Sesungguhnya Skripsi, Tesis, dan Menulis adalah soal Ketenangan

20150629_035017
Setumpuk tesis kakak. Doc. Pribadi

Pagi tadi, kopi tak pernah semenggoda ini. Tak kurang dari empat kali dalam satu menit aku menyeruput hangatnya seolah tak ingin menghindarkan diri dari aromanya. Aku berdiri dengan perasaan tenang, cangkir kopi ditangan kanan, sambil menghirup bau khas buku-buku tebal yang bertumpuk di rak tentang pendidikan. Rasanya tak ada jarak di antara kita untuk saling tenggelam meracik aksara menemukan analisis-analisis baru yang memperkaya pengetahuan. Betapa aku mengagumi buku-buku ini dan kekuatannya yang menggoda selera baca.

Ketika hari minggu biasanya adalah waktu libur dan santai, hal ini tidak berlaku bagi kakakku. Belakangan ia menghabiskan banyak waktu berjibaku dengan kertas-kertas revisi demi mengejar tesisnya agar cepat kelar. Begitu harapannya. Kuletakkan cangkir kopi di atas meja untuk sedetik mengamatinya, jelas terbaca dari pancaran wajahnya, ia mengerahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk menyelesaikan tesis. Tak jarang kutemukan ia berkawan sunyi menelanjangi pagi masih meracik tesisnya dengan ramuan aksara. Aku mengamatinya setiap detik, seorang sarjana matematika pasti tahu dan cepat mengitung ini detik keberapa yang kulakukan untuk mengamatinya, mungkin dengan begitu ada satu-dua hal yang bisa aku ambil pelajaran.

Menyingkir sejenak menyelesaikan skripsi, tesis, dan tulisan adalah kemewahan yang memanjakan diri:

Di luar kekagumanku pada kakak soal kehidupan sosialnya, rupanya ia selalu meluangkan waktu menyingkir sejenak membenamkan diri dalam sepi untuk menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa S2. Mungkin saja, kita juga salah satu di antara sekian banyak orang yang justru bisa produktif menyelesaikan urusan pikiran dan tulisan dalam ketenangan. Bukankah memanjakan diri dalam ketenangan untuk meraih pencapaian adalah kesenangan?

Ketenangan bukan soal kebisuan, tapi belajar membuka hati memikirkan hal-hal yang belum terpikirkan:

Lama sekali aku duduk diam mengamatinya yang asyik membuka-buka buku tanpa suara, setelahnya jarinya lincah bermain di atas tuts-tuts keyboard menuliskan entah apa. Tengah malam menjelang dini hari itu, aku membuat hipotesa sederhana, yaitu kita tidak membisu dalam ketenangan, otak kita bekerja!. Memang, Setelah dihajar kesibukan selama seharian, ada hal lain yang harus dipikirkan berkaitan dengan tanggung jawab menyelesaikan tesis dan hanya bisa ditemukan dalam ketenangan. Kadang-kadang otak harus disirami oleh campuran ramuan malam dan ketenangan dimana kita bisa membeli pikiran-pikiran segar dan baru yang mungkin selama ini tidak pernah betul-betul kita sentuh.

Ketenangan bisa datang dari hal-hal sederhana. Sekedar melewatkan malam dengan cangkir teh, duduk di meja kerja, menyenandungkan lagu kesayangan dan berhadapan dengan buku sudah bisa membuat kita tenggelam berbahagia:

Urusan skripsi, tesis, dan menulis memang susah-susah gampang. Ada kalanya kita menggebu-gebu dengan kalimat yang sudah terangkai indah di kepala tapi sering saat berhadapan dengan buku justru enggan memikirkannya. Waktu itu, kuletakkan saja secangkir teh hangat kesukannya di meja tempatnya bercumbu dengan tesis, kebetulan ia memang tak suka kopi. Sepertinya perpaduan minuman favoritnya, memutar lagu kesayangannya, dan tumpukan buku yang ia baca menimbulkan rasa tenang yang tak bisa ia jelaskan, tapi jelas aku bisa merasakannya. Bahkan tanpa sadar ia sudah habiskan berjam-jam menikmati suasana sembari mendengarkan suara yang muncul dari dalam kepala.

Kita memang tidak pernah benar-benar tahu jika belum menenggelamkan diri dalam ketenangan, bukan?

See… Mungkin begitulah, menyelesaikan skripsi, tesis, atau menulis hanyalah soal ketenangan yang kita ciptakan. Tenang itu sesederhana kita meraba suasana yang kita berikan pada diri sendiri untuk berkelana menuntaskan  gumpalan aksara di kepala sambil terus bergerak dan berpindah jauh.

Malang, 28 Juni 2015

Advertisements

Aku Menemui Maafku

IMG_20150715_090821
foto adalah kiriman dari seorang saudara

Seperti hari biasanya, aku tak bisa mengakhiri malam secepat menghabiskan sepiring ketupat. Sambil berbaring di kasur dan memastikan dimana penaku tergeletak semalam, apakah masih dipangkuan lelah atau sudah bermanja di pelukan sepi. Setidaknya aku tak lagi meragukan untuk membebaskan diri melahirkan tulisan malam ini.

Manusia pasti paham, memaafkan sesama adalah tugas dan bagian dari hidup di muka bumi. Barangkali itulah yang dilakukan hampir semua muslim hari ini: merayakan Idul Fitri dengan maaf sebagai syarat kembali ke fitri. Sementara waktu lalu pernah memberikan bising, kecewa, luka, dan ketidaksadaran maka tangan yang bergenggaman menjabat satu sama lain adalah simbol pertukaran kesalahan menjadi hangatnya maaf. Masa-masa ini, aku memang harus cukup tangguh melakukannya dan mengabaikan dosa ketidakpedulianku di waktu yang lalu. Aku harus meletakkan hatiku di dalam “maaf” agar layak untuk disandingkan lebih tinggi daripada kesalahan-kesalahan terdahulu. Ah, tapi hanya Allah yang paling tahu segalanya tentang hatiku.

Aku berharap kebaikan bisa kupetik di hadapan maafku saat semuanya menyambut hari ini dan berkata “Selamat idul fitri… Mohon dibukakan pintu maaf lahir dan batin”. Ya, aku belajar memaafkan. Seolah kata itu menjemputku untuk berhenti berpura-pura. Hari ini, aku harus selesai dengan kebohongan, kesombongan, keangkuhan, kemunafikan, dan apapun itu untuk dipertontonkan. Hari ini, aku mengawali satu lagi lembar kosong yang akan diisi esok dan seterusnya maka aku harus lebih matang dalam bersikap, bertutur, dan bertindak.

Setidaknya hari ini aku tahu bahwa memaafkan, berkebaikan, dan terimakasih adalah tiga hal yang harus saling berpelukan dalam hati kita, kapanpun. Ketiganya harus dilakukan di dalam hati, didorong dengan nurani. Jangan pernah lagi menunggu. Jangan pernah lagi jadikan idul fitri sebagai alasan untuk memaafkan sementara sebagian orang di luar sana tak butuh alasan apapun untuk saling memaafkan. Mulailah memaafkan dan mulai temukan dirimu yang baru.

Mari perbaiki kualitas maaf kita!

Kediri, 17 Juli 2015

Mengakhiri Ramadhan

Harus dengan cara apa ramadhan diakhiri

Jika kita belum benar-benar memenangkannya

Satu bulan berakhir, kasihku

Air mata mengalir

Tapi aku masih saja sewenang-wenang

Berlagak tenang seolah tak punya hutang

Memperbaiki amalan di batas perpisahan

Dua puluh tahun usia, sebulan setahun

Menikmati ramadhan

Berdiri berpuasa, belajar berhari-hari

Semakin berumur malah semakin kendur

Dewasa yang tak tahu diri

Sayang, aku benci berpisah denganmu

Sebab tak ada tawaran waktu sebaik ramadhan

Saat akhirnya aku cukup tahu

Karena terlalu bodoh menyiakanmu

Hanya ingin aku memojok di kegelapan

Menenggelamkan air mata dalam harapan dan penyesalan

Kuharap kita bertemu lagi

dengan aku yang lebih hidup menyambutmu

Aku yang akan menggeliat menikmati detik pahala dari tasbih dzikirku

Aku yang akan semakin dalam berbincang dengan Tuhan karena pintu lapang terbuka

Dan kali ini untuk kesekian kalinya aku tak tahu

Dari sudut mana harus kuakhiri ramadhan ini

Sebab lebih dari semuanya,

Masih ingin kuhirup surga di ramadhan ini

Kediri, 16 Juli 2015

Surat Tentang Aku

Tak terbilang senangnya aku

Mendapatimu (masih) berdiri di depanku

Berulangkali kupandang tubuhmu

Kutelanjangi pikiranmu lewat dua, tiga, empat kata dan paling banyak satu kalimat yang kau ucap setiap hari

Tak cukup kumengerti…

Detil materialistik, filosofik, ekspektasi, kultur, idealisme, gengsi, atau apapun tentangmu

Tak secuilpun kumengerti…

Tak juga puas hatiku…

Rupanya kita tak sepaham pandang

Sudahlah…

Harapan dan putus asa tumbuh disepanjang pagar perjumpaan

Kerinduan berdesakan di celah-celah tatapan

Di persembunyian rasa malu, hati mulai ngilu

mata mendayu-dayu tersebab haru oleh belaian waktu yang tersekat perasaan

Sudahlah…

Aku memang pengecut

Untuk temukan jawaban pertanyaan atas diriku tentangmu

Sudahlah…

Kurundukkan saja penaku mengukir kata

Tercatat rapi di bawah garis buku

Terbaca elok karena tertulis rapi penuh kesopanan seakan hendak mengutarakan sapaan penuh kelembutan

Tapi jika bicara aku kuyu dan putus asa

Ketahuilah, aku tak mengharap balasan

Karena yang memahami huruf dan makna kerinduan hanya aku

Ini saja, sepucuk surat dariku

Mewakili segala sesuatu yang amat penting dari ketidakpekaanmu

Kediri, 16 Juli 2015; 01.54

Curhat Untuk Sahabat

Belakangan ini, ramadhan menawarkan aku satu kebiasaan baru, minum secangkir teh hangat saat sahur dan berbuka puasa. Hal itu bermula saat aku sering main ke rumah salah seorang saudara yang tiap kali aku bertamu pasti dibuatkan secangkir teh hangat. Aku yang awalnya tidak suka teh akhirnya jadi kecanduan sampai sekarang. Itulah yang juga akhirnya mengguncang-guncang hari-hariku setelahnya untuk terbiasa menikmati seduhan teh dan bukan lagi kopi. Saudaraku itu pernah bilang, meminum teh hangat diyakini bisa memberikan perasaan nyaman di tubuh dan pikiran, sebut saja rileks.

Malam ini begitu memikat dengan secangkir teh hangat dan angin yang hembusannya memantulkan suara mengaji dari masjid. Keduanya telah menarik pikiranku untuk masuk ke dalam cerita yang terburai dan tumpah ruah mengisi ruang kepala. Aroma ramadhan ternyata mengajarkan kita kedekatan bukan hanya kepada Tuhan tapi juga lingkungan dan pertemanan. Pertemuan-pertemuan yang di kemas dalam acara buka bersama atau reuni sederhana dengan agenda bincang-bincang selepas tarawih menjadi satu warna penghias ramadhan. Tentang pertemuan-pertemuan macam itu bukan lagi soal menghabiskan waktu, tapi kehadiran untuk memelihara suatu level hubungan pertemanan.

Aku bertemu teman-teman di beberapa kesempatan buka bersama, menyaksikan peta perubahan seorang kawan yang sudah sekian lama tidak bertemu. Pertemanan dan kedekatan selalu memberi kejutan yang menyenangkan seperti gairah menemukan cerita masa lalu kita dalam perjalanan hidup mereka saat dipisahkan oleh kesibukan masing-masing. Ada yang menikmati kehidupan barunya dengan suaminya di usia yang masih sangat muda, ada beberapa yang baru datang langsung ambil bagian berbincang sembari menyumbangkan senyum yang berbunga-bunga dari wajah yang jenaka, ada yang terlihat semakin dewasa dan lebih pendiam jika diperhatikan dari penampilannya tapi rupanya sebagian besar orang tak seperti bagaimana mereka tampaknya. Setiap kali bertemu orang, aku menjadi tertarik untuk mengamatinya. Aku selalu menemukan hal baru untuk dipelajari dan menemukan fakta-fakta tentang perubahan yang ada pada dirinya, bagaimana ekspektasinya, mengapa ia seperti ia sekarang, apa saja pengalaman yang sudah ia lewati dan ternyata setiap orang memunculkan sesuatu yang beragam dari ruang seukuran batok kelapa. Pertemuan yang singkat itu memberikanku gambaran nyata sebuah perjalanan waktu, seakan dapat kusentuh hangatnya cerita dan waktu yang mempertemukan kami kembali diantara cangkir teh hangat ini. Pertemanan selalu menjadi bingkai cerita tersendiri di kepalaku.

Waktu kami mulai habis, malam telah digenggam oleh dingin. Aku melekatkan telapak tangan di tangannya lalu menyandarkan diri pada punggung kursi. Lalu aku terkenang, dulu aku pernah menatap mereka begitu lekat, aku tidak pernah lupa dulu kami pernah lama bersama menghabiskan cerita sampai mulut berbusa, kuulangi kenangan lama itu, setiap detilnya mengandung seribu cerita tentang pertemanan sederhana dan keluguan yang menjadi hal terbaik yang pernah kami lakukan waktu itu. Kubaca lagi keindahan masa lalu untuk menghibur rinduku sehingga sebaris senyum terkunci di bibirku. ‘Tidakkah kau merasa dirimu melewatkan banyak cerita?’ ucapku pada diriku sendiri.

Dan seperti biasa, tegukan terakhir teh hangat menguatkan hatiku untuk mengakhiri cerita sambil mensenandungkan bait lagu Curhat Untuk Sahabat

Dan kini sampailah, aku di sini…

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku

Menanti seorang yang biasa saja

Segelas air di tangannya, kala kuterbaring…

Kediri, 15 Juli 2015

Merapikan Kenangan

Aku tengah berbaring di ranjang menghadap jendela ketika adzan ashar berkumandang sampai ke gendang telinga. Suasana tentram dan damai ini sungguh hanya sepersekian detik menyenangkan. Selebihnya aku harus segera bangun dengan risiko badan masih lelah dan ngantuk. Di balik selimut tebal yang berjam-jam tadi menghangatkan tubuhku, aku teringat akan sesuatu. Hanya beberapa detik dan berkelebat, aku menatap keluar jendela namun pohon berbalik menatapku. Kami saling tatap untuk mengucapkan satu hal yang sama, tapi tak mampu terucapkan. Ah, aku terlalu gengsi untuk mengakuinya bahwa akhir-akhir ini aku membenci perjalanan dan setumpuk kenangan tentangnya.

Setelah itu, aku bangun, menyingkir ke dapur karena jiwa mulai tertekan dengan kenangan yang bermunculan dan bergegas menyiapkan makanan untuk nanti berbuka puasa, sisa sore kembali berlangsung tentram, baik-baik saja, dan sedikit membosankan. Setahuku, setiap yang terjadi kemudian berlalu akan menyimpan warna tersendiri dalam kehidupan seperti perjalanan yang akhirnya enggan kulakukan sebab terlalu nyaman dengan keadaan. Yang terbayang adalah lalu lalang orang, suara bising kendaraan, dan basa basi yang melelahkan. Namun lebih baik kuputuskan untuk mengalihkan perhatian memikirkan kebaikan yang akan menyimpan daya pikat terletak pada kenangan.

Bagiku, kenangan lebih mirip seperti tumpukan kertas yang harus dirapikan kemudian ditata sedemikian rupa sampai suatu saat jika ingin mengulang ceritanya, aku bisa membacanya dari susunan yang sudah kurapikan. Merapikan kenangan tak sekedar perihal kerinduan, tapi orang-orang yang dengan kebaikan dan keburukannya telah membentuk kita menjadi seperti sekarang ini. Ramadhan dan berbagai kenangan di dalamnya, memberikan aku kesempatan untuk melakukan perjalanan menemukan penawar kerinduan, menemukan terima kasih, menemukan penerimaan, dan menemukan kemenangan demi kemenangan atas pertempuran yang dilakukan.

Dan kali ini, senja ditutup dengan hidangan penjelasan panjang lebar yang sudah puluhan kali terdengar di telingaku tentang menjaga kesehatan, bermacam-macam cerita tentang kehidupan, dan tentang mengatur waktu melakukan setiap perjalanan agar tidak berakhir menyedihkan. Aku masih saja disibukkan dengan pikiranku dengan setumpuk kenangan yang bisa saja aku jadikan alasan sebagai pembenaran bahwa aku telah melewati sekian banyak waktu untuk mendengar penjelasan yang sama, tapi kemudian aku merasa sangat sayang pada kejujuran dan kelembutannya jika ia sedang menjelaskan banyak hal. Semua itu adalah hidangan pembuka hariannya yang lambat laun berubah menjadi seni berkawan.

Di sebuah waktu yang sepi aku minta berhenti. Aku berjalan memasuki gerbang pada sebuah rumah yang tampak olehku berdinding kayu, ditumbuhi rerumputan di tepian pagarnya, dan aku melihat satu hal terbaik disana karena membuatku melakukan yang terbaik agar pantas untuk dirapikan menjadi kenangan…

Malang, 10 Juli 2015

Cangkir Kosong

Aku meresapi kasih sayangnya dari secangkir gelas kosong yang setiap pagi, siang dan malam ia siapkan di atas meja, di samping galon air yang tak pernah kosong isinya. Tepatnya di seberang kamar yang pintunya sengaja tak pernah tertutup di antara remang dua ruang: lampu kamar yang selalu menyala, dan lampu ruang tengah yang selalu padam saat malam.

Malam ini kubiarkan waktu berlalu sebagaimana adanya, kuletakkan meja kecil dan seperangkat alat tulis di samping kasur, menghadap rak buku, sedikit menyebrang dari letak pintu jika dibuka. Tapi akan membentuk sudut segitiga jika pandangan mata diarahkan ke tiga sisi: ke luar dengan pemandangan meja, galon, dan secangkir gelas di atasnya; di sisi tembok kamar ada rak berisi buku yang sinarnya selalu menggoda mata untuk membaca; dan di dalam kamar ada tempat tidur yang ditata sedemikian rupa sehingga mampu menghadiahkan banyak warna di setiap suasana yang menjadi sudut pusat segitiga dimana aku selalu duduk disini memikirkan banyak hal. Komposisi yang indah, pikirku ketika menyadari hal itu malam ini.

Pikiranku menyelipkan sesuatu yang dulu-dulu ketika memandangi gelas kosong di atas meja itu. Lalu potongan hari-hari yang lalu bermunculan di permukaan ingatan mempertontonkan perulangan perintah yang itu-itu saja “Minum air putih sana!” saat aku sedang asyik menikmati duniaku sendiri. Ia dan semestanya seolah tidak pernah bosan mengingatkan ribuan makna dari perintah dalam satu kalimat, yang aah akhirnya lama-lama menghancurkan batas tembok tinggi yang kubangun dengan jawaban: “Aku bisa minum sendiri, tapi nanti…!”, begitu saja. Jawaban yang kemudian membawaku ke satu titik kelelahan lalu kehabisan akal dan merasa bisa menyangkal. Terlepas dari fakta bahwa aku punya banyak sekali alasan dan jawaban lain untuk kuucapkan saat itu, aku menyerah. Ia yang ternyata lebih mampu memecahkan teka-teki di kepalaku yang terlanjur rumit, ia terjemahkan berulang kali dalam bentuk isyarat, sehingga menjadi sebuah perasaan tenang untuk mengerjakan hal yang sering diperintahkan seperti memenuhi hak untuk diri sendiri. “Banyak hal yang terjadi dan waktu berlalu, sedikit saja meluangkan waktu untuk mengangkat gelas kosong dan mengisinya dengan air putih, apa susahnya?” ucapnya berulang kali sambil berlalu dengan tatapan jengkel namun terlihat mengkhawatirkanku. Ha ha ha.

Setiap berlalu, kubiarkan diriku tertawa. Hitung saja mengumpulkan niat memenuhi banyak janji merapikan diri sendiri, menyicil energi sampai jinaknya pikiran lalu memastikan selesainya perlawanan mengalahkan diriku dengan pertanyaan “mau juga melakukan?”, suara tegukan air di mulutku akhirnya sering juga terdengar, bahkan di saat aku dan ia tidak bersama.

Maka untuk semua yang sejak awal selalu sederhana tanpa perlu berbuat banyak, kupastikan: Ia hebat, tidak sepertiku dan jangan pernah sepertiku, yang hanya bisa menyampaikan semuanya dengan tatapan dan sebuah rasa. Karena aku takut, jika hal itu ia lakukan, aku tidak akan mengerti cara itu. Karena ternyata perintah adalah pesan terlihat yang perulangannya tak perlu membuat kita berlari. Ya, bersamanya dan cangkir kosong yang setiap hari ia isyaratkan itu.

Bukankah pada ketidaksempurnaanku mengolah rasa, ada mata yang darinya, aku seperti meneguk telaga?

Di depan cangkir air yang kesekiankalinya kuminum dalam hari ini menemani aku menulis

Malang, 4 Juli 2015; 00.13

Kepada Aku, Tentang Kata Rumah Tangga

Aku coba membuka laptop, mendaratkan tumpukan aksara untuk dituturkan menjadi selembar surat. Saat ini, kubiarkan renung, senda, tawa, gurau, dan sendu mampir di gudang pikir untuk meluruskan hipotesa dan kemungkinan menjadi sebuah kepastian. Lelah juga rupanya melihat banyak orang bertanya perihal kepingan kisah dari fragmen hidupku yg tak pernah usai kuramu menjadi kekata cerita. Berulangkali aku mengutuki diri sendiri yg mudah membuat alasan dan terlalu angkuh membicarakan masa depan sebab terlalu takut membaca pesan panjang lebar yg ingin Tuhan sampaikan lewat rangkaian kejadian. Mungkin butuh waktu untuk meminta maaf pada diri sendiri dan menyembuhkan sakit hati, meski tak pernah benar2 mengerti apa yg membuat sakit hati.

Rasanya alasan itu cukup klise untuk kuumbar demi menghalalkan alasan takut membicarakan rumah tangga masa depan. Mungkin aku dan orang2 pernah bertanya sebab prasangka yg muncul bahwa aku tak memikirkan masa depan karena lebih sering sesuka hati bermain kata dan bahasa menguntai cerita. Meski kadang aku egois membiarkan orang tak tahu maknanya. Seperti tentang rumah tangga di masa depan yg setiap orang impikan, aku sibuk sendiri dg duniaku mempersiapkan diri demi mengisi ‘tubuh dan otakku’ agar tak kosong saat mendampinginya kelak. Kubiarkan diriku bermain dengan kata karena itulah aku dan proses belajarku mengenal diriku. Aku adalah manusia yg terus mencari makna dua buah kata: Rumah Tangga, sampai detik ini, untuk bekal kehidupan kelak. Aku belajar memaknainya dengan berkelana membaca peristiwa dan berjalan menapaki tangga hidup dengan berbagai aktivitas. Aku adalah kumpulan kata yang sedang melakukan riset dari apa saja yg kualami sebab sebagai pebelajar kehidupan aku harus memberikan nafkah materi dan batin bagi otak sebagai gudang tafsir dan hati sebagai penunjuk kebaikan yg ada pada diri. Maka biarkan aku terus berjalan memperkuat pencarian makna Rumah Tangga dg melakukan perjalanan meliarkan pikiran pada sebentuk narasi cerita, prosa, dan puisi hingga aku tidak akan lemah untuk mengatur semua persiapan melanjutkan perjalanan masa depan bernama Rumah Tangga.

Sampai saat surat ini aku tulis, aku harap diriku tak lagi punya alasan untuk antipati membicarakan kata sakral itu. Barangkali, aku akan memasukkan diri dalam hal-hal sederhana untuk menggerakkan hati dan membuka mata menemukan makna yg sempurna. Kadang kita memang hanya perlu memastikan hal-hal istimewa dg cara sederhana, bukan? Termasuk memaknai kedalaman perasaan memaknai Rumah Tangga: di rumah dalam cinta, di tangga menuju surga.

Salam hangat,

1 Juli 2015