Menu Akhir Tahun (1)

Dilema mengenai bagaimana cara terbaik dalam mengeksekusi kegiatan sehari-hari adalah hal yang biasa. Namun aku tidak pernah menduga akan merasakan berantakan untuk kesekian kalinya. Aku mencoba menemukan kata-kata untuk menjelaskan mengapa aku berpikir bahwa mengabaikan hal ini begitu saja bukanlah pilihan terbaik. Sebagai perencana, aku mungkin akan mengirimkan sinyal tentang apa saja yang tidak beres dan berpotensi berantakan. Di sisi lain, usaha untuk bangun lagi dan bersedia mengakui kesalahan adalah satu-satunya kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Aku merasa tak ada satupun yang boleh berbohong tentang ini, dan betapa beruntungnya aku memiliki sekelompok orang yang bersedia menasihati dan menawarkan solusi pada masa kebingungan. Mungkin sudah terlalu lama aku mengurung diri berbicara pada diri sendiri sehingga kehilangan keberanian untuk melihat sesuatu yang mencerahkan di depan sana. Hingga akhirnya kepercayaan untuk duduk bersama dengan beberapa orang menjadi pilihan terbaik setelahnya. Kemudian aku bisa memaparkan permasalahannya pada mereka, termasuk setiap kekurangan yang aku khawatirkan dan mendiskusikan langkah-langkah terbaik yang bisa dilakukan.

Kebuntuan telah mencair. Rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi di sini mengenai dukungan orang-orang terdekat. Duduk bersama selama enam puluh menit itu memberikan waktu bagi aku untuk menemukan diriku. Seperti sahabatku yang panjang lebar menitipkan pesan untukku.

“Kamu masih muda, jangan sampai terlihat rapuh dan kewalahan dengan tanggung jawab ini. Aku bisa meyakinkanmu bahwa aku masih di sampingmu, melihat setiap potensimu akan mekar dengan sempurna.”

“Ingat donk, setiap luka pasti kering… seperti plester penutup luka yang biasanya kamu tempel di tangan dan kepala untuk gaya-gaya an itu pasti akan di lepas juga. Begitu pula soal hidupmu. Jangan terjebak dengan kesempurnaan melankolis sejatimu.”

Satu lagi, “Kamu tidak perlu menangis, selama waktu dan rencana yang seharusnya menjadi hari bahagia yang sudah direncanakan bertahun-tahun yang lalu terwujud. Kamu harus janji itu.”

Mengakhiri celotehmu sore itu, sepertinya tak ada lagi kata “tapi” bagiku dan larangan sok-sok an mencari alasan untuk merasa gagal. Tidak!

Malang, 7 Desember 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s