Dear Ami #25 BATAS

Sebelum langit mulai mendung, aku ingin menjelaskan kegelisahan yang selama ini kita ributkan. Takutku bukan tentang kehilanganmu, tapi duka berkepanjangan. Memaksa kita membendung ingatan yang semestinya sudah terlupakan.

Pertama,

Aku memang tak mampu membawamu lari lebih jauh meninggalkan masa lalu yang menyakitkan itu. Sebab perjalanan panjang kita sudah tertakdir sebagai rangkai cerita penuh getir dan syair. Maka meski ada hati yang sulit untuk melepas, ada mata dan hatiku yang berhak mengajakmu menatap ke depan tanpa perlu mencari-cari alasan mengapa dirimu harus mengerti.

Kadang kita enggan melangkah ketika dirimu menemukan kebahagiaan dariku yang dulu. Percayalah, aku bisa membuatmu tersenyum dan menemukan aku yang baru dalam keadaan lebih baik dibandingkan ketika aku menemukanmu dulu. Dalam pandanganku, dirimu akan selalu punya kesempatan untuk mengenali hidupku. Kesedihan dan kebahagiaan punya batas yang tak mudah ditebak. Percayalah.

Kedua,

Kupikir aku tidak selalu memperlakukan diriku dengan baik. Entah apakah itu juga berdampak pada caraku memperlakukanmu? Aku belum sepenuhnya menemukan jawabannya. Hal itu lebih mudah memberimu alasan untuk berulang kali menegurku tentang “Buat apa belajar dan menulis banyak hal kalau kamu tidak bisa mengenali dirimu sendiri?”. Ketahuilah, aku telah lama membuat batas-batas nyaman yang bisa digunakan untuk menutupi kebohongan dan rasa takut tentang apapun itu. Jarak-jarak aman dengan mudah membuatku beranjak melupakan ketakutan dan memulai kebahagiaan dengan cara yang tidak wajar. Jauh lebih sakit menemukan diri bangun dan tertatih antara memperbaiki atau memulai yang baru. Semacam itulah jika aku berantakan dan kehilanganmu.

Tapi baiklah, akan kurapikan alasan-alasan yang membuat hidup ini rumit. Dari banyak hal tak terduga di luar rencana, akan kugunakan lebih banyak waktu yang sejak dulu begitu sempit untuk mengerti diriku sekaligus dirimu.

Ketiga,

Ketika penantian menjadi harapan tak bertuan. Kuharap kita saling berjuang meluruhkan ego. Aku ingin selalu menyapa rindumu. Dan kamu, kuharap siap menyapa kenangan-kenangan yang kubangun semalaman. Lalu kita, siap pulang dengan sisa-sisa kesenangan. Esoknya, terbangun dengan celoteh isi kepala tentang kerinduan dan kelegaan menuntaskan harapan.

Kita sering mengutuki kegagalan mengulang pertemuan dan sekaligus bisa saling menemukan disaat tidak sedang mencari. Hingga tak ada yang bisa kupilih selain berdamai dengan waktu. Tapi kini aku tak bisa. Aku tak lagi bisa hanya berdamai dengan waktu. Aku akan mengurainya pada tulisan-tulisan sederhana. Membuat batas kita penuh napas jika dibaca suatu saat nanti.

Terakhir,

Tak ada batas yang membuatku berhenti membuatmu merasa dicintai, dihargai, dan dimengerti dengan cara istimewa. Tak ada batas yang benar-benar menghalangi caraku membahagiakanmu dengan cara yang tak biasa, yang tak pernah terpikir orang lain.

 

Kediri, 24 April 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s