Dear Ami #24 Kisah Singkat

Di folder tulisanku tahun 2017 ini belum banyak tulisan yang dihasilkan. Apalagi didukung oleh suasana hati dan kesehatan yang sedang mendung.

Hujan yang turun setiap sore selalu menjadi klimaks dari cuaca kenangan yang memukau dan terus saja minta diingat. Tentang kejadian setahun kemarin, aku akan menjaganya sebagai yang tak pernah ada. Aku ingin kita melupakannya, barangkali melupakan merupakan salah satu pekerjaan amal untuk tetap saling memiliki. Aku akan mengenang bahwa di masa lalu ada kebahagiaan tak terdefinisi yang kita nikmati dan di masa depan aku tetap ingin menikmati itu. Sehingga siapapun yang pernah kita kenal dan mengenal kita akan mencatat kita sebagai satu kisah yang tak terganti. Warisan kisah yang tak setiap orang bisa memilikinya.

Kemarahan kita sepanjang tahun ini adalah muntahan dari ketakutan dan kegelisahan yang selama ini menghukumku siang dan malam. Sedang pengakuanmu adalah permulaan dari kesunyian panjang yang kumiliki memaksaku berpikir.

Perasaan apa yang sedang kita rasakan kali ini? Di luar mataku tak ada yang bisa kulihat selain dirimu, selain dirimu yang naik turun angkot pagi dan sore. Aku masih melihatmu setiap pagi, menemui tiap sore. Tapi apakah sore nanti hatimu akan baik-baik saja untukku? Apa sore nanti aku masih milik rindu-rindumu? Apa sore nanti kamu masih akan pulang denganku? Setidaknya ada kebiasaan-kebiasaan yang tidak pernah hilang darimu. Kebiasaan itu tak pernah berkhianat dariku yang mudah pelupa. Ia menyuburkan khayalanku setiap waktu.

Cerita apa yang sedang aku tulis sekarang? Apa yang bisa kamu baca dari cerita itu? Berulangkali aku menulis dan membaca kisah yang terposting di blog pribadiku. Ceritanya menggemaskan, terlihat seperti drama padahal itu memang benar terjadi. Tak setiap orang akan bisa mempercayai kisah ini. Aku sampai sering susah tidur dan tak nyaman pergi ke cafe. Cafe tempatku biasa meramu cerita kita. Ah, tapi aku akan bisa menulisnya dimanapun. Aku tak ingin kehilangan cara menuliskan kenangan kita agar tak berganti rupa.

Kapan terakhir kali kita terjebak hujan lebat? Di ruang tamu ingataknku masih ada senyummu saat memberikan baju ganti. Katamu, biar aku bisa ganti saat aku kehujanan. Kenyataannya, memang aku sering berganti baju ketika basah kuyup oleh air mata. Aku diam-diam mengagumimu yang tak lelah menjadi tempatku pulang. Bukan sebatas pertemuan basa-basi atas nama rasa kasihan. Ada tiga lebih puisi yang diam-diam aku bisikkan di depanmu, sambil menatapmu lekat. Air hujan selalu lebih pandai menyampaikan segala perasaan rindu.

Pada akhirnya, aku memilih mencintaimu. Aku memilihmu tanpa paksaan. Aku tak rela menyingkirkan girangku terhadap pertemuan kita. Ini bagian dari takdir. Waktu yang membuktikan bahwa kali ini hidup dan cinta bukan hanya milikku sendiri tapi milikmu, milik orang-orang yang terlanjur aku cintai dan mencintaiku. Untuk alasan macam itu, aku bertahan menghindarkan diri dari kesepian.

Tapi, baiklah. Aku tak ingin bicara panjang lebar lagi soal ini. Bukannya aku tak ingin mengingat sama sekali. Aku hanya sedang ingin menunggu usaha terbaikku membuatmu kembali kehujanan rindu seperti malam-malam dulu.

Aku menulis kisah ini di atas kereta api; sambil tak sabar melewatkan pertemuan kita sore nanti. Semoga aku masih kebagian kebahagiaan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s