Bertahan

Tulisan ini diawali dengan pertanyaan “untuk apa bertahan?” namun tak ada jawaban. Pengetahuanku tentang itu nyaris nol sedangkan pertanyaan itu selalu lebih jahat mendorongku hampir jatuh dari ayunan. Aku memang payah, sering kali berbohong dan menuntut senang. Sementara pada beberapa hal yang menyakitkan, aku kabur ke jalanan tenggelam dalam lamunan mengikuti arah angin. Kalau sudah cukup tenang, pasti kembali dan menangis sekaligus minta maaf tidak akan menentang lagi. Itu yang aku tahu; bertahan.

Malamnya aku sakit karena kecapekan, mungkin puas menguras air mata. Lain soal jika Ibu, tidak sepertiku. Tidak pernah tanya apa-apa namun tebakannya tak pernah meleset. Aku yakin Ibu suka menungguku diam-diam menyimpan semua kekhawatirannya. Biarlah, meledaklah semua cemasnya di hadapanku yang selalu acak-acakan, berharap satu dua cerita diucapkan. Tak menuntut apa-apa, ia selalu bersikap lembut padaku sekalipun aku sering protes dan mengarang cerita lain untuk dibicarakan demi menghindari kemarahannya yang selalu tidak pernah lebih dari 24 jam. Ia yang selalu bersedia meminta maaf lebih dulu, memelukku dari belakang sambil menangis sesenggukan; bertahan. 

Jangan-jangan bertahan adalah tentang kepercayaan merangkap pengorbanan untuk menyediakan hati lebih luas dari manusia yang lainnya? Bagi ibu, menangkapku yang jatuh dengan pelukan adalah kehangatan sambil ia mengusap-usap lukanya sendiri dengan kesabaran. Ajaibnya, Ibu tak pernah kehabisan paket lengkap untuk bertahan; alasan-cinta-airmata-doa. Apa aku sudah menerimanya dengan lengkap? 

 

Bukti

Jadi rupanya doamu justru berisik didengarkan, caramu tak anggun, juga apapun yang kamu lakukan itu cukup membuktikan apa pekerjaan yang lebih pantas untukmu. Melakukan gerak tipu yang indah, melenggok di balik ketiak pemangku keputusan -yang siapapun kini tahu, ia tak lebih ada apa-apanya di balik kepentingan. Bagai induk dan anak yang buta kebenaran, di kepala hanya tertempel biji pembelaan yang semakin mantap. Biarpun sedikit saja ada yang salah, tak akan mengusik hangatnya belai manjamu.

Lama-lama aku jijik, jika yang kalian pikir mendidik adalah soal kantung berisi kepentingan, atau memang semua orang sudah tak waras jika berurusan dengan uang? Untungnya aku memilih diam tapi terjaga di belakangmu. Diam yang punya akal, sambil mendengarkan suara nyaring tentangmu di mana-mana dan lambaian kepura-puraan berjalan membuat penonton bersuka ria. 

Kaki-kaki dan tanganku memang kusam, tapi sering mencicipi indahnya jerih payah. Keringatku tak pernah kering, badanku sering demam, tapi di antara keduanya terletak kegigihan menceburkan diri menyelami pengorbanan mempertahankan sekitar agar tenang. Bagiku yg belum berpengalaman, perilaku itu menguji kualitas pribadi dan kebanggaanku selama tumbuh dan berkembang. Ketahuilah, aku memang tak rapi, tapi masih punya hati untuk mengerti tidak akan menyakiti perasaan orang lain atas ketidakmampuanku. Jika aku ikut perlombaan lari, belum tentu aku yang jadi pemenang meskipun berdiri di barisan terdepan, tapi yang lebih tepat ditanyakan: cara lari bagaimana yang kita inginkan? apakah lebih menyukai cara kancil yang menyombongkan kecepatannya berlari atau kura-kura yang tenang tapi menikmati prosesnya? Banyak pelajaran mengenai kehidupan disampaikan lewat cerita sejak kita masih anak-anak.

Memperlambat kata nikmat bagiku lebih nyaring tanpa kemanusiaan yang harus dibuang. Tanpa diiringi kesibukan memperdaya yang lain dengan alasan apapun. Sejelas semilir angin, kini aku tahu arahnya. Kedua mataku pernah (masih) peduli sisi baikmu dan tak akan kusembunyikan. Kekagumanku pada karier dan ambisimu sempat mengintip usiaku bagai kerlip lampu jalan yang tak redup jika kukejar. Sikap khas seorang yang pandai berdiplomasi adalah hal lain tentangmu yang tiba-tiba terucap begitu saja saat pertama kali bertatap muka. Jadi tenang saja, sekalipun aku menyimpan perkataan buruk tentangmu seperti sikap khas seorang penggunjing yang terlalu benam dalam berbagai kesempatan, kusimpan kenang baikmu dalam ingatan walau sampai titik jenuh sekalipun. Tapi aku hanya bisu dan tak bisa berkata lain, selain “baiklah… Itu maumu dan aku menikmatinya karena Allah”. Bukankah itu baik?. Aku pergi dengan senyuman dan kita lupakan masa lalu seolah tak ada apa-apa lagi walau tak bisa aku paksakan kenangan kecewa itu sebenarnya tak bisa benar-benar hilang. 

Salam dariku, yang sering menunjukkan sapaan tegang jika itu tak bisa disebut marah.