teman-teman yang giat belajar, tak henti mencari ilmu, maka kita akan ikut giat belajar, tak henti mencari ilmu. Kelilingilah diri sendiri dengan teman-teman yang selalu menyemangati, berkata positif, memotivasi, maka kita akan ikut semangat, berkata positif, dan termotivasi. Kelilingilah diri sendiri dengan teman-teman yang saling mengerti, menerima apa adanya, maka kita akan dapat ikut saling mengerti, menerima apa adanya. Sungguh, rumus ini tidak akan keliru.” –darwis tere liye

Aku juga bersyukur, dihadapkan pada kenyataan bahwa aku dilahirkan dari keluarga yang demokratis, yang mendukung setiap langkah yang akan aku lakukan selama itu baik, positif dan bermanfaat. Dengan keadaan itu, aku lebih enjoy menikmati setiap kegiatan yang aku lakukan di sekolah maupun di luar sekolah. Meskipun seringkali aku lembur ketika ada lomba KIR dan tugas meng-edit artikel majalah yang belum selesai, itu tidak mengurangi semangatku untuk belajar dan menjadi juara kelas (ranking 3). Hal-hal itu semakin meyakinkanku untuk terus mencintai apa yang aku lakukan. Mencintai menulis, mencintai hidup ini dengan rangkaian kata yang selalu menghiasi waktuku. Simfonikan dunia lewat tulisan.

Setiap hal yang sudah menjadi pilihan, tidak bisa diabaikan bahkan dilepaskan begitu saja. Pilihan itu akan terus kamu genggam, mengkristal di kepala karena itulah dirimu, hidupmu. Maka, Hidupilah Pilihan Hidupmu!

MENCINTAI PILIHAN #2

Puas dengan kehidupan Jurnalis di MTs, setelah diterima menjadi siswa baru di SMA dekat rumahku, SMAN 3 Kediri. Mulailah ke-gencar-an kakak-kakak senior dalam mempromosikan ekstrakurikuler yang ada di sekolah ketika masa OSPEK, ada PMR, Pramuka, Paskibraka, KIR, Broadcasting, Jurnalistik, dan masih banyak lagi lainnya. Tapi cuma satu yang bisa mencuri hatiku, Jurnalis. Meskipun aku juga melirik yang lain yaitu KIR dan Broadcasting. Seketika itu setelah promosi di aula sekolah, aku langsung meminta contact person pengurus jurnalis, dan kuketahui nama komunitas jurnalis ini adalah Media SMAGA. Kereeen. Pulang sekolah aku langsung sms si kakak jurnalis sekolah itu, beberapa hari kemudian di bukalah pendaftaran jurnalis dan dilakukan tes tulis dan wawancara. Aku beruntung sudah memiliki sedikit pengalaman jurnalis di SMP dulu juga sering ikut pelatihan jurnalis di kampus-kampus dan media massa di Kediri, bahkan aku pernah ikut komunitas jurnalis di bawah naungan Radar Kediri namanya Komunitas Muda Radar Kediri (KOMU). Kesempatan waktu itu tidak aku sia-siakan, karyaku beberapa kali di muat di koran dan masih kusimpan sampai saat ini -untuk kenang-kenangan-. Nah ternyata pengalaman seperti itu cukup membantu dan bermanfaat loh untuk terjun di jurnalis sekolah, bisa memberi nilai plus. Jadi saranku, manfaatkan tuh kesempatan untuk ikut komunitas-komunitas yang bisa mengembangkan bakat dan minat kamu disitu. Dijamin gak ada yang sia-sia, yang ada malah nambah ilmu, informasi, relasi, dan banyak lagi manfaatnya.

Oke deh, dari 50 anak yang mendaftar dan ikut tes waktu itu, aku adalah 1 dari 20 anak yang diterima menjadi anggota jurnalis sekolah. Lega dan bersyukur rasanya bisa punya kesempatan lagi jadi jurnalis sekolah. Satu yang ada dipikiranku waktu itu “Pengorbanan, Totalitas, dan Manajemen Waktu.”, yaa ketika aku sudah memilih sesuatu aku harus mengerjakannya dengan totalitas, tanggung jawab, dan cinta. Karena jika tidak ada unsur-unsur itu, pilihan hanyalah sebuah karang yang patah ketika dihempas ombak, tidak ada komitmen disitu. Oke lanjut yaa, saat itu pembagian tugas dan jabatan, aku kebagian menjadi sie layout padahal inginnya menjadi sie reporter atau dokumentasi. Tapi tak apalah, itu tanggung jawab dan kewajiban yang sudah di berikan. Siap laksanakan!. Tibalah saat yang paling membuatku kegirangan dan sangat bersemangat. Waktu itu adalah saat aku dan teman-temanku mendapatkan seragam jurnalis dan ID Card Jurnalis Media SMAGA. Yap, aku sebut saja “baju item jurnalis” yang kece badai. Wiih dengan bangganya memakai baju itu saat pengukuhan jurnalis oleh kepala sekolah di ruang multimedia. Aku jadi ingat kata-kata dari salah seorang reporter Trans TV Aditya Sukardi yang waktu itu meninggal dalam kecelakaan pesawat SUKHOI di Jakarta saat tugas liputan, kurang lebih seperti ini:

“Gue bangga kerja disini, karena anak gue bangga lihat ayahnya pakai baju item Trans TV”

setelah pengukuhan dengan “baju item jurnalis” yang kece badai ini (menurutku :D) mulailah hari-hariku di sekolah diisi dengan kegiatan liputan dan jepret sana-sini, tapi kegiatan pelajaran di sekolah tetap nomor satu donk. Aku dan tim waktu itu sering berbagi tugas dan paling rajin datang kalau agenda kumpul Jurnalis. 6 Bulan berlalu, liputan selama 6 bulan itu sudah terbungkus rapi menjadi sebuah majalah sekolah yang diberi nama ASPEK (Aspirasi Pelajar Kreatif). Akhirnya bisa lihat tulisanku dan teman-teman di muat di majalah sekolah. Sebuah kebanggaan tersendiri dan tentunya harus terus belajar untuk menulis lebih baik lagi.

“Ketika aku menikmati pilihanku dan mencintainya, aku sedang melakukan perubahan!”

MENCINTAI PILIHAN #1

Kali ini aku akan cerita soal awal mula “terjebak” di dunia tulis menulis. Kenapa bisa gitu? Sebenarnya semua berawal waktu SD, ketika itu aku masih kelas 4 SD (masih unyu-unyu), di kelas sering banget nulis puisi dan hampir setiap waktu luang diisi dengan makan dan nulis (awal itu masih bisa nulis puisi, pantun, dan nulis cerita di diary), sebuah ritual yang tidak pernah terlewat. Meskipun waktu itu cuma bisa nulis dengan kata dan kalimat yang sederhana, tidak memperhatikan diksi atau kaidah penulisan yang benar, tapi bisa enjoy loh ketika nulis. Ada lagi yang lebih seru nih, waktu itu aku selalu excited waktu pelajaran Bahasa Indonesia, karena materinya emang seputar menulis puisi dan pantun. Wah, kesempatan nih untuk melatih kemampuan menulis -sejak dini-. Setahun duduk di kelas 4 aku sudah menghasilkan beberapa tulisan tapi kebanyakan masih ditulis di kertas-kertas dan sekarang entah hilang kemana, mungkin sudah berdebu dan berabu entah tertiup angin kemana. Naik ke kelas 5 SD mulai tuh aku ditunjuk oleh guru Bahasa Indonesia untuk mengikuti lomba menulis, nah sejak saat itu aku lebih sering menulis puisi dan cerpen juga membaca kumpulan-kumpulan cerpen yang dipinjami oleh guru. Tapi sayang aku belum berhasil menjadi juara waktu itu, tapi itu cukup menjadi pengalaman pertamaku mengikuti lomba menulis. Naik ke kelas 6 SD aku lebih sering bereksperimen dengan teman-teman untuk menulis puisi, aku dan tiga orang temanku memberanikan diri untuk menulis kumpulan puisi di sebuah buku, kami sering membawa buku itu bergantian untuk menulis beberapa puisi.

Itu tadi kan waktu masih SD. Kali ini masa-masa SMP. Sekolah di MTsN 2 Kediri, aku mencoba ikut seleksi anggota jurnalis Fikruna waktu kelas 1. Tapi sayang, waktu itu aku tidak di terima, padahal menurutku aku sudah menjawab semua pertanyaan dengan benar.  Mungkin emang belum waktunya ikut komunitas itu ya. Sekolahku itu terkenal sekali sering ikut lomba kepenulisan, jurnalis, dan mading dan selalu banjir juara. hehehe. Promosi sedikit. Karena tes jurnalis tidak diterima, aku pun tidak putus asa, aku lalu ikut tes Karya Ilmiah Remaja atau KIR. Naik ke kelas dua aku masih rajin menulis di diary, nulis apa aja yang bisa di tulis. Saat itulah aku mulai mengenal blog dan rajin ke warnet buat posting tulisan di blog, waktu itu masih pakai blogspot. Karena seneng kenal dengan media baru untuk nulis di internet, makanya tiap hari posting terus -meskipun tulisannya asal-asalan-. Dan pucuk dicinta ulampun tiba, aku direkrut oleh tim Jurnalis Fikruna -tanpa tes- entah apa yang membuatnya seperti itu. Wuiiih kegirangan sekali aku waktu itu, Alhamdulillah. Kegiatan jurnalis sekolah itu aku ikuti dengan senang hati dan semangat. Hingga tibalah masa-masa sering ada event dan lomba. Kamipun rela nglembur bermalam di sekolah demi Lomba mading dan serangkaian lomba lain, tak sia-sia semua itu. Juara 1 pun sering kami raih, mulai tingkat regional sampai provinsi. Wiiw keren, dan semakin menambah kecintaanku pada dunia jurnalis dan menulis.

“Semua berawal dari keinginan yang sederhana, lalu mulai mencintai keinginan sederhana itu, datanglah sebuah kesempatan, tumbuhlah totalitas dan cinta. Nikmatilah…”

(baca lanjutan ceritanya yap… to be continue…)

#1 Topeng

Ketika apa yang aku ucapkan tak lagi bermakna. Diam adalah satu-satunya pilihan. Sedangkan jiwaku terus memaksaku untuk menyelami rawa gulita itu. Pedih… perih rasanya harus terlihat tegar menyelaminya. Aku bahkan sudah bosan menenteng topeng senyum tentang apa yang aku tentang. Atau aku harus diam dan mendiamkan semua yang aku benci. Tetesan air mata bukan hal yang tak biasa. Tapi senyum ini selalu palsu. Bosan, ingin rasanya menelanjangi sudut-sudut kebohonganku. Karena bagaimanapun kerasnya aku berpikir tidak pernah memberikan manfaat untuk diriku sendiri. Aku terpaksa berjalan menenteng topeng senyum itu. Ya mulai sekarang aku akan mencoba mengalahkan diriku sendiri. Bukan harus meratap tapi menatap penuh harapan. Semoga semuanya akan membawaku kembali mengerti siapa diriku sebenarnya. Menyandarkan kembali tubuhku pada Yang Maha Segalanya.

Cerita Tanpa Koma!

Waktu berlalu tanpa peduli apa yang terjadi, tanpa peduli siapa pelakunya dan apa yang dilakukannya. Waktu memandang semuanya sama, jika tidak bisa menjadi yang terbaik hari ini, jangan harap akan menghasilkan yang terbaik hari esok. 24 jam seakan berlalu tanpa terasa bagi kami. Setiap detik waktu yang berjalan menjadi sebuah cerita tanpa koma. Puluhan ide dan cerita memberontak memenuhi otak menuntut untuk segera dituangkan dalam berita. Continue reading “Cerita Tanpa Koma!”

Tolong, Aku Malas!

Mau nulis apa ya hari ini? Emh, dimana ya tempat yang enak buat nulis? Terus bahas soal apa ya hari ini?. Itu mungkin pertanyaan klasik yang sering muncul dan mengganggu mood ketika akan menulis. Aku sendiri seringkali mengalami hal itu, mulai tidak tahu mau nulis apa, bingung mikirin tempat yang nyaman buat nulis, dan sederet pertanyaan yang sebenarnya gak penting. Karena dengan pertanyaan-pertanyaan itu justru menghabiskan waktu kita untuk tidak menulis. Pernah waktu itu aku lagi suntuk banget bingung mau nulis apa, lalu coba aja deh buka twitter siapa tahu dapat inspirasi, pikirku. Setelah baca timeline, ada satu twit yang paling jleb banget dari bang @radityadika, salah satu penulis favorit aku.

RT@radityadika setiap malam yang dihabiskan untuk tidak menulis sesungguhnya bisa dihabiskan untuk menulis. #bukaLaptop

Twit yang nusuk banget buat penulis yang males-males an. Sepertinya gak pantes banget ya kalau ada waktu buat males-malesan. Setelah baca twit itu langsung deh buka laptop dan berhasil nulis sampai 10 halaman. Ah, twit-nya raditya dika selalu mempesona, bagiku.

Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu mood menulis itu segera aku hindari. Gimana sih caranya?

  1. Sempurnakan Niat

Semua yang kita lakukan tergantung dari niat yang kita punya. Nah, apa sih sebenarnya tujuan kamu menulis itu? Buat apa sih?. Sebut saja niat adalah langkah awal kita untuk melakukan sesuatu. Kalau niatnya udah salah gak mungkin maksimal donk. Niat juga bisa jadi motivasi yang mendorong kita untuk tetap menulis. Jadi, yuk sempurnakan niat untuk apa kamu menulis.

  1. 4-6 hours for reading and writing

Selalu sediakan waktu luang sekitar 4-6 jam untuk membaca dan menulis. Dengan menyediakan waktu seperti itu, kamu akan lebih produktif menulis. Tapi tulisan yang baik adalah ketika dibaca pesan yang disampaikan penulis tersampaikan. Untuk menunjang hal itu, sekarang banyak kok dijual buku-buku panduan dan tips untuk menulis, sekalipun menulis tanpa panduan juga bisa dilakukan. Eits, tapi jangan salah ya, menulis tanpa membaca sama artinya tulisan ompong alias kurang berbobot. Biar tulisan kamu gak acak-acakan dan bisa enak dibaca, kamu harus banyak-banyak baca buku panduan menulis, novel, atau karangan-karangan lain. Nah dengan banyak membaca, kamu akan memiliki banyak referensi untuk tulisan-tulisan kamu. Asal jangan menjiplak ya.

 

  1. Ide, Action, and Passion

Kamu boleh punya banyak ide yang kreatif dan menarik. Tapi gak asik donk kalau ide kamu cuma nongkrong di pikiran kamu, gak ada manfaatnya woy. Kamu harus action biar ide kamu gak cuma ada dipikiranmu. Tapi ide dan action belum cukup loh, kamu harus punya passion. Bukan cuma pilih kerjaan dan pilih sekolah aja yang butuh passion, bakat dan mimpi kamu juga butuh passion. Apa sih passion itu? Setelah browsing di internet akhirnya nemu nih arti passion yang paling kece dari sebuah blog, isinya seperti ini:

 

“Sesuatu adalah passion kita, jika ketika kita mengerjakan hal tersebut, maka waktu akan berlalu dengan cepat. Badan dan pikiran kita pun akan rileks dan enjoy mengerjakannya, entah itu 5 menit, sejam, 5 jam, ataupun seharian, tidak akan ada bedanya. Pada kenyataannya, terkadang kita sama sekali tidak merasa perlu untuk beristirahat, bahkan ketika mengerjakan sesuatu yang pada umumnya orang anggap sebagai sesuatu yang teramat melelahkan.”

 

Ketika kita melakukan sesuatu yang kita senangi, maka waktu akan berjalan tanpa terasa, pernahkan kita merasakan seakan-akan kita terbenam ke dalam suatu hal sampai lupa waktu? Seperti itulah kira-kira ketika kita punya passion. Ide, action, dan passion adalah satu paket untuk menciptakan masterpiece.

 

  1. Mulai dengan Apa yang Kamu Suka

Kalau sudah melakukan 3 hal di atas. Gimana sih cara menjaga mood agar tetap baik untuk menulis. Mulailah menulis dengan minimal 2000 kata per hari, catatlah sekecil apapun ide-ide kamu di atas kertas bahkan di notes pada handphone atau smartphone agar kita tidak lupa. Bahkan, JK Rolling penulis best seller Harry Potter selalu menulis ide yang tiba-tiba muncul pada selembar tissue jika ia tak membawa catatan. Mulailah juga dengan tulisan yang kamu sukai atau tulis tentang apa yang sedang kamu rasakan saat itu. Karena mood biasanya membawa tulisan-tulisan itu mengalir seperti air. Tulislah apa yang ada di pikiranmu, bukan apa yang akan kamu pikirkan.

  1. Everytime is good for writing

Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun keadaannya. Menulislah. Jangan pernah menunda waktu untuk menulis. Jangan biarkan rasa malas dan bad mood mengganggu semangatmu untuk menulis dan menyelesaikan karyamu. Buatlah jari-jemarimu geli ingin menulis. Ciptakan suasana yang kondusif untuk menulis. Be a good writer with good idea. Its can make you think smart.

Itu tadi 5 hal yang membantu mengatasi rasa malas menulis. Kamu juga bisa coba loh tips di atas. Be a good writer ya guys.

MIMPI TERPENJARA (4)

“Biarkan dia merdeka dalam setiap mimpinya. Mimpi yang memodali dirinya untuk tetap ‘ada’ dan dikenang hingga kini. Sebentuk impian yang terpacar jelas dari raut wajah mungilnya. Tentang apa pilihan di masa depannya. Yah, terlihat mengagumkan ketika sebentuk impian itu memberontak untuk segera diekspresikan. Terdengar mengagumkan. Terlihat kuat. Mungkin tak ada yang berarti dalam hidupnya. Tapi, dia selalu berkata “Segala sesuatu dalam kehidupanku mungkin agak suram, tapi sebentar lagi kehidupanku akan bersinar.”. ‘Share yang hilang dari dunia anak.’

MIMPI TERPENJARA (3)

“di ruangan kecil ini ia membangun impian itu. Mencoba bangkit dan bangun melihat keadaan sekitar. Terjajar rapi lukisan-lukisan itu. Foto-foto yang tertempel sejajar dengan ruangan. Coretan kertas dan buku-buku bertumpuk di sudut ruangan. Hanya merah, biru, dan hijau yang menyinari setiap mimpinya di ruangan mungil itu. Kerapkali ia menggantungkan secuil kertas di pohon cokelat yang terlukis di sudut ruangan. Meniup debu dari buku di sudut ruangan yang sudah lama tak terpakai menjadi hal unik baginya. Rasanya ada sepotong fragmen yang tak boleh dilewatkan. Seperti ada nuansa masa lalu yang memberontak ingin dikenang hingga kini. Mari kembali beralih pada setiap bagian di buku ini dengan tulisan yang acak-acakan. Lembar demi lembar, setiap foto yang tertempel, coretan demi coretan dari tinta warna yang mulai luntur menghiasi setiap lembar dalam buku itu. Jelas sekali bahwa ia ingin mengenang semua imajinya.”