KONSPIRASI KEBAIKAN

Aku sudah mencoba berkali-kali, menguji mimpimu. Menunggui prosesmu dengan sangat sabar. Lalu aku berkali-kali membagi diriku menjadi beberapa bagian: Pertama, menjadikanmu prioritas. Kedua, menjadi teman bagi diriku sendiri. Ketiga, menjadi pendengar yang baik. Keempat, menghabiskan waktu mendengar mimpi orang lain. Setelah itu berbagai perasaan lega dan puas betebaran di hati, menjadi mawar yang membagi harumnya pada siapa saja. Selain juga berkali-kali memaklumi perasaan untuk merasa berjalan sendirian, berkorban, capek, dan berlari lebih kencang agar orang lain tergerak untuk berlari. Berat?

Pertanyaan itu yang belakangan tak bisa kujawab. “Berat?”, Tapi baiklah akan kuceritakan satu hal.

Semalam, sahabat baikmu menghubungiku. Menanyakan kabarmu. Mengkhawatirkan masa depanmu. Tentunya aku tahu bagaimana perasaannya dan merasakan kekhawatiran yang sama. Ia bilang, aku satu-satunya orang yang bisa men-deliver pesan dan keinginan orang-orang di sekelilingmu. Aku tersenyum lega, mencoba menenangkannya. Di tengah kecamuk perasaan was-was-takut-penuh harap aku menjelaskan setiap detil kondisimu yang semakin positif sejauh ini. Trying to survive sepertinya masih menjadi kalimat yang bisa aku banggakan darimu. Tentang sejuta harapanmu dulu dan setelah ini, aku menegaskan sekali lagi padanya dengan gumam tulus ‘sebut ia dalam doa-doa panjangmu… biar Allah yang turun tangan langsung untuk menggerakkan hati dan harapannya’. Pasti, begitu jawabnya singkat. Setelah percakapan singkat itu aku bisa melihat detil yang selama ini kau bawa dan bangun di hadapan teman-temanmu. Tipe orang yang mengusahakan semua pintu kebaikan dalam segala situasi.

Kalau saja aku sudah merasa cukup dan puas dengan apa yang pernah aku lakukan, mungkin ceritanya tidak akan sampai pada titik ini. Aku paham bagaiman caranya memberi ruang untukmu berpikir dan melanjutkan hidup. Untuk apa? Agar dirimu bisa leluasa melihat betapa berartinya dirimu tanpa aku disampingmu sesekali. Lalu, aku dibelakang dengan sabar membuka jalan untuk menembus keterbatasan. Di lain waktu berusaha sekuat tenaga menjaga kebaikan yang sudah ada, menjadi otak konspirasi bagi kebaikanmu di masa depan.

Pada akhirnya, sampai segala impianmu terbayar lunas, aku butuh mental yang bagus! Begitupun teman-temanmu, akan dipenuhi perasaan harus berjuang bersama, merasa belum melakukan apa-apa meskipun dibarengi dengan semangat menjadi lebih termotivasi dan bersyukur bisa mendampingimu.

Jawaban dari “Berat?” sepertinya mengandung unsur emosional yang kompleks. Dibutuhkan jawaban yang tidak dangkal agar bisa menenangkan diri sendiri. Aku akhirnya ingat ketika kau berjanji. Untuk lebih keras menempa diri dan tak lagi mengecewakan orang-orang yang membanggakanmu.

Aku tak pernah khilaf menilaimu. Jadi, aku masih akan konsisten menjadi otak konspirasi kebaikanmu. Dan dapat dipastikan siapapun bisa ambil bagian di belakangku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s