Dear Mami #4 Menunggu Senin

Biarkan aku diam-diam merasa puas mengakhiri Minggu tanpa pernah menceritakan padamu. Karena aku tahu, besok aku berbahagia melihatmu menemaniku, di sana.

Saat yang lain masih terlelap pagi ini, aku memutuskan untuk bangun lebih awal, membersihkan diri lebih dulu, merapikan apa saja yang aku butuhkan. Ini minggu kesekian dari tiga tahun perjalanan selama kuliah yang ditiap Minggu akan selalu ada moment untuk kembali ke peraduan. Bagi sebagian orang juga, Minggu adalah waktu yang tak boleh berakhir, di dalamnya tersimpan kebahagiaan untuk menikmati liburan sebagai pelengkap akhir pekan. Lain halnya dengan mahasiswa perantauan macam aku ini, Minggu adalah kesempatan terakhir untuk menikmati masakan khas rumah, jalan-jalan bersama keluarga, dan hari serba malas-malasan sambil nonton tv ditemani segelas teh panas kemudian menunda mandi sebagai pelengkap kemerdekaan untuk liburan.

Dan belakangan, setiap hari Minggu selalu terasa berbeda. Aku kehilangan suntuk yang sempat mengganggu, dan itu aku syukuri. Rasanya kali ini aku benar-benar perlu menyampaikan ini demi kelegaan di hati. Kupikir ini tak terlalu menyakitkan untuk meyakinkanmu bahwa aku mengingatmu, berkali-kali. Sebelum subuh wajahmu kerap berkelebat di benakku setiap kali aku mengingatmu.

Dua tahun yang lalu aku bertemu denganmu, hari Senin pertama dengan segenap perasaan malas berawal dari perkenalan membosankan yang ‘mi mulai. Senin itu penghujung bulan saat senja memasrahkan matahari tenggelam sempurna, aku pulang dengan gontai, merutuki hari itu, berdoa semoga Senin segera berakhir memasrahkan kesalku dalam tidur. Aku akan selalu ingat hari itu, saat aku pernah membencimu, Mi…

Hari kemudian berganti, aku semakin menunjukkan kegelisahanku, ketidakpedulianku atas apa yang sedang Mi lakukan. Kian hari kian terasa bahwa aku tak pernah menginginkanmu. Hingga suatu siang kita pernah duduk berhadapan, aku mengajukan artikel untuk dianalisis, Mi mempersilahkanku dan menanggapinya biasa saja, dengan sabar dijelaskan satu-satu, dan aku hanya terpaku menatapmu. Yang aku nikmati waktu itu bukan tentang detail penjelasanmu, melainkan hawa dingin yang menjalari sekujur tubuhku. Semenjak itu aku merasakan sesuatu yang aneh, sebuah sensasi yang tak terjelaskan. Kian hari kian menyiksa sekaligus menggoda untuk dipikirkan. Mi mengerti maksudku, kan?

Baiklah, biar aku pertegas lagi soal itu: aku mulai memikirkanmu, mi.

Kesempatan banyak berpihak padaku, juga pada kesengajaan yang Allah ciptakan yang hingga hari ini membuat kita berpikir bagaimana ini bisa terjadi. Dan cukuplah kita yang tahu semua ini tanpa perlu dicari tahu untuk apa dan kenapa bisa terjadi.

Aku begitu menikmati, tanpa meminta balasan pun belas kasih. Aku menikmati ini akan baik-baik saja, kita mulai mengatur perasaan agar sepenuhnya sefrekuensi. Aku yang malu-malu menerimamu dikehidupanku, Mi yang dengan segala pertimbangan memintaku untuk tinggal. Semakin hari aku tahu pertemuan kita memang akan terasa luar biasa sulit untuk terjelaskan. Namun bagaimanapun, waktu akan berusaha memecahkan pertanyaan-pertanyaan kita.

Sementara setiap babak dalam kehidupan berganti tanpa permisi. Kini aku mencintai Senin, tak sabar menanti hadirnya untuk kujalani. Kupikir, Senin-Senin setelah kebencianku padamu dibebaskan oleh rindu, aku punya perayaan yang akan membersamai waktu kita.

Mi tahu, aku punya Minggu untuk mempersiapkan keyakinan bahwa Senin aku akan melewatinya penuh kegembiraan. Dari tiap detik itu, aku masih sempat menggunakan waktu untuk meyakini bahwa Mi pasti sedang menjalani sesuatu yang berbeda denganku hari ini tapi tak pernah meninggalkan setiap detiknya untuk memikirkanku. Iya kan?

Senin pagi, saat kebanyakan orang mengomel dan mengutuki hari ini aku tak sabar menjalani segala kebalikan apa yang orang pikirkan. Setiap Senin mungkin aku sedang jatuh hati, Senin mungkin aku sedang setia merekam perjalananmu. Aku menyaksikanmu di ruang kerja, mendengarkan gelisahmu perihal pekerjaan yang tak kunjung selesai, sesekali menengok lembar-lembar makalah untuk dibaca, mengacak-acak lagi tumpukan hurufnya, yang bahkan dimataku semua itu selalu berbaris menjadi kebahagiaan bersamamu.

Setiap pagi aku terbagun layaknya manusia yang baru saja melahirkan kebahagiaan karenamu, melukis setiap detail gembira seharian nanti. Menunggumu di bangku sepeda sampai menemani kemanapun inginmu hari ini kemudian menjadi agenda yang tak akan kubiarkan siapapun menggantikannya. Terdengar egois memang, tapi bukankah hanya aku yang selalu menghapal rute perjalanmu? Dan kemudian saat ditanya siapa yang mencintaimu lebih hebat setiap Senin, aku percaya diri akulah juaranya meski aku harus menyadari bahwa kamu tidak sepenuhnya milik waktu-waktuku, milik rindu-rinduku. Tapi aku percaya diri, aku juaranya.

Dan tentu saja, Senin besok, di sana, aku menjumpaimu lagi Mi. Di permulaan hari yang dingin, saat kakiku selalu semangat membuktikan perasaan yang sama di hari yang berbeda: Aku mencintaimu dan perjalanan kita.

Kediri, 27 Maret 2016

Advertisements

Dear Mami #3 Masa Kini dan Cinta yang Kutemukan pada Dirimu

Rintik kecil hujan di luar sana mengurungku untuk tidak keluar rumah. Sejak pagi ia menyisakan genangan di tepian jalan. Membuat siapa saja harus berhati-hati dan melambatkan jalannya. Pagi tanpa matahari dengan segelas teh panas di tangan kananku menambah suasana sendu pagi ini. Ini sabtu kesekianmu yang menjadi agenda lembur menyelesaikan tugas kantor. Ini pagi kesekianku dengan secangkir teh panas buatanmu. Dan selalu ada aku yang senantiasa menjalani waktu bersamamu kemanapun hari ini.

Melalui pintu kamar yang terbuka, aku rasanya ingin berbaring lemah saja di atas tempat tidur karena sepertinya suasana memang mendukung. Komposisi pagi-hujan- dan dingin lebih menggoda untuk istirahat daripada beraktifitas di luar rumah. Tampaknya ‘mi juga demikian, enggan melangkahkan kaki ke kamar mandi, merapikan diri, dan berangkat ke kantor. Aku curiga, hujan akan menggagalkan agenda seharian nanti dan memanjakan kami bermalas-malasan di rumah.

“Badanku nggak enak, pengen muntah mi…” kataku benar-benar. Biar lebih meyakinkan, kutambahkan,

“Aku mau tiduran aja di rumah, udah pusing aja kepalanya.”

Seperti biasanya saat aku seperti ini, ‘mi menatapku khawatir. Seolah tak ada satupun dari diriku yang boleh diremehkan, sedikitpun. Apalagi ini menyangkut kesehatan, tak pernah ada cerita ‘mi membiarkanku mengatakan baik-baik saja bahkan jika bisa, ‘mi selalu di sampingku memastikan aku akan benar-benar baik-baik saja.

Bagiku, tidak ada yang lebih diharapkan selain kehadiran dua pasang matamu yang menyeduh sedih untukku. Saat aku butuh lebih dari sekedar sandaran, ‘mi menawarkan pelukan. Aku yang hanya diam menahan lemas, mencoba meramu kata seperti gombalan yang sering aku utarakan, tak bisa meski aku selalu mencoba. Batinmu aku ternyata bisa sakit juga.

“Aku itu kasihan lihat kamu sakit,” sambil mengusap kepalaku, “tapi kalo nggak begini, kamu bakal main terus, kelayapan terus nggak tau waktu.” Protesmu.

Aku menatapmu sayu, kehabisan tenaga sekedar untuk membela diri, “iya iya… boleh minum es?” godaku meski terbata

“Teruuus aja terus minum es, makan sembarangan, udah nggak usah bandel deh. Istirahaaat!”

“Mmm…” gumamku sambil cekikikan

Protesmu selalu sama mi… dari waktu ke waktu, dan ketika kurasakan itu adalah energi, aku tak sanggup melepas genggamanmu yang kupikir tak akan pernah lari. Semoga. Dan aku bisa apa jika sudah dihadapkan oleh hati paling mesra milikmu, senyum paling manismu untukku? Aku bisa apa selain mengikuti jalanmu ingin merubahku menjadi seperti cermin diriku yang ‘mi inginkan. Aku yang mati kutu diam saja menahan air mata yang semakin mendesak keluar melihatmu menenangkanku. Kepadaku, pandaimu tak tertandingi untuk memahamiku, punya segala cara untuk menenangkankku tapi bahkan mungkin hanya aku yang terlalu egois untuk memahami kesengajaan Tuhan ini. Tak ada yang tahu betapa kisah kita selalu kubingkai dalam ribuan syukur tanpa perlu kupertanyakan padaNya. Kita selalu percaya bahwa takdir pasti ada entah itu tawa yang melepas luka atau bahagia yang tiba-tiba terjadi di atas segala.

Masa kini, pertemuan kita adalah tentang mengantarmu di setiap perjalanan selain juga menemaniku menggapai impian. Dulu pernah sekali aku memaksamu berjanji tapi sepertinya itu berlebihan meski Tuhan selalu membuka jalan bahwa akulah orang yang beruntung untuk ditemukan dan menemukanmu. Aku tak pernah ingin pergi dan ‘mi tetap berharap aku tinggal disini  tanpa perlu berlari.

Seterusnya setelah pertemuan kita itu, aku tak lagi ingin  bertanya banyak hal untuk meyakinkan diriku sendiri tentang kasihmu, ‘mi… Aku hanya butuh melihatmu, dua tatapan matamu, yang menumpuk cerita cinta penuh kasih yang luar biasa.

Jadi selama ini, aku yang menemukan cinta pada dirimu? Atau sebaliknya, mi?

 

Kediri, 26 Maret 2016

Suatu Malam Aku Bercakap dengan Aku

 

 

 

20160223_173655

 

Barangkali aku memang tak seberjuang dulu, tapi kaki dan tanganmu selalu ada disampingku mengajakku berjalan, pundakmu selalu menyediakan rengkuh paling hangat. Hei, kamu kah anak kecil yang dulu menangis di balik jendela memegang boneka? Sungguh, kali ini kamu harus sadar, tak ada yang lebih sanggup menguat-kuatkan hidupmu selain dirimu. Maka jangan tanyakan lagi mengapa Tuhan sediakan sekat ketika kita pernah begitu dekat dan berbahagia menikmati masa lalu. Itu hanya caraNya membuatmu kembali berpihak pada perasaanNya.

Kini ketahuilah, semua lilin itu akan padam satu per satu. Seperti usia yang tak selamanya sempurna, disana sini masih bercecer salah dan dosa. Tapi di pergantian itu, kulihat jeda untuk melihat usia yang jelas berkurang, melihat diriku sendiri di situ, lalu pergi. Jadilah bijaksana seiring kedewasaan yang bertambah.

Selamat ulang tahun, Aku.

Malang, 18 Februari 2016

Dear Mami #2: Tanggung Jawab Waktu

Mulanya aku berpura-pura duduk di sebuah bangku di depan meja kerjamu dengan sikap seolah tak ingin melakukan apapun. Menyodorkan segelas jus jambu merah tanpa perlu menatapmu pun memintamu menerimanya atau tidak. Hanya duduk malas saja di situ untuk menghabiskan waktu.

Kulihat kanan-kiri, yang ada hanya tumpukan buku dan sekat yang tak terlalu tinggi untuk membatasi meja kerja antar rekan kerja. Adalah aku, yang senang bermalas-malas di kursi ini, yang bersedia melakukan upaya apapun untuk mengusir sepimu, kantukmu, bahkan rela menyuguhkan cerita tak masuk akal khayalan penulis abal-abal macam aku yang kadang romantis tapi lebih sering tersenyum miris karena rupanya ceritaku terlalu tak masuk akal untuk kita perbincangkan.

Sejauh yang dapat kukenang, aku sering mengeluarkan buku catatan bahkan satu dua novel yang aku bawa, kemudian gagal menghabiskan waktu membaca atau menulisku saat itu. Dua kombinasi buku catatan dan novel itu digagalkan hanya oleh sepasang matamu yang mendekat delapan centi di depan mataku. Seperti tak kuhiraukan pandanganmu tapi sekali lagi berhasil ditegaskan dengan pertanyaan,

“Ingin bicara dengan siapa? Mau mencari siapa, dik?”, tanyamu menggodaku diiringi senyum yang tak pernah kumiliki,

“Dik?” protesku, aku sudah lama tak ingin lagi dipanggil “dik”.

Aku mengeluarkan handphone dari saku tas, melihat-lihat foto yang ada di galeri. Aku terpaku. Begitu banyak foto yang menggambarkan kebersamaan kita, saat beralih ke folder lain, aku dengan mudah membaca lagi rekaman percakapan kita sepanjang waktu. Kurasa, aku tak akan kerepotan mengingat semua tentangmu, mi… Bahkan semua jadwal pentingmu sudah kuhapal di luar kepala. Aku memperhatikanmu biarpun waktu sudah berlalu.

Lalu, terdorong oleh naluri perempuanmu, yang tak akan senang melihat apapun berantakan, kamu merapikan ini-itu di meja kerja. Setelah itu, duduk dan bertanya lagi padaku.

“Mau pulang jam berapa?”

“Aku mau nungguin ‘mi sampe selesai.” Ucapku

“Yaudah ayo pulang…!” katamu sambil merapikan kertas-kertas

“Yaudah ayo, ditungguin juga, berdiri donk…!” sambil masih memperhatikan handphone aku memintamu siap lebih dulu

“Ya ini daritadi udah siap, kamu-nya yang males berdiri…” jutekmu waktu itu

“Iya… iya…”, sebenarnya masih enggan meninggalkan kursi ini, “kalau pake baju merah, cantik!” ucapku sambil berdiri semoga ‘mi menangkap satu-dua pujian dariku.

“ah iya makasih, dear…” ujarmu sambil tertawa renyah, seakan mengerti harus menanggapi pujianku dengan apa.

Sejurus kemudian kita berjalan, aku di belakangmu, dan tinggiku yang tak seberapa berhasil menjangkau pundakmu, di antara sepi yang merayapi ruang ini, kubisikkan suara pelan di samping telingamu, “Mi… love you…”, kulihatmu menengokku, mengucapkan kata yang sama. Bisa kulihat senyum teduhku di matamu tapi awan kemudian membelokkan arah mendungnya di antara kedua matamu. Ia merajai bahagia di matamu, titik air membasahi kelopakmu. Hatiku girang tak kepalang. Bukan karena bahagia melihatmu berair mata melainkan sepotong kalimat sederhana itu nyatanya mampu memecahkan sendunya sore ini. Aku ingin melompat dan bergabung dengan titik-titik air itu, hanya itu.

“Aku selalu memenangkanmu, bukan?”, kukatakan waktu itu, “bahwa akan selalu ada kejutan, aku pikir tak perlu repot membuatnya untukmu, mi… Aku sendiri selalu bisa menjadi paket lengkap segala rasa yang kau inginkan kan, mi?”

Aku berlari, membiarkan diriku seolah lupa dengan apa yang baru saja terjadi. Membuat pertanyaanku tak butuh jawaban apapun. Seperti impian diam-diamku selalu, membiarkan waktu yang bertanggung jawab atas perbuatanku meluluhkan hatimu.

 

Kediri, 25 Maret 2016

Your love: Me

 

Dongeng Subuh

 

Subuhpun jadi dongeng paling sempurna yang selalu datang mengeluarkanmu dari ingatan tentang kesakitan. Kamu takluk oleh getar-getar suci itu. Lingkar yang selalu kamu sapa setiap hari. Bagaikan rejeki, kisah itu jadi mimpimu dari tahun ke tahun. Dengan harapan yang semakin tinggi dan selalu berganti. Tidakkah kamu ijinkan aku tahu? Sejauh apa kisah itu membangunkanmu lebih pagi? Pun selalu lebih larut menidurkanmu?

Dan pena yang tergeletak entah dimana setelah kamu pakai, meninggalkan tulisan di atas selembar kertas. Aku pun ingin tahu, ramuan apa yang kamu cipta untuk mencintai itu. Lembar itu menyisakan kenangan dari waktu ke waktu.

Semalam aku tersentak memanggilmu. Dalam bahasa paling sederhana sepanjang masa, karena riwayat pernah mengisahkanmu adalah milikku. Menyentuhmu dalam mimpi telah lama kuyakini jadi obat paling ampuh mengusir sepi segera pergi. Tanganmu tak lagi menari di kepalaku yang mulai dewasa. Mata, adalah isyarat terakhir yang kuterima untuk menafsirkan kasihmu padaku selama waktu yang kamu punya.

Adalah dongeng terindahku waktu itu, memenuhi ruang-ruang kosong di hati menjadi surga bagi kehidupanku. Menyirami semua jerih payah dan kegagalan yang tak mempan diobati dengan apapun, kecuali dirimu.

Subuh ini, kesepian memaksaku keluar dari rasa sakit. Memaksaku untuk bangkit setelah sekian hari tergeletak. Kutarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri karena semalaman berkali-kali aku terbangun karena mimpi mengejar-ngejarmu hingga kepayahan. Aku membuka jendela kamar dan melihat diriku sendiri dalam pantulan kaca yang bening, tak kudapati dirimu disampingku. Mencoba mengenali dengan teliti siapa yang berdiri disini, aku sendiri atau bayanganku. Memintanya menghapus suram yang menyita segala-galanya dariku, mengusirnya pergi.

Ibu.

Dear Mami #1: Pertemuan dan Doa Sebelum Pulang

Hari-hari menjelang kepulangan, aku lebih banyak melewatkan waktu denganmu, Mi. Jika sore menjelang dan ruangan ini menjadi sepi, dari pintu sering kupandangi lekuk senyummu yang lebih indah dari anggrek yang menghiasi meja kerjamu. Oh ya, jangan tanyakan soal mataku, mataku baik-baik saja. Jadi jangan ragukan detail pesonamu yang terekam oleh mataku. Dari tempatku melamun, seorang pernah mengejutkanku dan memberitahuku bahwa aku sedang tak waras. Buru-buru aku masuk dan duduk di kursi tempat banyak orang biasanya melakukan konsultasi denganmu. Dengan cara ini, aku bisa leluasa tertawa mengagumimu, selain hanya sepi yang menemani.

Pertemuan yang menyenangkan itu terasa cepat dan tiba-tiba. Terang-terangan hal itu membuatku banyak melakukan gerakan akrobat perihal kebiasaan dan perasaan yang tak biasa. Dengan perasaan meluap-luap, tegang bercampur gembira, kuletakkan selembar kertas di depanmu, seperti biasanya yang sering kulakukan padamu seusai jam kerja atau kapanpun saat aku ingin. Sebenarnya aku ingin meyakinkan diriku membacakan satu dua puisiku di depanmu, beberapa bait kalimat untukmu. Tapi aku tak ingin lebih banyak menumpuk malu sehingga ragu. Kuendapkan saja keinginan itu perlahan sampai aku benar-benar punya tempat untuk mengatakannya langsung.

Sementara itu, berminggu-minggu sebelumnya, aku menghabiskan banyak waktu denganmu. Iya, yang lebih tepat adalah dirimu yang menghabiskan banyak waktu untukku. Di hadapanku, kutemui dirimu berbagi pundak dan tangis untukku. Terimakasihku karena bersedia berbagi rengkuh, peluk, dan kecup. Adakah kulihat benci di matamu? Tidak, sekalipun banyak tangis dan kecewa pernah masuk ke dalam hatimu, sedikit demi sedikit menguji kesabaranmu. Selama ini, aku tak ingin terlalu banyak menangis di depanmu, cukup aku saja yang merasakan tangisku. Barangkali nalurimu saja yang terlalu kuat sampai-sampai aku kehabisan akal menyembunyikan salah satu sifatku yang paling misterius: menganggap semuanya baik-baik saja. Lebih sial lagi saat aku gagal membuatmu menerjemahkan senyumku yang palsu karena menahan sakit. Baiklah, aku tak akan lari kemana-mana, tanpa perlu dikejar aku akan berujar, apapun itu. Pikirku.

Maka, seluruh tubuhku langsung tersandar di pundakmu lalu sambil menarik satu napas panjang yang resah, aku merasa cukup. Cukup membuatku mengerti bahwa Allah menitipkan salah satu cinta terhebatNya untukku lewat dirimu. Cukup membuatku bersyukur bahwa tak ada setetespun darahmu dalam tubuhku, tapi Allah menyulam deru nafas dan ketulusanmu untuk aku rasakan dalam kalbu. Semua itu tidaklah ringan tapi selalu cukup membuatku mengerti mengapa pertemuan kita terasa bernyawa. Aku tahu dan benar-benar menyadari, tak ada pertemuan yang kekal, tidak ada selamanya dalam sebuah kehidupan, tidak mungkin. Allah sudah menciptakan jeda dan jarak lewat berbagai tangis dan masalah yang kita buat. Tapi mi… yakinlah saat semua terasa begitu menyesakkan aku selalu punya kedua mata untuk memutar senyummu, menayangkan segala sisi terbaikmu yang pernah aku kenal dan alami. Semoga dirimu juga demikian mi… harapku. Terimakasihku mungkin tidak cukup untukmu yang selalu hadir di titik terendahku sebagai manusia setiap melewati ujian yang Allah berikan, semoga saja perjalananmu selama ini menemaniku bukanlah satu keterpaksaan melainkan perjalanan yang akan membawamu pada satu titik dimana akan kau rasakan genggam tanganku mengangkatmu berbahagia di surgaNya. Jika tak berlebihan, ijinkan aku mi suatu saat menggandengmu dengan genggam paling mesra kepadaNya, bersaksi bahwa aku pernah mencintaimu dengan segenap prasangka baik.

 

Malang, 28 Februari 2016

Your Love,

Me

Kekuatan Apa Coba?

Di tempat saya sekarang, pendidikan membawa saya menemui banyak orang dengan berbagai latar belakang. Dari kalangan paling rendah sampai kelas profesor yang sering tak saya ragukan keilmuannya. Itulah yang saya pikir mengantar saya mengkaji banyak hal, meskipun kebanyakan memang tak ilmiah. Tapi lama-lama saya bosan juga.

Pertengahan semester ini, tiba-tiba saya berhenti dari langkah yang biasanya agresif, menghilangkan kebiasaan sedikit-sedikit mendekam di perpustakaan, lama-lama menghilang ke toko buku. Walaupun tak jarang banyak yang sering mengirimkan buku-buku baru untuk dibaca, tapi sayang saya sedang tak selera. Kali ini berbagai tujuan yang sudah direncanakan mendadak saya hapus dari otak demi menghalalkan keinginan saya untuk berhenti dari berbagai rutinitas. Tujuan tak lagi jadi sebuah identitas untuk mewujudkan berbagai keinginan. Mengasingkan diri adalah pilihan agar berbagai ide segar kembali mengisi cangkir energi untuk bergerak.

Banyak orang bertanya, “kenapa?”, tak juga saya jawab dengan banyak kata-kata seperti biasanya, namun senyuman adalah satu-satunya bentuk jawaban yang paling bisa saya hayati maknanya. Setiap hari, entah kapan saya mulai memikirkannya, yang ingin saya pecahkan dari pikiran itu sederhana saja yaitu bagaimana saya bisa punya lebih banyak waktu bersama keluarga. Apalagi hampir dua semester ini kami semua (keluarga besar) harus berjuang lahir batin untuk mengobati sakit yang sedang di derita oleh anggota keluarga kami. Allah kemudian menghendakinya untuk berpulang lebih dulu sebagai satu-satunya jalan terbaik yang ada di hadapan kami. Duka dan kematian itu menjadi kesedihan sekaligus kelegaan yang selalu coba kami ikhlaskan. Dan tak hanya sekali ini, mata menyisakan kedukaan sampai membuat orang lain sempat menyimpan curiga, “bagaimana ada orang yang sekuat sekaligus serapuh kamu?”, katanya. Tampaknya mereka berlebihan jika masih menyimpan pertanyaan itu untuk saya jawab.

Kenyataannya, saya tidak sedang menyimpan kekuatan apapun, pun tak serapuh apa yang mereka bayangkan. Tak hanya sekali ini saja, sebelumnya banyak hal yang lebih dulu menyumbangkan pengalaman yang lebih menyakitkan daripada ini. Pernah. Lingkaran itu menyeret saya untuk lebih kuat menghadapi semuanya hari ini, meskipun tidak bisa saya hindari bahwa detik ini, sekali lagi membuat saya harus menepi sendiri menyulam luka satu-per satu. Mendadak saya hanya ingin jadi debu, mengikuti kemana saja angin meniupnya. Mendadak saya hanya ingin jadi angin, terbawa waktu kemana saja ia ingin.

Mendadak saya ingin terlena, sejenak saja, tanpa buku, tanpa sepatu, tanpa bangku-bangku, tanpa harus repot menemui siapa saja yang saya kenal. Kemudian singgah lagi di peraduan, menemui banyak orang, mengisi cangkir pikiran, terbang bersama cerita-cerita mereka.

Kekuatan apa coba yang membuat saya seperti ini?

 

Bincang yang Samar

 

Tepian jendela sebuah cafe itu basah oleh air hujan yang baru saja reda setelah empat jam mengurung tawa. Ratapnya sendu, pandangannya lurus ke sela-sela kaca yang terpercik tetes air. Ia tak henti-hentinya mencium bau luka digandeng sepi sejak tetes pertama hujan turun. Dari pandangannya ke arah kaca yang basah oleh hujan, siapapun akan tahu kalau ia sedang memikirkan sesuatu.

“Apa yang sedang kamu cemaskan?” tanyaku tanpa meminta ia menjelaskan jawabannya. Satu kalimat itu berhasil membuatnya sulit untuk tak menatap ke arahku, mengunci semua perhatianku hanya untuknya.

“Pernikahan, sepertinya.” Jawabnya sambil membenarkan posisi duduknya.

Tangannya entah kenapa selalu gagal menggapai pena yang sejak tadi digeletakkannya di atas selembar kertas putih. Aku diam, tak tahu harus menanggapi apa. Konsep pernikahan terlalu abstrak baginya meski dari segi karir dan relasi bisa dibilang cukup berhasil sampai di titik ini. Jika itu bisa dijadikan ukuran, harusnya sudah sejak lama ia memutuskan menikah bahkan memiliki seorang anak. Untuk ukuran perempuan cantik dan pintar dalam segala hal macam dia itu, tak sulit memilih satu laki-laki yang mengantri di hatinya.

Kemudian ia teguk teh tawar panas yang sepuluh menit lalu dipesannya. Ketika pendingin ruangan di cafe ini tak hentinya membuatku mengeratkan jaket hitam pemberiannya, kuharap tak membuatnya memecah kelopak mata dengan air hangat yang keluar dari sudut mata. Entah, tetes tangisnya membuatku ingin menghambur ke pelukannya.

“Yang kamu cemaskan…”, aku terlalu canggung melanjutkannya, “berarti menambah kekhawatiran untukku. Bahkan untuk sekedar membuat rencana sederhana menenangkan sepi dan sendirimu, aku tak sanggup!”

“Tinggalkan saja aku sendiri, disini!” pintamu tanpa basa-basi.

Aku masih belum mampu berkata apapun di hadapannya, namun ia kembali berucap, “boleh aku minta tolong?”

“Apapun itu”, ucapku menghentikan langkah keluar cafe

“Aku tidak kalah, jadi jangan berbicara seolah menganggapku telah menyerah.” Begitu saja.

“Oh begitu saja? Kamu pernah mengharap Aku menghalau sedihmu lalu Aku kecewakan?”, bulir-bulir air semar-samar kulihat semakin jelas menuruni lembut pipinya.

Ia tampak tersentak mendapati dirinya bangun bermandi peluh dan tangis, bincangnya dengan Tuhan malam itu benar-benar menyulut tanya, pikirnya sedikit gugup.

 

Bulan yang Lalu

Kepada bulan-bulan sebelum ini, aku sampaikan maaf. Perihal luka dan duka yang datang bersamaan. Sekaligus janji yang tak lekas kutepati untuk memperbaiki diri. Karena kadangkala sepi enggan kuusir pergi, tangis tak mau kutinggal sendiri, pun dihadapan duka aku bisa tak mampu berdiri. Juga hari-hari belakangan ini, duka membalikkan waktu tidurku dan menggeser setiap huruf kata-kataku. Mereka menembak kelopak mataku, membuat setiap ujungnya berderai tangis, melukai denyut rinduku, semua terasa berkelok, dan lebih menikung dari jalan pegunungan, menjadikan tangis sebagai muara hingga sajak-sajak tak lagi bersujud dalam jiwaku. Walau serba kelam, aku tak akan lagi bertengkar tentang siapa di antara aku dan sedih yang harus menyerah. Tetapi, kau dengarkah suara-suara mimpi yang siap berdiri lagi?

Tumbuh

Setelah jatuh, tidak ada lagi yang kamu inginkan selain tumbuh. Tak perlu tergesa memaksa kaki berlari mengejar hal yang besar. Berdamailah, mungkin banyak janji yang belum ditepati, sekian mimpi belum terealisasi tapi jangan pergi karena menunggu sepi berlari. Sebab kamu harus percaya lagi, tak ada jeda yang diberikan tanpa rencana. Bisa jadi setiap jeda adalah kesempatan menengok ke arah lain sebagai pengobat luka yang tak boleh lama menganga. Dan kini, yang harud terpikirkan adalah kamu, tak ada yang lain lagi. Sebelum ataupun setelah bersamanya.