Sedetik…

Sedetik yang kuikat… Tak ada kata meminta

Sedetik terlepas… Tersisa ketiadaan

Tanyamu… Menjawab mungkin

Sedetik… Terlewat

Terlempar sebongkah nyali,

Terkubur perasaan dengan cara rahasia

dan sepenggal kata Mbak Himsa yang digubah, jadikanlah cukup bagi sedetik itu…

Aku mau memperjuangkanmu. Tapi kamu tak perlu tahu. Karena itu kamu tak perlu tahu apa-apa. Kamu juga tak perlu tahu perasaanku, apalagi rinduku. Agar jika suatu saat hatiku di balik olehNya, kamu tak akan jatuh terlalu sakit. Atau jika suatu saat kamu harus memilih orang lain, aku pun sudah siap melapangkan hati. Begitulah. Pembenaran demi pembenaran kurangkai sedemikian rupa, menjadi tameng untuk menyembunyikan ketidakberdayaanku. Ya, aku mau memperjuangkanmu. Tapi kamu tak perlu tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s