Kesepian Mekar Di sini

Kau pergi sekali lagi. Membawaku pada tangis tak henti. Mataku lelah menyaksikan kesepian mekar di sini -di kelopak hati. Tiba-tiba kupikirkan satu kalimat Sapardi berbunyi: “Gelisah tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu. Entah kapan kau bisa kutangkap”. Baiknya itu kujawab dengan pertanyaan: “Siapa yang ingin diperebutkan dan disanjung tinggi-tinggi?”. Sadari bahwa kita hanya dua jiwa yang saling menemui, lalu mengerti bagaimana cara menghangatkan diri. Pergi dan kembali sudah pasti terjadi menandai sisa-sisa cinta. Tapi benih matamu membuat semua inginku pergi jadi tertunda. Menyeret jari tanganku untuk berpuisi lagi.

Malang, 11 Oktober 2016

a random thought

Aku hendak memaksamu tinggal… Pada kisah yang tak kuijinkan kau akhiri. Melepaskan segala dendam yang tak redam hanya dalam waktu semalam. Kutinggalkan sumpah serapah yang memperparah keadaan. Ternyanyikan segala sendu pada lirik:

Kurindu… Lebih baik katakan apa adanya bila memang rindu. Kurindu… Karena waktu tak kan mampu berpihak pada perasaan yang meragu. Kan kutempuh semua perjalanan tuk pulang ke hatimu…

Membalas Puisimu

Berkali-kali sudah kudapati bahwa rasa begitu menikamku

Memendam ini sangat menyakitkan untukku

Melihatmu, aku mampu tersenyum

disaat bersamaan aku mampu untuk terbaring, hening, diam

Luka ini begitu dalam hingga pasirpun tak dapat berkata apapun

hingga tangan tak mampu bergerak

lupa aku apa itu artinya cinta

(dibaca oleh Reza Rahardian dalam Ketika Tuhan Jatuh Cinta)

—Maka ini adalah balasan puisiku…

 

Kubilang cinta memang tak salah

Takut hanyalah kecemasan tak beralasan

Disini, rasa itu menyakiti

Tapi bagaimanapun ruang tunggu hati

Harus segera berganti penghuni

Teringat puisi-puisimu lari kesana kemari,

di hati, di kamar, di jalanan

di keping-keping harapan yang masih tersisa

Dan lari, kau tahu soal lari?

Lari adalah kata kerja untuk pergi

hingga membuatmu tak punya arti lagi

Dan aku, belum bisa memilih takdir seperti apa yang harus dijalani

Pilihanku hanya menenangkan rindu yang menggebu

Mengalahkan segala hal yang aku takutkan

Meninggalkanmu

Menepi, sebuah puisi

Dan kita pernah berhari2
Menyepi sendiri
Memperjuangkan mimpi yang sempat lari
Pada hari hari sebelum ini
Ada hati yg ramai berpuisi
Kan itu, pernah jadi rumah bagi gelisah
Kan itu, sempat tersandar sabar
Kan itu, kita bersama mengusir sepi
Kan lalu kita lari oleh bahagia
Kan lalu terbawa kita pada canda
Kan lalu terbuka semua rahasia pikiran kita
Kan itu, kita dulu
Menepi sendiri meramaikan diri
Dan kini, aku yang baru menjalani hidup yang biru
Tanpamu

Sebatang Lilin #3

Awal kehidupan justru baru dimulai

Gemericik usia baru kau eja

Alangkah bahagiamu engkau giring

 

Pada sebuah usia tergambar dewasa

Rentang masa yang harus kau rawat

Abaikan hempasan keluh, kesah, dan resah

Demi secangkir bahagia duduk di beranda saat senja

Nun jauh disana kita terpisah jarak, tapi aku tetap berdoa

Yang menggantung tak pernah surut mengirimkan titik-titik cinta

Aku tak bisa menutup doaku

 

Waktu akan buktikan

Indah batinmu yang terjerat rindu

Dan keraguan semoga luluh, dihempas segala yakin

Apa lagi yang bisa kau pegang?

Genggam masalalu selama kita menatap ke depan

Dengan harapan semoga tersiar canda tawa

Atas namamu yang makin mendewasa

Sebatang Lilin #2

Debu apa yang kamu susupkan di hatiku

Elok merangkul tak mau pergi

Nadakan harapan di ruang permintaan

Iramakan kasih tanpa gentar

 

Sedikit doaku semoga sempurnakan usiamu

Entaskan segala duka lebih bijaksana

Tutup ragu di lembar tahun barumu

Ikatlah duka dengan tawa, patahkan ragu dengan yakin

Acapkali hidup dirasa hambar, keluarlah

Walau banyak ketakutan tumbuh, teruslah berbenah

Akan kuakrabi dirimu dengan lembar kenangan

Narasikan catatan kisah cinta hingga renta

Sebatang Usia #1

Berurai haruku melihatmu

Antara sejarah dan masa depan

Gemericik canda rekah seketika

Untai tangga cinta bernama kita

Sebutir kata yang sukar kuabaikan

 

Satu lagi hari terlepas dari kepalamu

Engkau hirup usia baru

Terbentang karpet merah, melintaskan harapan

Ikat segala lelah tanpa resah

Yang terketik mencipta kegigihan

Aku datang dengan segenggam doa

Wujud kasih selama kita berpeluk yakin

Angankan bahagia bersamamu

Nyanyikan setia yang dirayakan

 

 

 

rebut kabut

Aku di antara kalut

Tapi senyummu tetap lembut

Wajahku kusut

Tapi kamu tak pernah ribut

Tahu kan aku ini penakut

Tapi doamu ada bagai selimut

Sekali namamu kusebut

Semangat langsung tersulut

Ah kamu selalu bisa merebut

Hatiku agar tak larut

dalam carut marut

 

Terimakasih emak atas kesediaan mengangkut kabut luka ke laut suka meski jarak terpaut

Malang, 20 November 2015; 17.36

-uh!

Kamu berjalan dengan tangguh
Menyeka peluh
Tanpa keluh
Agar senyum tak runtuh
Wajah tetap utuh
dan hati tak rapuh
Rangkak, jatuh, tumbuh!
Lewati semua jalan tanpa angkuh
Semoga lekas sembuh
Dari pikiran keruh
Berdiri di atas hidup yang utuh

Dari hati yang coba lari jauh dari jenuh,
Malang, 19 November 2015